of 174/174
i KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TINGKAT KEDWIBAHASAAN MAHASISWA PBSI ANGKATAN 2015, FKIP UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA DI LUAR PEMBELAJARAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Zella Sekar Arum Putri 151224025 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TINGKAT KEDWIBAHASAAN …repository.usd.ac.id/35773/2/151224025_full.pdf · KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TINGKAT KEDWIBAHASAAN MAHASISWA PBSI ANGKATAN 2015, FKIP

  • View
    8

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TINGKAT KEDWIBAHASAAN …repository.usd.ac.id/35773/2/151224025_full.pdf ·...

  • i

    KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TINGKAT KEDWIBAHASAAN MAHASISWA PBSI ANGKATAN 2015, FKIP UNIVERSITAS

    SANATA DHARMA YOGYAKARTA DI LUAR

    PEMBELAJARAN

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

    Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Oleh:

    Zella Sekar Arum Putri

    151224025

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2019

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ii

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iii

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iv

    MOTO

    “Tidak ada yang jelek dan yang bagus, Allah maha menghargai orang yang mau

    belajar dan berusaha”

    (Melly Goeslaw)

    “Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikan telapak tangan.

    Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras.”

    (Chairul Tanjung)

    “Pengalaman tidak bisa dipelajari, tetapi harus dilalui.”

    (B.J Habibie)

    “Hal paling jenius yang kita lakukan adalah tidak menyerah.”

    (Jay-Z)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • v

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Skripsi ini saya persembahkan kepada:

    1. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu membimbing, mencintai, menyertai,

    dan menjamah doa serta hidup penulis.

    2. Kedua orang tua saya, Sudarmaji dan Konik Muji Slamet yang tetap setia,

    sabar mendidik dan mendukung saya hingga mampu menyelesaikan

    pendidikan penulis.

    3. Kakak saya, Stefanus Agri Karuniawan dan Bernadeta Elshinta Kurniati

    yang selalu sabar membimbing, memberikan dukungan, dan motivasi

    kepada penulis.

    4. Sahabat-sahabat saya yang memberikan dukungan, dorongan, dan

    semangat tiada henti kepada penulis.

    5. Almamater saya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vi

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vii

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan

    rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Kajian Sosiolinguistik

    Tingkat Kedwibahasaan Mahasiswa PBSI Angkatan 2015, FKIP Universitas

    Sanata Dharma Yogyakarta di Luar Pembelajaran” dapat peneliti selesaikan

    dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

    Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas

    Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis

    menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat terselesaikan bukan hanya karena

    kerja keras penulis, melainkan juga berkat bimbingan, dukungan, doa, dan saran

    dari berbagai pihak baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pada

    kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., selaku Rektor Universitas

    Sanata Dharma Yogyakarta.

    2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

    Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi

    Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia yang begitu sabar dalam memantau

    perkembangan skripsi penulis, memberikan motivasi dan saran yang

    membangun terhadap penyelesaian skripsi penulis.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ix

    4. Prof. Dr. Pranowo., M.Pd., selaku dosen pembimbing yang sudah sabar

    dalam membimbing dan memberikan saran serta kritik yang membangun,

    sehingga peneliti termotivasi untuk menyelesaikan skripsi.

    5. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen triangulator yang telah

    bersedia meluangkan waktu, pemikiran, dan tenaga guna memeriksa data

    triangulasi penelitian penulis.

    6. Segenap dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendidik dan

    memberikan kepada penulis dengan sepenuh hati.

    7. Theresia Rusmiyati, selaku karyawan sekretariat prodi PBSI yang dengan

    sabar memberikan pelayanan administratif kepada penulis dalam

    menyelesaikan berbagai urusan administrasi.

    8. Segenap staf dan karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta yang telah memberikan pelayanan yang baik.

    9. Kedua orang tua, Sudarmaji dan Konik Muji Slamet yang selau setia

    mencintai, menyayangi, memberikan dukungan, memberikan dorongan

    semangat, dan doa tanpa pamrih.

    10. Kakak saya, Stefanus Agri Karuniawan dan Bernadeta Elshinta Kurniati

    yang telah memberikan semangat dan dukungan dalam penyelesaian

    skripsi penulis.

    11. Sahabat dan teman-teman saya yang telah memberikan saya motivasi dan

    memberikan dorongan semangat untuk segera menyelesaikan skripsi.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • x

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xi

    ABSTRAK

    Putri, Zella Sekar Arum. 2019. Kajian Sosiolinguistik Tingkat Kedwibahasaan Mahasiswa PBSI Angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di Luar Pembelajaran. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa

    dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

    Sanata Dharma.

    Penelitian ini membahas penggunaan kedwibahasaan dalam kajian

    Sosiolinguistik di Luar Pembelajaran Mahasiswa PBSI Angkatan 2015, FKIP

    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tujuan utama penelitian untuk mengetahui penggunaan kedwibahasaan dalam kajian sosiolinguistik di luar

    pembelajaran pada mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata

    Dharma Yogyakarta. Berdasarkan tujuan umum tersebut, disusun tujuan khusus

    sebagai berikut. Tujuan selanjutnya untuk mendeskripsikan tingkat

    kedwibahasaan dalam kajian sosiolinguistik di luar pembelajaran pada mahasiswa

    PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

    Penelitian ini sebagai penelitian deskriptif kualitatif sesuai dengan data

    penelitian dan tujuannya. Data penelitian ini adalah tuturan lisan para mahasiswa

    PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Data yang

    dimaksud berupa tuturan atau kalimat yang diduga mengandung tingkat

    kedwibahasaan dalam penggunaan kedwibahasaan. Metode pengumpulan data

    yang digunakan dalam penelitian berupa metode simak (pengamatan atau

    observasi) dan metode cakap (wawancara). Teknik pengumpulan data

    menggunakan teknik sadap dan teknik lanjutan (teknik simak bebas libat cakap,

    teknik catat, teknik rekam). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian

    ini adalah identifikasi, klasifikasi, interpretasi/pemaknaan, dan mendeskripsikan.

    Hasil penelitian ditemukan bahwa memang terdapat penggunaan

    kedwibahasaan di luar pembelajaran pada mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP

    Universitas Sanata Dharma. Peneliti telah menganalisis tiga tingkat

    kedwibahasaan yaitu tingkat kedwibahasaan subordinatif, tingkat kedwibahasaan

    koordinatif, dan tingkat kedwibahasaan majemuk. Berdasarkan hasil analisis data tuturan penelitian dapat dibuktikan bahwa sebagian besar pengguna

    kedwibahasaan adalah tingkat kedwibahasaan subordinatif. Pertama, tingkat

    kedwibahasaan subordinatif dalam percakapan terdapat empat puluh dua data.

    Kedua, tingkat kedwibahasaan koordinatif dalam percakapan terdapat enam data.

    Ketiga, tingkat kedwibahasaan majemuk dalam percakapan terdapat tiga data.

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan pengetahuan

    mengenai kajian sosiolinguistik tingkat kedwibahasaan mahasiswa PBSI angkatan

    2015, FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di luar pembelajaran.

    Kata kunci: tingkat kedwibahasaan subordinatif, tingkat kedwibahasaan

    koordinatif, dan tingkat kedwibahasaan majemuk.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xii

    ABSTRACT

    Putri, Zella Sekar Arum. 2019. Sociolinguistic Study of the Level of Bilingualism

    of the Student of PBSI 2015, FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta

    Outside of Learning. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language and Literature

    Education, Teacher Training and Education Faculty, Sanata Dharma

    University.

    This study discussed the use of bilingualism in the Sociolinguistic Study

    Outside of the learning process of PBSI Student Batch 2015, FKIP Sanata

    Dharma University Yogyakarta. The main objective of the study was to find out

    the use of bilingualism in sociolinguistic studies outside of the learning process in

    PBSI students of class 2015, FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta. Based

    on these general objectives, specific objectives were prepared as follows. The

    specific objective was to describe the level of bilingualism in sociolinguistic

    studies outside the learning process of PBSI students batch 2015, FKIP Sanata

    Dharma University, Yogyakarta.

    This research was a qualitative descriptive study according to the research

    data and its objectives. The data of this study were oral speeches of PBSI students

    batch 2015, FKIP Sanata Dharma University Yogyakarta. The intended data was

    in the form of utterances or sentences that were assumed containing a degree of

    bilingualism in bilingual usage. Data collection method in this research were

    referring methods (observation) and proficient methods (interviews). The data

    collection technique for this research used advanced and tapping techniques

    (referring to skillful free technique, note-taking techniques, recording techniques).

    The data analysis technique used in this study were identification, classification,

    interpretation / meaning, and describing.

    The results of the study found that there was indeed a bilingualism usage

    outside of learning process in PBSI students batch 2015, FKIP Sanata Dharma

    University. The researcher analyzed three levels of bilingualism, namely

    subordinate bilingualism, coordinative bilingualism, and multiple bilingualism.

    Based on the results of analysis of research speech data it could be proven that

    the majority of bilingual users are subordinate bilingualism. First, the level of

    subordinated kedmanship in conversation involves fourty two data. Second, the

    level of coordination of conversation are six data. Thrid, the rate of coumpound

    linguistic mastery in converstation is that of three data. This research is expected

    to be able to contribute and knowledge about sociolinguistic study of the level of

    bilingualism of the student of PBSI 2015, FKIP Sanata Dharma University

    Yogyakarta outside of learning.

    Keywords: subordinate bilingualism level, coordinative bilingualism level, and

    multiple bilingualism level.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiii

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .... Error! Bookmark not defined.

    HALAMAN PENGESAHAN .................................. Error! Bookmark not defined.

    MOTO ................................................................................................................... iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... v

    PERNYATAAN KEASLIAN DATA...................... Error! Bookmark not defined.

    LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .... Error! Bookmark

    not defined.

    KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii

    ABSTRAK ............................................................................................................ xi

    ABSTRACT .......................................................................................................... xii

    DAFTAR BAGAN ............................................................................................... xv

    DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvi

    BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

    1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 4

    1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 4

    1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 5

    1.5 Batasan Istilah ............................................................................................... 6

    1.6 Sistematika Penyajian .................................................................................... 8

    BAB II STUDI KEPUSTAKAAN ....................................................................... 9

    2.1 Penelitian yang Relevan ................................................................................ 9

    2.2 Landasan Teori ............................................................................................ 12

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiv

    2.2.1 Pengertian Sosiolinguistik .................................................................... 12

    2.2.2 Konteks Sosial ...................................................................................... 15

    2.2.3 Kedwibahasaan ..................................................................................... 19

    2.3 Kerangka Berpikir .................................................................................. 28

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ......................................................... 30

    3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................ 30

    3.2 Sumber Data dan Data Penelitian ................................................................ 31

    3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 31

    3.4 Instrumen Penelitian .................................................................................... 34

    3.5 Teknik Analisis Data ................................................................................... 34

    3.6 Triangulasi ................................................................................................... 36

    BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ......................................... 37

    4.1 Deskripsi Data ............................................................................................. 37

    4.2 Analisis Data ............................................................................................... 39

    4.3 Pembahasan ................................................................................................. 69

    BAB V PENUTUP ............................................................................................... 72

    5.1 Simpulan ...................................................................................................... 72

    5.2 Saran ............................................................................................................ 74

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 76

    LAMPIRAN ......................................................................................................... 78

    BIOGRAFI PENULIS ...................................................................................... 157

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xv

    DAFTAR BAGAN

    Bagan 2.3 Kerangka Berpikir ..................................................................... 29

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xvi

    DAFTAR LAMPIRAN

    Surat Triangulasi .......................................................................................... 79

    Hasil Triangulasi .......................................................................................... 80

    Hasil Wawancara ......................................................................................... 144

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    Bab pendahuluan ini akan memaparkan (a) latar belakang, (b) rumusan

    masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, (e) batasan istilah, (f)

    sistematika penelitian. Paparan selengkapnya akan disampaikan sebagai berikut.

    1.1 Latar Belakang

    Bahasa merupakan bagian dari alat komunikasi seseorang dalam

    kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa nasional yang

    digunakan oleh negara Indonesia. Namun, adanya beberapa daerah di Indonesia

    yang tersebar luas, masyarakat Indonesia memiliki bahasa daerah yang digunakan

    dalam kegiatan tidak resmi. Tutur kata yang beragam serta memiliki keunikan

    masing-masing dalam pengucapan, mengakibatkan masyarakat Indonesia yang

    menggunakan dua bahasa seperti bahasa Indonesia dan bahasa daerah secara

    bergantian.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orang Indonesia merupakan

    dwibahasawan, bahkan biasa disebut multibahasawan. Hal ini tampak dari

    penggunaan dua bahasa atau bahkan lebih yang digunakan oleh sebagian besar

    masyarakat Indonesia. Keadaan semacam itu menyebabkan bahasa komunikasi

    sehari-hari digunakan lebih dari satu bahasa oleh masyarakat Indonesia.

    Kedwibahasaan dapat terjadi pada setiap masyarakat yang mengenal dan

    menggunakan dua bahasa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua yang

    dikuasai dalam masyarakat Indonesia setelah bahasa daerah.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 2

    Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan pada mahasiswa PBSI, FKIP

    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menunjukkan bahwa mereka

    menggunakan lebih dari satu bahasa. Mereka sering menggunakan bahasa daerah

    dan bahasa Indonesia, bahkan lebih sering menggunakan bahasa daerah untuk

    kegiatan tidak resmi pada situasi dan kondisi tertentu. Maka dapat disimpulkan

    bahwa mereka merupakan dwibahasawan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat

    Pranowo (2014:103) yang mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia pada

    umumnya tergolong masyarakat dwibahasa. Mereka menguasai bahasa pertama

    (B1) bahasa daerah dan bahasa kedua (B2) bahasa Indonesia. Berkaitan dengan

    hal tersebut, mahasiswa sering menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia

    dalam proses komunikasi sehari-hari.

    Fenomena kedwibahasaan dapat terjadi dalam lingkungan pendidikan,

    baik pendidikan yang berada di daerah perkotaan ataupun pinggiran perkotaan.

    Universitas Swasta Sanata Dharma Yogyakarta prodi PBSI memiliki

    dwibahasawan yang beraneka ragam dalam penggunaan kedwibahasan dengan

    sesama teman saat bercakap-cakap ataupun bergaul di sekitar lingkungan sosial.

    Hal tersebut membuat si peneliti antusias untuk mengkaji penelitian ini dibidang

    sosiolinguistik.

    Sosiolinguistik merupakan salah satu ilmu bahasa yang mengkaji bahasa

    dalam kemasyarakatan, hubungan bahasa dengan apa yang terjadi dalam

    masyarakat tutur. Hal itulah penggunaan bahasa diamati secara sosial bukan

    secara individu, sehinga penulis akan membahas tentang “kajian sosiolinguistik

    tingkat kedwibahasaan mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 3

    Dharma Yogyakarta di luar pembelajaran”. Tingkat kedwibahasaan mahasiswa

    PBSI Angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dapat

    ditemukan dalam kegiatan berdiskusi, istirahat di kantin, dan kegiatan sosial di

    sekitar lingkungan Universitas Sanata Dharma.

    Komunikasi yang digunakan dalam percakapan yaitu bahasa yang bersifat

    santai atau tidak resmi, dengan alasan lebih sering digunakan dalam kegiatan

    sehari-hari serta memiliki tujuan untuk menciptakan suasana yang akrab dengan

    lawan bicara. Hal tersebut menimbulkan tingkat kedwibahasaan yang muncul

    akibat penggunaan dua bahasa atau lebih. Bahasa yang sering digunakan dalam

    komunikasi santai oleh mahasiswa misalnya bahasa Jawa dan bahasa Indonesia

    yang digunakan secara bergantian saat melakukan percakapan akrab atau santai.

    Adapun tingkat kedwibahasaan diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu tingkat

    kedwibahasaan subordinatif, tingkat kedwibahasaan koordinatif, dan tingkat

    kedwibahasan majemuk. Hal tersebut akan menjadi topik bahasan pada penelitan.

    Harapannya dengan adanya penelitian ini, kajian sosiolinguistik dalam

    penggunaan kedwibahasaan pada mahasiswa PBSI 2015, FKIP Universitas Sanata

    Dharma dapat terpecahkan dengan rumusan masalah yang akan diteliti oleh

    peneliti. Hal tersebut semoga bermanfaat bagi informasi pengetahuan mahasiswa

    prodi PBSI maupun luar prodi sekaligus. Kedepannya peneliti akan meneliti

    kedwibahasaan mahasiswa kurang lebih selama empat bulan. Besar harapannya

    penelitian bisa dilakukan untuk mahasiswa PBSI angkatan 2015 untuk

    mendapatkan data tuturan dan latar belakang penggunaan kedwibahasaan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 4

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, disusun rumusan masalah

    utama “bagaimanakah kajian sosiolinguistik tingkat kedwibahasaan

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran?”. Oleh karena itu, atas dasar rumusan

    masalah utama di atas, disusun submasalah sebagai berikut.

    a. Bagaimanakah tingkat kedwibahasaan subordinatif yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran?

    b. Bagaimanakah tingkat kedwibahasaan koordinatif yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran?

    c. Bagaimanakah tingkat kedwibahasaan majemuk yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Tujuan umum penelitian adalah untuk mengetahui kajian sosiolinguistik

    tingkat kedwibahasaan mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata

    Dharma Yogyakarta di luar pembelajaran. Berdasarkan tujuan umum tersebut,

    disusun tujuan khusus sebagai berikut.

    a. Mendeskripsikan tingkat kedwibahasaan subordinatif yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 5

    b. Mendeskripsikan tingkat kedwibahasaan koordinatif yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran.

    c. Mendeskripsikan tingkat kedwibahasaan majemuk yang digunakan oleh

    mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta di luar pembelajaran.

    1.4 Manfaat Penelitian

    Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian dari hasil

    penelitian ini adalah sebagai berikut.

    a. Manfaat Teoretis

    Secara teoretis hasil dari penelitian ini sekiranya dapat dijadikan salah satu

    referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan ranah

    yang sama. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman peneliti lain

    yang menkaji tentang kedwibahasaan dengan metode penelitian yang berbeda,

    sumber, ataupun data yang berbeda. Penelitian ini dapat bermanfaat untuk

    menambah kekayaan pada kajian sosiolinguistik khususnya dalam bidang

    kedwibahasaan.

    b. Manfaat Praktis

    Secara praktis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi

    wawasan baru untuk mengadakan penelitian lanjutan lebih mendalam,

    khususnya dalam bidang kedwibahasaan. Penelitian ini diharapkan dapat

    menjadi masukan bagi mahasiswa dalam penggunaan kedwibahasaan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 6

    sehingga dapat menunjang komunikasi yang baik, serta untuk memperoleh

    hasil dari penggunaan kedwibahasaan dalam kajian sosiolinguistik.

    1.5 Batasan Istilah

    Batasan istilah ini dituliskan untuk memberikan pemahaman yang sama

    antar peneliti dengan pembaca. Batasan dari batasan istilah yang ada dalam

    penelitian ini adalah sebagai berikut.

    a. Sosiolinguistik

    Chaer (2003: 16) “sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang

    mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

    Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan

    linguistik.”. Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan

    linguistic, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang erat.

    Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu berlangsung dan

    tetap ada. Sedangkan linguistik berusaha mempelajari mengenai bahasa.

    b. Kedwibahasaan

    Chaer (2004:84) Bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut

    kedwibahasaan. Istilah yang dikemukakan oleh Chaer, dapat dipahami bahwa

    bilingualisme atau kedwibahasaan berkenaan dengan pemakaian dua bahasa

    secara bergantian oleh seorang penutur dalam aktivitasnya sehari-hari atau

    interaksi sosialnya. Bilingualisme dapat diartikan sebagai pengguna dua

    bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara

    bergantian.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 7

    c. Pengukur Kedwibahasaan

    Mackey (dalam Pranowo, 2014:113) megemukakan pengukuran

    kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu a) aspek

    tingkat, b) aspek fungsi, c) aspek pergantian, dan d) interferensi. Tingkat

    kedwibahasaan adalah sesorang yang mampu menjadi seorang

    dwibahasawan. Fungsi kedwibahasaan adalah pengertian untuk apa

    seseorang menggunakan bahasa dan apa peranan bahasa dalam kehidupan

    pelakunya. Pergantian adalah pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai

    bahasa mampu berganti dari satu bahasa ke bahasa lain. Interferensi, adanya

    saling mempengaruhi antarbahasa.

    d. Konteks Sosial

    Mey (dalam Rahardi 2003:15) konteks sosial merupakan konteks

    kebahasaan yang timbul sebagai akibat dari munculnya komunikasi dan

    interaksi antar anggota masyarakat dengan latar belakang sosial budaya

    yang sangat tertentu sifatnya. Konteks sosial dapat diartikan sebagai

    konteks yang menimbulkan adanya komunikasi dengan menitikberatkan

    tuturan atau percakapan yang dilakukan oleh seseorang membentuk suatu

    gambaran pada konteks sosial. Konteks sosial berguna untuk

    melatarbelakangi suatu tuturan atau percakapan yang terjadi.

    e. Klasifikasi Tingkat Kedwibahasaan

    Pranowo (dalam Weinreich, 1953:105-107) Kedwibahasaan dibedakan

    berdasarkan tingkat yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kedwibahasaan

    koordinatif, kedwibahasaan subordinatif, dan kedwibahasaan majemuk.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 8

    Kedwibahasaan koordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukan bahwa

    pemakaian dua bahasa sama-sama baiknya oleh seorang individu.

    Kedwibahasaan subordinatif adalah kedwibahsaan yang menunjukan bahwa

    seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukan unsur B2 atau

    sebaliknya. Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang

    menunjukan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik

    daripada kemampuan berbahasa bahasa yang lain.

    1.6 Sistematika Penyajian

    Proposal ini terdiri dari lima bab yang diuraikan secara sistematis sebagai

    berikut. Bab I menggunakan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II

    berisi mengenai kajian teori. Bab ini menguraikan penelitian yang relevan,

    landasan teori, dan kerangka berpikir. Penelitian yang relevan berisi tentang

    penelitian yang sejenis dan memiliki topik yang sama. Landasan teori berisi

    uraian mengenai sosiolinguistik, kedwibahasaan, pengukuran kedwibahasan,

    konteks, dan tingkat kedwibahasaan. Bab III berisi tentang metode penelitian. Bab

    ini menguraikan jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, sumber data dan

    data penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, instrumen penelitian,

    triangulasi, teknik analisis data. Bab IV berisi tentang pembahasan yang berkaitan

    dengan hasil penelitian. Bab V adalah bagian bab terakhir yang berisi tentang

    kesimpulan terkait dengan hasil penelitian yang disertai dengan saran.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 9

    BAB II

    STUDI KEPUSTAKAAN

    2.1 Penelitian yang Relevan

    Penelitian yang relevan untuk pembelajaran kedwibahasaan dalam kajian

    sosiolinguistik terhadap prodi PBSI belum pernah dilakukan. Namun, skripsi yang

    mengkaji mengenai bidang sosiolinguistik pernah dilakukan oleh Hermi Murwanti

    pada tahun (2002) di Universitas Sanata Dharma dengan judul Variasi Rubrik-

    Rubrik Pada Media Sekolah Menengah Umum Di Kotamadya Yogyakarta Dan

    Relevansinya Dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMU: Suatu Tinjaun

    Sosiolinguistik. Pada skripsi tersebut peneliti memiliki kesamaan menggunakan

    kajian sosiolinguistik, sedangkan perbedaannya terletak pada sasaran, subjek yang

    dikaji, dan temuan hasil penelitian, dan rumusan masalah.

    Penelitian yang disusun oleh Welsi Damayanti pada tahun (2014) di

    Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul Penggunaan Kedwibahasaan

    Sebagai Media Komunikasi Penjual Asesoris Toko Rock Stuff Plaza Parahyangan

    Bandung. Penelitian tersebut mendiskripsikan kebiasaan penggunaan bahasa

    kedua (B2) para penjual asesoris di toko Rock Stuff Asesoris. Penelitian analisis

    kebiasaan menggunakan bahasa kedua (B2) para penjual asesoris di toko Rock

    Stuff Asesoris ini berjenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode

    deskriptif. Hasil penelitian ini sangat menarik bagi peneliti karena yang menjadi

    pembahasannya cukup menantang yaitu tentang kebiasaan menggunakan bahasa

    kedua oleh penjual yang berasal dari Padang di toko Rock Stuff Asesoris. Hasil

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 10

    penelitian ini adalah adanya kedwibahasaan pada situasi jual beli yang terjadi di

    kota Bandung. Mereka selalu berusaha melayani pembeli yang berasal dari

    Bandung dengan menggunakan bahasa Sunda. Semua itu demi kelancaran dan

    keakraban antara penjual dan pembeli. Adapun kesamaan antara penelitian saya

    dengan penelitian tersebut adalah sama-sama meniliti penggunaan

    kedwibahasaan, sedangkan perbedaannya terletak pada sasaran, subjek yang

    dikaji, dan temuan hasil penelitian, dan rumusan masalah.

    Penelitian yang relevan terkait kedwibahasaan diteliti oleh Silvia Sanca

    mahasiswi dari Universitas Negri Yogyakarta, tahun (2012) dengan judul

    Penggunaan Dwibahasa (Indonesia-Jawa) oleh Warga keturunan Etnis Tionghoa

    di ketandan kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan

    ragam kedwibahasaan dan fungsi penggunaan dwibahasa oleh warga keturunan

    etnis Tionghoa di Ketandan Kota Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah

    warga keturunan etnis Tionghoa di Ketandan Kota Yogyakarta. Penelitian ini

    difokuskan pada ragam kedwibahasaan dan fungsi penggunaan dwibahasa. Data

    diperoleh dengan kartu kuisioner, teknik simak dan wawancara yang dilakukan

    secara berkesinambungan. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif

    kualitatif. Keabsahan data diperoleh melalui perpanjangan keikutsertaan dan

    ketekunan pengamatan.

    Hasil penelitian terkait dengan penggunaan dwibahasan oleh warga

    keturunan etnis Tionghoa di Ketandan Yogyakarta menunjukkan bahwa ragam

    kedwibahasaan dibedakan menjadi delapan macam, yaitu berdasarkan hipotesis

    ambang kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan substraktif dan aditif.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 11

    Berdasarkan tahapan usia pemerolehan kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan

    masa kecil, kedwibahasaan masa kanak-kanak, dan kedwibahasaan remaja.

    Berdasarkan usia belajar bahasa kedua kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan

    serentak, dan berurutan. Berdasarkan konteks kedwibahasaan terdiri dari

    kedwibahasaan buatan, dan alamiah. Berdasarkan hakikat tanda dalam kontak

    bahasa kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan majemuk dan subordinatif.

    Berdasarkan tingkat pendidikan hanya terdiri dari kedwibahasaan rakyat biasa.

    Berdasarkan keresmian kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan resmi, dan

    tidak resmi. Berdasarkan kesosialan kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan

    sosial.

    Selain itu, hasil penelitian menunjukkan pula bahwa fungsi bahasa

    dibedakan menjadi enam macam diantaranya, fungsi personal (marah, canda,

    heran, kecewa), fungsi direktif, fungsi fatik, fungsi referensial, fungsi metalingual,

    serta fungsi imaginatif. Pada skripsi tesrsebut peneliti memiliki kesamaan untuk

    membahas penggunaan kedwibahasaan. Adapun yang membedakan penelitian ini

    terletak pada sasaran, subjek yang dikaji, dan temuan hasil penelitian, dan

    rumusan masalah.

    Jurnal yang relevan terkait penggunaan kedwibahasa oleh Saunir

    mahasiswi dari Universitas Negeri Padang, tahun (2008) dengan judul Profil

    Kedwibahasaan Mahasiswa Bahasa dan sastra Inggris. Metode penelitian yang

    digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif gabungan

    kualitatif dan kuantitatif yang bertujuan menjelaskan atau mendeskripsikan

    keadaan atau profil kedwibahasaan mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Inggris

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 12

    FBS UHP Padang. Hasil penelitian, bahasa Indonesia lebih cenderung dipilih

    oleh responden. Ini dapat menjadi perhatian bagi pihak-pihak yang tertarik dalam

    mempertahankan bahasa Ibu dalam kaitannya dengan pemertahanan budayanya.

    Dilain pihak penggunaan bahasa Inggris yang sangat rendah yang didukung juga

    oleh pengakuan responden wawancara, hendaknya pihak yang berwenang segera

    mengambil tindakan atau kebijakan untuk sesegera mungkin menggerakkan dan

    menggairahkan penggunaan bahasa Inggris di kalangan mahasiswa. Pada jurnal

    tersebut memiliki kesamaan membahas kedwibahasaan mahasiswa. Adapun yang

    membedakan penelitian ini terletak pada sasaran, subjek yang dikaji, dan temuan

    hasil penelitian, dan rumusan masalah.

    2.2 Landasan Teori

    Untuk mendukung penelitian ini, digunakan beberapa teori yang dianggap

    relevan, yang diharapkan dapat mendukung temuan di lapangan. Sehingga dapat

    memperkuat teori dan keakuratan data responden. Teori-teori tersebut adalah

    sosiolinguistik, konteks, kedwibahasaan, pengukuran kedwibahasaan, dan

    klasifikasi tingkat kedwibahasaan.

    2.2.1 Pengertian Sosiolinguistik

    Kajian bahasa melalui sudut pandang kemasyarakatan termasuk dalam

    pembahasan sosiolinguistik. Istilah sosiolinguistik terdiri dari dua unsur yaitu,

    sosio dan linguistik. Linguistik membahas tentang unsur bahasa (fonem, morfem,

    kata, kalimat), sedangkan sosio berkaitan dengan sosial masyarakat. Menurut

    Nababan (1984:2) sosiolinguistik adalah ilmu yang membahas tentang aspek

    masyarakat bahasa, khususnya berkaitan dengan perbedaan atau variasi dalam

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 13

    bahasa dan faktor-faktor kemasyarakatan lainnya. Pengertian sosiolinguistik yang

    disampaikan oleh para pakar khususnya bahasa, pada akhirnya selalu berkaitan

    antara bahasa dengan kegiatan atau aspek-aspek dalam masyarakat.

    Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang dan menempatkan

    kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pengguna bahasa di dalam

    masyarakat, karena di dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi

    dikatakan sebagai individu, tetapi sebagai masyarakat sosial. Oleh karena itu,

    segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dalam bertutur akan selalu

    dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitarnya. Bahasa dan penggunanya tidak

    diamati secara individual, tetapi dipandang secara sosial.

    Pride dan Holmes (dalam Soemarsono, 2002:2) merumuskan

    sosiolinguistik secara sederhana: the study of language aspart of culture and

    society, yaitu kajian bahasa sebagai bagian dari kebudayaan dan masyarakat.

    Rumusan yang dipaparkan di atas menekankan bahwa bahasa bukan merupakan

    suatu yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan. Budaya dan bahasa saling

    berkesinambungan, karena bahasa adalah bagian dari kebudayaan (language in

    culture). J.A Fishman (dalam Chaer dan Agustina,2004:3) menjelaskan

    sociolinguistics is the study of the characteristics of their speakers as these three

    constantly interact, change and change one another within a speech community (=

    sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi

    bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah,

    dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur). J.A Fishman

    mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif. Jadi, sosiolinguistik

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 14

    lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang

    sebenarnya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa atau dialek dalam

    budaya tertentu, pilihan pemakaian bahasa atau dialek tertentu yang dilakukan

    penutur, topik, dan latar pembicaraan (Chaer dan Agustina, 2004:5). Secara

    eksplisit Fishman mendefinisikan sosiolinguistik sebagai studi tentang

    karakteristik variasi bahasa, karakteristik fungsi bahasa, dan karakteristik

    pemakaian bahasa yang terjalin dalam interaksi, sehingga menyebabkan

    perubahan-perubahan antara ketiganya di dalam masyarakat tuturnya.

    Kridalaksana menjelaskan pula bahwa sosiolinguistik merupakan ilmu

    yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa serta hubungan antara

    bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa di dalam suatu masyarakat bahasa

    (Chaer, 2004). Manusia sebagai makhluk individu selalu hidup dalam kelompok

    sosial dan menjadi bagian dari anggota masyarakat. Selain bergantung pada

    pranata sosial yang berlaku, dalam interaksi sosial manusia juga tergantung pada

    bahasa. Maka, secara singkat dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik merupakan

    cabang ilmu bahasa yang membahas tentang hubungan antara bahasa dengan

    masyar akat pengguna bahasa, serta faktor-faktor lain yang ada di sekitarnya.

    Menurut Chaer (2003: 16) “sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang

    mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

    Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik”.

    Sosiolinguistik menurut saya merupakan ilmu bahasa yang didapatkan

    oleh masyarakat ketika melakukan kegiatan sosial. Kegiatan sosial ini bisa berupa

    aktivitas percakapan masyarakat yang mengakibatkan munculnya sebuah tuturan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 15

    dalam penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari. Hal tersebut

    sependapat oleh ungkapan beberapa para ahli mengenai pengertian

    sosiolinguistik.

    2.2.2 Konteks Sosial

    Mey (dalam Rahardi 2005:15) konteks sosial merupakan konteks

    kebahasaan yang timbul sebagai akibat dari munculnya komunikasi dan interaksi

    antar anggota masyarakat dengan latar belakang sosial budaya yang sangat

    tertentu sifatnya. Konteks sosial dapat diartikan sebagai konteks yang

    menimbulkan adanya komunikasi dengan menitikberatkan tuturan atau

    percakapan yang dilakukan oleh seseorang membentuk suatu gambaran pada

    konteks sosial. Konteks sosial berguna untuk melatarbelakangi suatu tuturan atau

    percakapan yang terjadi. Hal tersebut akan membantu peneliti untuk memahami

    suatu percakapan atau tuturan yang terjadi.

    Komponen tutur yang dikembangkan Poedjosoedarmo 1985 (dalam

    Baryadi: 2015:24-29) merupakan pengembangan dari konsep yang disampaikan

    Dell Hymes. Menurutnya faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa

    disebut sebagai konsep memoteknik OOEMAUBICARA, yaitu (1) O1= orang ke

    satu, atau penutur (2) O2= orang kedua atau mitra tutur, (3) E= warna emosi O1,

    (4) M= maksud dan tujuan percakapan, (5) A= adanya O3 dan barang-barang lain

    di sekeliling adegan percakapan, (6) U= urutan tutur, (7) B= bab yang

    dipercakapkan; pokok pembicaraan, (8) I= instrumen tutur atau sarana tutur, (9)

    C= citarasa tutur, (10) A= adegan tutur, (11) R= register tutur/genre, (12) A=

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 16

    aturan atau norma kebahasaan . Penjelasan setiap komponen dapat diringkas

    sebagai berikut.

    1) O= O1, yaitu pribadi si penutur. Pribadi si penutur berkaitan dengan dua hal,

    yaitu siapakah O1 dan dari manakah asal atau latar belakang O1. Siapakah

    O1 berkenaan dengan (i) bagaimanakah keadaan fisik O1, (ii) bagaimana

    keadaan mental O1, dan (iii) bagaiman kemahiran bahasa O1. Latar belakang

    si penutur menyangkut jenis kelamin, asal daerah, asal golongan kelas

    masyaraktnya, umur, jenis profesi, kelompok etnik, dan aliran

    kepercayaannya.

    2) O= O2. Orang kedua, yaitu orang yang diajak bicara oleh penutur atau mitra

    tutur. Faktor ini yang berkaitan dengan dua hal, yaitu anggapan O1 tentang

    seberapa tinggi tingkatan sosial O2 dan seberapa akrab hubungan O1 dan O2.

    O1 dengan O2 akan menyesuaikan penggunaan bahasa yang sesuai coraknya

    untuk menyesuaikan penggunaan bahasa yang dilakukan mitra tutur.

    3) E= warna emosi O1. Warna emosi O1 mempengaruhi bentuk tuturanya.

    Seorang yang sedang gugup, marah, sakit dan semacamnya akan melontarkan

    ujaran-ujaran yang kurang teratur, banyak frasa-frasa yang putus, maksud

    yang diungkapkan tidak terujarkan, dan sukar mengontrol pilihan tingkat

    tutur seperti frasa serta kata-katanya.

    4) M= maksud dan tujuan percakapan. Maksud dan kehendak O1 sangat

    mempengaruhi bentuk-bentuk tutur yang diujarkannya. Maksud O1 ini dapat

    mempengaruhi pemilihan bahasa, pemilihan tingkat tutur, ragam dialek,

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 17

    idiolek, pemilihan ungkapan-ungkapan tertentu, atau pemilihan unsur

    suprasegmental tertentu.

    5) A= adanya O3, yaitu kehadiran orang lain. Suatu ujaran dapat berganti

    bentuknya dari apa yang biasanya terjadi apabila ada seseorang yang

    kebetulan hadir pada adegan tutur. Pengubahan kode bahasa yang disebabkan

    oleh adanya O3 terjadi karena ingin mengikutsertakan O3 dalam pecakapan,

    ingin merahasiakan sesuatu agar O1 memberikan kesan kepada O3 bahwa O2

    sebetulnya ialah orang yang terhormat dan tidak menggangu O3.

    6) U= urutan bicara. Urutan bicara berkenaan dengan siapa yang harus berbicara

    lebih dulu dan siapa yang harus berbicara kemudian. Masyarakat ada yang

    memiliki aturan bahwa orang yang berstatus sosial lebih tinggai atau orang

    lebi tua harus berbicara lebih dulu. O1 atau penutur sebagai pengambil

    inisiatif berbicara dalam menentukan bentuk tuturnya daripada mitra

    tuturnya. O2 atau mitra tutur yang menanggapi tuturan O1 tidak sebebas O1

    memilih bentuk tuturannya. Kode bahasa yang dipilih O2 tergantung pada

    penilaian terhadap hubungan yang ia inginkan terhadap O1 atau tergantung

    pada suasana kebahasaan yang ia ciptakan

    7) B= bab yang dibicarakan. Bab yang dibicarakan mempengaruhi warna bicara.

    Hal ini tidak berarti bahwa setiap pokok pembicaraan harus dibahas dengan

    ragam bahasa tertentu. Namun, ada beberapa topik pembicaraan tertentu yang

    mengharuskan anggota masyarakat menggunakan kode bahasa tertentu

    apabila mereka akan membicarakannya.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 18

    8) I= instrumen atau sarana tutur. Sarana tutur dapat mempengaruhi bentuk

    ujaran. Yang dimaksud dengan saran tutur ialah sarana yang dipakai untuk

    menyampaikan sarana tutur. Adanya bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa

    lisan dismapaikan secara lngsung dengan menggerakkan alat-alat bicara

    mulut sedangkan bahasa tulis disampaikan dengan menggunakan huruf-huruf

    di atas kertas atau alat tulis. Pada kebanyakan masyarakat, bahasa tulis

    biasanya terikat pada ragam bahasa atau bahkan pada bahasa tertentu. Sarana-

    saran tutur, sperti telepon, handphone, email, dan sebagainya yang

    mempengaruhi ujaran seorang penutur.

    9) C= citarasa penutur. Nada suara bicara yang secara keseluruhan dapat

    mempengaruhi O1 juga berpengaruh pada ragam tutur yang diucapkan oleh

    O1. Hal ini sering dibedakan ragam bahasa santai, ragam bahasa formal, dan

    ragam bahasa indah.

    10) A= adegan tutur. Adegan tutur terkait dengan tempat, waktu, dan peristiwa

    (termasuk kualitas suprasegmental tutur dan pilihan pokok pembicaraan).

    Adegan tutur mempengaruhi penutur dalam menentukan bentuk-bentuk

    ujaran. “percakapan di dalam masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah

    lainnya, rumah sakit, kantor pengadilan biasanya tidak terlalu keras, dan

    orang biasanya tidak bersenda gurau. Percakapan harus sopan, serius, dan

    khidmat.

    11) R= register atau bentuk wacana. Di dalam masyarakat, terdapat beberapa

    macam wacana yang bentuknya sudah mapan. Wacana-wacana seperti surat-

    menyurat dinas, perundang-undangan, percakapan dengan telepon, telegram,

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 19

    pidato pembukaan atau penutup suatu lokakarya, seminar, konferensi atau

    pidato seremonial lainnya, atur-atur kenduri, ujub dan doa kenduri, tajuk

    rencana surat kabar, mempunyai struktur yang kurang lebih mapan dan

    diketahui oleh anggota masyarakat banyak. Bentuk wacana seperti pidato

    akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang lazim, misalnya dimulai

    dengan sapaan, salam, introduksi, isi pidato, dan penutup.

    12) A= aturan atau norma kebahasaan lainnya. Aturan kebahasaan lainnya

    bersangkutan dengan norma-norma kebahasaan yang khusus berlaku pada

    suatu masyarakat bahasa. Misalnya kejelasan dalam berbicara, topik yang

    dibicarakan harus menarik, tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi,

    menghindari kata-kata yang dianggap tabu dan sebagainya. Aturan-aturan

    kebahasaan dapat mempengaruhi O1 dalam menentukan bentuk tuturan.

    Berdasarkan teori tersebut, penulis dapat mengetahui latar belakang tuturan

    dengan “OOEMAUBICARA” yang menjadi dasar kontek sosial. Kontek sosial

    membantu peneliti untuk menggambarkan suatu tuturan yang telah terjadi.

    Kontek sosial menjadi patokan peneliti untuk memahami sebuah tuturan di

    lingkungan sosial secara lebih mendalam.

    2.2.3 Kedwibahasaan

    2.2.3.1 Pengertian Kedwibahasaan

    Kedwibahasaan merupakan salah satu topik yang dikaji dalam

    sosiolinguistik dengan fenomena kebahasaan yang ada di dalam masyarakat.

    Kedwibahasaan merupakan akibat dari kontak bahasa antara kelompok

    masyarakat yang berbahasa minoritas dengan kelompok masyarakat yang

    berbahasa mayoritas. Bloomfield (dalam Chaer, 1994:65) menjelaskan bahwa

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 20

    bilingual merupakan kemampuan seseorang menguasai dua bahasa sama baiknya.

    Berdasarkan pendapat Weinrich (dalam Chaer, 1994:65) bilingualisme merupakan

    penggunaan dua bahasa oleh seseorang secara bergantian. Bilingualisme dalam

    bahasa Indonesia disebut kedwibahasaan Chaer (2004:84). Dari istilah yang

    dikemukakan oleh Chaer, dapat dipahami bahwa bilingualisme atau

    kedwibahasaan berkenaan dengan pemakaian dua bahasa secara bergantian oleh

    seorang penutur dalam aktivitasnya sehari-hari atau interaksi sosialnya.

    Fenomena kedwibahasaan ini digunakan sebagai istilah kemampuan dalam

    menggunakan dua bahasa. Pernyataan tersebut senada dengan pendapat Ervin dan

    Ogood (dalam Nababan, 1984:27) bahwa bilingualisme merupakan kemampuan

    dalam menuturkan dua bahasa. Bilingualisme merupakan rentangan berjenjang

    berawal dari menguasai bahasa pertama. Setelah menguasai bahasa pertama,

    kemudian menguasai bahasa kedua, hingga kedua bahasa dikuasai sama baiknya.

    Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan

    bahwa, kedwibahasaan merupakan kondisi pemakaian dua bahasa secara

    bergantian oleh penutur dwibahasawan dalam interaksi sosialnya. Kedwibahasaan

    tidak mengacu pada proses tetapi pada kondisi dan merupakan kebiasaan pemakai

    dua bahasa secara bergantian oleh penutur bilingual.

    Menurut Mackey (1967:155) kedwibahasaan adalah “The alternative use

    of two or more languages by the same individual” atau praktik penggunaan bahasa

    secara bergantian, dari satu bahasa ke bahasa lain oleh seorang penutur.

    Menurutnya, dalam kedwibahasaan terdapat beberapa pengertian seperti tingkat,

    fungsi, alih kode, campur kode, interferensi, dan integrasi. Mackey juga

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 21

    memperluas pendapatnya dengan mengemukakan adanya tingkatan

    kedwibahasaan dilihat dari segi penguasaan unsur gramatikal, leksikal, semantik,

    dan gaya yang tercermin dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu

    mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

    Menurut Robert Lado (1964:214) kedwibahasaan merupakan kemampuan

    berbicara menggunakan dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya.

    Secara teknis pendapat ini mengacu pada pengetahuan dua bahasa oleh seseorang

    bagaimanapun tingkatnya. Haugen (1968:10) pendapat Lado diperkuat oleh

    Haugen yang menyatakan bahwa kedwibahasaan adalah mengetahui dua bahasa.

    Jika diuraikan lebih umum maka pengertian kedwibahasaan adalah penggunaan

    dua bahasa baik secara produktif maupun secara reseptif oleh seorang individu

    ataupun masyarakat. Haugen mengemukakan kedwibahasaan dengan mengetahui

    dua bahasa “knowledge of two languages” cukup mengetahui dua bahasa secara

    pasif atau “understanding without speaking”.

    Kedwibahasaan menurut saya merupakan kemampuan seseorang yang bisa

    menguasai lebih dari satu bahasa atau dua bahasa. Bahasa tersebut diperoleh dari

    bahasa Ibu atau disebut juga bahasa pertama dan bahasa kedua yang diperoleh

    dari suatu lingkungan ataupun pendidikan. Misalnya bahasa pertama si A adalah

    bahasa Jawa yang diperoleh dari kedua orangtuanya. A juga mendapatkan bahasa

    Indonesia ketika berada di lingkungan sekolah, sehingga bahasa kedua si A adalah

    Bahasa Indonesia. Hal tersebut si A disebut juga dwibahasawan karena memiliki

    dua bahasa.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 22

    2.2.3.2 Pengukuran Kedwibahasaan

    Penelitian kedwibahasaan sangat perlu untuk memperhatikan situasi

    kebahasaan yang ada dalam mahasiswa PBSI 2015 karena termasuk masyarakat

    dwibahasa, dengan adanya hal tersebut, maka akan dikemukakan uraian mengenai

    pengukuran kedwibahsaan agar si peneliti mengetahui situasi kedwibahasaan.

    Menurut Mackey (dalam Pranowo, 2014:113) megemukakan pengukuran

    kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu a) aspek tingkat, b)

    aspek fungsi, c) aspek pergantian, dan d) interferensi.

    a) Pertama, tingkat kedwibahasaan adalah dengan mana sesorang mampu

    menjadi seorang dwibahasawan atau sejauh mana seseorang mampu

    mengetahui bahasa yang dipakainya. Masalah tingkat dalam pembahasan

    bilinguaisme menurut Alwasilah (1990:125) berkaitan dengan tingkat

    kemampuan berbahasa seseorang. Kemampuan berbahasa seseorang akan

    nampak dari empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca,

    berbicara, dan menulis. Menurutnya, dalam keempat keterampilan tersebut

    akan mencakup fonologi, gramatik, leksis, semantik, dan stailistik. Jika

    diambil kesimpulan, masalah tingkat ini adalah masalah yang berkaitan

    dengan pemahaman dan pengetahuan seseorang terhadap bahasa yang

    dipakainya.

    b) Kedua, fungsi kedwibahasaan adalah pengertian untuk apa seseorang

    menggunakan bahasa dan apa peranan bahasa dalam kehidupan pelakunya.

    Hal ini berkaitan dengan kapan seseorang yang bilingual menggunakan kedua

    bahasanya secara bergantian. Masalah fungsi ini menyangkut masalah pokok

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 23

    sosiolinguistik yaitu siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan,

    dan dengan tujuan apa (Chaer, 2004:88). Penggunaan bahasa pertama oleh

    seorang penutur, misalnya bahasa pertamanya bahasa Sunda, hanya akan

    digunakan dengan semua anggota masyarakat tutur yang menggunakan bahasa

    Sunda pula. Penggunaan bahasa pertama tersebut juga akan terbatas hanya

    pada situasi-situasi tertentu, misalnya ketika dalam percakapan sehari-hari

    dalam ruang lingkup keluarga dan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat

    biasa. Namun, dalam situasi-situasi tertentu pula bahasa pertama tidak dapat

    digunakan. Misalnya dalam kegiatan pendidikan di sekolah, walaupun guru

    dan murid menggunakan B1 yang sama (misalnya Bahasa Jawa), akan tetapi

    dalam hal ini hanya bahasa Indonesialah yang dapat digunakan, sebab bahasa

    Indonesia yang menjadi bahasa kedua guru dan murid tersebut merupakan

    bahasa nasional yang berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan.

    c) Ketiga, pergantian adalah pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai bahasa

    mampu berganti dari satu bahasa ke bahasa lain. Kemampuan berganti

    (berpindah) dari satu bahasa ke bahasa lain. Kemampuan berganti (berpindah)

    dari satu bahasa ke bahasa lain ini bergantung pada tingkat kelancaran

    pemakaian masing-masing bahasa. Terjadinya pergantian bahasa ini dapat

    dilihat antara lain pergantin dari satu bahasa di suatu tempat ke bahasa lain di

    tempat yang lain. Ada tiga faktor utama menentukan pergantian bahasa ini,

    yaitu topik yang dibicarakan, orang yang diajak berbicara, serta penekanan

    pada yang dibicarakan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 24

    d) Keempat, interferensi adalah bagaimana seseorang yang menganut

    bilingualisme menjaga bahasa-bahasa itu sehingga terpisah dan seberapa jauh

    seeorang itu mampu mencampuradukkan serta bagaimana pengaruh bahasa

    yang satu dalam penggunaan bahasa lainnya. Interferensi berarti adanya saling

    mempengaruhi antarbahasa. Interferensi bisa terjadi pada pengucapan, tata

    bahasa, kosakata dan makna bahkan budaya – baik dalam ucapan maupun

    tulisan – terutama kalau seseorang sedang mempelajari bahasa kedua

    (Alwasilah, 1990:131). Ciri yang menonjol dalam interferensi adalah

    peminjaman kosakata dari bahasa lain, alasannya adalah perlunya kosakata

    untuk mengacu pada obyek, konsep, atau tempat baru. Maka, meminjam

    kosakata dari bahasa lain akan lebih mudah daripada menciptakan kosakata

    baru. Hanya saja, kosakata-kosakata hasil pinjaman yang biasa dipakai dalam

    bahasa Indonesia telah disesuaikan ejaannya dengan ejaan bahasa Indonesia.

    2.2.3.3 Klasifikasi Tingkat Kedwibahasaan

    Aslinda (2010:24) Tingkat adalah penguasaan bahasa oleh seseorang,

    maksudnya sejauh mana seseorang itu mampu menjadi seseorang dwibahasawan

    atau sejauh manakah seseorang itu mengetahui bahasa yang dipakainya.

    Kedwibahasaan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa dengan sudut

    pandang dan diantaranya adalah sebagai berikut.

    Berdasarkan hakikat tanda dalam kontak bahasa, maka Weinrich (dalam

    Tarigan, 1988:8) mengategorikannya sebagai berikut.

    a. Kedwibahasaan Koordinatif

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 25

    Kedwibahasaan koordinatif merupakan dwibahasawan yang mempunyai dua

    perangkat satuan makna dan dua bentuk ekspresi.

    b. Kedwibahasaan Majemuk

    Kedwibahasaan majemuk merupakan dwibahasawan yang mempunyai satu

    perangkat satuan makna dan dua bentuk ekspresi.

    c. Kedwibahasaan Subordinatif

    Kedwibahasaan subordinatif merupakan dwibahasawan yang mempunyai

    satuan makna dari bahasa pertama dan dua bentuk ekspresi. Bentuk eskpresi

    bahasa pertama dan bentuk ekspresi bahasa kedua yang dipelajari melalui

    bahasa pertama.

    Mennurut Weinreich (dalam Pranowo, 1953:105-107) Kedwibahasaan

    dibedakan berdasarkan derajat yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu

    Kedwibahasaan Koordinatif, Kedwibahasaan Subordinatif, dan Kedwibahasaan

    Majemuk.

    a. Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukan bahwa

    kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik daripada kemampuan

    berbahasa bahasa yang lain. Hal itu dapat terjadi karena proses penguasaannya

    di dalam kondisi yang sama sehingga pemakaian bahasa memiliki rujukan

    makna yang sama untuk simbol-simbol bahasa yang dipertukarkan dalam dua

    bahasa karna pemakaian bahasa dilibatkan dalam dua bahasa yang berbeda

    pada saat yang bersamaan Alwasih, 1985 (dalam Pranowo: 105)

    b. Kedwibahasaan koordinatif/ sejajar adalah kedwibahasaan yang menunjukan

    bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baiknya oleh seorang individu.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 26

    Proses terjadinya kedwibahsaan ini karena seorang individu memiliki

    pengalaman yang berbeda dalam menguasai dua bahasa sehingga jarang sekali

    dipertukarkan pemakaiannya. Keadaan ini terjadi karena ada kemungkinan

    penguasaan B1 terjadi secara alamiah, sedangkan penguasaan B2 terjadi

    secara formal. Kemampuan dan tindak tutur dalam kedua bahasa tersebut

    terpisah dan bekerja sendiri-sendiri Nababan, 1984 (dalam Pranowo 2014:

    155)

    c. Kedwibahasaan Subordinatif (kompleks) adalah kedwibahsaan yang

    menunjukan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering

    memasukan unsur B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaan ini memiliki tanda

    (sign) yang kompleks, yang berisi satu konsep tunggal yang mengandung

    kosakata B1, dan selanjutnya mengundang, kosakata B2. Bahasa kedua

    dihasilkan dengan cara menerjemahkan ke dalam B2 terlebih dahulu sebelum

    dikatakan dalam bahasa kedua.

    Menurut Weinrich 1953 (dalam Suandi, 2014:19) membedakan kedwibahasan

    majemuk (compound bilinguality), kedwibahasaan koordinatif/setara (coordinate

    bilingualism), dan kedwibahasaan subordinat (subordinate bilingualism).

    Pembedaan ketiganya menekankan tumpuan perhatiannya pada dimensi

    bagaimana dua sandi bahasa (atau lebih) diatur oleh individu yang bersangkutan.

    Kedwibahasaan koordinatif/sejajar menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa

    sama-sama baik oleh seorang individu.

    a. Kedwibahsaan seimbang dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2, yaitu

    orang yang sama mahirnya dalam dua bahasa.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 27

    b. Kedwibahasan subordinatif (kompleks) menunjukkan bahwa seorang individu

    pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya.

    Kedwibahasaan ini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1 Adalah

    sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu

    bahasa yang besar sehingga masyarakat kecil ini dimungkinkan dapat

    kehilangan bahasa pertamanya (B1).

    Menurut Nababan 1984 Sebagaimana kita lihat di atas, bilingualitas berarti

    kemampuan dalam dua bahasa. Jika kita perhatikan hubungan antara kemampuan

    dan tindak laku dalam bahasa itu adalah terpisah dan bekerja sendiri-sendiri.

    Bilingualitas demikian disebut bilingualitas sejajar. Tipe bilingualitas yang lain

    sering terdapat dalam keadaan belajar bahasa kedua setelah kita menguasai satu

    bahasa (= bahasa pertama/utama) dengan baik, khususnya dalam keadaan belajar

    bahasa kedua atau asing di sekolah. Hal tersebut menimbulkan kemampuan dan

    kebiasaan orang dalam bahasa utama (source language atau bahasa sumber)

    berpengaruh atas pengguanaanya dari bahasa kedua (target language atau bahasa

    sasaran). Kedwibahasaan yang demikian disebut bilingualitas majemuk.

    Menurut saya tingkat kedwibahasaan dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

    a. Kedwibahasaan Subordinatif merupakan kedwibahasaan yang digunakan saat

    memakai B1 namun sering memasukan B2 atau sebaliknya. Hal tersebut

    terjadi karena situasi di masyarakat yang lebih dominan menggunakan B2

    atau B1. Misalnya dwibahasawan berbicara menggunakan bahasa Jawa dan

    bahasa Indonesia.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 28

    b. Kedwibahasaan Kordinatif atau sering disebut kedwibahasaan sejajar

    merupakan seseorang yang memiliki dua bahasa atau lebih yang dikuasai

    oleh dwibahasawan dengan pengalaman atau pemerolehan yang berbeda dan

    kedua bahasa tersebut jarang digunakan dengan sama baiknya. Hal tersebut

    B1 dan B2 sama-sama dikuasai namun berbeda tempat pemerolehan bahasa

    yang telah di dapat oleh si dwibahasawan. Misalnya B1 di peroleh dari

    lingkungan rumah dan B2 di peroleh dari lingkungan sekolah.

    c. Kedwibahasaan Majemuk merupakan seseorang yang memiliki dua bahasa

    atau lebih yang dikuasai oleh dwibahasawan dengan situasi kondisi yang

    sama dan bahasa yang digunakan sama jeleknya. Misalnya orangtua berbicara

    menggunakan dua bahasa secara bergantian lalu si anak merespon dengan

    satu bahasa saja walaupun paham dengan dua bahasa tersebut.

    2.3 Kerangka Berpikir

    Pada penelitian ini, subjek yang diteliti adalah mahasiswa PBSI 2015

    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sedangkan objek yang diteliti terkait

    dengan penggunaan kedwibahasaan. Sosiolinguistik adalah ilmu bahasa yang

    didapat oleh masyarakat sehingga menghasilkan tuturan dalam kegiatan sehari-

    hari. Tingkat kedwibahasaan memiliki tiga jenis klasifikasi. Tingkat

    kedwibahasaan tersebut tingkat subordinatif, tingkat koordinatif atau sejajar, dan

    tingkat majemuk. Berdasarkan pernyataan yang telah diuraikan, maka dapat

    diketahui terkait tingkat kedwibahasaan pada mahasiswa. Berikut adalah kerangka

    berpikir terkait dengan penelitian.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 29

    Bagan 2.3 Kerangka Berpikir

    Penggunaan Kedwibahasaan Mahasiswa

    di Luar Pembelajaran

    Sosiolinguistik

    Tingkat

    Kedwibahasaan

    Tingkat

    Kedwibahasaan

    Subordinatif

    Tingkat

    Kedwibahasaan

    Koordinatif

    Tingkat

    Kedwibahasaan

    Majemuk

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 30

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Jenis Penelitian

    Penelitian ini dilakukan dengan dasar persoalan yang jelas. Objek

    penelitian ini adalah bahasa tertulis dengan kategori penelitian deskriptif

    kualitatif. Peneliti akan mengumpulkan data-data terkait penggunaan

    kedwibahasaan pada mahasiswa prodi PBSI angkatan 2015 Universitas Sanata

    Dharma. Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data

    deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan orang-orang dan perilaku yang

    diamati (Moleong, 2008: 4). Ciri utama penelitian kualitatif ini mewarnai sifat dan

    bentuk laporannya menjadi sebuah laporan yang dapat digunakan pada waktu

    tertentu. Oleh karena cirinya itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam

    bentuk narasi yang kritis, kreatif, mendalam, dan natural yang penuh dengan

    keautentikan.

    Menurut (Arikunto, 2003:3) penelitian deskriptif adalah penelitian yang

    dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, situasi, peristiwa, kegiatan,

    yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan. Penelitian ini hanya

    menyampaikan apapun yang terjadi apa adanya tanpa merekayasa dengan maksud

    lain. Hal ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara sistematis. Penelitian ini

    bertujuan untuk menemukan tingkat kedwibahasaan khususnya pada tingkat

    kedwibahasaan pada mahasiswa prodi PBSI angkatan 2015 Universitas Sanata

    Dharma. Data yang ditemukan nantinya akan dianalisis dan dideskripsikan

    mengenai tingkat kedwibahasaan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 31

    3.2 Sumber Data dan Data Penelitian

    Sumber data membantu peneliti memperoleh data yang akurat. Sumber

    data dalam penelitian ini adalah pemakaian bahasa pada mahasiswa prodi PBSI

    Angkatan 2015 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Data penelitian berupa

    tuturan atau kalimat yang diduga mengandung kedwibahasaan pada mahasiswa

    prodi PBSI Angkatan 2015 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mahasiswa

    yang menjadi responden dalam penelitian ini sekitar berjumlah 37 orang dengan

    51 tuturan atau kalimat yang mengandung tingkat kedwibahasaan yang akan

    dianalisis dan dideskripsikan pada bagian bab empat.

    3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

    Metode adalah cara yang harus dilaksanakan atau diterapkan; teknik

    adalah cara melaksanakan atau menerapkan metode (Sudaryanto, 2015:9). Metode

    pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian berupa metode simak

    (pengamatan atau observasi) dan metode cakap (wawancara).

    1. Metode simak (pengamatan atau observasi)

    Metode simak adalah metode yang digunakan untuk memperoleh data

    dengan menyimak penggunaan bahasa. Dinamakan metode simak karena cara

    yang digunakan untuk memperoleh data yaitu dengan cara menyimak

    penggunaan bahasa Mahsun (2007:29). Metode ini memiliki teknik sadap

    disebut sebagai teknik dasar dalam teknik simak karena pada hakikatnya

    penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Mahsun (2007:93) menyatakan

    bahwa teknik sadap ini diikuti teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap,

    teknik simak bebas libat cakap, catat, dan teknik rekam. Keempat teknik ini

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 32

    dapat digunakan secara bersama-sama jika pengunaan Bahasa yang disadap itu

    berwujud seara lisan.

    a. Teknik sadap maksudnya si peneliti melakukan penyadapan dengan cara

    berpartisipasi sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan

    menyimak pembicaraan. Dalam hal ini, si peneliti terlibat langsung dalam

    dialog. Adapun teknik simak bebas libat cakap, maksudnya si peneliti

    hanya berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh para

    informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan yang bahasanya

    sedang diteliti. Namun, peneliti akan selalu berada di dekat subjek

    penelitian untuk mendapatkan tuturan antar mahasiswa PBSI angkatan

    2015.

    b. Teknik simak bebas libat cakap atau disebut teknik lanjutan, maksudnya si

    peneliti hanya berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa responden.

    Adapun dalam teknik simak bebas libat cakap ini terdapat langkah untuk

    lebih mempermudah yaitu peneliti membuat lembar tinjauan yang berisi

    keterangan-keterangan yang dapat ditulis dengan cepat. Lembar tinjauan

    tersebut berisi tanggal, tempat kejadian, situasi, topik pembicaraan, dan

    orang yang terlibat dalam peristiwa tutur yang ditinjau.

    c. Teknik catat adalah teknik lanjutan II yang dilakukan ketika menerapkan

    metode simak dengan teknik lanjutan di atas. Hal yang sama, jika tidak

    dilakukan pencatatan, si peneliti dapat saja melakukan perekaman ketika

    menerapkan metode simak dengan kedua metode lanjutan di atas.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 33

    d. Teknik rekam dimungkinkan terjadi jika bahasa yang diteliti adalah bahasa

    yang masih dituturkan oleh pemiliknya. Teknik rekam dilakukan dengan

    menggunakan voice recorder yang berada di aplikasi telepon genggam.

    2. Metode Cakap (wawancara)

    Metode cakap atau dalam penelitian dikenal dengan nama metode wawancara

    atau interview merupakan salah satu metode yang digunakan dalam tahap

    penyediaan data yang dilakukan dengan cara peneliti melakukan percakapan atau

    kontak dengan penutur Mahsun (2007:250). Metode ini memiliki teknik pancing

    dan teknik lanjutan yaitu teknik cakap semuka, di mana peneliti melakukan

    percakapan dengan cara berhadapan langsung di suatu tempat dengan

    informasinya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rekaman dan informasi

    untuk memperjelas penelitian.

    Wawancara akan peneliti tujukan kepada mahasiswa yang berasal dari Jawa.

    Berikut langkah-langkah untuk melakukan wawancara: menentukan tema atau

    topik wawancara, mempelajari masalah yang berkaitan dengan tema wawancara,

    menyusun daftar atau garis besar pertanyaan yang akan diajukan (5W+1H),

    menentukan narasumber dan mengetahui identitasnya, menghubungi atau

    membuat janji dengan narasumber, mempersiapkan peralatan untuk wawancara

    (alat tulis atau alat perekam), melakukan wawancara, mencatat pokok-pokok

    wawancara, menyususn laporan hasil wawancara.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 34

    3.4 Instrumen Penelitian

    Peneliti sebagai instrumen penelitian tidak bisa menjalankan penelitian tanpa

    adanya bantuan. Peneliti dibantu dengan adanya alat dan bahan dalam penelitian.

    Peneliti sebagai pengendali akan membutuhkan alat-alat penelitian seperti alat

    perekam, laptop, dan alat tulis untuk menunjang catatan lapangan atau wawancara

    untuk mengetahui latar belakang dan riwayat responden. Alat perekam dan catatan

    lapangan digunakan untuk merekam ujaran yang terkait dengan penelitian. Selain

    membutuhkan alat dalam penelitian, peneliti juga membutuhkan bahan dalam

    penelitian yakni buku sumber kepustakaan.

    3.5 Teknik Analisis Data

    Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

    analisis yang digunakan oleh peneliti Furchan (1982:475) menyatakan bahwa

    langkah pertama yang harus dilakukan peneliti dalam menganaliss data adalah

    melihat kembali usulan penelitian guna memeriksa rencana penyajian data dan

    pelaksanaan data. Beberapa hal yang akan peneliti kembangkan dalam teknik

    analisis data adalah sebagai berikut:

    a. Identifikasi

    Keberhasilan seorang peneliti adalah ketika ia mampu mengidentifikasi

    berdasarkan data yang ada dan teori yang relevan yang telah ia kemukakan.

    Misalnya, saat peneliti menemukan kata dalam data yang sekiranya sesuai dengan

    teori yang relevan sehingga ia mendapatkan ciri penanda yang terdapat dalam kata

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 35

    tersebut maka identifikasi itu juga baik untuk diterapkan. Identifikasi akan dilihat

    dari hasil analisis kebutuhan, hasil pengamatan, dan hasil wawancara.

    b. Klasifikasi

    Mendeskripsikan data berarti memberikan gambaran berdasarkan data yang

    digunakan untuk memperoleh bentuk nyata dari responden. Hal ini dilakukan agar

    penelitian lebih mudah dipahami oleh peneliti itu sendiri atau pun orang lain yang

    telah tertarik dengan penelitian ini. Penggambaran data harus sesuai dengan

    sumber dan data yang diperoleh. Deskripsi data dalam penelitian ini akan

    digambarkan dengan cara pengelompokan data yang ada dan mengkajinya

    berdasarkan teori yang relevan serta sejauh mana tingkat kedwibahasaan dalam

    data yang diperoleh.

    c. Interpretasi/Pemaknaan

    Peneliti harus memaknai data yang ia peroleh sebelumnya yang bersumber

    dari catatan lapangan, dokumen ataupun lainnya. Pemaknaan data ini digunakan

    untuk menganalisis data yang telah ditemukan. Tindak lanjut yang akan dilakukan

    setelah menafsirkan data adalah pengecekkan keabsahan data.

    d. Mendeskripsikan

    Peneliti harus mengkaji hasil temuan penelitian ke dalam bentuk deskriptif.

    Deskriptif bertujuan untuk memperjelas tingkat kedwibahasaan. Pada tahap ini

    peneliti akan mendeskripsikan tingkat kedwibahasaan yang terbagi menjadi tiga

    bagian yaitu tingkat kedwibahasaan subordinatif, tingkat kedwibahasan

    koordinatif, dan tingkat kedwibahasaan majemuk.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 36

    3.6 Triangulasi

    Moleong (2008:330) mengatakan bahwa triangulasi adalah teknik

    pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Triangulasi

    data dilakukan untuk me-rechek temuan dengan jalan membandingkannya dengan

    berbagai sumber, metode, atau teori. Setiap hal temuan harus dicek keabsahannya,

    agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan dapat

    dibuktikan keabsahannya.

    Pengecekan keabsahan yang dipakai oleh peneliti adalah triangulasi.

    Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

    sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai

    pembanding terhadap data itu. Peneliti meminta bantuan ahli untuk mengecek

    keabsahan data dan hasil analisis data. Peneliti memilih Dr. R. Kunjana Rahardi,

    M. Hum dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) di Uniersitas Sanata

    Dharma sebagai traggulator, karena beliau merupakan ahli Bahasa dibidang

    sosiolinguistik.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 37

    BAB IV

    HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    Bab hasil analisis dan pembahasan ini memaparkan tiga hal yaitu (1)

    Deskripsi data, (2) Analisis data, dan (3) Pembahasan. Deskripsi data

    memaparkan gambaran dari hasil analisis data penelitian. Analisis data penelitian

    memaparkan proses peneliti menganalisis data penelitian berdasarkan

    klasifikasinya. Kemudian pada pembahasan akan memaparkan hasil penelitian

    dengan alasan-alasan si peneliti untuk memilih tingkat kedwibahasaan dengan

    memperhatikan karakteristiknya. Ketiga hal tersebut yang akan dibahas satu

    persatu di bawah ini:

    4.1 Deskripsi Data

    Data penelitian ini berupa tuturan yang dihasilkan oleh mahasiswa angkatan

    2015 yang tinggal di pulau Jawa dan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa

    Indonesia dan bahasa Jawa di Prodi PBSI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

    yang di dalamnya terdapat tingkat kedwibahasaan. Observasi awal dilakukan pada

    awal bulan februari 2019, dan penelitian berakhir pada bulan mei 2019. Observasi

    memiliki keuntungan bagi peneliti untuk menemukan fakta yang sesungguhnya

    dilapangan penelitian. Fakta-fakta tersebut berupa para mahasiswa PBSI 2015

    sering berkomunikasi dalam kegiatan sehari-hari menggunakan lebih dari satu

    bahasa, yaitu bahasa Ibu dan bahasa kedua. Penggunaan bahasa yang digunakan

    tersebut tak lepas dari kedwibahasaan. Oleh karena itu, peneliti ingin

    menganalisis tingkat kedwibahasaan yang dimiliki mahasiswa PBSI 2015 saat

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 38

    berkomunikasi di lingkungan sosial. Data diperoleh melalui metode simak

    observasi dan metode cakap wawancara untuk menunjang latar belakang

    responden.

    Faktor penyebab adanya tingkat kedwibahasaan yang dikaitkan dengan kajian

    sosiolinguistik, dimana mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

    angkatan 2015 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta merupakan masyarakat

    bilingual yang tampak adanya penggunaan kedwibahasaan yang menampilkan

    tingkat kedwibahasaan subordinatif, koordinatif atau sejajar, dan majemuk.

    Tingkat kedwibahasaan subordinatif merupakan kedwibahasaan yang digunakan

    saat memakai bahasa pertama namun sering memasukan bahasa kedua. Tingkat

    kedwibahasaan koordinatif atau sejajar merupakan seseorang yang memiliki dua

    bahasa sama-sama baiknya dalam penggunaan kedwibahasaan. Tingkat

    kedwibahasaan majemuk merupakan kedwibahasaan yang salah satu bahasa lebih

    baik daripada kemampuan berbahasa bahasa lain. Para mahasiswa Pendidikan

    Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015 dalam interaksi di luar pembejaran

    menggunakan bahasa daerah (dominan Jawa), bahasa Indonesia, dan juga bahasa

    asing (bahasa Inggris) sesuai dengan konteks percakapakan. Data wawancara

    menghasilkan data yang berupa latar belakang bahasa pertama dan bahasa kedua

    yang telah dimiliki ataupun digunakan oleh responden.

    Data berupa tuturan-tuturan mahasiswa yang mengandung kedwibahasaan lalu

    ditranskrip dan dianalisis, hingga ditemukan 54 analisis data terpilih. Data dari

    penelitian ini telah melalui tahap triangulasi. Triangulasi dilakukan kepada orang

    yang paham mengenai bahasa ataupun tingkat kedwibahasaan. Triangulasi ahli

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 39

    dilakukan dari dosen Pendidikan Bahasa Sastra dan Indonesia yaitu Bapak Dr. R.

    Kunjana Rahardi M.Pd. triangulasi data dilaksanakan pada Kamis, 16 Mei 2019.

    Setelah di triangulasi, data yang disetujui oleh triangulator yaitu 51 analisis dan

    yang tidak disetujui ada 3 analisis. Hasil analisis data yang tidak disetujui oleh

    triangulator tidak digunakan dalam penelitian karena tidak sesuai dengan acuan

    bahasan. Peneliti telah memperbaiki triangulasi sesuai komentar atau saran

    triangulator. Peneliti telah memberikan tanda pada setiap tuturan yang dirasa

    mengandung tingkat kedwibahasaan sesuai dengan komentar yang diberikan oleh

    triangulator. Peneliti telah mencetak tebal pada tuturan yang mengandung tingkat

    kedwibahasaan untuk mempermudah identifikasi data.

    4.2 Analisis Data

    Pada bagian analisis data yang berjudul “kajian sosiolinguistik tingkat

    kedwibahasaan mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata

    Dharma Yogyakarta di luar pembelajaran”, peneliti akan memaparkan data-data

    yang ditemukan dan dianalisis sesuai dengan teknik analisis data. Penelitian ini

    ada empat tahapan teknik analisis data yaitu: Identifikasi, Klasifikasi,

    Interpretasi/Pemaknaan, dan Mendeskripsikan. Pada tahap pertama, peneliti

    mengidentifikasi adanya kedwibahasaan pada temuan tuturan-tuturan mahasiswa

    yang mengandung tingkat kedwibahasaan. Pada tahap kedua, peneliti

    mengklarifikasikan data yang telah didapatkan dari lapangan yang memiliki salah

    satu kategori tingkat kedwibahasaan yang berupa subordinatif, koordinatif, dan

    majemuk. Pada tahap ketiga, peneliti menginterpretasikan temuan-temuan peneliti

    dan dilanjutkan dengan perwakilan yang tidak terlepas dari konteks data

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 40

    penelitian. Pada tahap terakhir, peneliti akan mendiskripsikan hasil kajian yang

    ditemukan oleh peneliti kedalam bentuk deskriptif.

    Agar pemahaman lebih jelas mengenai hasil analisis tersebut, berikut ini akan

    dipaparkan terlebih dahulu penggunaan kedwibahasaan dengan teori Haugen

    (1968:10) pendapat Lado diperkuat oleh Haugen yang menyatakan bahwa

    kedwibahasaan adalah mengetahui dua bahasa. Jika diuraikan lebih umum maka

    pengertian kedwibahasaan adalah penggunaan dua bahasa baik secara produktif

    maupun secara reseptif oleh seorang individu ataupun masyarakat. Haugen

    mengemukakan kedwibahasaan dengan mengetahui dua bahasa “knowledge of

    two languages” cukup mengetahui dua bahasa secara pasif atau “understanding

    without speaking”. Selanjutnya akan dipaparkan data-data secara rinci perihal

    tingkat kedwibahasaan. Tingkat kedwibahasaan akan dianalisis dengan adanya

    teori yang dipaparkan oleh Weinreich (dalam Pranowo, 1953:105-107)

    Kedwibahasaan dibedakan berdasarkan drajat yang terbagi menjadi tiga bagian

    yaitu Kedwibahasaan Koordinatif, Kedwibahasaan Subordinatif, dan

    Kedwibahasaan Majemuk.

    Metode dan teknik pengumpulan data sangat membantu peneliti untuk

    memecahkan permasalahan pada penelitian. Adanya teori tersebut diharapkan

    dapat membantu peneliti untuk menganalisis data responden. Metode yang

    digunakan peneliti yaitu metode simak (pengamatan dan observasi) dan metode

    cakap (wawancara). Metode simak diterapkan pada masalah tingkat

    kedwibahasaan. Sedangkan, metode cakap untuk mengetahui latar belakang

    responden yang diteliti. Latar belakang responden berguna untuk memastikan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 41

    responden adalah pengguna kedwibahasaan. Sedangkan metode simak berguna

    untuk memperoleh data tuturan mahasiswa. Berikut data analisis penggunaan

    kedwibahasaan dan tingkat kedwibahasaan yang diperoleh peneliti.

    4.2.1 Kajian Sosiolinguistik Tingkat Kedwibahasaan Mahasiswa PBSI

    Angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di

    Luar Pembelajaran

    Hasil analisis wawancara mahasiswa 2015 yang berasal dari Pulau Jawa,

    membuktikan bahwa mahasiswa 2015 menggunakan lebih dari dua bahasa atau

    bilingual. Peneliti mencoba menggolongkan bahasa produktif dan reseptif pada

    bahasa yang digunakan oleh responden. Hasil analisis data wawancara

    menghasilkan sebuah pernyataan bahwa mahasiswa PBSI 2015 terbukti

    menggunakan dua bahasa atau disebut juga dengan dwibahasawan. Data tersebut

    menunjukan bahwa seringnya penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia

    dalam kegiatan sehari-hari di kehidupan sosial. Dari hasil wawancara tersebut

    akan diambil beberapa tuturan dari responden yang mengandung penggunaan

    kedwibahasaan yang memiliki tingkat kedwibahasaan. Hal tersebut akan

    mendukung data tuturan responden.

    Tingkat kedwibahasaan yang dianalisis berupa tingkat kedwibahasaan

    subordinatif, tingkat kedwibahasaan koordinatif atau sejajar, dan tingkat

    kedwibahasaan majemuk. Tuturan yang memiliki tingkat tertinggi dengan jumlah

    42 merupakan tingkat kedwibahasaan subordinatif. Tingkat kedwibahasaan

    koordinatif atau sejajar menemukan tuturan dengan jumlah 6 tuturan atau kalimat

    dari responden. Tingkat kedwibahasaan majemuk menemukan tuturan dengan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 42

    jumlah 3 tuturan atau kalimat pada responden. Hal tersebut didapat dari analisis

    tingkat kedwibahasaan pada tuturan responden dengan menggunakan metode

    simak dan teknik penelitian.

    4.2.1.1 Tingkat Kedwibahasaan Subordinatif yang digunakan oleh

    Mahasiswa PBSI angkatan 2015, FKIP Universitas Sanata Dharma

    Yogyakarta

    Kajian perihal tingkat kedwibahasaan dalam kajian kedwibahasaan dengan

    kajian sosiolinguistik cukup variatif berdasarkan konsep ahli yang merumuskan.

    Penelitian ini mendasarkan pada analisis data berdasarkan tingkat kedwibahasaan

    yang berupa subordinatif, koordinatif, dan majemuk. Adanya penggunaan

    kedwibahasaan pada mahasiswa memiliki tingkat kedwibahasaan dalam setiap

    percakapan sehari-hari. Analisis data penelilitian ini meliputi analisis tingkat

    kedwibahasaan subordinatif. Hal tersebut ditemukan adanya temuan-temuan

    peneliti pada percakapan dan hasil tabulasi yang sudah ditriangulasi dan itu

    terbukti dari data percakapan berikut ini.

    Tuturan data (1) So: Din, kowe gelem ora lipstik focallure?

    Di: Focallure apa?

    So: Tapi warnane coklat banget.

    Di: Banget?

    So: Gelap pokok‟e.

    Konteks sosial

    O1= penutur adalah seorang mahasiswa berjenis kelamin perempuan berusia 22

    tahun. O2= mitra tutur merupakan seorang mahasiswa berjenis kelamin

    perempuan berusia 22 tahun. E= pertuturan terjadi dengan lancar karena mitra

    tutur dapat menjelaskan pada penutur terkait prodak kecantikan berupa lipstik.

    M= penutur menawarkan prodak kecantikan berupa lipstick yang berwarna coklat

    kepada mitra tutur. A= tidak ada orang ketiga. U= pertuturan diawali oleh penutur

    dan ditanggapi oleh mitra tutur. B= pertuturan membahas warna lipstik yang

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 43

    ditawarkan kepada mitra tutur. I= pertuturan terjadi secara langsung dengan

    bahasa lisan. C= mitra tutur nampak ragu-ragu untuk menerima tawaran penutur.

    A= pertuturan terjadi di perpustakan Universitas Sanata Dharma pada hari Selasa,

    26 Februari 2019 dengan situasi cukup hening dan tidak resmi diruang diskusi.

    R= tidak ada wacana. A= penutur dan mitra tutur menggunakan bahasa Jawa dan

    bahasa Indonesia selama pertuturan berlangsung.

    Data tuturan (data 1) merupakan tingkat kedwibahasaan subordinatif.

    Konteks sosial pada tuturan membantu peneliti untuk mendapatkan sebuah

    informasi latar belakang tuturan yang dibicarakan oleh responden. Data diatas

    menunjukkan bahwa tuturan itu diucapkan oleh So sebagai penutur yang menjadi

    responden kepada Di sebagai mitra tutur yang sedang membicarakan tentang

    prodak kecantikan berupa lipstik. Penutur menggunakan bahasa Jawa dan bahasa

    Indonesia saat melakukan percakapan. Penutur sering menggunakan B1 pada

    situasi tidak formal dan sering menggunakan B2 saat berbicara dengan mitra tutur.

    Hal tersebut terbukti dengan adanya tuturan “Tapi warnane coklat banget.”,

    menunjukan bahwa penutur adalah pengguna kedwibahasaan yang menggunakan

    B1 (bahasa Indonesia) dan sering memasukan B2 (bahasa Jawa) yaitu dalam satu

    kalimat tuturan dan dapat dibuktikan pada kata “warnane” yang termasuk dalam

    bahasa Jawa.

    Tuturan data (2)

    Ty: BTW, kemarin Ay ulang tahun.

    Di: Storyne ndelok ora?

    Ty: Storyne aku ndelok, “terima kasih sudah datang”.

    Konteks sosial

    O1= penutur adalah seorang mahasiswa berjenis kelamin perempuan berusia 22

    tahun. O2= mitra tutur merupakan seorang mahasiswa berjenis kelamin

    perempuan berusia 22 tahun. E= pertuturan terjadi dengan la