of 28 /28
BAB I PENDAHULUAN Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendiks vermicularis. Appendiks merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan. Peradangan akut Appendiks atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah. 1 Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan pada anak-anak maupun dewasa, meskipun tidak umum pada anak sebelum usia sekolah. Berdasarkan World Health Organization (2002), angka mortalitas akibat apendisitis adalah 21.000 jiwa. Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya. Insidensi appendicitis di Asia dan Afrika pada tahun 2004 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi. Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006, apendisitis menempati urutan keempat penyakit terbanyak di Indonesia setelah dispepsia, gastritis dan duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan jumlah pasien rawat inap sebanyak 28.040. 2 Kesulitan dalam mendiagnosis apendisitis masih merupakan masalah dalam bidang bedah. Terdapat beberapa pasien yang menunjukan gejala dan tanda apendisitis yang tidak khas, sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam diagnosis dan 1

fitri appendisitis

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: fitri appendisitis

BAB I

PENDAHULUAN

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendiks vermicularis. Appendiks

merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan

bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi

kesehatan. Peradangan akut Appendiks atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi

yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah.1

Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan pada

anak-anak maupun dewasa, meskipun tidak umum pada anak sebelum usia sekolah.

Berdasarkan World Health Organization (2002), angka mortalitas akibat apendisitis adalah

21.000 jiwa. Terdapat sekitar 250.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat

setiap tahunnya. Insidensi appendicitis di Asia dan Afrika pada tahun 2004 adalah 4,8% dan

2,6% penduduk dari total populasi. Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006,

apendisitis menempati urutan keempat penyakit terbanyak di Indonesia setelah dispepsia,

gastritis dan duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan jumlah pasien rawat inap

sebanyak 28.040.2

Kesulitan dalam mendiagnosis apendisitis masih merupakan masalah dalam bidang

bedah. Terdapat beberapa pasien yang menunjukan gejala dan tanda apendisitis yang tidak

khas, sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam diagnosis dan keterlambatan dalam hal

penanganannya. Riwayat perjalanan penyakit pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal

yang paling penting dalam mendiagnosis Appendicitis.2

Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendiks yang

terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan

tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena

peritonitis dan syok. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan

bahwa Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen di

seluruh dunia.3

1

Page 2: fitri appendisitis

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Anatomi

Apendiks Vermiformis merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10

cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal

dan melebar di bagian distal. Namun pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada

bagian proksimal dan menyempit pada distalnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab

rendahnya insidens apendisitis pada usia itu.4

Gambar 1. Gambaran Appendiks4

Gambar 2. Anatomi Appendiks4

Secara histologi, struktur apendiks sama dengan usus besar. Kelenjar submukosa dan

mukosa dipisahkan dari lamina muskularis. Diantaranya berjalan pembuluh darah dan

2

Page 3: fitri appendisitis

kelenjar limfe. Bagian paling luar apendiks ditutupi oleh lamina serosa yang berjalan

pembuluh darah besar yang berlanjut ke dalam mesoapendiks.5

Gambar 3. Histologi Appendiks5

Dinding apendiks terdiri dari  semua lapisan  dinding usus,  tiga taenia koli 

membentuk lapisan luar dari lapisan muskulus longitudinal . Pertemuan ketiga taenia koli

merupakan letak basis apendiks dan merupakan petunjuk posisi apendiks. Posisi basis

apendiks dengan caecum adalah konstan, dimana sisi bebas apendiks ditemukan pada

berbagai variasi misalnya: pelvic, retrocaecal, retroileal.4

Gambar 4. Variasi Lokasi Appendiks1

3

Page 4: fitri appendisitis

Apendiks mendapat aliran darah dari  arteri apendikularis yang merupakan cabang

langsung dari arteri ileocolica. Arteri ini merupakan arteri tanpa kolateral, sehingga Jika

arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami

gangrene. Persyarafan parasimpatis berasal dari cabang  nervus vagus yang mengikuti

arteri mesenterika superior, sedangkan persyarafan sensoris  berasal dari nervus torakalis

X. Karena itu nyeri visceral pada apendisitis bermula dari umbilikus.6

2.2 Definisi

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. Apendisitis akut adalah

penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah rongga abdomen,

penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.4

Klasifikasi appendicitis terbagi menjadi dua yaitu, appendicitis akut dan appendicitis

kronik.5

Appendicitis akut

Appendicitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang

mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak

disertai rangsang peritoneum lokal. Gajala appendicitis akut ialah nyeri samar-samar

dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus.

Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan

menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri

dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik

setempat6

Appendicitis kronik

Diagnosis appendicitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya : riwayat

nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik appendiks secara

makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik appendicitis kronik adalah

fibrosis menyeluruh dinding appendiks, sumbatan parsial atau total lumen appendiks,

adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan adanya sel inflamasi kronik.

Insiden appendicitis kronik antara 1-5%.5

2.3 Insidensi

Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur. Namun jarang pada anak kurang

dari satu tahun, insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun. Insidensi pada laki-

laki dan perempuan umumnya sebanding. Insidensi Appendicitis acuta di negara maju

lebih tinggi daripada di negara berkembang, tetapi beberapa tahun terakhir angka

4

Page 5: fitri appendisitis

kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya

penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.5

2.4 Etiologi

Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendiks sehingga

terjadi kongseti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi infeksi. Appendicitis

umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Penyebab obstruksi yang paling sering adalah

fecolith.. Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi4:

1. Hiperplasia folikel lymphoid

2. Carcinoid atau tumor lainnya

3. Benda asing (pin, biji-bijian)

4. Parasit

Penyebab lain yang diduga menimbulkan Appendicitis adalah ulserasi mukosa

appendiks oleh parasit E. histolytica. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada

pasien appendicitis yaitu5:

Bakteri aerob Bakteri anaerob

Escherichia coli

Viridans streptococci

Pseudomonas aeruginosa

Enterococcus

Bacteroides fragilis

Peptostreptococcus micros

Bilophila species

Lactobacillus species

2.5 Patofisiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia

folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan

sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi

mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun

elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan

peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat

aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada

saat inilah terjadi apendisitis akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.7

5

Page 6: fitri appendisitis

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan

menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.

Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga

menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif

akut.7

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang

diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding

yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas

berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks

hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada

apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena

omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding apendiks lebih tipis.

Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang sehingga

memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi

karena telah ada gangguan pembuluh darah.7

Gambar 4. Appendicitis Akibat Fecolith7

2.6 Manifestasi Klinis

2.6.1 Gejala Klinis

Gejala Appendicitis acuta umumnya timbul kurang dari 36 jam. Gejala klasik

apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di

daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang

ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan

berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam

dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kadang tidak

6

Page 7: fitri appendisitis

ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa

memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa

mempermudah terjadinya perforasi.6

Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung

oleh sekum, tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak tanda

rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul

pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.6

Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan

gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat,

pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks

tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing

karena rangsangan dindingnya.6

Pada appendicitis tanpa komplikasi biasanya demam ringan (37,5 -38,5 0 C).

Jika suhu tubuh diatas 38,6 0 C, menandakan terjadi perforasi. Sebagian besar pasien

mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang merasa nyeri

berkurang setelah buang air besar. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-

anak. Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendiks.5,8

Tabel 1. Gejala Appendicitis acuta8

Gejala* Frekuensi (%)

Nyeri perut 100

Anorexia 100

Mual 90

Muntah 75

Nyeri berpindah 50

Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian

anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke titik

Mc Burney kemudian demam yang tidak terlalu tinggi)

50

7

Page 8: fitri appendisitis

*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam

2.6.2 Tanda Klinis

Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha

kanan, karena pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. Hal

tersebut akan mengurangi tekanan ke arah Appendiks sehingga nyeri perut

berkurang.9

Gambar 5. Posisi yang dilakukan untuk mengurangi nyeri perut5

Appendiks umumnya terletak di sekitar McBurney. Namun perlu diingat

bahwa letak anatomis Appendiks sebenarnya dapat pada semua titik, 360o

mengelilingi pangkal Caecum. Appendicitis letak retrocaecal dapat diketahui dari

adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior superior. Appendicitis letak

pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal.9

Secara teori, peradangan akut Appendiks dapat dicurigai dengan

adanya nyeri pada pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Namun, pemeriksaan ini

tidak spesifik untuk Appendicitis. 9

Secara klinis, dikenal beberapa manuver diagnostik: 5,6,9

Nyeri tekan Mc. Burney.

8

Page 9: fitri appendisitis

Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc.

Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.

Nyeri lepas karena rangsangan peritoneum.

Rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen

kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya

dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney.

Defens muskuler

Karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence muscular adalah nyeri

tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan

peritoneum parietale.

Rovsing’s sign

Jika abdomen kuadran kiri bawah ditekan, maka terasa nyeri di abdomen

kanan bawah. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum. Sering positif pada

Appendicitis namun tidak spesifik.

Psoas sign

Pasien berbaring pada sisi kiri, tangan kanan pemeriksa memegang lutut

pasien dan tangan kiri menstabilkan panggulnya. Kemudian tungkai kanan

pasien digerakkan dalam arah anteroposterior. Nyeri pada manuver ini

menggambarkan kekakuan musculus psoas kanan akibat refleks atau iritasi

langsung yang berasal dari peradangan Appendiks. Manuver ini tidak

bermanfaat bila telah terjadi rigiditas abdomen.

9

Page 10: fitri appendisitis

Gambar 6. Dasar anatomis terjadinya Psoas sign5

Obturator sign

Pasien terlentang, tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki

kanan pasien sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Kemudian pemeriksa

memposisikan sendi lutut pasien dalam posisi fleksi dan articulatio coxae

dalam posisi endorotasi kemudian eksorotasi. Tes ini positif jika pasien

merasa nyeri di hipogastrium saat eksorotasi. Nyeri pada manuver ini

menunjukkan adanya perforasi Appendiks, abscess lokal, iritasi M.

Obturatorius oleh Appendicitis letak retrocaecal, atau adanya hernia

obturatoria.

Gambar 7. Cara melakukan Obturator sign5

Gambar 8. Dasar anatomis Obturator sign5

Blumberg’s sign (nyeri lepas kontralateral)

10

Page 11: fitri appendisitis

Pemeriksa menekan di abdomen kuadran kiri bawah kemudian

melepaskannya. Manuver ini dikatakan positif bila pada saat dilepaskan,

pasien merasakan nyeri di kuadran kanan bawah abdomen.

Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada arah jam 9 dan 12

Dunphy’s sign (nyeri ketika batuk)

2.6.3 Skor Alvarado

Skor alvarado adalah suatu sistem skoring yang digunakan untuk

mendiagnosis appendisitis akut. Skor ini mempunyai 6 komponen klinik dan 2

komponen laboratorium dengan total skor poin 10. Skor ini dikemukakan oleh

Alfredo Alvarado dalam laporannya pada tahun 1986.4

Keterangan:

0-4 : Bukan Appendicitis Akut

5-6 : Ragu-ragu Appendicitis Akut

7-8 : Appendicitis

9-10 : Appendicitis cito operasi

2.7 Pemeriksaan Penunjang

2.7.1 Laboratorium3,5,9

11

Page 12: fitri appendisitis

Leukositosis ringan berkisar antara 10.000-18.000/ mm3, biasanya didapatkan

pada keadaan akut, Appendicitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan

polimorfonuklear sedang. Jika hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan

shift to the left pergeseran ke kiri, diagnosis Appendicitis acuta harus

dipertimbangkan. Jarang hitung jenis sel darah putih lebih dari 18.000/ mm3 pada

Appendicitis tanpa komplikasi. Hitung jenis sel darah putih di atas jumlah tersebut

meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi Appendiks dengan atau tanpa

abscess.

CRP (C-Reactive Protein) adalah suatu reaktan fase akut yang disintesis oleh hati

sebagai respon terhadap infeksi bakteri. Jumlah dalam serum mulai meningkat

antara 6-12 jam inflamasi jaringan. Kombinasi 3 tes yaitu adanya peningkatan

CRP ≥ 8 mcg/mL, hitung leukosit ≥ 11000, dan persentase neutrofil ≥ 75%

memiliki sensitivitas 86%, dan spesifisitas 90.7%.

Pemeriksaan urine bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis infeksi dari saluran

kemih. Walaupun dapat ditemukan beberapa leukosit atau eritrosit dari iritasi

Urethra atau Vesica urinaria seperti yang diakibatkan oleh inflamasi Appendiks,

pada Appendicitis acuta dalam sample urine catheter tidak akan ditemukan

bakteriuria.

2.7.2 Ultrasonografi1,3,9

Ultrasonografi cukup bermanfaat dalam menegakkan diagnosis Appendicitis.

Appendiks diidentifikasi/ dikenal sebagai suatu akhiran yang kabur, bagian usus

yang nonperistaltik yang berasal dari Caecum. Dengan penekanan yang maksimal,

Appendiks diukur dalam diameter anterior-posterior. Penilaian dikatakan positif

bila tanpa kompresi ukuran anterior-posterior Appendiks 6 mm atau lebih.

Ditemukannya appendicolith akan mendukung diagnosis. Gambaran USG dari

Appendiks normal, yang dengan tekanan ringan merupakan struktur akhiran

tubuler yang kabur berukuran 5 mm atau kurang, akan menyingkirkan diagnosis

Appendicitis acuta. Penilaian dikatakan negatif bila Appendiks tidak terlihat dan

tidak tampak adanya cairan atau massa pericaecal. Sewaktu diagnosis Appendicitis

acuta tersingkir dengan USG, pengamatan singkat dari organ lain dalam rongga

abdomen harus dilakukan untuk mencari diagnosis lain. Pada wanita-wanita usia

reproduktif, organ-organ panggul harus dilihat baik dengan pemeriksaan

transabdominal maupun endovagina agar dapat menyingkirkan penyakit ginekologi

yang mungkin menyebabkan nyeri akut abdomen. Diagnosis Appendicitis acuta

12

Page 13: fitri appendisitis

dengan USG telah dilaporkan sensitifitasnya sebesar 78%-96% dan spesifitasnya

sebesar 85%-98%. USG sama efektifnya pada anak-anak dan wanita hamil,

walaupun penerapannya terbatas pada kehamilan lanjut.

USG memiliki batasan-batasan tertentu dan hasilnya tergantung pada

pemakai. Penilaian positif palsu dapat terjadi dengan ditemukannya

periappendicitis dari peradangan sekitarnya, dilatasi Tuba fallopi, benda asing

(inspissated stool) yang dapat menyerupai appendicolith, dan pasien obesitas

Appendiks mungkin tidak tertekan karena proses inflamasi Appendiks yang akut

melainkan karena terlalu banyak lemak. USG negatif palsu dapat terjadi bila

Appendicitis terbatas hanya pada ujung Appendiks, letak retrocaecal, Appendiks

dinilai membesar dan dikelirukan oleh usus kecil, atau bila Appendiks mengalami

perforasi oleh karena tekanan.

Gambar 9.Ultrasonogram pada potongan longitudinal Appendicitis5

2.7.3 Pemeriksaan Radiologi1,3,9

Foto polos abdomen jarang membantu diagnosis Appendicitis acuta, tetapi

dapat sangat bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis banding. Pada pasien

Appendicitis acuta, kadang dapat terlihat gambaran abnormal udara dalam usus,

hal ini merupakan temuan yang tidak spesifik. Adanya fecalith jarang terlihat pada

foto polos, tapi bila ditemukan sangat mendukung diagnosis. Foto thorax kadang

disarankan untuk menyingkirkan adanya nyeri alih dari proses pneumoni lobus

kanan bawah.

Teknik radiografi tambahan meliputi CT Scan, barium enema, dan

radioisotop leukosit. Meskipun CT Scan telah dilaporkan sama atau lebih akurat

13

Page 14: fitri appendisitis

daripada USG, tapi jauh lebih mahal. Karena alasan biaya dan efek radiasinya, CT

Scan diperiksa terutama saat dicurigai adanya Abscess appendiks untuk melakukan

percutaneous drainage secara tepat.

Diagnosis berdasarkan pemeriksaan barium enema tergantung pada

penemuan yang tidak spesifik akibat dari masa ekstrinsik pada Caecum dan

Appendiks yang kosong dan dihubungkan dengan ketepatan yang berkisar antara

50-48 %. Pemeriksaan radiografi dari pasien suspek Appendicitis harus

dipersiapkan untuk pasien yang diagnosisnya diragukan dan tidak boleh ditunda

atau diganti, memerlukan operasi segera saat ada indikasi klinis.

Gambar 10. Gambaran CT Scan abdomen: Appendicitis perforata dengan abscess

dan kumpulan cairan di pelvis5

Gambar 11. Gambaran CT Scan abdomen: Penebalan Appendiks (panah) dengan

appendicolith5

14

Page 15: fitri appendisitis

Tabel 2. Perbandingan USG dan CT Scan Appendiks pada Appendicitis

USG CT Scan Appendiks

Sensitivitas 85% 90-100%

Spesifitas 92% 95-97%

Penggunaan Evaluasi pasien pada

pasien Appendicitis

Evaluasi pasien pada

pasien Appendicitis

Keuntungan Aman

Relatif murah

Dapat menyingkirkan

penyakit pelvis pada

wanita

Lebih baik pada anak-anak

Lebih akurat

Lebih baik dalam

mengidentifikasi

Appendiks normal,

phlegmon dan abscess

Kerugian Tergantung operator

Secara teknik tidak

adekuat dalam menilai gas

Nyeri

Mahal

Radiasi ionisasi

Kontras

2.8 Diagnosis Banding

Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis

banding, seperti 6,7:

15

Page 16: fitri appendisitis

Gastroenteritis

Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih

ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltis sering ditemukan. Panas dan

leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut.

Kelainan ovulasi

Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah

pada pertengahan siklus menstruasi.

Infeksi panggul

Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih

tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus.

Kehamilan di luar kandungan

Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika

ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pendarahan, akan timbul

nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik.

Kista ovarium terpuntir

Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga

pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal, atau colok rektal.

Endometriosis ovarium eksterna

Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di tempat

endometriosisberada, dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada

jalan keluar.

2.9 Penatalaksanaan

Pembedahan diindikasikan bila diagnosa appendicitis telah ditegakkan. Antibiotik

dan cairan IV diberikan serta pasien diminta untuk membatasi aktivitas fisik sampai

pembedahan dilakukan. Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.

Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat appendiks) dilakukan sesegera mungkin

untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum

umum atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang merupakan

metode terbaru yang sangat efektif. Bila apendiktomi terbuka, insisi Mc.Burney banyak

dipilih oleh para ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya

dilakukan observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa dilakukan

bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila terdapat laparoskopi, tindakan

16

Page 17: fitri appendisitis

laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan

operasi atau tidak.7

2.10 Komplikasi

Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi

bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga

berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan letak usus halus.6

Komplikasi Appendicitis juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi

usus, abses abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan kematian.4

Selain itu, terdapat komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang

mengikuti apendiktomi adalah komplikasi prosedur intra-abdomen dan ditemukan di

tempat-tempat yang sesuai, seperti: infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus

paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan perdarahan dari mesenterium

apendiks.7

2.11 Prognosa

Kebanyakan pasien setelah operasi appendektomi sembuh spontan tanpa penyulit,

namun komplikasi dapat terjadi apabila pengobatan tertunda atau telah terjadi peritonitis.

Cepat dan lambatnya penyembuhan setelah operasi usus buntu tergantung dari usia

pasien, kondisi, keadaan umum pasien, penyakit penyerta misalnya diabetes mellitus,

komplikasi dan keadaan lainya yang biasanya sembuh antara 10 sampai 28 hari.4

Alasan adanya kemungkinan ancaman jiwa dikarenakan peritonitis di dalam rongga

perut ini menyebabkan operasi usus buntu akut/emergensi perlu dilakukan secepatnya.

Kematian pasien dan komplikasi hebat jarang terjadi karena usus buntu akut. Namun hal

ini bisa terjadi bila peritonitis dibiarkan dan tidak diobati secara benar.4

17

Page 18: fitri appendisitis

BAB III

PENUTUP

Appendicitis adalah peradangan pada Appendiks vermicularis. Appendiks merupakan

organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan

organ ini mensekresikan IgA yang lokasi anatomisnya dapat berbeda tiap individu.

Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. Faktor-

faktor yang menjadi etiologi dan predisposisi terjadinya Appendicitis meliputi faktor

obstruksi, bakteriologi, dan diet. Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis

acuta.

Gejala klinis Appendicitis meliputi nyeri perut, anorexia, mual, muntah, nyeri

berpindah, dan gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian anorexia,mual,muntah

kemudian nyeri berpindah ke titik Mc Burney kemudian demam yang tidak terlalu tinggi.

Tanda klinis yang dapat dijumpai dan manuver diagnostik pada kasus Appendicitis adalah

nyeri tekan lepas titik Mcburney, Defans muskuler, Rovsing’s sign, Psoas sign, Obturator

sign, Blumberg’s sign, , Dunphy’s sign, nyeri pada pemeriksaan rectal toucher.

Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah pemeriksaan

laboratorium, Skor Alvarado, ultrasonografi, dan radiologi. Penatalaksanaan pasien

Appendicitis acuta meliputi; Pembedahan yang terdiri dari appendiktomy dan laparaskopi.

Antibiotik dan cairan IV pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi

atau septikemia.

18

Page 19: fitri appendisitis

DAFTAR PUSTAKA

1. Lally KP, Cox CS, Andrassy RJ, Appendix. In: Sabiston Texbook of Surgery. 17th

edition. Ed:Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Philadelphia:

Elsevier Saunders. 2004: 1381-93.

2. Nasution AP. Hubungan Antara Jumlah Leukosit Dengan Appendisitis Akut dan

Appendisitis Perforasi di RSU Soedarso Pontianak Tahun 2011. [serial online] mei 2013

[Diunduh 16 November 2013]. Tersedia dari:

jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/download/1782/1730.

3. Way LW. Appendix. In: Current Surgical Diagnosis & Treatment. 11 edition. Ed:Way

LW. Doherty GM. Boston: McGraw Hill. 2003:668-72

4. Dian S. Appendisitis Akut. [serial online] Agustus 2011 [Diunduh 16 November 2013].

Tersedia dari: http://fkunsri.wordpress.com/2011/08/09/appendisitis-akut/

5. Hamid A. Appendicitis Acute. [serial online] Agustus 2010 [Diunduh 16 November

2013]. Tersedia dari: http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/08/referat-

appendicitis-acute.html

6. Pieter J. Usus Halus, Appendiks, Kolon dan Anorektum. In: Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi

2. Ed: Sjamsuhidajat R, Jong WD. Jakarta: EGC. 2004:615-81

7. Syamsul M. Appendicitis. [serial online] Juni 2010 [Diunduh 16 November 2013].

Tersedia dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23502/5/Chapter%20I.pdf

8. Hardin DM. Acute Appendicitis: Review and Update. American Academy of Family

Physician News and Publication. [serial online] Oktober 2011 [Diunduh 16 November

2013]. Tersedia dari: http://www.aafp.org/afp/991101ap/2027.html

9. Ellis H, Nathanson LK. Appendix and Appendectomy. In : Maingot’s Abdominal

Operations Vol II. 10th edition. Ed: Zinner Mj, Schwartz SI, Ellis H, Ashley SW,

McFadden DW. Singapore: McGraw Hill Co. 2001: 1191-222

19