of 22 /22
8 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Sosiolinguistik Sosiolinguistik berasal dari dua bidang ilmu yaitu sosiologi dan linguistik. Secara singkat, sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu sosial, sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Sosiolinguistik merupakan cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari hubungan dan pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Kajian utama sosiolinguistik adalah keragaman bahasa yang terjadi di masyarakat. Teori-teori sosiolinguistik mencakup pada kegiatan berbahasa sekelompok masyarakat dalam sebuah lingkungan. Pengetahuan sosiolinguistik dimanfaatkan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam kelompok sosial. Sosiolinguistik memberikan pedoman untuk berkomunikasi dengan menunjukkan ragam bahasa yang sebaiknya digunakan dalam situasi dan orang-orang tertentu. Radford, Andrew dkk. mengungkapkan, “Sociolinguistics is the study of the relationship between language use and the structure of society.(Radford, Andrew et.al, 1999:20). Pengertian ini menunjukkan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa yang digunakan dan sruktur dalam masyarakat. Hubungan tersebut adalah hal yang mengawali adanya

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Sosiolinguistik Sosiolinguistik berasal dari

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Sosiolinguistik Sosiolinguistik berasal dari

8

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik berasal dari dua bidang ilmu yaitu sosiologi dan linguistik.

Secara singkat, sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu sosial, sedangkan linguistik

adalah ilmu bahasa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik

adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa dalam penggunaannya di dalam

masyarakat. Sosiolinguistik merupakan cabang dari ilmu linguistik yang

mempelajari hubungan dan pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial.

Kajian utama sosiolinguistik adalah keragaman bahasa yang terjadi di

masyarakat. Teori-teori sosiolinguistik mencakup pada kegiatan berbahasa

sekelompok masyarakat dalam sebuah lingkungan. Pengetahuan sosiolinguistik

dimanfaatkan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam kelompok sosial.

Sosiolinguistik memberikan pedoman untuk berkomunikasi dengan menunjukkan

ragam bahasa yang sebaiknya digunakan dalam situasi dan orang-orang tertentu.

Radford, Andrew dkk. mengungkapkan, Sociolinguistics is the study of

the relationship between language use and the structure of society. (Radford,

Andrew et.al, 1999:20). Pengertian ini menunjukkan bahwa sosiolinguistik adalah

ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa yang digunakan dan sruktur

dalam masyarakat. Hubungan tersebut adalah hal yang mengawali adanya

9

keragaman dalam penggunaan bahasa karena tidak semua bahasa diungkapkan

dengan cara yang sama oleh orang-orang yang berbeda, tentunya ada aturan-

aturan tertentu dalam kegiatan berbahasa dalam kehidupan sosial yang harus

disesuaikan dengan situasi, fungsi dan perannya.

Senada dengan Radford, Holmes berpendapat,

Sociolinguists study the relationship between language and society. They

are interested in explaining why we speak differently in different social

contexts, and they are concerned with identifying the social functions of

language and the ways it is used to convey social meaning.

(Holmes, 2001:1).

Pengertian tersebut mengungkapkan bahwa kajian sosiolinguistik mempelajari

hubungan antara bahasa dan masyarakat sosial. Dalam hal ini, sosiolinguistik

lebih memperhatikan mengapa manusia berkomunikasi secara berbeda-beda

dalam situasi sosial yang berbeda-beda pula dan juga mengkaji mengenai fungsi

sosial dari suatu bahasa dan cara bahasa tersebut digunakan untuk menyampaikan

sebuah pesan sosial.

Chaer dan Agustina mengungkapkan,

Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati

sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan

dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam

masyarakat manusia.

(Chaer dan Agustina, 2004:3).

Definisi ini menjelaskan bahwa sosiolinguistik dalam mencari objeknya tidak

harus selalu mendekati bahasa secara struktural, melainkan mencoba mengambil

10

dari segi penggunaan bahasa yang menjadi sarana interaksi dan komunikasi oleh

masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.

Trudgill (Sumarsono, 2009:3) mengemukakan bahwa, Sociolinguistics

is that part of linguistics which is concerned with language as a social and

cultural phenomenon. Dengan kata lain, sosiolinguistik adalah bagian dari

linguistik yang berkaitan dengan bahasa sebagai gejala sosial dan gejala

kebudayaan. Dalam hal ini, bahasa yang dikaitkan dengan kebudayaan masih

menjadi cakupan sosiolinguistik. Hal ini dapat dimengerti karena setiap

masyarakat pasti memiliki kebudayaan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa

dengan masyarakat. Sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan

dengan kondisi kemasyarakatan.

2.2 Fungsi Bahasa (The Functions of Speech)

Bahasa dalam penggunaanya memiliki fungsi dan tujuannya masing-

masing. Tujuan dari penggunaan bahasa akan mempengaruhi bentuk bahasa itu

sendiri. Wardhaugh mengatakan bahwa, An alternative approach to devising

ethnographies is to attempt to describe the different functions of language in

communication. (Wardhaugh, 2006:250). Dengan kata lain, pendekatan

alternatif dalam merancang ethnography atau penjelasan ilmiah atas perilaku

11

masyarakat dan budaya, adalah untuk menggambarkan fungsi bahasa yang

berbeda dalam komunikasi. Wardhaugh juga mengungkapkan bahwa, Various

linguists have proposed different categorizations of the functions of language,

e.g., Jakobson (1960), Halliday (1973), and Robinson (1972). (Wardhaugh,

2006: 250). Dari ungkapan di atas dapat diketahui bahwa beberapa linguist atau

ahli bahasa telah membuat kategorisasi yang berbeda dalam fungsi bahasa,

beberapa linguist tersebut antara lain Jakobson (1960), Halliday (1973), dan

Robinson (1972). Wardhaugh juga mengungkapkan fungsi bahasa menurut

Halliday (1973) dan Robinson (1972) sebagai berikut,

Hallidays list covers the following functions: instrumental (satisfying

some material need); regulatory (regulating the behavior of people);

interactional (maintaining social relationships); personal (expressing

personality); heuristic (investigating the environment); imaginative

(playing and creating); and representational (expressing propositions).

(Wardhaugh, 2006: 250)

Halliday mengkategorikan fungsi bahasa menjadi tujuh, yaitu:

1. Instrumental (mencukupi kebutuhan material).

2. Regulatory (mengatur perilaku manusia).

3. Interactional (menjaga hubungan sosial).

4. Personal (mengungkapkan kepribadian).

5. Heuristic (mengamati lingkungan).

6. Imaginative (bermain dan menciptakan).

7. Representational (mengungkapkan pendapat).

12

Sedangkan kategorisasi Robinson dalam buku Wardhaugh,

Robinsons list (pp. 501) covers many of the same functions but names

them differently and, of course, divides them differently: avoidance,

conformity to norms, aesthetics, encounter regulation, performative,

regulation (of self and others), affective, marking of emitter (e.g.,

emotional state, personality, or identity), role relationship marking,

referential, instruction, inquiry, and metalanguage functions.

(Wardhaugh, 2006: 250)

Menurut Wardhaugh, Robinson mengkategorikan fungsi bahasa menjadi tiga

belas yaitu:

1. Avoidance (penolakan).

2. Conformity to norms (kepatuhan norma).

3. Aesthetics (estetika).

4. Encounter regulation (menghadapi peraturan).

5. Performative (tindakan).

6. Regulation - of self and others (pengaturan diri dan orang lain).

7. Affective (berkaitan dengan suasana hati, perasaan, dan sikap).

8. Marking of emitter - e.g., emotional state, personality, or identity

(mengungkapkan emosi, kepribadian, dan identitas).

9. Role relationship marking (penanda peran hubungan sosial).

10. Referential (mengandung referensi atau informasi).

11. Instruction (instruksi).

12. Inquiry (pertanyaan).

13. Metalanguage functions (fungsi penjelasan bahasa).

13

Serupa dengan ahli-ahli bahasa pendahulunya, Holmes juga membuat

kategorisasi tentang fungsi bahasa yaitu the functions of speech. Menurut Holmes,

In chapter 1, I described just these two broad functions of speech the

affective and the referential. It is possible, however, to distinguish a great

variety of different functions which language serves. There are a number

of ways of categorizing the functions of speech. The following list has

proved a useful one in sociolinguistic research.

1. Expressive utterances express the speakers feeling, e.g. Im feeling great today.

2. Directive utterances attempt to get someone to do something, e.g. Clear the table.

3. Referential utterances provide information, e.g. At the third stroke it will be three oclock precisely.

4. Metalinguistic utterances comment on language itself, e.g. Hegemony is not a common word.

5. Poetic utterances focus on aesthetic features of language, e.g. a poem, an ear-catching motto, a rhyme, Peter Piper picked a peck of pickled

peppers.

6. Phatic utterances express solidarity and empathy with others, e.g. Hi, how are you, lovely day isnt it!

(Holmes, 2001:259)

Berdasarkan penjelasan Holmes di atas, dapat diketahui bahwa terdapat enam

poin fungsi-fungsi bahasa, yaitu:

1. Expressive, menyatakan perasaan sang penutur.

contoh: Saya merasa senang hari ini.

2. Directive, mengupayakan seseorang untuk melakukan sesuatu.

contoh: Tolong bersihkan meja itu.

3. Referential, memberikan informasi.

contoh: Pada dentingan ketiga akan menjadi jam tiga tepat.

4. Metalinguistic, mengutarakan tentang bahasa itu sendiri.

contoh: Hegemoni bukanlah kata yang umum.

14

5. Poetic, memfokuskan pada nilai estetika bahasa.

contoh: puisi, motto yang mudah didengar, sajak, satu-satu aku sayang ibu.

6. Phatic, menyatakan solidaritas dan empati terhadap orang lain.

contoh: Hai, apa kabar, hari yang indah bukan!

Keenam fungsi bahasa di atas akan membantu dalam menentukan fungsi dan

tujuan dari suatu percakapan. Perlu diingat bahwa sebuah percakapan dapat

memiliki lebih dari satu fungsi bahasa. Holmes juga menambahkan,

The first three functions are recognized by many linguist, though the

precise labels they are given may differ. They seems to be very

fundamental functions of language, perhaps because they derive from the

basic components of any interactions the speaker (expressive), the

addressee (directive), and the message (referential). The phatic functions

is, however, equally important from a sociolinguistics perspective. Phatic

communications conveys an affective or social message rather than a

referential one.

(Holmes, 2001:259)

Holmes berpendapat bahwa tiga fungsi pertama di atas telah diakui oleh banyak

ahli bahasa meskipun nama yang diberikan mungkin berbeda-beda. Ketiganya

merupakan fungsi yang sangat mendasar dari bahasa, hal ini dimungkinkan

karena ketiganya berasal dari komponen-komponen dasar dari setiap interaksi

the speaker atau penutur (expressive), the addressee atau penerima (directive),

dan the message atau pesan (referential). Meskipun demikian, fungsi phatic

adalah fungsi yang sama-sama penting dari sudut pandang sosiolinguistik.

Ungkapan phatic lebih menyampaikan unsur affective atau pesan sosial daripada

ungkapan referential. Para ahli sosiolinguistik mengungkapkan bahwa bahasa

15

tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi referensial, tetapi juga

mengemukakan informasi tentang hubungan sosial.

2.3 Variasi Bahasa

Sosiolinguistik juga mempelajari pemahaman variasi bahasa. Disadari

atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari bahasa yang digunakan manusia masing-

masing berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, sehingga timbul

variasi dalam berbahasa. Abdul Chaer dan Leonie Agustina mengemukakan

bahwa terdapat empat variasi bahasa. Variasi tersebut dibagi dari segi penutur,

pemakaian, keformalan, dan sarana. Variasi bahasa menurut Chaer dan Agustina

(2004:62-73) adalah sebagai berikut:

1. Variasi dari Segi Penutur

Berdasarkan penuturnya, variasi bahasa dibagi menjadi empat bagian.

Yang pertama adalah variasi idiolek yakni variasi bahasa yang bersifat

perseorangan. Variasi idiolek ini berkaitan dengan warna suara, pilihan kata, gaya

bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Variasi kedua adalah dialek, yaitu

variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada

suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Variasi ketiga adalah kronolek atau

dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada

masa tertentu. Variasi keempat dan terakhir adalah sosiolek atau dialek sosial,

yaitu variasi bahasa yang berkaitan dengan status, golongan, dan kelas sosial.

16

2. Variasi dari Segi Pemakaian

Pemilihan variasi bahasa yang berkenaan dengan fungsi, pengunaan, atau

pemakaiannya disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi ini dilihat

berdasarkan bidang penggunaan, gaya atau tingkat keformalan, dan sarana

penggunaan bahasa.

3. Variasi dari Segi Keformalan

Martin Joos (1967) mengemukakan dalam bukunya The Final Lock bahwa

variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya dibagi menjadi lima macam.

Yang pertama adalah ragam beku, yaitu variasi bahasa paling formal. Ragam ini

digunakan dalam situasi khidmat dan upacara-upacara resmi, misalnya upacara

kenegaraan, khotbah, tata cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte

notaries, dan surat-surat keputusan. Ragam kedua adalah ragam resmi atau

formal, yakni variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat

dinas, surat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan sebagainya.

Ketiga adalah ragam usaha atau konsultatif, yaitu variasi bahasa yang lazim

digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan

yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan bahwa ragam

usaha ini adalah ragam bahasa yang paling operasional. Keempat adalah ragam

santai atau kasual, yaitu variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi,

digunakan untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman pada waktu

istirahat, berolah-raga, rekreasi, dan sebagainya. Kelima dan yang terakhir adalah

17

ragam akrab atau intim, yakni variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para

penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti anggota keluarga dan antar-teman

karib. Ragam bahasa ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap,

pendek-pendek, dan artikulasi yang seringkali tidak jelas. Hal ini terjadi karena

para penutur sudah memiliki pengetahuan dan pengertian yang sama.

4. Variasi dari Segi Sarana

Berdasarkan sarana, dalam bahasa terdapat ragam lisan dan ragam tulis.

Dalam berbahasa lisan, kesalahan pengucapan dan kesalah-pahaman pengertian

dapat segera diperbaiki atau diralat. Dalam bahasa tulis harus lebih teliti dan

memberikan perhatian lebih agar kalimat-kalimat yang tersusun dapat dipahami

pembaca dengan baik.

2.4 Aspek Tutur

Suatu percakapan dapat terjadi kapanpun, di manapun, oleh siapapun dan

dengan tujuan apapun. Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan terjadinya

suatu percakapan, hal-hal tersebut adalah aspek tutur. Nadar (Nadar, 2009:7)

mengutip Leech dalam bukunya bahwa, Aspek tutur lainnya, selain konteks

sebagaimana diungkapkan di depan, meliputi penutur dan lawan tutur, tujuan

tutur, tuturan sebagai kegiatan tindak tutur, dan tuturan sebagai produk tindak

verbal (Leech, 1991:19-21. Terkait dengan penjelasan di atas, konteks adalah

situasi lingkungan di mana percakapan terjadi; penutur dan lawan tutur adalah

18

pembicara dan lawan bicara; tujuan tutur adalah maksud pembicara mengucapkan

sesuatu; dan tuturan adalah percakapan itu sendiri. Nadar dalam bukunya

mengemukakan bahwa,

Senada dengan pendapat Leech di atas, Gumperz dan Hymes (1972:65)

dan juga disebut dalam Wardhaugh (1986:349-350) membuat akronim

SPEAKING yaitu settings, participants, ends, act of sequence, keys,

instrumentalities, norms dan genres. tempat, peserta tutur, tujuan

tuturan, urutan tuturan, cara, media, norma yang berlaku, dan genre

untuk menjelaskan komponen tutur dalam kajian sosiolinguistik.

(Nadar, 2009:7)

Dengan lebih banyak komponen, yaitu delapan, dari pendapat Leech sebelumnya

yang hanya lima, akronim tersebut dapat menjelaskan secara lebih rinci tentang

suatu percakapan dibandingkan dengan penjelasan Leech sebelumnya. Secara

singkat, delapan komponen tersebut dapat dijelaskan bahwa,

1. Settings adalah tempat dan waktu terjadinya percakapan, termasuk kondisi

penutur dan penerima tutur.

2. Participants adalah peserta tutur atau penutur dan pemerima tutur.

3. Ends adalah maksud dan tujuan yang ingin dicapai dari percakapan.

4. Act of sequence adalah bentuk tuturan yang digunakan dalam percakapan.

5. Keys adalah cara tuturan disampaikan.

6. Instrumentalities adalah jalur bahasa pada percakapan yang dapat berupa lisan

maupun tulisan.

7. Norms adalah norma atau aturan dalam berinteraksi dan berbahasa.

19

8. Genres adalah jenis bentuk tuturan disampaikan seperti puisi, surat, doa, lagu,

dan sebagainya.

2.5 Faktor Sosial (Social Factors)

Manusia adalah mahluk sosial yang dalam kehidupannya sehari-hari tidak

pernah luput dari kegiatan berbahasa. Bahasa memiliki banyak variasi yang dapat

digunakan untuk berkomunikasi tergantung dari kebutuhan penggunanya.

Penggunaan variasi bahasa dalam masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor

sosial. Holmes mengungkapkan bahwa,

Not all factors are relevant in any particular context but they can be

grouped in ways which are helpful. In any situation linguistic choices will

generally reflect the influence of one or more the following components:

1. The participants: who is speaking and who are they speaking to? 2. The setting or social context of the interaction: where are they

speaking?

3. The topic: what is being talked about? 4. The function: why are they speaking?

(Holmes, 2001:8)

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa faktor-faktor sosial yang

mempengaruhi masyarakat dalam berbahasa ada empat poin, yaitu:

1. Pelaku bahasa: siapa yang berbicara dan kepada siapa mereka berbicara?

2. Latar atau konteks sosial dari interaksi: dimana mereka berbicara?

3. Topik: apa yang dibicarakan?

4. Fungsi: mengapa mereka berbicara?

20

Keempat faktor sosial di atas akan membantu mendeskripsikan dan menganalisis

segala macam interaksi masyarakat. Holmes berpendapat bahwa faktor sosial

tersebut adalah komponen dasar dalam penjelasan sosiolinguistik tentang

mengapa semua manusia tidak berbicara dengan cara yang sama, dan mengapa

semua manusia tidak berbicara dengan cara yang sama di setiap waktu.

2.6 Dimensi Sosial (Social Dimensions)

Kegiatan berbahasa menimbulkan pertanyaan mengapa manusia dapat

berbicara mengenai suatu hal yang sama tetapi disampaikan dengan cara yang

berbeda-beda tergantung kepada orang yang diajak bicara dan situasinya.

Menurut Holmes,

People may use different Pronunciations, vocabulary, grammar, or styles

of a language for different purposes. They may use different dialects of a

language in different contexts. And in some communities they will select

different languages according to the situation in which they are

speaking.

(Holmes, 2001:7)

Berdasarkan kutipan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki

cara berkomunikasi yang berbeda-beda tergantung dari tujuan, konteks, dan

situasinya. Oleh karena itu, Holmes membuat teori dimensi sosial (social

dimensions) untuk mengidentifikasikan fenomena berbahasa tersebut.

21

Social dimensions menitik-beratkan teorinya pada hubungan sosial para

penutur bahasa, status sosialnya, keformalitasan pembicaraan atau bahkan topik

pembicaraannya. Seperti diuraikan oleh Holmes sebagai berikut,

In addition to this components it is useful to take account of four

different dimensions for analysis which relate to the factors above and

which have been only implicit in the discussion so far. These are:

1. A social distance scale concern with participant relationships. 2. A status scale concerned with participant relationships. 3. A formality scale relating to the setting or type of interaction. 4. Two functional scales relating to the purpose or topic of interaction.

(Holmes, 2001:9)

Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dimensi sosial terdiri dari

empat skala yang dapat dianalisis yaitu: 1) Skala jarak sosial (social distance

scale), berkaitan dengan hubungan sosial antara para pembicara (participant

relationships); 2) Skala status (status scale), berkaitan dengan hubungan sosial

antara para pembicara (participant relationships); 3) Skala formalitas (formality

scale), berkaitan dengan latar belakang dan tipe interaksi (the setting or type of

interaction); dan yang terakhir 4) Dua skala fungsional (two functional scales),

berkaitan dengan tujuan dan topik pembicaraan (the purpose or topic of

interaction).

22

2.6.1 Skala Jarak Sosial (Social Distance Scale)

Seberapa baik seseorang mengenal satu sama lain adalah salah satu faktor

paling penting yang mempengaruhi cara berbicara orang tersebut. Seperti yang

diungkapkan Holmes,

How well you know someone is one of the most important factors

affecting the way you talk to them. The choice between regional dialect

and standard Norwegian in Norway, or between German and Italian in

Sauris, or Meg VS Mrs. Billington in London, may simply reflect the

degree of solidarity between the speaker and addresses.

(Holmes, 2001:374)

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pemilihan variasi bahasa, dialek,

dan panggilan dapat menunjukkan tingkatan jarak sosial dan solidaritas antara

pelaku tutur. Berikut adalah gambaran tentang skala jarak sosial (social distance

scale) oleh Holmes (2001:9) dalam bukunya,

Intimate Distant

High solidarity Low solidarity

Berikut penjelasannya:

a. Intimate

Item ini menunjukkan hubungan sosial yang dekat atau intim antara penutur

dan penerima tutur. Intimate dapat terlihat berdasarkan variasi bahasa yang

tidak (non-standard) dan bahkan cenderung santai (casual), dan juga

23

penggunaan panggilan nama depan dan panggilan akrab tertentu, seperti Meg,

Walt, Honey, Dear, dan lain-lain.

b. Distant

Berlawanan dengan intimate, distant menunjukkan hubungan sosial yang

tidak terlalu dekat atau bahkan jauh antara penutur dan penerima tutur.

Distant dapat terlihat berdasarkan variasi bahasa yang lebih baku (standard),

dan juga panggilan yang lebih resmi seperti gelar dan nama belakang, seperti

Mrs. Billington, Mr. Kowalski, dan lain-lain.

c. High Solidarity

Item ini menunjukkan rasa solidaritas, kesetia-kawanan, atau keakraban yang

tinggi antara para pelaku tutur. Sebagaimana skala di atas, high solidarity

berbanding lurus dengan intimate, yang berarti semakin dekat atau intim

hubungan sosial seseorang maka semakin tinggi rasa solidaritas atau

kepedulian terhadap sang penerima tutur.

d. Low Solidarity

Item ini berlawanan dengan high solidarity, karena low solidarity menunjukan

tingkat solidaritas yang rendah. Low solidarity juga berbanding lurus dengan

distant, yang berarti semakin berjarak atau jauh hubungan seseorang maka

semakin rendah rasa solidaritas atau kepedulian kepada sang penerima tutur.

24

2.6.2 Skala Status (Status Scale)

Gelar atau jabatan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat juga dapat

mempengaruhi sesorang dalam berbicara. Holmes mengungkapkan,

The status or power dimension also accounts for a variety of linguistic

differences in the way people speak. You speak in a way which signals

your social status and constructs your social identity in a community.

Those at the top in multilingual communities usually have the widest

linguistic repertoire, and they certainly speak the official language. In a

monolingual community, the higher your social group, the more standard

forms you are likely to use.

(Holmes, 2001:374)

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pemilihan variasi bahasa dapat

menunjukan status atau tingkat kedudukan seseorang dalam masyarakat. Semakin

tinggi kelompok masyarakat, semakin baku bahasa yang digunakan. Berikut

adalah gambaran tentang skala status (status scale) dalam buku Holmes (2001:9),

Superior High status

Subordinate Low status

Penjelasannya:

a. Superior

Item ini menunjukan seseorang yang memiliki kapasitas dan kedudukan yang

lebih baik atau lebih tinggi, dan juga seseorang yang lebih tua dan dihormati.

Superior dapat terlihat berdasarkan variasi bahasa yang lebih baku dan sopan

25

(standard forms), dan juga penggunaan panggilan gelar kehormatan atau gelar

dan nama belakang, seperti Sir, Mam, Mr. Kowalski, dan lain-lain.

b. Subordinate

Item ini menunjukan seseorang yang memiliki kapasitas dan kedudukan lebih

rendah dalam masyarakat. Berlawanan dengan superior, subordinate dapat

terlihat berdasarkan penggunaan variasi bahasa yang tidak baku (non-

standard forms) dan cenderung santai atau casual, dan juga penggunaan

panggilan nama depan dan panggilan akrab tertentu, seperti Meg, Honey,

Dear, dan lain-lain.

c. High Status

Item ini menunjukan status sosial yang lebih baik atau lebih tinggi dalam

masyarakat. Sebagaimana skala di atas, high status berbanding lurus dengan

superior, yang berarti semakin tinggi kedudukan dan semakin dihormati

seseorang, maka semakin tinggi status sosialnya.

d. Low Status

Kebalikan dari high status, low status menunjukan status sosial yang lebih

rendah dalam masyarakat. high status juga berbanding lurus dengan

subordinate, yang berarti semakin rendah kedudukan seseorang, maka

semakin rendah status sosialnya dalam masyarakat.

26

2.6.3 Skala Formalitas (Formality Scale)

Latar belakang atau waktu dan tempat (settings) merupakan suatu hal yang

juga sangat penting dalam mempengaruhi cara seseorang berbicara. Seperti

penjelasan Holmes,

Though status and solidarity are usually very important influences on

appropriate language choice, the formality of the settings or speech even

can sometimes override them. In court, even sisters will call each other by

their formal titles, and at a wedding ceremony the language of the bride

and groom is determined by the ritual occation, not by the closeness of

their relationship.

(Holmes, 2001:374)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keformalitasan waktu dan

tempat kadang dapat melampaui kepentingan jarak sosial dan status sosial yang

mempengaruhi cara seseorang berbicara. Berikut adalah gambaran tentang skala

formalitas (formality scale) oleh Holmes (2001:9),

Formal High formality

Informal Low formality

Berikut penjelasannya:

a. Formal

Item ini menunjukkan situasi atau keadaan atas waktu dan tempat yang resmi

dan serius. Formal dapat terlihat berdasarkan waktu dan tempat yang resmi

27

seperti pengadilan, upacara pernikahan, dan lain-lain. Formal juga dapat

terlihat berdasarkan variasi bahasa yang baku (standard) dan benar

(grammatically correct), dan juga penggunaan panggilan yang resmi seperti

gelar dan nama belakang, seperti Mrs. Billington, Mr. Kowalski, dan lain-lain.

b. Informal

Berbeda dengan formal, informal menunjukkan situasi atau keadaan atas

waktu dan tempat yang tidak resmi atau santai. Informal dapat terlihat

berdasarkan waktu dan tempat yang santai seperti pesta ulang tahun, acara

keluarga, dan lain-lain. Informal juga dapat terlihat berdasarkan variasi bahasa

yang tidak baku (non-standard) dan bahkan cenderung santai (casual), dan

juga penggunaan panggilan nama depan dan panggilan akrab tertentu, seperti

Meg, Walt, Honey, Dear, dan lain-lain.

c. High Formality

Item ini menunjukkan tingkat keformalitasan variasi bahasa yang tinggi.

Sebagaimana skala di atas, high formality berbanding lurus dengan formal,

yang berarti semakin resmi suatu situasi, maka semakin tinggi tingkat

keformalitasan suatu variasi bahasa.

d. Low formality

Item ini menunjukkan tingkat keformalitasan variasi bahasa yang rendah.

Sebagaimana skala di atas, low formality berbanding lurus dengan informal,

28

yang berarti semakin tidak resmi atau santai suatu situasi, maka semakin

rendah tingkat keformalitasan variasi bahasanya.

2.6.4 Dua Skala Fungsional (Two Functional Scales)

Seperti yang diungkapkan Holmes (2001:10), Language can convey

objective information of a referential kind; and it can also express how someone

is feeling. Dengan kata lain, bahasa dapat digunakan untuk memberikan

informasi dan juga menunjukkan perasaan seseorang. Berikut gambaran tentang

dua jenis skala fungsional (two functional scales) menurut Holmes (2001:10),

Referential

High information content Low information content

Affective

Low affective content High affective content

Penjelasannya:

a. Referential

Item ini menunjukkan bahwa percakapan dilakukan dengan tujuan untuk

memberikan informasi. High information content memperlihatkan bahwa

percakapan berisikan informasi yang tinggi atau penting untuk diketahui,

sedangkan low information content sebaliknya.

29

b. Affective

Berbeda dengan referential, affective menunjukkan bahwa percakapan

dilakukan untuk menunjukkan perasaan seseorang atau mempererat kedekatan

satu sama lain. Low affective content mengindikasikan bahwa percakapan

yang dilakukan tidak terlalu mengandung unsur sosial, sedangkan high

affective content sangat mengandung unsur sosial.