Budaya Dan Suku Minangkabau Versi 2003

  • View
    840

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Budaya Dan Suku Minangkabau Versi 2003

BUDAYA DAN SUKU MINANGKABAU

Penyusun

: Alfin Junianto Eka Herdyansyah

(04) (07)

SMK NEGERI 1 SIDOARJOKATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpah rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah yang berbentuk buku saku yang berjudul BUDAYA DAN SUKU MINANGKABAU Laporan dalam buku saku ini kami susun berdasarkan sumbersumber yang dapat dipertangung jawabkan kebenaranya. Sehingga buku saku ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan. kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada : -Drs. Suhadak yang turut membantu serta guru pembimbing mata pelajaran IPS Besar harapan saya agar buku saku ini dapat disetujui oleh semua pihak.

Sidoarjo, 10 November 2011

Penyusun

DAFTAR ISI Halaman judul..............................................................I

Kata Pengantar............................................................II Daftar isi....................................................................III Pendahuluan.................................................................1 Letak geografis Minangkabau......................................2 Bahasa Sehari-Hari.......................................................3 Sistem religi, agama yang umum.................................4 Upacara adat agama.....................................................5Sistem kekerabatan..............................................................8 Pemanggilan pada sanak keluarga.......................................9 Sistem perkawinan..............................................................12 Sistem ekonomi...................................................................13 Adat istiadat........................................................................14 Seni tari, alat musik, lagu daerah, dan makanan khas........ Hasil kerajinan, baju adat...................................................

PENDAHULUANMinangkabau atau lebih singkatnya Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat

Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak (bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri), Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam, sedangkan Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur. Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia, Selain itu, etnik ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum.

Letak Geografis Peta yang menunjukan wilayah persebaran kelompok etnis Minangkabau di pulau Sumatera.

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo. Berikut letak geografis Minangkabau.

Bahasa Sehari-Hari Suku Minangkabau

Bahasa Minangkabau merupakan salah satu anak cabang bahasa Austronesia. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu, ada yang menganggap bahasa yang dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau merupakan bahasa proto-Melayu. Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya masing-masing.

Sistem Religi, Agama yang umum

Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, jika ada masyarakatnya keluar dari agama islam (murtad), secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut "dibuang sepanjang adat". Agama Islam diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan Minangkabau, dan Sungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan pedalaman Minangkabau. Serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang Siak merujuk kepada orang-orang yang ahli dan tekun dalam agama Islam, masih tetap digunakan di dataran tinggi Minangkabau. Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat ini dari beberapa bukti arkeologis menunjukan pernah memeluk agama Buddha terutama pada masa kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, sampai pada masa-masa pemerintahan Adityawarman dan anaknya Ananggawarman. Kemudian perubahan struktur kerajaan dengan munculnya Kerajaan Pagaruyung yang telah mengadopsi Islam dalam sistem pemerintahannya, walau sampai abad ke-16, Suma Oriental masih menyebutkan dari 3 raja Minangkabau hanya satu yang telah memeluk Islam.

Upacara Adat di Minangkabau

1. Upacara Sepanjang Kehidupan Manusia Upacara sepanjang kehidupan manusia ini dapat pula dibedakan sbb: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan Upacara Karek Pusek (Kerat pusat) Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah) Upacara Sunat Rasul Mengaji di Surau Tamat Kaji (khatam Quran)

Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb: 1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama. Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan. Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.

2.

3. 4. 5. 6.

7.

Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk) Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako) Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat) Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan) Doa talakin panjang di kuburan Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari. Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah, membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat. Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat. Para pemangku adat mengadakan pertemuan terlebih dahulu, bila diadakan gotong royong memperbaiki tali bandar dan turun kesawah. Untuk menyatakan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh dari hasil pertanian biasanya diadakan upacara-upacara yang bersifat keluarga maupun melibatkan masyarakat yang ada dalam kampung. Pada masa dahulu diadakan pula upacara maulu tahun (hulu tahun), maksudnya pemotongan padi yang pertama sebelum panen keseluruhan. Diadakan upacara selamatan dengan memakan beras hulu tahun ini. Upacara dihadiri oleh Ulama dan Ninik mamak serta sanak keluarga. Adapun acara yang berkaitan dengan turun kesawah ini adalah sbb: 1. Gotong royong membersihkan tali bandar

2. 3. 4. 5. 6.

Turun baniah, maksudnya menyemaikan benih Turun kasawah (turun ke sawah) Batanam (bertanam) Anta nasi (megantarkan nasi) Basiang padi (membersihkan tanaman yang mengganggu padi) 7. Tolak bala (upacara untuk menolak segala malapetaka yang mungkin menggagalkan pertanian) 8. Manggaro buruang (mengusir burung) 9. Manuai (menuai), manyabik padi (potong padi) 10. Makan ulu tahun (makan hulu pertahunan) 11. Tungkuk bubuang (telungkup bubung) 12. Zakat 3. Upacara Selamatan Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam mas

Search related