40
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara di dalam kavum/rongga pleura. Tekanan di rongga pleura pada orang sehat selalu negatif untuk dapat mempertahankan paru dalam keadaan berkembang (inflasi). Tekanan pada rongga pleura pada akhir inspirasi 4 s/d 8 cm H2O dan pada akhir ekspirasi 2 s/d 4 cm H2O. Kerusakan pada pleura parietal dan/atau pleura viseral dapat menyebabkan udara luar masuk ke dalam rongga pleura, Sehingga paru akan kolaps. Paling sering terjadi spontan tanpa ada riwayat trauma, dapat pula sebagai akibat trauma toraks dan karena berbagai prosedur diagnostik maupun terapeutik. Dahulu pneumotoraks dipakai sebagai modalitas terapi pada TB paru sebelum ditemukannya obat anti tuberkulosis dan tindakan bedah dan dikenal sebagai pneumotoraks artifisial . Kemajuan teknik maupun peralatan kedokteran ternyata juga mempunyai peranan dalam meningkatkan kasus-kasus pneumotoraks antara lain prosedur diagnostik seperti biopsi pleura, TTB, TBLB, dan juga beberapa tindakan terapeutik seperti misalnya fungsi pleura, ventilasi mekanik, IPPB, CVP dapat pula menjadi sebab teradinya pneumotoraks (pneumotoraks iatrogenik).Ada tiga jalan masuknya udara ke dalam rongga pleura, yaitu : 1. Perforasi pleura viseralis dan masuknyaudara dan dalamparu. 1

BAB I,II,II

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB I,II,II

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara di dalam kavum/rongga

pleura. Tekanan di rongga pleura pada orang sehat selalu negatif untuk dapat

mempertahankan paru dalam keadaan berkembang (inflasi). Tekanan pada rongga

pleura pada akhir inspirasi 4 s/d 8 cm H2O dan pada akhir ekspirasi 2 s/d 4 cm

H2O.

Kerusakan pada pleura parietal dan/atau pleura viseral dapat menyebabkan

udara luar masuk ke dalam rongga pleura, Sehingga paru akan kolaps. Paling

sering terjadi spontan tanpa ada riwayat trauma, dapat pula sebagai akibat trauma

toraks dan karena berbagai prosedur diagnostik maupun terapeutik.

Dahulu pneumotoraks dipakai sebagai modalitas terapi pada TB paru

sebelum ditemukannya obat anti tuberkulosis dan tindakan bedah dan dikenal

sebagai pneumotoraks artifisial . Kemajuan teknik maupun peralatan kedokteran

ternyata juga mempunyai peranan dalam meningkatkan kasus-kasus

pneumotoraks antara lain prosedur diagnostik seperti biopsi pleura, TTB, TBLB,

dan juga beberapa tindakan terapeutik seperti misalnya fungsi pleura, ventilasi

mekanik, IPPB, CVP dapat pula menjadi sebab teradinya pneumotoraks

(pneumotoraks iatrogenik).Ada tiga jalan masuknya udara ke dalam rongga

pleura, yaitu :

1. Perforasi pleura viseralis dan masuknyaudara dan dalamparu.

2. Penetrasidinding dada (dalamkasus yang lebihjarangperforasiesofagusatau

abdomen) dan pleura parietal, sehinggaudara dan

luartubuhmasukdalamrongga pleura.

3. Pembentukan gas dalam rongga pleura oleh mikroorganisme pembentuk gas

misalnya pada empiema.

Kejadian pneumotoraks pada umumnya sulit ditentukan karena banyak

kasus-kasus yang tidak di diagnosis sebagai pneumotoraks karena berbagai

sebab. Johnston & Dovnarsky memperkirakan kejadian pneumotoraks berkisar

antara 2,4-17,8 per 100.000 per tahun. Beberapa karakteristik pada pneumotoraks

antara lain: laki-laki lebih sering daripada wanita (4: 1) paling sering pada usia

20-30tahun.

Pneumotoraks spontan yang timbul pada umur lebih dan 40 tahun sering

disebabkan oleh adanya bronkitis kronik dan empisema. Lebih sering padaorang-

orang dengan bentuk tubuh kurus dan tinggi (astenikus) terutama pada mereka

1

Page 2: BAB I,II,II

yang mempunyai kebiasaan merokok. Pneumonotoraks kanan lebih sering terjadi

dan pada kiri.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Pneumothoraks ?

2. Apa Etiologi Terjadinya Pneumothoraks ?

3. Bagaimana Patofisiologi Pneumothoraks ?

4. Bagaimana Manifestasi Klinik Pneumothoraks ?

5. Apa Saja Komplikasi Pneumothoraks ?

6. Apa Saja Pemeriksaan Penunjang Pneumothoraks ?

7. Bagaimana Penatalaksanaan Pneumothoraks ?

8. Bagaimana Askep Pneumothoraks ?

9. Bagaimana Laporan Kasus Pneumothoraks ?

1.3 Tujuan

1. Untuk Mengetahui dan Memahami Pengertian Pneumothoraks

2. Untuk Mengetahui dan Memahami Etiologi Terjadinya Pneumothoraks

3. Untuk Mengetahui dan Memahami Patofisiologi Pneumothoraks

4. Untuk Mengetahuidan Memahami Manifestasi Klinik Pneumothoraks

5. Untuk Mengetahui dan Memahami Komplikasi Pneumothoraks

6. Untuk Mengetahui dan Memahami Pemeriksaan Penunjang Pneumothoraks

7. Untuk Mengetahui dan Memahami Penatalaksanaan Pneumothoraks

8. Untuk Mengetahui dan Memahami Askep Pneumothoraks

9. Untuk Mengetahui dan Memahami Laporan Kasus Pneumothoraks

2

Page 3: BAB I,II,II

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pneumothoraks

Pneumotoraks adalah pengumpulan udara didalam ruang potensial antara

pleura visceral dan parietal (Arif Mansjoer dkk, 2000).

Pneumotoraks adalah keluarnya udara dari paru yang cidera, ke dalam ruang

pleura sering diakibatkan karena robeknya pleura ( Suzanne C. Smeltzer, 2001).

Pneumotoraks adalah pengumpulan udara di dalam ruang potensial antara

pleura parietal dan viseral( kapita selekta kedokteran jilid2,2000).

Keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura (IPD Jilid I,939).

Laserasi paru-paru, atau keluarnya udara dari paru yang cedera ke dalamrongga

pleural (KMB Brunner & Suddart, 464).

2.2 Etiologi

Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan

penyebabnya:

o Pneumotoraks spontan

Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan primer terjadi

jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini

diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam

paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Faktor predisposisinya adalah

merokok sigaret dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.

Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit

paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis

kistik, tuberkulosis, batuk rejan).

o Pneumotoraks traumatik

Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat

menembus (luka tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan

kendaraan bermotor). Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari

tindakan medis tertentu (misalnya torakosentesis).

o Pneumotoraks karena tekanan

Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-

paru mengalami kolaps. Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi

pemompaan darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.

3

Page 4: BAB I,II,II

2.3 Patofisiologi

Pneumotoraks dapat disebabkan oleh trauma dada yang dapat mengakibatkan

kebocoran/tusukan/laserasi pleura viseral. Sehingga paru-paru kolaps

sebagian/komplit berhubungan dengan udara/cairan masuk ke dalam ruang

pleura. Volume di ruang pleura menjadi meningkat dan mengakibatkan

peningkatan tekanan intra toraks. Jika peningkatan tekanan intra toraks terjadi,

maka distress pernapasan dan gangguan pertukaran gas dan menimbulkan

tekanan pada mediastinum yang dapat mencetuskan gangguan jantung dan

sirkulasi sistemik.

4

Trauma Dada

Mengenai Rongga Thoraks Sampai Rongga Pleura, Udara Bisa Masuk

(Pneumothoraks)

Terjadi Robekan Pembuluh Darah Intercostal, Pembuluh Darah

Jaringan Paru-paru

Karena Tekanan Negatif Intrapleura, Maka Udara Luar

Akan Terhisap Masuk Ke Rongga Pleura (Sucking Wound)

Terjadi Perdarahan : (Perdarahan Jaringan

Interstitium, Perdarahan Intraalveolar Diikuti Kolaps

Kapiler Kecil-kecil dan Atelektasi)

Gangguan Perfusi

JaringanTahanan Perifer

Pembuluh Paru Naik (Aliran Darah Turun)

Open Pneumothoraks

Close Pneumothoraks

Tension Pneumothoraks

- Ringan Kurang 300 cc---Di Punksi

- Sedang 300-800 c---Di Pasang Drain

- Berat Lebih 800 cc---Torakotomi

Tekanan Pleura Terus Meningkat

Page 5: BAB I,II,II

2.4 Manifestasi Klinik

Mungkin lebih besar dari biasanya, mungkin pula normal. Terdapat bagian

dada yang tertinggal dalam gerakan pernapasan. Pada palpasi didapatkan fremitus

yang berkurang disisi trauma, mungkin teraba krepitasi karena emfisema sub kutan.

Juga ditemukan adnya pergeseran dari trakea, posisi jantung, dan mediastinum. Pada

perkusi ditemukan adnya hiper sonor atau timpani. Bising napas yang berkurang pada

auskultasi.

Pemeriksaan coin test. Sebuah logam ditekankan pada dinding thoraks

anterior dan diketuk dengan uang logam lainnya. Sementara itu dilakukan auskultasi

pada dinding thoraks posterior. Jika ada udara dalam rongga pleura, akan terdengar

suara metalik yang khas. Jika terdapat akumulasi cairan dan udara dalam rongga

pleura dan pasien merubah posisinya secara tiba-tiba, akan terdengar suara gerakan

air yang disebut sebagai succussion splash. (Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, 2000).

2.5Komplikasi

1. Atelektasis

2. ARDS

3. Infeksi

4. Edema pulmonary

5. Emboli paru

6. Efusi pleura

7. Empyema

8. Emfisema

9. Penebalan pleura

5

Nyeribernafas /pernafasanasimetris /adanyajejasatau trauma

Mendesak Paru-Paru (Kompresi dan Dekompresi),

Pertukaran Gas Berkurang

Sesak Napas yang Progresif

Gangguan Pola Pernapasan

Gangguan Rasa

Nyaman

Page 6: BAB I,II,II

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

1. Rontgen dada (untuk menunjukkan adanya udara diluar paru-paru)

2. Gas darah arteri.

Pada foto dada PA terlihat pinggir paru yang kolaps berupa garis.

Mediastinal shift dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita

inspirasi atau ekspirasi.

2.7 Penatalaksanaan

A. Prinsip Penatalaksanaan Trauma Toraks

1. Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma secara

umum (primary survey-secondary survey)

2. Tidak dibenarkan melakukan langkah-langkah: anamnesis, pemeriksaan

fisik, pemeriksaan diagnostik, penegakan diagnosis dan terapi secara

konsekutif (berturutan)

3. Standar pemeriksaan diagnostik (yang hanya bisa dilakukan bila pasien

stabil), Tidak dibenarkan melakukan pemeriksaan dengan memindahkan

pasien dari ruang emergency.

4. Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi

terutama untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan

melakukan tindakan penyelamatan nyawa.

5. Pengambilan anamnesis (riwayat) dan pemeriksaan fisik dilakukan

bersamaan atau setelah melakukan prosedur penanganan trauma.

a. Tindakan Bedah Emergency

1. Krikotiroidotomi

2. Trakheostomi

3. Tube Torakostomi

4. Torakotomi

5. Eksplorasi vaskular

B. PENATALAKSANAAN PNEUMOTHORAKS (UMUM)

Tindakan dekompressi yaitu membuat hubungan rongga pleura dengan udara

luar, ada beberapa cara :

1. Menusukkan jarum melalui diding dada sampai masuk kerongga pleura ,

sehingga tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut.

2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil, yaitu dengan:

6

Page 7: BAB I,II,II

a. Jarum infus set ditusukkan kedinding dada sampai masuk kerongga

pleura.

b. Abbocath : jarum Abbocath no. 14 ditusukkan kerongga pleura dan

setelah mandrin dicabut, dihubungkan dengan infus set.

c. WSD : pipa khusus yang steril dimasukkan kerongga pleura.

C. PENATALAKSANAAN PNEUMOTHORAKS (Spesifik)

1. Pneumotoraks Simpel

Adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks yang

progresif.

Ciri:

Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total)

Tidak ada mediastinal shift

PF: bunyi napas ↓ , hyperresonance (perkusi), pengembangan dada ↓

2. Pneumotoraks Tension

Adalah pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang

semakin lama semakin bertambah (progresif). Pada pneumotoraks tension

ditemukan mekanisme ventil (udara dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak

dapat keluar).

Ciri:

Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi : kolaps

total paru, mediastinal shift (pendorongan mediastinum ke kontralateral),

deviasi trakhea , venous return ↓ → hipotensi &respiratory distress berat.

Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan cepat,

takipneu, hipotensi, JVP ↑, asimetris statis & dinamis

Merupakan keadaan life-threatening tdk perlu Ro

Penatalaksanaan:

1. Dekompresi segera: large-bore needle insertion (sela iga II, linea mid-

klavikula)

2. WSD

3. Open Pneumothorax

Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga udara dapat

keluar dan masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan

sama dengan tekanan udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound . Terjadi

kolaps total paru.

Penatalaksanaan:

7

Page 8: BAB I,II,II

1. Luka tidak boleh ditutup rapat (dapat menciptakan mekanisme ventil)

2. Pasang WSD dahulu baru tutup luka

3. Singkirkan adanya perlukaan/laserasi pada paru-paru atau organ intra toraks

lain.

4. Umumnya disertai dengan perdarahan (hematotoraks)

4. Water Sealed Drainage

Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan

water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura ( rongga

pleura)

TUJUANNYA :

Mengalirkan / drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk

mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut

Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya

terisi sedikit cairan pleura / lubrican.

1. Perubahan Tekanan Rongga Pleura

2. Tekanan Istirahat Inspirasi Ekspirasi

3. Atmosfir 760 760 760

4. Intrapulmoner 760 757 763

5. Intrapleural 756 750 756

INDIKASI PEMASANGAN WSD :

Hemotoraks, efusi pleura

Pneumotoraks ( > 25 % )

Profilaksis pada pasien trauma dada yang akan dirujuk

Flail chest yang membutuhkan pemasangan ventilator

KONTRA INDIKASI PEMASANGAN :

Infeksi pada tempat pemasangan

Gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol.

CARA PEMASANGAN WSD

1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di

linea aksillaris anterior dan media.

2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.

3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam

sampai muskulus interkostalis.

8

Page 9: BAB I,II,II

4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.

Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah

sampai rongga pleura / menyentuh paru.

5. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat

dengan menggunakan Kelly forceps.

6. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke

dinding dada.

7. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.

8. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.

Penatalaksanaan: WSD

A. B.

C. D.

9

Page 10: BAB I,II,II

PEMASANGAN WSD

PemasanganSelang WSD

ADA BEBERAPA MACAM WSD :

1. WSD dengan satu botol

Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana

Botol berfungsi selain sebagai water seal juga berfungsi

sebagai botol penampung.

Drainage berdasarkan adanya grafitasi.

Umumnya digunakan pada pneumotoraks

2. WSD dengan dua botol

Botol pertama sebagai penampung / drainase

Botol kedua sebagai water seal

Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level.

Dapat dihubungkan sengan suction control

10

Page 11: BAB I,II,II

Tabung WSD DenganSistimSatuBotol&DuaBotol

3. WSD dengan 3 botol

Botol pertama sebagai penampung / drainase

Botol kedua sebagai water seal

Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan dikontrol dengan

manometer.

Tabung WSD denganSistimTigabotol

2.8 Askep Pneumothoraks

A. Pengkajian :

1. Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun.

2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu.

3. Pengobatan terakhir.

4. Pengalaman pembedahan.

5. Riwayat penyakit dahulu.

6. Riwayat penyakit sekarang.

7. Dan Keluhan.

B. Pemeriksaan Fisik :

11

Page 12: BAB I,II,II

1. Sistem Pernapasan :

Sesak napas

Nyeri, batuk-batuk

Terdapat retraksi klavikula/dada.

Pengambangan paru tidak simetris

Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.

Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani ,

hematotraks (redup)

Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang

berkurang/menghilang.

Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.

Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.

Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2. Sistem Kardiovaskuler :

Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.

Takhikardia, lemah

Pucat, Hb turun /normal.

Hipotensi.

3. Sistem Persyarafan :

Tidak ada kelainan.

4. Sistem Perkemihan.

Tidak ada kelainan.

5. Sistem Pencernaan :

Tidak ada kelainan.

6. Sistem Muskuloskeletal - Integumen.

Kemampuan sendi terbatas.

Ada luka bekas tusukan benda tajam.

Terdapat kelemahan.

Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

7. Sistem Endokrine :

Terjadi peningkatan metabolisme.

Kelemahan.

8. Sistem Sosial / Interaksi.

Tidak ada hambatan.

9. Spiritual :

Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

C. Pemeriksaan Diagnostik :

12

Page 13: BAB I,II,II

Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.

Pa Co2 kadang-kadang menurun.

Pa O2 normal / menurun.

Saturasi O2 menurun (biasanya).

Hb mungkin menurun (kehilangan darah).

Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

1. Pemeriksaan Diagnostik

a. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area

pleural, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal.

Pa Co2 kadang-kadang menurun.

Pa O2 normal / menurun.

Saturasi O2 menurun (biasanya).

Toraksentesis : menyatakan darah/cairan

b. GDA : variable tergantung dari derajat fungsi paru yang

dipengaruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan

mengkompensasi.

c. Torasentesis : menyatakan darah / cairan sero sanguinosa

d. Hb : mungkin menurun, menunjukkan kehilangan darah

D. Diagnosa Keperawatan :

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang

tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi

sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan

dan reflek spasme otot sekunder.

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan

ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.

5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang

bullow drainage.

7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme

sekunder terhadap trauma.

A. Intevensi Keperawatan :

13

Page 14: BAB I,II,II

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang

tidak maksimal karena trauma.

Tujuan : Pola pernapasan efektive.

Kriteria hasil :

Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.

Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.

Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

INTERVENSI RASIONAL

a. Berikan posisi yang nyaman,

biasanya dnegan peninggian

kepala tempat tidur. Balik ke

sisi yang sakit. Dorong klien

untuk duduk sebanyak

mungkin.

b. Obsservasi fungsi pernapasan,

catat frekuensi pernapasan,

dispnea atau perubahan tanda-

tanda vital.

c. Jelaskan pada klien bahwa

tindakan tersebut dilakukan

untuk menjamin keamanan.

d. Jelaskan pada klien tentang

etiologi/faktor pencetus

adanya sesak atau kolaps

paru-paru.

e. Pertahankan perilaku tenang,

bantu pasien untuk kontrol diri

dengan menggunakan

pernapasan lebih lambat dan

dalam.

f. Perhatikan alat bullow

a. Meningkatkan inspirasi maksimal,

meningkatkan ekpsnsi paru dan

ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

b. Distress pernapasan dan perubahan

pada tanda vital dapat terjadi sebgai

akibat stress fifiologi dan nyeri atau

dapat menunjukkan terjadinya syock

sehubungan dengan hipoksia.

c. Pengetahuan apa yang diharapkan

dapat mengurangi ansietas dan

mengembangkan kepatuhan klien

terhadap rencana teraupetik.

d.

e. Pengetahuan apa yang diharapkan

dapat mengembangkan kepatuhan

klien terhadap rencana teraupetik.

f. Membantu klien mengalami efek

fisiologi hipoksia, yang dapat

dimanifestasikan sebagai

ketakutan/ansietas.

14

Page 15: BAB I,II,II

drainase berfungsi baik, cek

setiap 1 - 2 jam :

1) Periksa pengontrol

penghisap untuk jumlah

hisapan yang benar.

2) Periksa batas cairan pada

botol penghisap,

pertahankan pada batas

yang ditentukan.

3) Observasi gelembung

udara botol penempung.

4) Posisikan sistem drainage

slang untuk fungsi

optimal, yakinkan slang

tidak terlipat, atau

menggantung di bawah

saluran masuknya ke

tempat drainage. Alirkan

akumulasi dranase bela

perlu.

5) Catat karakter/jumlah

drainage selang dada.

g. Kolaborasi dengan tim

kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi dan

fisioterapi.

Pemberian antibiotika.

Pemberian analgetika.

Fisioterapi dada.

Konsul photo toraks.

g. .

1) Mempertahankan tekanan negatif

intrapleural sesuai yang

diberikan, yang meningkatkan

ekspansi paru optimum/drainase

cairan.

2) Air penampung/botol bertindak

sebagai pelindung yang

mencegah udara atmosfir masuk

ke area pleural.

3) gelembung udara selama

ekspirasi menunjukkan lubang

angin dari penumotoraks/kerja

yang diharapka. Gelembung

biasanya menurun seiring dnegan

ekspansi paru dimana area

pleural menurun. Tak adanya

gelembung dapat menunjukkan

ekpsnsi paru lengkap/normal atau

slang buntu.

4) Posisi tak tepat, terlipat atau

pengumpulan bekuan/cairan pada

selang mengubah tekanan

negative yang diinginkan.

5) Berguna untuk mengevaluasi

perbaikan kondisi/terjasinya

perdarahan yang memerlukan

upaya intervensi.

h. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain

unutk engevaluasi perbaikan kondisi

klien atas pengembangan parunya.

15

Page 16: BAB I,II,II

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret

dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

Menunjukkan batuk yang efektif.

Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.

Klien nyaman.

INTERVENSI RASIONAL

a. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

b. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

c. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.

d. Lakukan pernapasan diafragma.

e. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

f. Lakukan napas ke dua, tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.

g. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

h. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.

i. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

j. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.

Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks.

a. Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

b. Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

c. Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

d. Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

e. Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

f. Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

g. Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

h. Untuk menghindari pengentalan dari sekret atau mosa pada saluran nafas bagian atas.

i. Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut

j. Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

16

Page 17: BAB I,II,II

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan

reflek spasme otot sekunder.

Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :

Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.

Pasien tidak gelisah.

INTERVENSI RASIONAL

a. Jelaskan dan bantu klien

dengan tindakan pereda nyeri

nonfarmakologi dan non

invasif.

b. Ajarkan Relaksasi : Tehnik-

tehnik untuk menurunkan

ketegangan otot rangka, yang

dapat menurunkan intensitas

nyeri dan juga tingkatkan

relaksasi masase.

c. Ajarkan metode distraksi

selama nyeri akut.

d. Berikan kesempatan waktu

istirahat bila terasa nyeri dan

berikan posisi yang nyaman;

misal waktu tidur,

belakangnya dipasang bantal

kecil.

e. Tingkatkan pengetahuan

tentang: sebab-sebab nyeri,

dan menghubungkan berapa

lama nyeri akan berlangsung.

f. Kolaborasi denmgan dokter,

pemberian analgetik.

a. Pendekatan dengan menggunakan

relaksasi dan nonfarmakologi lainnya

telah menunjukkan keefektifan dalam

mengurangi nyeri.

b. Akan melancarkan peredaran darah,

sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan

akan terpenuhi, sehingga akan

mengurangi nyerinya.

c. Mengalihkan perhatian nyerinya ke

hal-hal yang menyenangkan.

d. Istirahat akan merelaksasi semua

jaringan sehingga akan

meningkatkan kenyamanan.

e. Pengetahuan yang akan dirasakan

membantu mengurangi nyerinya.

Dan dapat membantu

mengembangkan kepatuhan klien

terhadap rencana teraupetik.

f. Analgetik memblok lintasan nyeri,

sehingga nyeri akan berkurang.

g. Pengkajian yang optimal akan

17

Page 18: BAB I,II,II

g. Observasi tingkat nyeri, dan

respon motorik klien, 30

menit setelah pemberian obat

analgetik untuk mengkaji

efektivitasnya. Serta setiap 1 -

2 jam setelah tindakan

perawatan selama 1 - 2 hari.

memberikan perawat data yang

obyektif untuk mencegah

kemungkinan komplikasi dan

melakukan intervensi yang tepat.

18

Page 19: BAB I,II,II

2.9 Laporan Kasus

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

Tn. R.N.DENGAN PNEUMOTHORAX

DENGAN PEMASANGAN WSD

1. PENGKAJIAN

1. Identitas

Nama : Tn.R.N.

Jenis kelamin : Laki-laki

Usia : 78 tahun

Agama : Islam

Status : Kawin

Alamat : SBY

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : pensiunan PNS

Tanggal masuk : 07-03-2002

No Reg : 10139789

Tanggal pengkajian : 25-03-2002 jam 08.00 WIB

Diagnosa Medik : Pneumotoraks paru kiri post terpasang WSD

2. Alasan MRS : sesak, nyeri dada kiri pada tanggal 7 maret 2002

3. Keluahan utama

Nyeri pada dada kiri luar

P, telah dilakukan tindakan pemasangan slang pada dada kiri luar karena adanya udara berlebihan di paru

Q, nyeri seperti cekit-cekit pada lokasi tersebut yang dirasakan bertambah bila dibuat gerak, batuk

R, nyeri pada dada kiri terutama tempat pemasangan slang, terdapat luka sekitar dada kiri sebanyak 9 tempat kanan dan kiri 3 tempat untuk pemasangan karet dibawah kulit, disamping itu klien kadang-kadang masih batuk kering

19

Page 20: BAB I,II,II

S, klien merasa tidak sesak, sesaknya berkurang dan lebih enak sejak dipasang slang tersebut, kebutuhan istirahat cukup, tidur dengan posisi setengah duduk dengan bantal yang agak ditinggikan.

T , Waktu sesak, nyeri kadang-kadang, sesaat

4. Riwayat Penyakit Sekarang

- Terpasang WSD dan Cutanue suction sejak tanggal 11 maret 2002 akibat

komplikasi empisium kutis akibat mengejan pada saat BAB

- 11-03-2002 bedah thoraks WSD bisa diganti dengan mesin BD dan

suction negatif – 18 cm H2O, Multple insisi

- Kontrol foto tiap 6 jam massage daerah emphysema sub kutis kearah

insisi,

5. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat DM, hipertensi, asma disangkal

6. Riwayat kesehatan keluarga

- penyakit keturunan disangkal

- kepala ruamh tanggal 30 tahun

- anak 1 orang

- isteri DM dan HT dengan teratur periksa ke poli

7. Pola Aktifitas Sehari –hari (Activity Daily Living)

NO

Uraian

Aktivitas sehari-hari

Rumah Rumah Sakit

1 Pola Nutrisi Makan 3 kali perhari seadanya (nasi, lauk, pauk dan sayuran) seperti yang disajikan di keluarganya

Mulai minum sediktis-sedikit kurang lebih 1 botol aqua besar

2 Pola Eliminasi BAB lancar 1 kali perhari, konsistensi lembek, kuning.

BAK

Kencing spontan

BAB pernah menggunakan obat lewat dubur

3 Pola Istirahat/tidur Tidak ada masalah (3-4 Kadang-kadang

20

Page 21: BAB I,II,II

jam tidur siang) dan malam (7-8 jam)

tersakit/nyeri pada dada kirinya disaat tidur.

4 Pola Personal Hygiene

Mandi 2-3 kali perhari dengan menggunakan sabun mandi, kuku dipotong tiap 1 minggu

Klien dilap oleh keluarganya 2 kai sehari

5 Pola Aktifitas Kegiatan sehari-hari mengikuti program kegiatan di sekolahannya

Klien tidur terlentang dengan kepala agak ditinggikan 45 o /setengah duduk

6 Ketergantungan Merokok sejak tahun 1970, setiap hari habis 10 batang.

Tidak ada

8. Psikososial

a. Kosep diri

Identitas

Status klien dalam keluarga : ayah, puas dengan status dan posisinya dalam keluarga, puas terhadap jenis kelaminnya

Peran

Senang terhadap perannya, sanggup melaksanakan perannya sebagai kepala rumah tangga,

Harapan klien terhadap penyakit yang sedang dideritanya :

Klien mengharapkan cepat sembuh dan dapat melaksanakan kembali tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga

Sosial / Interaksi

Dukungan keluarga : aktif, reaksi saat interaksi kooperatif dan ada kontak mata.

b. Spiritual

Konsep tentang penguasa kehidupan : Allah

Sumber kekuatan/harapan disaat sakit : Allah

Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : membaca kitab suci

Klien yakin bahwa penyakitnya dapat disembuhkan dan menganggap bahwa penyakitnya ini hanya cobaan dari Allah.

21

Page 22: BAB I,II,II

9. Pengkajian Sistem

Keadaan umum

Keadaan umum sedang (aktivitas sebagian dibantu) dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

TTV = suhu 36,5 oC, nadi 92 kali/mnt, tensi 120/80 mmHg, RR 32 kali/menit

Sistem Pulmonal

Subyektif : sesak nafas, nyeri pada dada kiri dan bertambah bila dibuat gerak

Obyektif : Pernafasan vesikuler +/ menurun, RR 28 X/menit , tanpa bantuan oksigen, sputum (-), tidak terdengar stridor, tidak ditemukan ronchii dan wheezing pada lapang paru basal kanan dan kiri, terpasang WSD produksi 30 cc, retraksi intercostals dan klavikula (-), ekspansi paru simetris, krepitasi pada lapangan paru kiri dan kanan

Sistem Cardiovaskuler

Subyektif : -

Obyektif : Denyut nadi 96 kali/menit, tensi 130/80, terpasang infuse RL.

Sistem Neurosensori

Subyektif : -

Obyektif : GCS (V 5 M 6 E 4), refleks pupil positif, isokhor 3 mm/3mm, refelsk fisiologis (+), refleks patologis (-)

Sistem genitourinaria

Subyektif : kencing spontan

Obyektif : pola eliminasi, BAK lancar kuning

Sistem digestif

Subyektif : -

Obyektif :Bu (+) normal

Sistem Musculoskeletal

Subyektif : tangan dan kaki dapat digerakkan secara aktif tanpa bantuan, pada

Obyektif : tonus otot baik, Kekuatan otot +5/+5 +5/+5,

22

Page 23: BAB I,II,II

10. Data penunjang

a. Hasil Laboratorik

Tanggal 18-03-2002

Hb : 14,1 mg% (11,4 – 15,1 mg%)

Trombosit : 207 X 109/l (150 – 300 X 109/l )

Leukosit : 6,6 X 109/l (4,3 – 11,3 X 109/l )

PCV : 40,9 ( 0,38-0,42 )

Lymph 15,6

Mono 4,8 %

Gran 79,6%

Eos < 10 %

Baso < 3 %

Tanggal 7 maret 2002

GDA 390 mg/dl

SGOT 17 gr/dl

SGPT 29 gr/dl

b. Hasil foto (21-03-2002)

Penumothoraks sinestra, pneumomediastinum, emphysema subkutan

11. Penatalaksanaan

Terapi Pengobatan :

- Perawatan WSD dan vulnus

- Codein 2 x 10 mg

- Laxadine 2 dd CI

- Diit TkTP

- Observasi TTV

Diagnosa keperawatan :

1. Perubahan kenyamanan (Nyeri) berhubungan dengan trauma insisi jaringan

dan sekunder pemasangan WSD.

2. Perubahan pola pernafasan berhubungan dengan menurunya fungsi pernafasan

3. Risiko terhadap tranmisi infeksi yang berhubungan dengan tindakan invasive

pemasangan WSD, dan muiltiple insisi.

23

Page 24: BAB I,II,II

4. Risiko terjadi komplikasi/penyakitnya berulang berhubungan dengan proses

perjalanan penyakitnya.

II. Perencaaan

1. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan

sekunder pemasangan WSD

Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :

Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.

Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.

Pasien tidak gelisah.

INTERVENSI RASIONAL

a. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.Ajarkan Relaksasi :

1) Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.

2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

b. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.

c. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.

d. Kolaborasi dengan dokter, pemberian expectoran

e. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.

a. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.1) Akan melancarkan peredaran

darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.

2) Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.

b. Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

c. Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

d. expectorans memblok lintasan batuk, sehingga batuknya berkurang.

e. Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

24

Page 25: BAB I,II,II

2. Perubahan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya fungsi

pernafasan

Tujuan

Setelah dilakukan tindkaan keperawatand an pengobatan +, 5 hari pola pernafasan klien kembali normal

Kriteria :

- Klien dapat menyebutkan faktor penyebab

- Klien dapat menyatakan cara efektif untuk mengatasi masalahanya

- Pernafasan nomral 16-24 kali/mnt, nadi 70-80 kali/mnt

- Ventilasi inspirasi : ekspiransi 2 :1

- Tidak sesak

INTERVENSI RASIONAL

1. Monitor pola pernafasan (frekuensi, irama, kedalaman dan intensitas)

2. Lakukan dan ajarkan klien untuk mengatur posisi dengan tidur setengah duduj atau duduj

3. Ajarkan klien cara batuk yang efektif dan kembang kempis paru:- nafas dalam dengan

menggunakan pernafasan dadak

- ditahan 3-5 detik dan dihembuskan secara perlahan dengan mengeggunakan mulut

- ulangi yangkedu kalinya, gunakan dengan kuat batuk diantara kedua batuknya

4. Pertahankan hidrasi dengan minum yang cukup 1,5 liter.hari

5. lanjutkan dengan penyuluhan dan pendidikan kesehatan

6. jelaskan klien untuk mengatasi sesaknya secara terkontrol

1. Data monitoring keadaan umum dan perkembangan penyakitnya.

2. psosis inimelonggarkan kerja paru dalam kembang kempis dan tikan menekan diafragma

3. Batuk efektif dan pernafasan yang dalam daldah tindkan untuk mengeluarkan dahak dan melatih kembang kempis paru.

4. Hidrasi untuk mengencerkan dahak sehingga melancarakan proses ventilasi, transormasi dan difusi.

5. Proses pembelajaran dan keterlibatan klien dalam mengatasi masalahanya

6. Latiahn ini untuk melatih kembang kempis paru dan kemandirian.

3. Risiko terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan tindakan invasive

WSD, dan multiple insisi

Tujuan : tidak terjadi infeksi selama

25

Page 26: BAB I,II,II

Kriteria hasil :

- tidak ada tanda-tanda infeksi (pemasanagn infuse, WSD, dan kateter)

- TTV normal (suhu 36-37oC)

- Leukosit 8.000-10.000.

INTERVENSI RASIONAL

a. Identifikasi tanda-tanda terjadinya infeksi pada pemasangan WSD dan multiple insisi.

b. Anjurkan klien dan keluarga ikut menjaga kebrsihan sekitar luka dna pemasangan alat, serta kebersihan lingkungan serta tehnik mencuci tangan sebelum tindakan.

c. Lakukan perawatan luka pada pemasangan WSD, dan multple insisi.

d. Identifikasi factor pendukung dan penghambat klien dan keluarga dalam peningkatan pertahanan tubuh, makan dna minum

a. Infeksi yang diketahui secara dini mudah diatasi sehingga tidak terjadi perluasan infeksi.

b. Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi

c. Dapat membantu menurunkan kontak infeksi nosokomial.

d. Pengetahuan tentang faktor ini membantu klien untuk mengubah pola hidup dan menghindari insiden infeksi

DAFTAR PUSTAKA

26

Page 27: BAB I,II,II

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

27

Page 28: BAB I,II,II

Makalahkeperawatanmedikalbedah .1

Asuhankeperawatanpneumothoraks

28