of 21 /21
9 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai pemakaian bahasa telah banyak dilakukan. Beberapa studi terdahulu yang penulis temukan yang sejenis dan masih relevan dengan penelitian ini akan dipaparkan sebagai berikut. Skripsi Sinta Manilasari (2014) dengan judul “Pemakaian Bahasa Kelompok Penggemar Burung Kicauan di Surakarta”. Dalam penelitian ini ditemukan karakteristik pemakaian bahasa pencinta burung di Surakarta berupa (a) penggunaan istilah asing, (b) pemanfaatan bentuk singkatan, (c) terdapat hibrida (hibrid word) antara afiks bahasa Indonesia dengan kata dasar bahasa asing, (d) gaya bahasa, (e) pemendekan (kontraksi), (f) sapaan, (g) campur kode yang meliputi campur kode berwujud kata, campur kode berwujud perulangan kata, campur kode berwujud frasa, campur kode berwujud klausa, dan (h) alih kode. Penggunaan fungsi bahasa juga ditemukan dalam proses jual beli, perlombaan burung kicauan, perawatan burung kicauan serta pada saat penangkaran burung kicauan. Dalam proses penangkaran burung kicauan ditemukan fungsi bahasa yang meliputi (a) fungsi konatif berupa konatif menasihati, konatif menyarankan, konatif meyakinkan, dan konatif menawarkan, (b) fungsi metalingual berupa metalingual mendeskripsikan istilah, (c) fungsi referensial berupa referensial memberikan gambaran bentuk dan referensial menilai suara burung, (d) fungsi menyimpulkan (kesimpulan).

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Penelitian ... · Pengertian di atas dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik sangat berguna untuk mengamati beberapa fakta sosial dalam memahami

  • Author
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Penelitian ... · Pengertian di atas dapat dikatakan...

  • 9

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

    A. Penelitian Terdahulu

    Penelitian mengenai pemakaian bahasa telah banyak dilakukan. Beberapa

    studi terdahulu yang penulis temukan yang sejenis dan masih relevan dengan

    penelitian ini akan dipaparkan sebagai berikut.

    Skripsi Sinta Manilasari (2014) dengan judul “Pemakaian Bahasa

    Kelompok Penggemar Burung Kicauan di Surakarta”. Dalam penelitian ini

    ditemukan karakteristik pemakaian bahasa pencinta burung di Surakarta berupa

    (a) penggunaan istilah asing, (b) pemanfaatan bentuk singkatan, (c) terdapat

    hibrida (hibrid word) antara afiks bahasa Indonesia dengan kata dasar bahasa

    asing, (d) gaya bahasa, (e) pemendekan (kontraksi), (f) sapaan, (g) campur kode

    yang meliputi campur kode berwujud kata, campur kode berwujud perulangan

    kata, campur kode berwujud frasa, campur kode berwujud klausa, dan (h) alih

    kode.

    Penggunaan fungsi bahasa juga ditemukan dalam proses jual beli,

    perlombaan burung kicauan, perawatan burung kicauan serta pada saat

    penangkaran burung kicauan. Dalam proses penangkaran burung kicauan

    ditemukan fungsi bahasa yang meliputi (a) fungsi konatif berupa konatif

    menasihati, konatif menyarankan, konatif meyakinkan, dan konatif menawarkan,

    (b) fungsi metalingual berupa metalingual mendeskripsikan istilah, (c) fungsi

    referensial berupa referensial memberikan gambaran bentuk dan referensial

    menilai suara burung, (d) fungsi menyimpulkan (kesimpulan).

  • 10

    Dalam peristiwa perawatan burung kicauan juga ditemukan fungsi bahasa

    yang meliputi (a) fungsi konatif yang berupa konatif meminta, konatif menyuruh,

    serta konatif menyarankan, (b) fungsi referensial. Dalam peristiwa jual beli

    burung kicauan juga ditemukan fungsi bahasa yakni fungsi konatif berupa konatif

    menyarankan, konatif menawarkan, konatif meminta antara pembeli dan penjual,

    konatif meminta antara penjual dan pembeli.

    Ditemukan juga fungsi bahasa dalam kegiatan perlombaan burung kicauan

    yang meliputi (a) fungsi konatif berupa konatif menyarankan antara peserta dan

    juri, konatif menyarankan antarpenonton, konatif memerintah, konatif menyuruh,

    konatif menyuruh membandingkan, serta konatif meminta, (b) fungsi referensial

    berupa referensial menilai kicauan dan referensial menilai gaya burung kicauan,

    (c) fungsi emotif berupa memuji burung murai batu dan memuji penampilan anis

    merah.

    Kosakata ciri penentu register dalam pencinta burung kicauan di Surakarta

    meliputi jenis suara burung kicauan, jenis burung kicauan, fase perkembangan

    burung kicauan, perawatan burung kicauan, perilaku burung kicauan, dan

    perlombaan burung kicauan.

    Skripsi Miftah Nugroho (2000) dengan judul “Register Chatting di dalam

    Internet”. Dalam penelitian ini ditemukan wujud pemakaian bahasa di dalam

    chatting berupa (a) kekhasan pengejaan kata yang terbagi menjadi penerapan

    ejaan lama, penerapaan ejaan daerah, dan penerapan ejaan bahasa asing, (b)

    kekhasan penanggalan fonem dan suku kata yang terdiri dari penanggalan fonem

    di awal kata, penanggalan fonem di akhir kata, penanggalan fonem konsonan dan

    vokal di tengah kata, dan penanggalan suku kata, (c) pemakaian afiks dialek

  • 11

    Jakarta, (d) pemakaian morfem partikel dialek Jakarta, (e) pemakaian kata ganti

    sapaan, (f) pemakaian interjeksi, (g) pemakaian slang.

    Pemakaian bahasa di dalam chatting dipengaruhi dua faktor yaitu faktor

    linguistik dan faktor non-linguistik. Faktor linguistik yang mempengaruhi

    pemakaian bahasa di dalam chatting adalah (a) kekhasan pengejaan kata, (b)

    kekhasan penanggalan fonem dan suku kata, (c) pemakaian afiks dialek Jakarta,

    (d) pemakaian morfem partikel dialek Jakarta, (e) pemakaian kata ganti sapaan, (f)

    pemakaian interjeksi, dan (g) pemakaian slang.

    Faktor non-linguistik yang mempengaruhi pemakaian bahasa di dalam

    chatting adalah faktor-faktor sosial dan situasional. Faktor-faktor sosial yang

    mempengaruhi pemakaian bahasa di dalam chatting ada tiga, yaitu status sosial,

    tingkat pendidikan, dan umur. Adapun faktor-faktor situasional yang

    mempengaruhi pemakaian bahasa Indonesia di dalam chatting adalah faktor

    situasi yang terjadi di dalam chatting yaitu situasi yang tidak resmi atau informal.

    Skripsi Nisone Ayu Constantya (2013) dengan judul “ Tindak Tutur dan

    Prinsip Kesantunan dalam Jual Beli Online di Facebook” yang mendeskripsikan

    permasalahan dalam analisisnya sebagai berikut: (1) menentukan bentuk tindak

    tutur yang terdapat pada transaksi jual beli online di facebook, (2)

    mendeskipsikan bentuk prinsip kesantunan baik yang mematuhi maupun yang

    melanggar antara penjual toko online di facebook, (3) mendeskripsikan bentuk

    implikatur akibat pelanggaran prinsip kesantunan dalam jual beli online di

    facebook.

  • 12

    Dari analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) tindak

    tutur ilokusi yang terdapat dalam jual beli online di facebook adalah terdiri dai

    empat jenis tindak tutur, yaitu asertif, direktif, ekspresif, dan komisif. Tindak tutur

    asertif meliputi menyatakan, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan.

    Tindak tutur direktif meliputi menyarankan, meminta, memerintah, memohon,

    dan menyuruh. Tindak tutur ekspresif meliputi berterimakasih, meminta maaf,

    mengeluh, dan memuji. Tindak tutur komisif meliputi berjanji dan menawarkan.

    (2) Pematuhan prinsip kesantunan yang terdapat dalam jual beli online di

    facebook terdiri dari lima submaksim, yaitu maksim kearifan, maksim

    kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, dan maksim

    kesepakatan. Data yang paling banyak adalah mengenai maksim kesepakatan. (3)

    Pelanggaran prinsip kesantunan yang terdapat dalam jual beli online di facebook

    terdiri dari lima submaksim, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan,

    maksim pujian, maksim kerendahan hati, dan maksim kesepakatan. Data yang

    paling banyak adalah mengenai maksim kearifan. (4) Implikatur yang terdapat

    dalam jual beli online di facebook yaitu implikatur menyuruh, menolak, meminta,

    mengeluh, dan membatalkan. Data yang paling banyak ditemukan adalah

    implikatur menyuruh.

    Skripsi Wilda Meridiyana (2012) dengan judul “Pemakaian Bahasa dalam

    Olahraga Futsal”. Dalam penelitian ini ditemukan karakteristik pemakaian bahasa

    olahraga futsal. Diantaranya terdapat pemakaian istilah dalam bahasa Inggris,

    pemakaian istilah dalam dialek Jakarta, adanya peristiwa penambahan prefiks,

    terdapat peristiwa pemendekan atau kontraksi, metafora, pemakaian bentuk

    singkatan, pemakaian kata sapaan, terjadinya peristiwa campur kode yang

  • 13

    meliputi campur kode yang berwujud kata, kelompok kata kata ulang, dan klausa.

    Peristiwa alih kode juga terjadi, yang meliputi alih kode ke dalam dan keluar.

    Penggunaan fungsi bahasa yaitu fungsi bahasa yang memaparkan tentang

    fungsi bahasa yang digunakan saat membicarakan teknik permainan futsal yang

    meliputi fungsi direktif meminta antarpemain futsal dan fungsi direktif meminta

    antara pemain dan pelatiih, fungsi bahasa yang digunakan saat merencanakan

    permainan futsal, fungsi bahasa yang digunakan saat memulai permainan futsal,

    fungsi bahasa yang digunakan saat memberikan instruksi yang meliputi fungsi

    direktif menyuruh antara pelatih dan pemain, fungsi direktif menyarankan antara

    pelatih dan pemain, fungsi direktif menjelaskan antara pelatih dan pemain, fungsi

    direktif menasihati antar pelatih dan pemain, fungsi memotivasi dan fungsi

    mengkonfirmasi antar pelatih dan pemain, dan fungsi menyimpulkan, fungsi

    bahasa yang digunakan saat mengevaluasi permainan futsal yang meliputi fungsi

    direktif, referensial, dan ekspresi.

    Penggunaan isilah kosakata penentu register olahraga futsal yang meliputi

    posisi pemain, nama tendangan, aturan permainan, tindakan pemain, keadaan atau

    suasana pertandingan, teknik permainan, nama alat-alat dari lingkungan futsal dan

    perangkat futsal.

    Penelitian “Pemakaian Bahasa dalam Jual Beli Handphone dan Aksesoris

    Handphone: Suatu Pendekatan Sosiolinguistik” ini diharapkan dapat melengkapi

    penelitian-penelitian sebelumnya. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai

    karakteristik pemakaian bahasa dalam jual beli handphone dan aksesoris

    handphone, fungsi bahasa yang terjadi dalam tuturan, serta istilah-istilah khusus

    dalam jual beli handphone dan aksesoris handphone.

  • 14

    Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih luas tentang pemakaian

    bahasa dalam jual beli handphone dan aksesoris handphone khususnya yang

    berada di wilayah Surakarta.

    B. Landasan Teori

    1. Sosiolinguistik

    Dalam hidup bermasyarakat manusia menggunakan bahasa sebagai sarana

    berkomunikasi. Studi interdisipliner yang menggarap masalah-masalah

    kebahasaan dalam hubungannya dengan masalah-masalah sosial dikenal dengan

    sebutan sosiolinguistik. Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam

    hubungannya dengan pemakaiannya di dalam masyarakat.

    Dijelaskan oleh Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004:2) bahwa

    sosiologi merupakan kajian yang objektif mengenai manusia di dalam masyarakat

    mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat,

    sedangkan pengertia linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa atau

    bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

    Dari penjelasan di atas Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004:4)

    menyimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat

    interdisipliner dengan ilmu sosiologi dengan objek penelitian hubungan antara

    bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur.

    Appel (dalam Suwito, 1996:5) merumuskan sosiolinguistik sebagai studi

    tentang bahasa dan pemakaian bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat

    dan kebudayaan. Sementara itu oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad

    Rohmadi (2006:7) menjelaskan lebih sederhana bahwa sosiolinguistik merupakan

  • 15

    cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam

    hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat. Pendapat di atas

    dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan masyarakat manusia tidak lagi sebagai

    individu, akan tetapi sebagai masyarakat sosial.

    Hymes (dalam Suwito, 1996:5) dengan lebih menitikberatkan pada segi

    kegunaannya berpendapat, bahwa sosiolinguistik dapat dipakai sebagai petunjuk

    tentang kemungkinan pemakaian data dan analisis linguistik dalam disiplin-

    disiplin lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial, dan sebaiknya,

    pemakaian data dan analisis sosial di dalam linguistik.

    Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik

    adalah gabungan dua disiplin ilmu, yakni sosiologi dan linguistik yang di

    dalamnya membahas bahasa dalam ranah kemasyarakatan, baik itu tentang ciri

    khas variasi bahasa, fungsi-fungsinya, penerapan bahasa, dan lain sebagainya.

    Pengertian di atas dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik sangat berguna untuk

    mengamati beberapa fakta sosial dalam memahami masalah-masalah bahasa dan

    memandang bahasa sebagai gejala sosial secara lebih jelas dan cermat.

    Sehubungan dengan peristiwa tutur, maka penutur sangat dipengaruhi oleh

    faktor luar bahasa sebagaimana yang dijelaskan oleh Dell Hymes (dalam Suwito,

    1996:39) faktor-faktor yang menandai terjadinya peristiwa tutur atau yang sering

    disingkat dengan SPEAKING. Kedelapan unsur tersebut antara lain.

    1. Setting dan scene yaitu tempat bicara dan suasana bicara.

    2. Participant yaitu pembicara, lawan bicara dan pendengar.

    3. End yaitu tujuan akhir atau maksud pembicaraan.

  • 16

    4. Act yaitu peristiwa dimana seorang pembicara sedang mempergunakan

    kesempatan bicaranya.

    5. Key yaitu nada suara atau ragam bahasa yang dipergunakan dalam

    menyampaikan tuturannya, dan cara mengemukakan tuturannya.

    6. Instrument yaitu alat yang digunakan untuk menyampaikan tuturan.

    Misalnya secara lisan, tertulis, lewat telepon, dan sebagainya.

    7. Norm yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap penutur dan

    mitra tutur.

    8. Genre yaitu jenis kegiatannya dalam bentuk apa dan bagaimana.

    2. Variasi Bahasa

    Adanya berbagai tingkat pemakaian bahasa yang merupakan identitas

    penutur atau kelompok masyarakat serta adanya bermacam gaya dalam konteks

    sosial seperti itu menunjukkan, bahwa ada semacam korelasi antara kelas atau

    status sosial di satu pihak dan cara-cara pemakaian bahasa dipihak yang lain.

    Suwito (1996:34) mendefinisikan bahwa variasi adalah sejenis ragam

    bahasa yang pemakaiannya disesuaikan dengan fungsi dan situasinya, tanpa

    mengabaikan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang

    bersangkutan. Dengan pengertian di atas maka dalam memilih variasi, faktor-

    faktor linguistik tidak dapat dikesampingkan di samping faktor-faktor

    nonlinguistik untuk menentukan variasinya. Kedua faktor tersebut saling

    menentukan dan saling bergantung yang nampak dalam wujud ekspresi penutur

    dalam mengungkapkan bahasanya.

  • 17

    Ferguson (dalam Ronald Wardaugh, 1986:22) memberikan definisi lain

    tentang variasi.

    Any body of human speech patterns which is sufficiently homogeneous to

    be analyzed by available techniques of synchronic descripstion and which

    has a sufficiently large repertory of elements and their arrangements or

    contexts of communication. Variasi adalah pola bicara individu yang sama

    dan dianalisis dengan teknik yang ada yakni deskripsi secara sinkronis dan

    mempunyai cakupan repertoir yang luas, serta analisis dengan bidang

    semantik yang cakupannya luas dalam konteks situasi normal.

    Sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Abdul Chaer bahwa terjadinya

    keragaman atau kevariasian bahasa bukan hanya disebabkan oleh penuturnya yang

    tidak homogen, melainkan juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka

    lakukan sangat beragam. Keragaman akan semakin bertambah jika bahasa

    digunakan oleh penutur yang sangat banyak dan dalam wilayah yang sangat luas.

    Menurut Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004:68) variasi dapat

    dibedakan berdasarkan berbagai hal, di antaranya.

    a) Variasi Bahasa dari Segi Penutur

    Variasi bahasa yang bersifat perorangan seperti idiolek maupun

    kelompok masyarakat seperti dialek, kronolek, sosiolek, slang dan jargon.

    b) Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian

    Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini menyangkut bahasa

    tersebut digunakan untuk keperluan atau pemakaian bidang apa, misalnya,

    jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan dan kegiatan keilmuan.

    c) Variasi Bahasa dari Segi Keformalan

    Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos (dalam Abdul Chaer

    dan Leoni Agustina, 2004:70) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya,

  • 18

    yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultif), ragam

    santai (casual), dan ragam akrab (intimate).

    d) Variasi Bahasa dari Segi Sarana

    Variasi dari segi sarana dikenal adanya ragam lisan dan ragam tulis,

    atau ragam dalam berbahasa menggunakan sarana atau alat tertentu.

    3. Register

    Konsep register telah banyak diutarakan oleh para sosiolinguis dengan

    beberapa pemahaman yang berbeda-beda. Ronald Wardhaugh (1968:48)

    menjelaskan sebagai berikut.

    Register is another complicating factor in any study of language varieties.

    Register are sets of vocabulary items associated with discrete occupation

    or social groups. Surgeon, airline pilots, bank manager, sales clerk, jazz

    fans, and pimps use different vocabularies. „Register merupakan suatu

    faktor kompleks yang lain dalam kajian variasi bahasa. Register

    merupakan seperangkat kosakata yang berhubungan dengan jenis pekrjaan

    maupun kelompok sosial tertentu. Misalnya, pemakaian bahasa pilot,

    manajer bank, penggemar musik jazz, pialang, dan lain sebagainya.‟

    Menurut Halliday (1992:53) register merupakan ragam bahasa berdasarkan

    pemakaiannya. Di samping itu Halliday membedakan register menjadi dua yaitu

    bahasa terbatas dan bahasa yang lebih terbuka. Bahasa terbatas, misalnya, kata

    sandi yang dipakai pada pengirim berita ketika perang, navigator dan sebagainya.

    Bahasa yang lebih terbuka bisa ditemukan dalam komunikasi sehari-hari,

    dikaitkan dengan penggunaan bahasa yang setiap bidang kegiatan memiliki ciri

    register yang berbeda.

    Halliday (dalam Hudson, 1980:46) membedakan register berdasarkan

    dimensinya dan digolongkan menjadi tiga yakni medan, pelibat, dan sarana.

    Sebagaimana dijelaskan sebagai berikut ini.

  • 19

    Field is concerned with the purpose and subject-matter of the

    communication; mode ferers to the means by which communication takes

    place – notably, by speech or writing; and tenor depends on the relations

    between participants. „Medan mengacu pada hal yang sedang terjadi atau

    pada saat tindakan sosial berlangsung; sarana menunjuk pada peranan

    yang diambil bahasa dalam situasi tertentu baik tulis maupun lisan;

    sedangkan pelibat menunjuk pada hubungan antara orang-orang yang turut

    mengambil bagian.‟

    Medan mengacu pada wilayah pemakaian kegiatan orang-orang yang

    memiliki istilah atau ungkapan yang dimengerti oleh sesamanya. Pelibat

    merupakan variasi bahasa yang dipergunakan antara pelaku bahasa, sedangkan

    sarana dibedakan menjadi ragam lisan dan ragam bahasa tulis.

    Crystal (dalam Biber dan Edward Fenegan, 1994:18) menjelaskan juga

    mengenai pengertian register. Sebagaimana dijelaskan berikut.

    Register is a language variety with respect its context of use or refers to a

    variety of language defined accoding to its use in situations. „Register

    adalah variasi bahasa berdasarkan konteks situasi atau variasi bahasa yang

    dihubungkan menurut pemakaian di dalam situasi sosial.‟

    Ferguson (dalam Douglas Biber dan Edward Fenegan, 1994:20)

    menjelaskan register sebagai berikut.

    A communication situational that recurs regularly in a society (in term of

    participants, setting, communicative function, and so forth) will tend

    overtime to develop identifying markers of language structure and

    language use, different from the language of other communication

    situations. „Situasi komunikasi yang terjadi berulang secara teratur dalam

    satu suatu masyarakat (yang berkenaan dengan pelaku, tempat, fungsi-

    fungsi komunikatif, dan seterusnya) sepanjang waktu cenderung akan

    berkembang menandai struktur bahasa dan pemakaian bahasa, berbeda

    dari pemakaian bahasa pada situasi-situasi komunikasi yang lainnya.‟

    Ferguson menjelaskan bahwa orang yang terlibat dalam situasi komunikasi

    secara langsung cenderung akan mengembangkan kosakata, ciri-ciri intonasi yang

    sama, dan potongan-potongan ciri kalimat dan fonologi yang mereka gunakan

    dalam situasi itu. Lebih lanjut dikatakannya bahwa ciri-ciri register yang demikian

  • 20

    itu akan memudahkan komunikasi yang cepat, sementara yang lain dapat

    membina perasaan yang erat.

    Untuk melakukan analisis terhadap register jual beli dan servis handphone

    akan mengacu pada penerapan kerangka komprehensif analisis register.

    Sebagaimana dijelaskan oleh Biber (1994:33) sebagai berikut.

    Typical register have three components; description of the situational

    characteristics of register, description of the linguistic characteristics, and

    analysis of the functional or coventional associations between the

    situational and linguistic features. “Register mempunyai tiga komponen:

    deskripsi ciri situasi register, deksripsi ciri linguistik, dan analisis

    fungsional dam konvensional sebagai gabungan dari ciri situasional dan

    ciri linguistik.‟

    Seperti yang digambarkan sebagai berikut.

    FUNCTION

    SITUATIONAL FEATURES and LINGUISTIC FORMS

    CONVENTIONS

    Studi register mempunyai empat ciri khusus seperti yang dikemukan oleh

    Biber dan Atkinson (dalam Biber dan Edward Finegan, 1994:352) yaitu:

    a. Studi register meliputi deskripsi analisis tentang wacana yang sebenarnya

    terjadi,

    b. Studi register bermaksud menggolongkan variasi bahasa,

    c. Studi register mengenalkan ciri-ciri linguistik formal dari variasi bahasa,

    dan

  • 21

    d. Studi register juga menganalisis ciri-ciri situasional dan variasi bahasa dan

    fungsional atau konvensional yang berhubungan antara bentuk dan situasi

    yang diposisikan.

    Konsep register akan selalu berkaitan dengan konsep variasi bahasa karena

    munculnya variasi bahasa sangat dimungkinkan oleh berbagai faktor yang

    mempengaruhinya. Dalam kaitannya dengan ini Hymes (dalam Dwi Purnanto,

    2002:20) menyatakan bahwa pemilihan pemakaian register tidak hanya karena

    adanya situasi tertentu yang menuntut penggunaan register, tetapi pemilihan

    register juga turut menentukan situasi pemakaiannya.

    Konsep Hymes itu setidak-tidaknya mengandung dua arah pemahaman,

    yaitu munculnya variasi bahasa karena dipengaruhi oleh faktor situasi terentu dan

    pemakaian variasi bahasa justru memastikan atau menyatakan situasi tertentu

    (Purnanto, 2002:20).

    Dengan berlandaskan teori Halliday, Hymes, Biber, dan Ferguson

    pemakaian bahasa dalam aktivitas jual beli dan aksesoris handphone akan dibahas

    mulai dari istilah yang berbentuk kata, frasa, klausa dan kalimat yang digunakan

    oleh kelompok jual beli handphone dan aksesoris handphone.

    4. Alih Kode

    Menurut Suwito (1996:80) alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode

    yang satu ke kode yang lain. Apabila ada seorang penutur mula-mula

    menggunakan kode A dan kemudian beralih menggunakan kode B, maka

    peristiwa peralihan pemakaian seperti itu disebut dengan alih kode (code-

  • 22

    switching). Alih kode merupakan salah satu aspek tentang saling ketergantungan

    bahasa di dalam masyarakat multilingual.

    Dalam alih kode penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh (a)

    masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan

    konteksnya, (b) fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang

    relevan dengan perubahan konteks. Tanda-tanda di atas kemudian disebut Kachru

    (1965) sebagai ciri-ciri unit kontekstual (contextual units).

    Suwito (1996:85) menjelaskan beberapa faktor yang merupakan penyebab

    terjadinya alih kode antara lain.

    1) Penutur

    Seorang penutur yang kadang-kadang dengan sadar berusaha beralih kode

    terhadap lawan tuturnya karena sesuatu maksud.

    2) Lawan Tutur

    Setiap penutur pada umunya ingin mengimbangi bahasa yang

    dipergunakan oleh lawan tuturnya.

    3) Hadirnya Penutur Ketiga

    Dua orang yang berasal dari kelompok etnik yang sama pada umumnya

    akan saling berinteraksi dengan bahasa kelompok etnisnya. Tetapi apabila

    kemudian hadir orang ketiga dalam pembicaraan itu, dan orang itu berbeda latar

    kebahasaannya, biasanya dua orang yang pertama beralih kode ke bahasa yang

    dikuasai oleh ketiganya.

  • 23

    4) Pokok Pembicaraan (Topik)

    Apabila seorang penutur mula-mula berbicara tentang hal-hal yang

    sifatnya formal, dan kemudian beralih ke masalah-masalah yang informal, maka

    akan dibarengi pula dengan peralihan kode dari bahasa baku, gaya netral dan

    serius ke bahasa tak baku, bergaya sedikit emosional atau humor dan serba

    seenaknya.

    5) Untuk Membangkitkan Rasa Humor

    Alih kode sering dimanfaatkan penutur untuk membangkitkan rasa humor.

    Alih kode yang demikian mungkin berwujud alih varian, alih ragam atau alih gaya

    bicara.

    6) Untuk Sekedar Bergengsi

    Sebagian besar penutur ada yang beralih kode sekedar untuk bergengsi.

    Alih kode demikian biasanya didasari oleh penilaian penutur bahwa bahasa yang

    satu lebih tinggi nilai sosialnya dari bahasa yang lain.

    5. Campur Kode

    Aspek lain dari saling ketergantungan bahasa (language dependency)

    dalam masyarakat multilungual adalah terjadinya gejala campur kode (code-

    mixing). Suwito (1996:88) menjelaskan bahwa campur kode terjadi karena adanya

    suatu gejala-gejala yang ditandai dengan adanya hubungan timbal balik antara

    peranan dan fungsi kebahasaan. Dengan kata lain hubungan timbal balik antara

    siapa yang menggunakan bahasa itu dengan apa yang hendak dicapai oleh penutur

    dengan tuturannya.

  • 24

    Ciri lain dari gejala campur kode ialah bahwa unsur-unsur bahasa atau

    variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai

    tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan

    secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi saja.

    Dwi Purnanto (2002:27) menjelaskan bahwa campur kode dapat

    diidentifikasi melalui ciri-cirinya, antara lain.

    1) Adanya aspek saling ketergantungan yang ditandai oleh adanya timbal

    balik antara peran dan fungsi kebahasaan. Peran adalah siapa yang

    menggunakan bahasa itu dan fungsi merupakan tujuan apa yang hendak

    dicapai oleh penutur.

    2) Penggunaan bahasa lain yang tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri,

    melainkan menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara

    keseluruhan mendukung satu fungsi.

    3) Campur kode dalam kondisi yang maksimal merupakan konvergensi

    kebahasaan yang unsur-unsurnya berasal drai beberapa bahasa yang

    masing-masing telah menanggalkan fungsinya dan mendukung fungsi

    bahasa yang disisipinya.

    4) Pemakaian bentuk campur kode tertentu kadang-kandang bermaksud

    untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya di dalam

    masyarakat.

    5) Wujud dan komponen kode tidak pernah berwujud kalimat, melainkan

    hanya berwujud perulangan kata, frasa, idiom, bentuk baster, perulangan

    kata dan klausa.

  • 25

    Kachru (dalam Suwito, 1996:89) memberikan batasan campur kode

    sabagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur

    bahasa yang satu ke dalam bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara

    konsisten.

    Lebih dalam dari itu, Thelander (dalam Suwito, 1996:89) berpendapat

    bahwa unsur-unsur bahasa yang terlibat dalam “peristiwa campur” (co-occurance)

    itu terbatas pada tingkat klausa. Apabila dalam suatu tuturan terjadi percampuran

    atau kombinasi antara variasi-variasi yang berbeda di dalam satu klausa yang

    sama, maka peristiwa itu disebut campur kode.

    6. Fungsi Bahasa

    Sudah banyak ahli bahasa yang telah mengemukakan pendapat mengenai

    fungsi bahasa. Dimulai dari Malinowski yang membedakan hanya dua fungsi,

    yaitu pragmatical dan magical. Kemudian muncul Karl Buhler yang membedakan

    fungsi bahasa menjadi tiga. Pertama, bahasa ekspresif yaitu bahasa yang terarah

    pada diri sendiri. Kedua, bahasa konatif yaitu bahasa yang terarah pada lawan

    bicaranya. Ketiga, bahasa representasional yaitu bahasa yang terarah pada

    kenyataan lainnya.

    Kerangka Buhler kemudian diperluas oleh Roman Jacobson (dalam

    Sudaryanto, 1990:12) yang menambahkan menjadi enam fungsi bahasa, yaitu (1)

    fungsi referensial, pengacu pesan; (2) fungsi emotif, pengungkapan keadaan

    pembicara; (3) fungsi konatif, pengungkap keinginan pembicara yang langsung

    atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak; (4) fungsi metalingual,

  • 26

    penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan; (5) fungsi fatis, pembuka,

    pembentuk, pemelihara hubungan atau pesan; (6) fungsi puitik.

    Setiap fungsi tersebut bersejajar dengan faktor fundamental tertentu yang

    memungkinkan bekerjanya bahasa. Fungsi referensial bersejajar dengan faktor

    konteks atau referen, fungsi emotif bersejajar dengan faktor pembicara, fungsi

    konatif bersejajar dengan faktor pendengar yang diajak bicara, fungsi metalingual

    sejajar dengan faktor sandi atau kode, fungsi fatis sejajar dengan faktor konteks,

    dan fungsi puitis sejajar dengan faktor amanat atau pesan.

    Berikut adalah penjelasan fungsi bahasa menurut Roman Jacobson yang

    disebutkan oleh Harimurti Kridalaksana dalam PELLBA 2 (1989:53-54).

    Jacobson mengembangkan model organon dari Buhler, menemukan enam faktor

    yang masing-masing sepadan dengan fungsi tertentu dalam bahasa. Fungsi emotif

    atau ekspresif berpusat pada sikap, status, dan keadaan emosi pembicara. Fungsi

    konatif berorientasi pada lawan bicara. Fungsi fatis istilah yang diambil dari

    Malinowski bersangkutan dengan amanat yang bertujuan untuk menetapkan,

    mengukuhkan, memperpanjang atau menghentikan komunikasi.

    Oleh A. Teeuw (1988:53-54) dijelaskan fungsi fatis dimaksudkan potensi

    bahasa sebagai alat untuk mengadakan komunikasi atau pun kontak dengan

    sesama manusia, lepas dari sudut arti kata misalnya „Apa kabar?‟, yang terutama

    berfungsi untuk mengadakan kontak. Fungsi referensial atau kognitif

    bersangkutan dengan usaha kita untuk menggambarkan objek dan memberikannya

    makna. Fungsi metalinguistik bersangkutan dengan usaha menggambarkan bahasa

    itu sendiri sebagai kode.

  • 27

    Lebih lanjut A. Teeuw menjelaskan fungsi metalinguistik adalah fungsi

    khas yang memungkinkan kita untuk berbicara mengenai bahasa dalam bahasa itu

    sendiri, misalnya „Apakah terang dalam bahasa Indonesia merupakan kata benda

    atau kata sifat?‟ Jadi dalam fungsi metalinguial sistem bahasa itu sendiri menjadi

    objek komunikasi. Fungsi puitik berorientasi pada amanat sebagai amanat, dan

    pada medium dengan segala aspeknya. Dengan fungsi ini bahasa menjadi sadar

    akan evaluasi diri yang mengungkapkan struktur-struktur terpendam yang

    terlewati dalam bahasa biasa.

    Kemudian Leech menyedehanakan pandangan Jacobson menjadi lima

    fungsi bahasa (Sudaryanto, 1990:13) yaitu fungsi (1) informasial, (2) ekspresif,

    (3) direktif, (4) aestetik, dan (5) fatis. Masing-masing fungsi berkorelasi dengan

    unsur utama situasi komunikatif, fungsi informasial dengan pokok masalah,

    fungsi ekspresif dengan originator yaitu pembicaraan atau penulis, fungsi direktif

    dengan penerima atau pendengar atau pembaca, fungsi aestetik dengan saluran

    komunikasi antar mereka, fungsi fatis dengan pesan kebahasaan itu sendiri.

    Berbeda dengan Leech yang menyederhanakan pandangan Jacobson

    menjadi lima, Dell Hymes menambahkan fungsi bahasa menjadi tujuh. Dalam

    Sudaryanto (1990:13) dijelaskan fungsi bahasa sosial bukan enam melainkan

    tujuh, yaitu (1) fungsi ekspresif atau emotif, (2) fungsi direktif, konatif, atau

    persuasif, (3) fungsi puitik, (4) fungsi kontak (fisik atau psikologis), (5) fungsi

    metalinguistik, (6) fungsi referensial dan (7) fungsi kontekstual atau situasional.

    Dari beberapa konsep fungsi bahasa yang telah dipaparkan di atas, peneliti

    cenderung menggunakan fungsi bahasa dari Roman Jacobson yang bertumpu pada

    fungsi emotif, fungsi konatif, fungsi referensial, dan fungsi metalingual untuk

  • 28

    menganalisis data dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan dalam jual beli

    handphone dan servis handphone banyak ditemukan tuturan yang mementingkan

    penutur dan mitra tutur.

  • 29

    C. Kerangka Pikir

    Bahasa

    Kelompok jual beli

    handphone dan aksesoris

    handphone

    Rekaman percakapan

    kelompok jual beli

    handphone dan aksesoris

    handphone dan tabloid

    Fungsi emotif

    Fungsi konatif

    Fungsi referensial

    Kontekstual

    Register

    Tuturan yang

    mengandung

    register kelompok

    jual beli

    handphone dan

    aksesoris

    handphone

    Konteks

    Tuturan tulis

    Karakteristik

    pemakaian

    bahasa

    kelompok jual

    beli handphone

    dan aksesoris

    handphone

    Kosakata khusus

    penentu register

    jual beli

    handphone dan

    aksesoris

    handphone

    Fungsi bahasa

    Istilah asing

    Singkatan

    Sapaan

    Hibrida

    Kontraksi

    Campur kode

    Alih kode