Bab I - Bab II

Embed Size (px)

Text of Bab I - Bab II

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Otitis media (OM) merupakan infeksi atau inflamasi pada telinga tengah.

Umumnya inflamasi ini terjadi saat infeksi pada tenggorok dan sistem respiratori menyebar sampai ke telinga tengah. Infeksi dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, dan dapat dalam bentuk akut maupun kronik (Perlstein, 2005). Radang telinga tengah (otitis media/ OM) ini sering terjadi pada anakanak dan menjadi masalah paling umum kedua pada praktek pediatrik (Paparella, Adams, & Levine, 1997). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO, diperkirakan sekitar 90% manusia pernah mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum umur 2 tahun dan puncak insidens kedua adalah tahun pertama sekolah dasar (Healy, 1996; Paparella, Adams, & Levine, 1997). Peningkatan kasus terjadi dari tahun ke tahun di Amerika Serikat. Tahun 1975 dilaporkan terdapat 9,9 juta kasus OM, peningkatan drastis sebesar 24 juta kasus pada tahun 1990, sebagian besar adalah anak di bawah umur 15 tahun (Bluestone & Klein, 2001), dan pada tahun 2002 diperkirakan 30 juta kasus yang dievaluasi dan diterapi OM (Beem, 2007). Penelitian terhadap 1050 anak sekolah dasar di Nepal oleh Maharjan, Bhandari, Singh, dan Mishra (2006) menemukan prevalensi OM sebesar 13,2%, sedangkan sebelumnya Mischra, Shah, & Kandpal (2002) menemukan prevalensi OM sebesar 12,13%. Negara yang berkembang lain, yaitu India Selatan ditemukan bahwa prevalensi OM sebesar 11, 9 % (Abraham, et al., 2003). Berdasarkan survei Departemen Kesehatan tahun 1996 di 7 propinsi di Indonesia, ditemukan insiden OM (atau yang dikenal orang awam sebagai congek atau curikan) sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Penduduk di saat itu berjumlah 220 juta dengan demikian diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OM (Surheyanto, 2000). Insidens otitis media pada anak-anak di Indonesia berbeda-beda, disimpulkan rata-rata 14-62 %. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Jakarta di TK dan SD Al-Azhar pada usia 4-12 tahun didapatkan prevalensi otitis media efusi sebesar 23,71 %. Bahkan prevalensi OM yang 1

berkembang menjadi supuratif kronik (OMSK) di Bantul mencapai angka 5,28% (Sastrowijoyo, Siswantoro, Hapsari, & Khavid, 1991). Pola distribusi penderita otitis media berdasarkan usianya di Poli THT RSUD AWS Samarinda pada tahun 2005 untuk umur 5-16 tahun adalah sekitar 16,5% (Alam, 2006). Epidemiologi otitis media sensitif terhadap variasi faktor resikonya. Faktor resiko OM terbagi menjadi 2, yaitu faktor dari host dan lingkungan (Kumar & Mitchell, 2007). Faktor-faktor yang termasuk dalam host adalah insidensi ISPA, riwayat alergi, riwayat otitis media (ROM) anak, dan ASI eksklusif (Heikkinen, Thint, & Chonmaitree, 1999; Yates, 2004). Faktor lingkungan adalah pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, riwayat otitis media di keluarga, pola pengasuhan anak, dan paparan asap rokok dalam rumah (Kumar & Mitchell, 2007). OM bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri tetapi merupakan akibat penyakit lain yaitu ISPA (Hendley, 2002). Penelitian di Departemen Pediatrik, Universitas Texas tahun 2008 melaporkan bahwa 61 % pasien anak dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) mengalami komplikasi OM (Chonmaitree, et al., 2009). 50% penderita OM terdiagnosis di minggu pertama ISPA (Chonmaitree, et al., 2007). Penelitian oleh Lanphear, Byrd, Auinger dan Hall (1997) menemukan 40,7% anak yang menderita OM memiliki riwayat alergi setidaknya satu dalam hidupnya. Hal ini disebabkan pada anak yang mengalami alergi, contoh terbanyak adalah rhinitis alergi, akan menyebabkan infeksi menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius. Selain itu, Homoe (2001) mengungkapkan adanya onset OM pertama kali di bawah usia 2 tahun akan meningkatkan resiko rekurensi OM. Paradise, et al (1997) melakukan studi prospektif pada 634 anak di Pittsburgh menderita OM, sebesar 90% anak yang menderita OM menerima ASI eksklusif kurang dari waktu 2 bulan. Anak yang mendapatkan ASI eksklusif kurang dari 4 bulan akan meningkatkan faktor resiko terjadinya OM. Ini diduga karena kurangnya daya imun anak terhadap kuman patogen OM (Lanphear, Byrd, Auinger, & Hall, 1997). Paradise, et al (1997) juga menemukan 60% anak yang didiagnosis OM memiliki ibu dengan pendidikan SMA ke bawah. Diduga karena kurangnya 2

pengetahuan ibu terhadap keadaan anaknya. Anak-anak yang menderita OM didominasi oleh ibu yang bekerja namun belum diketahui alasan pasti (Lanphear, Byrd, Auinger, & Hall, 1997). Maharjan, Bhandari, Singh, & Mischra (2006) melakukan penelitian di sekolah negeri dengan populasi yang multietnik untuk menilai prevalensi OM dan strata sosioekonomi anak yang menderita OM. Pada penelitian ini, didapatkan 85,6% dari anak yang menderita OM tersebut berasal dari strata sosioekonomi rendah. Pengaruh lingkungan keluarga ditemukan juga memiliki pengaruh terhadap faktor resiko terjadinya OM. Homoe (2001) memaparkan bahwa anak penderita OM memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang pernah menderita OM. Homoe menjelaskan bahwa anak yang memiliki anggota keluarga yang menderita OM akan membuat anak sering terpapar dengan kuman patogen, prinsip yang sama jika anak dititip di tempat penitipan anak. Penemuan lain yang sejalan dipaparkan di Pittsburgh adalah anak yang berada di tempat penitipan anak memiliki faktor resiko dua kali lipat dibandingkan anak yang diasuh di rumah (Paradise, et al., 1997). Linsk, et al (2002) menjelaskan bahwa ekspos di tempat penitipan anak akan meningkatkan paparan anak terhadap kuman infeksi saluran pernapasan atas. Penelitian oleh Linsk, et al (2002) menemukan adanya pengaruh paparan asap rokok dan alergen terhadap peningkatan faktor resiko prevalensi OM. Asap rokok yang terpapar pada anak dikatakan dapat merusak fungsi mukosiliar tuba Eustachius. Obstruksi pada tuba Eustachius yang terjadi menyebabkan pergantian udara tidak terjadi mengakibatkan tekanan negatif dalam kavum timpani sehingga terjadinya efusi serous (Cook, 2005). Perjalanan penyakit OM biasanya terjadi secara perlahan-lahan, dan pasien datang dengan gejala lebih dari satu (Smith & Danner, 2006). Saat OM berkembang dan kurang mendapat perhatian pasien serta rendahnya pengertian masyarakat terhadap akibat yang ditimbulkannya, mengakibatkan OM menjadi kronik (Hafil, 2005). Otitis media kronik (OMK) merupakan infeksi atau inflamasi telinga tengah dan sel-sel mastoid yang persisten lebih dari 3 minggu. Dalam kondisi ini seringkali melibatkan perforasi membran timpani dengan otorrhea yang intermitten, berlanjut menjadi otomastoiditis, disfungsi tuba 3

Eustachius, dan membran timpani yang semakin melemah (Smith & Danner, 2006). Komplikasi yang paling sering dijumpai adalah atelektaksis telinga dan koleastoma yang mengakibatkan penurunan pendengaran, baik tuli konduktif ataupun tuli campuran (Kirtane, et al., 1985; Yellon, McBridge, & Davis, 2002). Australian Hearing (2009) melaporkan OM dapat menyebabkan penurunan pendengaran sekitar 15-30 dB, dan bervariasi mulai dari tuli ringan sampai berat. WHO (2000) menyebutkan tuli konduktif yang disebabkan oleh OM dapat ditemukan pada semua usia, bahkan bayi berusia seminggu. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa konsekuensi komplikasi penurunan pendengaran yang disebabkan oleh otitis media kronik, terutama supuratif, memiliki dampak serius terhadap perkembangan verbal anak sebagai generasi muda dan kontribusinya adalah keterlambatan proses belajar-mengajar anak di sekolah (Sastrowijoyo, Siswantoro, Hapsari, & Khavid, 1991; WHO, 2000). OM memiliki potensi untuk menjadi serius karena komplikasi terjadi baik ekstrakranial maupun intrakranial (Smith & Danner, 2006) dan dapat menyebabkan kematian (Paparella, Adams, & Levine, 1997; DepKes RI, 2009). Berdasarkan paparan permasalahan di atas menunjukkan bahwa angka kejadian OM merupakan permasalahan kesehatan yang cukup serius terutama pada anak-anak sekolah dasar. Ini mendasari perlunya melakukan penelitian untuk mengetahui epidemiologi otitis media pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda ditinjau dari prevalensi dan faktor resikonya. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu : 1. 2. Berapa besar angka prevalensi otitis media pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda? Bagaimana gambaran otitis media ditinjau dari faktor resiko pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda?

4

1.3 1.3.1

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Mengetahui angka prevalensi dan gambaran faktor resiko otitis media

(OM) pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. 1.3.2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Tujuan Khusus Mengetahui gambaran angka prevalensi OM pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran distribusi usia terhadap prevalensi OM pada anakanak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran distribusi jenis kelamin terhadap prevalensi OM pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan pendidikan ibu pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan pekerjaan ibu pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan status sosioekonomi pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan pola pengasuhan pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan riwayat alergi pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan riwayat otitis media (OM) pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan insidensi ISPA pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan riwayat OM keluarga pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan pemberian ASI eksklusif pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda. Mengetahui gambaran faktor resiko OM berdasarkan paparan asap rokok dalam rumah pada anak-anak sekolah dasar di Samarinda.

5

1.4 1.4.1

Manfaat Penelitian Manfaat Praktis Memberikan informasi bagi pihak instansi terkait, terutama Dinas

Kesehatan Kota Samarinda untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk program penanggulangan penyakit otitis media pada anak sekolah dasar. 1.4.2 1. Manfaat Ilmiah Penelitian pendahuluan, sebagai acuan karena sampai sekarang belum ada penelitian tentang angka prevalensi otitis media pada sekolah dasar di Samarinda 2. Memperkaya informasi dan pengetahuan kedokteran terutama di bidang Ilmu Kesehatan Anak dan Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan khususnya otitis media (OM) 1.4.3 Manfaat bagi Peneliti Sebagai sarana penerapan dari ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan khususnya Ilmu Kesehatan Anak (IKA) dan Ilmu Penyakit THT, terutama ilmu penyakit telinga.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah meliputi gendang telinga, 3 tulang pendengaran (martir

atau malleus, landangan atau incus, dan sanggurdi atau stapes) dan muara tuba Eustachius. Getaran suara yang diterima oleh gendang telinga akan disampaikan ke tulang pendengaran. Masing-masing tulang pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang sanggurdi yang merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea atau rumah siput (Dhingra, 2004).

Gambar 2.1-1 Anatomi Telinga (Bluestone & Klein, 2001) Membran timpani (gendang telinga) dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran timpani letaknya tidak tegak lurus terhadap liang telinga tapi miring membentuk sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Bentuknya yang kerucut dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah kavum timpani dinamakan umbo. Dari umbo ke anterior bawah tampak refleks cahaya (cone of light). Membran timpani 7

dalam keadaan normal berwarna putih mutiara dengan pembuluh darah pada bagian tepinya. Namun dalam keadaan telinga tengah yang meradang dan terjadi penumpukan serus di kavum timpani tidak akan ditemukan cone of light pada membran timpani. Membran timpani secara anatomis dibagi menjadi 2 bagian yaitu pars tensa dan pars flasida (Corbeel, 2007; Yates, 2004). 2.2 2.2.1 Otitis Media Definisi Otitis Media Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang disebabkan oleh mikroorganisme piogenik dan ditandai dengan penumpukan cairan/ pus dalam telinga tengah tampak pada Gambar 2.2.1-1 (Djaafar, Helmi, & Restuti, 2007). Otitis media merupakan infeksi yang terjadi pada telinga tengah dan dapat diklasifikasikan secara klinis baik otitis media akut atau kronik, serta otitis media dengan efusi. Menurunnya mobilitas dan tekanan membran timpani dapat ditemukan pada ketiga jenis OM tersebut (Shaikh, et al., 2010).

Gambar 2.2.1-1 Telinga Tengah dalam Keadaan Normal (kiri) dan Otitis Media (kanan) (Perlstein, 2005) 2.2.2 Epidemiologi Otitis media merupakan penyakit infeksi yang paling sering ditemukan pada anak-anak di umur 2 tahun kehidupannya. Homoe (2001) mengungkapkan bahwa sebagian besar mengalami satu kali episode pada umur di bawah 2 tahun. Otitis media dapat menjadi supuratif ataupun non-supuratif. Pada non-supuratif terjadi peradangan membran timpani dengan efusi atau efusi yang steril. 8

Rekuren otitis media dikatakan saat terjadi otitis media akut lebih dari 3 kali otitis media supuratif akut dalam periode 6 bulan, atau lebih dari 4 kali dalam periode 12 bulan, dengan resolusi sempurna dari gejala klinis antara episode tersebut. Epidemiologi dari otitis media sering terjadi overlapping tergantung dari faktor resikonya (Yates, 2004). Faktor resiko dari otitis media dibagi menjadi 2, yaitu faktor lingkungan dan faktor host (Tabel 2.2.2-1). Tabel 2.2.2-1 Faktor yang Mempengaruhi Epidemiologi Otitis Media (Yates, 2004)

Faktor Lingkungan Pendidikan Ibu Pekerjaan Ibu Status Ekonomi Pola Pengasuhan Anak ASI Ekslusif Paparan Asap Rokok dalam Rumah Riwayat OM pada Anggota Keluarga Faktor Host Genetik Daya Tahan Tubuh Abnormal Defisiensi Imunoglobulin Neoplasma Ganas Terapi Imunosupresif AIDS Riwayat Alergi Insidensi ISPA Riwayat OM Penyakit Kongenital 2.2.2.1 Pendidikan Ibu Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, rekurensi OM secara tidak langsung dipengaruhi oleh pendidikan ibu (Lanphear, Byrd, Auinger, & Hall, 1997). Penelitian lain menemukan hasil serupa, bahwa kejadian OM meningkat pada anak dengan level pendidikan ibu di bawah SMA (Homoe P. , 2001; 9

Chonmaitree, et al., 2007). Sastrowijoyo, Siswantoro, Hapsari, & Khavid (1991) melakukan uji statistik terhadap variabel faktor sosioekonomi dalam hubungannya dengan kejadian OM. Penelitian menemukan pendidikan ibu, dengan x2-test, memiliki angka yang sangat bermakna (P