Click here to load reader

166176965 Fraktur Femur

  • View
    116

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of 166176965 Fraktur Femur

Fraktur Femur Saturday, January 19, 2013 | Posted by saputra kun |

DOWNLOAD Versi lengkap (136 kb)

A. PENGERTIANAdalah fraktur pada tulang yang biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Patah pada bagian ini dapat mengakibatkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok. (Reksoprodjo, 1998).

B. KLASIFIKASIMenurut Schrok (1997: 458) ada 3 klasifikasi fraktur femur antaralain:a. Fraktur femur 1/3 proximalb. Fraktur femur 1/3 medialc. Fraktur femur 1/3 distalC. MEKANISME CEDERADaerah tulang-tulang ini sering mengalami patah. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang 1/3 tengah. Biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota-kota besar atau jatuh dari ketinggian. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok.Fraktur femur amat sering ditemukan pada anak-anak yang lebih tua dan biasanya akibat benturan langsung (misalnya; kecelakaan lalu lintas) atau jatuh dari tempat tinggi. Tetapi pada anak-anak yang berumur di bawah 2 tahun. Penyebabnya yang paling lazim adalah penyiksaan pada anak (Anderson,1982) kalau terdapat beberapa fraktur dalam stadium penyembuhan yang berbeda.

D. MANIFESTASI KLINISBagian paha yang patah lebih pendek dan lebih besar dibanding dengan normal serta fragmen distal dalam posisi eksorotasi dan aduksi karena empat penyebab:1. Tanpa stabilitas longitudinal femur,otot yang melekat pada fragmen atas dan bawah berkontraksi dan paha memendek, yang menyebabkan bagian paha yang patah membengkak.2. Aduktor melekat pada fragmen distal dan abduktor pada fragmen atas. Fraktur memisahkan dua kelompok otot tersebut, yang selanjutnya bekerja tanpa ada aksi antagonis.3. Beban beratkaki memutarkan fragmen distal ke rotasi eksterna4. Femur dikelilingi oleh otot yang mengalami laserasi oleh ujung tulang fraktur yang tajam dan paha terisi dengan darah sehingga terjadi pembengkakan.

E. KOMPLIKASI1. Peradarahan, dapat menimbulkan kolaps kardiovaskuler.2. Infeksi, terutama jika luka terkontaminasi dandebridement tidak memadai3. Non-union, lazim terjadi pada fraktur pertengahan batang femur, trauma kecepatan tinggi dan fraktur dengan interposisi jaringan lunak diantara fragmen. Fraktur yang tidak menyatu memerlukan bone grafting dan fiksasi interna.4. Malunion, disebabkan oleh abduktor dan aduktor yang bekerja tanpa aksi antagonis pada fragmen atas untuk abduktor dan fragmen distal untuk aduktor. Deformitas harus diakibatkan oleh kombinasi gaya ini. 5. Trauma arteri dan saraf jarang tetapi mungkin terjadi

F. PENATALAKSANAAN1. Penatalaksanaan Fraktur femurPenatalaksanaan fraktur femur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Traksi dan spicacasting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini tidak banyak dilakukan pada orang dewasa.Bila penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dari cara-cara berikut:a. TraksiComminuted fracture dan fraktur yang baik tidak sesuai untuk intramedullary nailing paling baik diatasi dengan manipulasi di bawah anestesi dan balanced sliding skeletal traction yang dipasang melaluitibial pin.Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spame otot dan mencegah pemendekan dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan.b. Fiksasi InternaIntramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologis memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi diantara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union. Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderitadapat diimobilisasikan cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliputi anestesi, trauma bedah tambahan danrisiko infeksi.Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengantrauma yang minimal, tetapi paling sesuai untul fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankanpanjang dan rotasi.c. Fiksasi EksternaBila fraktur yang dirawat dengantraksi stabildan massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuktindakan ini.2. Perawatan Klien Fraktura. Perawatan klien dengan fraktur tertutupKlien dengan fraktur tertutup harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas mungkin memerlukan waktu sampai berbulan-bulan. Klien diajari bagaimana mengontrol.Pembengkakan dan nyeri sehubungan dengan fraktur dan trauma jaringan lunak. Mereka didorong untuk aktif dalam batas imobilisasi fraktur. Tirah baring diusahakan seminimal mungkin. Latihan segera dimulai untuk mempertahankan kesehatan otot yang sehat, dan untuk meningkatkan kekuatan otot yang dibutuhkan untuk pemindahan, menggunakan alat bantu (misalnya: tongkat, walker).Klien diajari mengenai bagaimana menggunakan alat tersebut dengan aman. Perencanaan dilakukan untuk membantu klien menyesuaikan lingkungan rumahnya sesuai kebutuhan dan bantuan keamanan pribadi, bila perlu. Pengajaran klien meliputi perawatan diri, informasi obat-obatan.b. Perawatan klien fraktur terbukaPada fraktur terbuka (yang berhubungan dengan luka terbuka memanjang sampai permukaan kulit dan ke daerah cedera tulang) terdapat resiko infeksi seperti: osteomielitis, gas gangren, dan tetanus. Tujuan penanganan adalah meminimalkan kemungkinan infeksi luka, jaringan lunak dan tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan tulang.Luka dibersihkan, didebridemen (benda asing dan jaringan mati diangkat), dan diirigasi. Dilakukan usapan luka untuk biakan dan kepekaan. Mungkin perlu dilakukan grapt tulang untuk menjembatani defek, namun harus yakin bahwa jaringan resipien masih sehat dan mampu memfasilitasi penyatuan.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANGMenurut Doegoes,dkk (1999) pemeriksaan penunjang pada kasus fraktur1. Scan tulang, tomogram, magnetic resonance imaging (MRI) memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak.2. Arteriogram, dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler3. Profil koagulasi4. Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranafusi multiple atau cairan hati.

DAFTAR PUSTAKA

Apley, A.C & Solomon, L. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, ed 7. Jakarta: Widya Medika.Capernito, Linda Juall. 1993. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis, ed 6. Jakarta: EGC.Doengoes, M.E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ed 3. Jakarta: EGC.Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, vol 2. Jakarta: EGC.Harnowo, S. 2001. Keperawatan Medikal Bedah untuk Akademi Keperawatan. Jakarta: Widya Medika.Hidayat, Aziz.A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.Long, B.C. 1988. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung: Yayasan IAPK Padjajaran.Price, S A & Wilson, L M. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, jilid 2. Jakarta: EGCMansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 2. Jakarta: Aesculapius.Labels:Muskuloskeletal Asuhan keperawatan Fraktur Femur atau patah tulang berikut kami hadirkan secara lengkap sebagai referensi Anda dalam menyusun Askep Fraktur Femur. Askep Fraktur berikut kami dapatkan dari Ners Raiz seorang perawat profesional. Untuk lebih jelasnya silahkan untuk simak kelanjutan dari informasi berikut dibawah ini :Asuhan Keperawatan (ASKEP) Fraktur Femur

A. Konsep dasari. DefinisiFraktur adalah diskonmtunuitas struktur pada tulang (sylvia anderson, 1995 : 261). Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (marilynn e. Doenges, 2000 : 761).Faraktur femur 1/3 distal adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas tulang femur pada bagian ujung.Sinistra adalah bagian badan tubuh sebelah kiri sedangkan dextra adalah bagian tubuh sebelah kanan.Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (brunner & suddart, 2000),dari beberapa pengertian diatas, disimpulkan bahwa pengertian fraktur femur 1/3 distal sinistra adalah terputusnya kontinuitas struktur tulnag femur kiri pada 1/3 bagian ujung.ii. EtiologiEtiologi patah tulang menurut barbara c. Long adalah Fraktur akibat peristiwa trauma -jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan -tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya. Fraktur patologis -adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.iii. PatofisiologiBarbara c. Long menguraikan bahwa ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian