Click here to load reader

Arti Lambang Minangkabau

  • View
    893

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Arti Lambang Minangkabau

Arti Lambang Minangkabau -Tuah Sakatoby Kunjungi Sumatera Barat on Thursday, July 30, 2009 at 3:12pm

Tuah Sakato : Lambang Masyarakat Nan Sakato. "Saciok bak Ayam Sadanciang bak Basi." Bola-Bulan Bintang : Lambang Tauhid Islam. Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah Alquran. Tanduk Kerbau : Lambang Kearifan, Kecerdikan, Ketekunan dan Keuletan. Alun takilek lah takalam, Hiduik baraka, Baukue jo bajangko. Payung Panji : Lambang Kemuliaan, Keamanan, dan Kesejahteraan Masyarakat. Bumi Sanang Padi Manjadi, Padi masak Jagung maupie, Anak Buah sanang santosa, Taranak bakambang biak, Bapak kayo Mandeh batuah, Mamak disambah urang pulo. Keris dan Pedang : Lambang kesatuan Hukum Adat dan Hukum Islam untuk menjamin ketertiban masyarakat. Tombak : Lambang Ketahanan Masyarakat. Kampuang nan bapaga buek Nagari bapaga Undang Tagak basuku - mamaga suku Tagak bakampuang - mamaga kampuang Tagak ba nagari - mamaga nagari Marawa. Lambang Wilayah Adat Luhak nan Tigo Warna Kuning Lambang Luhak Tanah Datar Warna Merah Lambang Luhak Agam Warna Hitam Lambang Luhak 50 Kota Pemasangan Merawa : Warna Hitam menyatu dengan tiang, Warna Merah ditengah, Warna Kuning dibagian luar. Sumber : Adat Minang Kabau; Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang Arti Lambang Tuah Sakato ARTI BENTUK Bentuk perisai persegi lima, melambangkan bahwa propinsi Sumatera Barat adalah merupakan salah satu dari daerah-daerah propinsi dalam lingkungan wilayah

negara kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. ARTI GAMBAR

Rumah Gadang/Balai Adat adalah tempat bermufakat atau tempat lahirnya filsafat alam pikiran Minangkabau yang mashur, demokrasi menurut alur dan patut sebagai lambang konsekwen melakanakan demokrasi. Atap Masjid Bertingkat Tiga dan Bergonjong Satu melambangkan salah satu dari bentuk

rumah ibadah yang khas menurut arsitektur alam Minangkabau asli, yang melambangkan agama Islam sebagai salah satu agama yang pada umumnya dipeluk masyarakat. Bintang Segi Lima melukiskan nur cahaya dari pada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. tap Rumah Gadang/Balai Adat Minangkabau Bergaya Tajam dan Runcing ke Atas merupakan gaya pergas yang tangkas dalam seni bangunan khas alam Minangkabau yang melambangkan sifat rakyatnya yang dinamis, bekerja keras dan bercita-cita luhur untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Empat Buah Gonjong Rumah Adat/Balai Adat dan Sebuah Gonjong Mesjid yang Menjulang Tinggi Keangkasa melambangkan keluruhan sejarah Minangkabau dari zaman ke zaman dalam semboyan kata 'Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabulah '. Gelombang Air Laut adalah suatu lambang dinamika dari masyarakt Minangkabau. ARTI MOTTO 'Tuah Sakato' berarti sepakat untuk melaksanakan hasil mufakat/musyawarah dan sebagai slogan kata (tanda kebesaran) yang terkandung dalam pribahasa Indonesia 'Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh' ARTI WARNA Warna dalam lambang ini berarti/bermakna, Putih berarti suci, Merah Jingga berarti berani, Kuning Emas berarti agung, Hitam Pekat berarti abadi, tabah, ulet/tahan tapo, Hijau Cerah Bersrti harapan masa depan.

(Telematika) Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Akurasi Terperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Sumatera Barat Provinsi

Lambang

Motto: Tuah Sakato

Peta lokasi Sumatera Barat

Negara Ibu kota Koordinat Pemerintahan - Gubernur Luas

Indonesia Padang 3 50' LS - 1 20' LU 98 10' - 102 10' BT Prof. DR. Irwan Prayitno, M.Sc (20102015)

- Total 42.297,30 km2 Populasi (2010)[1] - Total 4.845.998 - Kepadatan 114,6/km Demografi Minangkabau (88,35%), Batak - Suku bangsa (4,42%), Jawa (4,15%), Mentawai (1,28%), Lain-lain (1,8%) [2] Islam (98%), Kristen (1,6%), Buddha - Agama (0,26%), Hindu (0,01%) Bahasa Minangkabau, Bahasa Melayu/ - Bahasa Bahasa Indonesia Zona waktu WIB Kabupaten 12 Kota 7 Kecamatan 147 Desa/kelurahan 877 Ayam Den Lapeh, Kampuang Nan Jauah di Mato, Kambanglah Bungo, Lagu daerah Minangkabau, Bareh Solok, Tinggalah Kampuang. Situs web www.sumbarprov.go.id Sumatera Barat adalah sebuah provinsi yang terletak di pesisir barat pulau Sumatera, Indonesia dan merupakan provinsi terluas kesebelas di Indonesia dengan ibukota Padang.

Provinsi ini identik dengan kampung halaman Minangkabau,[3] dan pernah menjadi kawasan penghasil emas kemudian menjadi kawasan sentra produksi lada atau merica, serta memainkan peranan penting dalam perdagangan yang melibatkan para pedagang dari India, China, Arab, Portugis kemudian Inggris dan Belanda.

Daftar isi[sembunyikan]

1 Sejarah 2 Kondisi dan sumber daya alam o 2.1 Geografi o 2.2 Keanekaragaman hayati o 2.3 Sumber daya alam 3 Kependudukan o 3.1 Suku bangsa o 3.2 Bahasa o 3.3 Agama 4 Pemerintahan o 4.1 Perwakilan o 4.2 Pemerintahan nagari 5 Pendidikan 6 Perekonomian o 6.1 Tenaga kerja o 6.2 Pertanian & Perkebunan o 6.3 Industri o 6.4 Jasa o 6.5 Pertambangan o 6.6 Ekspor & Impor o 6.7 Keuangan & Perbankan o 6.8 Transportasi 7 Pariwisata, Seni dan Budaya o 7.1 Pariwisata o 7.2 Musik o 7.3 Tarian tradisional o 7.4 Rumah Adat o 7.5 Senjata Tradisional o 7.6 Makanan 8 Pers dan media 9 Rujukan 10 Bacaan lainnya 11 Lihat pula 12 Pranala luar

[sunting] SejarahArtikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Sumatera Barat Kediaman gubernur Westkust van Sumatra atau "pantai barat Sumatera" (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard, 1883-1889) Kawasan Sumatera Barat pada masa lalu merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung. Setelah perjanjian yang dibuat oleh pemuka Adat serta kerabat Yang Dipertuan Pagaruyung, dan berakhirnya Perang Padri, kawasan ini menjadi dalam pengawasan Belanda.[4] Selanjutnya dalam perkembangan adminisitrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, daerah ini tergabung dalam Gouvernement Sumatra's Westkust yang juga mencakup daerah Tapanuli, kemudian tahun 1905 wilayah Tapanuli menjadi Residentie Tapanuli selain Residentie Padangsche Benedenlanden dan Residentie Padangsche Bovenlanden. Kemudian di tahun 1914, Gouvernement Sumatra's Westkust, diturunkan statusnya menjadi Residentie Sumatra's Westkust dan di tahun 1935 wilayah Kerinci digabungkan ke dalam Residentie Sumatra's Westkust.[5] Pada masa pendudukan tentara Jepang Residentie Sumatra's Westkust berubah nama menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu serta daerah Bangkinang dikeluarkan masuk ke dalam wilayah Riau Shu Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Sumatera Barat tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Provinsi Sumatera kemudian dipecah menjadi tiga, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat merupakan bagian dari keresidenan didalam provinsi Sumatera Tengah beserta Riau dan Jambi. Berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1957, Sumatera Tengah kemudian dipecah lagi menjadi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, residensi Sumatera Barat, digabungkan ke dalam provinsi Jambi sebagai kabupaten tersendiri. Pada awalnya ibukota provinsi baru ini adalah Bukittinggi, namun kemudian dipindahkan ke Padang.

[sunting] Kondisi dan sumber daya alam

[sunting] Geografi

Danau Diatas, salah satu danau di Solok

Pulau sikuai, salah satu kawasan wisata bahari di Padang Sumatera Barat berada di bagian barat tengah pulau Sumatera, memiliki dataran rendah di pantai barat, serta dataran tinggi vulkanik yang dibentuk Bukit Barisan membentang dari barat laut ke tenggara. Garis pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia sepanjang 375 km. Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia dan beberapa puluh kilometer lepas pantai Sumatera Barat termasuk dalam provinsi ini. Sumatera Barat memiliki beberapa danau diantaranya Maninjau (99,5 km), Singkarak (130,1 km), Diatas (31,5 km), Dibawah (Dibaruh) (14,0 km) dan Talang (5,0 km). Beberapa sungai besar di pulau Sumatera berhulu di provinsi ini, diantaranya Sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Inderagiri (disebut sebagai Batang Kuantan di bagian hulunya), Sungai Kampar dan Batang Hari. Semua sungai ini bermuara di pantai timur Sumatera, di provinsi Riau dan Jambi. Sementara sungai-sungai yang bermuara di pantai barat berjarak pendek. Beberapa di antaranya adalah Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan. Gunung-gunung di Sumatera Barat adalah Marapi (2.891 m), Sago (2.271 m), Singgalang (2.877 m), Tandikat (2.438 m), Talamau (2.912 m), Talang (2.572 m), Pasaman (2.190

m), Kelabu (2.179 m), Rasan (2.039 m), Mande Rubiah (2.430 m), Tambin (2.271 m), Ambun (2.060 m).

[sunting] Keanekaragaman hayatiSumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber keanekaragaman hayati. Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan dilindungi. Berbagai spesies langka masih dapat dijumpai, misalnya Rafflesia arnoldii (bunga terbesar di dunia), harimau sumatera, siamang, tapir, rusa, beruang, dan berbagai jenis burung dan kupu-kupu. Terdapat dua Taman Nasional di provinsi ini, yaitu Taman Nasional Siberut yang terdapat di pulau Siberut (Kabupaten Kepulauan Mentawai) dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman nasional terakhir ini wilayahnya membentang di empat provinsi: Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Selain kedua Taman Nasional tersebut terdapat juga beberapa cagar alam lainnya, yaitu Cagar Alam Rimbo Panti, Cagar Alam Lembah Anai, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Air Putih di daerah Kelok Sembilan, Cagar Alam Lembah Harau, Cagar Alam Beringin Sakti dan Taman Raya Bung Hatta.

[sunting] Sumber daya alamBatubara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, manganase, emas, batu kapur (semen), kelapa sawit, kakao, gambir dan perikanan.

[sunting] Kependudukan

Masjid Jami di Agam

Gereja Katholik peninggalan Belanda di Sawahlunto

[sunting] Suku bangsaArtikel utama untuk bagian ini adalah: Suku Minangkabau dan Suk

Search related