of 36 /36
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi 2.1.1 Pengertian Investasi Investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang dana tersebut (Ahmad, 2004). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa investasi adalah penyaluran sumber dana yang ada sekarang dengan mengharapkan keuntungan dimasa mendatang dengan cara menempatkan uang atau dana dalam pembelian efek berupa saham dengan harapan mendapatkan keuntungan atas dana yang diinvestasikan dalam perdagangan saham tersebut di bursa efek. 2.1.2 Tipe-Tipe Investasi Menurut Jogiyanto (2003), investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara yang lain. Sebaliknya investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan investasi yang membeli portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi 2.1.1 Pengertian ...digilib.unila.ac.id/16191/18/BAB II.pdf · BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi 2.1.1 Pengertian Investasi ... dilakukan

  • Author
    lytuong

  • View
    229

  • Download
    12

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi 2.1.1 Pengertian ...digilib.unila.ac.id/16191/18/BAB...

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Investasi

    2.1.1 Pengertian Investasi

    Investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk

    memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang dana tersebut (Ahmad,

    2004). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa investasi adalah

    penyaluran sumber dana yang ada sekarang dengan mengharapkan keuntungan

    dimasa mendatang dengan cara menempatkan uang atau dana dalam pembelian

    efek berupa saham dengan harapan mendapatkan keuntungan atas dana yang

    diinvestasikan dalam perdagangan saham tersebut di bursa efek.

    2.1.2 Tipe-Tipe Investasi

    Menurut Jogiyanto (2003), investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa

    investasi langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan

    dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui

    perantara atau dengan cara yang lain. Sebaliknya investasi tidak langsung

    dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan investasi yang membeli

    portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain.

  • 11

    a. Investasi Langsung

    Investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang dapat

    diperjual-belikan di pasar uang (money market), pasar modal (capital market),

    atau pasar turunan (derivative market). Pasar uang bersifat untuk jangka pendek

    karena aktiva yang dapat diperjual-belikan di pasar uang berupa aktiva yang

    mempunyai risiko gagal kecil. Salah satu contohnya adalah sertifikat deposito

    yang dapat dinegosiasi (dapat dijual kembali). Berbeda dengan pasar uang, pasar

    modal lebih bersifat untuk investasi jangka panjang. Yang diperjual-belikan di

    pasar modal adalah aktiva keuangan berupa surat-surat berharga pendapatan tetap

    (fixed-income securities) dan saham-saham (securities). Surat-surat berharga

    yang dapat diperdagangkan di pasar turunan (derivative market) adalah opsi

    (option) dan future contract. Disebut dengan surat-surat berharga turunan karena

    nilainya merupakan jabaran dari surat berharga lain yang terkait. Contoh dari opsi

    (option) misalnya adalah waran (warrant).

    b. Investasi Tidak Langsung

    Investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli surat-surat berharga dari

    perusahaan investasi. Perusahaan investasi adalah perusahaan yang menyediakan

    jasa keuangan dengan cara menjual sahamnya ke publik dan menggunakan dana

    yang diperoleh untuk diinvestasikan ke dalam portofolionya.

    2.1.3 Tujuan Investasi

    Menurut Tandelilin (2010) ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan

    investasi, antara lain sebagai berikut:

  • 12

    a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang. Seseorang

    yang bijaksana akan berfikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari

    waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan

    tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa

    yang akan datang.

    b. Mengurangi tekanan inflasi. Dengan melakukan investasi dalam pemilikan

    perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko

    penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.

    c. Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa negara di dunia banyak

    melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di

    masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang

    melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.

    2.1.4 Proses Investasi

    Menurut Tandelilin (2010) proses investasi meliputi pemahaman dasar-dasar

    keputusan investasi dan bagaimana mengorganisir aktivitas-aktivitas dalam

    proses keputusan investasi. Hal mendasar dalam proses keputusan investasi

    adalah pemahaman hubungan antara return harapan dan risiko suatu investasi.

    Hubungan risiko dan return harapan dari suatu investasi merupakan hubungan

    yang searah dan linier. Artinya, semakin besar return harapan, semakin besar

    pula tingkat risiko yang harus di pertimbangkan. Ada beberapa proses investasi

    yaitu (Tandelilin, 2010):

  • 13

    a. Dasar Keputusan Investasi

    Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return harapan, tingkat risiko serta

    hubungan antara return dan risiko. Berikut ini akan dibahas masing-masing dasar

    keputusan investasi:

    1. Return

    Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh keuntungan.

    Pada konteks manajemen investasi, tingkat keuntungan investasi disebut

    sebagai return. Pada konteks manajemen investasi, perlu dibedakan antara

    return harapan (expected return) dan return aktual atau yang terjadi

    (realized return). Return harapan merupakan tingkat return yang

    diantisipasi investor di masa datang. Sedangkan return yang terjadi atau

    return aktual merupakan tingkat return yang telah diperoleh investor pada

    masa lalu.

    2. Risiko

    Sudah sewajarnya jika investor mengharapkan return yang setinggi-

    tingginya dari investasi yang dilakukannya. Tetapi, ada hal penting yang

    harus selalu dipertimbangkan yaitu berapa besar risiko yang harus

    ditanggung dari investasi tersebut. Umumnya semakin besar risiko, maka

    semakin besar pula tingkat return harapan.

    3. Hubungan Tingkat Risiko dan Return Harapan

    Hubungan tingkat risiko dan return harapan merupakan hubungan yang

    bersifat searah dan linier. Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin

    besar pula return harapan atas aset tersebut, demikian sebaliknya.

  • 14

    b. Proses Keputusan Investasi

    Proses keputusan investasi merupakan proses keputusan yang berkesinambungan

    (going process). Proses keputusan investasi terdiri dari lima tahap keputusan

    yang berjalan terus-menerus sampai tercapai keputusan investasi yang terbaik.

    Tahap-tahap keputusan investasi meliputi lima tahap keputusan, yaitu:

    1. Penentuan Tujuan Investasi

    Tujuan investasi masing-masing investor bisa berbeda-beda tergantung

    pada investor yang membuat keputusan tersebut. Investor biasanya lebih

    menyukai investasi pada sekuritas yang mudah diperdagangkan ataupun

    pada penyaluran kredit yang lebih berisiko tetapi memberikan harapan

    return yang tinggi.

    2. Penentuan Kebijakan Investasi

    Tahapan ini dimulai dengan penentuan keputusan alokasi aset (asset

    allocation decision). Keputusan ini menyangkut pendistribusian dana yang

    dimiliki pada berbagai kelas aset yang tersedia (saham, obligasi sekuritas

    luar negeri).

    3. Pemilihan Strategi Portofolio

    Strategi portofolio yang dipilih harus konsisten dengan dua tahap

    sebelumnya. Ada dua strategi portofolio yang bisa dipilih, yaitu strategi

    portofolio aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio aktif

    meliputi kegiatan penggunaan informasi yang tersedia dan teknik-teknik

    peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang lebih baik.

  • 15

    Strategi portofolio pasif meliputi aktivitas informasi pada portofolio yang

    seiring dengan kinerja indeks pasar.

    4. Pemilihan Aset

    Setelah strategi portofolio ditentukan, tahap selanjutnya adalah pemilikan

    aset-aset yang akan dimasukkan dalam portofolio. Tahap ini memerlukan

    pengevaluasian setiap sekuritas yang ingin dimasukkan dalam portofolio.

    Tujuan tahap ini adalah untuk mencari kombinasi portofolio yang efisien,

    yaitu portofolio yang menawarkan returndiharapkan tertinggi dengan

    tingkat risiko tertentu atau sebaliknya menawarkan return diharapkan

    tertentu dengan tingkat risiko terendah.

    5. Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Portofolio

    Jika tahap pengukuran dan evaluasi kinerja telah dilewati dan ternyata

    hasilnya kurang baik, maka proses keputusan investasi harus dimulai lagi

    dari tahap pertama, demikian seterusnya sampai dicapai keputusan investasi

    yang paling optimal.

    2.2 Pasar Modal dan Saham

    2.2.1 Pengertian Pasar Modal

    Menurut Ahmad (2004), pasar modal merupakan sarana pembentuk modal

    akumulasi dana yang diarahkan, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat

    dalam pengerahan dana guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional.

    Pasar modal adalah sarana mempertemukan antara pihak memiliki dana (surplus

    fund) dengan pihak yang kekurangan dana (defisit fund), dimana dana yang

  • 16

    diperdagangkan merupakan dana jangka panjang (P3E Semarang dalam Anogara,

    et al, 2001).

    Menurut Jogiyanto (2003), pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk

    meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau

    mengeluarkan obligasi. Saham merupakan bukti pemilikan sebagian dari

    perusahaan. Obligasi (bond) merupakan suatu kontrak yang mengharuskan

    peminjam untuk membayar kembali pokok pinjaman ditambah dengan bunga

    dalam kurun waktu tertentu yang sudah disepakati. Untuk menarik pembeli dan

    penjual untuk berpartisipasi, pasar modal harus bersifat likuid dan efisien. Suatu

    pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat menjual dan pembeli dapat

    membeli surat-surat berharga dengan cepat. Pasar modal dikatakan efisien jika

    harga dari surat-surat berharga mencerminkan nilai dari perusahaan secara akurat.

    2.2.2 Instrumen Pasar Modal

    Instrumen pasar modal adalah semua surat-surat berharga (securities) yang

    diperdagangkan di bursa. Instrumen pasar modal ini umumnya bersifat jangka

    panjang. Instrumen yang sudah ada di pasar modal terdiri dari saham, obligasi,

    dan sertifikat. Sekuritas yang diperdagangkan di bursa efek adalah saham,

    obligasi, sedangkan sertifikat diperdagangkan di luar bursa melalui bank

    pemerintah (Anogara, 2001).

    2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pasar Modal

    Menurut Rijayanto (1990) dalam Anoraga (2006) Perkembangan suatu pasar

    modal dipengaruhi oleh partisipasi yang aktif, baik dari perusahaan yang akan

  • 17

    menjual sahamnya (go public) maupun investor serta pihak-pihak lain yang

    terlibat dalam kegiatan pasar modal. Dengan ini dapat diartikan bahwa ada

    beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan atau transaksi dalam pasar

    modal seperti partisipasi aktif dari perusahaan yang potensial untuk go public,

    peran aktif para investor untuk menanamkan dananya dengan membeli surat

    berharga, dan adanya lembaga-lembaga pasar modal. Dengan adanya faktor

    tersebut ditambah dengan kualitas yang memadai dan perilaku baik dan rasa

    tanggung jawab sosial yang besar dapat meningkatkan perkembangan bagi pasar

    modal. Selain itu, peraturan dan pengawasan terhadap pasar modal juga ikut

    mempengaruhi perkembangan pasar modal. Dengan adanya peraturan dan

    pengawasan yang memadai dan efektif maka akan mendorong investor untuk

    terjun ke dalam pasar modal.

    2.2.4 Pengertian Saham

    Jogiyanto (2007) mendefinisikan saham sebagai bukti kepemilikan suatu

    perusahaan atau bukti penanaman modal yang dilakukan oleh investor pada

    perusahaan yang membutuhkan tambahan modal. Pada umumnya saham dapat

    diklasifikasikan berdasarkan hak atas kepemilikannya berupa saham preferen dan

    saham biasa, yaitu:

    a. Saham Preferen

    Saham preferen merupakan jenis saham yang bersifat gabungan antara surat

    obligasi dan saham biasa. Investor yang memiliki saham preferen memiliki hak

    atas pembagian dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu apabila terjadi

  • 18

    likuidasi. Oleh karena itu saham preferen dianggap mempunyai risko yang lebih

    kecil dibandingkan dengan saham biasa.

    b. Saham Biasa

    Saham biasa adalah jenis saham yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagai bukti

    kepemilikan suatu perusahaan yang menempatkan pemegang saham biasa

    memiliki hak pembagian dividen dan hak atas harta perusahaan setelah pemegang

    saham preferen. Dalam setiap kegiatan investasi tentunya para investor

    mengharapkan suatu keuntungan dari setiap kegiatan investasi yang dilakukan.

    Secara umum, terdapat dua keuntungan yang dapat diperoleh investor dalam

    membeli atau memiliki saham suatu perusahaan, yaitu:

    1) Dividen

    Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan oleh perusahaan

    berdasarkan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dinamakan dividen.

    Dividen diberikan kepada pemegang saham setelah mendapat persetujuan dari

    pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dividen yang

    dibagikan oleh perusahaan dapat berupa dividen tunai yaitu dividen berupa uang

    tunai untuk setiap lembar saham yang dimiliki. Selain dividen tunai, pemegang

    saham dapat menerima dividen dalam bentuk saham yaitu para pemegang saham

    diberikan dividen dalam bentuk saham, sehingga jumlah saham yang dimiliki

    investor akan bertambah.

  • 19

    2) Capital Gain

    Capital Gain merupakan selisih antara harga beli saham saat ini dan harga jual

    saham di masa yang akan datang. Capital gain terbentuk berdasarkan harga

    saham yang meningkat dari waktu ke waktu. Investor yang melakukan kegiatan

    investasi jangka pendek atau jual beli saham (trader) sangat antusias terhadap

    capital gain, karena capital gain merupakan salah satu bentuk return saham yang

    sangat cepat berfluktuasi setiap waktunya.

    2.3 Efisiensi Pasar

    2.3.1 Definisi Efisiensi Pasar Modal

    Secara umum, efisiensi pasar (market efficiency) didefinisikan oleh Beaver

    (1989) dalam Jogiyanto (2003) sebagai hubungan antara harga-harga sekuritas

    dengan informasi. Pasar modal dikatakan efisien bila informasi dapat diperoleh

    dengan mudah dan murah oleh pemakai modal, sehingga semua informasi yang

    relevan dan terpercaya telah tercermin dalam harga-harga saham (Brealey/Myers

    dalam Anoraga, 2001).

    Ciri penting dari efisiensi pasar adalah gerakan acak (random walk) dari harga

    pasar saham. Samuelson (1986) dalam Anogara (2001), menjelaskan bahwa

    karena pasar modal efisien, maka harga saham secara cepat bereaksi terhadap

    berita-berita baru yang tidak terduga, sehingga arah gerakannya pun tidak bisa

    diduga. Sepanjang sesuatu kejadian bisa diduga, kejadian itu sudah tercermin

    pada harga pasar.

  • 20

    2.3.2 Pengertian Informasi

    Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena

    informasi pada hakikatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran, baik

    untuk keadaan masa lalu, saat ini, maupun keadaan masa yang akan datang bagi

    kelangsungan suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi

    merupakan faktor yang memberikan arti penting bagi si penerima, khususnya

    dalam hal untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, informasi yang lengkap,

    relevan, akurat, dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor.

    Menurut Ang (1997) dalam Anogara (2001), informasi merupakan kunci sukses

    berinvestasi di pasar modal. Semakin cepat dan semakin banyak informasi yang

    penting yang anda serap maka anda akan semakin mempunyai kesempatan untuk

    meraih keuntungan yang besar dan tidak normal yang terjadi di lantai bursa efek.

    Jadi, informasi mempunyai peranan yang sangat penting yang harus didapatkan

    oleh setiap pemodal dalam berbagai hal. Beberapa pertimbangan penting

    mengenai informasi di pasar modal meliputi faktor-faktor, yaitu kualitas

    informasi, jenis informasi, kecepatan informasi, volume informasi.

    2.3.3 Informasi Dalam Keputusan Investasi

    Keputusan dalam investasi berkaitan dengan informasi. Hasil keputusan ini

    sangat ditentukan oleh informasi yang memiliki decision maker. Informasi

    merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan

    bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau masa yang akan datang

    Wijanto (1991) dalam Anogara (2001). Sifat yang harus dimiliki oleh informasi

    tersebut menurut Anogara (2001) adalah:

  • 21

    a) Relevan,

    b) Akurat,

    c) Konsisten/komparabilitas,

    d) Obyektivitas,

    e) Ketepatan waktu,

    f) Dapat dimengerti

    Secara umum dapat dikatakan bahwa informasi berguna jika dapat membantu

    penilaian dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan investasi. Dengan

    kata lain, seorang pengambil keputusan (investor) akan membuat keputusan yang

    lebih baik jika menggunakan informasi yang tepat.

    Menurut Jogiyanto (2003) secara detail, efisiensi pasar dapat didefinisikan dalam

    beberapa macam definisi, yaitu:

    1. Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Nilai Intrinsik Sekuratis

    Konsep awal dari efisiensi pasar yang berhubungan dengan informasi

    laporan keuangan berasal dari praktek analis sekuritas yang mencoba

    menemukan sekuritas-sekuritas dengan harga yang kurang benar

    (mispriced). Sekuritas-sekuritas yang dihargai kurang benar (mispriced)

    merupakan sekuritas-sekuritas yang harganya menyimpang dari nilai

    intrinsiknya atau nilai fundamentalnya.Untuk konteks seperti ini, maka

    efisiensi pasar (market efficiency) diukur dari seberapa jauh harga-harga

    sekuritas menyimpang dari nilai intrinsiknya.

    2. Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Akurasi dari Ekspektasi Harga

    Menurut Fama (1970) dalam Jogiyanto (2003) suatu pasar sekuritas

    dikatakan efisien jika harga-harga sekuritas mencerminkan secara penuh

    informasi yang tersedia.Definisi dari Fama menekankan pada dua aspek,

  • 22

    yaitu fully reflect dan information available. Pengertian dari fully

    reflect menunjukkan bahwa harga dari sekuritas secara akurat

    mencerminkan informasi yang ada. Pasar dikatakan efisien menurut Fama

    ini jika dengan menggunakan informasi yang tersedia (information

    available), investor-investor secara akurat dapat mengekspektasi harga dari

    sekuritas bersangkutan.

    3. Definisi Efisiensi Pasar Berdasarkan Distribusi Informasi

    Definisi efisiensi pasar sebelumnya yang hanya menekankan pada akurasi

    harga akibat informasi yang tersedia mengabaikan distribusi dari

    informasinya.Beaver (1989) dalam Jogiyanto (2003) memberikan definisi

    efisiensi pasar yang didasarkan pada distribusi informasi yaitu pasar

    dikatakan efisien terhadap suatu informasi, jika harga-harga sekuritas

    bertindak seakan-akan setiap orang mengamati sistem informasi tersebut.

    Definisi ini secara implisit mengatakan bahwa jika setiap orang mengamati

    suatu sistem informasi yang menghasilkan informasi, maka setiap orang

    dianggap mendapatkan informasi yang sama. Definisi Beaver ini

    mempunyai arti bahwa pasar dikatakan efisien terhadap satu set informasi

    yang spesifik (dihasilkan dari suatu sistem informasi) jika harga yang

    terjadi setelah informasi diterima oleh pelaku pasar sama dengan harga

    yang akan terjadi jika setiap orang mendapatkan set informasi tersebut atau

    disebut dengan full-information price.

    4. Definisi Efisiensi Pasar Didasarkan pada Proses Dinamik

    Awal dari literatur efisiensi pasar mengasumsikan bahwa kecepatan

    penyesuaian (speed of adjustment) dari harga sekuritas karena penyebaran

  • 23

    informasi yang ada terjadi dengan seketika.Konsep terbaru dari efisiensi

    pasar tidak mengharuskan kecepatan penyesuaian harus terjadi dengan

    seketika, tetapi terjadi dengan cepat (quickly) setelah informasi disebarkan

    untuk tersedia bagi semua orang.Jones (1995) dalam Jogiyanto (2003)

    memberikan definisi pasar efisien yang memasukkan unsur dari kecepatan

    penyesuaian yaitu suatu pasar yang efisien adalah pasar yang harga-harga

    sekuritasnya secara cepat dan penuh mencerminkan semua informasi yang

    tersedia terhadap aktiva tersebut.

    2.3.4 Bentuk-Bentuk Efisiensi Pasar

    Fama (1970) dalam Jogiyanto (2003), menyajikan tiga macam bentuk utama dari

    efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi, yaitu informasi

    masa lalu, informasi sekarang yang sedang dipublikasikan dan informasi privat

    sebagai berikut:

    a) Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form), pasar yang harga-harga

    sekutritasnya secara penuh mencerminkan (fully reflect) informasi masa

    lalu. Informasi ini merupakan informasi yang sudah terjadi, dimana data

    masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang. Fama (1970) dalam

    Anoraga (2001), efisiensi pasar bentuk lemah, mengandung arti bahwa

    kelebihan pendapatan atas dasar informasi historis mengenai harga dan

    pendapatan. Ini berarti historis dari harta atau pendapatan atas saham tidak

    akan memberikan dasar bagi peramalan yang paling baik tentang harga atau

    pendapatan yang akan datang. Ramalan dari efisiensi bentuk lemah

  • 24

    bertentangan langsung dengan kegiatan para peramal saham atau analisis

    teknis.

    b) Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semi strong form), pasar yang harga-

    harga dari sekuritasnya secara penuh mencerminkan semua informasi yang

    dipublikasikan. Informasi tersebut termasuk informasi yang berada di

    laporan-laporan keuangan perusahaan emiten.

    c) Efisiensi pasar bentuk kuat, pasar yang harga-harga dari sekuritasnya secara

    penuh mencerminkan semua informasi termasuk informasi privat. Jika

    pasar efisien dalam bentuk ini, maka tidak ada investor atau grup dari

    investor yang dapat memperoleh abnormal return karena mempunyai

    informasi privat.

    Salah satu jenis informasi privat adalah jenis informasi yang berasal dari orang

    dalam (insider information) yang mempunyai akses atas informasi berharga

    mengenai keputusan penting yang telah direncanakan oleh perusahaan. Sehingga

    dengan modal informasi tersebut mereka melakukan analisa dan mengambil

    posisi transaksi yang sesuai. Pada saat mengumumkan perseroan tersebut

    dikeluarkan, maka informasi tersebut menjadi tersedia bagi masyarakat dan akan

    meningkatkan harga saham tersebut. Informasi privat yang demikian mampu

    memberikan keuntungan abnormal yang konsisten bagi para pemodal yang

    memiliki informasi tersebut.

    Setiap investor menginginkan kondisi yang memberi berbagai kemudahan baik

    dalam informasi yang tersedia secara akurat dan pelayanan yang cepat. Dengan

    kondisi seperti itu maka keputusan informasi yang dibuat bisa menjadi lebih

  • 25

    cepat dan mampu dipertanggungjawabkan secara baik. Sebab dalam kondisi

    pasar yang jauh dari keakuratan informasi menyebabkan timbulnya spekulasi

    adalah jauh lebih tinggi dalam setiap analisa, dan jika ini berlanjut maka akan

    menyebabkan informasi itu menjadi mahal yang berujung menimbulkan kondisi

    pasar yang tidak sehat.

    Kondisi pasar yang efisien memberikan kondisi harga yang tidak bias, dan

    kondisi pasar yang tidak efisien memungkinkan timbulnya harga yang bias.

    Investor menginginkan berbagai informasi berlangsung secara baik dan terbuka

    tanpa ada yang ditutupi, dengan kondisi begitu reaksi investor adalah jelas dalam

    mengambil berbagai keputusan. Namun itu bisa terjadi sebaliknya pada saat

    informasi berlangsung secara tidak terbuka, investor mencoba untuk

    mengestimasi atau memperkirakan berbagai kondisi pasar yang akan terjadi di

    masa depan.

    2.4 Teori Asimetri Informasi

    2.4.1 Definisi Teori Asimetri Informasi

    Istilah informasi asimetris pertama kali diperkenalkan oleh George Akerlof pada

    tahun 1970. Informasi asimetris merupakan perbedaan informasi yang didapat

    antara salah satu pihak dengan pihak lainnya dalam kegiatan ekonomi (Akerlof,

    1970 dalam Prasetya, 2012). Menurut Brigham (2010) ketidaksamaan informasi

    (information asymmetry) adalah asumsi dimana investor dan manajer memiliki

    informasi yang berbeda (yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan daripada

    yang dimiliki oleh investor. Telah diketahui bahwa manajer perusahaan pasti

    lebih mengetahui tentang informasi berkaitan dengan kondisi dan prospek

  • 26

    perusahaan dibandingkan dengan investor atau analis, dampak yang mungkin

    muncul dengan adanya information asymmetry adalah timbulnya kegagalan

    pasar.

    Menurut Jogiyanto (2003), information asymmetry adalah kondisi yang

    menunjukkan sebagian investor mempunyai informasi dan yang lainnya tidak

    memilikinya. Atau informasi yang tidak simetris (information asymmetry) adalah

    informasi privat yang hanya dimiliki oleh investor-investor yang mendapat

    informasi saja (informed investor).

    Menurut Rock dalam Martani (2003) kesenjangan informasi (asymmetric

    information) terjadi antar investor yaitu investor yang memiliki informasi

    (informed investor) dan investor yang tidak memiliki informasi (uninformed

    investor). Investor yang memiliki informasi hanya akan membeli saham yang

    akan memberikan return tinggi dimasa mendatang, sedangkan investor yang

    tidak memiliki informasi akan membeli saham yang return-nya tinggi atau tidak.

    Informasi asimetris ini misalnya saja terjadi antara investor yang akan melakukan

    investasi di dalam pasar modal. Investor harus mengetahui saham dengan baik

    sebelum investor tersebut melakukan investasi. Hal ini membuat investor akan

    mencari tahu saham dengan lengkap serta tepat untuk perusahaan agar

    mendapatkan capital gain di masa mendatang. Namun, dalam pencarian

    informasi tidaklah mudah. Beberapa investor justru mendapatkan informasi yang

    sangat minim mengenai saham di pasar modal. Hal ini dikarenakan agen

    perusahaan tidak mungkin memberikan kondisi perusahaan secara lengkap

    kepada publik. Informasi tersebut merupakan rahasia perusahaan yang diberikan

  • 27

    kepada pihak terpercaya dan pada waktu yang tepat. Dalam menyikapi hal ini,

    investor yang cerdas akan mencari informasi kemudian melakukan analisis untuk

    mendapatkan gambaran yang tepat. Informasi yang didapat akan mengalami

    perbedaan antara investor dengan agen perusahaan, perbedaan inilah dinamakan

    information asymmetry (Prasetya, 2012).

    2.4.2 Tipe Information Asymmetry

    Menurut Scott (2003), ada dua tipe asimetri informasi yaitu:

    1. Adverse selection

    Adverse selection is a type of information asymmetry whereby one or more

    parties to a bussines transaction, or potential transaction, have an infromation

    advantage over other parties.

    Adverse selection adalah jenis asimetri informasi yang mana satu pihak atau lebih

    yang melangsungkan suatu transaksi usaha atau transaksi usaha potensial

    memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain. Adverse selection terjadi karena

    beberapa orang seperti manajer perusahaan dan para pihak dalam lainnya lebih

    mengetahui kondisi kini dan prospek ke depan suatu perusahaan, sehingga

    mengakibatkan pihak investor luar dirugikan.

    2. Moral Hazard

    Moral Hazard is a type of information asymmetry whereby one or more parties to

    a bussines transaction, or potential transaction, can observe their action in

    fullfillment of the transaction but other parties cannot.

  • 28

    Moral hazard adalah jenis asimetri informasi yang mana pihak pemegang saham

    atau pemberi pinjaman tidak dapat sepenuhnya mengamati kegiatan yang

    dilakukan oleh seorang manajer. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan

    yang dapat berdampak tidak baik bagi perusahaan dan pemegang saham.

    Ketidakseimbangan informasi pada umumnya dapat terjadi karena adanya

    transaksi jual beli antara para broker dan investor, dimana broker mengalami

    kekurangan informasi dan dilain pihak investor memiliki banyak informasi.

    Disamping itu, ketidakseimbangan informasi juga dapat terjadi apabila saham

    perusahaan dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah dari nilai pasarnya. Untuk

    meminimalisasi risiko tersebut para investor harus melakukan penelitian saham

    secara akurat agar bisa mendapatkan keuntungan.

    2.4.3 Pengukuran Information Asymmetry

    Pengukuran information asymmetry dalam penelitian ini, penulis menggunakan

    pengukuran pendekatan proksi bid-ask spread. Bagehot (1971) dalam Yassin

    (2015), kegiatan perdagangan yang mana didasarkan oleh informasi dapat

    diketahui dari perbedaan harga beli tertinggi dan harga jual terendah. Semakin

    besar informasi privat, semakin besar perbedaan harga jual tertinggi dengan harga

    beli terendah (bid-ask spread). Dengan kata lain semakin besar information

    asymmetry maka bid-ask spread pun akan meningkat.

    Kegiatan jual beli saham atau sekuritas lain di pasar modal, seorang investor

    biasanya menggunakan jasa dealer atau broker. Dealer atau broker inilah yang

    siap untuk menjual saham pada investor pada harga ask. Jika investor yang sudah

    memiliki saham ingin menjualnya maka dealer atau broker akan membeli saham

  • 29

    tersebut dengan harga bid. Perbedaan harga antara bid dan ask inilah yang

    dinamakan spread. Jadi bid-ask spread adalah selisih harga beli tertinggi saat

    dealer bersedia membeli suatu saham dan harga jual terendah dimana dealer

    bersedia untuk menjual saham tersebut (Diantimala dan Hartono, 2002) dalam

    Faramita (2011).

    Menurut Komalasari,dkk (2001) penggunaan bid-ask spread sebagai proksi dari

    asimetri informasi dikarenakan dalam mekanisme pasar modal, pelaku pasar juga

    menghadapi masalah keagenan. Partisipan pasar saling berinteraksi di pasar

    modal guna mewujudkan tujuannya yaitu membeli atau menjual sekuritas,

    sehingga aktivitas yang mereka lakukan utamanya dipengaruhi oleh informasi

    yang diterima baik secara langsung (laporan publik) maupun tidak langsung

    (insider trading). Dealers memiliki daya pikir yang terbatas terhadap persepsi

    masa depan dan dapat menghadapi potensi kerugian ketika berhadapan dengan

    informed traders. Hal ini dapat menimbulkan adverse selection yang mendorong

    dealer untuk menutupi kerugian dari pedagang terinformasi dengan

    meningkatkan spread-nya terhadap pedagang likuid. Jadi dapat dikatakan bahwa

    asimetri informasi yang terjadi antara dealer dan pedagang terinformasi tercermin

    pada spread yang ditentukannya.

    Menurut Stoll (1989) & Mardiyah (2001) dalam jurnal Muliati (2011)

    menyatakan bahwa bid ask spread merupakan fungsi dari tiga komponen biaya

    yang berasal dari:

  • 30

    a) Pemilikan saham (inventory holding), biaya pemilikan saham trade off

    antara memiliki terlalu banyak saham dan memiliki terlalu sedikit saham,

    atas biaya pemilikan saham tersebut akan menimbulkan oportunity cost;

    b) Pemrosesan pesanan (order processing), biaya pemrosesan pesanan terdiri

    dari biaya administrasi, pelaporan proses komputer, telepon, dan lain-lain;

    c) Informasi asimetri. Biaya pemilikan menunjukkan trade off antara memiliki

    terlalu banyak saham dan memiliki terlalu sedikit saham. Atas biaya

    pemilikan saham tersebut akan menimbulkan opportunity cost. Biaya

    pemrosesan pesanan meliputi biaya administrasi, pelaporan, proses

    komputer, telepon, dan lainnya. Sedangkan biaya informasi asimetri lahir

    karena adanya dua pihak trader yang tidak sama dalam memiliki dan

    mengakses informasi. Pihak pertama adalah informed trader yang memiliki

    informasi superior dan pihak lainnya yaitu uninformed trader yang tidak

    memiliki informasi. Ketidakseimbangan informasi tersebut menyebabkan

    munculnya perilaku adverse selection dan moral hazard dalam

    perdagangan saham antar trader. Jika kedua belah pihak bertransaksi, maka

    uninformed trader menghadapi risiko rugi jika bertransaksi dengan

    informed trader. Upaya mengurangi risiko rugi tersebut tercermin dalam

    bid ask spread.

    Menurut Cohen (1986) dalam jurnal Rahmawati et al. (2006) menjelaskan bahwa

    spread dealer untuk suatu saham merupakan perbedaan harga bid dan ask yang

    ditentukan oleh dealer secara individual, ketika ia hendak memperdagangkan

    saham tersebut. Sedangkan spread pasar untuk suatu saham merupakan

  • 31

    perbedaan harga bid tertinggi dan ask terendah diantara beberapa dealer atau

    pedagang saham. Di Bursa Efek Indonesia, spread dealer adalah spread yang

    tidak dapat diobservasi karena dealer juga beroperasi ganda sebagai pialang

    (broker). Maka sebaiknya penelitian yang berkaitan dengan bid-ask spread

    menggunakan spread pasar market (market spread).

    Lev (1998) dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa bid-ask spread

    merupakan salah satu ukuran dalam likuiditas pasar yang digunakan sebagai

    pengukur asimetri informasi antara manajemen dengan pemegang saham

    perusahaan. Sedangkan Richardson (1998) menyatakan bahwa bid ask-spread

    merupakan proksi asimetri informasi karena mampu menilai tingkat likuiditas

    pasar maupun masalah adverse selection yang dihadapai oleh para pemain di

    pasar modal. Lebih lanjut lagi, bid-ask spread dapat dijadikan sebagai proksi

    yang baik untuk melihat adanya asimetri informasi diantara pihak-pihak yang

    bertransaksi di pasar modal.

    2.5 Tingkat Pengembalian Saham (Return Saham)

    Return saham menurut Bodie (1998) dalam Saputra et al (2002) pengertian

    tingkat pengembalian investasi adalah penghasilan yang diperoleh selama periode

    investasi per sejumlah dana yang diinvestasikan. Secara praktis, tingkat

    pengembalian suatu investasi adalah persentase penghasilan total selama periode

    inventasi dibandingkan harga beli investasi tersebut. Apabila harga jual suatu

    sekuritas melebihi harga belinya maka terjadilah capital gain. Demikian

    sebaliknya, apabila harga jual lebih kecil daripada harga beli maka terjadilah

    capital loss. Dapat dikatakan bahwa pendapatan yang diperoleh investor dari

  • 32

    saham merupakan pendapatan yang tidak tetap baik itu pendapatan yang berasal

    dari capital gain maupun dividen. Dikatakan tidak tetap karena jumlah capital

    gain yang diperoleh bergantung pada transaksi jual beli yang terjadi di pasar,

    sedangkan besarnya dividen yang dibagikan dipengaruhi oleh laba dan kebijakan

    badan usaha.

    Menurut Tandelilin (2001), return merupakan salah satu faktor yang memotivasi

    investor berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor

    menanggung resiko atas investasi yang dilakukannya. Tujuan investor dalam

    berinvestasi adalah memaksimalkan return, tanpa melupakan faktor resiko

    investasi yang harus dihadapinya. Sedangkan menurut Sulaiman dan Handi

    (2008), return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham

    investor atas investasi yang dilakukannya yang terdiri atas dividen dan capital

    gain/loss. Jadi dapat disimpulkan bahwa return saham adalah tingkat

    pengembalian yang diperoleh dari investasi saham yang ditanam oleh pemegang

    saham (investor).

    Menurut Jogiyanto (2003), return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi.

    Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspetasi yang

    belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang. Return

    realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi

    dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting karena digunakan

    sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan. Return histori ini juga berguna

    sebagai dasar penentuan return ekspetasi (expected return) dan risiko di masa

    datang. Return ekspetasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan

  • 33

    diperoleh oleh investor di masa datang. Berbeda dengan return realisasi yang

    sifatnya sudah terjadi, return ekspetasi sifatnya belum terjadi. Pada umumnya

    nilai return yang sering digunakan adalah return total.

    Return pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis yaitu capital gain/loss dan yield.

    Capital gain merupakan selisih dari harga investasi saat ini dengan harga periode

    yang lalu. Jika harga investasi sekarang lebih tinggi dari harga investasi periode

    lalu berarti terjadi keuntungan modal (capital gain) dan sebaliknya apabila harga

    investasi saat ini lebih rendah dari harga investasi pada periode sebelumnya maka

    terjadi capital loss. Yield merupakan presentase penerimaan kas periodik

    terhadap harga investasi. Keuntungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas

    atau setara dengan kas sehingga dapat diuangkan dengan cepat. Salah satu contoh

    yield adalah deviden.

    Tidak semua saham memberikan return dalam bentuk capital gain. Dalam bursa

    saham pergerakan harga saham perusahaan sangatlah cepat dan nilai capital gain

    bersifat relatif dan sangat bergantung pada harga pasar dalam instrumen investasi

    yang bersangkutan. Karena dengan adanya pergerakan harga yang terjadi di bursa

    saham maka akan timbul perubahan nilai suatu instrumen investasi. Investasi

    yang dapat memberikan capital gain adalah seperti obligasi dan saham,

    sedangkan yang tidak memberikan komponen return capital gain adalah seperti

    sertifikat deposito, tabungan dan sebagainya. Return saham sesungguhnya

    diperoleh dari capital gain/loss hal ini dikarenakan capital gain/loss adalah suatu

    hasil yang sudah pasti didapat oleh investor.

  • 34

    2.6 Ukuran Perusahaan (SIZE)

    Ukuran perusahaan (SIZE) sebagai alasan bahwa investor menanamkan modalnya

    dengan mempertimbangkan besar kecilnya suatu perusahaan. Besar atau kecilnya

    suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan dalam menanggung risiko

    yang mungkin timbul akibat berbagai situasi yang dihadapi perusahaan berkaitan

    dengan operasinya (Ismail, 2004 dalam Triwulandari, 2013).

    Ukuran perusahaan menurut Ibrahim (2008), merupakan suatu skala

    pengklasifikasian besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara antara lain

    dengan total aktiva, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Adapun

    menurut Hartono (2000) dalam Ulfa (2011), besar kecilnya perusahaan dapat

    diukur dengan total aktiva/besar harta perusahaan dengan menggunakan

    perhitungan logaritma total aktiva. Jadi berdasarkan beberapa penelitian tersebut

    dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan adalah skala besar kecilnya

    perusahaan yang dapat diukur melalui total asset, total penjualan, dan kapitalisasi

    pasar.

    Ukuran perusahaan pada dasarnya terbagi menjadi tiga yaitu, perusahaan besar,

    perusahaan sedang, dan perusahaan kecil. Pengukuran ini didasarkan pada total

    asset perusahaan. Karena biasanya perusahaan yang besar memiliki aktiva yang

    besar juga dan ini akan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut mampu

    menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Selain itu

    juga dapat memberikan kepastian untuk prospek masa depan perusahaan bagi

    investor dalam memprediksi risiko yang akan terjadi jika berinvestasi.

  • 35

    Umumnya perusahaan yang berukuran besar tentunya dapat menarik investor

    untuk menanamkan investasi karena dianggap dapat mengelola saham dengan

    baik sehingga mampu memberikan return yang diharapkan oleh investor.

    Sebagaimana dikemukakan oleh Lauterbach dan Vaninsky (1999) dalam Ulfa

    (2011), bahwa perusahaan yang mempunyai ukuran besar (SIZE) secara khas

    mempunyai net income yang lebih besar daripada perusahaan dengan ukuran

    kecil. Kemampuan net income yang lebih besar diharapkan memberikan laba

    yang superior bagi pemilik perusahaan. Jadi, dapat dikatakan bahwa ukuran

    perusahaan yang besar akan dapat memberikan return yang lebih besar

    dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil.

    2.7 Return on Asset (ROA)

    Dari sudut pandang investor, salah satu indikator penting untuk menilai prospek

    perusahaan di masa mendatang adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan

    profitabilitas perusahaan, salah satunya adalah Return On Asset (ROA). Indikator

    ini sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana aktiva yang

    dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba yang nantinya akan mempengaruhi

    peningkatan harga saham.

    Menurut Kasmir (2014), return on investment merupakan rasio yang

    menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam

    perusahaan. Return on investment juga merupakan suatu ukuran tentang

    efektifitas manajemen dalam mengelola investasinya. Disamping itu, return on

    investment menujukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal

    pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil rasio ini berarti semakin kurang

  • 36

    baik dalam pengelolaan seluruh kegiatan operasi perusahaan, demikian pula

    sebaliknya.

    2.8 Earning per Share (EPS)

    Salah satu ukuran profitabilitas yang sering dikutip dari laporan keuangan adalah

    laba per lembar saham (earning per share). Menurut Indra (2006), Earning per

    Share (EPS) menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan

    bagi semua pemegang saham perusahaan. EPS adalah rasio profitabilitas dari laba

    bersih yang tersedia bagi pemegang saham terhadap jumlah saham yang beredar.

    Earning per Share (EPS) menurut Weygant, et al (2010) dalam Ulfa (2011)

    berguna untuk menunjukkan laba bersih yang dihasilkan oleh setiap lembar biasa

    yang beredar di pasar. Sedangkan menurut Suardana (2009), Earning per Share

    (EPS) adalah perbandingan antara laba setelah pajak dan saham yang beredar.

    Jadi dapat disimpulkan Earning per Share (EPS) adalah laba bersih yang akan

    diterima oleh pemegang saham dari setiap jumlah saham yang beredar.

    Earning per Share (EPS) merupakan hasil atau pendapatan yang akan diterima

    oleh pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimilikinya atas

    keikutsertaannya dalam perusahaan. Laba per lembar saham biasanya merupakan

    indikator laba yang diperhatikan oleh para investor yang umumnya terhadap

    korelasi yang kuat antara pertumbuhan laba dan pertumbuhan harga saham.

    Laba merupakan alat ukur utama kinerja keuangan suatu perusahaan, karena itu

    para pemodal seringkali memusatkan perhatian pada besarnya Earning per Share

    (EPS) dalam melakukan analisis saham. Semakin tinggi nilai Earning per Share

  • 37

    (EPS) tentu saja akan menyejahterahkan pemegang saham karena semakin besar

    laba yang disediakan untuk pemegang saham.

    Semakin meningkatnya jumlah Earning per Share (EPS) akan meningkatkan

    daya tarik investor dalam menanamkan dana ke dalam perusahaan, sehingga

    harga saham akan meningkat. Meningkatnya harga saham akan berpengaruh

    terhadap meningkatnya total return yang diperoleh investor. Earning per Share

    (EPS) yang besar menunjukkan kemampuan perusahaan yang lebih besar dalam

    menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham. Peningkatan Earning

    per Share (EPS) menandakan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan

    kemakmuran para investor dan dari hal tersebut akan mendorong investor untuk

    menambah jumlah modal yang ditanamkan pada perusahaan. Dan jika laba yang

    diperoleh meningkat, kemungkinan dividen yang dibagikan akan meningkat,

    sehingga permintaan akan saham pun naik. Hal ini yang menimbulkan

    peningkatan harga saham yang selanjutnya akan meningkatkan return saham

    (Suardana, 2009).

    2.9 Penelitian Terdahulu

    1. Yassin, et al (2015) dalam penelitian yang berjudul The Relationship

    between Information Asymmetry and Stock Return in the Presence of

    Accounting Conservatism. Pengujian ini dilakukan terhadap 26

    perusahaan yang terdaftar di Amman Stock Exchange (ASE) untuk periode

    2006-2012 menggunakan analisis Seemingly Unrelated Regression (SUR).

    Variabel dependen penelitian ini adalah return saham, sedangkan variabel

    independennya adalah information asymmetry, trading volume, risk,

  • 38

    previous days stock return dan variabel kontrol yang digunakan yaitu

    accounting conservatism. Yassin, et al menemukan information asymmetry,

    trading volume, risk, previous days stock return berpengaruh signifikan

    positif terhadap return saham. Dan accounting conservatism tidak memiliki

    dampak yang signifikan terhadap return saham.

    2. Penelitian yang dilakukan Pujianto (2013) dengan judul Pengaruh

    Asimetri Informasi Terhadap Return Saham. Populasi dalam penelitian ini

    adalah perusahaan-perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia pada tahun 2006-2010. Sampel penelitian berjumlah 20

    perusahaan dengan teknik purposive sampling dan metode penelitian

    menggunakan metode analisis deskriptif asosiatif. Hasil penelitian

    menyimpulkan bahwa asimetri informasi memiliki pengaruh yang cukup

    signifikan terhadap return saham, terjadinya peningkatan informasi akan

    menurunkan return saham dalam perusahaan manufaktur.

    3. Penelitian Permana (2010) dengan judul Pengaruh Kinerja Keuangan dan

    Ukuran Perusahaan Terhadap Return Saham Perbankan yang Terdaftar di

    BEI tahun 2004-2008. Penelitian dilakukan atas 20 perusahaan perbankan

    yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2004-2008. Variabel

    dependen dalam penelitian ini adalah return saham, sedangkan EPS, ROA,

    LEV, PER dan ukuran perusahaan sebagai variabel independen. Hasil

    penelitian ini berdasarkan metode regresi berganda menyatakan bahwa

    EPS, ROA, LEV, PER, dan ukuran perusahaan berpengaruh positif secara

    simultan terhadap return saham, hal ini terlihat dari F hitung = 2,404 lebih

    besar dari F tabel = 2,35. Secara parsial ROA dan PER berpengaruh positif

  • 39

    terhadap return saham, dimana ROA memiliki pengaruh paling dominan

    dengan nilai koefisien beta lebih besar dibandingkan dengan variabel-

    variabel lainnya yaitu sebesar 0,461.

    Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

    No Nama Judul Variabel Hasil Penelitian

    1 Yassin, M

    Mohammed,

    et al (2015)

    The

    Relationship

    between

    Information

    Asymmetry and

    Stock Return in

    the Presence of

    Accounting

    Conservatism

    Independen:

    Information

    Asymmetry,

    Trading

    Volume, Risk,

    Previous

    days stock

    return

    Dependen:

    Stock Return

    Kontrol:

    Accounting

    Conservatism

    Information

    Asymmetry

    berpengaruh secara

    positif terhadap Stock

    Return. Hasil

    penelitian

    menyimpulkan bahwa

    peningkatan

    information

    asymmetry antara

    investor menyebabkan

    adanya peningkatan

    return saham

    2 Pujianto,

    Agustinus

    Resa Dwi

    (2013)

    Pengaruh

    Asimetri

    Informasi

    Terhadap Return

    Saham

    Independen:

    Asimetri

    Informasi

    Dependen:

    Return

    Saham

    Penelitian ini

    menggunakan metode

    analisis deskriptif

    asosiatif. Dan hasil

    yang diperoleh dari

    penelitian ini

    menyimpulkan bahwa

    asimetri informasi

    memiliki pengaruh

    yang cukup signifikan

    terhadap return

    saham, terjadinya

    peningkatan informasi

    akan menurunkan

    return saham dalam

    perusahaan

    manufaktur.

    3 Permana,

    Fajar Galih

    (2010)

    Pengaruh

    Kinerja

    Keuangan dan

    Ukuran

    Perusahaan

    Independen:

    EPS, ROA,

    LEV, PER

    dan Ukuran

    Perusahaan

    Hasil penelitian ini

    berdasarkan metode

    regresi berganda

    menyatakan bahwa

    EPS, ROA, LEV,

  • 40

    Terhadap Return

    Saham

    Perbankan yang

    Terdaftar di BEI

    tahun 2004-

    2008

    (SIZE)

    Dependen:

    Return

    Saham

    PER, dan ukuran

    perusahaan

    berpengaruh positif

    secara simultan

    terhadap return

    saham. Secara parsial

    ROA dan PER

    berpengaruh positif

    terhadap return

    saham, dimana ROA

    memiliki pengaruh

    paling dominan.

    Sumber: Jurnal dan skripsi, data diolah 2015

    Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sampel yang

    digunakan pada penelitian ini sebanyak 10 perusahaan yang terdaftar di indeks

    SRI-KEHATI periode 2010-2014 dan penelitian ini menggunakan variabel SIZE,

    ROA, dan EPS sebagai variabel kontrol dimana variabel tersebut diidentifikasi

    dapat berpengaruh pada tingkat pengembalian saham.

    2.10 Kerangka Pemikiran

    Investor dalam berinvestasi pasti mengharapkan return yang maksimal. Tak

    hanya mempertimbangkan keuntungan dari perubahan harga saham namun juga

    investor harus mempertimbangkan risiko dari perubahan harga saham. Untuk itu

    investor dalam melakukan investasinya memerlukan informasi yang berkaitan

    dengan pergerakan harga saham agar dapat memilih harga saham yang layak

    untuk dipilih. Bagi para investor, informasi dijadikan sebagai bahan

    pertimbangan dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Salah satu cara untuk

    mengetahui reaksi investor terhadap informasi tersebut adalah dengan adanya

    perubahan harga saham. Harga saham akan berfluktuasi dan fluktuasi harga

  • 41

    saham tersebut bergantung pada informasi baru yang akan diperoleh. Di pasar

    modal, investor menghadapi kondisi information asymmetry dimana sebagian

    para pelaku pasar memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan pelaku

    pasar lainnya dan hal itu akan berpengaruh terhadap tingkat pengembalian yang

    akan diterima.

    Asymmetric information theory yang digagas oleh Arkelof (1970) dalam Prasetya

    (2012) yang menyatakan bahwa asimetris informasi merupakan perbedaan

    informasi yang didapat antara salah satu pihak dengan pihak lainnya dalam

    kegiatan ekonomi. Ketidakseimbangan informasi ini dapat terjadi karena

    beberapa hal seperti adanya asumsi dimana investor dan manajer memiliki

    informasi yang berbeda (yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan dari pada

    yang dimiliki oleh investor. information asymmetry juga dapat terjadi jika

    sebagian investor mempunyai informasi lebih banyak dan yang lainnya tidak

    memilikinya atau informasi privat yang hanya dimiliki oleh investor-investor

    yang mendapat informasi saja (informed investor). Selain itu, information

    asymmetry juga dapat terjadi apabila saham perusahaan dinilai terlalu tinggi atau

    terlalu rendah dari nilai pasarnya.

    Berdasarkan asymmetric information theory, informasi yang dimiliki oleh

    investor akan berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham yang akan

    diterima oleh investor tersebut. Apabila information asymmetry meningkat maka

    bid-ask spread pun akan naik sehingga akan meningkatkan retrun saham, karena

    kegiatan perdagangan yang berdasarkan informasi dapat mempengaruhi

    perbedaan antara bid dan ask, sehingga semakin tinggi atau besar informasi privat

  • 42

    yang dimiliki maka semakin besar bid-ask spread dan akan meningkatkan return

    saham yang akan diterima investor. Karena pihak yang memiliki informasi dapat

    lebih baik mengetahui kinerja perusahaan dan dapat lebih tepat dalam membuat

    keputusan berinvestasi dengan mamanfaatkan informasi yang ia miliki. Sehingga

    semakin banyak informasi yang diketahui oleh informed trader maka akan

    semakin menguntungkan bila uninformed trader tidak mengetahui informasi

    sebanyak yang dimiliki oleh informed trader. Dengan kata lain information

    asymmetry memiliki arah pengaruh positif terhadap return saham.

    Ukuran (SIZE) perusahaan bisa diukur menggunakan total aktiva, penjualan atau

    modal perusahaan. Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya

    perusahaan adalah ukuran aktiva dari perusahaan. Semakin besar total aktiva

    semakin mampu perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar perusahaan

    menghasilkan laba, maka akan besar membagikan deviden. Selain itu, jika

    kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham

    akan meningkat dan tentu return juga akan meningkat Husnan (1993) dalam

    Adiwiratama (2012). Hal ini berarti SIZE perusahaan mempunyai hubungan

    positif dengan return saham.

    Return on Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan

    untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan

    memanfaatkan total aset yang dimilikinya atas investasi yang dilakukan. Return

    on Asset (ROA) merupakan rasio antara laba sesudah pajak terhadap total

    investasi asset. Semakin besar Return on Asset (ROA) maka menunjukkan

    semakin besar perusahaan mampu memberikan return saham atas investasi

  • 43

    berupa aset yang dimiliki. Ketika mengetahui besarnya Return on Asset (ROA),

    investor dapat menilai seberapa besar laba yang dapat dihasilkan dengan aset

    yang dimiliki perusahaan. Perusahaan dengan Return on Asset (ROA) yang

    tinggi, menyebabkan permintaan terhadap saham perusahaan tersebut meningkat.

    Sesuai dengan hukum permintaan, maka semakin tinggi permintaan saham,

    semakin tinggi juga harga saham tersebut. Dan kenaikan harga saham itu

    menyebabkan kenaikan return saham juga. Dengan kata lain Return on Asset

    (ROA) memiliki arah pengaruh positif terhadap tingkat pengembalian saham.

    Earning per Share (EPS) merupakan rasio keuangan yang digunakan investor

    untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

    berdasarkan saham yang dimiliki. Earning per Share (EPS) ini menunjukkan

    laba bersih perusahaan yang akan dibagikan kepada semua pemegang saham.

    Perkembangan Earning per Share (EPS) perusahaan yang tinggi akan

    mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mengatur pengalokasian dana yang

    diperoleh secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan perusahaan.

    Berdasarkan hal tersebut, maka para investor dapat dengan mantap dan yakin

    bahwa perusahaan sangat potensial dan mempunyai prospek investasi yang

    sangat bagus dimasa yang akan datang. Maka dari itu tujuan investor untuk

    mendapatkan return yang tinggi dapat tercapai.

    Semakin tinggi perubahan Earning per Share (EPS) akan menarik minat investor

    berinvestasi di perusahaan tersebut. Akibatnya permintaan akan saham tersebut

    akan meningkat dan harga saham juga ikut meningkat. Harga saham yang tinggi

    akan mendorong investor untuk menjual saham tersebut. Dan jika saham tersebut

  • 44

    terjual dengan harga yang tinggi maka investor akan mendapatkan return yang

    tinggi. Maka hubungan antara Earning per Share (EPS) dengan tingkat

    pengembalian saham memiliki arah pengaruh yang positif. Berdasarkan

    penjelasan kerangka pikir diatas maka dapat digambarkan kedalam model

    penelitian sebagai berikut:

    Gambar 2.1 Model Penelitian

    2.11 Hipotesis

    Berdasarkan kerangka pemikiran yang dijelaskan pada bagian di atas maka

    hipotesis penelitian ini adalah:

    Ho : Information Asymmetry berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Ha : Information Asymmetry berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Information Asymmetry

    (X1)

    Tingkat Pengembalian

    Saham

    (Y)

    SIZE (Ukuran Perusahaan)

    (X2)

    ROA (Return on Asset)

    (X3)

    EPS (Earnings per Share)

    (X4)

  • 45

    Ho : SIZE berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.

    Ha : SIZE berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.

    Ho : Return on Asset (ROA) berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Ha : Return on Asset (ROA) berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Ho : Earning per Share (EPS) berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Ha : Earning per Share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap tingkat

    pengembalian saham.

    Ho : Information Asymmetry, SIZE, ROA, EPS secara simultan berpengaruh

    tidak signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.

    Ha : Information Asymmetry, SIZE, ROA, EPS secara simultan berpengaruh

    signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.