46
KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah-Nyalah kami dapat melakukan diskusi tutorial dengan lancar dan menyusun laporan hasil diskusi tutorial ini dengan tepat waktunya. Kami mengucapkan terima kasih secara khusus kepada dr. Ni Made Reditya sebagai tutor atas bimbingan beliau pada kami dalam melaksanakan diskusi ini. Kami juga mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang ikut berpartisipasi dan membantu kami dalam proses tutorial ini. Kami juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan-kekurangan yang ada dalam laporan ini. Hal ini adalah semata-mata karena kurangnya pengetahuan kami. Maka dari itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang harus kami lakukan untuk dapat menyusun laporan yang lebih baik lagi di kemudian hari. 1

Laptut SKEN 5 Blok 15

  • Upload
    ditanh

  • View
    261

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sfg

Citation preview

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah-Nyalah kami dapat melakukan diskusi tutorial dengan lancar dan menyusun laporan hasil diskusi tutorial ini dengan tepat waktunya.

Kami mengucapkan terima kasih secara khusus kepada dr. Ni Made Reditya sebagai tutor atas bimbingan beliau pada kami dalam melaksanakan diskusi ini. Kami juga mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang ikut berpartisipasi dan membantu kami dalam proses tutorial ini.

Kami juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan-kekurangan yang ada dalam laporan ini. Hal ini adalah semata-mata karena kurangnya pengetahuan kami. Maka dari itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang harus kami lakukan untuk dapat menyusun laporan yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Mataram, 17 Januari 2014 Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .1

Daftar Isi ..2BAB I : PENDAHULUAN....3

1.1. Skenario...31.2. Learning Objective (LO)......31.3. Mind Map4

BAB II : PEMBAHASAN ...5BAB III : PENUTUP29Daftar Pustaka...30BAB I

PENDAHULUAN1.1. SKENARIO 5Anak saya pendek Dok.....

Tiga anak perempuan berusia 11 tahun dibawa oleh ibunya masing-masing ke praktek dokter mandiri. Ibu-ibu tersebut mengeluhkan postur tubuh anaknya lebih pendek dibandingkan teman -teman di sekolahnya. Anak pertama, tinggi badan 70 cm, leher pendek, badan gemuk dengan lipatan lemak di leher maupun perut, dan belum terdapat perkembangan payudara. Anak ini tidak pernah naik kelas. Anak kedua, tinggi badan 83 cm, perkembangan payudara normal serta sudah mengalami haid pertama kali 1 bulan yang lalu. Anak ini selalu mendapat peringkat 5 besar di kelasnya. Anak ketiga, tinggi badan 80 cm, namun belum terdapat perkembangan payudara maupun haid pertama. Anak ini juga selalu mendapat peringkat 10 besar di kelasnya.

Anda sebagai dokter melakukan analisa dari keadaan ketiga anak tersebut dan memberikan penanganan.1.2. LEARNING OBJECTIVES1. Hormon-hormon pada pertumbuhan2. DD1.3. MIND MAP

BAB IIPEMBAHASAN

1.1. HORMON-HORMON PADA PERTUMBUHAN

Hormon pada manusia

Hormon dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu, yaitu suatu kelenjar yang tidak mempunyai saluran. Beberapa hormon pertumbuhan pada manusia antara lain sebagai berikut.

a) Hormon tiroksin, dihasilkan oleh kelenjar gondok/ tiroid. Hormon ini memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak dalam tubuh. maturasi tulang juga dipengaruhi. Perkembangan fungsi otak sangat dipengaruhi oleh hormon ini dalam kadar yang cukup. Kekurangan hormon ini dapat mengakibatkan mixoedema yaitu kegemukan, retardasi fisik dan mental yang jika berlangsung lama dapat permanen.

b) Hormon pertumbuhan (Growth hormon GH). Hormon ini dihasilkan oleh hipofisis bagian depan. Hormon ini disebut juga hormon somatotropin (STH). Peranannya adalah memengaruhi kecepatan pertumbuhan seseorang. GH juga mempengaruhi irama sirkadian dimana aktivitasnya meningkat pada malam hari yaitu pada waktu tidur, sesudah makan, sesudah latihan fisik, dsb. Seorang anak tidak akan tumbuh dengan normal jika kekurangan hormon pertumbuhan. Pada masa pertumbuhan, kelebihan hormon ini akan mengakibatkan pertumbuhan raksasa (gigantisme), sebaliknya jika kekurangan akan menyebabkan kerdil (kretinisme). Jika kelebihan hormon terjadi setelah dewasa, akan menyebabkan membesarnya bagian tubuh tertentu, seperti pada hidung atau telinga. Kelainan ini disebut akromegali.

c) Hormon seks memiliki peranan dalam fertilitas dan produksi. Hormon testosteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder pada pria. Hormon estrogen/progresteron, mengatur perkembangan organ reproduksi dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita.

d) Insulin Growth Factor (IGF) merupakan somatomedin yang kerjanya sebagai mediator GH dan kerjanya mirip dengan insulin. Berfungsi sebagai growth promoting factor yang berperan pada pertumbuhan, memiliki mekanisme kerja mirip insulin, memiliki efek mitogenik terhadap kondrosit, osteoblas. IGF diproduksi pada beberapa jaringan tubuh, tapi IGF yang beredar dalam sirkulasi terutama diproduksi di hepar1.2. PERAWAKAN PENDEK KONSTITUSIONALKeadaan pertumbuhan dan adolesen yang terlambat secara konstitusional ini hanya merupakan variasi dari pertumbuhan normal. Dalam hal ini terjadi perlambatan mulainya puberitas, umur tulang (Bone Age) tertinggal dari umur kronologis. Namun tinggi akhir tidak berkurang oleh karena waktu berhentinya pertumbuhan tulang juga tertunda. Biasanya terdapat anggota keluarga dengan pola pertumbuhan yang serupa. Pada pemeriksaan lengkap tidak ditemukan penyebab lainnya. Oleh karena itu, tidak diperlukan pengobatan khusus. Yang penting adalah menjelaskan dan meyakinkan kepada pasien dan keluarganya bahwa keadaan ini adalah normal dan prognosisnya baik.1.3. PERAWAKAN PENDEK GENETIKKeadaan ini bersifat familial tanpa keterlambatan pertumbuhan dan Bone Age. Tinggi badan setelah dewasa tergantung pada rerata tinggi badan kedua orang tuanya.1.4. HIPOTIROID KONGENITALHipotiroidisme Kongenital (HK) adalah salah satu dari penyebab retardasi mental yang paling sering terjadi namun sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah. Insidensinya di seluruh dunia adalah sekitar 1:4000 kelahiran. Penyebab utamanya adalah akibat disgenesis tiroid yang berkontribusi sebesar 75-80% dari penyebab HK.

Embriologi Dan Fisiologi Tiroid pada Fetus Kelenjar tiroid berasal dari proliferasi sel epitel endoderm pada minggu ke 4-5 masa gestasi. Sintesis dan sekresi Tiroksin (T4) dan Triiodotironin (T3) dimulai dari minggu ke-12 masa gestasi.

Aksis Hipothalamus-Hipofisis-Tiroid (Hypothalamic-pituitary-thyroid) mulai berkembang pada trimester pertama. TRH (Thyrtropin Releasing Hormone) dan TSH (Thyroid Stimulating Hormone) sudah mulai terdeteksi pada akhir trimester pertama. Namun, aktivitas Aksis Hipothalamus-Hipofisis-Tiroid pada fetus masih rendah, sehingga masih belum mampu memproduksi hormon tiroid yang sufisien1. Kondisi ini terjadi hingga minggu ke-18 hingga minggu ke-20 masa gastasi. Pada pertengahan kehamilan, level T4 dan TSH meningkat secara progresif. Pada trimester pertama, fetus bergantung pada hormon tiroid yang berhasil melewati plasenta. Hormon tiroid transplasental ini memiliki peranan yang penting untuk neuroproteksi intra-uterine. Konsentrasi T4 pada darah di umbilikus pada neonatus yang tidak mampu memproduksi T4 adalah 30% dari level yang normal, namun walaupun kondisinya seperti itu, terjadi peningkatan konversi i intraserebral T4 menjadi T3 sehingga dapat meningkatkan fungsi fisiologis tiroid pada pertumbuhan sel-sel intraserebral, karena T3 memiliki fungsi fisiologis yang lebih besar jika dibandingkan T4. Kondisi kognitif yang hampir mendekati normal dapat terjadi walaupun pada kondisi di mana terjadi hipotiroidisme kongenital yang berat selama terapi postnatal dimulai secara dini dengan dosis minimal dan fungsi tiroid maternal yang normal. Namun, jika terjadi kondisi hipotiroidisme pada ibu dan fetus, seperti pada defisiensi iodium berat, terdapat kerusakan yang signifikan pada perkembangan neuro-intelektual walaupun diberikan terapi yang adekuat sesaat setelah kelahiran.

Fisiologi Neonatus Setelah kelahiran, bayi yang lahir cukup bulan mengalami peningkatan stimulasi pelepasan TSH sebagai proses fisiologis sebagi respon terhadap kondisi lingkungan yang lebih dingin. Level TSH dapat meningkat hingga 80 mU/L dan menurun dengan sangat cepat pada 24 jam pertama, yang diikuti dengan penurunan level TSH secara perlahan hingga di bawah 10 mU/L selama minggu pertama postnatal. Peningkatan level TSH menandai peningkatan level T4 dan Free T4 menjadi 17 g/dL dan 3.5 ng/dL dalam 24-36 jam pertama setelah kelahiran, dan kemudian turun secara perlahan hingga mendekati level pada orang dewas setelah melewati 4-5 minggu kehidupan. Pada neonatus yang preterm, memiliki kondisi yang serupa, namun tidak terjadi peningkatan yang tajam karena imaturitas aksis hipothalamus-hipofisis-tiroid.

Etiologi dan Patofisiologi Hipotiroidisme Kongenital Hipotiroidisme kongenital dapat bersifat permanen maupun transien (sementara). Disgenesis tiroid merupakan penyebab paling sering timbulnya hipotiroidisme kongenital yang menyerang 1:4000 bayi lahir. Penyebab timbulnya disgenesia ini masih belum diketahui dengan pasti namun Antibodi Sitotoksik Maternal dan Mutasi Genetik yang menyebabkan inaktivasi reseptor tiroid terkadang ditemukan. Defek sintesis hormon tiroid merupakan 10% dari semua kasus. Kondisi ini dianggap sebagai kelainan resesif autosomal. Defek tersebut dapat terletak pada:

1. Defisiensi iodium (maternal),

2. Iodine Trapping atau organifikasi,

3. Iodotyrosin Coupling atau deiodinisasi, dan

4. Sintesis atau sekresi Tiroglobulin. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah defek pada aktivitas Thyroid Peroxidase (TPO) yang mengarah pada hipotiroidisme. Defisiensi iodin sendiri sering terjadi pada kretinisme dan hipotiroid kongenital pada beberapa daerah endemis.

Hipotiroidisme hipotalamus dan hipofisis memiliki insidensi 1:100,000. Hal ini dapat terjadi akibat defisiensi concominant hormon hipofisis lainnya dan muncul disertai dengan kondisi hipoglikemia atau microcephallus. Hipotiroidisme transien akibat transfer transplasental TBII (TSH binding inhibitory immunoglobulins) dari ibu dengan penyakit tiroid autoimun ditemukan pada 1:50,000 kelahiran. Kondisi tersebut seringkali berlangsung selama 3-6 bulan, namun dapat bertahan hingga selama 9 bulan.

Tipe-Tipe Hipotiroidisme Kongenital Hipotiroidisme kongenital terdiri dari hipotiroidisme kongental primer dan sekunder. Untuk hipotiroidisme kongenital primer, kerusakan terjadi pada bagian tiroid. Untuk kondisi ini kita dapat membagi pasien dengan hipotiroidisme kongenital primer ke dalam 4 kelompok. Kelompok tersebut terdiri dari:

1. Tidak Adanya Kelenjar Tiroid (Athyrosis) Pada kelompok ini, kelenjar tiroid gagal terbentuk sebelum kelahiran. Kelenjar tersebut absen dan tidak akan pernah dapat berkembang, sehingga sebagai konsekuensinya tidak ada hormon tiroksin yang diproduksi. Kondisi ini disebut Agenesis Tiroid atau Atirosis. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki, sekitar 2:1. Kondisi ini ditemukan pada 1 dari 10.000 bayi lahir, dan merupakan 35% kasus yang ditemukan pada Newborn Screening. Alasan mengapa hormon tiroid gagal berkembang belum diketahui. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu kaskade pada gen yang berperan dalam pembentukan kelenjar tiroid tidak teraktivasi tepat pada waktunya.

2. Kelenjar Tiroid Ektopik Pada bayi dengan kondisi ini, kelenjar tiroid berukuran kecil dan tidak terletak secar normal pada posisinya di depan trakea. Seringkali kelenjar tiroid ditemukan di bawah lidah di dekat lokasi di mana kelenjar pertama kali terbentuk pada embrio. Tiroid ektopik memiliki derajat fungsi yang berbeda-beda. Terkadang ukurannya sangat kecil dan tidak aktif, namun pada kondisi tertentu masih dapat menghasilkan hormon tiroid yang jumlahnya hampir mencapai normal, oleh karena itu ada derajat keparahan pada kondisi ini. Setelah kelahiran, kelenjar tiroid ektopik tidak akan bertambah besar dan turun pada posisi normalnya. Fungsinya pun akan semakin menurun seiring perjalanan waktu.

Kelenjar tiroid ektopik juga dua kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Kondisi tersebut merupakan 50% dari yang terdeteksi pada Newborn Screening dan sedikit lebih sering terjadi dibandingkan atirosis. Penyebab pastinya juga tidak diketahui, namun penyebab yang sama seperti pada atirosis dapat menimbulkan kondisi ini.

3. Malformasi Kelenjar Tiroid pada Posisi Normal (Hipoplasia) Kondisi ini terkadang disebut sebagai Hipoplasia Tiroid dan hanya terjadi dengan persentase yang sangat kecil pada total seluruh kasus. Pada hipoplasia tiroid, kelenjar berukuran kecil, tidak terbentuk secara optimal dan terkadang hanya memiliki satu lobus.

4. Kelenjar Tiroid Tumbuh dengan Normal Namun Tidak Dapat Berfungsi Optimal (Dysmorphogenesis) Kondisi ini merupakan 15% dari kasus yang ditemukan pada Neonatal Screening. Dismorfogenesis seringkali terjadi akibat defek enzim tertentu, yang dapat bersifat transien maupun permanen. Pada bayi dengan dismorfogenesis, ukuran kelenjar tiroid mengalami pembesaran dan dapat dilihat atau diraba pada bagian depan.

Manifestasi Klinis Hasien Hipotiroidisme Kongenital 1. Keterlambatan Pertumbuhan Walaupun tiroksin tampaknya tidak begitu diperlukan untuk pertembuhan sebelum kelahiran, namun sangat esensial untuk pertumbuhan normal setelah kelahiran. Jika seorang bayi memilki defisiensi tiroid yang tidak ditangani, ia akan memiliki postur yang kecil pada masa bayi maupun kanak-kanak dan berujung pada postur yang sangat pendek. Keterlambatan pertumbuhan ini mempengaruhi seluruh bagian tubuh termasuk tulang.

2. Keterlambatan Perkembangan Mental

Retardasi intelektual dapat terjadi pada kondisi kekurangan tiroksin. Derajat retardasi bergantung pada keparahan defisiensi hormon tiroid. Jika hanya ada kekurangan parsial tiroksin, kelainan mental minimal dapat terjadi. Ketika tiroksin sepenuhnya tidak ada dan bayi tidak mendapatkan penanganan, retardasi mental yang parah mungkin dapat terjadi. Namun, kondisi ini tidak akan terjadi jika penatalaksanaan dilakukan sejak awal.

3. Jaundice Persisten Secara normal, kondisi jaundice adalah kondisi yang fisiologis yang dapat terjadi pada neonatus yang berlangsung selama 1-2 minggu. Namun pada kondisi hipotiroidisme yang tidak ditangani (untreated hypothiroidism), jaundice dapat berlangsung lebih dari waktu yang normal.

Prinsip Tatalaksana Pada hipotiroidisme, kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon tiroid yang cukup untuk kebutuhan tubuh, sehingga hormon ini harus segera digantikan. Hormon yang diberikan berupa tablet yang diminum secara oral yang mengandung tiroksin. Tiroksin yang terdapat pada tablet tersebut strukturnya persis sama seperti yang ada di dalam tubuh. Tiroksin kini dapat disintesis secara kimiawi. Sebelumnya tiroksin diperoleh dengan cara diekstrak dari kelenjar tiroid hewan.

Tiroksin dapat diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna dan siap untuk langsung memasuki sirkulasi darah. Hormon ini tidak perlu diberikan dalam bentuk injeksi seperti beberapa hormon, yaitu insulin.

Pengobatan untuk bayi adalah dengan levotiroksin 10-15 g/kgBB/hari, untuk anak yang lebih besar 2-3 g/kgBB/hari sampai tercapai kadar TSH serum normal. Pengobatan hipotiroidisme antara lain dengan pemberian tiroksin, biasanya dimulai dalam dosis rendah (50 g/hari), khususnya pada pasien yang lebih tua atau pada pasien dengan miksedema berat, dan setelah beberapa hari atau minggu sedikit demi sedikit ditingkatkan sampai akhimya mencapai dosis pemeliharaan maksimal 150 g/hari. Pada dewasa muda, dosis pemeliharaan maksimal dapat dimulai secepatnya. Pengukuran kadar TSH pada pasien hipotiroidisme primer dapat digunakan untuk menentukan manfaat terapi pengganti. Kadar ini harus dipertahankan dalam kisaran normal. Pengobatan yang adekuat pada pasien dengan hipotiroidisme sekunder sebaiknya ditentukan dengan mengikuti kadar tiroksin bebas.1.5. HIPOTIROID DIDAPATEtiologi Tiroiditis limfositik

Tiroidektomi subtotal pada tirotoksikosis atau kanker dapat menyebabkan hipotiroidisme seperti halnya pengambilan jaringan tiroid ektopik. Misalnya tiroid lidah, tiroid subhioid media, atau jaringan tiroid pada kista duktus tiroglosus. Anak dengan sistinosis nefropati, kelainan yang ditandai dengan penyimpangan sistin intralisosom dalam jaringan tubuh, mengalami gangguan fungsi tiroid. Infiltrasi histiosit tiroid pada anak dengan histiositosis sel Langerhans. Iradiasi daerah tiroid yang merupakan kejadian pada pengobatan penyakit hodgkin atau malignansi lain atau yang diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang sering menyebabkan kerusakan tiroid.

Obat-obat tertentu seperti amiodaroneManifestasi Klinik Manifestasi pertamanya yaitu perlambatan pertumbuhan, tetapi tanda ini sering tidak diketahui. Perubahan misedematosa, konstipasi, intoleransi dingin, energi menurun, bertambahnya kebutuhan untuk tidur berkembang secara diam-diam. Tugas sekolah dan nilai biasanya tidak terpengaruh, bahkan pada anak yang menderita hipotiroidisme berat sekalipun. Maturasi tulang terlambat, sering mencolok, yang merupakan petunjuk lamanya hipotiroidisme. Beberapa anak datang dengan nyeri kepala, masalah penglihatan, pubertas prekok, atau galaktorrea. Anak-anak ini biasanya mengalami pembesaran hiperplastik kelenjar pituitari, seringkali dengan perlasan suprasella, setelah hipotiroidisme yang lama, keadaan ini dapat dikelirukan dengan tumor kelenjar pituitari. Semua perubahan di atas akan kembali menjadi normal dengan penggantian T4 yang cukup, tetapi pada anak dengan hipotiroidisme yang lama, petumbuhan susulan mungkin tidak sempurna. Selama 18 bulan pertama pengobatan, maturasi skeleton sering melebihi pertumbuhan linier yang diharapkan, yang menyebabkan hilangnya sekitar 7 cm ketinggian dewasa yang diharapkan.

Pemeriksaan Diagnostik dan Pengobatan Pemeriksaan diagnostik dan pengobatan adalah sama dengan hipotiroidisme konginetal. Pengukuran antibodi antitiroglobulin dan antiperoksidase dapat mengarahkan penyebabnya pada tiroiditis autoimun. Selama tahun pertama pengobatan , perburukan tugas sekolah, kebiasaan tidur yang buruk, kegelisahan, waktu perhatian yang pendek, dan masalah-masalah perilaku dapat terjadi, tetapi ini terjadi sementara.

Diagnosis hipotiroidisme kongenital, dipastikan dari hasil pemeriksaan TSH dalam darah dari tumit/umbilikus yang lebih besar dari 25 mU/l. Untuk anak yang lebih besar diagnosis ditegakkan dari rendahnya FT4 dan tingginya TSH serum. Pemeriksaan radiologi rangka menunjukkan tulang yang mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan, disgenesis epifisis, dan keterlambatan perkembangan gigi. Tes-tes laboratorium yang digunakan untuk memastikan hipotiroidisme antara lain: kadar tiroksin dan triyodotironin serum yang rendah, BMR yang rendah, dan peningkatan kolesterol serum. Kadar TSH serum mungkin tinggi mungkin pula rendah, bergantung pada jenis hipotiroidisme. Pada hipotiroidisme primer, kadar TSH serum akan tinggi, sedangkan kadar tiroksin rendah. Sebaliknya, kedua pengukuran tersebut akan rendah pada pasien dengan hipotiroidisme sekunder.1.6. DEFISIENSI HORMON PERTUMBUHANEtiologi dan Klasifikasi Pada kondisi kekurangan growth hormone pertama perlu kita bedakan berdasarkan ada tidaknya kekurangan hormon lain yang juga menyertai kekurangan growth hormon ini khususnya apabila kita berbicara dalam konteks terjadinya perawakan yang pendek pada seorang pasien. Untuk itu defisiensi hormon pituitari terkait gangguan pertumbuhan dapat dibedakan menjadi multiple pituitary hormone deficiency dan isolated GH deficiency dan Insensitivity GH. 1. Multiple pituitary hormone deficiency

Kondisi ini dapat disebabkan karena gangguan genetik (mutasi) atau karena suatu proses yang didapat (infeksi, keganasan, dll).

GenetikBeberapa mutasi yang diduga terkait dengan kondisi ini antara lain:

HESX1 Pada mutasi ini bisanya selain terlihat gangguan pertumbuhan (karena defisiensi growth hormone), juga disertai dengan berbagai tingkatan gangguan atau defek dari optic nerve. Gangguan ini tampak lebih buruk pada kondisi homozygote dimana ditemukannya septo-optic dysplasia serta ketidak sempurnaan perkembangan dari septum pellucidum dan optic nerve hypoplasia. LHX3 Gangguan pada gen ini menunjukkan adanya defisiensi pada hormon GH, prolaktin, TSH, LH dan FSH akan tetapi tidak untuk ACTH. Gejala khas yang muncul dengan gangguan hormon ini berupa pembesaran dari pituitari anterior, leher pendek, kaku pada cervical spine, serta ketidak mampuan melakukan rotasi leher sepenuhnya (hanya 90 derajat, dimana pada orang normal dapat mencapai 150-180 derajat). LHX4 Mutasi pada hormon ini terkait juga dengan kekurangan dari hormon GH, TSH, dan ACTH. Beberapa kondisi terkait dengan mutasi pada kompleks ini ditandai dengan hipofisis yang mengecil berbentuk V, dan anectopic posterior pituitary. PTX2 Terkait dengan Rieger Syndrome yang dapat menyebabkan coloboma serta gangguan lain pada ginjal, GI tract dan umbilicus. PROP 1

Merupakan mutasi yang paling sering terjadi dan menyebabkan defisiensi dari GH, TSH serta pada tahap lebih lanjut menyebabkan defisiensi LH dan FSH serta ACTH. Kondisi klinis terkait mutasi ini dapat berupa penegakan diagnosis yang pada usia sekitar 6 tahun, dimana pada usia sebelumnya tidak ditemukan adanya gangguan. Kemudian ditemukannya gangguan pada masa pubertas, dimana umumnya terjadi pubertas yang spontan kemudian terjadi suatu kemunduran dimana pada perempuan ditemukan secondary amenorhoea sedangkan pada laki-laki ditemukan regresi dari ukuran testis dan perkembangan seks sekunder.

POU1F1

Merupakan salah satu gen yang mengalami mutasi dan berakibat sangat buruk, karena defisiensi total dari GH dan prolaktin. Untuk hormon lainnya umumnya menunjukkan kenormalan. Pada tahun pertama kehidupan pada kondisi ini sudah ditemukan kegagalan pertumbuhan yang sangat parah.

Acquired (didapat)

Untuk penyebab-penyebab yang didapat bisa merupakan manifestasi dari penyakit-penyakit tertentu baik itu infeksi (meningitis, TBC, toxoplasmosis), tumor (craniopharyngoma, CNS germinoma, eosinophilic granuloma) serta trauma. Intinya dari berbagai penyebab tersebut akan menyebabkan terjadi lesi pada hipotalamus dan atau hipofisis sehingga menyebabkan gangguan sekresi hormon.

2. Isolated GH deficiency

Gangguan pada produksi GH ini sendiri dapat juga disebabkan oleh faktor genetik (mutasi) serta dapat juga disebakan oleh faktor yang didapat.

Mutasi Genetik

GHRH receptor Mutasi gen GH X-Linked

Acquired (didapat)

3. GH Insensitivity

Genetic

Abnormalitas reseptor GH Post receptor abnormalities IGF-1 gene abnormal IGF-B protein abnormal IGF-1 receptor abnormal

Manifestasi Klinis Manifestasi klinis dari defisiensi GH ini dapat dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, apakah bersifat kongenital ataukah didapat (acquired).

Kongenital hipopituitari

Pada kondisi hipopituitark biasanya ditemukan kodisi yang normal ketika baru lahir baik itu berat badan ataupun panjang badannya. Akan tetapi pada beberapa keadaan seperti kondisi dimana terjadi gangguan produksi multipel dari hormon hipofisis dan pada kondisi defek dari gen GH (GH1 atau GH receptor) maka pada waktu lahir biasanya ditemukan pertumbuhan yang 4 SD dibawah rata-rata anak 1 tahun. Pada kondisi yang tidak terlau berat biasanya hanya ditemukan keterlambatan dari penutupan epiphyseal plate.

Penting juga untuk mengetahui beberapa kondisi kegawatan (neonatal emergencies) yang terjadi terkait dengan gangguan produksi dari hormon-hormon hipofisis ini:

Apnea Cyanosis Microcephalus Severe hypoglycemia Hypothyroidism dan hypoadrenalism Perpanjangan jaundice

Selain gejala-gejala tersebut terdapat juga beberapa tanda lain yang menandakan terjadinya gangguan pertumbuhan:

Kepala bulat Muka pendek dan lebar Frontal bone yang dominan Hidung kecil Mata bengkak Mandibula dan dagu yang tidak begitu berkembang Gigi terlihat penuh Leher pendek Laring kecil Terdapat peningkatan lemak tubuh akan tetapi mengalami defisiensi pada masa otot (gemuk pendek) Keterlambatan maturasi seksual Tanda-tanda hipoglicemia

Diagnosis

Diagnosis dari defisiensi GH biasanya ditemukan dengan jelas pada kondisi kegagalan pertumbuhan pada masa postnatal baik itu yang sedang sampai berat. Kriteria ini ditemukan dengan tinggi badan yang > 2 SD dibawah standar. Sedangkan untuk kondisi GH karena penyakit tertentu dapat ditemukan pada setiap usia.

Pada pemeriksaan laboratorium, seringkali ditemukan penurunan kadar serum IGF-I dan GH-dependent IGF-BP3. Selain itu IGF-1 dan IGF-BP3 harus disesuaikan dengan perkembangan tulang. Nilai dari indikator ini yang lebih dari normal dapat mengeliminasi penyebab defisiensi GH.

Untuk diagnosis pasti dari defisiensi GH, umumnya ditemukan dengan tidak adanya atau jumlahnya yang sangat rendah dari GH. Tes profokatif dapat dilakukan pada kondisi ini. Dimana dilakukan dengan pemberian insulin, arginine, clonidine, atau glucagon. Pada kondisi defisiensi GH kronis, ditemukan gangguan yang sangat berat pada pertumbuhan linier, keterlambatan pematangan tulang, serta lumlah GH yang sangat rendah (