Click here to load reader

AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT KOTA (STUDI

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT KOTA (STUDI

ANTANG MAKASSAR)
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
dan doa orang-orang sekitarmu adalah bara api yang mematangkannya. Kegagalan
di setiap langkahmu adalah pengawetnya. Maka dari itu bersabarlah! Allah selalu
menyertai orang-orang yang penuh kesabaran dalam proses menuju keberhasilan.
Sesungguhnya kesabaran akan membuatmu mengerti bagaimana cara mensyukuri
arti sebuah keberhasilan.
Sungguh bersama kesukaran dan keringanan. Karna itu bila kau telah selesai
mengerjakan yang lain dan kepada Tuhan berharaplah (Q. S AI Insyirah : 6-8)
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Karya kecil ini ku persembahkan untuk:
Bapak dan ibuku, yang memberiku motivasi dalam segala hal serta memberikan kasih sayang yang teramat besar yang tak mungkin bisa ku
balas dengan apapun
Suamiku, terima kasih telah sabar dengan sikapku dan selalu memberiku
semangat dalam situasi apapun
Kakak-kakak ku Anti, Hani yang selalu memberiku kasih sayang,dan menemaniku selama ini
ii
ABSTRAK
Risfaisal dan Eliza Melyani.
Adapun latar belakang masalah penelitian; (1) Bagaimana wujud akulturasi
budaya penduduk urban yang ada di kelurahan antang Makassar. (2) Bagaimana
strategi akulturasi budaya penduduk urban yang ada di kelurahan antang
makassar. (3) Bagaimana dampak akulturasi budaya yang terjadi pada penduduk
urban yang ada di kelurahan antang makassar. (4) Bagaimna faktor pendukung
dan penghambat akulturasi budaya yang ada di kelurahan antang makassar
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, strategi, dampak, serta
factor pendukung dan penghambat terjadinya akulturasi budaya yang terjadi di
Kelurahan Antang Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
dengan menggunakan ragam fenomenologi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan
Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.
Peneliti merupakan instrument kunci dengan rancangan field research. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini dibedakan menjadi empat yaitu; (1) teknik
studi pustaka, (2) teknik wawancara, (3) FGD, dan (4) teknik dokumentasi. Data
dianalis secara interaktif dengan prosedur reduksi data (data reduction), penyajian
data (data display), dan penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusiondrawing
and verifikasi).
Hasil penelitian ini yaitu; (1)Wujud akulturasi budaya yang terjadi antara
kebudayaan masyarakat urban dan masyarakat lokal di Kelurahan Antang Kota
Makassar sangat beragam. Bahasa, makanan, kesenian, merupakan aspek budaya
yang paling mudah diakulturasikan, sedangkan agama atau keyakinan serta
upacara adat tradisi adalah (2) Akulturasi budaya yang terjadi antara masyarakat
urban dan masyarakat lokal di Kelurahan Antang menggunakan dua macam
strategi yaitu integrasi dana similasi. Integrasi dinilai sebagai strategi yang tepat
lagi untuk melestarikan kebudayaan. Sedangkan asimilasi dinilai strategi yang
tidak tepat karena terindikasi upaya menghilangkan jati diri kebudayaan asli
sehingga mampu menimbulkan kepunahan budaya. (3) Akulturasi budaya
memiliki dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif akulturasi
seperti melestarikan budaya atau bahkan mengembangkan budaya. Selain itu,
menjadi alasan terbukanya wawasan masyarakat menuju pengetahuan yang lebih
luas. Adapun dampak buruknya adalah dapat mematikan kebudayaan asli. Selain
itu, mengubah tatacara pergaulan, mentalitas, rasa malu, dan kepiawaian
masyarakat. (4) Faktor pendukung akulturasi budaya di Kelurahan Antang, Kota
Makassar yaitu adanya polasikap dan polapikir terbuka, saling menghargai,dan
sikaptoleransi. Selain itu, agama atau keyakinan tertentu serta aturan perundang-
undangan yang mengatur tentang aspek social bermasyarakat dan berbudaya
menjadi pendukung utama kelancaran terjadinya akulturasi budaya. Adapun factor
penghambatnya adalah sikap apatis masyarakat khususnya generasi muda atau milenial terhadap keaslian budaya, atau sikap dominan atas budaya tertentu.
Kata kunci: Akulturasi, Budaya, Masyarakat Urban.
iii
atas kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan hidayahn-Nya penyusunan
skripsi yang berjudul “AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT
KOTA(STUDI FENOMENOLOGI PENDUDUK URBAN DI KELURAHAN
ANTANG MAKASSAR) ”ini dapat diselesaikan guna memenuhi salah satu
persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan (S1) pada jurusan Pendidikan
Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
Makassar
Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak dapat terselesaikan tanpa dukungan
dari berbagai pihak baik moril maupun materil.. Oleh karena itu,penulis ingin
menyampaikan ucapan terimah kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan skripsi ini:
1. Kedua orang tua. Yang telah memberikan dukungan serta doa yang tiada
henti-hentinya kepada penulis.
2. Kakak Hani dan Anti yang telah menyemangati dan membantu dalam
penyelesaian skripsi ini.
skripsi ini.
4. Bapak Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph. D, serta para Wakil Dekan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi Bapak Drs. H. Nurdin, M.Si
dan Sekertaris Program Studi Pendidikan Sosiologi Bapak
Kaharuddin,S.Pd., M.Pd., Ph.D, beserta seluruh staffnya
6. Ibu Dr. Eliza Melyani. M.Si, sebagai pembimbing 1(satu) dan Bapak
Risfaisal, SPd. M.Pd selaku pembimbing II (dua) yang telah meluangkan
waktunya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan ibu dosen program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberkan ilmunya kepada
penulis, Sehingga ilmu yang telah diajarkan dapat bermanfaat.
Makassar, Maret 2020
B. Tinjauan Teori…………………………………………………. 15
1. Pengertian Budaya……………………………………….. 15
2. Pengertian Akulturasi……………………………………. 16
5. Jenis-jenis Akulturasi …………………………………… 21
7. Strategi Akulturasi……………………………………….. 23
8. Dampak Akulturasi………………………………………. 25
11. Pengertian Urbanisasi……………………………………. 33
12. Sebab-sebab Urbanisasi…………………………………. 38
14. Konsep Perkotaan…………………………………………. 41
16. Struktur Perkotaan………………………………………… 45
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian………………………………………………….. 51
B. Pendekatan Penelitian…………………………………………… 51
D. Fokus Penelitian…………………………………………………. 53
F. Instrumen Pengumpulan Data…………………………………… 55
G. Teknik Pengumpulan Data……………………………………… 56
H. Teknik Analisis Data……………………………………………. 57
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian…………………………………………………. 60
Kota Makassar……………………………………………… 60
b. Akulturasi budaya aspek makanan tradisional…….. 65
c. Akulturasi budaya aspek busana(pakaian)………… 67
2. Strategi Akulturasi Budaya Masyarakat Urban di Kelurahan Antang
Makassar…………………………………………………… 71
Makassar…………………………………………………… 75
Urban di Kelurahan Antang Makassar…………………….. 78
B. Pembahasan…………………………………………………… 80
A. Kesimpulan……………………………………………………. 86
B. Saran…………………………………………………………… 87
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………… 89
Kebudayaan IndonesiaberlandaskanPancasila yang merupakan ideologi
dasar bagi Negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua katadari bahasa Sansekerta:
Pancamemiliki arti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila adalah
rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat
Indonesia. Lambang Negara Indonesiaadalah Garuda Pancasila dengan semboyan
Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walau berbeda-beda tetapi tetap satu
jua.Semboyan tersebut bermakna untuk mempererat perbedaan budaya yang ada
di Indonesia, yang merupakan Negara kepulauan dengan berbagai macam adat
istiadat dan budaya dari Sabang sampai Marauke memiliki keragamansukubudaya
yang berbeda-beda.
Indonesia adalah Negara yang terdiri dari beberapa suku yang masing-
masing memiliki budaya yang berbeda satu sama lain. Keberagaman itulah yang
menjadikan Indonesiamemiliki ciri khas dan keunggulan. Indonesiamenjadi unik
dengan ciri khas dan keberagamannya,salah satu contohnyaadalah interaksi antar
budaya yang berbeda-beda. Interaksi juga menjadi aspek yang paling penting dan
sangat mendasar dalam kehidupan proses belajar manusia. Manusia dibesarkan
diasuh dan berkembang di suatu lingkungan dengan pola-pola budaya setempat
sehingga akhirnya manusia itu menjadi produk dari budaya tersebut.
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus
dibiasakandengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya(Koentjaraningrat, 2016: 26). Dari definisi tersebut layak diamati bahwa
2
dalam kebudayaanitu ada gagasan, budi, dan karya manusia.Gagasan dan karya
manusia itu akan menjadi kebudayaan setelah sebelumnya dibiasakan belajar.
Memandang kebudayaan hanya dari segi hasil karyanya adalah tidak tepat.
Demikian juga melihat sesuatu hanya dari gagasanmanusia juga terlalu sempit.
Dengan kata lain, kebudayaan menemukan bentuknya jika dipahami secara
keseluruhan (Nurudin, 2014:50).
mendiami suatu daerah tempat tinggal. Dalam kaitan komunikasi antar budaya,
komunikasi antara masyarakat pen datang dengan masyarakat setempat sudah
tampak jelas memperlihatkan bahwa komunikasi yang terjadi melibatkan dua
unsur budaya yang berbeda. Masyarakat pendatang dengan latar belakang budaya
dari daerah tempat asalnya dan masyarakat setempat dengan latar belakang
budaya daerah setempat.
anggota kelompok maupun dengan manusia di luar kelompok yang
dinaunginya.Komunikasi kelompok merupakan komunikasi di antara sejumlah
orang. Dalam kenyataannya, komunikasi kelompok bukanlah sekedar bertukar
pesan melainkan terjadi pula proses interaksi antarbudaya dari para anggota
kelompok (baik in group maupun out group) yang berbeda latar belakang
kebudayaan. Termasuk dalam pengertian konteks komunikasi kelompok adalah
operasi komunikasi antarbudaya di kalangan in group maupun antara anggota
sebuah in group dengan out group, atau bahkan antara berbagai kelompok
(Smokowski dkk, 2011:56).
Komunikasi yang terjadi dengan latar belakang budaya yang berbeda, tak
jarang hal ini menimbulkan kesalahpahaman dalam proses komunikasinya.
Berdasarkan pada pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa bangsa
Indonesia merupakan bangsa multietnik atau majemuk yang mengandung potensi
konflik tinggi, baik itu konflik kepentingan, konflik ideologis, konflik antar kelas
dan lain-lain.Dalam masyarakat majemuk ini akan ada kelompok minoritas yang
karena gangguan sosial dan kepentingannya akan menimbulkan suatu masalah
baru yang dapat berkembang ke permukaan.
Ketidakstabilan merupakan ciri khas yang melekat pada masyarakat
majemuk yang memiliki keanekaragaman budaya sehingga hal ini menjadi satu
bentuk adaptasi untuk melihat hubungan antar etnis.Dari perbedaan budaya, ada
banyak faktor yang dapat dilihat. Salah satunya adalah kebiasaan-kebiasaan
individu yang disebabkan oleh nilai-nilai dantradisi yang dibawanya. Hal tersebut
kemudian akan berakibat pada terbentuknya suatu pemikiran khusus mengenai
kultur tertentu. Untuk memahami latarbelakang budaya, ada beberapa faktor yang
perlu dipahami sehubungan dengan kebudayaan dalam konteks komunikasi. Hal
ini meliputi pola berpikir masing-masing individu, stereotipe, etnosentrisme,
tradisi, nilai , dan norma, serta sistem religi (Berry, 2010: 17-38).
Kenyataan di atas menunjukkan bahwa, dalam berkomunikasi setiap anggota
etnis akan berpedoman pada norma-norma, kaidah-kaidah dan budaya etnisnya
yang dibawanya. Dalam masyarakat multietnik di Kabupaten Malang terdapat
berbagai macam nilai-nilai, norma-norma, kaidah-kaidah, tradisi dan budaya
bawaan yang dijadikan pedoman berkomunikasi oleh masing-masing etnisyang
ada di dalamnya. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya benturan-
4
benturan dan gesekan-gesekan nilai, norma, kaidah, tradisi dan budaya dalam
komunikasi antaretnik yang terjadi sehingga dapat memicu dan menyebabkan
konflik antaretnik.
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatnya kebutuhan
ekonomi dan kemampuan mobilitas penduduk mendorong meningkatnya
intensitas kontak-kontak budaya. Apa lagi dengan adanya fenomena urbanisasi
atau perpindahan populasi masyarakat perdesaan menuju ke perkotaan. Kontak
budaya yang terjadi antara masyarakat perkotaan (lokal) dengan masyarakat urban
akan berdampak pada akulturasi.
berlangsung dengan damai dan serasi. Akulturasi atau Culture Contect, sebagai
proses sosial yang timbul bila suatu kelompok dengan kebudayaan tertentu
dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian rupa
yang lambat laun kebudayaan asing itu diterima dan diolah sendiri tanpa
menyebabkan hilangnya keaslian budaya itu sendiri. Dalam artian yang lebih
lugas, bahwa akulturasi merupakan proses yang dilakukan oleh masyarakat
pendatang untuk menyesuaikan diri dengan memperoleh kebudayaan masyarakat
setempat.Masalah pembauran budaya merupakan masalah yang sangat kompleks,
sarat akan konflik, yang terkadang berakhir dengan tejadinya disintegrasi. Dimana
hambatan komunikasi antara dua budaya seringkali timbul dalam bentuk pebedaan
persepsi terhadap norma-norma budaya, pola-pola berpikir, struktur budaya,
system budaya serta masalah komunikasi.
5
wilayah dapat terjadi dua kemungkinan proses sosial (hubungan sosial atau
interaksi sosial), yaitu hubungan sosial yang positif dan negatif. Dampak positif
dari interaksi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat setempat dapat
dilihat dalam hubungan mereka sesama petani, dimana mereka dapat meniru tata
cara ataupun nilai-nilai, bahkan inovasi baru dalam hal pengolahan lahan
pertanian dari masyarakat pendatang yang dapat meningkatkan produktifitas, dan
begitu pula sebaliknya. Dalam perkembangan selanjutnya, satu sama lain dapat
bertukar pengalaman dan pengetahuan diberbagai bidang kehidupan. Jika kontak-
kontak tersebut berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang lama, tidak
menutup kemungkinan menciptakan akulturasi, bahkan membentuk budaya baru
yang mencerminkan sebuah budaya lokal dan budaya pendatang.
Makassar merupakan pusat kota Provinsi Sulawesi Selatan yang
menjanjikan peradaban atau kebudayaan yang lebih baik. Sehingga tidak heran
jika Kota Makassar menjadi prioritas masyarakat pedesaan sebagai sasaran
urbanisasi dengan berbagai tujuan seperti mencari pekerjaan, menempuh
pendidikan, kepentingan dinas, atau tujuan lainnya. Urbanisasi yang terjadi di
Kota Makassar tampak sangat jelas dengan meningkatknya populasi penduduk
kota yang semakin meningkat dari tahun ke tahun seperti data peta jumlah
penduduk empat tahun terakhir (2015-2018) yang disajikan oleh Dinas
Pendudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil 2019) yaitu pada tahun 2015 jumlah
penduduk Kota Makassar berada diangka 1.653.386 jiwa. Angka tersebut
mengalami penambahan sebesar 5.117 ditahun 2016 menjadi 1.658.503 jiwa.
Sedang tahun 2017 angka ini kembali mengalami meningkatan yang cukup
6
signifikan sebesar 111.417. Sehingga, jumlah penduduk di Kota Makassar hingga
tahun 2017 mencapai 1.769.920. Selanjutnya, jumlah tersebut kembali meningkat
pada tahun 2018 menjadi 1.876.001 jiwa.
Masyarakat urban di Kota Makassar tersebar di beberapa wilayah kelurahan,
salah satunya adalah Kelurahan Antang. Di kelurahan ini tercatat 287 orang
penduduk urban yang bermukim dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Ada
yang bermukim kurang dari setahun, bahkan ada yang lebih dari sepuluh tahun
(Data Kelurahan Antang, 2019). Peta budaya penduduk urban pun beragam, ada
yang berasal dari dalam Provinsi Sulawesi Selatan, dan ada juga dari luar
provinsi, seperti Jawa, Madura, Kalimantan, dan NTB, dan NTT. Meskipun
demikian majemuknya, kondisi sosial masyarakat di Kelurahan Antang
berlangsung secara harmonis dengan penuh toleransi dan saling menghargai
perbedaan.
sangat dimungkinkan terjadinya akulturasi budaya. Akulturasi budaya merupakan
suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan
kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.
Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya
sendiri dan menjadi suatu kebudayaan baru. Jadi, antara masyarakat urban dan
penduduk asli Kelurahan Antang dimungkinkan terjadi penerimaan dan
pengelolaan antarbudaya ke dalam budaya masing-masing.
7
panjang untuk memahami dan mengolah kebudayaan baru menjadi bagian dari
kebudayaan sendiri. Demikian pula yang dialami oleh masyarakat urban di Kota
Makassar khususnya di Kelurahan Antang. Terkait akulturasi budaya, maka
semua komponen atau unsur kebudayaan dapat diakulturasi. Setidaknya, ada tujuh
komponen kebudayaan yang dapat dijadikan sebagai objek akulturasi seperti (1)
bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup
dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) sistem religi; dan (7)
kesenian (Koentjaraningrat, 2016: 66). Sebagai proses yang panjang akulturasi
dapat berlangsung di suatu kelompok sosial majemuk dengan berbagai strategi.
Strategi akulturasi yang digunakan biasanya dikondisikan dengan kebudayaan
baru yang dijumpai. Berry (2001) menyebutkan empat strategi yang digunakan
suatu kelompok masyarakat dalam mengakulturasi kebudayaannyaseperti strategi
integrasi, asimilasi, separasi, dan marginalisasi. Pemilihan strategi akulturasi
sangat ditentukan dengan kondisi dari kebudayaan yang saling berinteraksi. Hal
ini sebagaimana yang ditemukan Istighara (2017) dalam penelitiannya bahwa
akulturasi dari kebudayaan yang berbeda sangat ditentukan pada proses
pengenalan, pemahaman dan penyesusuai budaya oleh masyarakat yang akan
menerima budaya baru. Istiqhara menemukan bahwa Masyarakat Suku Bali dan
Suku Bugis (penduduk lokal) di Desa Tamuku berakulturasi budaya dengan
memanfaatkan strategi integrasi. Namun, karena perbedaan agama dari kedua
suku tersebut, aspek dan beberapa kebudayaan lain seperti makanan dan kebiasaan
tertentu tidak dapat diakulturasi.
Oleh karena itu akulturasi sebagai proses interaksi dan pencampuran budaya,
maka dampak yang ditimbulkan pun tidak dapat terelakkan, ada yang sifatnya
positif dan ada pula yang negatif. Dari dampak tersebutlah yang kemudian
menjadi faktor pendukung sekaligus dapat menjadi faktor penghambat akulturasi
suatu kebudayaan. Hal ini diyakini juga terjadi pada interaksi budaya yang
membentuk akulturasi antara masyarakat urban dengan masyarakat lokal di
Kelurahan Antang Makassar.
masyarakat urban dan masyarakat lokal di Kelurahan Antang Makassar tersebut,
terdapat ketertarikan peneliti untuk mengetahui lebih mendalam mengenai wujud
akulturasi budaya yang terjadi, strategi akulturasi yang digunakan, dampak yang
ditimbulkan, serta faktor pendukung dan penghambat akulturasi yang terjadi.
Dengan demikian, penelitian ini dirumuskan dengan judul “Akulturasi Budaya
Masyarakat Kota (Studi Fenomenologi Penduduk Urban di Kelurahan Antang
Makassar)”.
masalah penelitian ini sebagai berikut;
1. Bagaimanakah wujud akultrasi budaya penduduk urban yang ada di Kelurahan
Antang Makassar?
2. Bagaimanakah strategi akulturasi budaya penduduk urban yang ada di
Kelurahan Antang Makassar?
3. Bagaimanakah dampak akulturasi budaya yang terjadi pada penduduk urban
yang ada di Kelurahan Antang Makassar?
9
terjadi pada penduduk urban yang ada di Kelurahan Antang Makassar?
C. Tujuan Penelitian
penelitian ini sebagai berikut;
1. Mendeskripsikan wujud akultrasi budaya penduduk urban yang ada di
Kelurahan Antang Makassar.
2. Mendeskripsikan strategi akulturasi budaya penduduk urban yang ada di
Kelurahan Antang Makassar.
3. Mendeskripsikan dampak akulturasi budaya yang terjadi pada penduduk urban
yang ada di Kelurahan Antang Makassar.
4. Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat akulturasi budaya yang
terjadi pada penduduk urban yang ada di Kelurahan Antang Makassar.
D. Manfaat Penelitian
teoretis maupun praktis
1. Manfaat Teoretis
komunikasi dan interaksi lintas budaya khususnya berkaitan dengan pola
komunikasi lintas budaya dan akulturasi budayaIndonesia. Penelitian ini juga
dapat dijadikan referensi ilmiah bagi peneliti berikutnya.
10
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya dan bagi seluruh
civitas akademika pada umumnya untuk bias memahami proses adaptasi jika
harus berinteraksi dengan budaya yang berbeda sehingga memunculkan
toleransi diantara partisipan komunikasi yang berbedabudaya.
11
diteliti melihat kemajemukan dan perbedaan yang menyelimuti masyarakat
Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Hal tersebut dibuktikan dengan
berbagai penelitian yang mengusung akulturasi budaya sebagai objek kajiannya
seperti yang dilakukan beberapa peneliti berikut ini;
Wekke (2013) mengkaji pertemuan antara agama Islam dan budaya lokal
Bugis di Sulawesi Selatan dengan tinjauan akulturasi budaya. Menurut Wekke,
antara agama dan tradisi lokal di masyarakat bugis terjadi proses interaksi yang
harmonis sehingga dimungkinkan adanya akulturasi budaya. Hasil penelitian
Wekke menunjukkan bahwa ada sinergi antara keteguhan dalam adat dengan
ketaatan beragama. Dengan menjadikan ade’ (adat) dan sara’ (syariat) semuanya
sebagai struktur dalam panggaderang (undang-undang sosial), maka ini
menyatukan fungsi keduanya dalam mengatur kehidupan. selanjutnya, dalam
benayak aktivitas adat telah diadaptasi dengan prinsip-prinsip ke-Islaman. Islam
diterjemahkan ke dalam perangkat kehidupan lokal dengan tetap pola yang ada
kemudian ditransformasi ke dalam esensi tauhid.Potensi lokal yang ada di
masyarakat Bugis digunakan sebagai strategi membangun spritualitas tanpa
karakter ke-Arab-an. Islam dalam dimensi masyarakat Bugis diinterpretasi sebagai
nilai dan tradisi sehingga membentuk identitas masyarakat Bugis.Akhirnya,
12
perjumpaan adat dan agama dalam budaya masyarakat Bugis menunjukkan telah
terjadi dialog dan merekonstruksi sebuah budaya baru dalam nuansa lokal.
Junaid (2013) mengkaji secara kritis akulturasi Islam dan budaya lokal
dengan perspektif studi pustaka (literaturereview). Menurut Junaid, Islam
mengusung keuniversalan sehingga peruntukannya bukan hanya untuk etnis,
golongan, rasa, atau kebangsaan tertentu, melainkan diperuntukkan untuk semua
manusia tanpa memandang peta identitas tadi. Dengan demikian Islam memiliki
daya jangkau dan daya jelajah melampaui batas ruang dan waktu tertentu.Sebagai
konsekuensi dari karakteristiknya yang universal tersebut, Islam mempercayakan
sebuah kemampuan akulturatif terhadap lokalitas masyarakat dimanapun Islam
berada.Amat sulit dibayangkan ketika Islam hadir pada suatu komunitas lokal
tertentu, kemudian merombak semua tatanan nilai, kebiasan, budaya, dan tradisi
yang mereka anut.Harus ditegaskan bahwa arti akulturasi dalam kajian kritis
Junaid adalah bahwa tidaklah Islam dan budaya lokal dipandang sebagai dua
variabel yang benar-benar sejajar, tetapi harus dipandang sebagai hubungan yang
dinamis, dalam arti di dalamnya sangat memungkinkan terjadi pengoreksian.Hal
tersebut dapat terjadi jika bentuk-bentuk kearifan lokal tersebut benar-benar
bertolak belakang dengan nilai-nilai Islam yang paling asasi.Namun, asumsi
sebaliknya tidak dapat berlaku bahwa nilai-nilai lokal dapat mengoreksi nilai-nilai
Islam.
Sahabuddin dan Surur (2018) telah melakukan kajian terkait akulturasi
budaya khususnya pada pola permukiman tradisional di Kampung Gantarang
Lalang Bata, Kabupaten Kepulauan Selayar. Menurut Sahabuddin dan Surur,
Kampung Gantarang Lalang Bata yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar telah
13
banyak melakukan komunukasi dan interaksi dengan masyarakat luar yang
berbeda kebudayaan, seperti Jawa, Melayu, dan orang-orang Eropa. Berdasarkan
fenomena tersebut, sangat dimungkinkan bahwa di Kampung Gantarang Lalang
Bata, Kabupaten Kepulauan Selayar telah terjadi sebuah akulturasi budaya.Salah
satu bentuk akulturasi budaya yang menjadi fokus kajian Sahabuddin dan Surur
adalah pola permukiman tradisionlanya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola
permukiman Gantarang Lalang Bata membentuk asosiasi antar unsur manusia dan
unsur alam.Sistem keragaman budaya yang berbeda antara Hindu, Jawa, Eropa
dan Arab memiliki pengaruh terhadap pembentukan lanskap. Budaya corak Hindu
yang mengarah pada tradisi pakammik, unsur Jawa merujuk pada bangunan
masjid, keberadaan meriam sebagai atribut unsur Eropa dan tradisi serta tata ruang
berasosiasi dengan pengaruh Arab. Pengaruh budaya Jawa-Islam menjadi sisiyang
paling dominan mempengaruhi pola permukiman dan membentuk mekka keke
sebagai sense of place dari kawasan Kampungtua Gantarang Lalang Bata.
Istiqhara (2017) dalam penelitian etnografinya mengkaji tentang
pencampuran budaya antara penduduk asli (Suku Masyarakat Bugis) dengan
penduduk migrasi (Suku Bali) yang ada di Desa Tamuku, Kecamatan Bone-Bone,
Kabupaten luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.Penelitian Istiqhara didasarkan
pada pengetahuan awal tentang harmonisasi interaksi yang terjadi antara
penduduk asli dan penduduk migrasi yang ada di desa tersebut.Sebeneranya, Desa
Tamuku adalah desa yang majemuk.Di desa tersebut tedapat beragam macam
suku seperti Bugis, Bali, Jawa, Madura, Plores, dan Toraja. Namun, Istiqhara
lebih memokuskan kajiannnya terhadap pencampuran budaya Suku Bali dan Suku
Asli (Bugis) di Desa tersebut dengan alasan bahwa kedua suku tersebut yang
14
paling dominan di Desa Tamuku. Hasil penelitian Istiqhara membuktikan bahwa
pencampuran Budaya yang terjadi antara kedua suku tersebut bersifat akulturasi.
Artinya, kedua suku menerima dengan proses adaptasi kebudayaan baru dari
masing-masing suku dan menjalankannya tanpa harus meninggalkan budaya asli.
Berdasarkan pemaparan empat hasil penelitian tersebut, belum dijumpai
adanya penelitian yang mengkaji akulturasi budaya di Sulawesi Selatan,
khususnya di Kota Makassar yang merambah pada lingkungan sosial yang lebih
kecil seperti kawasan kelurahan.Peneliti tertarik melakukan penelitian akulturasi
budaya di perkotaan…

Search related