Click here to load reader

Fraktur Femur

  • View
    110

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

FRAKTUR FEMUR.doc

Text of Fraktur Femur

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fraktur adalah: terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrim. Kebanyakan kasus nyeri karena fraktur sekarang di akibatkan oleh tinggainya angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang di akibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan alat-alat yang memenuhi standar keselamatan dalam berkendaraan. Seperti menggunakan helem yang standar untuk pengendara sepeda motor dan menggunakan sabuk pengaman untuk pengendara mobil. Klien dengan fraktur femur datang dengan nyeri tekan akut, pembengkakan nyeri saat bergerak dan spasme otot. Mobilitas atau kemampuan fisik klien untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari perubahan dan klien perlu belajar bagaimana menyesuaikan aktivitas dan lingkungan untuk mengakomodasikan diri dengan menggunakan alat bantu dan bantuan mobilitas.

Berdasarkan data-data tersebut di atas maka kelompok kami tertarik untuk membahas kasus fraktur khususnya fedis dan juga untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah KDM dalam praktek lapangan.

B. Tujuan Penulisan

1.1 Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran umum mengenai fraktur meliputi definisi, patopisiologi, manifestasi klinis, etiologi serta komplikasi yang ditimbulkan akibat kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang bisa menimbulkan fraktur.

1.2 Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu:

a. Memahami apa itu fraktur, cara mengobati fraktur tersebut.b. Menentukan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan fraktur khususnya yang kami angkat disini adalah fraktur pada Tn. I yaitu Fraktur Femur.c. Menyusun rencana tindakan keperawatan dalam perawatan klien dengan Fraktur Femur

d. Menyusun dokumentasi keperawatan

C. Ruang Lingkup Keperawatan

Dalam menulis makalah ini penulis membahas mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, asuhan keperawatan serta studi kasus mengenai klien dengan Fraktur Femur khususnya .D. Metode Penulisan

Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif. Adapun tenik pengumpulan data dan informasi dalam penyusunan makalah ini adalah studi kepustakaan dengan menggunakan literatur untuk memperoleh materi-materi yang bersifat teoritis dan studi kasus dengan mengambil data langsung pada klien mengalami Fraktur Femur guna menyempurnakan makalah ini.

E. Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun secara sistematis yang terdiri atas 5 bab yaitu:

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Penulisan1. Tujuan Umum

2. Tujuan KhususC. Ruang Lingkup

D. Sistematika PenulisanBAB IITINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

2. Patofisiologi

3. Penatalaksanaan Medis

B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

2. Diagnosa

3. Perencanaan

4. Implementasi

5. EvaluasiBAB IIITINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

B. Diagnosa

C. Perencanaan

D. Implementasi

E. Evaluasi

BAB IVPEMBAHASAN

BAB VPENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR

1. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM RANGKA

1) Sistem Rangka

Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang-tulang (sekitar 206 tulang) yang membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun rangka terutama tersusun dari tulang, rangka di sebagian tempat dilengkapi kartilago utama.

1. Rangka aksial terdiri dari beberapa tulang yang membentuk aksis panjang tubuh yang melindungi organ-oran pada kepala, leher dan torso.

a. Kolumna vertebra (tulang belakang) terdiri dari 26 vertebra yang dipisahkan oleh diskus vertebra.b. Tengkorak diseimbangkan pada kolumna vertebrac. Kerangka toraks (rangka iga) meliputi tulang-tulang iga dan sternum yang membungkus dan melindungi organ-organ thoraks.

2. Rangka aperdikular terdiri dari 126 tulang yang membentuk lengan, tungkai dan tulang pektoral (serta tonjolan pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan dan tungkai pada rangka aksial.3. Persendian adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih.

2) Fungsi Sistem Rangka

1. Memberikan topangan dan bentuk pada tubuh2. Pergerakan tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah persendian dan berfungsi sebagai pengungkit jika otot berkontraksi, kekuatan yang diberikan pada pengungkit menghasilkan gerakan.3. Perlindungan sistem rangka, melindungi organ-organ lunak yang ada dalam tubuh.4. Pembentukan sel darah (hematopoisis) sumsum tulang merah, yang ditemukan pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga, badan vertebra, tulang pipi pada kranium dan pada bagian ujung tulang panjang. Merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit darah.5. Tempat penyimpanan mineral.

3) Komposisi Jaringan Tulang1. Tulang terdiri atas sel-sel dan matriks ekstrakuler. Sel-sel tersebut adalah osteoblast dan osteoklas.2. Matriks tulang tersusun dari serat-serat kolagen organik yang tertanam pada substansi dasar dan garam-garam organik tulang seperti fosfor dan kalsium.3. Tulang kompak adalah jaringan yang tersusun rapat dan terutama ditemukan sebagai lapisan di atas jaringan tulang concelles, parositasnya bergantung pada saluran mikroskopik (kanalikuli) yang mengandung pembuluh darah yang berhubungan dengan saluran havers.4) Anatomi Tulang Panjang yang Tipikal 1. Diafisis (batang) tersusun dari tulang kompak silinder tebal yang membungkus medula atau rongga sumsum sentran yang besar.

a. Rongga sumsum berisi sumsum tulang kuning (adi posa) atau sumsum merah bergantung usia individub. Endosteum melapisi rongga sumsum, jaringan ini terdiri dari jaringan ikat areolar vaskuler.c. Periosteum adalah lembaran jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan. Lapisan luar adalah jaringan ikat fibrosa rapat, lapisan dalam bersifat osteogenik (pembentuk tulang) terdiri dari suatu lapisan tunggal osteoblas periosteum membungkus diafisis.

2. Epifisis adalah ujung-ujung tulang yang membesar sehingga rongga-rongga sumsum dengan mudah bersambungan.

a. Epifisis tersusun dari tulang concellus internal, yang diselubungi tulang kompak dan dibungkus kartilago artikular (artilago).b. Kartilago artikular, yang terletak pada ujung-ujung permukaan tulang yang berartikulasi, dilumasi dengan cairan sinovial dari rongga persendian. Kartilago ini memungkinkan terjadinya pergerakan.

5) Klasifikasi Tulang Menurut Bentuknya

1. Tulang panjang, ditemukan di tungkai. Tulang berelongasi dan berbentuk silindaris serta terdiri dari epifisis. Fungsi tulang ini adalah untuk menahan berat dan berperan dalam pergerakan.2. Tulang pendek adalah tulang pergelangan tangan (karpal) dan tulang pergelangan kaki (tarsal). Tulang tersebut berstruktur kuboidal atau bujur dan biasanya ditemukan berkelompok untuk memberikan kekuatan dan kekompakan kepada area yang pergerakannya terbatas.3. Tulang pipih, pada tulang tengkorak, iga dan tulang dada. Struktur tulang-tulang yang mirip lempeng ini perlindungan dua lempeng tulang kompak pembungkus laposan rongga.4. Tulang ireguler adalah tulang yang bentuknya tidak beraturan dan tidak termasuk kategori di atas, meliputi tulang vertebra dan tulang asikel telinga5. Tulang sesamoid adalah tulang kecil bulat yang masuk ke formasi persendian atau bersambungan dengan kartilago, ligamen atau tulang lainnya. Salah satu contohnya adalah patella (tempurung lutut) yang merupakan tulang sesamoid terbesar.2. DEFINISI FRAKTURFraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (R. Sjamsuhidayat dan Winn de Jong, 1998).Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditemukan sesuai jenis dan luasnya. (Bruner dan Suddart)Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia Anderson Price. Larraie Mc Carty Klilson, 1995)

Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang diakibatkan oleh tekanan eksternal yang lebih besar dari setiap oleh tulang (Lynda Juall Capenito, 1999).

1) Macam-Macam Fraktura. fracture (fraktur tertutup) yaitu fraktur yang tertutup karena integritas kulit masih utuh atau tetap tidak berubah.b. Compound fracture (fraktur terbuka) yaitu fraktur karena integritas kulit robek atau terbuka dan ujung menonjol sampai menembus kulit.c. Fracture complete adalah retak atau patahnya tulang yang luas dan melintang biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.d. Fracture incomplete adalah patah tulang melintang tetapi tidak terjadi dislokasi.e. Retak tak komplit yaitu hanya sebagian dari tulang yang retak.

Berikut ini adalah berbagai jenis khusus fraktur

a. Green stick: Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkak.

b. Transversal: Fraktur sepanjang garis tengah tulang.

c. Oblik: Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibandingkan transversal).

d. Spiral: Fraktur memuntir seputar batang tulang.

e. Kominutif: Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).

f. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)g. Patologik: Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metatasis tulang, tumor)

h. Avulsi: Tertariknya fragmen tulang oleh fragmen atau tanda pada perlekatannya.

i. Impaksi: Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

j. Epifisial: Fraktur melalui episis.

Fraktur fremur dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Fraktur batang femur: Mempunyai insidens yang cukup tinggi diantara jenis-jenis patah tulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah.

b. Fraktur kolum femur: Dapat terjadi akibat trauma langsung dan tidak langsung. Fraktur kolum terjadi pada wanita tua yang tulangnya telah terjadi telah terjadi osteoporosis.

3. PATOFLOW

4. ETIOLOGI1) Trauma: Merupakan penyebab utama yang sering menyebabkan terjadinya fraktur seperti kecelakaan dan lain-lain.2) Patologi: Merupakan fraktur yang disebabkan karena timbulnya fraktur seperti osteoporosis dan tumor.3) Malnutrisi: Karena kurang mineral dan kalsium serta perubahan hormonal.

5. MANIFESTASI KLINIKPada kurang mineral dan kalsium serta perubahan hormonal.

1) Nyeri

Terjadi karena terputusnya kontinuitas jaringan dan tulang. Nyeri hampir selalu muncul dan biasanya parah, terutama pada ujung tulang yang tidak dapat digerakkan.

2) Menurunnya fungsi ekstremitas normal dan abnormal

Disebabkan oleh ketergantungan fungsional otot pada stabilitas otot

3) Bengkak

Berasal dari proses vasodilatasi eksudasi plasma dan adanya peningkatan leukosit pada jaringan di sekitar tulang.

4) Spasme Otot

Dapat menambah rasa sakit dan tingkat kecacatan kekuatan otot yang sering disebabkan karena tulang menekan otot.

5) Krepitasi

Sering terjadi karena pergerakan bagian fraktur sehingga menyebabkan kerusakan jaringan sekitarnya.6) Pemendekatan tulangTerjadi pada fraktur panjang, yang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.

5. KOMPLIKASI1) Mal union yaitu proses penyembuhan tulang berjalan dengan normal tetapi bentuknya abnormal.2) Non union yaitu suatu kegagalan dalam penyembuhan tulang, walaupun sudah pada waktunya ditandai dengan nyeri pada waktu digerakkan.3) Delayed union yaitu proses tulang yang diperkirakan (lebih dari 4 bulan).4) Kerusakan pembuluh darah seperti iskhemia.5) Kerusakan saraf seperti kelumpuhan.6) Infeksi tulang seperti osteomyelitis.7) Kekakuan sendi seperti ankylosis.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG1) Pemeriksaan Diagnostik

a. Sinar-X : Mengevaluasi klien dengan kelainan muskuloskeletal. Sinar-X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, porosi dan perubahan hubungan tulang. b. CT-Scan : Menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligamen atau tendon.c. MRI : Teknik pencitraan khusus, non invasif yang menggunakan magnet, gelombang radio & komputer untuk memperlihatkan abnormalitas jaringan lunak seperti jaringan otot, tendon dan tulang rawan.2) Pemeriksaan Lab

a. Pemeriksaan darah lengkapb. Pemeriksaan kimia darah7. PENATALAKSANAAN MEDISa. Immobilisasib. Pembedahanc. Penggunaan fiksasi internal seperti pen, plate, screw, wired. Perawatan pre-operasie. Direncanakan untuk mempersiapkan keadaan jasmani klien dan psikososialf. Perawatan post-operatifPengkajian berkesinambungan dilakukan oleh perawat pada 24-48 jam pertama setelah operasi.a. Tanda-tanda vital : shock, hipovolemik

b. Luka : eritema, rasa panas area luka, observasi drainase

c. Intake & output : memonitor melalui kateter dan muntah

d. Kenyamanan : frekuensi pola tidur

e. Pengkajian pernafasan : menentukan apakah pasien batuk efektif

f. Pengkajian abdomen : bising usus untuk memulai makan.

Rehabilitatif

a. Terapi panas dingin dan pijatan latihan isometric akan meningkatkan tensi otot tanpa menggerakkan sendi dekat luka.

b. Latihan ROM pasif dan aktif membantu menjaga dan meningkatkan mobilitas sendi.B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN1) Aktivitas/Istirahat

Tanda :Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri).

2) Sirkulasi

Tanda :- Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah).

- Takikardia (Respon stress, hipovolemia).

-Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera.

3) Neurosensori

Gejala :- Hilang gerakan/sensasi, spasme otot

- Kebas/kesemutan (parestesis)

Tanda:-Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi.

-Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain).

4) Nyeri/Kenyamanan

Gejala :-Nyeri berat tiba-tiba pada saat ceder (mungkin terlokasasi pada area jaringan/kerusakan tulang: dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

-Spasme/kram otot (setelah imobilisasi).

5) Keamanan

Gejala :-Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna.

-Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan.

2) Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi.

3) Resti gangguan integritas kulit: dekubitus b.d tirah baring lama.

4) Resti konstipasi b.d imobilisasi.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN 1) Dx I

a. Kaji TTV

R/ mengetahui keadaan umum klien terutama yang mendukung diagnosa.

b. Kaji keluhan nyeri/ketidaknyamanan: lokasi, karakteristik, intensitas, skala

R/ Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi, tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.c. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktifR/ mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resdusi inflamasi pada jaringan yang cidera.

d. Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi.

R/ meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan kekakuan otot.

e. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, visualisasi, imajinasi, distraksi, retraksi

R/ mengalihkan stimulus nyeri

f. Kolaborasi dengan dokter mengenai pemberian analgesik

R/ membantu mengurangi nyeri.

2) Dx IIa. Kaji tingkat immobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatian persepsi pasien terhadap imobilitas

R/ klien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.

b. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk dan nafas dalam

R/ mencegah atau menurunkan insiden komplikasi kulit atau pernafasan.c. Berikan atau bantu dalam mobilisasi diriR/ mobilisasi diri menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan.

d. Bantu atau dorong perawatan diri serta kebersihan, contoh: mandi

R/ meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol klien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung.

e. Kolaborasi dengan dokter engenai program defekasi, ahli terapi fisik dan spesialis psikiatri klinik.

R/ membantu mempercepat penyembuhan dan penerimaan diri.

3) Dx IIIa. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna kelabu, memutih.

R/ memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang memungkinkan disebabkan oleh alat dan pembentukan edema yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.

b. Massa kulit dan penonjolan tulang pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerukan. Tempat bantalan air/bantalan lain di bawah siku/tumit sesuai indikasi.

R/ menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit.

c. Ubah posisi dengan sering

R/ mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.

4) Dx IVa. Latihan klien untuk melakukan pergerakan yang melibatkan daerah abdomen seperti miring kanan dan kiri.

R/ mempertahankan pergerakan usus

b. Auskultasi bising usus

R/ mengetahui adanya bising usus yang aktif

c. Berikan cairan yang adekuat

R/ mempertahankan kebutuhan cairan

d. Berikan makanan tinggi serat

R/ memperlancar proses buang air besar4. EVALUASI1) Menunjuk tindakan santai/tidak menangis

2) Menunjuk teknik yang mampu melakukan aktivitas

3) Menyatakan ketidaknyamanan hilang

4) Tidak menunjukkan adanya konstipasi.BAB IIITINJAUAN KASUSA. PENGKAJIAN KEPERAWATANIdentitas Klien

Nama

: Tn. I

Usia

: 33 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Brigadir

No. Register

: 42.29.43

Dx Medis

: Fraktur Femur

Tanggal masuk RS: 08-08-2008

Tanggal pengkajian RS: 19-08-2008

Data SubjektifData Objektif

1. Klien mengatakan kakinya patah karena jatuh dari motor

2. Klien mengatakan nyeri skala 5

3. Klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas sehari

4. Klien mengatakan nyeri saat digerakkan

5. Klien mengatakan gelisah dan tidak dapat istirahat1. Terdapat luka jahitan pada femur kanan bagian samping agak ke belakang

2. Terdapat 10 jahitan bekas operasi fraktur femur 1/3 batang dexstra

3. Jahitan tampak setengah kering

4. Klien tampak tidak pernah melakukan aktivitas mandiri

5. Klien bedrest total

6. Klien tampak meringis

7. Klien tampak selalu dibantu dalam aktivitas sehari-hari

8. TTV

TD : 120/80 mmHg

N : 82 x/mntS : 36,7oC

RR : 22 x/mnt9. KU : CM

10. pemeriksaan labHemoglobin : 13,9 gr/dl (13-16 gr/dl)

Leukosit : 13.600 rb/ul (5rb-10rb/ul)

Hematokrit : 41 (40-48%)

Trombosit : 247.000 (150rb-450rb/ul)

11. Therapy yang didapat

Inj. Kedacillin 3 x 1gr

Inj. Tramadol 3 x lamp

12. Klien tampak gelisah

ANALISA DATANama: Tn. I / 33 tahun

Ruangan: Mahoni II

No. RM: 42.29.43TanggalDiagnosa KeperawatanMasalahEtiologi

19/08/08 Ds:

Klien mengatakan kakinya patah katena jatuh dari motor

Klien mengatakan gelisah dan tidak dapat istirahat Klien mengatakan nyeri skala 5 Klien mengatakan nyeri saat digerakkan

Do:

TTV

TD : 120/80 mmHg

N : 82 x/mntS : 36,7oC

RR : 22 x/mnt Klien tampak meringis menahan nyeri

Skala nyeri 5

Terdapat 10 jahitan bekas operasi fraktur femur bagian kanan ke belakang

Terdapat 10 jahitan

Gg. Rasa nyaman nyeriTerputusnya kontinuitas jaringan

19/08/08Ds:

Klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas sehari

Do:

Klien tampak bedrest total

Klien tampak dibantu dalam aktivitas sehari-hari

Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitasImobilitas

19/08/08Ds:

Klien mengatakan harus istirahat total

Do:

Klien bedrest total

TTV

TD : 120/80 mmHg

N : 82 x/mntS : 36,7oC

RR : 22 x/mntResti Gg. Integritas kulit : dekulatusTirah baring lama

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama: Tn. J / 33 tahun

Ruangan: Mahoni II

No. RM: 42.29.43DxDiagnosa KeperawatanTanggal DitemukanTanggal TeratasiParaf

1Gg. Rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan19-08-2008

2Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi19-08-2008

3Resti gangguan integritas kulit : dekubitus b.d tirah baring lama19-08-2008

RENCANA KEPERAWATAN

Nama: Tn. J / 33 tahun

Ruangan: Mahoni II

No. RM: 42.29.43TglNo. DxTujuan dan Kriteria HasilRencana TindakanParaf

19/08/081.Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x 24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan KH: Klien tidak gelisah dan dapat istirahat

Skala nyeri berkurang (0)

TTV

TD : 120/80 mmHg

N : 80 x/mnt

S : 36,5oC

RR : 22 x/mnt

a. Kaji TTVR/ Mengetahui keadaan umum klien terutama yang mendukung diagnosa.

b. Kaji keluhan nyeri/ketidak-nyamanan lokasi, karakteristik, intensitas, skala.

R/ mempengaruhi pilihan/ pengawasan keefektifan intervensi tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.

c. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif.

R/ mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.

Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi.

R/ meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan kekakuan otot.

d. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, visualisasi, imajinasi, distraksi, retraksi.

R/ mengalihkan stimulus nyeri.

e. Kolaborasi dengan dokter mengenai pemberian analgesik.

R/ membantu mengurasi nyeri

19/08/082Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4x24 jam diharapkan klien dapat beraktivitas seperti biasanya dengan kriteia hasil: Klien bisa melakukan aktivitas sehari sendiri tanpa bantuan orang lain

a. Kaji tingkat immobilitas yang dihasilkan oleh cedera/ pengobatan dan perhatian persepsi pasien terhadap imobilitas.R/ pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/ intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.

b. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk dan nafas dalam.

R/ mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/ pernafasan.

c. Berikan atau bantu dalam mobilisasi diri.

R/ Mobilisasi diri menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan

d. Bantu atau dorong perawatan diri serta kebersihan, contoh: mandi.R/ meningkatkan kekuatan otot sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung.

e. Kolaborasi dengan dokter mengenai program defekasi, ahli terapi fisik dan spesialis psikiatrik klinik.

R/ membantu mempercepat penyembuhan dan penerimaan diri.

19/08/083Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4x24 jam diharapkan klien tidak tidur atau istirahat terus menerus dengan kriteria hasil:

klien tidak bedrest total lagi

TTV

TD : 120/80 mmHg

N : 80 x/mnt

S : 36,5oC

RR : 20x/mnt

a. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna kelabu, memutih.

R/ memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat dan pembentukan edema yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.

b. Kaji TTV

R/ mengetahui keadaan umum pasien.

c. Masase kulit dan penonjolan tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. Tempatkan bantalan air/bantalan lain di bawah siku/tumit sesuai indikasi.

R/ menurunkan kelembaban pada area yang luka dan mempercepat proses penyembuhan.d. Ubah posisi dengan sering

R/ mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama: Tn. J / 33 tahun

Ruangan: Mahoni II

No. RM: 42.29.43TglNo. DxTindakan KeperawatanParaf

19/08/081 Mengkaji TTV

Hasil : TD : 120/80 mmHg Rr : 22 x/i

N : 82 x/i S : 36,7oC Mengkaji keluhan nyeri/ketidaknyamanan

Hasil : Klien mengatakan nyeri pada:

- Lokasi : femur dexstra 1/3 tengah

- Karakteristik :

- Intensitas : jika digerakkan

- Skala : 5

Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, visualisasi, imajinasi, distraksi, retraksi.

Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang

2 Mengkaji tingkat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/ pengobatan dan perhatian persepsi pasien terhadap mobilitas.Hasil : Klien mengatakan ruang geraknya terganggu ketika patah tulang pada pahanya.

Mengubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk dan nafas dalam.

Hasil : Posisi dapat diubah, tetapi belum maksimal karena fraktur yang diderita klien terasa nyeri saat dilakukan pengubahan posisi.

3 Mengkaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna kelabu.Hasil : Luka tertutup, tidak ada kemerahan, tidak ada perdarahan.

Mengkaji TTV

Hasil : TD : 120/80 mmHg Rr : 22 x/i

N : 82 x/i S : 36,7oC

20/08/081 Mengkaji TTV

Hasil : TD : 110/70 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oC Melakukan dan mengawasi latihan gerak pasif/aktif

Hasil : Klien sudah mampu dan bisa gerak pasif/aktif dengan cara perlahan.

Berkolaborasi dengan dokter mengenai pemberian obat analgesik.

Hasil: Klien diberikan obat analgesik (kedacillin 1 gr dicampur dengan aquabides 5 cc) diberikan melalui IV (obat diberikan).

2 Membantu atau mendorong perawatan diri serta kebersihan.Hasil : Klien dimandikan oleh keluarga klien, hasil : klien mengatakan lebih segar.

Mengubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan nafas dalam dan batuk.Hasil: klien mau dan bisa berubah posisinya setiap 2 jam sekali

3 Mengubah posisi dengan sering

Hasil : Klien dapat miring ke kiri, ke kanan belum bisa

Mengkaji TTV:

Hasil : TD : 110/70 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oC

21/08/081 Mengkaji TTV

Hasil : TD : 110/70 mmHg Rr : 23 x/i

N : 81 x/i S : 36,6oC Melakukan dan mengawasi latihan gerak pasif/aktif

Hasil : Klien diberikan obat analgesik (kedacillin 1 gr dicampur dengan aquabides 5 cc) diberikan melalui IV (obat diberikan).

2 Kolaborasi dengan dokter mengenai program defekasi, ahli terapi fisik dan spesialis psikiatrik klinik.

Hasil : Klien diberikan obat tambahan lasik (untuk memperlancar BAB)

Mengubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan nafas dalam dan batuk.

Hasil : Klien dapat duduk semifowler dan duduk dengan bantuan serta klien sudah dapat latihan nafas dalam dan batuk.

3 Mengubah posisi dengan sering

Hasil : Klien dapat miring ke kiri, ke kanan belum bisa

Mengkaji TTV:

Hasil : TD : 110/70 mmHg Rr : 23 x/i

N : 81 x/i S : 36,6oC

22/08/081 Mengkaji TTV

Hasil : TD : 120/80 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oC Memberikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, perubahan posisi.

Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang.

Berkolaborasi dengan dokter mengenai pemberian obat analgesik.

Hasil : Klien diberikan obat analgesik (kedacillin 1 gr dicampur dengan aquabides 5 cc) diberikan melalui IV (obat diberikan).

2 Memberikan atau membantu dalam mobilisasi diri.

Hasil : Klien mengatakan dapat mobilisasi diri.

Berkolaborasi dengan dokter mengenai program defekasi, ahli terapi fisik dan spesialis psikiatrik klinik.

Hasil : Klien diberikan lasix.

3 Mengkaji untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna kelabu, memutihkan.

Hasil : Luka tertutup, ( ada kemerahan, ( ada perdarahan.

Mengubah posisi dengan sering

Hasil : Klien mengatakan miring kanan dan kiri tetapi perlahan.

Mengkaji TTV

Hasil : TD : 120/80 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oC

24/08/081 Mengkaji TTV

Hasil : TD : 120/80 mmHg Rr : 22 x/i

N : 80 x/i S : 36,8oC Berkolaborasi dengan dokter mengenai pemberian obat analgesik.

Hasil : Klien diberikan obat analgesik (kedacillin 1 gr dicampur dengan aquabides 5 cc) diberikan melalui IV (obat diberikan).

EVALUASI KEPERAWATAN

Nama: Tn. J / 33 tahun

Ruangan: Mahoni II

No. RM: 42.29.43TglNo. DxEvaluasiParaf

19/08/081S : Klien mengatakan nyeri

Lokasi : femur dexstra 1/3 tengah

Karakteristik : Jika digerakkan

Skala : 4

O : TTV

TD : 120/80 mmHg Rr : 22 x/i

N : 82 x/i S : 36,7oCA : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

2S : Klien mengatakan ruang geraknya terganggu ketika patah tulang pada pahanya.

O : Posisi dapat di ubah, tetapi belum maksimal karena fraktur yang diderita klien terasa nyeri saat dilakukan pengubahan posisi.

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

3S : Klien mengatakan lemas

O : luka tertutup, ( ada kemerahan, ( ada perdarahan.

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi

20/08/081S : Klien mengatakan dapat melakukan gerak pasif dan aktif dengan cara perlahan.

O : Klien diberikan obat analgesik (kedacillin 1 gr dicampur aquabdes).

TTV

TD : 110/70 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

2S : Klien mengatakan lebih segar setelah mandi

O : Klien dapat duduk semifowler dan duduk dengan bantuan serta klien sudah dapat latihan nafas dalam dan batuk.

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

3S : Klien mengatakan sudah dapat miring ke kanan tapi ke kiri belum bisa karena masih nyeri.

O : TTV

TD : 110/70 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

21/08/081S : Klien mengatakan masih nyeri sering

O : Klien tenang

TTV:

TD : 110/70 mmHg Rr : 23 x/i

N : 81 x/i S : 36,6oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

2S : Klien mengatakan sudah lebih baik

Klien mengatakan sudah dapat nafas dalam dan batuk

O : Klien tampak dapat latihan nafas dalam dan batuk

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

3S : Klien mengatakan sudah dapat miring ke kanan

O : TTV:

TD : 110/70 mmHg Rr : 23 x/i

N : 81 x/i S : 36,6oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

22/08/081S : Klien mengatakan masih nyeri sering

O : TTV:

TD : 120/80 mmHg Rr : 20 x/i

N : 80 x/i S : 36,7oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi

2S : Klien mengatakan dapat mobilisasi diri

O : Klien tampak dapat nafas dalam dan batuk

A : Masalah teratasi

P : Hentikan intervensi

3S : Klien mengatakan sudah dapat miring ke kanan dan ke kiri.

O : TTV

TD : 110/70 mmHg Rr : 23 x/i

N : 81 x/i S : 36,6oCA : Masalah teratasi

P : Hentikan intervensi

24/08/081S : Klien mengatakan masih nyeri di daerah operasiO : TTV:

TD : 110/70 mmHg Rr : 20 x/mnt N : 81 x/mnt S : 36,6oCA : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan ruangan

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada tinjauan teoritis dan tinjauan kasus telah di uraikan tentang asuhan keperawatan pada klien dengaan fraktur femur, setelah mempelajari kedua bab tersebut ternyta antara bab teori dan bab kasus tidak jauh berbeda, disini penulis akan membahas kenyataan yang didapat dalam memberi asuhan keperawatan pada klien Tn. I dengan fraktur femur, dengan menggunakan teori-teori dalam melaksanakan asuhan keperawatan dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.

A. PENGKAJIAN

Pada tahap pengkajian dalam tinjauan kasus penulis mengumpulkan data atau informasi dari wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik spiritual, psikologis, dan sosial. Sehingga menunjukan adanya masalah yang sedang dihadapi klien. Pada pengkajian tidak di temukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus.

Adapun data yang kami peroleh dari pengkajian tersebut: penulis dapatkan pada tahap pengkajian adalah sekala-sekala nyeri, dari tidak nyeri sampai pada nyeri berat. Sehingga memudahkan penulis dalam mendifinisikan masalah. Sedangkan pada tinjauan kasus penulis sudah mengkaji secara keseluruhan sesuai dengan tinjaua teoritis, dikarenakan klien dapat bekerjasama dengan perawat, serta cukupnya tenaga keperawatan yang ada sehingga dapat melakukan pengkajian secara intesif, tersedianya alat yang memadai. Faktor penghambat, penulis tidak menemukan, karena klien dan keluarga sangat kooperatif.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan tinjauan teoritis terdapat empat diagnosa keperawatan yang terdiri dari:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan.

2. Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi.

3. Resti gangguan integritas kulit: dekubitus b.d tirah baring lama.

4. Resti konstipasi b.d imobilisasi.

Sedangkan pada tinjauan kasus, kami mendapatkan tiga diagnosa keperawatan yaitu: 1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan 2. Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi

3. Resti gangguan integritas kulit : dekubitus b.d tirah baring lama

Dari ketiga diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus,ketiga-tiganya sama dengan diagnosa teoritis, tetapi kami tidak mengangkat diagnosa resti kontipasi b.d imobilitas sebagai diagnosa keperawatan kaerana kami tidak menemukan data-data sebagai penunjang untuk diangkat sebagai diagnosa keperawatan.

1. Pada diagnosa pertama adalah Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontiunitas jaringanKami mengangkat diagnosa ini dikarenakan karena Tn. I mengatakan telah mengalami kecelakaan, yaitu jatuh dari sepeda motornya dan mengakibatkan kakinya patah.

2. Pada diagnosa kedua adalah Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas berhubungan dengan imobilisasi. Kami mengangkat diagnosa ini karena klien mengatakan Klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas sehari, klien tampak bedrest total, dan klien tampak dibantu dalam aktivitas sehari-hari

3. Pada diagnosa ketiga adalah Resti gangguan integritas kulit : dekubitus berhubungan dengan tirah baring lama.

Kami mengangkat diagnosa ini karena klien mengatakan harus istirahat total dan tampak klien bedrest total.

INTERVENSI

Setelah masalah di tegakan, peru bagi perawat untuk untuk menetapkan perencanaan keperawatan agar dalam pemberian tindakan keperawatan pada Tn. I terkoordinir pada prinsipnya rencana tindakan keperawatan yang di susun sama dengan teori. Pada tahap perencanaan diperlukan perencanaan untuk untuk menyusun tindakan keperawatan seperti masalah yang lebih di prioritaskan atau masalah yang poaling utama pada Tn. I berdasarkan Hirakti Maslow.

IMPLEMENTASI

Berdasarkan hasil kerja di lapangan dalam melakukan intervensi ada yang sama dan yang tidak sama dalam menginplentasikannya, pada masalah nyeri akibat fraktur, kami nenemukan implementasi yang sama sesuai teori, yaitu

Kaji kualitas nyeri Observasi TTV Anjurkan klien untuk mengalihkan perhatian Atur posisi yang nyaman untuk memberi rasa nyaman dan untuk mengurangi nyeri Ajarkan teknik relaksasi napas dalam Anjurkan klien untuk istirahat Kolaborasi dengan time dokter Semua interpensi yang telah disusun dapat diimplemementasikan adapun pendukung dalam pelaksanaan tersebut adalah:

1. Keluarga dan klien sangat mendukung semua tindakan yang dilakukan perawat demi kesembuhan klien

2. Perawat ruangan berpartisipasi dalam memberikan informasi tentang tindakan keperawatan pada klien

EVALUASI

Untuk melakukan evaluasi diketahui tujuan tujuan dan kriteria hasil yang diharapakan sehingga dapat di nilai apakah tujuan itu tercapai.

Diagnosa yang tercapai adalah:1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan 2. Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi

3. Resti gangguan integritas kulit : dekubitus b.d tirah baring lama

RESUME

Tuan I datang ke UGD rumah sakit polri pada tanggal 8 agustus 2008 jam 15.00 dengan keluhan nyeri pada femur kanan bagian sampkng, keadaan umum lemas, kesadaran compos metis. Dengan diagnosa medis Fraktur femur 1/3 batang dekstra dengan hasil TTV: tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,5oC, nadi 82 x/menit, dan pernapasan 20x/menit.Tuan I mendapatkan injeksi kadecilin 3x1 gram, injeksi tramadol 3x1 amp, dan hasil pemeriksaan tanggal 8 agustus 2008: hemoglobin 13,9 gram/dl, leukosit 13.600ribu/Ul, hematrokrit 41%, trombosit 247.000/Ul. Kemudian pasien di bawa ke ruangan Mahoni II jam 16.15 dan terpasang infus IVFD RL 14 tpm,dengan rencana operasi pada tanggal 11 agustus 2008.

Kami mulai mengkaji pasien ini mulai tanggal 19 agustus 2008 dimana keadaan pasien tersebut sudah mengalami operasi pada daerah fraktur femur dan kami sudah melaksanakan semua tindakan perawatan sesuai dengan rencana keperawatan yang kami bikin sebelumnya dan ada beberapa rencana keperawatan yang kami bikin belum teratasi sepenuhnya berhubung dengan waktu praktek kami di ruangan Mahoni II sudah habis dan semua intervensi yang sudah kami bikin tersebut di lanjutkan oleh perawat ruangan Mahoni II. BAB V

PENUTUP

Setelah kami membahas secara menyeluruh asuhan keperawatan klien Tn. I di ruang Mahoni II Rumah Polri Jakarta Timur, maka pada Bab V ini kami akan menyampaikan kesimpulan dan saran yang mungkin dapat di jadikan pedoman untuk meningkatkan mutu pelajaran keperawatan, kususnya di penyakit bedah dan berguna untukmemberikan asuhan keperawatanA. KESIMPULANFraktur adalah suatu keadaan dimana terjadi terputusnya kontunitas jaringan tulang yang umumnya di sebabkan oleh rudapaksa (trauma, patologi, malnutrisi).Dimana manifestasi klinis dari keadaan tersebut adalah klien akan merasa nyeri, menurunya fungsi ekstermitas normal dan abnormal, terjadi bengkak dan spasme otot, krepitasi, serta terjadi pemendekan tulang, dan dari keadaan tersebut dapat diagnosa keperawatan:1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan.

2. Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas b.d imobilisasi.

3. Resti gangguan integritas kulit: dekubitus b.d tirah baring lama.

4. Resti konstipasi b.d imobilisasi.

Sedangkan pada tinjauan kasus yang kami temukan pada Tn I dengan Fraktur femur di ruangan Mahoni II RS. Polpus Raden Said Sukanto keramat jati, dari pengkajian yang kami lakukan , kami menegakan 3 diagnosa yang aktual yaitu terdiri dari:

1. Pada diagnosa pertama adalah Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontiunitas jaringan

Kami mengangkat diagnosa ini dikarenakan karena Tn. I mengatakan telah mengalami kecelakaan, yaitu jatuh dari sepeda motornya dan mengakibatkan kakinya patah.

2. Pada diagnosa kedua adalah Keterbatasan mobilitas fisik atau aktivitas berhubungan dengan imobilisasi.

Kami mengangkat diagnosa ini karena klien mengatakan Klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas sehari, klien tampak bedrest total, dan klien tampak dibantu dalam aktivitas sehari-hari

3. Pada diagnosa ketiga adalah Resti gangguan integritas kulit : dekubitus berhubungan dengan tirah baring lama.

Kami mengangkat diagnosa ini karena klien mengatakan harus istirahat total dan tampak klien bedrest total.

Dengan demikian terdapat perbedaan antara diagnosa teori dengan diagnosa yang kami temukan langsung pada Tn. I dengan Fraktur Femur yaitu ada satu diagnosa yang tidak kami temukan pada Tn I yaitu Resiko tinggi konstipasi b.d imobilitas. Kami tidak mengambil diagnosa tersebut karena pada pengkajian kami langsung pada pasien tidak menemukan data-data yang mengarah pada munculnya diagnosa tersebut.

B. SARAN Saran yang dapat kami kemukakan untuk memperbaiki dan dan mempertahankan serta mempertinggi mutu kualitas asuhan keperawatan, sehingga dapat mencakup kebutuhan masyarakat yang diharapkanadalah sebagai berikut:1. Untuk Perawat Ruangan

Melakukan suatu tindakan sebaikan dilakukan berdasarkan tindakan teoritis yang di peroleh sehingga mencapai hasil yang tepat, juga dalam suatu perancanaan seharusnya dilakukan dengan cepat dan sesuai prosedur tindakan, sehingga menurunkan resiko komplikasi yang lain.

2. Untuk Institusi Keperawatan UPN Veteran Jakarta

Diharapkan dapat menambah atau melengkapi sumber buku perpustakaan, sehingga informasi yang sangat penting dan mendukung dalam pembuatan lapotan kasus.

3. Untuk Klien Dan Keluarga

Agar klien dapat lebih hati-hati dalam berkendara di jalan raya dan selalu menggunakan alat keamanan yang telah di tentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2001). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC.Doengoes (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.Ethel Sloane (2003). Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : EGC.Editor Arief Mansjoer, Suprokarta. Wahyu Ika Wardhani. Wiwiek Setiawulan (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Esculapius. Fakulta Kedokteran. Indonesia.Sylvia A. Prico Lorraine M. Wilson (1995). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.Reksoprodjo, Soelarto (1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kerusakan integritas kulit

Atropfi

otot

Syndrom konus nodularis: anestesia, gg. defekasi, gg. miksi, impotensi, hilangnya reflek anal.

Deformitas

Hilangnya fragmen tulang

Kehilangan sensasi

Serabut saraf putus

Toleransi aktivitas

Shock hipovolemik, kesadaran (

Suplai O2 ke otak (

Hipotensi

Hipovolemik

Imobilisasi

Nyeri

Supresi

saraf

Inflamasi

Vasodilatasi eksudat plasma dan migrasi leukosit

Gg. body image

Deformitas

Mal union

Delayed union

Sembuh

Infeksi

Non infeksi

Port

dientry

Periostum

dan korteks tulang

Serabut saraf dan sumsum tulang

Hemoragi

Hematoma

PO

Kerusakan jaringan lunak dan kulit

Rusak atau terputusnya kontinuitas tulang

Trauma Proses Patologi, penuaan, ,mal nutrisi

PAGE 31