of 98/98
FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLI SARAF RUMAH SAKIT UMUM CUT NYAK DHIEN MEULABOH ACEH BARAT SKRIPSI CUT ANA JUITA NIM.11C10104252 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS TEUKU UMAR MEULABOH 2017

FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA ...repository.utu.ac.id/994/1/BAB I_V.pdfFAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLI SARAF RUMAH SAKIT UMUM CUT NYAK DHIEN

  • View
    10

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA ...repository.utu.ac.id/994/1/BAB I_V.pdfFAKTOR - FAKTOR...

  • FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA PASIEN

    RAWAT JALAN DI POLI SARAF RUMAH SAKIT UMUM

    CUT NYAK DHIEN MEULABOH

    ACEH BARAT

    SKRIPSI

    CUT ANA JUITA

    NIM.11C10104252

    PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH

    2017

  • FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB EPILEPSI PADA PASIEN

    RAWAT JALAN DI POLI SARAF RUMAH SAKIT UMUM

    CUT NYAK DHIEN MEULABOH

    ACEH BARAT

    SKRIPSI

    CUT ANA JUITA

    NIM : 11C10104252

    Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

    Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

    Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar

    PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH

    2017

  • KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGIUMVERSITAS TET]KU I]MAR

    FAI(ULTAS KESEHATAN MASYARAKATMEULABOH.ACEH BARAT

    Telp. (06ss) 7023ss2Lama : wvnr.'v'.utu.ac.id, Email : [email protected], Kode Pos : 23615

    Meulaboh, 13 Maret 2017

    : Iimu Kesehatan Masyarakat: 51 Kesehatan Masyarakat

    Program Studi

    Jenj ang

    LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

    Dengan ini kami menyatakan bahwa telah mengesalkan skripsi saudara :

    Nama

    Nim

    Dengan Judul

    : CUTANAJUITA: 11C10104252

    : Faktor-Faktor Penyebab Epilepsi pada Pasien Rawat Jalan di Poli SarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat.

    Yang diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sa{anaKesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku Umar Meulaboh.

    Mengesahkan :

    Mengetahui :

    DekanFakultas Kesehatan Masyarakat,

    Ir, Yuliatul Muslimah. M.PNIP. 19640727 t99203 2 002

    Ketua Prognm StudiIlmu Kesehatan Masyarakat,

    Teuneku Nih Farisni. SKM..M.KesNIDN. 01 19128601

    . 01.05.07.5701

  • KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKA}{ TINGGIUNIVERSITAS TEUKU UMAR

    FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATMEULABOH-ACEHBARAT

    Telp. (0655) 7023552Lama : www.utu.ac.id, Email : [email protected], Kode Pos : 23615

    Meulaboh, 13 Maret 2017

    : Ilmu Kesehatan Masyarakat: S1 Kesehatan Masyarakat

    Program Studi

    Jenjang

    LEMBAR PENGESAHAN SKRJPSI

    Dengan ini kami menyatakan bahwa telah mengesahkan skripsi saudara :

    Yang telah dipertahankan didepan Komisi Ujian pada tanggal 02 Marct 2017

    Mengetahui :

    Nama

    Nim

    Dengaa Judul

    Komisi Ujian

    Ketua

    Sekretaris

    Anggota

    Anggota

    : CUTANAJUITA: 11C10104252

    : Faktor-Faktor Penyebab Epilepsi pada Pasien Rawat Jalan di Poli SarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat.

    Mamiati, SKM.,M.Kes

    dr. Said Syuherman SY, M.Kes

    Firdaus, SKM.,M.Kes

    Zakiluddin, SKM.,M.Kes

    Mengetahui :Ketua Program Studi

    Ilmu Kesehatan Masyarakat,

    Teuneku Nih Farisni. SKM..M.KesNIDN.0119128601

  • PERNYATAAN

    Faktor-Faktor penyebab Epilepsi Pada Pasien Rawat Jalan di Poli Saraf Rumah Sakit Umum

    Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    SKRIPSI

    Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

    diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi dan sepanjang

    pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh

    orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar

    pustaka.

    Meulaboh, 31 Januari 2017

    ( CUT ANA JUITA )

  • Bismillahirrahmanirrahim

    “...Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang

    mempunyai ilmu pengetahuan beberapa derajat...”

    ( Q.S. Almujadalah, 11 )

    Tak henti-hentinya mulut ini berucap syukur kepada Allah SWT, karena hanya atas izin Allah SWT karya tulis sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat ini dapat penulis

    raih.salawat beriring salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang telah

    mewariskan nikmat islam dan iman kepada umat manusia.

    Tiada terasa, lima tahun sudah berlalu dalam menjalani dinamika kehidupan kampus yang penuh

    liku-liku menjadi mahasiswi disebuah perguruan tinggi negeri di pantai barat selatan Aceh.Peluh keringat yang harus dijalani membuat pencapaian terakhir yang tertuang dalam skripsi ini menjadi

    sangat bermakna.

    Karya skripsi ini kupersembahkan kepada ayahanda tercinta atas doa, tetesan keringat dan motivasi

    beliaulah ananda dapat menyelesaikan studi sarjana ini. Meskipun tidak dapat melihat langsung

    prestasi yang ananda peroleh, namun ananda yakin Allah menempatkan ayahanda di sebaik-baiknya

    tempat.

    Ibunda tersayang Cut Darmawati atas doa yang telah dipanjatkan dalam setiap sujud, atas setiap

    tetesan air mata yang tercucurkan . Semua hasil karya ini ananda raih demi kebahagiaan ibunda. Semoga Allah selalu menjaga ibunda dalam keadaan sehat dan sejahtera.

    Kepada suamiku tercinta Zafhuri terima kasih atas izin yang kakanda berikan kepada adinda dalam menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas teuku Umar Meulaboh, doa

    motivasi dan bantuan baik secara moril maupun materil yang juga telah kakanda berikan kepada

    adinda semoga Allah SWT meridhai.

    Kepada kedua putraku tersayang Fahrial Shiddiq dan Faiz Shabiha terima kasih yang telah dengan

    sabar ananda berdua juga ikut berpartisipasi dalam ibunda menyelesaikan pendidikan berkat do’a

    dan kesabaran dari ananda ibunda dapat menyelesaikan skripsi ini semoga ananda berdua selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin ya rabbal’alamin.

    Kepada sahabat-sahabat yang selalu saling memotivasi dalam penyelesaian penulisan skripsi ini bagi saya rasa syukur yang tak terhingga.

    Mimpi itu ada dilangit,kejarlah maka mimpi itu ada dalam genggaman mu.

    Tetaplah berusaha, berdo’a dan terus bersabar...... sesungguhnya Allah tidak pernah tidur.

    Alue Penyareng 2016

    Cut Ana Juita

  • i

    KATA PENGANTAR

    Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad dan

    hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menulis Skripsi ini yang berjudul” Faktor-

    Faktor Penyebab Epilepsi pada pasien Rawat Jalan di Poli saraf Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh”. Skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu

    syarat dalam meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas kesehatan

    Masyarakat.

    Salawat beriring salam tidak lupa peneliti sampaikan kepangkuan alam nabi

    besar Muhammad SAW, karena berkat perjuangan beliau telah membawa kita dari

    alam kebodohan ke alam yang berilmu pegetahuan seperti sekarang ini.

    Selama pengajuan dan penulisan skripsi ini, peneliti menyadari banyak

    terdapat kendala, kekurangan dan kesalahan baik dari segi waktu, isi, bahasa,

    maupun pengetikannya dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan yang peneliti

    miliki, namun peneliti tetap berusaha semaksimal mungkin atas bimbingan dari

    ibu Marniati SKM, M.Kes dan bapak Said Syuherman SY, M.Kes yang telah

    dengan sabar membimbing dan memberikan masukan kepada peneliti sehingga

    penulisan skripsi ini dapat selesai.

    Dalam penyusunan skripsi ini peneliti telah banyak mendapat dukungan dan

    bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu peneliti ingin menyampaikan rasa

    terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

    1. Bapak Prof.Dr.Jasman J. Ma’ruf, MBA selaku Rektor Universitas Teuku

    Umar Meulaboh.

  • ii

    2. Ibu Ir. Yuliatul Muslimah, MP selaku Dekan Fakultas Kesehatan

    Masyarakat Universitas Teuku Umar Meulaboh.

    3. Ibu Teungku Nih Farisni, SKM,M.Kes selaku ketua Program Studi Ilmu

    Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Teuku

    Umar Meulaboh.

    4. Ibu Marniati, SKM,M.Kes selaku pembimbing I yang telah membantu dan

    membimbing peneliti menyusun skripsi ini.

    5. Bapak dr. Said Syuherman SY, M.Kes selaku pembimbing II yang telah

    membantu dan membimbing peneliti menyusun skripsi ini.

    6. Bapak Firdaus,SKM,MKM selaku penguji I yang telah banyak

    membantudan memberikan saran dan masukan terhadap kesempurnaan

    skripsi ini.

    7. Bapak Zakiyuddin,SKM,M.Kes selaku penguji II yang telah banyak

    membantu memberikan saran dan masukan terhadap kesempurnaan skripsi

    ini.

    8. Seluruh Dosen Pengajar dan staf akademik Fakultas Kesehatan

    Masyarakat Universitas Teuku Umar Meulaboh yang telah memberikan

    dukungan serta saran kepada Peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

    9. Ayahanda, Ibunda, suami dan anak-anak tercinta serta seluruh anggota

    keluarga yang telah memberikan motivasi dan bantuan kepada peneliti

    dalam penyusunan skripsi ini.

    10. Seluruh teman-teman khususnya Angkatan 2011, atas kerja sama dan

    bantuan serta dukungan moralnya selam ini di kampus Fakultas Kesehatan

    Masyarakat Universitas Teuku Umar Meulaboh.

  • iii

    Semoga skripsi ini dapat bermamfaaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi

    peneliti khususnya. Oleh sebab itu peneliti sangat mengharapkan saran dan

    masukan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhinya dengan penuh pengharapan

    semoga bimbingan, bantuan, motivasi, dan saran yang telah peneliti terima dari

    semua pihak mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT, Amin ya

    Rabbal’alamin.

    Meulaboh, April 2016

    Cut Ana Juita

    Nim. 11C10104252

  • iv

    ABSTRAK

    Cut ana juita, Faktor-faktor penyebab epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dibawah bimbingan Marniati, SKM, M.Kes

    dan dr. Said Syuherman SY. M.Kes.

    Epilepsi adalah kelainan neurologis kronik yang terdapat diseluruh dunia. Epilepsi dapat

    terjadi pada pria maupun wanita dan pada semua umur. Epilepsi merupakan salah satu

    permasalahan kesehatan yang menjadi problem medik sekaligus problem sosial. Jumlah

    penderita epilepsi yang berobat di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh tahun

    2015 sebanyak 368 orang.

    Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab epilepsi, untuk

    mengetahui hubungan riwayat keluarga, riwayat kehamilan dan persalinan, gangguan

    serebral, gangguan metabolik dan obat-obatan dengan epilepsi.

    Metode penelitian pada penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Populasi

    dalam penelitian ini 102 orang dengan jumlah sampel 50 orang diambil secara Accidental

    sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal 27 Juli – 10 Agustus 2016. Pengumpulan data

    dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dianalisa dengan menggunakan uji Chi-

    Square.

    Hasil penelitian ada hubungan riwayat keluarga dengan epilepsi ditandai dengan nilai P-

    Value (0,029) < α (0,05), tidak ada hubungan riwayat kehamilan dan persalinan dengan

    epilepsi ditandai dengan nilai P-Value (1) < α (0,05), ada hubungan gangguan serebral

    dengan epilepsi ditandai dengan nilai P-Value (0,021) < α (0,05), tidak ada hubungan

    gangguan metabolik dengan epilepsi ditandai dengan nilai P-Value (0,704) > α (0,05), tidak

    ada hubungan obat-obatan dengan epilepsi ditandai dengan nilai P-Value (1) > nilai α (0,05).

    Kesimpulan ada hubungan riwayat keluarga dan gangguan serebral dengan epilepsi, Tidak

    ada hubungan riwayat kehamilan dan persalinan, gangguan metabolik, dan obat-obatan

    dengan epilepsi.

    Saran Kepada tenaga kesehatan sebaiknya menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang

    epilepsi, kepada keluarga dan masyarakat sebaiknya membawa pasien epilepsi untuk berobat

    ke rumah sakit.

    Kata Kunci : Riwayat Keluarga, Gangguan serebral, Pasien, Epilepsi.

  • v

    ABSTRACT

    Cut ana Juita, factors that cause epilepsy outpatients in poly neural General Hospital

    Meulaboh Cut Nyak Dhien. Under the guidance of Marniati, SKM, M. Kes and dr. Said

    Syuherman SY. M.Kes.

    Epilepsy is a chronic neurological disorder that is found throughout the world. Epilepsy can

    occur in both sexes and at all ages. Epilepsy is one of the health problems become medical

    problems at once social problems. Number of patients with epilepsy who was treated at the

    General Hospital Meulaboh Cut Nyak Dhien in 2015 as many as 368 people.

    The research objective was to determine the factors that cause epilepsy, to determine the

    relationship of family history, history of pregnancy and childbirth, cerebral disorders,

    metabolic disorders and drugs with epilepsy.

    The research method in this study is an analytic with cross sectional design. The population

    in this study 102 people with a sample size of 50 people taken by accidental sampling. The

    study was conducted on July 27 to August 10, 2016. The data was collected using a

    questionnaire instruments were analyzed using Chi-Square test.

    The results of the study there was a relationship with a family history of epilepsy

    characterized by the value of P-Value (0,029)

  • vi

    DAFTAR ISI

    Halaman

    LEMBARAN PENGESAHAN

    KATA PENGANTAR............................................................................................................i

    ABSTRAK...................................................................................................................... ........iv

    ABSTRACT............................................................................................................................v

    DAFTAR ISI........................................................................................................ ..................vi

    DAFTAR TABEL..................................................................................................................viii

    DAFTAR GAMBAR..............................................................................................................ix

    DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................................... x

    BAB I PENDAHULUAN................................................................................. .......1

    1.1 Latar Belakang......................................................................................1

    1.2 Rumusan Masalah.................................................................................5

    1.3 Tujuan Penelitian..................................................................................5

    1.3.1 Tujuan Umum.............................................................................5

    1.3.2 Tujuan Khusus...........................................................................6

    1.4 Hipotesis Penelitian...............................................................................6

    1.5 Manfaat Penelitian.................................................................................7

    1.5.1 Manfaat Teoritis...........................................................................7

    1.5.2 Manfaaat Praktis.............................................................................7

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................9

    2.1. Definisi Epilepsi......................................................................................9

    2.2 Faktor-faktor penyebab terjadinya Epilepsi...........................................10

    2.3 Jenis-Jenis Epilepsi................................................................................15

    2.4 Permasalahan soaial dan permasalahan medik Epilepsi.........................18

    2.5 Patofisiologi Epilepsi..............................................................................18

    2.6 Gejala Epilepsi........................................................................................19

    2.7 Terapi Epilepsi........................................................................................20

    2.8 Peran keluarga dalam perawatan pasien Epilepsi....................................20

  • vii

    2.9 Kerangka Teori.........................................................................................21

    2.10 Kerangka Konsep....................................................................................22

    BAB III METODE PENELITIAN...............................................................................23

    3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian................................................................23

    3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu penelitian....................................................23

    3.3 Populasi dan Sampel.................................................................................23

    3.3.1 Populasi............................................................................................23

    3.3.2 Sampel.............................................................................................23

    3.4 Pengumpulan Data....................................................................................24

    3.4.1 Data Primer....................................................................................24

    3.4.2 Data Sekunder................................................................................24

    3.5 Definisi Operasional.................................................................................26

    3.6 Aspek Pengukuran....................................................................................27

    3.7 Teknis Analisis Data.................................................................................28

    3.7.1 Analisis Univariat.............................................................................28

    3.7.2 Analisis Bivariat...............................................................................29

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................32

    4.1 Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian...................................................32

    4.2 Hasil Penelitian..........................................................................................35

    4.2.1 Data Demografi.................................................................................35

    4.2.2 Analisa Univariat........................................................................... ..36

    4.2.3 Analisa Bivariat................................................................................39

    4.3 Pembahasan...............................................................................................45

    BAB V PENUTUP....................................................................................................... 52

    5.1 Kesimpulan...............................................................................................52

    5.2 Saran.........................................................................................................53

    DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................55

    LAMPIRAN

    RIWAYAT HIDUP

  • viii

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 3.1 Definisi Operasional............................................................................................26

    Tabel 4.1 Distribusi Data Demografi Pasien epilepsi di poli saraf Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh......................................................................35

    Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi riwayat keluarga pada pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh...............................................36

    Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Kehamilan dan Persalinan pada pasien epilepsi

    di poli sarafRumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh..............................37

    Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi gangguan serebral pada pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh................................................37

    Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Gangguan Metabolik pada pasien epilepsi di poli

    saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh........................................38

    Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Obat-obatan pada pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.................................................38

    Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh...............................................39

    Tabel 4.8 Hubungan Riwayat keluarga dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.................................................40

    Tabel 4.9 Hubungan Riwayat kehamilan dan persalinan dengan pasien epilepsi

    di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh............................41

    Tabel 5.0 Hubungan Gangguan serebral dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh................................................42

    Tabel 5.1 Hubungan Gangguan metabolik pada pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh................................................43

    Tabel 5.2 Hubungan Obat-obatan dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh...............................................44

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 2.1Kerangka Teori ........................................................................... 21

    Gambar 2.2Kerangka Konsep ....................................................................... 22

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Tabel Skor

    Lampiran 2 Lembaran Permohonan Menjadi Responden

    Lampiran 3 Lembaran Persetujuan Menjadi Responden

    Lampiran 4 Kuesioner Penelitian

    Lampiran 5 Master Tabel

    Lampiran 6 Output Tabulasi Computer

    Lampiran 7 Surat Permohonan Penelitian

    Lampiran 8 Surat Balasan Penelitian dari Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    Lampiran 9 Dokumentasi

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Epilepsi adalah kelainan neurologis kronik yang terdapat di seluruh dunia.

    Epilepsi dapat terjadi pada pria maupun wanita dan pada semua umur. Insiden

    epilepsi didunia berkisar antara 33-198 tiap 100.000 penduduk tiap tahunnya.

    Insiden epilepsi tinggi terjadi pada negara-negara berkembang karena faktor

    resiko untuk terkena kondisi maupun penyakit yang akan mengarahkan pada

    cedera otak lebih tinggi dibanding negara industri.(WHO,2006).

    Lumbantobing salah seorang pakar saraf menyebutkan bahwa prevalensi

    epilepsi diseluruh dunia mencapai 5-20 orang per 1000 penduduk. Prevalensi

    epilepsi di Indonesia diperkirakan berkisar antara 0,5-1,2 %. Jadi dengan jumlah

    penduduk 210 juta jiwa, populasi penderita epilepsi di seluruh dunia mencapai

    2.100.000 orang.( Lumbantobing,2006).

    Insiden epilepsi di negara maju ditemukan sekitar 50/100.000 sementara di

    negara berkembang mencapai 100/100.000. Pendataan secara global ditemukan

    3,5 juta kasus baru per tahun di antaranya 40% adalah anak-anak dan dewasa

    sekitar 40% serta 20% lainnya ditemukan pada usia lanjut. Di Amerika serikat,

    resiko terkena epilepsi mioklonik juvenile pada populasi umum yakni 1 kasus per

    1.000 – 2.000 orang. (Manikam. 2008).

    Epilepsi adalah ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkan diagnosis ini

    mengharuskan dicarinya penyebab walaupun dua per tiga kasus ideopatik.

    Adapun faktor-faktor penyebab epilepsi adalah adanya riwayat keluarga, riwayat

  • 2

    kehamilan dan persalinan, gangguan serebral, gangguan metabolik, dan obat-

    obatan. Pada orang yang diketahui mengidap epilepsi, kejang bisa diprovokasi

    oleh kurang tidur, stres, alkohol, dan kadang-kadang stimulasi seperti cahaya

    televisi atau lampu disko. Pada wanita frekuensi kejang bisa meningkat di sekitar

    waktu menstruasi.( Rubenstein dkk. 2007).

    Epilepsi merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi

    problem medik sekaligus problem sosial. Menjadi problem medik dikarenakan

    epilepsi merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan serta pengawasan

    yang ketat dalam pengobatannya sedangkan permasalahan psikososial yang

    dihadapi epilepsi menjadi lebih besar dibandingkan permasalahan medis yang

    dialaminya dimana pasien epilepsi takut bahwa sepanjang hidupnya akan

    menderita epilepsi, mereka takut mengemudi, takut berenang, dan yang paling

    menakutkan adalah mendapat serangan kejang di depan umum. Epilepsi kerap

    dihubungkan dengan angka cidera yang tinggi, angka kematian yang tinggi,

    stigma sosial yang buruk, gangguan kognitif dan gangguan pskiatrik, oleh

    karenanya penegakan diagnosis epilepsi perlu di perhatikan. (Salsabila. 2012)

    Hari Epilepsi sedunia yang dikenal dengan istilah Purple day, pertama kali

    dicetuskan oleh Cassiday Megan penderita epilepsi pada 28 maret 2008 lalu.

    Sejak itulah dorongan moril mengalir di seluruh dunia bagi seluruh penderita

    epilepsi. Stigma negatif yang berkembang di masyarakat mengenai epilepsi

    menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan praktisi kesehatan khususnya.

    Ditengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini epilepsi masih

    dianggap sebagai kutukan, menular dan tidak bisa disembuhkan, hal ini menjadi

    salah satu penyebab angka prevalensi semakin meningkat. Kasus epilepsi

  • 3

    berprevalensi 6-10 per 1000 penduduk dengan insiden mencapai 50 per 100.000

    penduduk. Dengan jumlah penduduk indonesia mencapai lebih dari 250 juta jiwa

    tahun 2015 diperkirakan penderita Epilepsi saat ini 2,5 juta jiwa.( Sompa 2016).

    Menteri kesehatan Republik Indonesia Nafsiah Mboi menjelaskan,

    berdasarkan data dari tahun 1991 hingga tahun 2007 ( Hasil Riset kesehatan,

    2007) menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan

    utama di hampir seluruh Rumah Sakit di Indonesia. Sementara data perhimpunan

    Rumah Sakit Indonesia ( Persi ) tahun 2009 menunjukkan penyebab utama

    kematian di Rumah Sakit akibat Srtoke adalah 15%, artinya 1 dari 7 kematian

    disebabkan oleh stroke dengan tingkat kecacatan mencapai 65%. Tantangan

    permasalahan kesehatan otak dan sistem saraf di Indonesia juga diperberat dengan

    masalah penyakit otak, dan sistem saraf lainnya seperti kasus neuro infeksi, tumor

    otak dan medula spinalis, kejang dan epilepsi, kelainan kongenital, kecacatan

    pada anak baru lahir, dan gangguan pada perkembangan fungsi otak dan saraf .

    ( Kemenkes, 2013 ).

    Snouck Hurgronje menempati posisi tersendiri dikalangan orientalis yang

    meneliti islam, baik dari sisi islam sebagai agama maupun syariat. Dia seorang

    ilmuan sekaligus politikus ulung yang lahir pada 8 Februari 1857 di desa

    Osterhout yang terletak di timur laut kota Breda Belanda. Snouck mempelajari

    rakyat dan adat istiadat Aceh selama (1891-1905 M), salah satu bahasannya

    tentang penyakit-penyakit di Aceh termasuk epilepsi. Menurut Snouck lantaran

    penderita epilepsi kerap bertingkah seperti babi, orang Aceh menamakan penyakit

    ini gila babi. Di Aceh, Epilepsi juga punya nama lain saket droe. Biasanya

    diperoleh orang pada waktu petang atau tengah malam orang ini jatuh pingsan

  • 4

    anggotanya tegang, kaku, dan mulutnya tertutup, tulis Moehammad Hoesin dalam

    adat Atjeh. Orang Aceh percaya penyakit ini berasal dari “hantu buru” sejenis jin

    dari rimba raya. Droe menyerang orang dewasa, anak-anak dan bayi, untuk

    mengusirnya orang Aceh mengusap dahi dengan inggu (tumbuhan obat) sembari

    mengucap ayat-ayat Al-quran. (Hanggoro. 2014).

    Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh,

    menunjukkan bahwa peringkat pertama kasus kesehatan jiwa di kota Banda Aceh

    adalah jenis penyakit skizoprenia dan gangguan psikotik kroniklain, di susul

    peringkat kedua dan ketiga adalah jenis penyakit gangguan psikotik akut dan

    epilepsi. Adapun data laporan kasus baru kesehatan jiwa di kota Banda Aceh

    tahun 2013 adalah Skizoprenia dan gangguan psikotik kronik lain sebanyak 86

    orang, gangguan psikotik akut sebanyak 18 orang dan epilepsi sebanyak 14 orang.

    (Ramdani. 2016).

    Pendataan awal di Kabupaten Aceh Barat jumlah penderita epilepsi yang

    berobat di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien tahun 2015 adalah 368 orang.

    Jumlah pasien epilepsi yang berobat rawat jalan di poli saraf Rumah Sakit Umum

    Cut Nyak Dhien adalah 102 orang dengan jumlah pasien epilepsi perhari di poli

    saraf rata-rata 2-3 orang .( Sumber: Rekam Medik RSU Cut Nyak Dhien ) .

    Dari hasil wawancara peneliti dengan 8 orang keluarga yang mendampingi

    penderita epilepsi berobat kepoli saraf Rumah Sakit Umum Cut nyak Dhien 5

    orang (62,5%) mengatakan sebelumnya penderita pernah mengalami kecelakaan

    dan trauma kepala dirawat di rumah sakit sembuh, setelah itu sering mengeluh

    sakit kepala, pusing dan sering jatuh, kejang tidak sadarkan diri setelah dilakukan

    pemeriksaan oleh dokter spesialis saraf dinyatakan menderita penyakit epilepsi

  • 5

    dan harus berobat rutin. 2 orang (25%) mengatakan penderita ada riwayat demam

    tinggi dan kejang berulang pada masa anak-anak, dirumah sekolah sering tidak

    sadar,dan keluar busa dari mulut kemudian berobat ke tabib tidak sembuh-

    sembuh, sering ditertawakan sama kawan disekolah pada saat kembali ke sekolah

    dan malu sehingga tidak mau pergi sekolah lagi, selanjutnya berobat ke rumah

    sakit dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak dan dokter spesialis

    saraf di nyatakan menderita penyakit epilepsi dan harus berobat rutin dan tidak

    boleh putus obat, dan 1 orang (12,5%) mengatakan abang penderita juga

    mengalami epilepsi (riwayat keluarga) sampai sekarang masih dalam pengobatan.

    (Wawancara pada tanggal 7,8,dan 9 maret 2016 di poli saraf Rumah Sakit Umum

    Cut nyak Dhien Meulaboh).

    Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu

    penelitian dengan judul faktor-faktor penyebab epilepsi pada pasien rawat jalan di

    poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat.

    1.2 Rumusan Masalah.

    Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka yang menjadi masalah dalam

    penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab epilepsi pada pasien rawat jalan di

    poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat.

    1.3 Tujuan Penelitian.

    1.3.1.Tujuan Umum

    Tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-

    faktor penyebab epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat.

  • 6

    1.3.2. Tujuan Khusus

    1. Untuk mengetahui hubungan faktor riwayat keluarga dengan Pasien epilepsi

    di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    2. Untuk mengetahui hubungan faktor riwayat kehamilan dan persalinan dengan

    pasien epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    3. Untuk mengetahui hubungan faktor gangguan serebral dengan pasien epilepsi

    di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    4. Untuk mengetahui hubungan gangguan metabolik dengan pasien epilepsi di

    poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    5. Untuk mengetahui hubungan Obat-obatan dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    1.4 Hipotesis Penelitian

    Ha : Ada hubungan riwayat keluarga dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Ha : Ada hubungan riwayat kehamilan dan persalinan dengan pasien

    epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Ha : Ada hubungan gangguan serebral dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Ha : Ada hubungan gangguan metabolik dengan pasien epilepsi di poli

    Saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Ha : Ada hubungan obat-obatan dengan pasien epilepsi di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

  • 7

    1.5 Manfaat Penelitian

    Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

    1.5.1. Manfaat Teoritis

    a. Bagi Peneliti

    Melalui Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti

    dalam memahami teori tentang penyakit Epilepsi.

    b.Bagi IPTEK ( Ilmu Pengetahuan dan Teknologi )

    Diharapkan dengan Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi Profesi

    Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan dalam mengembangkan

    perencanaan yang akan dilakukan untuk menurunkan ketakutan, kesalah

    pahaman stigma dan diskriminasi masyarakat dan keluarga pada penderita

    Epilepsi dengan meningkatkan pengetahuan keluarga dan masyarakat

    tentang penyakit Epilepsi.

    c. Bagi Institusi

    Bagi dunia pendidikan Kesehatan Masyarakat penelitian ini diharapkan

    dapat menjadi bahan bacaan dan bahan penelitian khususnya mahasiswa

    Fakultas Kesehatan Masyarakat dalam menambah wawasan tentang

    penyakit Epilepsi.

    1.5.2. Manfaat Praktis

    a. Bagi Peneliti

    Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti

    sebagai bahan perbandingan antara teori yang telah dipelajari dengan

    praktek yang diterapkan.

  • 8

    b. Bagi Masyarakat

    Diharapkan dapat menambah informasi dan meningkatkan pengetahuan

    masyarakat tentang penyakit epilepsi sehingga masyarakat dapat

    menghilangkan ketakutan, kesalahpahaman, stigma dan diskriminasi

    terhadap pasien dan keluarganya.

    c. Bagi Rumah Sakit

    Sebagai masukan informasi bagi tenaga kesehatan di Rumah Sakit dalam

    rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dan masyarakat

    terutama pada pasien epilepsi dan Pedoman untuk melakukan tindakan

    lebih lanjut.

  • 9

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Definisi Epilepsi

    Epilepsi berasal dari kata Yunani “epilambanein” yang berarti serangan dan

    menunjukkan bahwa sesuatu dari luar tubuh menimpanya sehingga dia jatuh. Kata

    tersebut mencerminkan bahwa serangan epilepsi bukan akibat suatu penyakit akan

    tetapi disebabkan oleh sesuatu diluar badan si penderita yakni kutukan oleh roh

    jahat atau setan yang menimpa penderita. (Mutiawati, 2008).

    Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh kejang berulang karena

    adanya gangguan fungsi otak disebabkan lepasnya muatan listrik yang berlebihan

    pada sel-sel saraf. Sedangkan di masyarakat masih berkembang bahwa epilepsi

    tersebut merupakan kutukan dan penyakit menular sehingga keluarga masih

    menutupi keadaan atau penyakit tersebut jika ada anggota keluarga yang

    menderita epilepsi karena takut dikucilkan oleh masyarakat, keluarga menganggap

    epilepsi merupakan penyakit yang disebabkan oleh guna-guna maka masih ada

    keluarga yang membawa penderita untuk diobati oleh paranormal/tabib berbulan-

    bulan bahkan ada yang bertahun-tahun, namun juga tidak ada perubahan setelah

    itu baru melakukan pengobatan secara medis. ( Komentar penulis).

    Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh adanya

    bangkitan (seizure) yang terjadi secara berulang sebagai akibat dari adanya

    gangguan fungsi otak secara intermitten yang disebabkan oleh lepasnya muatan

    listrik abnormal dan berlebihan pada neuron-neuron (sel-sel saraf) secara

  • 10

    paroksimal yang disebabkan oleh beberapa etiologi (penyebab). (Guideline,

    2006).

    Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan

    kronik otak yang menunjukkan gejala-gejala berupa serangan-serangan yang

    berulang-ulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara

    sebagian atau seluruh jaringan otak karena cetusan listrik pada neuron (sel saraf )

    peka rangsang yang berlebihan, yang dapat menimbulkan kelainan motorik,

    sensorik, otonom, atau psikis yang timbul tiba-tiba dan sesaat disebabkan

    lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak (Gofir dan Wibowo, 2006)

    Epilepsi secara medis merupakan manifestasi gangguan otak dengan berbagai

    etiologi (penyebab) namun dengan gejala tunggal yang khas yaitu serangan

    berkala yang disebabkan oleh lepas muatan listrik neuron kortikal secara

    berlebihan.( Mardjono &Sidharta 2006).

    Epilepsi adalah diagnosis klinis. Keadaan ini disebabkan oleh lepasnya listrik

    paroksimal dalam neuron serebral yang menyebabkan berbagai pola klinis

    berbeda. Epilepsi adalah ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkannya diagnosis

    ini mengharuskan dicarinya penyebab walaupun dua pertiga kasus idiopatik.

    Sebagian besar memiliki kecenderungan untuk terus – menerus mengalami

    episode perubahan gerakan, fenomena sensoris, dan perilaku ganjil, biasanya

    disertai dengan perubahan kesadaran. (Rubenstein, dkk.2007).

    2.2 Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Epilepsi

    Epilepsi adalah ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkannya diagnosa ini

    mengharuskan dicarinya penyebab. Adapun faktor-faktor penyebab epilepsi

    adalah:

  • 11

    1. Riwayat keluarga

    Adanya riwayat keluarga yang jelas menunjukkan adanya kerentanan

    genetik khususnya pada kejang petit mal (Absen kejang).

    2. Riwayat Kehamilan dan persalinan

    Termasuk diantaranya pasien dengan riwayat gangguan intrauterin,

    Perinatal atau neonatal.

    3. Gangguan serebral

    Gangguan serebral diantaranya Tumor otak, cedera kepala, Infeksi dan

    degeneratif.

    4. Gangguan Metabolik

    Gangguan Metabolik yang menyebabkan epilepsi yaitu Hipoglikemia,

    Hipokalsemia, Gagal ginjal atau gagal hati dan Hiponatremia.

    5. Obat-obatan (khususnya setelah kejadian over dosis).

    - Alkohol : Intoksikasi berat, Penghentian mendadak pada peminum

    berat atau cedera kepala dalam keadaan intoksikasi.

    - Amfetamin, antidepresan trisiklik, fenotiazin.

    (Rubenstein,dkk.2007).

    Ad.1. Riwayat Keluarga

    Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan

    darah dan perkawinan dalam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan

    yang lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.

    ( Ali, 2010).

    Genetik diyakini ikut terlibat dalam sebagian besar kasus, baik secara

    langsung maupun tidak langsung. Beberapa penyakit epilepsi disebabkan oleh

  • 12

    kerusakan gen tunggal (1-2 %), sebagian besar adalah akibat interaksi beberapa

    gen dan faktor lingkungan . Beberapa gen yang terlibat mempengaruhi saluran

    ion, enzim GABA, dan reseptor terkait protein G. Pada kembar identik, jika salah

    satu menderita epilepsi, ada kemungkinan 50-69% kembar lainnya juga ikut

    menderita epilepsi. Pada kembar non identik, resikonya 15 %. Resiko ini lebih

    besar pada penderita dengan kejang umum dari pada kejang fokal. Jika kedua

    kembar itu menderita epilepsi, kebanyakan (70-90 %) memiliki sidrom epilepsi

    yang sama. Kerabat dekat lainnya dari penderita epilepsi memiliki resiko lima kali

    lebih besar dibandingkan mereka yang tidak. Antara 1 dan 10% penderita

    sindrom down dan 90% penderita sindrom Angelman menderita epilepsi.

    (Pandolfo.2011).

    Ad.2. Riwayat kehamilan dan persalinan

    Epilepsi merupakan kelainan neurologik yang mana pada ibu hamil

    membutuhkan tatalaksana yang adekuat dan tanpa beresiko baik terhadap ibu atau

    bayi. Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Kira-kira ¼ kasus

    frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir, ¼ kasus

    frekuensi bangkitan menurun dan ½ kasus tidak mengalami perubahan selama

    kehamilan. Neonatus wanita epilepsi yang hamil mengalami lebih banyak resiko

    karena kesukaran yang akan dialami ketika partus berjalan. Partus prematur lebih

    sering terjadi pada wanita epilepsi. Penggunaan obat anti epilepsi mengakibatkan

    kontraksi uterus yang melemah, ruptur membran yang terlalu dini. Oleh karena

    itu maka partus wanita epilepsi hampir selalu harus dipimpin oleh pakar obstetri,

    penggunaan forcep atau vakum sering dilakukan dan juga seksio caesar.

    Komplikasi persalinan baik untuk ibu maupun bayi adalah frekuensi bangkitan

  • 13

    meningkat 33%, perdarahan post partum meningkat 10 %, bayi mempunyai resiko

    3% berkembang menjadi epilepsi. Apabila tanpa propilaksis vitamin K yang

    diberikan pada ibu terdapat resiko 1% terjadi perdarahan perinatal pada bayi.

    (Jafardi.2015).

    Di Kabupaten Aceh Barat tahun 2015 jumlah bayi lahir hidup 3.328 bayi,

    sedangkan bayi baru lahir ditimbang sebanyak 1.041 (31,3%) dan ditemukan

    BBLR sebanyak 80 (7,7%) . Jumlah komplikasi kebidanan sebanyak 921 dan yang

    ditangani di Kabupaten Aceh Barat tahun 2015 sebanyak 315 (34,72 . Perhitungan

    sasaran neonatus dengan komplikasi diperkirakan sebesar 498 neonatus,

    sedangkan neonatus dengan komplikasi yang ditangani sebanyak 172 kasus ( 34,5

    % ). (Dinkes. 2015).

    Ad.3. Gangguan serebral

    Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama

    pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu

    lintas. Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama), Dini

    (minggu pertama), Atau lanjut (setelah satu minggu). Kejang segera tidak

    merupakan prediposisi untuk kejang lanjut, kejang dini merupakan resiko yang

    meningkat untuk kejang lanjut dan pasien ini harus dipertahankan dengan anti

    konvulsan. Insiden keseluruhan epilepsi pasca trauma lanjut (berulang, tanpa

    provokasi) setelah cedera kepala tertutup adalah 5%, resiko mendekati 20% pada

    pasien dengan perdarahan intrakranial. (Mansjoer, dkk.2000).

    Tumor otak, Tumor yang menduduki girus presentralis seringkali bertindak

    sebagai perangsang terhadap daerah motorik, sehingga menimbulkan kejang fokal

  • 14

    pada sisi kontralateral sebelum munculnya manifestasi tekanan intrakranial

    meninggi. (Mardjono dan sidharta. 2006).

    Infeksi seperti meningitis menyebabkan peradangan pada otak dan

    menyebabkan peningkatan resiko terkena epilepsi. Demam tinggi pada saat anak-

    anak dalam waktu yang lama terkadang dikaitkan dengan kejang-kejang untuk

    waktu yang lama dan epilepsi pada saat nanti. ( Ngastiyah.2005).

    Ad.4. Gangguan Metabolik

    Hipoglikemia harus segera diobati karena bisa menyebabkan kerusakan otak

    yang irreversibel. Selain glukosa penggantian cairan dan kortiko steroid perlu

    diberikan. Yang termasuk gejala hipoglikemia diantaranya rasa haus dan mulut

    terasa kering, poli uri, rasa kekurangan udara, mual dan muntah, kelemahan,

    mialgia, nyeri kepala dan nyeri perut, mengantuk bisa berlanjut menjadi bingung

    dan koma. Hipokalsemia disebabkan oleh hipoparatiroidisme, asupan vitamin D

    atau kalsium dari makanan yang tidak adekuat. Gagal ginjal ditandai oleh naiknya

    kreatinin serum dengan cepat, biasanya disertai penurunan out put urin.

    Penyebabnya bisa dibagi menjadi pre renal, renal, dan post renal. Gagal ginjal

    sering menjadi komplikasi pada penyakit hati lanjut. Ureum dan kreatinin plasma

    bisa normal karena menurunnya sintesis ureum hati, asupan protein yang rendah

    dari makanan, dan hilangnya massa otot. Hiponatremia sama dengan natrium

    plasma kurang dari 130 mmol/ L. Hiponatremia disebabkan oeh terlalu sedikit

    natrium. Pada kekurangan garam timbul rasa haus, lidah kering, menurunnya

    turgor jaringan dan hipotensi postural. Pada kekurangan yang berat terjadi

    kebingungan mental, hipotensi dan syok. ( Rubeinstein, 2007).

  • 15

    Ad.5. Obat-obatan

    Keracunan tidak sengaja sering terjadi pada anak-anak dan obat sebaiknya

    disimpan dalam tabung yang tidak bisa dibuka anak kecil serta diletakkan diluar

    jangkauan mereka. Pada orang dewasa obat yang paling sering dikonsumsi adalah

    antidepresan trisiklik (seperti amitriptilin, nortriptilin, protriptilin). Benzodiazepin

    (seperti diazepam, nitrazepam, klordiazepoksid). Pasien sering mengkonsumsi

    lebih dari satu obat dan sangat sering mengkonsumsi alkohol juga. ( Rubeinstein.

    2007).

    2.3. Jenis- jenis epilepsi

    Adapun jenis epilepsi yang sering terjadi adalah :

    1. Grandmal

    Pada keadaan yang khas serangan dimulai dengan kejang tonik kemudian

    disusul oleh kejang klonik. Pada fase tonik badan pasien menjadi kaku

    dalam sikap opistotonus. Bila kejang tonik ini kuat udara dikeluarkan

    dengan kuat dari paru melalui pita suara sehingga terdengar bunyi yang

    disebut jerit epilepsi (epileptic cry). Fase tonik ini biasanya berlangsung

    20-60 detik kemudian disusul fase klonik. Selama fase klonik pasien

    menderita sianosis karena pernafasan terhenti dan terdapat pula kongesti

    vena. Pada fase klonik terjadi kejang umum yang melibatkan semua

    anggota gerak dan otot-otot pernafasan serta otot rahang . Terjadilah gerak

    bernafas stertorus dan keluar busa dari mulut. Iidah dapat tergigit saat

    kejang ini bahkan ngompol karena sfingter kandung kemih ikut kontraksi.

    Bentuk grandmal merupakan serangan yang terberat. Biasanya fase klonik

    berlangsung kira-kira 40 detik tetapi dapt juga lebih lama. Setelah fase

  • 16

    klonik pasien terbaring dalam keadaan koma biasanya berlangsung kira-

    kira 1 menit setelah itu pasien tertidur yang bisa berlangsung 2-3 jam.

    2. Petit mal

    Petit mal disebut juga sebagai kejang murni (typical absence) atau simple

    absence. Bangkitan berlangsung singkat hanya beberapa detik (-15 detik).

    Pada serangan epilepsi jenis petit mal yang terlihat sebagai berikut:

    - Pasien tiba –tiba berhenti melakukan apa yang sedang ia lakukan

    ( misalnya makan, membaca, berbicara, dan lain-lain).

    - Ia memandang kosong, melongo (staring). Pada saat ini tidak bereaksi

    bila diajak berbicara atau bila dipanggil karena ia tidak sadar.

    - Setelah beberapa detik ia kemudian sadar dan meneruskan lagi apa

    yang sedang ia lakukan sebelum serangan terjadi.

    Pada serangan petit mal selain terdapat kehilangan kesadaran dan

    melongo, dapat juga dijumpai mata berkedip dengan frekuensi 3 kali

    perdetik. Waktu serangan terjadi ( kesadaran menurun ) pasien tidak jatuh

    hanya agak terhuyung. Tidak didapatkan inkontinensia urine dan juga

    tidak terdapat aura. Frekuensi serangan petit mal bervariasi dari 2 atau 3

    bulan sampai beberapa ratus kali dalam sehari. Bila serangan banyak

    dalam satu hari keadaan mental dapat terganggu karena frekuensi

    kesadaran menurun. Faktor keturunan mempunyai peranan besar pada

    petit mal ini.

    3. Status petit mal

    Bila serangan epilepsi terjadi berturut-turut atau beruntun, dan serangan

    berikutnya telah mulai sebelum pasien pulih dari serangan sebelumnya, hal

  • 17

    ini disebut status epileptikus. Pada serangan status petit mal ini pasien

    tidak memandang kosong tetapi dalam kaeadaan bengong, dalam keadaan

    disorientasi. Status petit mal dapat berlangsung sampai 24 jam atau lebih,

    tetapi pada umumya hanya beberapa menit. Bila telah diperiksa keadaan

    EEG dan ternyata petit mal dan diberikn pengobatan umumnya baik.

    4. Spasme Infantil

    Spame infantil ditandai oleh serangan yang berbentuk spasmus yang masif

    dari otot-otot badan . Didapatkan fleksi dari badan dan anggota gerak

    bawah dengan abduksi serta fleksi dari lengan. Terdapat gerak kejutan dari

    otot fleksor ekstremitas dan kepala. Gerak kejut ini berlangsung singkat

    tetapi dapat berulang beberapa kali berturut-turut. Kadang kejutan ini

    disertai jeritan dari pasien sehingga orang tua mengira anaknya kesakitan

    ,juga dapat terjadi kejutan otot ekstensor. Menurut gambaran EEG-nya

    jenis ini disebut epilepsi jenis hipsaritmia. Bangkitan umur 3bulan sampai

    2 tahun . Gerak kejut ini umumnya terjadi pada waktu bangun atau hendak

    tidur. Untuk memastikan diagnosis akan lebih mudah setelah dilakukan

    EEG dan menunjukkan kelainan yang khas, gelombang lambat bervoltase

    tiggi yang tidak teratur dengan gelombang paku multifokal. Infantil

    spasme biasanya menunjukkan adanya kerusakan yang luas dan difus

    didalam otakyang dapat disebabkan bermacam-macam penyebab,

    misalnya anoksia otak yang berat, hipiglikemia, teberous sclerosis,

    penyakit-penyakit metabolik, degeneratif atau cacat anatomik pada otak.

    Sering pula bayi mempunyai riwayat kelahiran dan prenatal yang patologis

    (Ngastiyah,2005).

  • 18

    2.4 Permasalahan sosial dan permasalahan medik epilepsi

    Di Indonesia epilepsi dikenal sebagai “ayan” atau “sawan”. Banyak

    masyarakat masih mempunyai pandangan keliru (stigma) atau beranggapan bahwa

    epilepsi bukanlah penyakit tapi karena masuknya roh jahat, kesurupan, guna-guna,

    atau suatu kutukan. Hal ini terjadi karena saat serangan epilepsi terjadi di tempat

    umum, membuat masyarakat yang melihat menyimpulkan berbagai persepsi yang

    keliru. Mereka juga takut memberi pertolongan karena beranggapan epilepsi dapat

    menular melalui air liur. Adanya stigma dan mitos yang berkembang di

    masyarakat membuat orang dengan epilepsi dikucilkan oleh lingkungan,

    dikeluarkan dari sekolah, menghambat karir dan kehidupan berumah tangga,

    sehingga membuat mereka tertekan dan depresi. Oleh karena itu, banyak keluarga

    dari orang epilepsi yang menutup-nutupi keadaan, sehingga membuat penanganan

    epilepsi menjadi tidak optimal. Begitu pula dari kalangan medis sendiri dimana

    para orang dengan epilepsi kurang mendapat perhatian dan penanganan yang

    holistik. Mereka hanya ditanya mengenai masih ada/ tidaknya serangan kejang,

    dan masih banyak dari penderita epilepsi yang muncul kembali berobat akibat

    obat terputus dan serangan kejang muncul kembali. ( Hawari,2010).

    2.5 Patofisiologi Epilepsi

    Kejang terjadi akibat lepas muatan listrik paroksimal yang berlebihan dari

    fokus kejang akibat dari suatu keadaan patologik. Apabila terjadi lesi pada neuron

    di otak ada beberapa fenomena yang terjadi:

    1. Instabilitas membran sel. Membran sel yang tidak stabil ketika terjadi

    sedikit saja rangsangan akan mengubah permeabilitas. Hal ini

  • 19

    mengakibatkan depolarisasi abnormal dan terjadilah lepas muatan yang

    berlebihan.

    2. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan

    listrik menurun, dan apabila terpicu akan melepaskan muatan yang

    berlebihan.

    3. Kelainan polarisasi yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin ( zat kimia

    penghantar rangsangan saraf) atau defisiensigama amino butirat acid

    (GABA)

    4. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam basa atau

    elektrolit yang mengganggu homeostasiskimiawi neuron sehingga terjadi

    kelainan pada depolarisasi neuron.

    (Price & Wilson 2006).

    2.6 Gejala Epilepsi

    Adapun gejala dari epilepsi antara lain :

    - Kejang parsial sensorik yaitu sensasi abnormal seperti melihat warna-

    warni yang tak terduga.

    - Kejang parsial motorik

    - Epilepsi lobus temporal di mulai dengan sensasi aneh atau perasaan

    dejavu (perasaan pernah mengalami sesuatu), kemudian terlepas dari

    kenyataan dan mungkin gerakan berulang-ulang.

    - Kejang tonik klonik (grand mal), hilang kesadaran, menjadi kaku,

    roboh, lalu tungkai bergerak dalam sentakan beritme.

    - Absen kejang (petit mal) jenis yang umum pada anak-anak seperti

    melamun dan bermimpi.

  • 20

    - Kejang myoklonik yaitu anggota gerak tersentak-sentak dengan tiba-

    tiba dan singkat.

    - Status epileptikus yaitu berulang kejang tonik-klonik tanpamemperoleh

    kembali kesadaran diantara keduanya.

    (Jarvis. 2009).

    2.7 Terapi Epilepsi

    Tujuan pengobatan epilepsi adalahmembebaskan pasien daribangkitantanpa

    mengganggu fungsi normal saraf pusat dan penderita dapat melakukan tugas tanpa

    bantuan. Terapi meliputi terapi kausal, terapi dengan menghindari faktor

    pencetus dan memakai obat anti konvulsi.(utama dan vincent. 2007).

    2.8.Peran Keluarga Dalam Perawatan Pasien epilepsi.

    Stigma (sangkaan buruk) menjadikan penderita epilepsi lebih tak berdaya dan

    gagal dalam kehidupan serta membatasi diri dalam kegiatan sehari-hari maka dari

    itu sangat di butuhkan peran keluarga dalam perawatan pasien epilepsi

    diantaranya:

    - 4 Aspek penyembuhan paripurna yaitu dokter dalam mendiagnosis

    epilepsi dan penatalaksanaannya, ketersediaan obat,Keinginan pasien

    untuk sembuh, dan dukungan keluarga dalam psikososioekomi.

    - Hal-hal yang perlu dikethui oleh keluarga yaitu penyakit epilepsi itu

    sendiri, pengobatannya (jenis, cara pemberian, efek samping, lama,

    rencana selanjutnya,dan lain-lain).

    - Hubungan terapeutik yaitu hubungan antara tenaga medis dan pasien /

    keluarga (kepercayaan, profesionalisme, dan komunikasi yang baik)

  • 21

    sehingga dapat dilakukan usaha penyembuhan terhadap pasien secara

    optimal dan paripurna.

    - Keluarga/caregiver harus menyesuaikan diri dengan perubahan

    menjadi identitas (menerima pasien apa adanya).

    (Hari .2006)

    2.9 Kerangka Teori

    Gambar 2.1. Kerangka Teori

    Faktor-faktor penyebab epilepsi :(Rubenstein, dkk.2007)

    - Riwayat Keluarga- Riwayat kehamilan dan

    persalinan- Gangguan serebral- Gangguan metabolik- Obat-obatan

    EPILEPSI

  • 22

    2.10 Kerangka konsep

    Gambar 2.2 Kerangka Konsep

    RiwayatKeluarga

    RiwayatKehamilanDan

    Persalinan

    GangguanSerebral

    GangguanMetabolik

    ObatObatan

    EPILEPSI

  • 23

    BAB 3

    METODELOGI PENELITIAN

    3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

    Jenis penelitian ini adalah Analitik dengan desain cross sectional dimana

    variabel-variabel yang diteliti ditimpakan sekali saja pada sejumlah subjek yang

    menjadi sampel penelitian dan kemudian dilihat hubungan antar variabelnya

    hanya berdasarkan satu kali pengamatan sesaat saja yang bertujuan untuk

    mengetahui faktor-faktor penyebab epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. ( Wibowo, 2014 ).

    3.2 Lokasi penelitian dan waktu Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

    Meulaboh tanggal 27 juli s/d 10 Agustus 2016.

    3.3. Populasi dan Sampel

    3.3.1. Populasi

    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien epilepsi yang berobat

    rawat Jalan di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh yang

    berjumlah 102 orang.

    3.3.2. Sampel

    Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian.

    Pengambilan sampel dalam penelitian ini memakai rumus Taro Yamane

    (Imron,2011) sebagai berikut:

    n=

  • 24

    Ket: N : Jumlah Populasi

    n : Jumlah Sampel

    d2 : Tingkat Presisi yang ditetapkan (0,1 = 10 %)

    n= , = .= 50,49

    Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini dibulatkan menjadi 50 orang.

    Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

    accidental sampling. Pengambilan sampel secara accidental ini dilakukan dengan

    mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia disuatu tempat

    sesuai dengan konteks penelitian yaitu pasien epilepsi yang berobat rawat jalan

    di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah keluarga yang

    mendampingi pasien epilepsi berobat rawat jalan di poli saraf Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    3.4 Pengumpulan Data

    3.4.1 Data Primer

    Data yang diperoleh langsung melalui wawancara dan pengisian kuesioner

    oleh responden.

    3.4.2 Data sekunder

    Data sekunder adalah data yang di peroleh dari Rekam Medik pasien berobat

    di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh dan profil Dinas Kesehatan

    Kabupaten Aceh Barat.

  • 25

    Menurut Hastono 2007, Pengolahan data merupakan salah satu bagian

    rangkaian kegiatan penelitian setelah pengumpulan data. Agar analisis penelitian

    menghasilkan informasi yang benar, paling tidak ada empet tahapan dalam

    pengolahan data yang harus dilalui, yaitu:

    1. Editing

    Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau

    kuesioner apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap, jelas,

    relevan dan konsisten.

    2. Coding

    Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data

    berbentuk angka/bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk

    mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada saat

    entry data.

    3. Processing

    Setelah semua kuesioner terisi penuh dan benar, serta sudah melewati

    pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar data

    yang sudah di entry dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan

    cara meng-entry data dari kuesioner ke paket program komputer.

    4. Cleaning

    Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali

    data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak.

  • 26

    3.5 Definisi Operasional

    Definisi Operasional atau batasan ruang lingkup dalam penelitian bermanfaat

    untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang

    bersangkutan serta pengembangan instrumen ( Alat ukur). (Notoatmodjo.2010).

    Tabel 3.1. Definisi Operasional

    No

    Variabelpenelitian

    DefinisiOperasional

    Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur SkalaUkur

    Independen

    1 RiwayatKeluarga

    Ada atautidaknyaanggotakeluargayangmenderitaepilepsi

    Wawancara Kuesioner 1.Ada2.Tidak ada

    Ordinal

    2 RiwayatKehamilandanpersalinan

    Gangguan/kelainankehamilandanpersalinanselamapenderitaepilepsimasih dalammasakehamilandanpersalinan

    Wawancara Kuesioner 1.Ada2.Tidak ada

    Ordinal

    3 GangguanSerebral

    Kejadian ataupenyakityang dialamisebelum nyaolehpenderitaepilepsi

    Wawancara Kuesioner 1 . Ada2 . Tidak ada

    Ordinal

  • 27

    4 GangguanMetabolik

    Keadaan ataupenyakitmetabolikyang dialamisebelumnyaolehpenderitaepilepsi

    Wawancara Kuesioner 1. Ada2.Tidakada

    Ordinal

    5 Obat -obatan Keadaan overdosis yang dialamisebelumnyaolehpenderitaepilepsi

    Wawancara Kuesioner 1.Ada2.Tidak ada

    Ordinal

    Dependen

    6 Epilepsi Jangka waktuatau durasikejang yangdialami olehpenderitaepilepsi

    Wawancara Kuesioner 1.Berat, Jikadurasi kejangyang terjadilama ( ≥ 20detik)

    2.Ringan, Jikadurasi kejangyang terjadisingkat (5-15detik).

    Nominal

    3.6 Aspek Pengukuran

    1. Riwayat Keluarga

    Ada, Jika dalam keluarga ada yang menderita epilepsi = 1

    Tidak ada, Jika dalam keluarga tidak ada yang menderita epilepsi = 0

    2. Riwayat kehamilan dan persalinan

    Ada, Jika penderita epilepsiada riwayat gangguan /kelainan kehamilan

    dan persalinan = 1

    Tidak ada, Jika penderita epilepsi tidak ada riwayat gangguan / kelainan

    kehamilan dan persalinan = 0

  • 28

    3. Gangguan serebral

    Ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi ada mengalami salah satu

    gangguan serebral= 1

    Tidak ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi tidak mengalami gangguan

    serebral = 0

    4. Gangguan Metabolik

    Ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi ada mengalami salah satu

    gangguan metabolik = 1

    Tidak ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi tidak ada mengalami

    gangguan metabolik = 0

    5. Obat-obatan

    Ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi ada mengalami kejadian

    keracunan/ over dosis obat-obatan = 1

    Tidak ada, Jika sebelumnya penderita epilepsi tidak ada mengalami

    kejadian keracunan/ over dosis = 0

    6 . Epilepsi

    Berat, Jika penderita epilepsi mengalami durasi kejang lama= 1

    Ringan, Jika penderita epilepsi mengalami durasi kejang singkat= 0

    3.7 Teknik Analisis Data

    Data yang diperoleh akan dianalisis sebagai berikut:

    3.7.1 Analisis Univariat

    Analisis yang digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel-

    yang akan diteliti, baik variabel bebas (Riwayat Keluarga, Riwayat Kehamilan

  • 29

    dan Persalinan, gangguan serebral, gangguan metabolik, obat-obatan) maupun

    variabel terikat (Epilepsi). Selanjutnya data dimasukan dalam tabel data frekuensi,

    analisis ini menggunakan rumus sebagai berikut :

    = 100 %Keterangan :

    P = Persentase

    f = Frekuensi yang diamati

    n = Jumlah responden yang menjadi sampel (Notoatmodjo,2010).

    3.7.2 Analisis Bivariat

    Menurut Arikunto (2006) analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan

    satu variabel indevenden dengan satu variabel dependen yang bertujuan untuk

    mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

    Analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat ( Chi-square), karena semua data di

    analisis ukur dalam skala katagorik ( melihat hubungan antara variabel katagorik

    dengan variabel katagori). Prinsip dasar uji chi-square adalah membandingkan

    frekuensi yang terjadi (observed) dengan frekuensi harapan ( expected ). Proses

    pengujian Chi-square memiliki beberapa syarat yaitu:

    a. Bila pada tabel 2x2 dijumpai nilai Expected (harapan) kurang dari 5 maka

    yang digunakan adalah Fisher exact test.

  • 30

    b. Bila tabel 2x2, dan tidak ada nilai E < 5, maka sebaiknyadigunakan uji

    Continuity Correlation.

    c. Bila tabel lebih dari 2x2, misalnya 3x2, 3x3, maka digunakan uji Person

    Chi-Square

    d. Uji Likelihood ratio dan Linear-by-Linear Association digunakan untuk

    mengetahui hubungan linear antara dua variabel kategori. Namun ini

    jarang digunakan.

    Keputusan statistik diambil berdasarkan P-value < 0,05 maka Ho ditolak dan

    Ha diterima, sedangkan jika p-value ≥ 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

    Uji statistik juga untuk melihat suatu hubungan (jika ada) antara dua variabel

    sehingga diperoleh nilai x2 dan kemaknaan statistik (nilai p Value ).

    ( O – E )2

    Rumus : X2 = ∑----------

    E

    Total baris x Total kolom

    E = ---------------------------------------

    Grand Total

    Df = ( k-1 ) ( b – 1 ) = 1

    α = 0,05

    Keterangan X2 : Chi-square test

    O : Frekuensi nilai pengamatan

    E : Frekuensi nilai Harapan

    Adapun ketentuan yang dipakai pada uji statistik adalah Arikunto 2006 :

    1. Confident Level (CL) : 95% dengan α = 0,05

  • 31

    2. Derajat Kebebasan (df) adalah ( r-1 ) ( c-1 )

    - r adalah banyaknya baris

    - c adalah banyaknya kolom

    3 . Ho diterima, Ha ditolak jika P. Value > α (α = 0,05), berarti tidak ada

    hubungan antara riwayat keluarga, riwayat kehamilan dan persalinan,

    gangguan serebral, gangguan metabolik, dan obat- obatan dengan

    epilepsi.

    4 . Ho ditolak, Ha diterima jika P. Value < α (α = 0,05), berarti ada

    hubungan antara riwayat keluarga, riwayat kehamilan dan persalinan,

    gangguan serebral, gangguan metabolik, dan obat- obatan dengan

    epilepsi.

  • 32

    BAB 4

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

    Kabupaten Aceh Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh,

    Indonesia berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun

    1956. Sebelum pemekaran, Kabupaten Aceh Barat mempunyai luas wilayah

    10.097.04 km2 atau 1.010.466 Ha dan secara astronomi terletak pada 2°00ꞌ-5°16ꞌ

    Lintang Utara dan 95°10ꞌ Bujur Timur dan merupakan bagian wilayah pantai barat

    dan selatan Kepulauan Sumatera yang membentang dari barat ke timur mulai dari

    kaki gunung Geurutee (Perbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar) sampai ke sisi

    Krueng Seumayam (Perbatasan Aceh Selatan) dengan panjang garis pantai sejauh

    250 km. Sesudah pemekaran letak geografis Kabupaten Aceh Barat secara

    astronomi terletak pada 04°61ꞌ-04°47ꞌ Lintang Utara dan 95°00ꞌ-86°30ꞌ Bujur

    Timur dengan luas wilayah 2.927,95 km2 dengan batas-batas sebagai berikut:

    - Sebelah Utara : Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Pidie

    - Sebelah Selatan : Samudera Indonesia dan Kabupaten Nagan Raya

    - Sebelah Barat : Samudera Indonesia

    - Sebelah Timur : Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Nagan Raya.

    Pembangunan Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten

    Aceh Barat pertama kali dimulai pada tahun 1968 dengan swadaya masyarakat

    dibantu dana APBD Tk.II Aceh Barat. Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak

    Dhien Meulaboh dibangun diatas tanah seluas 2,8 Ha. Lokasi areal tanah tersebut

    terletak di kelurahan Drien Rampak Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten aceh

  • 33

    Barat. Pasca terjadinya bencana alam gempa bumi 8,9 Skala Righter yang

    berpusat di Meulaboh disusul dengan gelombang tsunami yang terjadi pada hari

    Minggu 26 Desember 2004 sekitar pukul 08.00 wib berdampak pada makin

    derasnya arus globalisasi ke daerah Kabupaten Aceh Barat. Bantuan datang dari

    berbagai penjuru dunia termasuk untuk perbaikan rekontruksi dan rehabilitasi

    Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien yang dibangun oleh donatur palang

    Merah singapura. Tahun 2010 tanggal 2 Juni tepatnya pada hari Jum’at pukul

    10.00 wib diadakan peresmian gedung baru Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien

    Meulaboh oleh Gubernur Aceh disaksikan oleh Bupati Aceh Barat, dan

    perwakilan dari negara Singapura serta tokoh masyarakat Aceh Barat yang hingga

    kini merupakan satu-satunya Rumah Sakit menjadi pusat rujukan bagi masyarakat

    Aceh Barat dan sekitarnya.

    Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh memulai aktifitasnya sebagai

    rumah Sakit Kelas D pada tahun 1971, dan pada tahun 1983 diusulkan untuk

    peningkatan status menjadi rumah sakit kelas C. Berdasarkan Surat Keputusan

    Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 233/MENKES/SK/VI/1985

    tanggal 11 Juni 1985 resmi menjadi rumah sakit kelas C. Pada tahun 2002

    berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17, secara Institusi Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh ditetapkan menjadi Badan Pengelola Rumah

    Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh. Namun pada tahun 2008 melalui

    Qanun nomor 4 tahun 2008 dirubah lagi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Cut

    Nyak Dhien dengan Eselonering setingkat Kantor (Eselon III) dan merupakan

    Lembaga Teknis Daerah yang memberikan pelayanan Kesehatan kepada

    masyarakat, Pusat Rujukan dan Pendidikan Medis.

  • 34

    Pada tahun 2009, Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan

    Surat Keputusan Nomor : HK.07.06/III/2043/09 tentang pemberian izin

    Penyelenggaraan Rumah Sakit Umum Daerah dengan nama “Rumah Sakit Umum

    Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh” Pemerinth kabupaten Aceh Barat Provinsi

    Nanggroe Aceh Darussalam.

    Pada tahun 2012 Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh

    dilakukan penilaian akreditasi versi 2007 oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit

    (AKRS) dan berhasil lulus bersyarat tingkat dasar dengan Sertifikat nomor:

    KARS-SERT/876/VI/2012.

    Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 30 November 2014, Kepala Dinas

    Kesehatan Aceh Barat menetapkan Surat Keputusan Nomor :

    441/268/SKRS/2014 tentang Pemberian Izin penyelenggaraan RSUD dengan

    nama RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh.

    Pada tahun 2014 tepatnya tanggal 29 Desember 2014, Bupati Aceh Barat

    menetapkan Surat Keputusan Nomor : 723 tahun 2014 tntang penetapan status

    pola pengelolaan keuangan BLUD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh dengan

    status BLUD penuh.

    Pada tahun 2015 ditetapkan sebagai salah satu rumah sakit rujukan regional

    dari 110 rumah sakit seluruh Indonesia melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal

    Bina Upaya Kesehatan nomor HK.02.03/1/0363/2015.

    Adapun batas-batas Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Aceh Barat adalah

    sebagai berikut :

    - Sebelah Utara berbatasan dengan MAN I Meulaboh

    - Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Sisingamaraja

  • 35

    - Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Gajah Mada

    - Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Gajah Mada Lorong Banten.

    4.2 Hasil Penelitian

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dari tanggal 27 juli – 10

    Agustus 2016 dengan cara memberikan kuesioner kepada 50 responden yaitu

    keluarga pasien yang mendampingi pasien epilepsi yang berobat di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh, maka didapatkan hasil penelitian

    sebagai berikut:

    4.2.1 Data Demografi

    Demografi pasien pada penelitian ini meliputi: umur, jenis kelamin, dan

    pendidikan terakhir.

    Tabel 4.1 Distribusi Data Demografi pasien epilepsi di poli saraf RumahSakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase ( % )Umur ( Menurut WHO)Remaja < 20 tahun 15 30Dewasa Awal:21-40 tahun 29 58Dewasa Tengah : 41-60 tahun 5 10DewasaAkhir:61tahun keatas 1 2Total 50 100

    2 Jenis kelaminLaki-laki 26 52Perempuan 24 48Total 50 100

    3 Pendidikan terakhirBelum sekolah 4 8SD 8 16SMP 17 34SMA 18 36S I 3 6Total 50 100

  • 36

    Berdasarkan tabel 4.1 diatas maka dapat diketahui bahwa penderita epilepsi

    yang menderita penyakit epilepsi umur 21-40 tahun sebanyak 29 orang, umur <

    20 tahun sebanyak15 orang, umur 41-60 tahun sebanyak 5 orang, dan umur 61

    tahun keatas sebanyak 1 orang. Penderita epilepsi laki-laki sebanyak 26 orang dan

    penderita epilepsi perempuan sebanyak 24 orang. Penderita epilepsi dengan

    tingkat pendidikan dapat juga diketahui bahwa Tingkat SMA sebanyak 18 orang,

    SMP sebanyak 17 orang, SD sebanyak 8 orang, belum sekolah sebanyak 4 orang

    dan perguruan tinggi sebanyak 3 orang.

    4.2.2 Analisa Univariat

    a. Riwayat Keluarga

    Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Riwayat keluarga pada pasien epilepsi di poliSaraf Rumah Sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase (%)1 Tidak ada 13 262 Ada 37 74

    Total 50 100Sumber : Data Primer (Diolah, 2016)

    Berdasarkan tabel 4.2 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 50 responden

    yang di teliti ditemukan kategori ada riwayat keluarga pada pasien epilepsi

    sebanyak 37 orang (74 %) dan kategori tidak ada riwayat keluarga pada pasien

    epilepsi sebanyak 13 orang (26%).

  • 37

    b. Riwayat kehamilan dan persalinan

    Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Riwayat kehamilan dan persalinan padapasien epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut NyakDhien meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentasi (%)1 Kurang Baik 10 202 Baik 40 80

    Total 50 100Sumber: Data Primer (Diolah,2016)

    Berdasarkan tabel 4.3 diatas maka dapat dilihat bahwa dari 50 responden

    yang diteliti ditemukan kategori memiliki riwayat kehamilan dan persalinan yang

    baik pada pasien epilepsi sebanyak 40 orang (80%) dan kategori memiliki

    riwayat kehamilan dan persalinan kurang baik pada pasien epilepsi sebanyak 10

    orang (20%).

    c. Gangguan serebral

    Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Gangguan serebral pada pasien epilepsi dipoli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase (%)1 Tidak ada 16 322 Ada 34 68

    Total 50 100Sumber: Data Primer (Diolah,2016)

    Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa dari 50 responden yang

    diteliti ditemukan kategori ada gangguan serebral pada pasien epilepsi sebanyak

    34 orang (68%) dan kategori tidak ada gangguan serebral pada pasien epilepsi

    sebanyak 16 orang (32%).

  • 38

    d. Gangguan Metabolik

    Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Gangguan Metabolik pada pasien epilepsi dipoli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase (%)1 Tidak ada 40 802 Ada 10 20

    Total 50 100Sumber: Data Primer (Diolah, 2016)

    Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa dari 50 responden yang

    diteliti ditemukan kategori tidak ada gangguan metabolik pada pasien epilepsi

    sebanyak 40 orang (80%) dan kategori ada gangguan metabolik pada pasien

    epilepsi sebanyak 10 orang (20%).

    e. Obat-obatan

    Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi obat-obatan pada pasien epilepsi di poli sarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase (%)1 Tidak ada 44 882 Ada 6 12

    Total 50 100Sumber: Data Primer(Diolah,2016)

    Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa dari 50 responden yang diteliti

    ditemukan kategori Tidak ada overdosis obat-obatan pada pasien epilepsi

    sebanyak 44 orang (88%) dan kategori ada overdosis obat-obatan pada pasien

    epilepsi sebanyak 6 orang (12%).

  • 39

    f. Epilepsi

    Tabel 4.7 Distribusi epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf RumahSakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh

    No Kategori Frekuensi Persentase (%)1 Ringan 36 722 Berat 14 28

    Total 50 100Sumber: Data Primer (Diolah,2016)

    Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa dari 50 responden yang diteliti

    ditemukan epilepsi kategori ringan pada pasien rawat jalan di poli saraf sebanyak

    36 orang (72%) dan epilepsi kategori berat pada pasien rawat jalan di poli saraf

    sebanyak 14 orang (28%).

    4.2.2 Analisa Bivariat

    Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan faktor penyebab

    epilepsi pada pasien epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

    Meulaboh. Analisa dilakukan berdasarkan pada tabel 4.2 sampai dengan 4.7

    dengan cara memasukkan kategori-kategori pasien kedalam tabel kontigensi 2x2

    melalui komputerisasi serta menggunakan derajat kemaknaan 95 % (α = 0,05) dan

    derajat kebebasan (df) = 1, dan menggunakan uij statistik korelasi chi square test.

    Hasil analisa statistik dapat dilihat pada tabel berikut ini:

    a. Hubungan Riwayat Keluarga dengan epilepsi

    Berdasarkan tabel 4.2 dan 4.7 dapat dilakukan analisa tentang hubungan

    faktor riwayat keluarga dengan epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut

    Nyak Dhien Meulaboh sebagai berikut:

  • 40

    Tabel 4.8 Hubungan Riwayat keluarga dengan pasien epilepsi di poli sarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    Riwayatkeluarga

    Epilepsi Total α P- OR

    Value ( 95% CI )Ringan Beratf % f % f %

    Tidak ada 6 46,2 7 53,8 13 100 0,05 0,029 0,2000,051 - 0,784Ada 30 81,1 7 18,9 37 100

    Jumlah 36 72 14 28 50 100

    Berdasarkan tabel 4.8 Hasil analisis hubungan riwayat keluarga dengan

    epilepsi diperoleh bahwa dari 50 responden yang diteliti 37 orang pasien ada

    riwayat keluarga diantaranya 30 orang (81,1%) mengalami epilepsi dalam

    kategori ringan, 7 orang pasien (18,9%) mengalami epilepsi kategori berat, dan 13

    orang pasien tidak ada riwayat keluarga diantaranya 7 orang pasien (53,8 %)

    mengalami epilepsi kategori berat, 6 orang pasien (46,2%) mengalami epilepsi

    kategori ringan. Hasil uji statistik diperoleh nilai P-Value 0,029 < nilai 0,05

    sehingga H0 ditolak Ha diterima. Hal ini berarti bahwa ada hubungan riwayat

    keluarga dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf Rumah Sakit Umum

    Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=0,200,

    artinya pasien yang ada riwayat keluarga mempunyai peluang 0,2 kali

    menyebabkan epilepsi dibanding pasien yang tidak ada riwayat keluarga.

    b. Hubungan riwayat kehamilan dan persalinan dengan epilepsi

    Berdasarkan tabel 4.3 dan 4.7 dapat dilakukan analisa tentang hubungan faktor

    riwayat kehamilan dan persalinan dengan epilepsi di poli saraf Rumah Sakit

    Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh sebagai berikut :

  • 41

    Tabel 4.9 Hubungan riwayat kehamilan dan persalinan dengan pasienEpilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak DhienMeulaboh

    Riw.kehamilan danpersalinan

    Epilepsi Total α P- OR

    Value ( 95% CI )Ringan Beratf % f % f %

    Kurang 7 70 3 30 10 100 0,05 1,000 0,8850,19– 4,047Baik 29 72,5 11 27,5 40 100

    Jumlah 36 72 14 28 50 100

    Berdasarkan tabel 4.9 Hasil analisis hubungan riwayat kehamilan dan

    persalinan dengan epilepsi diperoleh bahwa dari 50 responden yang diteliti 40

    orang pasien memiliki riwayat kehamilan dan persalinan yang baik diantaranya

    29 orang pasien (72,5%) mengalami epilepsi kategori ringan, 11 orang pasien

    (27,5%) mengalami epilepsi kategori berat, dan 10 orang pasien memiliki riwayat

    kehamilan dan persalinan kurang baik diantaranya 7 orang pasien (70%)

    mengalami epilepsi kategori ringan, 3 orang pasien (30%) mengalami epilepsi

    kategori berat. Hasil uji statistik didapatkan bahwa nilai P-Value 1,00 > nilai α

    0,05 sehingga H0 diterima Ha ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan

    faktor kehamilan dan persalinan dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli

    saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis

    diperoleh pula nilai OR=0,885, artinya pasien dengan riwayat kehamilan dan

    persalinan baik mempunyai peluang 0,88 kali menyebabkan epilepsi dibanding

    pasien dengan riwayat kehamilan dan persalinan kurang baik.

  • 42

    c.Hubungan Gangguan serebral dengan epilepsi

    Berdasarkan tabel 4.4 dan 4.7 dapat dilakukan analisa tentang hubungan

    faktor gangguan serebral dengan epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut

    Nyak Dhien Meulaboh sebagai berikut :

    Tabel 5.0 Hubungan Gangguan serebral dengan pasien epilepsi di poli sarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    Gangguanserebral

    Epilepsi Total α P- OR

    Value (95 % Cl )Ringan Beratf % f % f %

    Tidak ada 15 93,7 1 6,3 16 100 0,05 0,021 9,2861,093– 78,857Ada 21 61,8 13 38,2 34 100

    Jumlah 36 72 14 28 50 100

    Berdasarkan tabel 5.0 Hasil analisis hubungan gangguan serebral dengan

    epilepsi diperoleh bahwa dari 50 responden yang diteliti 34 orang pasien ada

    gangguan serebral diantaranya 21 orang (61,8%) mengalami epilepsi kategori

    ringan, 13 orang pasien (38,2%) mengalami epilepsi kategori berat,dan 16 orang

    pasien tidak ada gangguan serebral diantaranya 15 orang pasien (93,7%)

    mengalami epilepsi kategori ringan, 1 orang pasien (6,3%) mengalami epilepsi

    kategori berat. Hasil uji ststistik diperoleh nilai P-Value 0,021 < nilai α 0,05

    sehingga H0 ditolak Ha diterima. Hal ini berarti ada hubungan faktor gangguan

    serebral dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf Rumah Sakit Umum

    Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=9,286,

    artinya pasien yang ada gangguan serebral mempunyai peluang 9,29 kali

    menyebabkan epilepsi dibanding pasien yang tidak ada gangguan serebral.

  • 43

    d. Hubungan Gangguan Metabolik dengan Epilepsi

    Berdasarkan tabel 4.5 dan 4.7 dapat dilakukan analisa tentang hubungan

    faktor gangguan metabolik dengan epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut

    Nyak Dhien Meulaboh sebagai berikut;

    Tabel 5.1 Hubungan Gangguan Metabolik dengan pasien epilepsi Epilepsidi poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    GangguanMetabolik

    Epilepsi Total α P- OR

    Value ( 95 % CI )Ringan Beratf % f % f %

    Tidak ada 28 70 12 30 40 100 0,05 0,704 0,583(0,108– 3,163)Ada 8 80 2 20 10 100

    Jumlah 36 72 14 28 50 100

    Berdasarkan tabel 5.1 Hasil analisis hubungan gangguan metabolik dengan

    epilepsi diperoleh bahwa dari 50 responden yang diteliti 40 orang pasien tidak ada

    gangguan metabolik diantaranya 28 orang (70%) mengalami epilepsi kategori

    ringan,12 orang pasien (30%) mengalami epilepsi kategori berat, dan 10 orang

    ada gangguan metabolik diantaranya 8 orang pasien (80%) mengalami epilepsi

    kategori ringan, 2 orang pasien (20%) mengalami epilepsi kategori berat. Hasil uji

    statistik didapatkan bahwa nilai P-Value 0,704 > nilai α 0,05 sehingga H0

    diterima Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan faktor gangguan metabolik

    dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf Rumah sakit Umum Cut

    Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=0,583, artinya

    pasien tidak ada gangguan metabolik mempunyai peluang 0,58 kali menyebabkan

    epilepsi dibanding pasien ada gangguan metabolik.

  • 44

    e. Hubungan Obat-obatan (keracunan dan overdosis) dengan Epilepsi

    Berdasarkan tabel 4.6 dan 4.7 dapat dilakukan analisa tentang hubungan

    faktor obat- obatan dengan epilepsi di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak

    Dhien sebagai berikut :

    Tabel 5.2 Hubungan Obat- obatan dengan pasien epilepsi di poli sarafRumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien meulaboh

    Obat-obatan(keracunandan overdosis )

    Epilepsi Total α P- OR

    Value ( 95% CI )Ringan Beratf % f % f %

    Tidak ada 32 72,7 12 27,3 44 100 0,05 1,000 1,3330,216-8,249Ada 4 66,7 2 33,3 6 100

    Jumlah 36 72 14 28 50 100

    Berdasarkan tabel 5.2 Hasil analisis hubungan obat-obatan dengan epilepsi

    dapat diperoleh bahwa dari 50 responden yang diteliti 44 orang pasien tidak ada

    riwayat obat-obatan ( keracunan dan over dosis) diantaranya 32 orang pasien

    (72,7%) mengalami epilepsi kategori ringan, 12 orang pasien (27,3%) mengalami

    epilepsi kategori berat, dan 6 orang pasien ada riwayat obat-obatan diantaranya 4

    orang pasien (66,7%) mengalami epilepsi kategori ringan, 2 orang pasien (33,3%)

    mengalami epilepsi kategori berat. Hasil uji statistik diperoleh nilai P-Value 1,000

    > nilai α 0,05 sehinggga H0 diterima Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada

    hubungan obat-obatan dengan epilepsi pada pasien rawat Jalan di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula

    nilai OR=1,333, artinya pasien tidak ada obat-obatan ( keracunan dan over dosis)

    mempunyai peluang 1,33 kali menyebabkan epilepsi dibanding pasien ada obat-

    obatan (keracunan dan over dosis ).

  • 45

    4.3 Pembahasan

    a. Hubungan Riwayat keluarga dengan epilepsi pada pasien rawat jalan dipoli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    Berdasarkan hasil penelitian diatas diketahui bahwa adanya anggota keluarga

    dari penderita epilepsi yang juga menderita penyakit epilepsi sebanyak 37 orang

    diantaranya ayah sebanyak 8 orang, Ibu sebanyak 7 orang, saudara kandung

    sebanyak 6 orang, kakek sebanyak 8 orang, Nenek sebanyak 5 orang dan Paman

    sebanyak 3 orang. Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-

    square dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai P-Value = 0,029 yang

    berarti lebih kecil dari α (0,05). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ada

    hubungan riwayat keluarga dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf

    Rumah sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula

    nilai OR=0,200, artinya pasien yang ada riwayat keluarga mempunyai peluang

    0,200 kali menyebabkan epilepsi dibanding pasien yang tidak ada riwayat

    keluarga.

    Penelitian yang dilakukan oleh Raharjo (2007) di RS Kariadi Semarang

    mendapatkan bahwa riwayat epilepsi dalam keluarga lebih banyak dijumpai pada

    kelompok kasus dibanding pada kelompok kontrol dengan nilai p=0,3.

    Dari hasil penelitian yang ditemui peneliti berasumsi bahwa riwayat keluarga

    berhubungan dengan epilepsi, hal tersebut karena adanya salah satu dari anggota

    keluarga juga mengalami epilepsi, disebabkan oleh kerusakan gen, dan faktor

    lingkungan terutama dalam keluarga pasien epilepsi ini sering di kucilkan

    sehingga dapat memperburuk keadaan penyakitnya. Riwayat epilepsi pada

    keluarga meningkatkan resiko individual untuk mengalami epilepsi. Kondisi

  • 46

    genetik yang diwariskan dari generasi ke generasi mungkin menyebabkan

    terjadinya epilepsi.

    b. Hubungan riwayat kehamilan dan persalinan dengan epilepsi pada pasienrawat jalan di poli saraf Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

    Berdasarkan hasil penelitian diatas diketahui bahwa adanya riwayat kehamilan

    dan persalinan baik sebanyak 40 orang dan adanya riwayat kehamilan dan

    persalinan kurang sebanyak 10 orang diantaranya BBLR sebanyak 4 orang,

    Prematur sebanyak 3 orag, Letak lintang sebanyak 1 orang dan letak sunsang

    sebanyak 2 orang, jadi lebih banyak dengan riwayat kehamilan dan persalinan

    normal dibandingkan dengan adanya riwayat kehamilan dan persalinan kurang.

    Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat

    kepercayaan 95% diperoleh nilai P-Value =1,00 yang berarti lebih besar dari α

    (0,05). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan riwayat

    kehamilan dan persalinan dengan epilepsi pada pasien rawat jalan di poli saraf

    Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Dari hasil analisis diperoleh pula

    nilai OR=0,885, artinya pasien dengan riwayat kehamilan dan persalinan normal

    mempunyai peluang 0,88 kali menyebabkan epilepsi dibanding pasien dengan

    riwayat kehamilan dan persalinan tidak normal.

    Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh suwitra (1993)

    bahwa berat badan lahir rendah ( < 2500 gram ) tidak bermakna sebagai faktor

    epilepsi ( OR:1,1; 95% CI:0,5-2,4).

    Dari hasil penelitan yang ditemui, peneliti berasumsi bahwa riwayat

    kehamilan dan persalinan merupakan salah satu penyebab epilepsi. Riwayat

    kehamilan dan persalinan yang kurang baik merupakan salah satu penyebab

  • 47

    epilepsi dikarenakan adanya gangguan kehamilan, kehamilan yang tidak cukup

    bulan sehingga pertumbuhan janin dalam kandungan tidak sempurna, adanya

    kelahiran bayi berat badan rendah, asfiksia sehingga kebutuhan O2 yang masuk ke