of 71/71
AKTIVITAS DAKWAH K.H. MUHYIDDIN NA’IM MELALUI MASJID AL-AKHYAR KEMANG JAKARTA SELATAN Skripsi Diajukan Pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I) Oleh Ahmad Shofi NIM : 105051001960 JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H / 2010 M

AKTIVITAS DAKWAH K - repository.uinjkt.ac.idrepository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/3470/1/AHMAD SHOFI-FDK.pdf · data, wawancara, observasi dan berbagai sumber tertulis

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of AKTIVITAS DAKWAH K -...

  • AKTIVITAS DAKWAH K.H. MUHYIDDIN NA’IM

    MELALUI MASJID AL-AKHYAR KEMANG

    JAKARTA SELATAN

    Skripsi

    Diajukan Pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

    Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

    Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)

    Oleh

    Ahmad Shofi NIM : 105051001960

    JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1431 H / 2010 M

  • AKTIVITAS DAKWAH K.H. MUHYIDDIN NA’IM

    MELALUI MASJID AL-AKHYAR KEMANG

    JAKARTA SELATAN

    Skripsi

    Diajukan Pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

    Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)

    Oleh

    Ahmad Shofi NIM : 105051001960

    Dibawah Bimbingan :

    Umi Musyarafah, MA. NIP : 19710816997031004

    JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1431 H / 2010 M

  • LEMBAR PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa :

    1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk

    memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di

    Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

    cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam

    Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli

    saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya

    bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri

    (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta, 15 Juni 2010

    Ahmad Shofi

  • ABSTRAK

    Ahmad Shofi AKTIVITAS DAKWAH K.H. MUHYIDDIN NA’IM DI WILAYAH CIPETE JAKARTA SELATAN

    Kegiatan kerja yang dilaksanakan pada tiap bagian suatu organisasi atau lembaga, sedangkan dakwah pada hakikatnya adalah ajaran atau seruan kepada umat manusia untuk menuju kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat sesuai dengan pedoman Al-Qur’an dan Hadits. Aktivitas dakwah akan berjalan dengan baik apabila para da’i atau da’iyahnya memenuhi semua unsur-unsur dakwah baik dari subjek dakwah, maupun objek dakwahnya seiring dengan perkembangan zaman dan masyarakat atau mad’u yang heterogen. Maka seorang da’i harus pandai-pandai memilih metode yang baik untuk digunakan dalam penyampaian dakwahnya. Sedangkan masjid disini mempunyai peranan yang sangat berhubungan selain digunakan untuk mengerjakan sholat 5 waktu secara berjama’ah, masjid juga dapat digunakan untuk berbagai hal yang berbau mensyiarkan agama Islam.

    K.H. Muhyiddin Na’im dikenal sebagai muballigh yang aktif diberbagai majelis pengajian yang ada di jabodetabek khususnya pada Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta-Selatan, selain itu beliau juga aktiv dalam berbagai macam lembaga pemerintah seperti NU, MUI dan FUHAB yang beliau sendiri mempunyai peranan yang penting dalam lembaga-lembaga tersebut.

    Berdasarkan latar belakang tersebut, yang ingin diketahui dari penelitian ini adalah bagaimana aktivitas dan bentuk dakwah beliau dalam mengembangkan dakwah Islam. Jadi, metode penelitian yang digunakan dalam skripsi inni dengan menggunakan Metode Kualitatif dengan cara analisis isi, yakni berdasarkan data-data, wawancara, observasi dan berbagai sumber tertulis maupun lisan yang berkaitan dengan dakwah K.H. Muhyiddin Na’im. pada masjid Al-Akhyar ini juga mendapatkan dukunga dari berbagai pihak atas kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan pada masjid Al-Akhyar.

    Dari penlitian ini ditemukan bahwa aktivitas K.H. Muhyiddin Na’im dalam mengembangkan dakwah Islamnya lebih mengedepankan dari kegiatan sosial beliau dimasyarakat luas ataupun dari segi pendidikan dan pengalaman beliau yang cukup luas dengan tujuan agar mad’u mendapatkan motivasi dan berbagi pengalaman untuk menuju masyrakat Islam yang idealis.

    Pada zaman yang modern ini, sangat diharuskan agar perkembangan Islam terus berkembang dan maju. Dengan landasan kesatuan antar sesama muslim. Sebagai umat muslim kita harus berperan aktif dalam memperjuangkan agama Allah SWT sehingga umat Islam tetap pada seorang muslim yang menjalankan perintah agama.

    i

  • KATA PENGANTAR

    Bismillahirrahmirrahim

    Alahmdulillah wa Syukurillah, puji syukur penulis panjatkan atas semua

    ni’mat dan karunia yang Allah SWT berikan selama ini, yang tak henti-hentinya

    memberikan kekuatan yang luar biasa disaat penulis merasakan lelah, jenuh

    menghadapi semua kesulitan dalam penyusunan skripsi ini, sehingga skripsi yang

    berjudul Aktivitas Dakwah K.H. Muhyiddin Na’im di Wilayah Cipete Jakarta

    Selatan telah selesai disusun.

    Sholawat beserta salam semoga terlimpah curahkan kepada Rasulullah

    Nabi Besar Muhammad SAW yang dengan limpahan syafa’atnya menuntun

    umatnya kejalan kebaikan, yaitu jalan yang diridhoi Allah SWT.

    Penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT

    semata, karena sesungguhnya tanpa kehendak-Nya segala sesuatu tidak mungkin

    terjadi. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih

    kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung ataupun tidak

    langsung. Betapapun hebatnya manusia, tak ada yang bisa melakukan segala

    sesuatunya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Untuk itu perkenankanlah

    penulis secara khusus dengan rasa hormat dan bangga menyampaikan ucapan

    terima kasih yang mendalam kepada :

    1. Bapak Dr. Arief Subhan MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwan dan

    Ilmu Komunikasi

    2. Drs. Wahidin Saputra MA, selaku Pembantu Dekan Akademik, Drs. H.

    Djalaluddin MA, selaku Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum dan

    Drs. Study Rizal LK. MA, selaku Pembantu Dekan Bidang

    Kemahasiswaan Fakultas Ilmu dakwah dan Komunikasi

    ii

  • 3. Bapak Drs. Jumroni, MSi, selaku Kepala Jurusan Komunikasi dan

    Penyiaran Islam

    4. Ibu Umi Musyarrafah MA, selaku Sekertaris Jurusan Komunikasi dan

    Penyiaran Islam sekaligus Dosen pembimbing skripsi yang telah banyak

    membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini, dan juga meluangkan

    waktu, fikiran dan tenaga, dalam memberikan arahan dan bimbingan

    disela-sela kesibukan beliau. Serta telah banyak membantu penulis dalam

    menyelesaikan perkuliahan ini. Dan dalam pengurusan nilai-nilai kuliah.

    Terima kasih ibu.

    5. Seluruh Doden Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

    memberikan ilmu, pengalaman dan wawasan serta kontribusi yang tak

    ternilai harganya. Semoga menjadi amal ibadah yang tak akan terputus.

    Dan tak lupa kepada seluruh staff dan karyawan UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta, juga para staff perpustakaan Fakultas maupun Universitas yang

    telah memberikan pelayanan kepada penulis selama menjalani studi di

    kampus ini.

    6. Bapak. K.H. Muhyiddin Na’im MA selaku objek yang penulis teliti,

    penulis mengucapkan banyak terima kasih telah diizinkan untuk meneliti

    serta waktu, fikiran, pengalaman, tenaga, ilmu yang beliau luangkan

    kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga

    beliau selalu diberi kekuatan sehingga ilmu beliau terus menerus dapat di

    syiarkan.

    7. Seluruh keluarga besar H. Nipan (Alm) dan K.H. Moh Na’im (Alm),

    Abinda tercinta K.H. Mahmud Nipan yang telah berpulang ke

    rahmatullah semoga beliau diterima disisi-Nya Amin…Serta uminda

    iii

  • iv

    Hj.Mahmudah Na’im yang denagn pengorbanan beliau seorang diri

    dengan kasih sayangnya tak kenal lelah dalam mendidik dan membesarkan

    anak-anaknya sehingga kami menjadi orang yang berpendidikan, motivasi,

    do’a dan seluruh pengorbanan beliau yang tidak terhingga baik berupa

    moril maupun materil. Jasa kalian tak dapat dibalas dengan apapun.

    Terima kasih ya Abi…..

    Terima kasih ya Ummi….

    8. Untuk semua saudara-saudariku tercinta, Hj.Lutfiah beserta suami H.

    Ahmad Mauluddin, Kasyful Anwar semoga diberi kemudahan, Fakhrur

    El-Rozie, Aminuddin Zuhrie beserta istri Dewi, Fathiyah beserta suami

    Bapak Alvin, Fatimah Az-Zahro’ besrta suami Khatib Jum’ah, adeku yang

    paling bontot Rifki Fauzi. semoga kalian terus menerus diberkahi dan

    diridhoi didunia maupun akhirat. Amiiiinnn….

    9. Teman-temanku seperjuangan semua yang kucinta baik dari kampus UIN

    maupun dari luar, Vikar, Kikim, Rihab, sdri Azzah, dan semua rekan yang

    telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, thanks guys. Semoga jalan

    hidup yang kita jalani selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT

    amiiinn…moga tali silaturrahim kita semua tetap terjaga…amiiiinn….

    Akhir kata, hanya do’a dan harapan yang dapat penulis panjatkan,

    semoga semua kebaikan kalian, senantiasa Allah SWT balas dengan limpahan

    yang berlipat ganda disertai keberkahan oleh-Nya. Amin, Amin yaa Rabbal

    ‘Alamiiin,,,,,

    Jakarta, 14 Mei 2010

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    ABSTRAK ......................................................................................................... i

    KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii

    DAFTAR ISI ..................................................................................................... v

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah….......................................................... 1

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah.......................................... 4

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 4

    D. Metodologi Penelitian ................................................................. 5

    E. Kajian Pustaka............................................................................. 6

    F. Sistematis Penulisan.................................................................... 7

    BAB II TINJAUAN TEORITIS

    A. Pengertian Aktivitas .................................................................... 9

    B. Pengertian Dakwah ..................................................................... 10

    C. Pengertian Aktivitas Dakwah...................................................... 13

    D. Unsur-Unsur Dakwah ................................................................. 14

    E. Sasaran Dakwah.......................................................................... 27

    F. Pengertian Masjid ....................................................................... 35

    BAB III PROFIL K.H. MUHYIDDIN NA’IM DAN MASJID

    AL-AKHYAR

    A. Profil K.H. Muhyiddin Na’im..................................................... 36

    1. Latar Belakang Keluarga....................................................... 36

    v

  • vi

    2. Latar Belakang Pendidikan ................................................... 38

    B. Aktivitas K.H. Muhyiddin Na’im ............................................... 39

    BAB IV ANALISIS DATA AKTIVITAS DAKWAH ISLAM

    K.H. MUHYIDDIN NA’IM

    A. Aktivitas K.H. Muhyiddin Na’im ............................................... 47

    B. Bentuk Dakwah K.H. Muhyiddin Na’im .................................... 49

    C. Faktor Pendukung, Hambatan-hambatan yang dihadapi serta

    Penanggulangannya pada Masjid Al-Akhyar.............................. 52

    1. Faktor Pendukung ................................................................. 52

    2. Faktor Penghambat ............................................................... 53

    3. Cara-cara Penanggulangannya .............................................. 54

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................. 55

    B. Saran-saran.................................................................................. 56

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 58

    LAMPIRAN

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Dakwah memegang peranan yang sangat penting di dalam kehidupan

    bermasyarakat. Maju mundurnya sebuah masyarakat ditentukan oleh ulama

    dalam membimbingnya. Hal ini mengingat perkembangan, perubahan, dan

    kemajuan masyarakat berlangsung demikian pesat dan cepat. Respon

    masyarakat atas perkembangan dan kemajuan zaman tersebut, membuat

    banyak warga dunia terus berbenah diri, agar mereka tak tertinggal peradaban

    modern yang ditandai dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan

    teknologi.

    Demikian halnya dengan dunia dakwah. Secara global, sejauh ini

    syi’ar Islam masih disampaikan dengan cara dan strategi yang kurang tepat

    sasaran. Dari mulai materi, cara penyampaian, hingga penguasaan wawasan

    yang kurang mendalam dari seorang da’i, padahal Islam harus disampaikan

    dengan cara metodologi yang tepat dan benar, serta dapat dicerna dan dapat

    diterima banyak dari kalangan masyarakat luas terutama umat Islam. Dakwah

    secara definitif adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana ke jalan yang

    benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan

    mereka di dunia dan akhirat.1

    Kegiatan berdakwah telah berlangsung seumur sejarah kehidupan

    manusia. Sejak bapak manusia pertama Nabi Adam AS, hingga Nabi

    1 Toha Yahya Omar, Islam dan Dakwah, (Jakarta: PT. Al Mawardi Prima, 2004), Cet.

    Ke-1. h. 67

    1

  • 2

    Muhammad SAW sekarang ini. Dahulu Rasulullah SAW pada awal masa

    kenabian, tidak langsung diperintahkan berdakawah terang-terangan kepada

    seluruh manusia, akan tetapi beliau berdakwah dengan kerabat-kerabatnya

    dulu. Setelah itu beliau diperintahkan berdakwah secara terang-terangan

    terhadap orang lain atau orang banyak.

    Seorang ulama ditengah-tengah masyarakat mempunyai peranan yang

    sangat penting dalam mengubah tingkah laku sosial masyarakat, hal ini

    didasarkan pada sebuah asumsi bahwa seorang ulama keberadaannya di

    tengah masyarakat sangat dibutuhkan dan dihormati.

    Satu kehormatan masyarakat terhadap seorang ulama, karena keluasan

    Ilmu pengetahuan yang dimilikinya, khususnya dalam pengetahuan agama.

    Dalam ajaran Islam, ulama memang memiliki kedudukan yang tinggi dan

    peranan yang penting dalam kehidupan umat. Sedemikian penting kedudukan

    ulama di tengah kehidupan masyarakat, sehingga seseorang ulama diharapkan

    mampu meneruskan, mengembangkan dan melaksanakan apa yang telah

    dicontohkan dan disunnahkan oleh para nabi.

    Dalam peran lainnya, peran ini sering disebutkan juga sebagai amar

    ma’ruf nahi munkar yang rinciannya meliputi tugas untuk :

    1. Menyebarkan dan mempertahankan ajaran nilai-nilai agama.

    2. Melaksanakan control dalam masyarakat (social of change)

    3. menjadi agen perubahan sosial (agen of change)2.

    2 Masykuri Abdillah, MimbarAgama dan Budaya Vol XVI, 1999,h. 2.

  • 3

    Dakwah merupakan suatu keharusan dalam rangka mengembangkan

    agama. Dakwah harus dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman

    sekarang yang sudah maju dalam hal teknologi maupun ilmu pengetahuan.

    Aktivitas dakwah yang baik akan membawa pengaruh terhadap

    kemajuan agama dan sebaliknya aktivitas dakwah yang kurang baik akan

    berakibat pada kemunduran agama, sehubung adanya hubungan timbal balik

    seperti itu maka dapat dimengerti jika Islam merupakan kewajiban dakwah

    atas setiap pemeluknya.

    Peran ulama sangatlah besar dalam menyebarkan ajaran Islam.

    Diantara peran yang cukup besar dari seorang ulama adalah agen perubahan

    sosial masyarakat menuju tatanan kehidupan yang sesuai dengan ajaran-ajaran

    Islam. Hal ini dilakukan oleh seorang ulama dengan cara mengajak manusia

    untuk mengikuti jalan Allah SWT melalui ajaran dakwah yang ia lakukan,

    karena pada dasarnya dakwah adalah merupakan manifestasi iman yang paling

    utama yang dimiliki seseorang. Sebab dakwah itu tidak lain kecuali

    menunjukkan jalan yang haq kepada segenap insan, menanamkan rasa cinta

    kepada kebaikan dan benci kebathilan serta kejahatan, dan membawanya

    keluar dari kebohongan serta kekalutan.3

    Atas uraian di atas, maka penulis merasa terdorong untuk mengadakan

    penelitian seputar bentuk dakwah K.H. Muhyiddin Na’im baik pada pengajian

    yang diadakan di Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta selatan, yaitu melalui

    ilmu yang beliau dapat dan pengalaman beliau yang aktif dalam Majlis Ulama

    Indonesia (MUI), Nahdlotul ‘Ulama (NU), dan berbagai organisasi sosial

    3 Suherman Affandi, Faktor Kesuksesan Da’I (Risalah No. 6/XXXVIII, 1990)

  • 4

    masyarakat. Dan beliau juga aktif di organisasi mancanegara seperti Persatuan

    Mahasiswa Idonesia di Damaskus Syiria dan Masyarakat Islam Idonesia di

    kedutaan Damaskus. Serta dilihat dari letak geografis Masjid Al-Akhyar yang

    berada ditengah keramaian bagi para turis kafe-kafe asing, restaurant asing,

    ataupun keramian bagi para anak muda sekarang ini, sehingga penulis merasa

    tertarik untuk mengangkat sebuah skripsi dengan judul “Aktivitas Dakwah

    K.H. Muhyiddin Na’im Di Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta Selatan”.

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    1. Pembatasan Masalah Agar penelitian lebih terarah dan memudahkan untuk menelitinya,

    maka peneliti membatasi penelitian ini mengenai bentuk dakwah K.H.

    Muhyiddin Na’im Di Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta Selatan.

    2. Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian

    ini adalah :

    a. Apa saja aktivitas K.H. Muhyiddin Na’im?

    b. Bentuk dakwah apa saja yang digunakan oleh K.H. Muhyiddin Na’im?

    c. Apa saja faktor pendukung, penghambat dan cara penaggulangannya

    pada masjid Al-akhyar?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian

    ini adalah sebagai berikut:

  • 5

    a. Untuk mengetahui aktivitas dakwah K.H. Muhyiddin Na’im.

    b. Untuk mengetahui bentuk dakwah yang digunakan oleh K.H.

    Muhyiddin Na’im.

    c. Untuk mengetahui kelebihan atau kekurangan yang ditemukan dalam

    penyampaian ajaran Islam pada Masjid Al-Akhyar

    2. Manfaat Penelitian

    a. Manfaat Akademis

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif

    bagi perkembangan wacana keilmuan dakwah Islam, terutama tentang

    aktivitas dakwah Islam seorang da’i yang sukses dan membawa

    peningkatan multiguna bagi umat Islam. Sekaligus dapat menambah

    khazanah keilmuan dakwah Islam K.H. Muhyiddin Na’im dengan

    pengalaman, pengetahuan, dan motifasinya terhadap dakwah Islam.

    b. Manfaat Praktis

    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tindakan praktis

    untuk memberikan pengetahuan kepada penulis tentang aktivitas

    dakwah K.H. Muhyiddin Na’im. Dan dari hasil penelitian ini

    diharapkan dapat memperkaya khazanah intelektual, wawasan dan

    gambaran secara utuh mengenai dakwaH.

    D. Metodologi Penelitian

    Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam melakukan

    penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu suatu

    metode penelitian yang dihasilkan dari suatu data-data yang dikumpulkan

  • 6

    berupa kata-kata, gambar, dan merupakan penelitian ilmiah4. Serta wawancara

    langsung dengan beliau dan buku-buku yang digunakan oleh penulis adalah

    buku-buku yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.

    1. Subjek dan objek penelitian

    Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah K.H. Muhyiddin

    Na’im. Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah

    aktivitas dakwah Islam K.H. Muhyiddin Na’im melalui masjid Al-Akhyar

    Kemang Jakarta Selatan.

    2. Tehnik pengumpulan data

    a. Observasi, yaitu penulis langsung mendatangi kediaman K.H.

    Muhyiddin Na’im yang beralamat dijalan H. Moh. Na’im Cipete. Guna

    untuk mendapatkan data-data yang akurat tentang aktifitas dakwah

    K.H. Muhyiddin Na’im, serta turut dalam pengajian yang dipimpin

    langsung oleh beliau. Satu kali dalam seminggu, yaitu tiap hari senin

    pukul 18.30 WIB atau setelah maghrib yang diadakan di Masjid Al-

    Akhyar.

    b. Dokumentasi, yaitu data yang diperoleh dari buku-buku tertentu atau

    dokumen-dokumen yang berkaitan dengan apa yang diteliti penulis

    dan internet yaitu dengan membuka situs-situs yang sangat berkaitan

    dengan penelitian tersebut.

    c. Wawancara, merupakan alat pengumpulan informasi langsung

    tentang beberapa jenis data.5 Dalam penelitian ini penulis

    menunjukkan pertanyaan-pertanyaan langsung dan via telepon

    4 Lexy, J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:Remaja Rosda Karya,1999), Cet, Ke-10, h. 3

    5 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta:Andy Offet, 1983), h. 49.

  • 7

    dengan K.H. Muhyiddin Na’im, dan beberapa pengurusnya

    (H.Muhiddin sebagai ketua masjid, H.Syahroni sebagai sek. Masjid,

    hakim sebagai ket. Remaja Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta

    Selatan) dan masyarakat sekitar masjid (Bpk.Aripin, Sdra Yudi, Sdra

    Ahmad Sani).

    E. Tinjauan Pustaka

    Ada beberapa skripsi yang menjadi tinjauan pustaka bagi penulis kali

    ini, namun ada beberapa poin penting yang diambil sebagai perbandingan

    antara skripsi sudah ada dengan skripsi yang penulis buat, antara lain:

    1. Subjek pada skripsi yang peneliti angkat, aktif diberbagai lembaga

    pemerintahn serta lebih mengedepankan jiwa sifat sosialnya. Beda halnya

    dari skripsi sebelumnya yang sifatnya, lebih cenderung aktif pada satu

    majeli taklim saja, seperti skripsi yang berjudul “Aktivitas Dakwah Habib

    Hasan bin Ja’far Assegaf di Majelis Taklim Nurul Mustofa Ciganjur”.

    2. Objek pada skripsi sebelumnya hanya cenderung tertuju pada kaum wanita

    saja. Sedangkan objek yang peneliti angkat bersifat umum baik laki-laki,

    remaja, bapak-bapak, maupun perempuan. Yang berjudul “Aktivitas

    Dakwah Ustzh. Hj. Ida Farida M.A”

    F. Sistematika Penulisan

    Dalam sistematika penulisan skripsi ini, penulis akan menguraikannya

    kedalam beberapa bab sebagai berikut:

  • 8

    Bab I Pendahuluan. Meliputi latar belakang, pembatasan dan

    perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian,

    tinjauan pustaka dan sistematis penulisan.

    Bab II Landasan teoritis. Terdiri dari pengertian aktifitas, Pengertian

    Dakwah, Pengertian Aktifitas Dakwah, Unsur-Unsur Dakwah, sasaran

    Dakwah dan Pengertian Masjid

    Bab III Profil K.H. Muhyiddin Na’im dan Profil Masjid Al-

    Akhyar Kemang Jakarta Selatan. Meliputi Latar Belakang K.H. Muhyiddin

    Na’im, Pendidikan beliau serta aktivitas beliau. Dan Profil Masjid Al-Akhyar

    meliputi sejarah, struktur, dan tujuan Masjid Al-Akhyar.

    Bab IV Analisis aktivitas dakwah Islam K.H. Muhyiddin Na’im

    pada Masjid Al-Akhyar. Meliputi aktivitas dan bentuk dakwah Bil-Lisan,

    Bil-Qolam, Bil-Hal. Dan Faktor yang penghambat dan pendukung serta cara

    penanggulannya pada masjid Al-Akhyar.

    Bab V Penutup, Kesimpulan dan saran-saran dari hasil penelitian

    yang dilakukan.

  • BAB II

    TINJAUAN TEORITIS

    A. Pengertian Aktivitas

    Aktivitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “aktifitas adalah

    keaktifan, kegiatan-kegiatan, kesibukan atau bisa juga berarti kerja atau salah

    satu kegiatan kerja yang dilaksanakan tiap bagian dalam tiap suatu organisasi

    atau lembaga.”1

    Sedangkan menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, yaitu bertindak

    pada diri setiap eksistensi atau makhluk yang membuat atau menghasilkan

    sesuatu, dengan aktivitas menandai bahwa hubungan khusus manusia dengan

    dunia. Manusia bertindak sebagai subjek, alam sebagai objek. Manusia

    mengalih wujudkan dan mengolah alam. Berkat aktivitas atau kerjanya,

    manusia mengangkat dirinya dari dunia dan bersifat khas sesuai ciri dan

    kebutuhannya.

    Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali aktifitas, kegiatan atau

    kesibukan yang dilakukan manusia. Namun, berarti atau tidaknya kegiatan

    tersebut bergantung pada individu tersebut. Karena, menurut Samuel Soeltoe

    sebenarnya aktivitas bukan hanya sekedar kegiatan. Beliau mengatakan bahwa

    aktifitas dipandang sebagai usaha mencapai atau memenuhi kebutuhan.2

    1 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2004), cet. Ke- 3, h. 17

    2 Samuel Soeltoe, Psikologi Pendidikan II, (Jakarta: FEUI. 1982), h. 52

    9

  • 10

    B. Pengertian Dakwah

    Kata dakwah berasal dari bahasa Arab Dakwah dan kata daa’a, yad’u

    yang berarti panggilan, ajakan dan seruan.3 Di samping itu, makna dakwah

    secara bahasa juga mempunyai arti:

    1. An-Nida artinya memanggil.

    2. Menyeru; ad-du’a ila syai’i, artinya menyeru dan mendorong sesuatu.

    3. Ad-dakwah ila qadhiyah, artinya menegaskannya atau membelanya baik

    terhadap yang haq ataupun yang batil, yang positif maupun yang negatif.

    4. Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia ke

    suatu aliran atau agama tertentu (Al-Misbah Al-munir, pada kalimat

    da’aa).

    5. Memohon dan meminta, ini yang sering disebut dengan istilah berdo’a.4

    Menurut pendapat K.H. M. Isa Anshari, dakwah yaitu menyampaikan

    seruan Islam, mengajak dan memanggil umat manusia, agar menerima dan

    mempercayai keyakinan dan hidup Islam.

    Ki Moesa A. Machfoeld dalam bukunya Filsafat Dakwah (Ilmu

    Dakwah dan Penerapannya) mendefinisikan dakwah yaitu panggilan,

    tujuannya membangkitkan kesadaran manusia untuk kembali ke jalan Allah

    SWT. Upaya memanggil atau mengajak kembali manusia ke jalan Allah

    tersebut bersifat ekspansif yaitu memperbanyak jumlah manusia yang berada

    di jalan-Nya.5

    3 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 2 4 Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz, Fiqh Dakwah Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam,

    (Solo: Era Intermedia, 1998), cet. Ke-3, h. 25 5 Ki Moesa A. Machfoeld, Filsafat Dakwah “Ilmu Dakwah dan Penerapannya”, (Jakarta:

    PT. Bulan Bintang, 2004), h. 15

  • 11

    Pengertian dakwah dibedakan dengan beberapa kata yang bersaudara

    yaitu ta’lim, tadzkir dan tashwir. Ta’lim artinya mengajar, tujuannya untuk

    menambah pengetahuan orang yang diajar. Tadzkir artinya mengingatkan,

    tujuannya untuk memperbaiki kelupaan orang kepada sesuatu yang harus

    selalu diingat. Sedangkan tashwir artinya melukiskan sesuatu pada alam

    pikiran orang, tujuannya untuk membangkitkan pengertian akan sesuatu yang

    dilukiskan.6

    Dakwah menurut Syaikh Ali Mahfudz yaitu mengajak manusia untuk

    mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat

    baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek, agar mereka mendapat

    kebahagiaan di dunia dan di akhirat.7

    Jum’ah Amin Abdul Aziz dalam Fiqh Dakwah mengartikan dakwah

    sebagai usaha menyeru manusia kepada Islam yang hanif dengan keutuhan

    dan keuniversalannya, dengan syiar dan syariatnya, dengan aqidah dan

    kemuliaan akhlaknya, dengan metode dakwahnya yang bijaksana dan saran-

    sarannya yang unik serta cara-cara penyampaiannya yang benar.8

    Dakwah menurut HSM. Nasaruddin Latif yaitu setiap aktifitas dengan

    tulisan maupun lisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil maupun

    lainnya untuk beriman dan menaati Allah SWT, sesuai dengan garis-garis

    Aqidah dan syariat serta akhlak Islaminya. 9

    6 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 27 7 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 28 8 Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 1998), Cet. Ke-1, h. 74 9 Nasarudin Latif, Teori dan Praktek Dakwah Islamiyah, (Jakarta: Firma Dara, tt), h. 11

  • 12

    Muhammad Al Wakil. Dakwah adalah mengumpulkan manusia dalam

    kebaikan dan menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara amar ma’ruf

    nahi munkar.10

    Menurut Bakhial Khauli, dakwah adalah satu proses menghidupkan

    peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu

    keadaan kepada keadaan lain.11

    Muhammad Nasir (Wafat 1971) berpendapat dakwah adalah usaha

    menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat

    tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi amar

    ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang

    diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan

    perseorangan, berumah tangga (usrah), bermasyarakat dan bernegara.12

    Menurut Sudirman (Wafat 1979) dalam bukunya Problematika

    Dakwah Islam di Indonesia, dakwah adalah merealisasikan ajaran Islam di

    dalam kenyataan hidup sehari-hari baik bagi kehidupan perorangan maupun

    masyarakat sebagai keseluruhan tata hidup bersama dalam rangka

    pembangunan bangsa dan umat manusia untuk memperoleh keridlaan Allah

    SWT.13

    Taufiq Wa’i. dakwah adalah mengumpulkan manusia dalam kebaikan,

    menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj

    Allah di bumi dalam ucapan dan amalan, menyeru kepada yang ma’ruf dan

    10 Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), cet. Ke-

    1, h. 36 11 Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, (Malaysia: Nur Niaga SDN.

    BHD. 1996), cet. I, h. 5 12 Muhammad Nasir, Fiqh al-Da’wah dalam Majalah Islam, Kiblat, Jakarta, 1971, h. 7 13 Sudirman, Problematika Dakwah Islam di Indonesia, Jakarta, PDII, 1979, h. 47

  • 13

    mencegah dari yang munkar, membimbing mereka kepada shirathal mustaqim

    dan bersabar menghadapi ujian yang menghadang di perjalanan.14

    Dari beberapa pengertian dakwah di atas, maka dapat ditarik suatu

    kesimpulan, dakwah yaitu menyampaikan dan memanggil serta mengajak

    manusia ke jalan Allah SWT, untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi

    larangan-Nya dalam mencapai kehidupan di dunia dan di akhirat, sesuai

    dengan tuntunan dan contoh Rasulullah.

    C. Pengertian Aktivitas Dakwah

    Dengan penjelasan di atas dapat kita artikan bahwa aktifitas dakwah

    adalah segala sesuatu yang berbentuk aktifitas atau kegiatan yang dilakukan

    dengan sadar yang mengajak manusia ke jalan yang mulia di sisi Allah SWT.

    Serta meluruskan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran-ajaran

    Islam.

    Aktifitas dakwah juga dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan yang

    mengarah kepada perubahan terhadap sesuatu yang belum baik agar menjadi

    baik dan kepada sesuatu yang sudah baik agar menjadi lebih baik lagi.

    Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali aktifitas, kegiatan atau

    kesibukan yang dilakukan manusia. Namun, berarti atau setidaknya kegiatan

    tersebut bergantung pada individu tersebut. Karena menurut Samuel Soeitoe,

    sebenarnya aktifitas bukan hanya sekedar kegiatan, tetapi aktifitas dipandang

    sebagai usaha untuk mencapai atau memenuhi kebutuhan orang yang

    melakukan aktifitas itu sendiri.15

    14 Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), cet. Ke-

    1, h. 37 15 Samuel Soeitoe, Psikologi Pendidikan II. (Jakarta: FEUI. 1982)

  • 14

    Definisi di atas menimbulkan beberapa prinsip yang menjadikan

    substansi aktifitas dakwah sebagai berikut:

    1. Dakwah merupakan suatu proses aktifitas yang penyelanggaranya

    dilakukan dengan sadar atau sengaja.

    2. Usaha yang diselenggarakan itu berupa mengajak seseorang untuk beramal

    ma’ruf nahi munkar untuk memeluk agama Islam.

    3. Proses penyelenggaraan tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu

    yaitu untuk mendapat kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di

    akhirat yang diridhoi Allah SWT.

    D. Unsur-unsur Dakwah

    Dakwah pada hakikatnya adalah segala aktivitas dan kegiatan yang

    mengajak orang untuk berubah dari satu situasi yang mengandung nilai

    kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami.

    Dalam Ilmu dakwah terdapat beberapa unsur, antara lain :

    1. Subjek Dakwah, pengertian subjek disini adalah seorang da’i dalam ilmu

    dakwah bermakna sebagai pelaku dakwah, biasa disebut dengan istilah

    subyek dakwah. Tentang subyek dakwah ini ada yang mengatakan hanya

    da’i atau mubaligh saja.

    Sedang da’i yang penulis maksud adalah dalam pengertian yang luas, sehingga

    yang menjadi da’i itu tidak hanya orang yang menyandang predikat Kyai, ulama

    atau pemuka agama saja, akan tetapi juga dapat seorang guru, pembina suatu

    organisasi, orang tua, pimpinan lembaga, atau profesi-profesi yang lain termasuk

    da’i, sebab bagaimanapun profesinya, mereka adalah sebagai pelaku dakwah.

  • 15

    Da’i yang sukses biasanya juga berangkat dari kepiawaiannya dalam memilih

    kata. Pemilihan kata adalah hikmah yang sangat diperlukan dalam dakwah.16

    Diantara para ulama masih terjadi perbedaan pendapat tentang

    dakwah itu, apakah wajib kifayah atau wajib a’in, sementara Muhammad

    Abduh cenderung berpendapat, bahwa dakwah itu hukumnya wajib a’in.

    Demikian menurut Syamsuri Siddiq (1982:12). Penulis sendiri cenderung

    kepada wajib a’in, hanya bentuk dakwahnya yang berbeda tergantung

    kepada profesi dan kemampuan masing-masing.17

    Ada saatnya dimana da’i menjadi efektif dan berbicara membawa

    bencana, tetapi di saat lain terjadi sebaliknya, diam malah mendatangkan

    bahaya besar dan berbicara mendatangkan hasil yang gemilang.

    Kemampuan da’i menempatkan dirinya, kapan harus berbicara dan kapan

    harus memilih diam, juga adalah hikmah yang menentukan keberhasilan

    dakwah.18

    Da’i tidak boleh hanya sekedar menyampaikan ajaran agama tetapi

    mengamalkannya. Seharusnya da’ilah orang pertama yang mengamalkan

    apa yang diucapkannya. Kemampuan da’i untuk menjadi contoh nyata

    umatnya dalam bertindak adalah hikmah yang seharusnya tidak boleh

    ditinggalkan oleh seorang da’i. Dengan amalan nyata yang langsung

    dilihat oleh masyarakatnya, para da’i tidak terlalu sulit untuk berbicara

    banyak, tetapi gerak dia adalah dakwah yang jauh lebih efektif dari

    sekedar berbicara.

    16 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 12 17 Internet. Artikel Ilmu Dakwah indonetasia.com/definisionline/index.php. diakses pada

    tanggal 14-06-2010 18 Internet. Definisi_Dakwah takafultimdiniyah.multiply.com/journal. diakses pada

    tanggal 14-06-2010

  • 16

    2. Objek Dakwah, sedangkan yang dijadikan objek dakwah adalah peristiwa

    komunikasi di mana da’i menyampaikan pesan melalui lambing-lambang

    kepada Mad’u, dan mad’u menerima pesan itu, mengolahnya dan

    kemudian meresponnya. Jadi, proses saling mempengaruhi antara da’i dan

    mad’u adalah merupakan peristiwa mental. Dengan mengacu pada

    pengertian psikologi, maka dapat dirumuskan bahwa psikologi dakwah

    ialah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan

    tingkah laku manusia yang terkait dalam proses dakwah. Psikologi dakwah

    berusaha menyingkap apa yang tersembunyi di balik perilaku manusia

    yang terlibat dalam dakwah, dan selanjutnya menggunakan pengetahuan

    itu untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan dari dakwah itu.

    3. Materi Dakwah, ialah ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran-ajaran Islam

    inilah yang wajib disampaikan kepada umat manusia dan mengajak

    mereka agar mau menerima dan mengikutinya. Diharapkan agar ajaran-

    ajaran Islam benar-benar diketahui, dipahami, dihayati dan diamalkan,

    sehingga mereka hidup dan berada dalam kehidupan yang sesuai dengan

    ketentuan-ketentuan agama Islam.19

    4. Media Dakwah, yaitu segala sesuatu yang dapat membantu juru dakwah

    dalam menyampaikan dakwahnya secara efektif dan efisien.20 Media

    dakwah adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan matrei

    dakwah.21

    19 M. Masyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Yogyakarta: Al Amin Press,

    1997), cet. Ke-1, h. 11 20 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 40 21 Warbi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997), cet. Ke-

    1, h.35

  • 17

    Media adalah suatu alat yang digunakan untuk menyampaikan

    sesuatu. Sarana penggunaannya adalah keefektifan dan keefisienan,

    semakin efektif dan efisien suatu media dalam menyampaikan sesuatu,

    maka ia akan jadi pilihan. Adapun 3 wasilah dakwah (media dakwah) dari

    segi penyampaian pesan, yaitu:

    a. Spoken Words, yaitu media dakwah berbentuk ucapan atau bunyi yang

    dapat ditangkap dengan panca indera pendengaran seperti radio,

    telepon dan sebagainya.

    b. Printed Writing, yaitu media dakwah yang berbentuk tulisan, gambar,

    lukisan dan sebagainya yang dapat dengan panca indera penglihatan.

    c. The Audio Visual, yaitu media dakwah yang berbentuk gambar hidup

    yang dapat didengar dan dilihat, seperti televisi, video dan sebagainya.

    Menurut Drs. Slamet Muhaemin Abda, media dakwah dari

    instrumennya dapat dilihat dari empat sifat, yaitu:

    a. Media visual yaitu alat yang dapat dioperasikan untuk kepentingan

    dakwah dengan melalui indera penglihat seperti film, slide,

    transparansi, overhead projector, gambar, foto dan lain-lain.

    b. Media auditif yaitu alat-alat yang dapat dioperasikan sebagai sarana

    penunjang dakwah yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran,

    seperti radio, tape recorder, telepon, telegram dan sebagainya.

    c. Media audio visual yaitu alat-alat dakwah yang dapat didengar juga

    sekaligus dapat dilihat, seperti movie film, televisi, video dan

    sebagainya.

  • 18

    Media cetak yaitu cetakan dalam bentuk tulisan dan gambar sebagai

    pelengkap informasi tulis, seperti buku, surat kabar, majalah, bulletin, booklet,

    leaflet dan sebagainya.22

    5. Metode Dakwah, Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu meta

    (melalui) dan hodos (jalan, cara). Sumber yang lain menyebutkan bahwa

    metode berasal dari bahasa Jerman methodica artinya ajaran tentang metode.

    Dalam bahasa Yunani, metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang

    dalam bahasa Arab disebut thariq.23 Sementara itu, dalam Kamus bahasa

    Indonesia kata metode mangandung arti “cara yang teratur dan berpikir baik-

    baik untuk maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb); cara kerja yang bersistem

    untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang

    ditentukan”.24 Jadi metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk

    mencapai suatu tujuan.

    Metode dakwah artinya cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da’i

    untuk menyampaikan materi dakwah, yaitu al-Islam atau serentetan kegiatan

    untuk mencapai tujuan tertentu.25

    Al-Qur’an menurut Sayyid Quthub, mengemukakan prinsip-prinsip

    umum metodologi dakwah. Dianataranya ialah prinsip dakwah dengan

    bijaksana dan kearifan (bi al-hikmah), dakwah dengan nasehat yang baik (bi

    22 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 44 23Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 35 24 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, cet. IX, 1986),

    h. 649 25 Warbi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997), cet. Ke-

    1, h. 34

  • 19

    al-mau’izhat al-hasanah), dakwah dengan dialog yang baik (bi al-jadal al-

    husna), dan dakwah dengan pembalasan berimbang (mu’aqabat bi al-mitsl).26

    Adapun metode dalam melaksanakan dakwah tercantum dalam Al-

    Qur’an surat An-Nahl ayat 125:

    Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Q.S. An-Nahl/16: 125)

    Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa metode dakwah itu ada tiga

    cara:27

    a. Al-Hikmah

    Kata hikmah dalam bentuk masdarnya adalah “hukman” yang

    diartikan secara makna aslinya adalah mencegah. Jika dikaitkan dengan

    hukum berarti mencegah dari kedzaliman dan jika dikaitkan dengan

    dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam

    melaksanakan tugas dakwah.28

    26 Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah sayyid Quthub:Rekonstruksi Pemikiran Dakwah

    Harakah, (Jakarta: Penamadani, 2006), cet. Ke-1, h. 246 27 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 36 28 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 8

  • 20

    Pengertian al-hikmah menurut Prof. Toha Jahja Omar MA, yaitu

    bijaksana, artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya dan kitalah yang

    harus berpikir, berusaha menyusun dan mengatur cara-cara dengan

    menyesuaikan kepada keadaan dan zaman, asal tidak bertentangan dengan

    hal-hal yang dilarang Tuhan.29

    M. Abduh berpendapat bahwa, hikmah adalah mengetahui rahasia

    dan faedah dalam tiap-tiap hal. Hikmah juga digunakan dalam arti ucapan

    yang sedikit lafazh akan tetapi banyak makna30 ataupun diartikan

    meletakkan sesuatu pada tempat atau semestinya.31

    Al-hikmah diartikan pula sebagai al ‘adl (keadilan), al-haq

    (kebenaran), al-hilm (ketabahan), al ‘ilm (pengetahuan), terakhir an

    Nubuwwah (kenabian). Di samping itu, al-hikmah juga diartikan sebagai

    menempatkan sesuatu pada proposisinya.32

    Menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud An-Nasafi:

    “Dakwah dengan bil-hikmah ialah dakwah dengan menggunakan

    perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran

    dan menghilangkan keraguan”.

    Menurut Ki. M.A. Mahfoeld al-hikmah adalah berarti tepa selira,

    mengukur baju dengan diri sendiri, tidak memberikan kepada orang lain

    apa yang diri sendiri tak senang dapat dari orang lain.33

    29 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h.36 30 Lihat, Sa’dy Abu Habib, al-Qomusul Fiqhi, h. 97 31 Abu Hayyan, al-Bahrul Muhith, Jilid 1, h. 392 Juga Dr. Zaid Abdul Karim, ad-Dakwah

    bil-Hikmah, h. 26 32 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 10 33 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h.37

  • 21

    Sebagai metode dakwah, al-hikmah diartikan bijaksana, akal budi

    yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, menarik perhatian orang

    kepada agama atau Tuhan.

    Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa al-hikmah adalah

    kemampuan da’i memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah

    dengan kondisi objektif mad’u. Memang tidak semua orang meraih sukses.

    Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang layak mendapatkan

    hikmah Insya Allah juga akan berimbas kepada para mad’unya, sehingga

    mereka termotivasi untuk merubah diri dan mengamalkan apa yang

    disarankan da’i kepada mereka.

    Dalam dunia dakwah, hikmah adalah penentu sukses tidaknya

    dakwah. Dalam menghadapi mad’u yang beragam tingkat pendidikan,

    strata sosial, dan latar belakang budaya, para da’i memerlukan hikmah,

    sehingga ajaran Islam mampu memasuki runag hati para mad’u dengan

    tepat.34 Oleh karena itu, para da’i dituntut untuk mengerti dan memahami

    sekaligus mamanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima

    dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya.

    Dengan demikian jika hikmah dikaitkan dengan dakwah kita akan

    menemukan bahwa ia merupakan peringatan kepada juru dakwah untuk

    tidak menggunakan satu bentuk metode saja. Sebaliknya, mereka harus

    menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan realitas yang

    dihadapi dan sikap masyarakat terhadap Islam. Sebab sudah jelas bahwa

    dakwah tidak akan berhasil menjadi suatu wujud yang riil jika metode

    34 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h.11

  • 22

    dakwah yang dipakai untuk menghadapi orang bodoh sama dengan yang

    dipakai untuk menghadapi orang terpelajar. Jelas, kemampuan kedua

    kelompok tersebut dalam berpikir dan menangkap dakwah yang

    disampaikan tidak dapat disamakan. Bagaimanapun daya pengungkapan

    dan pemikiran yang dimiliki manusia berbeda-beda.35

    b. Al-Mau’idzatil Hasanah

    Secara bahasa, mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, mau’izhah

    dan hasanah. Kata mau’izhah berasal dari kata wa’adza-ya’idzu-wa’dzan-

    ‘idzatan yang berarti: nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan,36

    sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayyi’ah yang artinya

    kebaikan lawannya kejelekan.37

    Menurut pakar bahasa, nasehat (al-wa’zh atau mau’izdhah)

    mengandung arti teguran atau peringatan. Ashfahani, dengan mengutip

    pendapat Imam Khalil, menyatakan bahwa nasihat adalah memberikan

    peringatan (al-tadzkir) dengan kebaikan yang dapat menyentuh hati. Jadi,

    makna terpenting dari nasihat adalah mengingatkan (tadzkir) dan membuat

    peringatan (dzikra) kepada umat manusia.38

    Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutip oleh

    H. Hasanuddin adalah sebagai berikut:

    35 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 14 36 Lois Ma’luf, Munjid al-Lughah wa A’lam (Beirut: Dari Fikr. 1986) h. 907, Ibnu

    Mandzur, Lisan al-Arab, jilid VI (Beirut: Dar Fikr, 1990), h. 466. 37 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 16 38 Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah sayyid Quthub:Rekonstruksi Pemikiran Dakwah

    Harakah, (Jakarta: Penamadani, 2006), cet. Ke-1, h. 249

  • 23

    “Al-Mau’izhah al-Hasanah adalah (perkataan-perkataan) yang tidak

    tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan

    menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Qur’an.”39

    Menurut Abd. Hamid al-Bilali al-Mau’izhah al-Hasanah

    merupakan salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke

    jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah

    lembut agar mereka mau berbuat baik.40

    Mau’idzatil Hasanah dapat diartikan sebagai ungkapan yang

    mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita

    gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasiat) yang bisa dijadikan

    pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan

    akhirat.41

    Dari beberapa definisi di atas, mau’izhah hasanah tersebut bisa

    diklasifikasikan dalam beberapa bentuk:

    1) Nasihat atau petuah

    2) Bimbingan, pengajaran (pendidikan)

    3) Kisah-kisah

    4) Kabar gembira dan peringatan (al-Basyir dan al-Nadzir)

    5) Wasiat (pesan-pesan positif).

    39 Hasanuddin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 37 40 Abdul Hamid al-Bilali, Fiqh al-Dakwah fi ingkar al-Mungkar (Kuwait: Dar al-

    Dakwah, 1989), h. 260 41 Harjanji Hefni, dkk, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2001), cet. Ke-1, h. 240

  • 24

    Menurut Ki. M.A. Mahfoeld, al-mau’idzatil hasanah adalah diukur

    dari segi dakwah itu sendiri.42 Hasanah dalam dakwah adalah sebagai

    ridha ibadah kepada Allah SWT. Dan di dalamnya mengandung:

    1) Didengar orang, lebih banyak lebih baik suara panggilannya.

    2) Diturut orang, lebih banyak lebih baik maksud tujuannya, sehingga

    menjadi lebih besar kuantitas manusia yang kembali ke jalan

    Tuhannya, jalan Allah SWT.43

    Jadi kalau kita telusuri kesimpulan dari Mau’idzatil Hasanah, akan

    mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh

    kasih sayang ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak

    membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-

    lembutan dalam menasihati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras

    dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan

    daripada larangan dan ancaman.

    c. Al-Mujadalah Bi Al-Lati Hiya Ahsan

    Dari segi etimologi (bahasa) lafazh mujadalah terambil dari kata

    “jadala” yang bermakna memintal, melilit. Apabila ditambahkan alif pada

    huruf jim yang mengikuti wazan faa ala, “jaa dala” dapat bermakna

    berdebat, dan “mujaadalah” perdebatan.44

    Dari segi istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian al-

    mujadalah (al-Hiwar) dari segi istilah. Al-Mujadalah (al-Hiwar) berarti

    42 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 37 43 M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenada media, 2003), cet. Ke-1, h. 17 44 Ahmad Warson al-Munawwir, al-Munawwir, Jakarta:Pustaka Progresif, 1997, Cet. Ke-

    14, h. 175 hal ini juga dapat dilihat pada kamus al-Bisri, karangan K.H. Adib Bisri dan K.H. Munawwir AF, Pustaka Progresif, 2000, h. 67 dan ini berarti sama pula dengan lafaazh al-Khiwaar yang berarti jawaban, al-Mukhaawaroh; Tanya jawab, perdebatan. Lebih jelas lihat kamus al-Bisri, h. 140

  • 25

    upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa

    adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara

    keduanya. Sedangkan menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi ialah

    suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan

    cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.

    Menurut tafsir An-Nasafi,45 kata ini mengandung arti:

    “Berbantahan dengan baik yaitu dengan jalan sebaik-baiknya dalam

    bermujadalah, antara lain dengan perkataan yang lunak, lemah lembut,

    tidak dengan ucapan yang kasar atau dengan mempergunakan sesuatu

    (perkataan) yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan

    menerangi akal pikiran, ini merupakan penolakan bagi orang yang

    enggan melakukan perdebatan dalam agama.”

    Menurut Ki. M.A. Mahfoeld, allati hiya ahsan yaitu bi daru

    ‘uqulihim, dengan kadar tingkat obyek yang bersikap bantahan. Maka

    harus melihat apakah obyek dakwah itu Islam, Islam abangan atau non

    Islam.46

    Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, Al-

    Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak

    secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar

    lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi

    dan bukti yang kuat.

    45 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996) h. 38 46 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia,

    (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 38

  • 26

    Tujuan Dakwah adalah Dakwah yang dilaksanakan harus

    mempunyai tujuan tertentu. Tujuan ini dapat dirumuskan sedemikian rupa

    sehingga jelas apa yang hendak dicapai. Di dalam proses dakwah, tujuan

    adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Dengan tujuan

    itulah dapat dirumuskan suatu landasan tindakan dalam pelaksanaan

    dakwah.

    Menurut Drs. H.M. Arifin M.Ed., tujuan dakwah adalah untuk

    menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran

    agama yang dibawakan oleh aparat dakwah atau penerang agama. Oleh

    karena itu ruang lingkup dakwah adalah menyangkut masalah

    pembentukan sikap mental dan pengembangan motivasi yang bersifat

    positif dalam segala lapangan hidup manusia.

    Syekh Ali Mahfudz merumuskan, bahwa tujuan dakwah ada lima

    perkara, yaitu:

    1) Menyiarkan tuntunan Islam, membetulkan aqidah dan meluruskan

    amal perbuatan manusia, terutama budi pekertinya.

    2) Memindahkan hati dari keadaan yang jelek kepada keadaan yang baik.

    3) Membentuk persaudaraan dan menguatkan tali persatuan di antara

    kaum muslimin.

    4) Menolak faham atheisme, dengan mengimbangi cara-cara mereka

    bekerja.

    5) Menolak syubhat-syubhat, bid’ah dan khurafat atau kepercayaan yang

    tidak bersumber dari agama dengan mendalami ilmu Ushuluddin.

  • 27

    Dari rumusan tujuan pelaksanaan dakwah di atas dapat ditarik

    kesimpulan, bahwa tujuan dakwah ada dua, yaitu:

    a. Tujuan langsung yakni ditujukan langsung kepada masyarakat agar

    melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-nya.

    b. Tujuan tidak langsung, yaitu dengan membentuk kader-kader da’i baik

    melalui jenjang pendidikan formal maupun non formal, sehingga mereka

    dapat diterjunkan ke dalam masyarakat.

    Tujuan umum maupun khusus dakwah yaitu:

    a. Mengajak orang-orang Islam untuk memeluk agama Islam (meng-

    Islamkan orang-orang non-muslim).

    b. MengIslamkan orang-orang Islam artinya meningkatkan kualitas iman,

    Islam dan ihsan kaum muslimin sehingga mereka menjadi orang-orang

    yang mengamalkan Islam secara keseluruhan (kaffah).

    c. Menyerahkan kebaikan dan mencegah timbulnya dan tersebarnya bentuk-

    bentuk kemaksiatan yang akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan

    individu dan masyarakat.

    d. Membentuk individu-individu dan masyarakat yang menjadi Islam sebagai

    pegangan dan pandangan dalam segi-segi kehidupan politik, ekonomi,

    sosial dan budaya.

    Jadi tujuan dakwah adalah mempertemukan kembali fitrah manusia

    dengan agama atau menyadarkan manusia supaya mengakui kebenaran Islam

    dan mau mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi orang baik.47

    47 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 5

  • 28

    E. Sasaran Dakwah

    Sehubungan dengan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat,

    bila dari aspek kehidupan psikolgis, maka dalam pelaksanaan program

    kegiatan dakwah berbagai permasalahan yang menyangkut sasaran bimbingan

    atau dakwah perlu mendapatkan konsiderasi yang tepat yaitu meliputi hal-hal

    sebagai berikut:

    1. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat ilihat dari segi sosiologis

    berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan kecil, serta

    masyarakat di daerah marginal dari kota besar.

    2. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi struktur

    kelembagaan berupa masyarakat, pemerintah dan keluarga.

    3. Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat dilihat dari segi

    sosial cultural berupa golongan priyayi, abangan dan santri. Klasifikasi ini

    terutama terdapat dalam masyarakat di Jawa.

    4. Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi

    tingkat usia berupa golongan anak-anak, remaja dan orang tua.

    5. Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari

    okupasinal (profesi, atau pekerjaan) berupa golongan petani, pedagang,

    seniman, buruh, pegawai negeri (administrator).

    6. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat

    hidup sosial ekonomis berupa golongan orang kaya, menengah dan

    miskin.

    7. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi jenis

    kelamin berupa golongan wanita, pria dan sebagainya.

  • 29

    8. Sasaran berhubungan dengan golongan dilihat dari segikhusus berupa

    golongan masyarakat tunasusila, tunawisma, tuna karya, naarapidana dan

    sebagainya.

    Dan jika disebutkan secara general, sasaran dakwah ini adalah meliputi

    semua golongan masyarakat. Walaupun masyarakat ini berbeda dan masing-

    masing memiliki ciri-ciri khusus dan tentunya juga memerlukan cara-cara

    yang berbeda-beda dalam berdakwah, perlu kita lihat dulu siapa mad’unya,

    dari golongan mana agar apa yang akan kita dakwahkan dapat diterima dengan

    baik oleh mad’u.

    Secara garis besar, ajaran Islam meliputi lima aspek penting yaitu

    aqidah, syari’ah, ibadah, mu’amalah dan akhlak. Dengan begitu bisa dikatakan

    akhlak merupakan sepertiga dari ajaran Islam dan sekaligus menjadi puncak

    dari seluruh rangkaian ajaran Islam. Bahkan, semua bentuk ibadah bermuara

    pada pembentukan akhlak yang mulia.48

    1. Aqidah

    Dari segi bahasa, aqidah berasal dari al ‘aqdu yang berarti ikatan,

    kepastian, pengukuhan, pengencangan dengan kuat, juga berarti yakin dan

    mantap (Kamus Lisan al-Arab, III:295-300). Aqidah atau iman yaitu

    pengakuan dengan lisan dan membenarkan dengan hati bahwa semua yang

    dibawa oleh Rasulullah adalah benar dan hak. Masalah iman ini telah

    digariskan dan ditetapkan sebagai yang tersebut dalam rukun iman.49

    Aqidah ini merupakan fondamen bagi setiap muslim. Aqidah inilah

    yang menjadi dasar yang memberi arah bagi hidup dan kehidupan seorang

    48 Didin Hafidhuddin, Akhlak Sosial Muslim: Satu Hati dan Perbuatan, (Jakarta: Pustaka Zaman, 2000), cet. Ke-1, h. 71

    49 Syekh Thahir Ibn Saleh, Al-Jawahirul Kalamiyah, (Al-Qahirah: 1386 H, T.pn.,) hlm, 3

  • 30

    muslim. Aqidah ini merupakan keimanan kepada Allah SWT, para

    malaikat as, kitab-kitab yang diwahyukan kepada para Rasul, adanya hari

    kiamat dan adanya qadha’ dan qadar serta masalah-masalah yang berakitan

    dengan pokok-pokok keimanan itu. Hal ini pernah diterangkan oleh Nabi

    Muhammad Saw ketika beliau menjawab pertanyaan malaikat Jibril as

    sebagai berikut:50

    َأْن ُتْؤ ِمَن ِباِهللا َوَمَال ِئَكِتِه َوُآُتِبِه َوُرُسْوِلِه َواْلَيْوِم ْاآلِخِر )رواه مسلم عن عمر(َوُتْؤِمَن ِباْلَقْدِر َخْيِرِه َوَشرِِّه

    Artinya :“Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir dan adanya takdir baik dan buruk (yang diciptakan oleh)Nya.” (HR. Muslim dan Umar)

    Dimensi aqidah ini mengungkap masalah keyakinan manusia

    terhadap rukun iman, kebenaran agama dan masalah-masalah gaib yang

    diajarkan agama. Inti dimensi aqidah dalam ajaran Islam adalah tauhid.

    Ismail R. Al-Faruqi seperti dikutip oleh Fuad Anshori bahwa esensi Islam

    adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah

    sebagai Yang Maha Esa.51

    Aqidah adalah pesan-pesan dakwah yang meliputi: Iman kepada

    Allah SWT, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada

    Rasul Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada qadha dan qadar.52

    2. Syari’ah

    Secara bahasa (etimologi) kata “syari’ah” berasal dari Bahasa

    Arab yang berarti peraturan atau undang-undang, yaitu peraturan-

    50 M. Masyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral, h. 11 51 Fuad Nashori dan Pachmy Diana Muharam, Mengembangkan Kretaivitas dalam

    Perspektif Psikologi Islam, (Yogyakarta: Menara Kudus, 2002), cet. Ke-2, h. 78 52 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 95

  • 31

    peraturan mengenai tingkah laku yang mengikat harus dipatuhi dan

    dilaksanakan sebagaimana mestinya.53

    Berbicara mengenai syari’ah, Syeikh Mahmud Syaltut,

    sebagaimana dikutip H. Endang Saefuddin Anshari, M.A, menulis:54

    keyakinan merupakan dasar daripada syari’ah. Dan syari’ah adalah hasil

    daripada kepercayaan, sebab perundang-undangan tanpa keimanan

    bagaikan bangunan yang tidak bertumpuan dan keimanan dengan tidak

    disertai syari’ah untuk melaksanakannya, hanyalah akan merupakan teori,

    ajaran yang tiada berdaya dan berhasil.

    Syari’ah mengandung cara-cara atau peraturan ibadah seperti

    sembahyang, puasa, zakat, ibadah haji dan lain-lain yang dalam istilah,

    lebih umum disebutkan “hablum minallah”. Syariah juga mengandung

    muamalah seperti perkawinan, hutang-piutang, jual-beli, keadilan sosial,

    pendidikan dan lain-lain yang menyangkut hubungan manusia (hablum

    minan nas).55

    3. Ibadah

    Ibadah adalah bahasa Arab yang secara etimologi berasal dari akar

    kata ‘abada-ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan yang berarti taat, tunduk, patuh,

    merendahkan diri dan hina. Kesemua pengertian itu mempunyai makna

    yang berdekatan.56 Para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengemukakan

    pengertian ibadah dari segi terminologi dengan rumusan yang bervariasi

    53 M. Abdul Mujieb, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), cet. Ke-1,

    h. 343 54 Endang Saefuddin Anshari, Kuliah Al Islam: Pendidikan Agama Islam di Perguruan

    Tinggi, (Jakarta:Rajawali, 1992), cet. Ke-3, ed.2, h. 91 55 Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur’an, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), cet. Ke-1, h.10 56 Al-Qardhawi Yusuf, Al-Ibadah fi al-Islam, Muassasah al-Risalah, (Beirut: T.pn.,1979).

    cet. 6, h. 27

  • 32

    sesuai dengan bidangnya. Para ahli di bidang akhlak mendefinisikan

    ibadah sebagai berikut: Mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyah

    dan menyelenggarakan segala syari’at (hukum). Menurut ahli Fiqh, ibadah

    adalah: Segala bentuk ketaatan yang engkau kerjakan untuk mencapai

    keridhaan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.57

    Para Ulama membagi ibadah menjadi dua, yaitu ibadah makhdhah

    dan ibadah ghair makhdhah. Ibadah makhdhah adalah berbagai perbuatan

    yang dilakukan semata-mata hanya wujud pengabdian seseorang kepada

    Tuhannya. Sedangkan ibadah ghair makhdhah adalah berbagai perbuatan

    yang dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan kehidupan dunia yang

    disertai dengan niat mencari ridha-Nya.58

    Kita telah mengetahui, bahwa misi manusia di alam ini adalah

    beribadah kepada Allah. Kita juga telah mengetahui bahwa ibadah adalah

    mengoptimalkan ketundukan yang disertai dengan mengoptimalkan

    kecintaan kepada Allah. Dan ibadah di dalam Islam mencakup agama

    secara keseluruhan dan meliputi seluruh kehidupan dengan berbagai

    macam isinya.59

    4. Muamalah

    Pengertian muamalah dapat dilihat dari dua segi, pertama dari segi

    bahasa dan ke dua dari segi istilah. Menurut bahasa muamalah berasal dari

    kata ‘aamala-yu’aamilu-mu’aamalatan sama dengan wazan faa’ala-

    57 Tengku Muhammad Habsyi Ash-Siddieqy, Kuliah Ibadah, (Jakarta: Bulan Bintang,

    1994), cet. Ke-8, h. 3 58 M. Saefuddaulah, Akhlak Ijtima’iyah, (T.tp.:Pamator, 1998), cet. Ke-1, h. 8 59 Yusuf al-Qardhawi, Ibadah dalam Islam, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2005),

    cet. Ke-1, h.118

  • 33

    yufaa’ilu-mufaa’alatan, artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling

    mengamalkan.60

    Menurut istilah, pengertian muamalah dapat dibagi menjadi dua

    macam, yaitu pengertian muamalah dalam arti luas dan pengertian

    muamalah dalam arti sempit. Definisi muamalah dalam arti luas dijelaskan

    oleh para ahli sebagai berikut: Al Dimyati berpendapat bahwa muamalah

    adalah: Menghasilkan duniawi, supaya menjadi sebab suksesnya masalah

    ukhrawi.61

    Muhammad Yusuf Musa berpendapat bahwa muamalah adalah

    peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup

    bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.62

    Sedangkan pengertian muamalah dalam arti sempit (khas),

    didefinisikan oleh para ulama sebagai berikut:

    a. Menurut Hudlari Byk: Muamalah adalah semua akad yang

    membolehkan manusia saling menukar manfaatnya.

    b. Menurut Idris Ahmad,63 muamalah adalah aturan-aturan Allah yang

    mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam usahanya untuk

    mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling

    baik.

    c. Menurut Rasyid Ridha, muamalah adalah tukar-menukar barang atau

    sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan.

    60 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, h. 1 61 Lihat al Dimyati, dalam: I’anat al Thalibin, Toha Putra, Semarang, tt. hlm.2 62 Lihat Abdul Madjid, dalam : Pokok-pokok Fiqh Muamalah dan Hukum Kbendaan

    dalam Islam, IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 1986 hlm. 1 63 Lihat Fiqh al-Syafi’iyah, Karya Indah, Jakarta, 1986, hlm. 1

  • 34

    d. Muamalah menurut Fuqaha yaitu segala hukum yang dilaksanakan

    untuk kebaikan keluarga, masyarakat dan Negara atau kemuslihatan

    dunia.64

    5. Akhlak

    Akhlak secara etimologis berarti tingkah laku atau perbuatan. Dan

    secara terminologis akhlak adalah tingkah laku manusia dalam

    hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam

    sekitarnya.65

    Imam Ghazali dalam bukunya “Ihya Ulumuddin” menyatakan

    sebagai berikut: Akhlak ialah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang

    menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa

    memerlukan pikiran dan pertimbangan.66

    Dr Ahmad Amin dalam bukunya “Al-Akhlak” mengatakan bahwa

    akhlak adalah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia,

    yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau

    yang batil.67

    Sedangkan menurut Ibnu Maskawih, akhlak adalah sifat yang

    tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan

    tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.68

    Akhlak yang dituntut dan dipelihara ialah akhlak yang merupakan

    sendi agama di sisi Tuhan, bukanlah sekedar mengerti bahwa kebenaran

    64 Tengku Muhammad Habsyi Ash-Siddieqy, Kuliah Ibadah, h. 5 65 Hasan Saleh, Studi Islam di Perguruan Tinggi Pembinaan IMTAQ dan Pengembangan

    Wawasan, (Jakarta: Penerbit ISTN, 2000), cet. Ke-2, h. 57 66 Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur’an, h. 3 67 Ahmad Amin, Al-Akhlak, terjemahan Y Bahtiar Affandy, (Jakarta: Jembatan, 1995), h.1 68 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, h. 3

  • 35

    itu adalah mulia dan dusta adalah hina, dan bukan pula sekedar

    mengetahui bahwa ikhlas itu suatu yang agung, sedang tipu daya adalah

    sebuah kehancuran. Akan tetapi akhlak yang dituntut yaitu reaksi jiwa dan

    segala sesuatu yang mempengaruhinya untuk melakukan apa yang patut

    dilakukan dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan.69

    Adapun ruang lingkup akhlak terbagi dalam beberapa bagian:

    a. Akhlak terhadap Kholik. Allah SWT adalah Al-Khaliq (Maha

    pencipta) dan manusia adalah makhluk (yang diciptakan). Manusia

    wajib tunduk kepada peraturan Allah. Hal ini menunjukkan kepada

    sifat manusia sebagai hamba.

    b. Akhlak terhadap Mahkluk. Prinsip hidup dalam Islam termasuk

    kewajiban memperhatikan kehidupan antara sesama orang-orang

    beriman. Kedudukan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah

    ibarat satu jasad, dimana satu anggota badan dengan anggota badan

    lainnya mempunyai hubungan yang erat.70

    F. Pengertian Masjid

    Ditinjau dari segi bahasa Masjid berasal dari bahasa Arab yaitu dari

    kata sajada, yasjudu yang berarti sujud, sedangkan kata masjid merupakan

    isim makan dari kata tersebut yang berarti tempat bersujud.

    Pada zaman pra-Islam tempat di sekitar Ka’bah dinamakan masjid.

    Abu Bakar membangun sebuah tempat untuk shalat di dekat rumahnya di

    mekkah. Terdapat keragaman gaya bangunan masjid, namun terdapat

    69 Ali Akbar, Nabi Muhammad Pembawa Rahmat, Suara Mesjid, No. 64, DDII, hlm. 9 70http://www.cahaya-islam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=286,

    diakses pada tanggal 08 Mei 2010, pada pukul 16:40 WIB

    http://www.cahaya-islam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=286

  • 36

    beberapa elemen utama. Syarat utama sebuah masjid adalah tersedianya

    sebuah ruangan besar untuk menjalankan shalat, baik beratap maupun tidak

    beratap, yang didalamnya jama’ahnya membentuk barisan di belakang posisi

    imam untuk menyelenggarakan shalat berjama’ah.71

    Seseorang tidak diperkenankan berdiam di dalam ruangan ini kecuali

    dalam keadaan suci dai hadats besar. Untuk memastikan arah kiblat, ka’bah

    biasanya dalam sebuah masjid terdapat sebuah ruangan yang dinamakan

    mihrab. Masjid juga dapat dijadikan sebagai lembaga untuk melaksanakan

    aktifitas-aktifitas dakwah.

    71 Prof. Huston Smith, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo, 1999)

  • BAB III

    PROFIL K.H. MUHYIDDIN NA’IM DAN MASJID AL-AKHYAR

    KEMANG JAKARTA SELATAN

    A. Profil K.H. Muhyiddin Na’im

    1. Latar Belakang Keluarga

    Beliau lahir di Jakarta, pada tanggal 12 Januari 1950, K.H.

    Muhyiddin Na’im adalah putra dari keluarga pasangan Alm. K.H.

    Muhammad Na’im dan Almh. Hj. Saodah Binti Musyaffa’. Beliau terlahir

    dari keluarga yang sangat religius. Ayahandanya semasa hidup adalah

    seorang Ulama besar, dan beliau dikenal sebagai salah satu Ulama besar

    yang turut mensyiarkan agama Islam di berbagai daerah, khususnya

    diwilayah Cipete Utara Jakarta-Selatan.

    K.H. Muhammad Na’im Lahir pada tahun 1912, dari pasangan,

    beliau juga aktif dalam salah seorang pengurus Syuria NU dengan

    Rekannya seperti K.H. Abdul Wahid Hasyim, K.H. Idham Chalid, K.H.

    Anwar Musyaddad, K.H. Ilyas, K.H. Saifuddin Zuhri, K.H. Tohir Rohili,

    K.H. Mursyidi, K.H. Ishaq Yahya, K.H. Ahmad Syaikhu, K.H. Nur Ali

    Bekasi, K.H. Abdul Aziz Amin. Beliau juga menjadi saksi atas

    dideklarasikannya pemerintah Republik Indonesia Serikat. H. Na’im dan

    Mera dan beliau meninggal dunia pada 12 Mei 1973 pada usia 61 tahun.

    Seminggu sebelum wafat, kini istrinya yang masih hidup ada dua orang.

    Putra-putrinya yang masih hidup ada 27 orang. Cucu cicitnya ada sekitar

    300 orang. Diantara mereka yang aktif dalam bidang dakwah dan

    36

  • 37

    pendidikan, seperti K.H. Abdul Hayyi Na’im, K.H. Muhyiddin Na’im,

    K.H. Muhammad Fatih Na’im, Hj. Siti Aisyah, Hj. Mahmudah Na’im, siti

    Sahlah Na’im. Di samping itu banyak pula yang mengabdikan diri di

    berbagai instansi pemerintah dan swasta.1

    K.H. Muhyiddin Na’im adalah seorang Ulama dan tokoh

    masyarakat betawi yang sangat di hormati, dan karena pengalaman beliau

    yang cukup luas dapat memberikan motivasi tersendiri bagi K.H.

    Muhyiddin Na’im untuk berkesempatan berdakwah dan mengetahui

    bagaimana cara mempraktekan dakwah diberbagai forum, baik didalam

    maupun diluar negeri.

    K.H. Muhyiddin Na’im mempunyai beberapa saudara kandung,

    diantaranya Hj. Zakiyah Na’im, Hj. Nafisah Na’im, K.H. Muhyiddin

    Na’im, Hj. Mahmudah Na’im, H. Muhammad Ali Na’im, H.

    Abdurrahman Na’im, H. Adnan Na’im, H. Muhammad Diinul Hadi

    Na’im, H. Maliha Na’im, H. Zaenal Aripin Na’im, Hj. Azizah Na’im,

    tidak ketinggalan kakak maupun adik-adiknya yang berkecimpung dalam

    mensyiarkan agama Islam.

    Sejak kecil kedua orang tuanya, terutama bapaknya (K.H.

    Muhammad Na’im) cukup dikenal sebagai orang tua yang sangat tegas

    terhadap anak-anaknya, sudah mempersiapkan bekal pendidikan agama,

    berupa belajar membaca Al-Qur’an, cinta dengan Ilmu agama yang

    mengharuskan beliau untuk selalu dan terus belajar.

    1 Wawancara dengan adik K.H. Muhyiddin Na’im (K.H. Abdurrahman Na’im) di masjid

    An-Nur Cipete Utara Jakarta Selatan.

  • 38

    Sejak usia belia, beliau sudah terbiasa dengan kesibukan dakwah,

    sama halnya dengan anak-anak seusianya, beliau juga bermain bersama

    teman-temannya akan tetapi beliau tidak pernah melupakan kewajibannya

    sebagai pelajar untuk menuntut ilmu agama.

    Beliau sudah berdakwah dari kecil, tetapi sesudah menikah atau

    kurang lebih 28 tahun lalu, ternyata beliau lebih menyukai dan menekuni

    profesi dakwah sebagaimana beliau mengikuti jejak ayahnya. Dan di usia

    yang sudah matang ini, beliau masih menggeluti di dunia dakwah atas

    dukungan dari istri tercintanya, Hj. Rohimah dari seorang anak K.H.

    Fathullah (Alm).

    Beliau bukan hanya sekedar seorang da’i yang berani berjuang di

    medan dakwah, melainkan beliau juga seorang guru atau kyai yang selalu

    membimbing dan mendidik murid-muridnya agar menjadi lebih baik dan

    berakhlakul karimah. Dan beliau juga seorang suami yang banyak

    memberi panutan bagi keluarganya, beliau selalu menyempatkan waktu

    luang untuk berkumpul dan bersenda gurau bersama keluarga besarnya.

    Hingga saat ini K.H.Muhyiddin Na’im mempunyai lima orang

    anak yang sangat di banggakan. Di antara nya : Rozana, H.Muhammad

    wafi, Ahmad Labib, Rihaburrahman dan Naji.

    2. Latar Belakang Pendidikan K.H. Muhyiddin Na’im

    Ulama yang sangat ramah ini tidak hanya pandai berbicara, tetapi

    beliau juga aktif saat bangku sekolah, sejak kecil beliau bercita-cita ingin

    menjadi da’i sekaligus guru. Dari kecil beliau juga sering mengikuti ayah

  • 39

    mengajar pengajian. Sehingga apapun ilmu yang diturunkan padanya

    selalu direalisasikan.

    Bapak dari lima orang anak ini pernah menuntut Ilmu di Jakarta

    sampai antar propinsi sampai perguruan tinggi di luar negri, diantara nya :

    a. SD yang terletak didaerah Perla Jakarta selata tahun

    b. MTs yang berada diJombang yaitu Tebuireng,

    c. selanjutnya beliau melanjutkan ke perguruan tinggi di Damaskus

    (Syiria), disana beliau mendapat gelar Lc dan Kairo (Mesir) beliau

    mendapat gelar MA.

    Beliau sama sekali tidak membeda-bedakan antara ilmu umum

    dengan ilmu agama, karena menurut sang ayah “apapun ilmu itu selama

    baik dan membawa manfaat maka raihlah terus”2.

    Beliau tidak hanya menuntut ilmu didalam negeri saja, akan tetapi

    beliau juga menuntut ilmu di luar negeri bagian timur, Damaskus atau

    Syiriya, Jerman dan Amerika.

    B. Aktivitas K.H. Muhyiddin Na’im

    Sejak belia, beliau sudah banyak melakukan hal-hal positif yang

    membawanya kearah yang lebih baik baik, diantaranya : belajar mengajar,

    belajar ceramah di berbagai pengajian. Dan beliau juga termasuk orang yang

    gemar membaca khususnya kitab-kitab untuk menuangkan inspirasinya, waktu

    selebihnya ia gunakan untuk ceramah, berkhutbah, dan memberikan ilmu

    kepada orang lain.

    2 Wawancara dengan KH. Muhyiddin Na’im di kediamannya pada tanggal 15 Mei 2010.

  • 40

    Da’i yang penuh tawaddlu’ ini tidak pernah merasa lelah untuk

    melakukan semua aktivitasnya. Dari kecil sampai sekarang beliau terkenal

    mudah bergaul dengan siapa saja. Maupun dengan para pejabat beliau cukup

    di kenal karena beliau aktif dalam beberapa lembaga-lembaga pemerintahan

    juga, seperti NU (Nahdlotul Ulama), MUI DKI (Majelis Ulama Indonesia),

    FUHAB Forum Ulama Habaib) dll, maka dari sini beliau mempunyai tekad

    dakwah untuk mengembangkan agama Islam.

    Selama ini beliau tidak hanya ceramah di Masjid Al-Akhyar yang

    beliau pimpin, akan tetapi beliau juga berceramah atau mengisi pengajian di

    berbagai daerah khususnya wilayah DKI Jakarta Selatan. Selain itu beliau juga

    sering diundang ceramah pada acara hari-hari besar Islam seperti : Maulid

    Nabi SAW, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan undangan ceramah di

    dalam maupun luar negeri.

    Pada awalnya kegiatan dakwah bil-lisan K.H. Muhyiddin Na’im hanya

    mengajar pada satu masjid yang terletak dekat rumah beliau di daerah Cipete

    Jakarta Selatan yaitu masjid An-Nur tempat bapaknya mengajar, akan tetapi

    karena efek yang ditimbulkan dari dakwah yang disampaikannya

    membuahkan hasil, maka beliau terus melanjutkan dakwahnya dengan

    mengajak masyarakat setempat untuk belajar mengaji.

    Pada usia 25 tahun, beliau mulai memberanikan diri untuk

    menunjukkan performanya sebagai penceramah atau da’i muda. Meskipun

    dakwah yang disampaikannya belum maksimal ternyata dakwah yang

    dirasakan sangat bermanfaat bagi mad’u pada saat itu. Sehingga beliau

    mengajak masyarakat setempat untuk mengaji dan belajar bersama.3

    3 Wawancara dengan KH. Muhyiddin Na’im di kediamannya pada tanggal 15 Mei 2010.

  • 41

    Beliau bukan pria yang mudah menyerah, tetapi beliau semakin

    penasaran untuk lebih mendalami ilmu agamanya, agar beliau terus mampu

    untuk mengimplementasikan dakwahnya kepada orang lain.

    Setelah menikah beliau lebih konsentrasi lagi dalam berdakwah,

    karena beliau sudah mempunyai banyak pengalaman sekaligus pengetahuan

    yang sudah beliau dapatkan dari membaca.

    Dalam wawancara yang penulis dapati, beliau mengkategorikan

    dakwah bil lisan sama halnya seperti pidato, ceramah, mengaji, diskusi,

    nasihat atau segala yang penyampaiannya melalui lisan dengan bertujuan

    untuk mengajak orang menjadi lebih baik.

    Figurnya sebagai ulama yang akan haus akan ilmu dan beramal,

    mengajak dirinya dimanapun beliau berada dan ada kesempatan, beliau tak

    segan-segan untuk mengadakan suatu acara atau kegiatan-kegiatan yang

    bersifat keagamaan. Dakwah bil lisan yang dilakukan K.H. Muhyiddin Na’im.

    Penulis kelompokkan menjadi beberapa bentuk, yaitu :

    1. Ceramah, dakwah yang beliau lakukan melalui ceramah ini adalah

    menyampaikan pesan-pesan dan nasehat-nasehat yang baik dan membawa

    nilai-nilai positif kepada mad’u, yang gunanya untuk membawa mad’u

    menjadimanusia yang bermanfaat dan berguna bagi masyarakat dan

    Tuhannya (Allah SWT). Biasanya beliau melakukan pengajian di beberapa

    Masji di Jakarta dalam satu harinya.

    Tidak hanya selain ceramah di Jakarta, beliau juga ceramah diluar

    kota dan bahkan diluar negeri seperti Syiria dan Damaskus. Aktivitas

    ceramah diluar negeri ini mulai sejak tahun kurang lebih 1990an hingga

  • 42

    saat ini. Banyak perbedaan yang terdapat antara ceramah didalam negeri

    dalam suatu pengajian terdapat beberapa orang yang memulai acara

    sampai do’a, sedangkan diluar negeri sejak mulai acara atau do’a, yang

    memimpin hanya beliau.

    2. Mengaji, dakwah ini juga biasa beliau lakukan dalam setiap minggunya.

    Dengan mengadakan pengajian mingguan bapak-bapak maupun remaja

    dalam setiap minggunya. Dengan mengadakan pengajian mingguan bapak-

    bapak ataupun remaja di wilayah Kemang Jakarta Selatan khususnya pada

    pembahasan kali ini di Masjid Al-Akhyar, guna menyampaikan pesan

    dakwah sekaligus nasihat-nasihat yang sholeh dan diakhiri dengan tanya-

    jawab dari mad’u kepada beliau.

    Dalam pengajian tersebut membahas kitab “Riyadushsholihin”

    adaalh kitab yang secara keseluruhannya membahas tentang Fiqh, sesuai

    dengan kebutuhan masyarakat, dan memberikan pemahaman secara utuh

    karena kitab tersebut adalah salah satu kitab yang terpenting dalam kitab

    referensi Islam.

    3. Musyawarah (diskusi), dakwah bentuk ini biasanya dilakukan oleh K.H.

    Muhyiddin Na’im dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh para

    ‘alim ulama serta tokoh agama untuk membahas suatu permasalahan dan

    bertukar fikiran tentang agama Islam, musyawarah seperti ini biasanya

    dilakukan didalam suatu organisasi seperti NU dan MUI di Jakarta

    Selatan.

    Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang notabennya adalah sumber

    utama yang mencakup keseluruhan kultur Islam yang murni. Adapun

  • 43

    materi yang digunakan dalam pembahasan yang digunakan untuk

    pengisian ceramhnya yaitu tentang : tauhid, muamalah, sejarah, akhlak dan

    do’a-do’a lainnya. Profesinya sebagai ulama membuat beliau banyak

    bersosialisasi dengan siapapun sehingga beliau sering kali di undang untuk

    ceramah di berbagai tempat baik itu di jabodetabek tetapi juga di luar

    negeri.

    Pada awalnya kegiatan dakwah bil-lisan K.H. Muhyiddin Na’im

    hanya mengajar pada satu masjid yang terletak dekat rumah beliau di

    daerah Cipete Jakarta Selatan yaitu masjid An-Nur tempat bapaknya

    mengajar, akan tetapi karena efek yang ditimbulkan dari dakwah yang

    disampaikannya membuahkan hasil, maka beliau terus melanjutkan

    dakwahnya dengan mengajak masyarakat setempat untuk belajar mengaji.

    Pada usia 25 tahun, beliau mulai memberanikan diri untuk

    menunjukkan performanya sebagai penceramah atau da’i muda. Meskipun

    dakwah yang disampaikannya belum maksimal ternyata dakwah yang

    dirasakan sangat bermanfaat bagi mad’u pada saat itu. Sehingga beliau

    mengajak masyarakat setempat untuk mengaji dan belajar bersama.

    Beliau bukan pria yang mudah menyerah, tetapi beliau semakin

    penasaran untuk lebih mendalami ilmu agamanya, agar beliau terus

    mampu untuk mengimplementasikan dakwahnya kepada orang lain.

    Setelah menikah beliau lebih konsentrasi lagi dalam berdakwah,

    karena beliau sudah mempunyai banyak pengalaman sekaligus

    pengetahuan yang sudah beliau dapatkan dari membaca.

  • 44

    Dalam wawancara yang penulis dapati, beliau mengkategorikan

    dakwah bil lisan sama halnya seperti pidato, ceramah, mengaji, diskusi,

    nasihat atau segala yang penyampaiannya melalui lisan dengan bertujuan

    untuk mengajak orang menjadi lebih baik.

    Figurnya sebagai ulama yang akan haus akan ilmu dan beramal,

    mengajak dirinya dimanapun beliau berada dan ada kesempatan, beliau tak

    segan-segan untuk mengadakan suatu acara atau kegiatan-kegiatan yang

    bersifat keagamaan. Dakwah bil lisan yang dilakukan K.H. Muhyiddin

    Na’im. Penulis kelompokkan menjadi beberapa bentuk, yaitu :

    4. Ceramah, dakwah yang beliau lakukan melalui ceramah ini adalah

    menyampaikan pesan-pesan dan nasehat-nasehat yang baik dan membawa

    nilai-nilai positif kepada mad’u, yang gunanya untuk membawa mad’u

    menjadimanusia yang bermanfaat dan berguna bagi masyarakat dan

    Tuhannya (Allah SWT). Biasanya beliau melakukan pengajian di beberapa

    Masji di Jakarta dalam satu harinya.

    Tidak hanya selain ceramah di Jakarta, beliau juga ceramah diluar

    kota dan bahkan diluar negeri seperti Syiria dan Damaskus. Aktivitas

    ceramah diluar negeri ini mulai sejak tahun kurang lebih 1990an hingga

    saat ini. Banyak perbedaan yang terdapat antara ceramah didalam negeri

    dalam suatu pengajian terdapat beberapa orang yang memulai acara

    sampai do’a, sedangkan diluar negeri sejak mulai acara atau do’a, yang

    memimpin hanya beliau.

    5. Mengaji, dakwah ini juga biasa beliau lakukan dalam setiap minggunya.

    Dengan mengadakan pengajian mingguan bapak-bapak maupun remaja

  • 45

    dalam setiap minggunya. Dengan mengadakan pengajian mingguan bapak-

    bapak ataupun remaja di wilayah Kemang Jakarta Selatan khususnya pada

    pembahasan kali ini di Masjid Al-Akhyar, guna menyampaikan pesan

    dakwah sekaligus nasihat-nasihat yang sholeh dan diakhiri dengan tanya-

    jawab dari mad’u kepada beliau.

    Dalam pengajian tersebut membahas kitab “Riyadushsholihin”

    adalah kitab yang secara keseluruhannya membahas tentang Fiqh, sesuai

    dengan kebutuhan masyarakat, dan memberikan pemahaman secara utuh

    karena kitab tersebut adalah salah satu kitab yang terpenting dalam kitab

    referensi Islam.

    6. Musyawarah (diskusi), dakwah bentuk ini biasanya dilakukan oleh K.H.

    Muhyiddin Na’im dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh para

    ‘alim ulama serta tokoh agama untuk membahas suatu permasalahan dan

    bertukar fikiran tentang agama Islam, musyawarah seperti ini biasanya

    dilakukan didalam suatu organisasi seperti NU dan MUI di Jakarta

    Selatan.

    Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang notabennya adalah sumber

    utama yang mencakup keseluruhan kultur Islam yang murni. Adapun

    materi yang digunakan dalam pembahasan yang digunakan untuk

    pengisian ceramhnya yaitu tentang : tauhid, muamalah, sejarah, akhlak dan

    do’a-do’a lainnya. Profesinya sebagai ulama membuat beliau banyak

    bersosialisasi dengan siapapun sehingga beliau sering kali di undang untuk

    ceramah di berbagai tempat baik itu di jabodetabek tetapi juga di luar

    negeri.

  • 46

    Dengan kesibukan yang banyak menyita waktunya, beliau tidak pernah

    lupa untuk memperhatikan pr