Makalah Forensik Kasus I

  • View
    355

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Makalah Forensik Kasus I

Sesosok Mayat di Tepi SungaiKELOMPOK 9

030.08.198 Raissa Andi Sukrisno030.08.199 Raisya Purnama Putri030.08.200 Rara Amourra Arviolla030.08.205 Ria Evasari Pratiwi030.08.206 Ricksando Siregar030.08.210 Ririn Aprilya Anggela030.08.211 Rizki Dianti F030.08.215 Saddam Haykal Bafadhal030.08.216 Santri Dwizamzami Faridah030.08.220 Selvi Annisa Meldy030.08.222 Shabrina Herdiana Putri030.08.227 Silminati Nur Saadah030.08.228 Sodiqa Aksiani030.08.234 Suci Dwi Putri030.08.303 Siti Nasirah030.08.304 Siti Azliza

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS TRISAKTI

BAB I PENDAHULUAN

Ilmu Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan, penyelidikan, serta penyelesaian masalah hukum ini di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat korban, baik yang masih hidup maupun yang meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang menangani kasus tersebut. Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaik-baiknya. Bantuan yang wajib diberikan oleh dokter apabila diminta oleh penyidik antara lain melakukan pemeriksaan kedokteran forensik terhadap seseorang, baik korban hidup, mati, maupun bagian tubuh yang diduga berasal dari tubuh manusia. Apabila lalai, maka dokter tersebut dapat diancam pidana penjara. Untuk kesemuanya itu, dalam kedokteran forensic dipelajari tata laksana medico-legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, agar semua dokter dalam memnuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan serta kepentingan lain yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

BAB IILAPORAN KASUS

Di daerah yang agak terpencil, datang seorang anggota polisi ke puskesmas. Polisi tersebut mengaku sebagai wakapolsek setempat. Ia meminta dokter yang bekerja di puskesmas tersebut untuk pergi ke suatu tempat di tepi sungai yang menurutnya telah ditemukan sesosok mayat yang telah agak berbau busuk. Polisi juga bercerita bahwa mayat tersebut ditemukan warga yang sedang memancing di sungai. Mayat tersebut seorang laki-laki, hingga saat ini tidak dikenal oleh karena tidak ditemukan identitas dan bukan warga setempat. Wajah mayat masih tampak jelas, dan di lehernya terdapat memar dan lecet. Sebuah luka terbuka berbentuk lubang kecil ditemukan di dada kanan mayat. Polisi ingin agar dokter melakukan pemeriksaan di TKP dan dilanjutkan pemeriksaan autopsy di Puskesmas. Ia akan membantu apa saja yang diperlukan oleh dokter tersebut karena ia ingin sekali mengungkap kasus tersebut.

BAB IIIPEMBAHASANAspek hukum dan prosedur mediko legal yang berkaitan dengan kasus ini adalah1. Pasal 133 (1) Permintaan keterangn ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus dilakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada aibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

2. Pasal 186 KUHAPKeterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan

3. Pasal 216 KUHPBarang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa yang berusaha mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah.

4. Pasal 222 KUHPBarang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pedana denda pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

5. Pasal 120 KUHAP(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus(2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangn menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan, atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangn yang diminta.

6. Pasal 179 KUHAP ayat 1Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan

7. Pasa 168 KUHAPKecuali ketentuan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dandapat mengundurkan diri sebagai saksi:a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;b. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa. Saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang memppunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;c. Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

8. Pasal 7 KODEKISeorang dokter hanya memberikan keterangn atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Pemeriksaan medis dibidang thanatologis dan traumatologisBerdasarkan thanatologis, kami memperkirakan saat kematian korban adalah sekitar 2-3 hari yang lalu karena dilihat dari keadaan korban saat ditemukan berada di air dan telah mulai membusuk, dimana pembusukan (oleh udara) biasanya terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Korban ditembak dari jarak jauh karena pada pemeriksaan tidak ditemukan adanya kelim tattoo. Korban disimpulkan mati karena asfiksia karena luka memar dan lecet di lehernya akibat kekerasan akibat benda tumpul.KesimpulanKorban awalnya ditembak dari jarak jauh dan mengenai dada kanan, akan tetapi korban belum tewas, lalu korban dicekik hingga tewas. Kemudian korban dibuang ke sungai lalu terbawa arus sampai daerah terpencil sehingga ditemukan oleh pemancing di tepi sungai.Alasan penarikan kesimpulanPada dada korban sebelah kanan ditemukan luka terbuka berupa lubang kecil akibat tembakan senjata api, namun korban belum meninggal karena tembakan tidak mengenai organ vital yaitu jantung. Kematian korban diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul berupa pencekikan dimana hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya luka memar dan lecet pada leher korban yang menandakan korban tewas akibat asfiksia.

BAB IVTINJAUAN PUSTAKA

Ilmu kedokteran forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan.Dalam perkembangan lebih lanjut, ilmu kedokteran forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan masyarakat lain, misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas, membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industri dan otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industri maupun kecelakaan lalu-lintas dan sebagainya.

Aspek Hukum dan Prosedur Mediko-Legal

1. Kewajiban Dokter Membantu PeradilanPasal 133 KUHAP(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan badah mayat.(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan. Pasal 179 KUHAP(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli atau lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.Pasal 120 KUHAP(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.

2. Hak Menolak Menjadi Saksi / AhliPasal 168 KUHAPKecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi :a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;b. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, sauda