Akulturasi budaya islam dengan hindu

  • View
    815

  • Download
    19

Embed Size (px)

Text of Akulturasi budaya islam dengan hindu

Akulturasi Budaya Islam dengan Hindu

Akulturasi Budaya Islam dengan Hindu

Kelompok 2:Ayi Nur Hayati (03)Dinda Raras P. (07)Indri Hapsari (12)Megalia C.P. (19)WUJUD ALKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA DENGAN ISLAMSeni Bangunan

Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki cirisebagai berikut: a.Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.

Gambar 1.Masjid Aceh merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia b.Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.

c. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Alkulturasi Bangunan Makam

Gambar 2.Makam Sendang Duwur (Tuban)Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,nisannya juga terbuat dari batu. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu). Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.

B. Bidang Pahat

Masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berpengaruh terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia. Misalnya seni hias dan seni arca. Seni hias yang berupa relief pada dinding candi di Indonesia menunjukkan adanya akulturasi antara budaya lokal Indonesia dengan Hindu-Buddha. Masuknya pengaruh Hindu-Buddha juga berpangaruh pada seni arca di Indonesia. Seni arca Indonesia yang sederhana berkembang menjadi seni arca yang mempunyai kualitas yang lebih baik. Arca yang sebelumnya merupakan perwujudan dari nenek moyang berubah menjadi perwujudan raja ataupun dewa. Pembuatan arca seperti ini berlangsung sampai zaman kerajaan Tumapel-Singosari. Seni RupaTradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme, agar didapat keserasian, misalnya ragam hias. ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.

Gambar 3.Kera yang disamarkanC. Bidang Kalender

Indonesia telah mengenal sistem kalender sebelum datangnya pengaruh Hindu-Buddha dari India. Pada saat itu, kalender Indonesia menggunakan penghitungan satu pekan. Satu pekan terdiri atas lima dan tujuh hari. Kedua penghitungan itu digunakan bersama-sama. Dengan berkembangnya kalender India, kedua kalender itu dipadukan menjadi kalender Saka yang dilengkapi dengan hari pasaran (pon, wage,kliwon, legi, dan pahing). Ketika pengaruh agama dan budaya Islam masuk ke Indonesia, penanggalan Islam berupa kalender Hijriah pun ikut masuk. Kalender Hijriah menggunakan penghitungan peredaran bulan (lunar system). Penggunaan kalender Hijriah awalnya menimbulkan masalah di kalangan masyarakat Indonesia dikarenakan pemakaian kalender Hijriah tidak sama dengan kalender yang selama ini dipergunakan, yaitu kalender Saka yang menggunakan penghitungan peredaran matahari (solar system). Akibatnya muncul usaha untuk memperbarui kalender dengan menggabungkan kedua sistem kalender tersebut.

Perwujudan akulturasi daam sistem kalender jelas terlihat pada zaman Mataram Islam. Raja Mataram Sultan Agung pada saat itu memutuskan bahwa negara Mataram secara resmi tidak menggunakan kalender Saka, tetapi juga tidak menggunakan kalender Hijriah. Namun, yang dipergunakan adalah kalender Saka yang diperbarui. Dalam kalender itu, angka tahunnya meneruskan angka tahun Saka, tetapi penghitungan kalender mengambil dari kalender Hijriah, yaitu sistem bulan. Kalender baru ini berlaku pada tanggal 8 Juli 1633, bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1403 H. Jadi, kalender baru dimulai pada tanggal 1 Suro 1555 dan tahun itu disebut tahun Jawa.

Bidang BahasaKonversi Islam nusantara awalnya terjadi di sekitar semenanjung Malaya. Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu. Melayu lalu digunakan sebagai bahasa dagang yang banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia. Seiring perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab. Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.D. Bidang Tradisi dan Upacara

Pernikahan

Lembaga pernikahan di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha dari India. Pengaruh Hindu-Buddha tersebut tidak menjadikan tradisi-tradisi pernikahan yang sebelumnya telah ada menjadi hilang, tertapi mengalami perpaduan atau akulturasi. Perpaduan tersebut misalnya dalam pengadaan sesajen dalam upacara pernikahan.Setelah pengaruh budaya Islam masuk ke Indonesia, lembaga pernikahan di Indonesia dipengaruhi oleh budaya Islam. Akulturasi budaya Islam dengan budaya sebelumnya terlihat pada saat upacara pernikahan berlangsung. Upacara pernikahan dalam Islam selalu diawali dengan akad nikah. Setelah itu, baru diadakan upacara-upacara yang menyertainya berdasarkan tradisi masing-masing daerah.

Pemakaman

Tradisi lokal Jawa mengalami akulturasi dengan budaya dan agama Islam. Misalnya, pada hari setelah kematiannya selama tujuh hari, dan pada hari-hari peringatan selamatannya, biasanya pihak keluarga mengadakan acara tahlilan yang berisi pembacaan zikir dan tahlil. Maksud dan tujuan tradisi tersebut adalah untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal supaya diterima di sisi Allah. Di sinilah terjadi akulturasi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam. Doa-doa yang dibacakan dalam bahasa Arab,tradisi selamatan merupakan tradisi Hindu-Buddha, sedang peringatannya itu merupakan pengaruh budaya lokal.

Budaya pemberian nisan di tempat penguburan orang yang telah meninggal merupakan warisan dari kebudayaan prasejarah. Adat mengunjungi pemakaman atau lebih dikenal ziarah kubur juga mengalami akulturasi. Bagi masyarakat muslim, ziarah hanya dilakukan secara sederhana untuk mendoakan arwah orang yang telah meninggal. Sementara pada budaya Jawa, ziarah sering disertai dengan penggunaan bunga atau sesaji lainnya. Hal inilah yang menunjukkan tradisi Hindu-Buddha.

TERIMAKASIH