of 25 /25
Appendisitis Akut Yunita Eliana Intan Kaban Boka 102013350 [email protected] Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6 JakBar 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731 Abstrak : Abdomen adalah suatu bagian tubuh dimana terdapat berbagai organ yang mempunyai fungsi – fungsi tersendiri, salah satu contohnya adalah appendiks. Appendiks merupakan bagian dari caecum yang berfungsi sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki atau berisi kelenjar limfoid. Selayaknya organ – organ lain, appendiks juga dapat mengalami suatu peradangan yang disebut apendisitis. Apendisitis dapat terjadi pada semua usia, baik muda maupun tua. Apendisitis merupakan suatu penyakit yang memerlukan penanganan atau tindakan segera. Kata kunci: abdomen, appendik, appendisitis. Abstract Abdomen is a part of the body where there are various organ that has the function- a function of its own, one example is the appendix. Appendix is part of the caecum which serves as immunologic organ and actively 1

blok 16- sken 11

Embed Size (px)

DESCRIPTION

blok 16- sken 11

Citation preview

Page 1: blok 16- sken 11

Appendisitis Akut

Yunita Eliana Intan Kaban Boka

102013350

[email protected]

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 JakBar 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax :

(021) 563-1731

Abstrak :

Abdomen adalah suatu bagian tubuh dimana terdapat berbagai organ yang

mempunyai fungsi – fungsi tersendiri, salah satu contohnya adalah appendiks.

Appendiks merupakan bagian dari caecum yang berfungsi sebagai organ imunologik

dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh)

dimana memiliki atau berisi kelenjar limfoid. Selayaknya organ – organ lain,

appendiks juga dapat mengalami suatu peradangan yang disebut apendisitis.

Apendisitis dapat terjadi pada semua usia, baik muda maupun tua. Apendisitis

merupakan suatu penyakit yang memerlukan penanganan atau tindakan segera.

Kata kunci: abdomen, appendik, appendisitis.

Abstract

Abdomen is a part of the body where there are various organ that has the

function- a function of its own, one example is the appendix. Appendix is part of the

caecum which serves as immunologic organ and actively participates in the secretion

of immunoglobin (an immune) which have or contain lymphoid glands. Proper organ-

another organ, the appendix can also experience an inflammation called appendicitis.

Appendicitis can occur at all ages, both young and old. Appendicitis is a disease that

requires treatment or immediate action.

Key word: abdomen, appendix, appendicitis.

1

Page 2: blok 16- sken 11

Pendahuluan

Sistem pencernaan terdiri dari saluran panjang yaitu saluran cerna. Saluran ini

dimulai dari mulut sampai anus. Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan

ditambah organ-organ pencernaan tambahan (aksesori). Fungsi utama sistem

pencernaan adalah untuk memindahkan zat gizi atau nutrien, air dan elektrolit dari

makanan yang kita makan ke dalam lingkungan internal tubuh.

Pencernaan merupakan proses untuk mengubah bahan makanan menjadi zat

yang dapat diserap kedalam peredaran darah. Bahan-bahan yang tidak berguna dan

sebagian yang toksis dikeluarkan berupa feses. Sistem pencernaan tidak dapat

melaksanakan fungsinya jika dalam keadaan terganggu. Walaupun sistem pencernaan

mempunyai manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita, akan tetapi tidak jarang

juga kelainan pada sistem ini juga dapat mengakibatkan kematian. Salah satunya

adalah apendisitis, penyakit ini merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering

terjadi dan tindakan bedah segera mutlak diperlukan pada apendisitis akut

untuk menghindari komplikasi yang umumnya berbahaya.

Apendisitis merupakan peradangan pada apendik periformis. Apendik

periformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang lebih sebesar pensil

dengan panjang 2-6 inci. Lokasi apendik pada daerah illiaka kanan, di bawah katup

iliocaecal, tepatnya pada dinding abdomen di bawah titik Mc Burney. Apendiks

disebut juga umbai cacing, apendisitis merupakan Peradangan dimulai oleh obstruksi

dari fekalit (suatu masa seperti batu yang terbentuk dari feces) atau infeksi bacterial

supuratif. Sebagian kecil apendiks dapat menjadi membengkak atau nekrosis

mengenai seluruh apendiks. Terkait dengan hal tersebut, makalah ini akan membahas

dan memberikan pengertian tentang sejumlah bahan maupun bagian yang perlu

diperhatikan lebih dalam dari kasus yang diberikan, yaitu appendisitis.

Anamnesis

Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui

riwayat penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan

teliti, teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis

untuk menegakkan diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu

identitas, riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan penyakit. Anamnesis dilakukan

secara auto-anamnesis (langsung pada pasien). Pasien adalah seorang wanita berusia

2

Page 3: blok 16- sken 11

35 tahun dengan keluhan nyeri hebat pada perut kanan bawahnya sejak 6 jam yang

lalu dan sebelumnya mengeluh nyeri pada ulu hati disertai mual serta tak kunjung

membaik setelah minum obat maag. Penanganan dari pasien ini harus dimulai dengan

riwayat secara menyeluruh melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk

melakukan diagnosis. Sebaiknya memulai anamnesis dengan menanyakan beberapa

pertanyaan berikut:

1. Menanyakan identitas, usia, dan pekerjaan.

2. Sejak kapan mengalami hal seperti ini?

3. Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama?

4. Kapan gejala terasa paling berat?

5. Apakah ada faktor lain yang memperberat keadaan?

6. Adakah keluhan penyerta lain?

7. Menanyakan penyakit sebelumnya/riwayat trauma.

8. Menanyakan aktivitas dan makanan sehari-hari.

9. Apakah sudah mengkonsumsi obat ?

10. Apakah dalam keluarga ada yang mengalami hal yang sama?

11. Menanyakan mengenai riwayat sosial-ekonomi.

Dengan dilakukannya suatu anamnesis yang baik dan lengkap, seorang dokter

diharapkan dapat menerawang suatu penyakit yang dialami oleh pasien yang datang,

sehingga dapat diambil langkah selanjutnya dalam pemeriksaan klinis yang

berlangsung.

Pemeriksaan Fisik

Salah satu pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah memeriksa keadaan

umum dan tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi

pernapasan. Lalu dilakukan inspeksi, palpasi dan auskultasi. Inspeksi untuk melihat

lokasi nyeri, pembagian abdomen berdasarkan kuadran (LUQ, RUQ, RLQ, LLQ),

pembagian abdomen berdasarkan 9 regio (pada orang gemuk), melihat bentuk

abdomen dan kesimetrisannya, perubahan warna kulit, lesi kulit, pembuluh darah

kolateral, jenis bekas luka, benjolan, pulsasi, dan peristaltic yang terlihat pada dinding

abdomen. Sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan

jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Palpasi dengan menggunakan 3 jari ( jari 2, 3,

3

Page 4: blok 16- sken 11

dan 4 ) tangan kanan. Palpasi dalam abdomen ada 3, yaitu palpasi umum, palpasi

organ, dan palpasi khusus. Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa

nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah

merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan

dirasakan nyeri pada perut kanan bawah yang disebut sebagai tanda Rovsing (Rovsing

Sign). Dan apabila tekanan di perut kanan bawah dilepaskan secara tiba-tiba juga akan

terasa nyeri yang disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Pada pasien ini ditemukan

nyeri tekan dan nyeri lepas pada kuadran kanan bawah.1

Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator pemeriksaan ini juga dilakukan untuk

mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan

otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul

kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m.

psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji

obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi

terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang

merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.

Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. Auskultasi memberikan hasil

bahwa peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik

pada peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata.1

Gambar 1. Psoas Sign2 Gambar 2. Obturator Sign2

Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada apendisitis untuk menentukan letak

apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan

terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis.

Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.

Pemeriksaan Penunjang

4

Page 5: blok 16- sken 11

Tes laboratorium untuk appendisitis akuta bersifat nonspesifik, sehingga

hasilnya tak dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan atau menyangkal diagnosis.

Pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein

reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit

antara10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP

ditemukan jumlah serum yang meningkat.2

Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan

kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. Urinalisa sangat penting pada

anak dengan keluhan nyeri abdomen untuk menentukan atau menyingkirkan

kemungkinan infeksi saluran kencing. Appendiks yang mengalami inflamasi akut dan

menempel pada ureter atau vesika urinaria, pada pemeriksaan urinalisis ditemukan

jumlah sel leukosit 10-15 sel/lapangan pandang dan albuminuria minimal. 2

Pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan dengan radiologi yang terdiri

dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi

ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. USG

juga berguna pada wanita sebab dapat menyingkirkan adanya kondisi yang

melibatkan organ ovarium, tuba falopi dan uterus yang gejalanya menyerupai

appendicitis. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang

menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami

inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Pada foto tidak dapat menolong untuk

menegakkan diagnosa appendicitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang

kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :

a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan

b. Kadang ada fekolit (sumbatan)

c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam

diafragma

Working Diagnosis

Appendicitis

Appendicitis adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada

appendiks dan merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui.

Appendiks disebut juga umbai cacing. Appendicitis sering disalah artikan dengan

5

Page 6: blok 16- sken 11

istilah usus buntu, karena usus buntu sebenarnya adalah caecum. Appendicitis

dicetuskan oleh berbagai factor, diantaranya adalah hyperplasia jaringan limfe,

fecolith, tumor appendiks dan cacing ascaris. Appendiks atau umbai cacing adalah

suatu organ yang terdapat pada sekum yang terletak pada proximal colon.3

Appendix dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis,

ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Appendiks pada

awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi tetapi saat

ini diketahui bahwa fungsi appendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara

aktif berperan dalam sekresi immunoglobin (IgA) walaupun dalam jumlah kecil.

Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum.

Karena pengosongannya yang tidak efektif, dan lumennya kecil, appendiks cenderung

menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi.3

Appendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjang ± 10 cm ( antara 3-15

cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di

bagian distal. Sedangkan pada bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar pada

pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya (hal ini mungkin menjadi sebab

rendahnya insidens apendisitis pada usia ini). Persarafan parasimpatis berasal dari

cabang nervus vagus yang mengikuti a. Mesenterika superior dan a. Apendikularis,

sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Torakalis X (oleh karena itu nyeri

viseral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus). Perdarahan appendiks berasal

dari a. Apendikularis (arteri tanpa kolateral). Jika arteri ini tersumbat misalnya karena

trombosis pada infeksi, appendiks akan mengalami gangren.3

Appendicitis harus segera ditangani dengan tindakan pembedahan yaitu

appendiktomi. Pencegahan appendicitis adalah dengan mengatur pola makan kita.

Memperbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat yang tinggi akan

mengecilkan resiko terkena appendicitis.

Differential Diagnosis

Limfadenitis Mesenterika

Limfadenitis Mesenterika merupakan peradangan pada kelenjar getah bening

mesenteric di abdomen. Proses ini bisa akut maupun kronik, tergantung agen

6

Page 7: blok 16- sken 11

penyebabnya. Penyakit ini sering menimbulkan gejala klinis yang susah dibedakan

dengan appendicitis. Ditandai dengan rasa nyeri perut terutama kanan, disertai mual

dan nyeri tekan perut yang samar. Pada anamnesa akan ditemukan mual dan muntah

yang mendahului rasa sakit (pada apendicitis akut mual dan muntah timbul setelah

rasa sakit).4

Adneksitis

Adneksitis adalah infeksi atau radang pada adnexsa rahim. Adneksa adalah

jaringan yang berada di sekitar rahim. Ini termasuk tuba fallopii dan ovarium alias

indung telur, tempat dimana sel telur diproduksi. Istilah lain yang sering digunakan

untuk menyebut Adneksitis adalah PID (Pelvic Inflammatory Disease) atau

Salpingitis. Dari pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa adneksitis

hanya menyerang kaum wanita, karena merekalah yang memiliki rahim, sedangkan

pria tidak.5

Penyebab adneksitis antara lain adalah akibat infeksi kemudian dapat juga

disebabkan oleh tindakan medis seperti laparatomi, kuretase, dan lain – lain, dapat

juga disebabkan perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh, seperti

appendiks. Radang tersebut kebanyakan akibat infeksi, ini juga bisa datang dari

tempat ekstravaginal lewat jalan darah atau menjalar dari jaringan disekitarnya.

Gejala umum yang terlihat pada adneksitis adalah demam, sakit perut pada bagian

bawah baik kiri maupun kanan, nyeri saat berhubungan dan berkemih, serta keluar

cairan yang berbau dari vagina.5

Karena penyebabnya infeksi bakteri, maka penanganan yang dilakukan yaitu

dengan pemberian antibiotic dengan spectrum luas. Biasanya diberikan suntikan

antibiotic yang diikuti dengan obat oral selama 10 – 14 hari. Penyakit ini dapat

membawa dampak yang serius jika tidak segera ditangani, seperti kemandulan,

kehamilan diluar rahim, keluarnya nanah dari vagina, dan nyeri panggul kronis.5

Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi berimplantasi,

tumbuh, dan berkembang diluar endometrium kavum uteri. Bila kehamilan itu

mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut dengan Kehamilan Ektopik

7

Page 8: blok 16- sken 11

Terganggu (KET). Yang terbanyak dijumpai adalah kehamilan pada tuba fallopii.

KET bisa disebabkan oleh Penyakit Menular Seks (PMS) dan adhesi peritubal yang

terjadi setelah infeksi seperti appendicitis atau endometriosis sehingga tuba dapat

tertekuk atau lumen menyempit. Gejala yang paling sering terlihat pada penderita

KET adalah nyeri perut, kemudian diikuti dengan amenore, syok hipovolemik, dan

lain – lain.5

Nyeri perut pada KET bersifat unilateral ataupun bilateral di abdomen bawah

dan terkadang terasa sampai di abdomen bagian atas, serta terdapat juga nyeri tekan.

Untuk membedakan dengan appendicitis, pada KET ditemukan massa yang batasnya

tidak jelas, sedangkan pada appendicitis terlihat massa yagn lebih jelas. Nyeri pada

appendicitis sering lokasinya lebih tinggi, yaitu pada titik McBurney. Untuk

membantu diagnosis, dapat dilakukan tes kehamilan. Tes kehamilan positif berarti

KET.5

Penanganan KET dengan tindakan pembedahan, selain itu juga diperlukan

transfuse darah, serta antibiotic untuk mencegah infeksi. Prognosis pada KET baik

bila kita dapat mendiagnosis secara dini. Keterlambatan diagnosis akan menyebabkan

prognosis buruk karena bila pendarahan arterial yang terjadi di intraabdomen tidak

segera ditangani, akan menyebabkan kematian karena syok hipovolemik.5

Etiologi

Apendisitis disebabkan oleh obstruksi lumen appendiceal. Penyebab paling

umum dari obstruksi luminal termasuk hiperplasia limfoid sekunder untuk penyakit

radang usus (IBD) atau infeksi (lebih umum selama masa kanak-kanak dan dewasa

muda), fecal stasis dan fecaliths (lebih umum pada pasien usia lanjut), parasit

(terutama di negara-negara Timur) , atau, lebih jarang, benda asing dan neoplasma.6

Fecaliths terbentuk ketika garam kalsium dan puing-puing kotoran menjadi

berlapis di sekitar nidus feces yang terletak di dalam usus buntu. Hiperplasia limfoid

dikaitkan dengan berbagai gangguan inflamasi dan infeksi termasuk penyakit Crohn,

gastroenteritis, amebiasis, infeksi pernafasan, campak, dan mononukleosis. 6

8

Page 9: blok 16- sken 11

Obstruksi lumen appendiceal jarang dikaitkan dengan bakteri (Yersinia

spesies, adenovirus, cytomegalovirus, actinomycosis, spesies mikobakteri, spesies

Histoplasma), parasit (misalnya, Schistosomes spesies, cacing kremi, Strongyloides),

bahan asing (misalnya, senapan pelet, alat kontrasepsi), TBC, dan tumor. 6

Epidemiologi

Appendisitis sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20- 30 tahun. Pada

wanita dan laki- laki insidennya sama kecuali pada usia pubertas dan usia 25 tahun

wanita lebih banyak dari laki- laki dengan perbandingan 3: 2. Appedisitis adalah

keadaan darurat bedah yang umum, dan merupakan salah satu penyebab paling umum

dari kesakitan abdominal. Di Amerika Serikat, 250.000 kasus appensisitis dilaporkan

setiap tahun, mewakili 1 juta pasien/ hari yang masuk rumah sakit. Insiden

appendisitis akut telah menurun sejak akhir 1940-an, dan kejadian tahunan saat ini

adalah 10 kasus per 100.000 penduduk. Appendisitis terjadi pada 7% dari penduduk

AS, dengan kejadian 1,1 kasus per 1000 orang pertahun. Ada kecenderungan

predisposisi dalam keluarga terhadap appendisitis.6

Di negara- negara Asia dan Afrika, kejadian appendisitis akut mungkin lebih

rendah karena kebiasaan makan penduduk dari wilayah geografis. Insiden appendisitis

lebih rendah dalam budaya dengan asupan tinngi serat makanan. Serat pangan

diperkirakan menurukan viskositas feses, mengurangi waktu transit usus, dan

mencegah pembentukan fecaliths, yang mempengharui individu untuk penghalang

dari lume appendiceal.

Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan frekuensi usus buntu di negara-

negara Barat telah dilaporkan, yang mungkin berhubungan dengan perubahan dalam

asupan serat makanan. Bahkan, insiden yang lebih tinggi dari apendisitis diyakini

terkait dengan asupan serat yang minim di negara-negara tersebut.

Patofisiologi

Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat

disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,

adanya fekalit dalam lumen appendiks.  Adanya benda asing seperti cacing, stiktura

karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan

(karsinoma karsinoid).

9

Page 10: blok 16- sken 11

Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke

seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan

mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus

dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin

bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen.

Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut

menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat

tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan

timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi

apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar

umbilikus. Mukosa dari appendiks mempunyai sifat khusus dimana ia masih dapat

menghasilkan sekresi pada tekanan yang tinggi sehingga distensi dari lumen akan

terus meningkat. Distensi ini akan merangsang ujung saraf viseral yang mensyarafi

appendiks sehingga muncul nyeri.

Nyeri awalnya dirasakan pada umbilikal dan kwadran bawah epigastrium

dengan nyerinya yang tumpul dan difuse. Nyeri ini dirasakan pada umbilikal karena

persarafan appendiks berasal dari Thorakal 10 yang lokasinya pada umbilikal. Maka

nyeri pada umbilikal merupakan suatu Reffered Pain. Distensi dari appendiks juga

akan meningkatkan peristalsis usus sehingga menimbulkan nyeri kolik. Distensi

appendiks dengan mukus ini dikenali dengan Mucocele Appendiks.1,2

Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat.

Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri

akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan

mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan

bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.1

Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding

apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan

apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini

pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi.1

10

Page 11: blok 16- sken 11

Gambar 3. Bagan patogenesis apendisitis2

Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses

peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus

halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan

istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses

yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan

sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan

mengurai diri secara lambat.1,2

Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih

panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih

kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi

mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah.1

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi

akan membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan

dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan

keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami

peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi.2

Gejala klinis

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri

samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus.

Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada

11

Page 12: blok 16- sken 11

umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih

ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan

jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Tanda rovsing (dapat

diketahui dengan mempalpasi kuadran kiri bawah, yang menyebabkan nyeri pada

kuadran kanan bawah) . Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih

menyebar, terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.

Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi

terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan

ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang

apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat

celcius.2

Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit

dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya,

sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan

dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.2

1. Pada anak-anak

Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan.

Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam

kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik.

Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi.

Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi

perforasi.

2. Pada orang tua berusia lanjut

Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari

separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.

3. Pada wanita

Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang

gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses

12

Page 13: blok 16- sken 11

ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada

wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri

perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul

pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan

apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut

kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.

Komplikasi

Komplikasi yang paling sering ditemukan pada appendicitis adalah perforasi.

Baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada appendiks yang telah

mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan

appendiks, sekum, dan lekuk usus halus. Perforasi dapat menyebabkan

timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. Tanda-tanda

terjadinya suatu perforasi adalah :7

Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen

menyeluruh

Suhu tubuh naik tinggi sekali.

Nadi semakin cepat.

Defance muskular yang menyeluruh

Bising usus berkurang

Perut distended

Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :7

1. Pelvic Abscess

2. Subphrenic absess

3. Intra peritoneal abses lokal.

13

Page 14: blok 16- sken 11

Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga

abdomen, dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.7

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara medikamentosa

dan non medikamentosa. Secara non-medikamentosa yaitu sebaiknya menjaga kondisi

badan dengan baik dan tidak banyak beraktivitas. Secara medika mentosa dilakukan

bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat

adalah segera dilakukan apendiktomi. Apendektomi dapat dilakukan dalam dua cara,

yaitu cara terbuka dan cara laparoskopi. Apabila apendisitis baru diketahui setelah

terbentuk massa periapendikuler, maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan

adalah pemberian/terapi antibiotik kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini

merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Antibiotik initial

diberikan termasuk generasi ke 3 Cephalosporins, Ampicillin, dan Metronidazol atau

Klindamisin untuk kuman anaerob terhadap bakteri gram negatif dan didistribusikan

dengan baik ke cairan tubuh dan jaringan. Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6-8

minggu, barulah apendektomi dapat dilakukan. Jika gejala berlanjut, yang ditandai

dengan terbentuknya abses, maka dianjurkan melakukan drainase dan sekitar 6-8

minggu kemudian dilakukan apendisektomi. Namun, apabila ternyata tidak ada

keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan laboratorium

tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotik, maka

dapat dipertimbangkan untuk membatalkan tindakan bedah.5

Laparoskopik appendiktomi mulai diperkenalkan pada tahun 1987, dan telah

sukses dilakukan pada 90-94% kasus appendicitis dan 90% kasus appendicitis

perforasi.Saat ini laparoskopik appendiktomi lebih disukai. Prosedurnya, port

placement terdiri dari pertama menempatkan port kamera di daerah umbilikus,

kemudian melihat langsung ke dalam melalui 2 buah port yang berukuran 5 mm. Ada

beberapa pilihan operasi, pertama apakah 1 port diletakkan di kuadran kanan bawah

dan yang lainnya di kuadran kiri bawah atau keduanya diletakkan di kuadran kiri

bawah. Sekum dan appendiks kemudian dipindahkan dari lateral ke medial.1

Laparoskopik appendiktomi mempunyai beberapa keuntungan antara lain

bekas operasinya lebih bagus dari segi kosmetik dan mengurangi infeksi pascabedah.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa laparoskopik appendiktomi juga

14

Page 15: blok 16- sken 11

mempersingkat masa rawatan di rumah sakit. Kerugian laparoskopik appendiktomi

antara lain mahal dari segi biaya dan juga pengerjaannya yang lebih lama, sekitar 20

menit lebih lama dari appendiktomi terbuka. Namun lama pengerjaanya dapat

dipersingkat dengan peningkatan pengalaman.1

Kontraindikasi laparoskopik appendiktomi adalah pada pasien dengan

perlengketan intra-abdomen yang signifikan.Pada appendicitis dengan abses atau

phlegmon, dianjurkan untuk drainase abses dan appendektomi dilakukan 6-10 minggu

kemudian.Pada appendicitis dengan perforasi perlu dilakukan laparotomi. Sebelum

pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian

antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan

pemasangan pipa nasogastrik.1

Pencegahan

Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau

peradangan pada lumen apendik. Pola eliminasi klien harus dikaji, sebab obstruksi

oleh fecalit dapat terjadi karena tidak adekuatnya diet serat/diet tinggi serat.

Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan resiko.

Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis meminimalkan resiko

terjadinya gangren, perforasi, dan peritonitis.

Prognosis

Prognosis untuk apendisitis baik setelah mengalami tindakan medika mentosa.

Apendisitis tak berkomplikasi membawa mortalitas kurang dari 0,1 persen, gambaran

yang mencerminkan perawatan prabedah, bedah dan pascabedah yang tersedia saat

ini. Angka kematian pada apendisitis berkomplikasi telah berkurang dramatis menjadi

2 sampai 5 persen, tetapi tetap tinggi dan tak dapat diterima (10 sampai 15 persen),

pada anak kecil dan orang tua. Pengurangan mortalitas lebih lanjut harus dicapai

dengan intervensi bedah lebih dini.

Kesimpulan

Wanita berusia 35 tahun apendisitis berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang. Appendicitis merupakan Peradangan dimulai oleh

obstruksi dari fekalit (suatu masa seperti batu yang terbentuk dari feces) atau infeksi

bacterial supuratif. Appendicitis dapat menyerang semua kalangan usia. Penanganan

15

Page 16: blok 16- sken 11

yang cepat dapat meminimalisasikan terjadinya komplikasi sehingga penanganan

yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis adalah dilakukan tindakan bedah

yaitu appendiktomi.

Daftar pustaka

1. Sjamsuhidajat, R. Buku ajar ilmu bedah . Edisi ke-2. Jakarta: EGC;

2005.h.639-45.

2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardani WI. Bedah digestif. Edisi ke-3. Jakarta:

Media Aesculapius; 2005.h. 307-13.

3. Anderson PD. Anantomi dan fisiologi tubuh manusia. Jakarta :

EGC;2012.h.37-9.

4. Schwartz, Shires, Spencer. Intisari prinsip – prinsip bedah. Edisi ke-6.

Jakarta : EGC;2003.h.445-51,502-3.

5. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Obstetric patologi :

ilmu kesehatan reproduksi. Edisi ke-2. Jakarta : EGC;2003.h.16-23.

6. Craig S. Appendicitis  Clinical Presentation. Diunduh dari:

(http://www.http://emedicine.medscape.com, diakses 16 Mei 2015).

7. Grace PA, Borley NR. At a Glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EMS;

2007. h.105-7.

16