of 27/27
Case Peritonitis et causa appendisitas perforasi PEMBIMBING : Dr. Bayuadji spB DISUSUN OLEH : NAMA : Sofiuddin bin nordin NIM : 030.08.305

makalah appendisitis

  • View
    220

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of makalah appendisitis

Case Peritonitis et causa appendisitas perforasiPEMBIMBING : Dr. Bayuadji spB DISUSUN OLEH : NAMA : Sofiuddin bin nordin NIM : 030.08.305

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti 4 Juli 2010

STATUS MEDIK PASIEN RSUD KOJA

I.

Identitas

Nama Usia Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RS

: Anak x : 14 tahun : laki-laki : bujang : Islam : mahaiswa : kampong samper : 2 juli 2012

II.

Autoanamnesis tanggal 2 juli 2012 pukul 11.00 pagi

Keluhan Utama

: Nyeri di seluruh lapang abdomen

Keluhan Tambahan

: Tidak bisa kencing, tidak bisa BAB,

RPS: Pasien mengeluh nyer perut 3 minggu yang lalu SMRS. Pada mulanya nyeri dibagian ulu hati. Kemudian nyeri tersebut pindah ke perut bahagian kanan bawah. Pasien dibawa oleh ibunya ke dukun di cirebon untuk mengobati nyeri perutnya. Dukun tersebut memberi obat pil dan melakukan urutan dibagian perut pasien. Setelah 1 minggu dibawa ke dukun, ternyata nyeri perut masih belom hilang, sekali lagi ibu pasien berobat ke pengobatan alternatif herba di cirebon dan diberi obat herbal. Nyeri perut pasien masih masih juga belom sembuh. Ibu pasien mengambil keputusan membawa pasien ke dokter dicirebon dan di diagnosis menderita peradangan usus buntu(appedisitis) dan disarankan oleh dokter untuk melakukan operasi. Setelah itu pasien pindah ke jakarta bersama ibunya. Seminggu sebelum ke RSUD koja nyeri perut semakin bertambah berat dan menyebar ke seluruh abdomen pasien. Pasien mengeluh tidak bisa BAB , kencing dan

kentut. Pasien tidak mual tapi pernah muntah sebanyak 3 kali dengan isinya makanan yang dimakan. Tidak ada batuk dan pasien mengeluh tubuhnya lemas. Setelah sampai di RSUD koja, dipasang kateter berukuran 13fr , keluar cairan putih sekitar 400cc.

RPD: Pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya, penyakit lain disangkal

RPK: Tidak ada dalam keluarga pasien mengalami hal yang sama, riwayat penyakit keturunan disangkal

Riwayat Kebiasaan Kurang mengkomsumsi sayur sayuran pasien tidak meroko riwayat imunisasi tidak lengkap Alkohol (-)

III.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum: Kesan sakit: Berat, diinfus RL 20 tetes/ menit macrodrip pada tangan kanan Kesadaran: Compos Mentis

Tanda Vital: TD : 100/60 mmHg Suhu : 38C diukur di ketiak Nadi RR : 100x/menit : 20x/menit

Kepala: Bentuk : Normocephali

Rambut Mata

: Distribusi baik, hitam. : Pupil bulat isokor, Conjunctiva Anemis (+/+), Sclera Icterik (-/-), Reflek cahaya langsung dan tidak langsung (+/+).

Wajah: Nyeri ketuk/tekan os frontalis dan maxilla (-) Perbesaran KGB submaxilla dan submental (-)

Hidung: Deviasi septum (-) Hiperemis mukosa (-) Secret (-)

Telinga: Normotia Nyeri tekan tragus (-) Nyeri tekan mastoid (-) Serumen (-) Membrane tympani sulit terlihat. Mulut dan Tenggorokan: Bibir tidak pucat, kering, cyanosis. Gusi merah muda, tidak ada perdarahan. Gigi geligi lengkap. Lidah bersih, tidak ada papil atrofi, deviasi, tremor. Mukosa buccal merah muda, tidak ada perdarahan. Tonsil T1/T1 tenang. Uvula di tengah, tidak ada deviasi. Faring tidak hiperemis.

Leher: Perbesaran KGB cervicalis (-)

Trakhea lurus di tengah. Tidak ada perbesaran thyroid.

Thorax: Paru-Paru: Inspeksi :Simetris kedua thorax pada keadaan statis dan dinamis. Ginekomastia (-) Pelebaran vena (-) Spider nevi (-) Retraksi sela iga (-) Roseola (-) Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung: Inspeksi Palapasi Perkusi Auskultasi :Ictus cordis tidak terlihat. :Ictus cordis tidak teraba. : Tidak dinilai :S1,S2 regular. Murmur (-), Gallop (-). : Tidak dinilai : Tidak dinilai :Suara nafas vesikuler, ronchi (-), wheezing (-).

Ekstremitas atas dan bawah: Kedua eksremitas atas berwarna coklat, berkeringat, tonus otot baik, kekuatan otot 5/5, perfusi hangat, oedema (-). Kedua eksremitas bawah berwarna coklat, berkeringat, tonus otot baik, kekuatan otot 5/5, perfusi hangat, oedema (-).

IV.

Status Lokalis ( Regio abdomen) : Tampak seluruh abdomen pasien cembung : defens muskuler(+), nyeri tekan dan lepas diseluruh abdomen pasien : tidak dilakukan : bising usus menurun 1x/menit

Inspeksi Palapasi Perkusi Auskultasi

Rectal toucher: Tonus sfingter ani : Baik Ampula Rekti Mukosa rektum Prostat : Tidak Kolaps : Licin, tidak berbenjol-benjol, massa (-) :Teraba tidak membesar teraba, sulcus medianus mendatar,

konsistensi kenyal, permukaan licin, nyeri tekan dijam 11 Sarung tangan : Feses +, Darah -, Lendir -

PEMERIKSAAN LABORATORIUM 20-7-12 Hematologi : Hb Lekosit Hematokrit Trombosit Masa pembekuan darah Masa pendarahan Gula darah sewaktu 10,7 13.600 32 458.000 13 04 90 Eletrolik Na k cl Tes widal S typhi o S paratyphi A O negative negative 134 3,24 1,03 134-146 3,4-4,5 96-108 Mmol/L Mmol/L Mmol/L 12.0 16.0 4.100 10.900 36 - 46 140.000 - 440.000 05-15 01-06 60-100 g/dl /uL % /uL menit menit Mg/dl Nilai Normal Satuan

S paratyhpi B O S parathypi C O

negative negative

Pemeriksaan penunjang Dilakukan foto BNO 3 posis

Distribusi udara normal Udara meningkat Free air

V.

Resume Anak x berusia 14 tahun datang dengan keluhan nyeri perut 3 minggu yang lalu SMRS. Pada mulanya nyeri dibagian ulu hati. Kemudian nyeri tersebut pindah ke perut bahagian kanan bawah. Setelah satu minggu nyer diulu hati berpindah ke abdomen bagian kanan bawah. Pernah berobat ke dukun dan alternatif malah nyeri perutnya semakin bertambah buruk dan pasien mengeluh nyeri diseluruh lapang abdomen. Setelah 3 minggu berobat, pasien dibawa ke RSUD koja. Pasien mengeluh tidak bisa BAB , kencing dan kentut. Pasien tidak mual tapi pernah muntah sebanyak 3 kali dengan isinya makanan yang dimakan. Tidak ada batuk

dan pasien mengeluh tubuhnya lemas. Setelah sampai di RSUD koja, dipasang kateter berukuran 13fr , keluar cairan putih sekitar 400cc dan berbau busuk. Pasien menyangkal pernah menderita penyakit sebelumnya dan tidak terdapat penyakit heriditer dalam keluarga pasien. Pasien sulit untuk makan sayur dan ibu pasien mengaku bahwa imunisasi pasien tidak lengkap. Pasa pemeriksaan tanda vital suhu tubuh pasien meningkat yaitu 38C , pada pemeriksaan fisik pada regio abdomen teraba perut pasien keras seperti papan, nyeri tekan dan lepas serta bising usus menurun. Pada pemeriksaan rectal toucher, terdapat nyeri tekan pada jam 11. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hb menurun dan lekositosis menandakan adanya infeksi Pada pemeriksaan BNO 3 posisi didapatkan distribusi udara normal tetapi meningkat dan terdapatnya free air

VI.

Diagnosis Kerja Peritonitis et causa appendisitis perforasi

VII.

Diagnosis Banding 1) Gastroenteritis 2) Demam dengue 3) Limfadenitis mesentrika

VIII. Pemeriksaan Anjuran Pemeriksaan urinalisa Ct scan

IX.

Pengobatan: NGT Kateter 13fr IVFD RL 20 tetes/menit Pelastin 2x1gr Ranitidin 2x 1 amp Metronidazole x 250 mg

X.

Prognosis Ad vitam: dubia ad bonam Ad fungsionam: dubia ad bonam Ad sanasionam: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Appendicitis adalah suatu peradangan pada appendix. Peradangan ini pada umumnya disebabkan oleh infeksi yang akan menyumbat appendix.(3,4,9) B. Anatomi Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih. Secara anatomi appendix sering disebut juga dengan appendix vermiformis atau umbai cacing.(3) Appendix terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendix berada di sebelah postero-medial secum.Dari topografi anatomi, letak pangkal appendix berada pada titik Mc.Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.(4,5) Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendix juga mempunyai mesenterium. Mesenterium ini berupa selapis membran yang melekatkan appendix pada struktur lain pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran appendix dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan appendix yang panjang menyebabkan appendix bergerak masuk ke pelvis (antara organ-organ pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan appendix bergerak ke belakang colon yang disebut appendix retrocolic.(3) Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis. Sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. thoracalis X. Karena itu nyeri viseral pada appendicitis bermula disekitar umbilicus.Vaskularisasinya berasal dari a.appendicularis cabang dari a.ileocolica, cabang dari a. mesenterica superior.(2) C. Fisiologi

Fungsi appendix pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendix menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan ke appendix dan secum. Hambatan aliran lendir di muara appendix berperan pada patogenesis appendicitis.(1,3,5) Dinding appendix terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yaitu Ig A. Immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.(2,3) Etiologi Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini.2 namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya : 1. Faktor sumbatan (obstruksi) Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture.1 2. Faktor Bakteri Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah

kuman anaerob sebesar 96% dan aerob