of 27/27
CONFULSI (KEJANG) DISUSUN OLEH: KELOMPOK 3 AMAM DHOFIR ANGGUN RETNO DJ HENDRA ADI P MOH. RIZQIN SUCI CHOIRUNNISA

CONFULSI (KEJANG)

  • View
    20

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kejang

Text of CONFULSI (KEJANG)

CONFULSI (KEJANG)

CONFULSI (KEJANG)DISUSUN OLEH:KELOMPOK 3AMAM DHOFIRANGGUN RETNO DJHENDRA ADI PMOH. RIZQINSUCI CHOIRUNNISA

PENGERTIANKejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz & Sowden,2002)Kejang adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara.

ETIOLOGIKejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis,seperti :Tumor otakTrauma Bekuan darah pada otakMeningitis Ensefalitis Gangguan elektrolitGejala putus alcohol dan obatGangguan metabolicUremia OverhidrasiAnoksia serebralIdopati

MEKANISME DAN PATOFISIOLOGIMekanisme yang pasti dari aktivitas kejang pada otak tidak semuanya dapat dipahami. Beberapa pemicu menyebabkan letupan abnormal mendadak stimulasi listrik,mengganggu konduksi saraf normal otak. Pada otak yang tidak rentang terhadap kejang terdapat keseimbangan antara sinaptik eksitatori dan inhibator yang mempengaruhi neuron postsinaptik. Pada otak yang rentan terhadap kejang keseimbangan ini mengalami gangguan,menyebabkan pola ketidakseimbangan konduksi listrik yang disebut perpindahan depolarisasi paroksismal. Perpindahan ini dapat terlihat baik ketika terdapat pengaruh eksitatori yang berlebihan atau pengaruh inhibator yang tidak mencukupi.

MANIFESTASI KLINIS1. Kejang parsial ( fokal, lokal )a. Kejang parsial sederhana :Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :Tanda tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan setiap kejang sama.Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.Gejala somato sensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan jatuh dari udara, parestesia.Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.

b. Kejang parsial kompleksTerdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleksDapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap ngecapkan bibir, mengunyah, gerakan menongkel yang berulang ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya.Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku

2. Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )a. Kejang absensGangguan kewaspadaan dan responsivitasDitandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detikAwitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuhb. Kejang mioklonikKedutan kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompokKehilangan kesadaran hanya sesaat.

c. Kejang tonik klonikDiawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menitDapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemihSaat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal

d. Kejang atonikHilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.Singkat dan terjadi tanpa peringatan.

MENEGEMEN KEGAWATDARURATAN1. Memberantas kejang Secepat mungkinDiberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.

2. Pengobatan penunjangSebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjangSemua pakaian ketat dibukaPosisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambungUsahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.Penghisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.

3. Pengobatan rumatUntuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika. 4. Mencari dan mengobati penyebabPENGKAJIANPEMERIKSAAN NEUROLOGI LENGKAPRIWAYAT KESEHATANPEMERIKSAAN FISIKDeskripsi spesifik dari kejang harus mencakup hal-hal berikut, baik dari saksi mata atau dri riwayat kesehatan :Awitan perawat harus menentukan apakah kejang mempunyai awitan mendadak atau didahului oleh auraDurasi waktu kejang dari awitan sampai akhir kejang adalah penting. Bagaimana frekuensi kejang 3. Aktivitas motorik perawat harus mencatat bagian tubuh yang terlibat dan menentukan apakah kedua sisi kanan dan kiri terkena. Pada bagian tubuh mana kejang dimulai, bagaimana kemajuan? Apakah kaku, berkedut atau renjatan. 4. Mata dan lidahperawat harus mencatat apakah ada penyimpangan pada mata dan lidah pada salah satu sisi atau lainnya5. Status kesadarankebangkitan adalah penting. Apakah pasien dapat disadarkan selama kejang atau segera setelah kejang selesai? Apakah terjadi ketidaksadaran, durasi dari periode tersebut harus dicatat. Apakah terjadi kebingungan atau kesadaran dan ingatan yang jelas tentang kejadian kejang setelah itu?6. Distraktibilitas Perawat harus menentukan apakah pasien memberikan respon terhadap lingkungan selama kejang, seperti ketika ia di panggil namanya, beberapa pasien, seringkali mereka penyalahguna obat, dapat mencoba untuk berpura-pura kejang dan akn hilang ketika mereka dipanggil namanya.7. Pupil Perawat harus mencatat setipa perubahan pupil, ukuran, bentuk, atau equalitas pupil dan reaksinya terhadap cahayaatau setiap penyimpangan dari salah satu sisi.8. Gigi Perawat harus mengamati apakah gigi apsien terkunci atau terbuka9. Pernapasan Frekuensi, kualitas, atau tidak adanya napas serta adanya sianosis harus diamati10. Aktivitas tubuhInkontinens, muntah, salivasi, dan perdarahan dari mulut atau lidah harus dilaporkan

11. Setelah kejangkadang setelah kejang terjadi paralisis transien, kelemahan, kebas, semutan, disfasia, cedera lain, periode pastikal, atau amnesia mengenai kejangdan peristiwasebelum dan sesudah kejang12. faktor-faktor pencetusdengan berbicara pada pasien, perawat dapat menentukan faktor pencetus. Demem, stres emosional atau psikis dan antikonvulsan. Ketidakpatuhan semua dapat mencetuskan kejangDIAGNOSA DAN INTERVENSIDIAGNOSA KEPERAWATANPerubahan perfusi jaringan b/d gangguan aliran darah cerebral atau peningkatan TIKKRITERIA HASIL/ TUJUANKlien dapat mempertahankan tekanan perfusi cerebral sedikitnya 50 mmHgKlien dapat mempertahankan TIK kurang lebih 15 mmHgTingkat kesadaran tidak menyimpang dibawah normalINTERVENSILaporkan tekanan perfusi cerebral kurang dari 50 mmHgLaporkan kenaikan TIK datas 15 mmHgLaporkan penurunan GCSPertahankan kepala naik 300 tanpa adanya fleksi lleher atau fleksi pinggul lebih dari 90o dan tidak terjadi rotasi kepala berat

Meminimalkan frekuensi dan durasi suction jika diperlukan. Lakukan hiperventilasi dan hiperoksigenasi sebelum melakukan suction,dan batasi prosedur sampai 10 detik setiap kali Landasi aktivitas asuhan keperawatan pada TIK. Biarkan TIK untuk turun diantara aktifitasKoordinasi aktifitas dengan departemen lain untuk menghindari kenaikan TIK (missal sinar X,terapi,dsb). Berikan waktu istirahat yang cukupLaporkan perubahan kondisi pasien sebelum perubahan kritis TTV mengganggu perfusi serebralBerikan sedasi atau analgesic sesuai dengan pesanan Katakan pada pasien apa yang akan dilakukan padanya sebelum aktifitas dimulaiHindari percakapan disekitar tempat tidur pasien yang seharusnya tidak anda lakukan ketika pasien sadar penuhGunakan restrain hanya jika benar-benar dibutuhkan,karena perlawanan terhadap restrain akan meningkatkan tekanan inra torak dan intra abdomen sehingga membahayakan aliran darah vena dari kepalaLakukan latihan ROM pasif jika TIK labilHitung CPP jika terpasang pemantauan TIK dan aliran arteriMinimalkan aktifitas preoperative,berikan lingkungan yang tenang

DIAGNOSA2.Resiko tinggi terhadap perubahan sensori persepsi b/d perubahan tingkat kesadaran disorientasi,kerusakan keterampilan motorik,pembatasan atau lingkungan yang dikenalKRITERIA HASIL/TUJUANKlien menginterpretasikan stimulasi lingkungan dengan sesuaiINTERVENSILakukan orientasi dengan seringJelaskan tentang mesin-mesin,bumyi-bunyi,dan peran orang disekitar pasienBerbicaralah pada pasien seperti halnya ketika ia sadar Beri label disisi tempat tidur pasien tentang deficit pasien sehingga pemberi asuhan mengetahui (misalnya pasien tidak bias bicara)Berikan waktu yang cukup untuk tidur dan istirahat. Ubah pencahayaan dan kurangi stimulasi auditori uyntuk meningkatkan pola tidur normalBerikan cara alternative cara komuknokasi jika tidak mampu berbicaraPasang teknik stimulasi koma untuk menyadarkan pasaien dari komaBeri dorongan kunjungan keluarga dan bercakap-cakap pada pasien danm sarankan mereka untuk membawa benda-benda kesayangan pasien

DIAGNOSA3. Resiko nyeri b/d tanda-tanda meningeal (kaku leher,sakit kepala, fotofobia) dari hemiragi subarachnoidKRITERIA HASIL/ TUJUANKlien dapat menunjukkan skala nyeri pada angka 4 dari 1-10INTERVENSIAjarkan pasien untuk menggunakan skala peringkat nyeri sebelum memberikan analgesicBaringkan pasien untuk mencegah fleksi leher atau fleksi pinggul lebih dari 900Jaga agar ruangan tetap gelap untuk meminimalkan fotofobiaJaga lingkungan agar tetap tenangBerikan analgesic dengan waktu yang teratur sesuai pesanan untuk mencegah nyeri lepas dari control

DIAGNOSAResiko tinggi terhadap kelebihan volume b/d disfungsi neuro/hormonal hipovolemia yang digunakan untuk mengatasi hipospasme atau deficit b/d pembatasan cairan dan penggunaan osmotic untuk mengontrol TIKKRITERIA HASIL/TUJUANKlien dapat mempertahankan hidrasi yang adekuatINTERVENSICatat pemasukan dan haluaran TTV dan parameter hemodinamik setidaknya setiap 4 jamMelaporkan tanda-tanda kelebihan cairan,takipnea,takikardi,distensi vena leher,dan edema.Laporkan tanda-tanda deficit volume cairan : hipotensi.oligoria,membrane mukosa kering,turgor kulit buruk,keluhan hausAuskultasi dan catat bunyi nafas secara teraturHitung keseimbangan cairan setidaknya setiap 24 jamGunakan pompa IV untuk pemberian cairan yang adekuatLaporkan tanda-tanda peningkatan TIK atau perubahan tingkat kesadaranPentau nilai-nilai serum elektrolit

EVALUASIPemeriksaan neurologi yang lengkap harus dilakukan pada serangan kejang karena temuan fokal dapat membantu menentuksn asal dari beberapa aktivitas kejang. Sejalan dengan pemeriksaan neurologi, riwayat kesehatan harus dikumpulkan. Sering kali riwayat kesehatan akan menunjukkan faktor-faktor pencetus yang dapat menimbulkan kejang., bahkan pada pasien yang terkontrol dengan baik sekalipun. Beberapa pencetus yang umum dapat termasuk demam, cedera, gangguan tidur, penggunaan obat, kelemahan fisik, dan hiperventilasi. Stress emosional dari rumah atau lingkungan kerja juga menjadi faktor pencetus.

THANKS FOR YOUR ATTENTION

SEMOGA BERMANFAAT