Askep Fraktur Femur

  • View
    3.142

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Askep Fraktur Femur

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. E DENGAN POST ORIF PLATE SCREWS PADA FRAKTUR FEMUR SINISTRA HARI KE-8 DI RUANG CEMPAKA I RSU KUDUS

Disusun Oleh : 1. Dian Ayu Lestari 2. Dwi Laraswati 4. Eko Dwiyanto 5. Ika Setyaningsih [ 250599 ] [ 250602 ] [ 250603 ] [ 250606 ]

3. Eka Sri Wahyuningsih [ 250604 ]

AKADEMI KEPERAWATAN KRIDA HUSADA KUDUS Jl. Lambao No. 1 Singocandi Kec. Kota Kab. Kudus

Tahun Akademik 2007 / 2008

2

BAB I TINJAUAN TEORI

A.

PENGERTIAN Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma, fraktur digolongkan sesuai jenis dan arah garis fraktur. (Tambayong Jan, 2000 : 124) Fraktur adalah parah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 2003 : 1305) Fraktur femur adalah fraktur yang terjadi pada batang femur dan di daerah lutut. (Brunner and Suddarth, 2002 : 2376) ORIF (Open Reduction Internal Fixtation) adalah fiksasi internal dengan pembedahan untuk memasukkan paku, sekrup, atau pin ke dalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. (Reeves J Charline, 2001 : 254)

B.

ETIOLOGI 1. Trauma Langsung (kecelakaan lalu lintas) Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri / duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang) 2. 3. 4. 5. Patologis : Metastase dari tulang Degenerasi Spontan : Terjadi tarikan otot yang sangat kuat Pukulan langsung, gerakan muntir mendadak, kontraksi otot eksterna

C.

JENIS FRAKTUR 1. Fraktur Komplit 2. Fraktur Inkomplet 3. Fraktur Tertutup 4. Fraktur terbuka : Fraktur yang mengenai suatu tulang secara keseluruhan. : Fraktur yang meluas secara parsial pada suatu tulang. : Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit. : Fraktur yang menyebabkan robeknya kulit. (Hidayat A. Alimul, 2006 : 141)

3

D.

PATOFISIOLOGI Patah tulang paling sering disebabkan oleh trauma, trauma pada anakanak dan dewasa muda, apabila tulang melemah patah dapat terjadi hanya akibat trauma minimal atau tekanan ringan hal ini disebut fraktur patologis, fraktur patologis sering terjadi pada orang tua yang mengidap osteoporosis, penderita fumor, fraktur stres dapat terjadi pada tulang normal akibat stres tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stress juga disebut fraktur kelelahan biasanya terjadi akibat peningkatan drastis tingkat latihan pada seorang atlet/pada permukaan aktivitas fisik baru karena kekuatan otot meningkat secara lebih cepat dibandingkan kekuatan tulang. Maka tulang yang mengalami fraktur menyebabkan robeknya jaringan kulit sekitar sehingga terjadi inflamasi dan luka pada kulit hingga kepatahan tulang. Pada fraktur tertutup terjadi pergeseran fragmen tulang dan menekan syaraf pada jaringan sekitar dan menimbulkan sindroma kompartemen dan aliran darah terganggu sehingga O2 dalam darah menurun. Jika kerusakan jaringan lunak tidak segera diatasi maka terjadi perdarahan yang hebat karena pada femur terdapat arteri yang sangat besar yaitu arteri femoralis.

E.

MANIFESTASI KLINIS 1. 2. 3. Nyeri Pembengkakan disekitar fraktur akan menyertai proses peradangan. Dapat terjadi gangguan sensasi atau kesemuatan yang mengisyaratkan

kerusakan saraf. Denyut nadi dibagian aistal fraktur harus utuh dan terasa dengan bagian non fraktur. 4. 5. Kriptus dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat pergeseran Daerah paha yang paha tulangnya sangat membengkak ditemukan tanda ujung-ujung patahan tulang satu sama lain. fungtio laesa atau angulasi anterior, endo/eksorotasi. Pada fraktur 1/3 tengah femur, saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum didaerah lutut. (Mansjoer, 2000 : 354)

4

F.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. 2. Pemeriksaan sinar X dapat membuktikan fraktur tulang. Scan tulang dapat membuktikan adanya fraktur stress.

G.

PENATALAKSANAAN 1. 2. Fraktur hatus segera di imobilisasi hematom fraktur dapat terbentuk dan Penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar posisi untuk memperkecil kerusakan. dan rentang gerak normal putih. Sebagian besar redukti dapat dilakukan tanpa intervensi bedah (reduksi tertutup) apabila diperlakukan tindakan bedah untuk fiksasi (reduksi terbuka) dapat dipasang pen/sekrup untuk mempertahankan sambungan mungkin diperlukan traksi untuk mempertahankan reduksi dan merangsang penyembuhan. (Brunner and Suddarth, 2002 : 525)

H.

KOMPLIKASI Komplikasi dari fraktur ini dapat terjadi syok dan emboli lemak. Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union, malunion, kekakuan sendi lutut, infeksi, dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan. (Mansjoer, 2000 : 355)

5

I.

PATHWAY Pukulan langsung Gaya meremuk Gerakan puntir mendadak Konstraksi otot eksterna Fraktur

Fraktur terbuka Robeknya jaringan kulit sekitar Inflamasi oleh lingkungan luar Luka pada kulit hingga kepatahan tulang Resiko tinggi terhadap infeksi Nyeri

Fraktur tertutup Terputusnya kontinuitas tulang Gerakan fragmen tulang

Pembedahan Cemas Luka post operasi Port de entry Resti Infeksi

Pergeseran fragmen tulang Deformitas Gangguan mobilitas fisik Nyeri Sindroma kompartemen Menekan saraf Kerusakan jaringan lunak Perdarahan Output berlebih Gangguan keseimbangan cairan & elektrolit

Aliran darah terganggu O2 dalam darah menurun Hipoksia Gangguan perfusi jaringan

Sumber

:

Hidayat A.

Alimyull 2006; 141 Mansjoer. 2000; 354 Price. 2003; 124

6

J.

FOKUS PENGKAJIAN 1. Aktivitas/ Istirahat : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan nyeri) 2. Sirkulasi : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah) 3. Neurosensori : Hilang gerakan/ sensasi, spasme otd Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda 4. : Deformitas lokal : angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), terlihat kelemahan/hilang fungsi. Nyeri : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera, tak dada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/ kram, perubahan warna. 5. Keamanan : Laserasi kulit, perubahan warna. Pembengkakan lokal. 6. Penyuluhan : Lingkungan cidera. Memerlukan bantuan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri dan tugas pemeliharaan/perawatan rumah. Gejala Tanda Gejala Gejala Tanda Tanda

K.

FOKUS INTERVENSI 1. KH Gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d output yang : Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan di buktikan oleh haluaran urine individu adekuat, tanda vital stabil, membran mukosa lembab. Intervensi : Awasi tanda vital, pengisian kapiler dan kekuatan nadi perifer. Awasi haluaran urine dan berat jenis. Observasi warna urine. Pertahankan pencatatan komulatif jumlah dan tipe berlebih.

pemasukan cairan.

7

2. KH tulang. : -

Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit Berikan obat sesuai indikasi

plasma albumin. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas Menyatakan nyeri hilang. Intervensi : Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi dan dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat. aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual. Pertahankan imbobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. 3. KH Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena. Evaluasi keluhan nyeri dan karakteristik nyeri. Monitor keadaan umum dan TTV pasien. Anjurkan pasien untuk teknik relaksasi bila nyeri timbul. Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

Resti infeksi b.d port de entry luka post operasi. : Mencapai penyembuhan luka tetap waktu bebas eksudat purulen dan tidak demam. Pantau TTV dan catat munculnya tanda-tanda klinik proses infeksi. Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang Dorong keseimbangan istirihat adekuat. Tingkatkan masukan nutri adekuat. Kolaborasi pemberian antibiotik. Lakukan perawatan luka dengan teknik anti septik dan tepat bagi pasien.

Intervensi : -

aseptik. 4. KH Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan suplay O2 dalam darah. : Mempertahankan tingkat kesadaran yang membaik dan tandatanda vital stabil Intervensi : Monitor TTV . Monitor pengisian kapiler dan kekuatan nadi perifer. Berikan anti koagulan dosis rendah sesuai indikasi. Berikan tekanan langsung pada perdarahan bila terjadi

perdarahan.

8

5. KH : -

Kolaborasi pemberian O2 2 liter

Gangguan mobilitas fisik b.d pergeseran frekmen tulang Mempertahankan posisi fungsional. Meningkatkan kekuatan yang sakit dan mengkompensasi Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan bagian tubuh. aktivitas.

Intervensi : -

Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cidera/ pengobatan. Libat keluarga dalam perawatan diri pasien Dorong aktivitas terapeutik/ rekreasi. Bantu perawatan diri/kebersihan. Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, Awasi TD dengan melakukan aktivitas, perhatikan Berikan diit tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan Batasi makanan pembentukan gas.

tongkat. keluhan pusing. mineral. 6. KH Ansietas b.d pembedahan : Menyatakan waspada dan penurunan asietas. Tampak rileks,dapat tidur / istirahat. Intervensi : kaji rasa takut pada pasien dan orang terdekat pasien. Jelaskan prosedur / asuhan yang diberikan. Dorong dan berikan kesempatan pada pasien / orang Dorong orang terdekat berpartisipasi dalam asuhan Anjurkan pasien untuk mengutarakan perasaannya (Doenges, 1999 : 761)

terdekat untuk mengajukan pertanyaan. sesuai indikasi.

9

TINJAUAN KASUS

A.

PENGKAJIAN Pengkajian ini dilakukan pada hari Jumat, 11 April 2008 jam 07.00 WIB di ruang Cempaka I RSUD Kudus secara auto dan alloanamnesa. 1. Identita