Appendisitis RA SAB

Embed Size (px)

Text of Appendisitis RA SAB

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    1/35

    PAPER DAN LAPORAN KASUS APPENDISITIS DENGAN TEKNIK

    REGIONAL ANESTESI SUB-ARACHNOID BLOCK

    Oleh:

    Lingda Pebrisah !"###$%$&'

    Ca(ra Diningra) !"###$%*$'

    Teg+h Dhar,a Iriad !"###$%*"'

    Ir,a +.a !"###$%/#'

    Pe,bi,bing:

    dr0 As,in L+bis1 DA21 S30An1 KAP1 K4N

    KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ANASTESIOLOGI

    RU4AH SAKIT U4U4 HA5I 4EDAN

    4EDAN

    $%#"

    3

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    2/35

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah mencurahkan nikmat

    dan karunia-Nya sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas paper ini.

    Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar uhammad

    shalallahu !alaihi wasallam, yang telah membawa manusia dari "aman jahiliah ke

    alam yang penuh ilmu pengetahuan ini.

    Alhamdulillah berkat kemudahan yang diberikan Allah subhanahu

    wata#ala, kami dapat menyelesaikan tugas paper yang berjudul $Appendisitis

    %engan Teknik &egional Anestesi Sub-Arachnoid 'lock.( %alam

    penyusunan paper ini, kami mendapatkan beberapa hambatan serta kesulitan.

    Akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak hal tersebut dapat teratasi. )leh

    karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua

    pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada dr.

    Asmin *ubis, %A+, Sp.An, AP, N, selaku pembimbing. Semoga segala

    bantuan yang kami terima akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah

    subhanahu wata#ala.

    Adapun penulisan tugas paper ini dibuat sebagai salah satu syarat dalam

    mengikuti kegiatan kepaniteraan klinik senior bagian anastesiologi di &umah

    Sakit aji edan.

    Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan masih banyak kekurangan

    dan jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu Penulis sangat mengharapkan kritikdan saran yang ditujukan untuk membangun.

    edan, / aret 012

    Penyusun

    4

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    3/35

    DA2TAR ISI

    HALA4AN SA4PUL000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    i

    KATA PENGANTAR00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    DA2TAR ISI0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    BAB I PENDAHULUAN0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    A0 La)arBela(ang0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    BAB $ TIN5AUAN PUSTAKA0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    B0 A3endisi)is

    #0 De6inisi 00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $0 Klasi6i(asi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    *0 E)i7l7gi000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    /0 Pa)76isi7l7gi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    80 Diagn7sis000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    "0 Diagn7sis Banding000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    &0 Pena)ala(sanaan 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    90 De6inisi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    0 De6inisi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    #%0 De6inisi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000##0 De6inisi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    #$0 De6inisi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    #*0

    $0$ Ana)7,i Sal+ran Pen;ernaan000000000000000000000000000000000000000

    $0* E3ide,i7l7gi0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $0/ E)i7l7gi PSC4BA0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    5

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    4/35

    $08 Pa)76isi7l7gi PSC4BA000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $0" Diagn7sis0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $0& Diagn7sis Banding0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $09 Pena)ala(sanaan000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    $0 K7,3li(asi dan Pr7gn7sis000000000000000000000000000000000000000000000

    BAB * PENUTUP00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    *0# Kesi,3+lan 00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    DA2TAR PUSTAKA000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

    6

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    5/35

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Secara garis besar anestesi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

    anestesi umum dan anestesi regional. Salah satu anestesi regional yang

    banyak digunakan adalah subarachnoid block 3SA'4 atau disebut juga anestesi

    spinal.

    SA' menimbulkan blok simpatis, analgesia sensoris dan blok motorik

    3tergantung pada dosis, konsentrasi atau 5olume dari anestesi lokal4.

    euntungan lain dari penggunaan neura6ial blok yang e7ekti7 adalah

    penurunan tekanan darah arteri yang dapat diprediksi dan juga denyut nadi

    sehubungan dengan simpatektomi dengan kejadian 5asodilatasi dan blokade

    serabut kardioselarator, untuk menjaga tekanan darah dan denyut nadi tetap

    dalam batas normal, sering dibutuhakan obat 5asoakti7 dan cairan intra5ena.

    SA' mempunyai beberapa keuntungan antara lain, perubahan

    metabolik dan respon endokrin akibat stress dapat dihambat, jumlah

    perdarahan dapat dikurangi, komplikasi terhadap jantung, otak, paru dapat

    minimal, trombeoemboli berkurang, relaksasi otot dapat maksimal pada

    daerah yang terblok sementara pasien tetap dalam kondisi sadar. Selain

    keuntungan juga terdapat kerugian dalam cara ini, yaitu berupa komplikasi yang

    meliputi hipotensi, mual, muntah, postdural puncture headache 3P%P4, nyeri

    pinggang dan lainnya. Segera setelah teranestesi, tekanan darah akan turun

    dengan cepat karena 5asodilatasi. al ini menimbulkan timbunan darah di

    peri7er dan mengurangi aliran balik 5ena sehingga menyebabkan turunnya

    curah jantung. Pasien dapat mengalami kerusakan organ akibat per7usi yang

    kurang, bahkan dapat terjadi henti jantung karena kurangnya per7usi koroner.

    7

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    6/35

    Penurunan tekanan darah berhubungan dengan penurunan curah jantung,

    resistensi pembuluh sistemik, hambatan mekanisme baroreseptor, depresi

    kontraktilitas miokard, penurunan akti5itas simpatik dan e7ek inotropik

    negati5e. 87ek depresi miokard dan 5asodilatasi yang tejadi tergantung dosis.

    9asodilatasi terjadi akibat penurunan akti5itas simpatik dan e7ek langsung

    mobiliasai :a pada interseluler otot polos.

    Ada beberapa alternati7 terapi hipotensi. Autotrans7usi dengan posisi

    head downdapat menambah kecepatan pemberian preload. 'radikadi yang

    berat dapat diberikan antikolinergik. ;ika hipotensi tetap terjadi setelah

    pemberian cairan, maka 5asopresor langsung atau tidak langsung dapat

    diberikan, seperti e7edrin dengan dosis

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    7/35

    BAB II

    TIN5AUAN PUSTAKA

    A0 SE5ARAH RA-SAB

    Anestesi spinal pertama kali dikenal tahun 1>>< dan digunakan

    dalam klinik oleh August 'ier pada tahun 1>?> di kota eil, ;erman. SA'

    pertama kali digunakan untuk prosedur pembedahan pada abad lalu,

    digunakan secara luas sampai tahun 1?/-an, sampai pada akhirnya banyak

    dilaporkan cedera neurologik yang permanen. Publikasi dari studi

    epidemiologi tahun 1?

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    8/35

    Peralatan yang diperlukan dalam analgesia spinal ini terdiri aatas peralatan

    monitor seperti tekanan darah, nadi, pulse oxymetry, dan 8B peralatan

    resusitasiCanestesi umumB serta jarum spinal dengan ujung tajam 3Duincke-

    'abcock4 atau jarum spinal dengan ujung pensil.

    B0 INDIKASI RA-SAB

    =ndikasi dilakukannya teknik anastesi &A-SA' adalah sebagai berikutE

    1. Transurethral prostatectomy 3blok pada T1 diperlukan karena terdapat

    iner5asi pada buli buli kencing40. ysterectomy

    F. :aesarean section 3T24

    /. 85akuasi alat ' yang tertinggal

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    9/35

    Penyakit jantung

    ipo5olemia ringan

    Nyeri punggung kronis

    D0 KO4PLIKASI RA-SAB

    omplikasi Pasca Tindakan

    Nyeri tempat suntikan

    Nyeri punggung

    Nyeri kepala karena kebocoran likuor

    &etensio urine

    eningitis

    E0 TEKNIK ANASTESI

    Teknik anestesi spinal dimulai dengan memposisikan pasien duduk atau

    posisi tidur lateral. Posisi ini adalah yang paling sering dikerjakan. Perubahan

    posisi berlebihan dalam F menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.

    'erikut teknik anesthesia spinal dengan blok subarachnoidE

    1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral.

    'eri bantal kepala, selain nyaman untuk pasien juga agar tulang spinosus

    mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.

    0. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua rista iliaka dengan

    tulang punggung ialah */ atau */-*

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    10/35

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    11/35

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    12/35

    dapat dilkukan mandiri oleh sta7 medis 7ungsional ataupun bersama dengan sta7

    medis lain di bangsal, pada kasus darurat koreksi dilakukan bersama diruang

    resusitasi =&% atau di kamar operasi =&%.

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    13/35

    E ;ika prosedur merupakan prosedur emergensi, maka status pemeriksaan

    diikuti $8( 3isal, $08(4

    lasi7ikasi status 7isik ASA bukan merupakan alat prakiraan risiko

    anestesi, karena e7ek samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari e7ek samping

    pembedahan. Penilaian ASA diklasi7ikasikan menjadi < kategori. ategori ke-2

    selanjutnya ditambahkan untuk ditujukan terhadap brain-dead organ donor. Status

    7isik ASA secara umum juga berhubungan dengan tingkat mortalitas perioperati7.

    arena penyakit yang mendasari hanyalah satu dari banyak 7aktor yang

    berkontribusi terhadap komplikasi perioperti7. eskipun begitu, klasi7ikasi status

    7isik ASA tetap berguna dalam perencanaan manajemen anestesi, terutama teknik

    monitoring.

    *0 Persia3an Pre73era)i6

    a. asukan oral

    &e7lek laring mengalami penurunan selama anestesi. &egurgitasi isi

    lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan na7as merupakan resiko utama

    pada pasien yang menjalani anestesi. Hntuk meminimalkan risiko tersebut, semua

    pasien yang dijadwalkan untuk operasi elekti7 dengan anestesi harus dipantangkan

    dari masukan oral 3puasa4 selama periode tertentu sebelum induksi anestesi. Pada

    pasien dewasa umumnya puasa 2-> jam, anak kecil /-2 jam dan pada bayi F-/

    jam. akanan tak berlemak diperbolehkan < jam sebelum induksi anestesi.

    inuman bening, air putih, teh manis sampai F jam dan untuk keperluan minum

    obat air putih dalam jumlah terbatas boleh = jam sebelum induksi anesthesia.

    b. Terapi :airan

    15

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    14/35

    Pasien yang puasa tanpa intakecairan sebelum operasi akan mengalami

    de7isit cairan karena durasi puasa . %engan tidak adanyaintakeoral, de7isit cairan

    dan elektrolit bisa terjadi cepat karena terjadinya pembentukan urin, sekresi

    gastrointestinal, keringat, dan insensible lossesyang terus menerus dari kulit dan

    paru. %e7isit bisa dihitung dengan mengalikan kebutuhan cairan maintenance

    dengan waktu puasa.

    c. Premedikasi

    Premedikasi ialah pemberian obat 1-0 jam sebelum induksi anestesidengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi

    diantaranyaE

    eredakan kecemasan dan ketakutan

    emperlancar induksi anestesi

    engurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

    eminimalkan jumlah obat anestetik

    engurangi mual muntah pasca bedah

    enciptakan amnesia

    engurangi isi cairan lambung

    engurangi re7lek yang membahayakan

    ecemasan merupakan reaksi alami, jika seseorang dihadapkan pada

    situasi yang tidak pasti. embina hubungan baik dengan pasien dapat

    membangun kepercayaan dan menentramkan hati pasien. )bat pereda kecemasan

    bisa digunakan dia"epam peroral 1-1< mg beberapa jam sebelum induksi

    anestesi. ;ika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid misalnya

    petidin

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    15/35

    premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol 0,

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    16/35

    Terapi cairan intra5ena dapat terdiri dari in7us kristaloid, koloid, atau

    kombinasi keduanya. :airan kristaloid adalah cairan dengan ion low molecular

    weight 3garam4 dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid juga

    mengandung "at-"athigh molecular weight seperti protein atau glukosa polimer

    besar. :airan koloid menjaga tekanan onkotik koloid plasma dan untuk sebagian

    besar intra5askular, sedangkan cairan kristaloid cepat menyeimbangkan dengan

    dan mendistribusikan seluruh ruang cairan ekstraseluler.

    :airan dipilih sesuai dengan jenis kehilangan cairan yang digantikan.

    Hntuk kehilangan terutama yang melibatkan air, penggantian dengan cairan

    hipotonik, juga disebut cairan jenis maintenance. ;ika kehilangan melibatkan

    baik air dan elektrolit, penggantian dengan cairan elektrolit isotonik, juga disebut

    cairan jenis replacement.

    arena kebanyakan kehilangan cairan intraoperati7 adalah isotonik, cairan

    jenis replacement yang umumnya digunakan. :airan yang paling umum

    digunakan adalah larutan &inger laktat. eskipun sedikit hipotonik, menyediakan

    sekitar 1 m* 7ree water per liter dan cenderung untuk menurunkan natrium

    serum 1F m8LC*, &inger laktat umumnya memiliki e7ek yang paling sedikit

    pada komposisi cairan ekstraseluler dan merupakan menjadi cairan yang paling

    7isiologis ketika 5olume besar diperlukan. ehilangan darah durante operasi

    biasanya digantikan dengan cairan &* sebanyak F hingga empat kali jumlah

    5olume darah yang hilang.

    etode yang paling umum digunakan untuk memperkirakan kehilangan

    darah adalah pengukuran darah dalam wadah hisapCsuction dan secara 5isual

    memperkirakan darah pada spons atau lap yang terendam darah. Hntuk 1 spon

    ukuran /6/ cm dapat menyerap darah 1 cc sedangkan untuk lap dapat menyerap

    1-1

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    17/35

    Salah satu tugas utama dokter anestesi adalah menjaga pasien yang

    dianestesi selama operasi. arena proses monitoring sangat membantu dalam

    mempertahankan kondisi pasien, oleh karena itu perlu standard monitoring

    intraoperati7 yang diadopsi dari ASA 3standard monitor berikut ini adalah standard

    minimal monitoring4E

    a0 S)andard Basi; Anes)he)i; 47ni)7ring

    Standard ini diterapkan di semua perawatan anestesi walaupun pada

    kondisi emergensi, appropriate life support harus diutamakan. Standard iniditujukan hanya tentang basic anesthetic monitoring, yang merupakan salah satu

    komponen perawatan anestesi. Pada beberapa kasus yang jarang atau tidak la"im

    314 beberapa metode monitoring ini mungkin tidak praktis secara klinis dan 304

    penggunaan yang sesuai dari metode monitoring mungkin gagal untuk mendeteksi

    perkembangan klinis selanjutnya.

    14 Standard =

    Personel anestesi yang kompeten harus ada di kamar operasi selama general

    anestesi, regional anestesi berlangsung, dan memonitor perawatan anestesi.

    04 Standard ==

    Selama semua prosedur anestesi, oksigenasi, 5entilasi, sirkulasi, dan

    temperature pasien harus die5alusi terus menerus.

    Parameter yang biasanya digunakan untuk monitor pasien selama anestesi

    adalahE

    - +rekuensi napas, kedalaman, dan karakter

    - eart rate, nadi, dan kualitasnya

    - Warna membran mukosa, dan capillary re7ill time

    - edalamanCstadium anestesi 3tonus rahang, posisi mata, akti5itas re7lek

    palpebra4

    -adar aliran oksigen dan obat anestesi inhalasi

    19

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    18/35

    - Pulse o6imetryE tekanan darah, saturasi oksigen, suhu.

    H0 P7s)73era)i6

    #0 Pe,indahan Pasien dari Ka,ar O3erasi (e Re;7

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    19/35

    anestesi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa proses trans7er tersebut

    berjalan dengan lancar.

    $0 Pera=a)an P7s) Anes)esi di Re;7

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    20/35

    c4 elompok ===E pasien yang menjalani operasi kecil, singkat dan

    rawat jalan. Pada pasien ini respirasi adekuat harus dipertahankan

    selain itu juga harus bebas dari rasa ngantuk, ataksia, nyeri dan

    kelemahan otot sehingga pasien dapat kembali pulang.

    04 &uang Pulih

    a4 Tujuan perawatan pasca anesthesia di ruang pulihE memantau

    secara kontinyu dan mengobati secara cepat dan tepat masalah

    respirasi dan sirkulasi, mempertahankan kestabilan sistem respirasi

    dan sirkulasi, memantau perdarahan luka operasi,mengatasiCmengobati masalah nyeri pasca bedah.

    b4 Pasien yang tidak memerlukan perawatan pasca anesthesia di ruang

    pulihE pasien dengan anesthesia lokal yang kondisinya normal,

    pasien dengan risiko tinggi tertular in7eksi sedangkan di ruang

    pulih tidak ada ruang isolasi, pasien yang tidak memerlukan terapi

    intensi7, pasien yang akan dilakukan tindakan khusus di ruangan.

    F4 Pemantauan dan penanggulangan kedaruratan edik

    c4 al-hal yang perlu diperhatikan yaitu meliputi pemulihan

    kesadaran, respirasi 3sumbatan jalan na7as dan depresi na7as4,

    sirkulasi 3tekanan darah dan denyut jantung4, 7ungsi ginjal dan

    saluran kencing, 7ungsi saluran cerna, akti5itas motorik, suhu

    tubuh, masalah nyeri, posisi pasien, pemantauan pasca anesthesia

    dan criteria pengeluaran yakni dengan menggunakan Skor Aldrete.

    Pasien tetap berada dalam PA:H sampai pulih sepenuhnya dari pengaruh

    anestesi, yaitu tekanan darah stabil, 7ungsi pernapasan adekuat, saturasi oksigen

    minimal ?

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    21/35

    POSTANESTHETIC ALDRETE RECO>ER SCORE

    ORIGINAL CRITERIA 47di6ied Cri)eria P7in)>al+e

    COLOR O?gena)i7n

    PINK Sp)0M?0G on room air 0

    PALE OR DUSK Sp)0M?G on o6ygen 1

    CANOTIC Sp)0?G on o6ygen

    RESPIRATION

    CAN BREATHE DEEPL

    AND COUGH

    'reathes deeply and coughs

    7reely

    0

    [email protected] BUT ADEUATE

    ECHANGE

    %yspneic, shallow or limited

    breathing

    1

    APNEA OR OBSTRUCTION Apnea

    CIRCULATION

    BLOOD PRESSURE @ITHIN

    $% O2 NOR4AL

    'lood pressure O 0 mmg o7

    normal

    0

    23

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    22/35

    BLOOD PRESSURE @ITHIN

    $%8% O2 NOR4AL

    'lood pressure O [email protected] 8% 2RO4

    NOR4AL

    'lood pressure more than O IT

    4O>ES ALL ETRE4ITIES Same 0

    4O>ES [email protected] ETRE4ITIES Same 1

    NO 4O>E4ENT Same

    Berdasar(an 3ada Aldre)e 5A1 Kr7nli( D: A postanesthetic recovery score0

    Anes)h Analg #&%F/:$/ and Aldre)e 5A: The post-anesthesia recovery score

    24

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    23/35

    revisited0 5 Clin Anes)h #8F&:90Idealna1 3asien di-dischargebila )7)al s(7r

    #% a)a+ ,ini,al 0

    riteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien

    untuk dikeluarkan dari PA:H adalahE

    a. +ungsi pulmonal yang tidak terganggu

    b. asil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat

    c. Tanda-tanda 5ital stabil, termasuk tekanan darah

    d. )rientasi pasien terhadap tempat, waktu, dan orang

    e. Produksi urin tidak kurang dari F mlCjam

    7. ual dan muntah dalam kontrolg. Nyeri minimal

    ontrol nyeri postoperati7, mual dan muntah, dan mempertahankan

    normotermia sebelum pasien di-discharge sangat dibutuhkan. Sistem skoring

    untuk discharge digunakan secara luas. Sebagian besar kriteria yang dinilai adalah

    Sp)0 3atau warna kulit4, kesadaran, sirkulasi, respirasi, dan akti5itas motorik.

    Sebagian besar pasien memenuhi kriteria discharge dalam waktu O 2 menit di

    PA:H. Sebagai tambahan dari kriteria diatas, pasien dengan general anestesi

    seharusnya juga menunjukkan adanya resolusi dari blokade sensoris dan motoris.

    Postoperati5e nausea and 5omiting 3P)N94 merupakan masalah yang

    sering terjadi setelah prosedur general anestesi, terjadi pada sekitar 0-FG

    pasien. 'ahkan, P)N9 bisa terjadi ketika pasien di rumah 0/ jam setelah

    discharge 3postdischarge nausea and 5omiting4. 8tiologi P)N9 biasanya

    multi7aktorial yang meliputi agen anestesi, tipe atau jenis anestesi, dan 7aktorpasien sendiri.

    Terjadi peningkatan insiden mual setelah pemberian opioid selama

    anestesi, setelah pembedahan intraperitoneal 3umumnya laparoskopi4, dan operasi

    strabismus. =nsidensi tertinggi terjadi pada wanita muda. eningkatnya tonus

    5agal bermani7estasi sebagai sudden bradikardi yang seringkali mendahului atau

    bersamaan dengan emesis. Anestesi propo7ol menurunkan insiden P)N9.

    25

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    24/35

    Selecti5e

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    25/35

    I0 8+8 &A-SA'

    Subarachnoid block 3SA'4 adalah salah satu teknik anestesi

    regional dengan cara penyuntikan obat anestesi local ke dalam ruang

    subarachnoid dengan tujuan untuk mendapatkan analgesia setinggi

    dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka 3leinman, 004. Penyuntikan

    obat anestetik local pada ruang subarachnoid diantara konus medularis dan

    bagian akhir dari ruang subarachnoid adalah untuk menghindari adanya

    kerusakan pada medulla spinalis. Pada orang dewasa, obat anestetik local

    disuntikan ke dalam ruang subarachnoidantara *0 dan *

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    26/35

    Status Perkawinan E Sudah enikah

    No & E 0

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    27/35

    Sensorium E :ompos entis

    Tekanan %arah E 10CI mmg

    Nadi E >F6Cmenit

    && E 006Cmenit

    Suhu E F2,

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    28/35

    8kstremitas E edema -C-

    Geni)alia : Skrotum de6tra dan sinistra tidak simetris, skrotum sinistra tampak

    membesar dan berbentuk lonjong

    Pe,eri(saan Pen+nang

    Hasil Lab7ra)7ri+,

    Darah R+)in

    b E 1F,I gCdl

    T E /1,I G

    8ritrosit E /,2 6 12CR*

    *eukosit E 2.> mmF

    Trombosit E 12I.CR*

    4e)ab7li(

    %S E 10< mgCd*

    Asam Hrat E mgCd*

    2+ngsi Ginal

    HreumE 0I mgCdl

    reatininE 1,0 mgCdl

    Diagn7sis : Hernia Ing+inalis La)eralis De?)ra

    RENCANA TINDAKAN

    30

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    29/35

    Tindakan E erniora7i

    Anesthesi E &A-SA'

    PS-ASA E 1

    Posisi E Supinasi

    Pernapasan E anul nasal )0

    KEADAAN PRA BEDAH

    Pre 73era)i6

    B# !Brea)h'

    Airway E :lear

    && E 06Cmenit

    SP E 9esikuler kaki

    ST E &onchi 3-4, Whee"ing 3-C-4

    B$ !Bl77d'

    Akral E angatCerahCering

    T% E 1 mmg

    & E > 6Cmenit

    B* !Brain'

    Sensorium E :ompos entis

    Pupil E =sokor, kaki FmmCFmm

    &: E 3Q4C3Q4

    31

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    30/35

    B/ !Bladder'

    Hrine )utput E -

    ateter E tidak terpasang

    B8 !B7=l'

    Abdomen E Soepel

    Peristaltik E Normal 3Q4

    ualCuntah E 3-4C3-4

    B" !B7ne'

    )edem E 3-4

    PERSIAPAN OBAT RA-SAB

    In)ra)e(al

    'upi5acaine ,

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    31/35

    asa 1C0 basah E < 6 < 0< cc

    Suction E -

    ;umlah E I

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    32/35

    o Pergerakan E 0

    o Pernapasan E 0

    o Warna kulit E 0o Tekanan darah E 0

    o esadaran E 0

    P8&AWATAN P)ST )P8&AS=

    Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang pemulihan setelah

    dipastikan pasien pulih dari anestesi dan keadaan umum, kesadaran serta

    5ital sign stabil, pasien dipindahkan ke bangsal dengan anjuran untukbedrest 0/ jam, tidur telentang dengan 1 bantal untuk mencegah spinal

    headache, karena obat anestesi masih ada.

    TERAPI POST OPERASI

    =stirahat sampai pengaruh obat anestesi hilang

    =9+% &* FgttCmenit

    inum sedikit-sedikit bila sadar penuh dan peristaltic 3Q4 Normal

    =nj. etorolac FmgC>jam =9

    =nj. &anitidine jam =9 bila mualCmuntah

    34

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    33/35

    DA2TAR PUSTAKA

    'oulton T., 'logg :. 1??/.omplikasi dan !ahaya Anestesi" Anestesiologi. 8:.

    ;akarta. ppE00?-0F1

    %obson, ichael '. 1??/.#enuntun #raktis Anestesi. ;akarta E 8:

    8li"abet ;. :orwin. 0. 'uku saku pato7isiologi. 8:E ;akarta

    ;ong, W.%., 0/. %inding Perut, ernia, &etroperitoneum, dan )mentum.

    %alamE Sjamsuhidayat, &., ed. 'uku Ajar =lmu 'edah. ;akartaE 8:,

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    34/35

    buku ajar ilmu bedah edisi 0E ;akartaE alamanE

  • 7/25/2019 Appendisitis RA SAB

    35/35