Makalah Forensik Kasus 1 Kelompok 3

  • Published on
    12-Jan-2016

  • View
    31

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fk trisakti

Transcript

PATOLOGI FORENSIK I

MODUL ORGAN: FORENSIKSeorang Laki-Laki Ditemukan dengan Lehernya Terikat Lengan Baju

KELOMPOK 3Ahmad Reyhan Javier

(03010013)

Akhmad

(03011103)

Fina Khairunnisa

(03011143)

Isyfaunnisa

(03012153)

Madina Ika Nasrullah (03012163)

May Velyn Dina

(03012183)

Nadya Yosvara

(03012193)

Novy Sylvia Wardana

(03010249)

Ovia Yanli

(03012203)

Putery Rizkia Amry

(03012213)

Redy Rohmansyah

(03012223)

Riska Ruswanti

(03012233)

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Jakarta

11 Oktober 2014BAB IPENDAHULUANDahulu ilmu kedokteran forensik telah dikenal sejak zaman Babilonia, yang mencatat ketentuan bahwa Dokter mempunyai kewajiban untuk memberikan kesembuhan bagi para pasiennya dengan ketentuan ganti rugi bila hal tersebut tidak tercapai. Sedangkan pada zaman Romawi Kuno, dikenal istilah Forum (tempat berbincang-bincang atau untuk keperluan barter atau tempat khusus untuk membahas masalah-masalah hukum) tetapi lama-kelamaan istilah tersebut berganti menjadi Forensik (adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya penegakan keadilan). Ilmu Kedokteran Forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegak hukum serta keadilan dengan menemukan fakta yang terdapat pada tubuh untuk mengetahui penyebab dan kelainan yang ditemukan.

Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusustan dan penyidikan dan penyelesaian secara hukum suatu kasus harus ditindak lanjutin sampai adanya pemutusan suatu perkara di pengadilan. Dalam mengusut suatu kasus juga diperlukan bantuan dari berbagai bidang ahli di masing-masing bidang yang terkait dalam kasus serta untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Dalam perkembangannya, ilmu kedokteran forensik tidak hanya berurusan dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di dalam lingkum peradilan tetapi juga berkembang dalam segi kehidupan bermasyarakat, antara lain penyelesaian klaim asuransi yang adil (baik pihak yang diasuransikan maupun pihak yang mengasuransikan), pemecahan masalah paternitas (penemuan ke-ayah-an), membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industri dan otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industri maupun kecelakaan lalu lintas.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai Dokter yang diminta untuk membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh Undang-undang untuk melakukannya secara jujur sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Bantuan yang dapat diberikan berupa pemeriksaan kedokteran forensik terhadap seseorang baik korban hudup atau korban mati atau terhadap bagian tubuh atau benda yang diduga berasal dari tubuh manusia. Sebagai dokter forensik, dokter diharapkan menemukan kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bagaimana kelainan tersebut timbul, apa penyebabnya, dan akibatnya terhadap kesehatan. Sedangkan bagi korban yang telah meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab kematian korban, serta membantu dalam perkiraan saat kematian serta perkiraan cara kematiannya. Sehingga dalam bidang ilmu kedokteran forensuk mencakup tata-laksana mediko-legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaannya, serta terdapat Undang-undang yang dijadikan bahan acuan dalam kedokteran forensik. Apabila dokter lalai dalam memberikan bantuan, maka dokter tersebut dapat diancam dengan pidana penjara. Dengan demikian dalam ilmu kedokteran forensik, seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal.

BAB IILAPORAN KASUS

Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.

Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat. BAB IIIPEMBAHASAN A. Perkiraan Kronologis Kasus

Tn. A dan seorang temannya bekerja sebagai pencari kayu. Setelah selesai mencari kayu, mereka beristirahat, dirasa udara terik dan kelelahan, Tn. A menggulung celana panjangnya, melepaskan dan mengikatkan bajunya di leher, hingga kini Tn. A hanya menggunakan kaos dalam (oblong) di tubuhnya dan celana panjang yang ia gulung hingga setengah tungkai bawah. Saat akan pulang kembali ke rumah, di jalan yang tidak jauh dari sungai itu, Tn. A yang berada di belakang temannya dengan membawa kayu, tiba-tiba diserang oleh temannya yang berada tepat di depannya dengan menggunakan golok yang dibawa untuk mencari kayu. Temannya memang berniat untuk membunuh Tn. A karena dendam pribadi dengan niat menusuk Tn. A langsung ke daerah jantung, tetapi Tn. A sempat menghindar dan yang terkena adalah bagian ketiak kiri dari Tn. A. Luka bacok tersebut mengakibatkan perdarahan hebat. Tn. A masih sempat berlari kembali ke arah sungai dengan tangan kanan memegang ketiak kiri yang terus mengeluarkan darah yang sangat banyak, tetapi dengan keadaan yang mulai melemah, temannya masih mencoba lagi untuk membunuh Tn. A, tetapi Tn. A melakukan perlawanan dengan menendang memakai kakinya sehingga tungkai bawahnya terkena luka sayatan benda tajam itu berkali-kali dan akhirnya Tn. A terjatuh dan mulai tidak sadar karena perdarahan hebat di daerah ketiak kiri yang terus menerus mengeluarkan darah sehingga dia tergeletak dan benar-benar tidak sadarkan diri. Temannya yang melihat Tn.A tidak sadarkan diri itu langsung menjerat leher Tn. A dengan baju yang ada di leher Tn. A dan mengikatkannya pada pohon perdu untuk memanipulasi pembunuhan itu dan menghilangkan jejaknya.

B. Aspek Hukum

Aspek hukum yang terkait dalam kasus pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan kematian adalah sebagai berikut. Pasal 338 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 339 KUHP

Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri mupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Pasal 340 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun. Pasal 354 KUHP(1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana paling lama sepuluh tahun

Pasal 355 KUHP(1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.Prosedur Medikolegal Penemuan

Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati oleh warga masyarakat atau orang yang melihat dan menemukan.

Pelaporan

Pelaporan dilakukan oleh orang yang menemukan ke pihak yang berwajib, contohnya kepolisian.

Penyelidikan

Dilakukan oleh penyelidik yang menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian pembunuhan seperti yang dilaporkan.

Penyidikan

Dilakukan oleh penyidik. Penyidikan merupakan tindak lanjut setelah diketahui benar-benar telah terjadi pembunuhan pada kasus ini. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli. Dalam kasus pembunuhan yang mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan dan penyidikan dengan kedokteran forensik. Penyidik wajib meminta secara resmi kepada kedokteran forensik untuk melakukan pemeriksaan atas korban yang ditemukan.

Pemberkasan perkara

Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Hasil berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum.

Penuntutan

Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang lengkap diajukan ke pengadilan.

Persidangan

Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim.

Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pembunuhan, para saksi dan juga para ahli. Sebaiknya dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan ini sebagai saksi ahli.

Putusan pengadilan

Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan: Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu pembunuhan di kasus ini dan terdakwa memang bersalah melakukan tindak