of 61 /61
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user i UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH PERMAINAN BOLAVOLI MELALUI BOLA YANG DIMODIFIKASI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 WANADADI KECAMATAN WANADADI TAHUN 2010/2011 SKRIPSI Oleh : SUGIYANTI NIM. X4709159 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH …/Upaya... · perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user iv Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi

  • Author
    dinhdat

  • View
    243

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH …/Upaya... · perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id...

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

i

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH

PERMAINAN BOLAVOLI MELALUI BOLA YANG DIMODIFIKASI

PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 WANADADI

KECAMATAN WANADADI TAHUN 2010/2011

SKRIPSI

Oleh :

SUGIYANTI

NIM. X4709159

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH

PERMAINAN BOLAVOLI MELALUI BOLA YANG DIMODIFIKASI

PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 WANADADI

KECAMATAN WANADADI TAHUN 2010/2011

Oleh :

SUGIYANTI

NIM. X4709159

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana

Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi

Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. MULYONO, MM FADILLAH UMAR, S.Pd, M.Or

NIP. 19510809 197611 1 001 NIP. 19720927 200212 1 001

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Pada hari :

Tanggal :

Tim Penguji Skripsi :

(Nama Terang) (Tanda Tangan)

Ketua : Drs. Sunardi, M.Kes

Sekretaris : Sri Santoso Sabarini, S.Pd,M.Or .

Anggota I : Drs. Mulyono,MM .

Anggota II : Fadillah Umar, S.Pd,M.Or .

Disahkan oleh :

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Dekan,

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd

NIP. 19600727198702 1 001

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

ABSTRAK

Sugiyanti. UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PASSING BAWAH PERMAINAN BOLAVOLI MELALUI BOLA YANG DIMODIFIKASI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 WANADADI TAHUN 2011. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Maret 2011

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan dan

aktifitas passing bawah pada permainan bolavoli melalui bola yang dimodifikasi

pada sisswa kelas IV SD Negeri 2 Wanadadi Tahun Pelajaran 2010/2011.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Wanadadi Tahun

Ajaran 2010/2011 berumlah 20 siswa terdiri atas 10 siswa putri dan 10 siswa

putra. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan penilaian penguasaan

Passing Bawah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kuantitatif dengan prosentase.

Penelitian Tindakan Kelas sebanyak 2 siklus, data pada studi awal siswa

yang tuntas hanya 2 orang siswa dari 20 siswa atau sebesar 10%, diakhir siklus

satu dan siklus kedua diperoleh hasil sebagai berikut Pada siklus I: a. Siswa yang

tuntas mencapai 13 siswa terdiri dari 6 siswa putra dan 7 siswa putri dari 20

siswa atau sebesar 65% dengan rata-rata prestasi belajar mencapai 73,42 dan

belum tuntas sebanyak 7 siswa dari 20 siswa atau sebesar 35%. b. Aktivitas siswa

dalam mengikuti pembelajaran dari 20 siswa diperoleh hasil rata-rata 2,6 dengan

kriteria Cukup Baik. Pada siklus II: a. Siswa yang tuntas mencapai 19 siswa

terdiri dari 9 siswa putra dan 10 siswa putri dari 20 siswa atau sebsar 95%

dengan rata-rata prestasi belajar mencapai 85,33. b. Aktivitas siswa dalam

mengikuti pembelajaran dari 20 siswa diperoleh hasil rata-rata 3,9 dengan kriteria

Baik dan siswa yang tidak tuntas 1 orang siswa dari jumlah 20 siswa atau sebesar

5%. Peneliti berhasil mengungkap ketidaktuntasan 1 orang siswa pada siklus II

disebabkan perhatian dari orang tua siswa kurang sehingga mempengaruhi

perkembangan mental dan aktivitas siswa.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi

MOTTO

Motto:

v Keluhan siswa adalah derita guru

v Kehilangan harta benda bukan berarti apa-apa, kehilangan nyawa berarti

kehilangan setengah, dan kehilangan kepercayaan segala-galanya.

(Sri Sultan HB IX)

v Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu

telah selesai dari sesuatu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan

lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap (Qs- Al

Insyirah: 6-8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan kepada :

SDN 2 Wanadadi

Suami dan anak-anakku tercinta

Teman teman guru Penjasorkes

Teman teman seangkatan 2010

Semua sahabat

Adik-adik PPKHB PJOK

Almamater

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat, petunjuk dan bimbingan Alloh SWT peneliti dapat

merencanakan, melaksanakan, dan menyelesaikan laporan pelaksanaan Penelitian

Tindakan Kelas dalam bentuk tertulis.

Laporan ini dapat selesai atas bimbingan, bantuan, dan arahan dari

berbagai pihak, maka peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat

1. Bapak Drs. Mulyono, MM dan Bapak Fadillah Umar, S.Pd, M.Or selaku

Dosen pembimbing

2. Bapak Kepala Sekolah Dasar Negeri 2 Wanadadi

3. Bapak Akhmad Syaebani, S.Ag selaku guru pamong

4. Bapak dan ibu guru Sekolah Dasar Negeri 2 Wanadadi

5. Siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri 2 Wanadadi

6. Keluargaku, yang selalu meberikan semangat

7. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini

Akhirnya peneliti berharap semoga laporan perbaikan pembelajaran ini

bermanfaat bagi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu serta

kemampuan profesionalnya khususnya Guru Sekolah Dasar.

Peneliti menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, maka

kritik dan saran demi baiknya laporan ini sangat penulis harapkan. Semoga

laporan ini dapat memberikan manfaat sekaligus meningkatkan mutu pendidikan

di Sekolah Dasar khususnya.

Wanadadi, Juni 2011

S

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i

HALAMAN PENGAJUAN ................................................................. ii

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................ iii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................. iv

ABSTRAK ............................................................................................ v

MOTO .................................................................................................... vi

PERSEMBAHAN ................................................................................. vii

KATA PENGANTAR .......................................................................... viii

DAFTAR ISI ......................................................................................... ix

DAFTAR TABEL ................................................................................ x

DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xi

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................... 2

C. Tujuan Penelitian ........................................................... 3

D. Manfaat Penelitian ......................................................... 3

BAB II LANDASAN TEORI ......................................................... 4

A. Landasa Teori ................................................................ 4

1. Hakekat Belajar ........................................................ 4

2. Prestasi / Hasil Belajar ............................................. 8

3. Pendidikan Jasmani .................................................. 8

4. Olahraga Bolavoli .................................................... 9

5. Teknik Dasar Permainan Bolavoli ........................... 11

6. Permainan Sebagai Alat Pendidikan ........................ 12

7. Bolavoli Standar ....................................................... 14

8. Modifikasi ................................................................ 14

B. Kerangka Berpikir .......................................................... 16

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

C. Hipotesis Tindakan ........................................................ 18

BAB III METODE PENELITIAN .. 19

A. Setting Penelitian ............................................................ 19

B. Subjek Penelitian ............................................................ 20

C. Sumber Data .................................................................. 20

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ............................. 20

E. Teknik Analisis Data ..................................................... 21

F. Prosedur Penelitian ........................................................ 21

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................. 29

A. Hasil Penelitian .............................................................. 29

B. Pembahasan .................................................................... 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................... 46

A. Kesimpulan ..................................................................... 46

B. Implikasi .......................................................................... 46

C. Saran ................................................................................ 47

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 49

LAMPIRAN .......................................................................................... 50

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Rincian Kegiatan Waktu dan Penelitian ...................................... 19

3.2 Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 21

4.1 Hasil Observasi Guru Siklus ....................................................... 32

4.2 Hasil Observasi Peserta Didik Pada Siklus I ............................... 33

4.3 Perolehan Nilai Ulangan Siklus I ................................................ 34

4.4 Hasil Obsevasi Terhadap Guru Pada Siklus I .............................. 38

4.5 Hasil Observasi Peserta Didik Pada Siklus II ............................. 40

4.6 Perolehan Nilai Ulangan Siklus II .............................................. 40

4.7 Hasil Rekap Ketuntasan Belajar Studi Awal, Siklus I

dan Siklus II .................................................................................. 41

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Diagram Perbaikan Pembelajaran ................................................... 19

3.1 Desain PTK Dalam Pendidikan Jasmani ........................................ 22

3.2 Teknik passing bawah ..................................................................... 23

3.3 Gerakan passing bawah ................................................................... 24

3.4 Passing bawah perorangan .............................................................. 26

3.4 Passing bawah dalam permainan .................................................... 27

4.1 Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar Studi Awal, Siklus I

dan Siklus II ................................................................................... 41

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ............................ 50

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ........................... 64

3. Lembar Observasi Terhadap Guru Siklus I ............................... 77

4. Rekapitulasi Observasi Guru siklus I ........................................ 78

5. Lembar Observasi Terhadap Guru Siklus II ............................. 79

6. Rekapitulasi Observasi Guru siklus II ...................................... 80

7. Lembar Obsevasi Aktivitas Siswa Siklus I ............................... 81

8. Rekapitulasi Observasi Aktivitas Siswa Siklus I ...................... 83

9. Lembar Obsevasi Aktivitas Siswa Siklus II ............................. 84

10. Rekapitulasi Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ..................... 86

11. Tabel Perolehan Hasil Evaluasi Belajar Siklus I ....................... 87

12. Rekap Perolehan Hasil Evaluasi Belajar Siklus I ...................... 88

13. Tabel Perolehan Hasil Evaluasi Belajar Siklus II ...................... 89

14. Rekap Perolehan Hasil Evaluasi Belajar Siklus II ..................... 90

15. Surat Keterangan Ijin Penelitian ................................................ 91

16. Surat Keterangan Melaksankan PTK ......................................... 92

17. Foto Kegiatan PTK Siklus I ....................................................... 93

18. Foto Kegiatan PTK Siklus II ...................................................... 96

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak

akan belajar lebih baik jika lingkungan sekitar diciptakan secara alamiah. Belajar

akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dialaminya bukan

mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi kepada penguasaan materi

terbukti lebih berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal

dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam jangka panjang.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas jelas bahwa Proses pembelajaran

akan lebih bermakna jika menggunakan bola yang dimodifikasi. Salah satu dari

sekian bidang yang ikut menentukan kualitas sumber daya manusia dalam

menghadapi kemajuan jaman adalah bidang pendidikan jasmani olahraga dan

kesehatan.

Akan tetapi dalam praktiknya pembelajaran pendidikan jasmani olahraga

dan kesehatan di sekolah dasar masih menghadapi permasalahan. Hal ini

dibuktikan dengan data hasil penilaian pada studi awal. Dari 20 siswa kelas IV

hanya ada 2 siswa yang mencapai tingkat penguasaan materi 70%.

Dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, sama

halnya pembelajaran yang lain. Peneliti telah menjalankan tugas sebagaimana

mestinya. Peneliti melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan

kesehatan kelas IV materi pokok teknik dasar pada permainan bolavoli, dan

peneliti sudah berusaha mempersiapkan dan melaksanakan sebaik mungkin

dengan didukung oleh peralatan yang ada dan memberikan kesempatan untuk

latihan-latihan, namun ternyata siswa kurang merespon, siswa cenderung bermain,

kurang perhatian dalam proses pembelajaran. Siswa kelihatan kurang berminat

terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung.

Dalam proses pembelajaran tercapainya tujuan merupakan hal yang

diinginkan. Namun hal tersebut tidak semudah apa yang dibayangkan, perlu

adanya persiapan yang baik. Karena proses pembelajaran yang kurang persiapan,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

mustahil akan menghasilkan pembelajaran yang baik. Berbekal kesadaran

tersebut, peneliti mencoba, merefleksi diri, dan akhirnya mencoba

mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran.

Dari hasil refleksi diri, diskusi dengan kepala sekolah dan guru pamong

untuk membantu melakukan identifikasi kekurangan pembelajaran yang

dilaksanakan, kemungkinan yang menjadi faktor penyebab rendahnya keaktifan

belajar siswa adalah :1). Siswa pasif dalam mengikuti pelajaran. 2). Motivasi

belajar siswa rendah. 3). Siswa belum menguasi materi pelajaran secara

maksimal.4). Siswa kurang merespon materi pelajaran.

Berdasarkan identifikasi yang diperoleh, peneliti menganalisis masalah

yang menyebabkan pembelajaran belum berhasil. Kemungkinan disebabkan oleh

beberapa faktor, antara lain :1). Peneliti kurang dapat mengelola pembelajaran

secara interaktif. 2). Pemilihan metode yang dikelola kurang tepat. 3).

Penggunaan sarana dan prasarana kurang sesuai.

Melihat dari kenyataan dan uraian diatas, maka sangat disayangkan

apabila kondisi tersebut dibiarkan saja, tanpa adanya pemecahan . Selain itu akan

berdampak negatif bagi proses pembelajaran dan hasil belajar siswa serta pihak

sekolah pada umumnya. Oleh karena itu peneliti mencoba melakukan perbaikan

pembelajaran passing bawah dengan penggunaan bola yang dimodifikasi pada

mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan kelas IV kompetensi

dasar Teknik Dasar Pada Permainan Bolavoli. Upaya yang paling tepat dalam

memecahkan masalah tersebut, adalah dengan melakukan penelitian tindakan

kelas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar beakang masalah di atas maka rumusan masalah yang

diajukan dalam penelitian ini adalah : Apakah penggunaan bola yang

dimodifikasi dapat meningkatkan kemampuan passing bawah bolavoli pada

siswa kelas IV SD Negeri 2 Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten

Banjarnegara, Tahun Pelajaran 2010/2011?.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan

kemampuan hasil belajar passing bawah bolavoli melalui bola yang modifikasi

kelas IV SD Negeri 2 Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Tahun Pelajaran

2010/2011.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa :

a. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Penjasorkes.

b. Meningkatkan aktivitas siswa pada mata pelajaran Penjasorkes.

c. Membangun motivasi belajar siswa pada Penjasorkes.

2. Bagi Guru :

a. Memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya.

b. Memperbaiki kinerjanya.

c. Berkembang secara professional.

d. Membuat lebih percaya diri.

e. Mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan

dan keterampilannya.

3. Bagi Sekolah, sebagaimana diterangkan oleh IGAK Wardhani (2007:1.27)

sebagai berikut:

a. Mempunyai kesempatan yang besar untuk berkembang pesat.

b. Berbagai perbaikan akan dapat diwujudkan seperti:

1) Penanggulangan berbagai masalah belajar siswa.

2) Perbaikan kesalahan konsep.

3) Penanggulangan kesulitan mengajar yang dialami oleh guru.

c. Mempunyai kesempatan besar untuk berubah secara menyeluruh.

d. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah, yang

tercermin dari:

1) Peningkatan kemampuan profesional para guru.

2) Perbaikan proses dan hasil belajar siswa.

3) Kondusifnya iklim pendidikan di sekolah tersebut.

e. Peningkatan kualitas hasil belajar siswa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Hakikat Belajar

a. Pengertian Belajar

Banyak pengertian belajar yang dikemukakan oleh para ahli, salah satu

diantaranya belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah

perilakunya sebagai akibat dari pengalaman (Ratna Wilis Dahar,1989). Dari

pengertian belajar tersebut terdapat tiga ciri pokok atau utama belajar yaitu :

proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.

Sri Rumini, dkk (1993:59) mengemukakan, belajar adalah suatu proses

usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang relatif menetap, baik yang diamati maupun tidak diamati secara langsung,

yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya

dengan lingkungan. Lebih lanjut Wasty Soemanto(1998:104) mengemukakan

bahwa Belajar adalah suatu proses dasar perkembangan hidup manusia,

manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah

lakunya berkembang.

Menurut Sugihartono dkk (2007:74) mengatakan bahwa Belajar

merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu dengan lingkungannya

dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar merupakan suatu perubahan

dimana perubahan itu untuk memenuhi kebutuhannya yang disesuaikan dengan

lingkungannya.

Menurut Reber (Dalam Sugihartono,dkk 2007:74) mendefinisikan

belajar dalam dua hal. Pertama: Belajar sebagai proses memperoleh

pengetahuan dan Kedua: Belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang

relatif langgeng sebagai latihan. Sejalan dengan pendapat sebelumnya Oemar

Hamalik (2008:29) mengatakan bahwa Belajar adalah suatu proses, belajar

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan, jadi

merupakan langkah-langkah atau prosedur yang harus ditempuh.

Berdasarkan pendapat dari para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa

Belajar merupakan suatu proses dari perkembangan hidup manusia, dengan

belajar manusia melakukan perubahan-perubahan dalam hidupnya, aktifitas dan

prestasi dalam hidup manusia merupakan hasil dari belajar. Profesi seseorang

berdasarkan apa yang dipelajari, belajar merupakan suatu proses, bukan suatu

hasil, karena itu belajar berlangsung secara aktif dan berkelanjutan dengan

menggunakan berbagai bentuk perbuatan.

b. Ciri - ciri perilaku belajar

Tidak semua tingkah laku dikategorikan belajar atau aktifitas belajar.

Adapun tingkah laku yang dikategorikan belajar menurut Sugihartono dkk

(2007:74-76), mempunyai ciri ciri sebagai berikut :

1). Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku

menyadari terjadinya perubahan atau sekurang kurangnya merasakan

adanya suatu perubahan dalam dirinya, misalkan menyadari pengetahuan

bertambah. Sebaliknya perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk

atau tidak sadar tidak termasuk dalam pengertian belajar.

2). Perubahan bersifat kontinu dan fungsional

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara

berkesinambungan dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan

menyebabkan perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi

kehidupan atau proses belajar berikutnya. Misalkan : seorang anak belajar

membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca

menjadi dapat membaca. Perubahan ini akan berlangsung terus sampai

kecakapan membacanya menjadi cepat dan lancar.

3). Perubahan bersifat positif dan aktif

Perubahan tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar apabila

perubahan-perubahan itu bersifat positif dan aktif. Dikatakan positif

apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Semakin banyak usaha belajar

yang dilakukan maka semakin baik dan makin banyak perubahan yang

diperoleh. Perubahan belajar yang bersifat aktif berarti perubahan tidak

terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha dari individu sendiri.

Perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan

dirinya oleh dorongan dari dalam tidak termasuk perubahan dalam

pengertian belajar.

4). Perubahan bersifat permanen

Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap atau

permanent. Misalkan kecakapan seorang anak dalam bermain sepeda

setelah belajar tidak akan hilang begitu saja, bahkan akan berkembang bila

terus digunakan atau dilatih.

5). Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan

yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah pada perubahan tingkah

laku yang benar-benar disadari. Misalkan seorang belajar mengetik,

sebelumnya sudah menetapkan apa yang dapat dicapai dengan belajar

mengetik.

6). Perubahan menyangkut semua aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar

meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku,. Perubahan dalam hal sikap,

keterampilan , pengetahuan dan sebagainya.

c. Pengertian dan Batasan Belajar Gerak

Menurut Rusli Lutan (1999:57) bahwa Belajar gerak meliputi tiga tahap. Pertama, tahap orientasi, yakni penguasaan informasi. Kedua, tahap pemantapan gerak melalui latihan berdasarkan informasi yang diperoleh. Ketiga, tahap otomatisasi, yaitu keterampilan itu dapat dilakukan secara otomatis.

Menurut Schmidt (dalam Amung Mamun dan Yudha M. Saputra, 2000:45), mengatakan bahwa Belajar gerak adalah suatu rangkaian proses yang berhubungan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada terjadinya perubahan-perubahan yang relatif permanent dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan-gerakan yang terampil.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

Menurut Gagne (dalam Arie Asnaldi,2008), mengatakan bahwa Belajar

gerak adalah sebagai tingkah laku atau perubahan kecakapan yang mampu

bertahan dalam jangka waktu tertentu, dan bukan berasal dari proses

pertumbuhan. Lebih lanjut Weineck (dalam Arie Asnaldi,2008), mengatakan

bahwa Tugas utama dari belajar gerak adalah penerimaan segala informasi

yang relevan tentang gerakan-gerakan yang dipelajari, kemudian mengolah dan

menyusun informasi tersebut memungkinkan suatu realisasi secara optimal.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat kita simpulkan bahwa Belajar gerak

merupakan suatu proses yang di dalamnya terjadi penyampaian informasi,

pemberian latihan dan perubahan yang terjadi akibat latihan relatif permanen.

Penyampaian informasi ini sebagai awal dari proses belajar gerak atau sebagai

dasar dari belajar gerak, penyampai informasi dalam belajar gerak dapat berupa

penjelasan dan pemberian contoh gerakan.

Proses selanjutnya dari belajar gerak adalah pemberian latihan, dalam

hal ini tidak jauh berbeda dengan belajar pada umumnya, karena dalam belajar

pada umumnya pemberian pengalaman atau latihan lewat latihan-latihan soal

atau yang sifatnya teori, sedangkan pada belajar gerak prosesnya tidak jauh

berbeda melainkan latihan-latihan yang digunakan berupa praktik atau yang

berhubungan dengan gerak. Proses belajar gerak ini akan menuju pada

keterampilan gerak atau penampilan geraknya meningkat.

Proses kematangan dan pertumbuhan dapat meningkatkan kemampuan

seseorang tanpa melalui latihan, misalkan ketrampilan anak dalam berlari, tanpa

berlatih dalam hal yang sebenarnya, kemampuan berlari akan berkembang

dengan sendirinya karena adanya pengaruh kematangan. Perubahan

keterampilan anak dalam hal ini bukan merupakan belajar gerak karena

perubahan tersebut bukan karena latihan.

Perubahan yang terjadi relatif permanent. Pemberian latihan atau

pengalaman gerak ini akan masuk pada system memori otak, proses ini akan

menyebabkan perubahan yang relatif permanent. Kejadian semacam ini tidak

dapat diamati secara langsung, akan tetapi perubahan-perubahan yang terjadi

lewat penampilan geraknya dapat diamati secara langsung. Kemampuan akibat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

latihan ini akan tersimpan dalam memori otak sehingga sewaktu-waktu di

butuhkan akan dapat digunakan.

2. Prestasi / Hasil Belajar

Berasal dari kata prestasi dan belajar. Prestasi berarti hasil yang telah

dicapai (Depdikbud,1994:787), sedang belajar adalah berusaha memperoleh

kepandaian atau ilmu (Depdikbud,1994:14). Jadi prestasi belajar adalah

penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata

pelajaran, lazimnya ditunjukan lewat nilai atau angka yang diberikan oleh guru.

Sedangkan prestasi belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai

yang diperoleh siswa pada mata pelajaran bahasa indonesia dalam bentuk nilai

berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang

diberikan kepadanya.

3. Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas

jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan

ketrampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat, sikap sportif dan

kecerdasan emosi (KTSP,2006:1196). Sedangkan menurut Aip Syarifuddin dan

Muhadi (1992:4), pendidikan jasmani adalah suatu proses melalui aktivitas

jasmani, yang dirancang dan disusun secara sistematik, untuk merangsang

pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan kemampuan dan keterampilan

jasmani, kecerdasan dan pembentukan watak, serta nilai dan sikap yang positif

bagi setiap warga negara dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Bandi utama (2005:75), mengatakan Bahwa pendidikan jasmani mengandung dua pengertian pendidikan untuk jasmani dan pendidikan melalui aktivitas jasmani. Pendidikan untuk jasmani mengandung pengertian bahwa Jasmani merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan dengan mengabaikan aspek yang lain, sedangkan pendidikan melalui aktivitas jasmani mengandung pengertian bahwa tujuan pendidikan dapat dicapai melalui aktivitas jasmani. Tujuan pendidikan dalam hal ini adalah tujuan pendidikan pada umumnya, yaitu : aspek fisik, psikis dan sosial atau psikomotor, kognitif dan afektif.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

Sukintoko (1995:130) menyatakan bahwa Pendidikan jasmani merupakan

proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan yang dikelola melalui

aktivitas jasmani secara sistematik menuju pembentukan manusia seutuhnya.

Ratal Wirjasantosa (1984:25) bahwa Pendidikan jasmani adalah pendidikan

menggunakan jasmani, sebagai titik pangkal : mendidik anak dan anak dipandang

sebagai suatu kesatuan jiwa dan raga.

Berdasarkan berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran yang melalui aktivitas

jasmani yang dilakukan secara sistematik untuk meningkatkan kebugaran jasmani,

ketrampilan gerak, pengetahuan kesehatan, perilaku hidup sehat dan kecerdasan

emosi. Proses pembelajaran penjas yang efektif dapat meningkatkan pertumbuhan

dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, kognitif, dan afektif setiap siswa.

4. Olahraga Bolavoli

Permainan bolavoli merupakan cabang olahraga yang dimainkan oleh dua

regu yang dipisahkan oleh jaring dan beranggotakan masing masing enam orang

(Sarumpaet,1992:78). Permainan bolavoli merupakan salah satu diantara banyak

cabang olahraga yang populer di masyarakat. Hal ini terbukti bahwa bolavoli

banyak dimainkan di sekolah sekolah, di kantor kantor maupun di kampung

kampung. Permainan bolavoli digemari oleh masyarakat dari berbagai tingkat

usia, anak anak, remaja dan dewasa baik pria maupun wanita (Suharno

HP,1984:6) .

Pada awalnya ide dasar permainan bolavoli adalah memasukkan bola ke

daerah lawan melewati suatu rintangan berupa tali atau net. Sebagai aturan dasar,

bola boleh dipantulkan dengan bagian badan, pinggang ke atas. Pada dasarnya

permainan bolavoli ini adalah permainan tim atau regu, mesipun sekarang sudah

mulai dikembangkan permainan bolavoli dua lawan dua dan satu lawan satu yang

lebih mengarah kepada tujuan rekreasi (M. Yunus,1992:1).

Olahraga bolavoli adalah permainan cepat artinya waktu untuk memainkan

bola sangat terbatas. Permainan dimulai sejak pukulan pertama yang disebut

servis (Agus Margono,1993:113), sebagai sajian pertama dapat dilakukan sebagai

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

pukulan serangan. Regu penerima dapat memainkan bola paling banyak hanya

tiga kali sentuhan (di lapangan sendiri). Dengan peraturan setiap pemain tidak

diperbolehkan memainkan bola di udara dua kali berturut turut, maka tiga kali

sentuhan ini harus dimanfaatkan sebaik baiknya, karena tiga kali sentuhan ini

harus digunakan untuk bertahan yang sekaligus untuk menyusun serangan dan

mematikan permainan lawan.

Sedikit tentang sejarah permainan bolavoli, dituliskan oleh M. Yunus

dalam buku Olahraga Pilihan Bolavoli (1992:2-4) bahwa Permainan ini mula

mula dimunculkan oleh William G. Morgan. Bolavoli sudah dikenal sejak abad

pertengahan, terutama di negara negara Romawi. Pada tahun 1893 William G.

Morgan, seorang guru pendidikan jasmani pada Young Man Cuistian Association

(YMCA) di kota Holioke, Massochussette mencoba permainan sejenis Faust Ball

yang mula mula olahraga rekreasi dalam lapangan tertutup (in door). Pada saat

itu sedang popular olahraga basket, tetapi banyak para usahawan yang berlatih

sudah mencapai usia lanjut merasakan permainan basket terlalu menguras tenaga.

Morgan menciptakan permainan yang lebih ringan dengan menggantungkan net

setinggi 2,16 meter dari lantai, kemudian menggunakan bola yang relative ringan,

yaitu bagian dalam bola basket, bola tersebut dipantulkan terus menerus

melewati net, jadi bola tidak boleh jatuh menyentuh lantai, permainan tersebut

kemudian diberi nama Minto nette . Pada waktu itu belum ditentukan batas

maksimum sentuhan beberapa kali dan rotasi pun serta diperbolehkan

menjulurkan tangan melewati net dengan maksud menyentuh bola di daerah

lawan.

Dalam percobaan percobaan selanjutnya dirasakan bola terlalu ringan,

sedang penggunaan bola basket dirasakan terlalu berat. Morgan kemudian

mengusulkan kepada A.G Spalding dan Brothers, yaitu perusahaan industri alat

alat olahraga untuk membuat bolavoli sebagai percobaan. Setelah diadakan

demonstrasi diharapkan para ahli pendidikan jasmani pada suatu konferensi

internasional di Spring Fied Colloge pada tahun 1986 setelah melihat bahwa dasar

permainan Minto Nette adalah memvoli bola hilir mudik melewati net, maka Prof.

H.T. Halsted dari Spring Fied Massachussetts, USA, mengusulkan nama

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

permainan ini menjadi Volley Ball . Sejak itu bolavoli tidak hanya dimainkan di

lapangan tertutup, tetapi juga di lapangan terbuka seperti halaman halaman

sekolah, di tepi pantai dan di tempat tempat lainnya (M. Yunus, 1992:2).

5. Teknik Dasar Permainan Bolavoli

Permainan bolavoli mempunyai bermacam macam teknik dasar. Dieter

Beutelstahl (1986:8) menjelaskan arti teknik adalah prosedur yang telah

dikembangkan berdasarkan praktek, dan bertujuan mencari penyelesaian suatu

problema pergerakan tertentu dengan cara yang paling ekonomis dan berguna.

Untuk itu ada enam jenis teknik dasar yang lebih umum disebut skill. Enam

gerakan tersebut ialah : 1). Service, 2). Dig, 3). Attack, 4). Volley, 5). Block, 6)

Defence. Hal yang hampir sama, tentang teknik dasar bola dikemukakan oleh M.

Yunus (1992:6971), yang mengatakan ada lima teknik dasar permainan bolavoli

, ialah : 1). Service, 2). Passing, 3). Umpan atau Set Up, 4). Smash atau Spike

dan 5). Bloc atau bendungan. Sedang menurut Agus Margono dkk. (1993:113)

bahwa teknik dasar dalam permainan bolavoli terdiri dari teknik pass atas, teknik

pass bawah, teknik service, teknik smash atau serangan dan teknik block atau

bendungan.

Mengenai teknik , Suharno HP dalam buku Dasar dasar Permainan

Bolavoli (1984:11) memberikan pengertian tentang teknik adalah suatu proses

melahirkan aktivitas jasmani dan pembuktian suatu praktek dengan sebaik

mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang permainan bolavoli.

Teknik erat sekali hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik

dan mental. Artinya dengan hanya teknik saja belum dijamin prestasi bolavoli bisa

baik. Teknik dasar bolavoli harus dikuasai terlebih dahulu agar dapat

mengembangkan mutu permainan bolavoli. Penguasaan teknik dasar bolavoli

merupakan salah satu unsur yang ikut menentukan menang kalahnya suatu regu

dalam pertandingan, disamping unsur unsur kondisi fisik, taktik dan mental.

Selanjutnya Suharno HP dalam buku yang sama mengatakan bahwa pentingnya

penguasaan teknik dasar permainan bolavoli ini mengingat hal hal sebagai

berikut : 1). Hukuman terhadap pelanggaran permainan yang berhubungan dengan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

kesalahan dalam melakukan teknik, 2). Karena terpisahnya tempat antara regu

satu dengan regu yang lain, sehingga tidak terjadi sentuhan badan dari pemain

lawan, maka pengawasan wasit terhadapl kesalahan teknik ini lebih seksama, 3).

Banyaknya unsur unsur yang menyebabkan terjadinya kesalahan kesalahan

teknik, antara lain : membawa bola, mendorong bola, mengangkat bola, dan

pukulan rangkap, 4). Permainan bolavoli adalah permainan cepat, artinya waktu

untuk memainkan bola sangat terbatas, sehingga penguasaan teknik teknik yang

kurang sempurna akan memungkinkan timbulnya kesalahan kesalahan teknik

yang lebih besar, 5). Penggunaan taktik yang tinggi hanya dimungkinkan kalau

penguasaan teknik dasar dan tinggi dalam bolavoli cukup sempurna (Suharno

HP,1984:11).

Dari beberapa pengertian tentang teknik dasar bolavoli seperti yang

diungkapkan di muka menurut para ahli, semuanya menyebut adanya smash atau

spike (M. Yunus, 1992:69)juga Agus Margono dkk. (1993:113), atau atack

menurut Beutelstahl (2005:8), yang dikatakan sebagai pukulan utama dalam

penyerangan.

6. Permainan Sebagai Alat Pendidikan

Permainan dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan jasmani

olahraga dan kesehatan, merupakan hal yang penting karena dapat mempermudah

pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran dan dapat mempengaruhi

perkembangan siswa kearah positip. Hal ini sesuai dengan teori permainan

sebagai berikut:

a).Teori permainan dari sudut psikologi

Menurut Freud (dalam Zulkifli,2005:40), permainan dari sudut

psikologi merupakan pernyataan nafsu nafsu yang terdapat di daerah bawah

sadar, sumbernya berasal dari dorongan nafsu.

b).Teori permainan dari sudut biologis

Menurut Montessori (dalam Zulkifli,2005:40), permainan merupakan

latihan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan, juga dapat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

dianggap sebagai latihan jiwa dan raga untuk kehidupan di masa yang akan

datang.

c). Teori permainan dari sudut atavistis

Menurut Hackel (dalam Zulkifli,2005:39), atavistis artinya kembali

kepada sifat sifat nenek moyang di masa lalu. Dalam permainan timbul

bentuk bentuk kelakuan seperti bentuk kehidupan yang pernah dialami

nenek moyang. Teori atavistis diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa Ada

persamaan bentuk bentuk permainan di seluruh dunia pada setiap waktu.

Teori ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, masa sekarang ini anak

anak lebih suka bermain main dengan pistol pistolan, mobil mobilan,

dan model model pesawat terbang.

1) Teori permainan sebagai alat pendidikan

Permainan dalam dunia anak dapat memberikan suatu kesenangan

ataupun kegembiraan, dalam bermain anak dapat bebas meluapkan emosi dan

tenaga yang berlebih dalam diri anak. Adanya unsur senang, gembira dalam

diri anak maka permainan dapat sebagai alat pendidikan. Untuk lebih jelasnya

teori permainan sebagai alat pendidikan dikemukakan oleh para ahli sebagai

berikut (dalam Sukintaka,1979:9091) (a). Bigot dkk, mengatakan bahwa

Permainan memberikan kepuasan, kegembiraan dan kebahagiaan dalam

kehidupan anak dan akan menjadi alat pendidikan yang sangat bernilai.

(b). W. Rob, mengatakan bahwa Permainan mempunyai nilai pendidikan

praktis. (c). Bucher, berpendapat permainan yang telah lama dikenal oleh

anak anak dan orang tua, laki laki maupun wanita, mampu menggerakan

untuk berlatih, gembira dan rileks. Permainan merupakan komponen pokok

pada program pendidikan jasmani. (d). Drijarkarta, mengatakan bahwa

Dorongan untuk bermain itu ada pada setiap manusia, lebih lebih pada anak

anak atau remaja, oleh sebab itu permainan dipergunakan untuk

pendidikan.

Berdasarkan beberapa teori permainan di atas, bermain dapat dapat

digunakan sebagai alat pendidikan. Bermain menumbuhkan rasa senang, rasa

senang pada peserta didik merupakan suasana pendidikan yang baik, dengan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

adanya rasa senang memudahkan dalam mendidik dan mengarahkan anak untuk

mencapai tujuan pembelajaran

7. Bolavoli Standar

Bolavoli standar menurut Eddy Suparman (1994:90), bola yang digunakan

untuk permainan bolavoli harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1). Bola

harus berwarna, (2). Bentuknya bulat dan lentur terbuat dari karet atau bahan

bahan lain yang sejenis, (3) Lingkaran atau keliling bola 65-67 cm, dan (4). Berat

bola 260-280 gram.

Kulit bola didalamnya terbuat dari karet atau bahan lain yang sejenis.

Warna bola harus tunggal atau polos, untuk di dalam ruangan warna harus terang.

Keliling bola antara 65 67 cm dan berat bola antara 200 280 gram. Sedangkan

menurut Slamet SR (1996:80), bola-bolavoli bentuknya bulat, terbuat dari kulit,

bola di dalamnya terbuat dari karet atau bahan lain yang sejenis. Warna bola harus

polos (satu warna), keliling bola antara 65 67 cm, dan berat bola antara 250-280

gram.

Dari uraian yang telah diungkapkan di atas, dapat disimpulkan bahwa bola

modifikasi adalah bola yang bentuk, ukuran dan bahannya sudah diubah dan

berbeda dari bola yang sesungguhnya (standar). Bola yang digunakan sebagai bola

modifikasi dalam penelitian ini adalah bolavoli yang bahannya terbuat dari kulit

atau bahan lain yang diperkenankan, bentuknya bulat, beratnya antara 250-280

gram, dan keliling atau lingkaran bola antara 65-67 cm.

8. Modifikasi

a. Pengertian Modifikasi

Modifikasi dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002:372), bahwa

modifikasi artinya pengubahan , perubahan. Menurut M.Dahlan, dkk

(2003:518), modifikasi artinya penciptaan model baru dari model yang sudah

ada, pengubahan, perubahan. Modifikasi juga bisa diartikan sebagai

penyederhanaan dalam hal bentuk, ukuran, alat, metode dan lain-lain.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

b. Prinsip Pengembangan Modifikasi

Modifikasi adalah salah satu usaha para guru agar pembelajaran agar

mencerminkan aktivitas, termasuk didalamnya body scaling atau

penyesuaian dengan ukuran bentuk tubuh yang sedang belajar. Aspek inilah

yang harus dijadikan prinsip utama dalam modifikasi pembelajaran penjas,

termasuk dalam pembelajaran bolavoli.

Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran agar tercermin dai aktifitas

pembelajaran yang diberikan guru dari mulai awal hingga akhir pelajaran.

Beberapa aspek analisa modifikasi ini tidak lepas dari pengetahuan guru

tentang:

1) Tujuan

2) Karakteristik

3) Kondisi lingkungan dan

4) Evaluasi (Yoyo Bahagia et al 2000:41)

c. Tujuan Modifikasi

Modifikasi pembelajaran dapat dikaitkan dengan tujuan pembelajaran

dari mulai tujuan yang paling rendah sampai tujuan yang paling tinggi.

Modifikasi tujuan materi ini dapat dilakukan dengan cara membagi tujuan

materi ke dalam tiga komponen, yakni:

1) Tujuan Perluasan

Tujuan perluasan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih

menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan bentuk

atau wujud ketrampilan yang dipelajarinya tanpa memperhatikan aspek

efisiensi dan efektifitas. Misalnya : siswa mengetahui dan dapat memberikan

contoh passing bawah. Dalam contoh ini, tujuan pembelajaran lebih

menekankan agar siswa dapat mengetahui esensi passing bawah dalam bentuk

program dalam kasus ini program tidak terlalu dipermasalahkan apakah

passing bawah sudah dilakukan secara efektif dan efisien atau belum. Yang

penting siswa dapat mengetahui esensi wujud passing bawah dalam permainan

bolavoli.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

2) Tujuan Penghalusan

Tujuan penghalusan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih

menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan melakukan gerak

secara efisien. Misalnya : siswa mengetahui dan melakukan passing bawah

dalam permainan bolavoli. Dalam contoh ini, tujuan tidak lagi pada level agar

siswa dapat mengetahui esensi gerak menolak (misalnya : menggunakan sudut

yang tepat untuk mendapatkan hasil yang baik dan maksimal) melalui

peragaan.

3) Tujuan Penerapan

Tujuan penerapan maksudnya adalah tujuan pembelajaran yang lebih

menekankan pada perolehan pengetahuan dan kemampuan tentang efektif

tidaknya gerakan yang dilakukan melalui pengenalan kriteria-kriteria tertentu

sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Dalam penelitian ini bola yang digunakan sebagai bola modifikasi

adalah bola spon yang berwarna- warni , bentuk, berat, ukuran dan bahannya

tentu berbeda dengan bola yang digunakan sebagai bolavoli. Bola-bola tiruan

yang berwarna-warni itu serta ukuran yang berbeda, dapat menjadi daya tarik

dan siswa akan termotifikasi dalam mengikuti pembelajaran.

Dari uraian yang telah diungkapan diatas, disimpulkan gerakan ,

ayunan tangan dan bentuk, model, warna bola yang telah diubah dari bentuk

asli (standar) dalam permainan bolavoli dengan menggunakan bola spon yang

sebagai modifikasi passing bawah dalam permainan bolavoli dapat

meningkatkan hasil pembelajaran siswa secara optimal.

C. Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah

bisa berlangsung dengan efektif dan optimal tergantung beberapa faktor. Faktor-

faktor tersebut antara lain dari guru, fasilitas dan metode mengajar. Dalam

penelitian ini menggunakan bola yang dimodifikasi sebagai salah satu metode

mengajar dalam penyampaian materi Passing Bawah pada Permainan Bolavoli.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

Bola yang modifikasi dapat membuat siswa kelas IV khusunya dan siswa

siswi SDN 2 Wanadadi pada umumnya merasa senang, tertarik, dan termotivasi

dalam mengikuti pembelajaran. Siswa secara tidak langsung telah melakukan

teknik gerak dasar passing bawah pada permainan bolavoli dan diharapkan dapat

mengoptimalisasi hasil pembelajaran.

Penelitian ini memfokuskan pada upaya peningkatan kemampuan gerak

dasar passing bawah pada permainan bolavoli melalui bola yang dimodifikasi

pada siswa kelas IV SDN 2 Wanadadi. Pemanfaatan alat Bantu sederhana, balon

dan bola plastik dan bola spon, sebagai sarana membantu guru dalam menjelaskan

teknik dasar passing bawah pada permainan bolavoli pada siswa. Melalui alat

Bantu sderhana tersebut guru dapat memperlihatkan dan memberikan penjelasan

secara mendetail mengenai teknik dasar passing bawah. Sehingga guru dapat

mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dari pembelajaran teknik gerak dasar

passing bawah pada permainan bolavoli, terhadap hasil, perubahan sikap siswa

dalam mengikuti pembelajaran.

Secara sederhana kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan

sebagai berikut:

Gambar 2.1 Diagram Perbaikan Pembelajaran

Kondisi Awal Guru kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran penjasorkes

a. Siswa kurang tertarik dan cepat bosan dengan pelajaran penjas

b. Tingkat kesegaran jasmani rendah c. Dan yang paling utama hasil belajar

teknik dasar passing bawah pada permainan bolavoli

Tindakan Menerapkan model pembelajaran dengan bola yang dimodifikasi

Siklus 1: guru dan peneliti menyusun bentuk pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan passing bawah melalui bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli

Kondisi Akhir

Melalui penggunaan alat Bantu (balon , bola plastik dan bola spon ) dapat meningkatkan passing bawah pada permainan bolavoli (siswa lebih bersemangat dan prestasi belajar meningkat) serta partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat

Siklus II : Upaya perbaikan dari siklus I sehingga meningkatkan kemampuan passing bawah melalui bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli ( balon , bola plastic dan bola spon)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir tersebut diatas diajukan

hipotesis tindakan sebagai berikut : Melalui bola yang dimodifikasi dapat

meningkatkan kemampuan passing bawah bolavoli pada siswa kelas IV SD

Negeri 2 Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara, Tahun

Pelajaran 2010/2011.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Seting Penelitian

1. Waktu

Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan

menggunakan waktu penelitian selama tiga bulan Maret sampai Bulan Mei

2011. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil selesai penelitian

tersebut pada semester 2 tahun ajaran 2010/2011 sesuai tabel rincian kegiatan

dibawah:

Tabel.3.1 Rincian Kegiatan Waktu Dan Jenis Kegiatan Penelitian

No KEGIATAN

BULAN

MARET APRIL MEI

MINGGU KE MINGGU KE MINGGU KE

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Perencanaan

2. Proses pembelajaran

3. Evaluasi

4. Pengumpulan data

5. Analisis data

6. Penyusunan hasil

7. Pelaporan hasil

2. Tempat

Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi SD Negeri 2 Wanadadi,

Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara. Penulis mengambil lokasi atau

tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga

memudahkan dalam mencari data peluang waktu yang luas dan subyek

penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

B. Subyek penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 2 Wanadadi,

Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara dengan jumlah 20

orang.siswa

Pertimbangan penulis mengambil subyek penelitian tersebut dimana

penulis mengajar di SD Negeri 2 Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten

Banjarnegara tahun pelajaran 2010/2011

`

C. Sumber Data

Sumber data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai

berikut :

1. Siswa, untuk mendapatkan data tentang kemampuan passing bawah

melalui bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli siswa kelas

IV SD Negeri 2 Wanadadi, Kecamatan Wanadadi Kabupaten

Banjarnegara tahun pelajaran 2010/2011

2. Guru, sebagai kalabolator untuk melihat tingkat keberhasilan

kemampuan passing bawah melalui bola yang dimodifikasi pada

permainan bolavoli.

3. Observer selama pelaksanaan pembelajaran dalam Penelitian

Tindakan Kelas untuk mengamati dan mencatat data hasil tentang

pembelajaran passing bawah melalui bola yang dimodifikasi pada

permainan bolavoli.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data

berupa :

a. Tes praktek, untuk mengetahui daya serap dan restensi siswa-siswa

terhadap hasil kemampuan passing bawah melalui bola yang

dimodifikasi pada permainan bolavoli.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

b. Observasi dipergunakan untuk mengamati aktifitas siswa dan guru

selama proses pembelajaran. passing bawah melalui bola yang

dimodifikasi pada permainan bolavoli.

Tabel 3.2 Teknik dan alat pengumpulan data

No Sumber

Data Jenis Data

Teknik

Pengumpulan Instrumen

1. Siswa Hasil ketrampilan

passing bawah pada

permainan bolavoli

Tes Praktek Tes ketrampilan

passing bawah

pada permainan

bolavoli

2. Siswa Kemampuan

melakukan gerakan

passing bawah pada

permainan bolavoli

Praktek dan

unjuk kerja

Melalui lembar

observaasi

E. Teknik Analisis Data

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan

menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Terhadap perolehan hasil

pembelajaran . passing bawah melalui bola yang dimodifikasi pada permainan

bolavoli dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar

siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus pertama, kedua untuk

dibandingkan dengan teknik deskriptif prosentase. Hasil perhitungan

dikonsultasikan dengan tabel kriteria keberhasilan, untuk mengetahui tuntas atau

belum tuntas. Hasil observasi dianalisis menggunakan teknik diskriptif kualitatif

yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, bisa juga dengan grafik dan

dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh suatu kesimpulan.

F. Prosedur Penelitian

Perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur,

yang terdiri dari 4 tahap yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan

(acting), mengamati (observing) dan refleksi (reflecting). Hasil refleksi terhadap

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi rencana

pembelajaran jika ternyata tindakan yang dilakukan belum berhasil memecahkan

masalah, seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Siklus 1

Revised Plan

Siklus 2

Revised Plan

Gambar 3.1 Desain PTK dalam Pendidikan Jasmani

Setelah siklus ini berlangsung beberapa kali, barang kali perbaikan yang

diinginkan sudah terjadi. Dalam hal ini daur penelitian tindakan kelas dengan

tujuan perbaikan yang direncanakan sudah berakhir.

Keempat tahapan dalam penelitian ini membuat siklus dan setiap siklus

dimulai dari perencanaan sampai dengan refleksi. Banyak sedikitnya siklus

tergantung pada masih ada atau tidaknya tindakan diperlukan. Tindakan dianggap

selesai apabila permasalahan dalam permainan bolavoli khususnya pada gerak

passing bawah sudah dipecahkan. Berikut penjelasan kegiatan-kegiatan dalam

siklus penelitian tindakan ini.

1. Rancangan Siklus I

Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :

Plan

Reflection

Reflection

Action/ Observation

Action/ Observation

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

a). Tahap Perencanaan

Tahap ini meliputi peneliti menyusun sekenario pembelajaran yang

terdiri dari:

1). Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang

akan disampaikan dalam pembelajaran penjasorkes.

2). mebuat rencana pembelajaran dengan mengacu pada tindakan

(treatment) yang diterapkan dalam PTK yaitu pembelajaran passing

bawah melalui bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli.

3) Menyusun instrument yang digunakan dalam siklus PTK penilaian

passing bawah permainan bolavoli.

4). Menyiapkan media dan alat yang diperlukan untuk membantu

pembelajaran.

5). Menyusun alat evaluasi pembelajaran.

b). Tahap Pelaksanaan Tindakan mencakup :

Pada tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan

proses pembelajaran di lapangan dengan dengan langkah-langkah kegiatan

antara lain:

1). Menjelaskan kegiatan pembelajaran tentang passing bawah melalui

bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli.

2). Melakukan pemanasan.

3). Siswa melakukan passing bawah secara perorangan/ pasangan atau

kelompok dalam proses pembelajaran.

Seperti pada gambar dibawah:

a). Gambar urutan gerakan passing bawah

Gambar 3.2. Teknik Passing bawah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

b). Gambar urutan penggunaan balon/bola plastik dan bola spon dalam

passing bawah paada permainan bolavoli

Gambar 3.3. Gerakan. passing bawah.

4). Melaksanakan kegiatan pembelajaran tentang passing bawah melalui

bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli sebagai berikut:

a). Siswa melakukan gerakan passing bawah secara perorangan /

berpasangan. b). Melakukan latihan teknik dasar passing bawah antara

lain dengan cara: sikap berdiri kedua kaki sejajar dibuka selebar bahu,

kedua tangan (jari-jari) dirapatkan, kedua lutut ditekuk pandangan

kearah bola, perkenaan bola diantara pergelangan tangan dan kedua

siku bersamaan kedua lutut diluruskan.

5). Menarik kesimpulan.

6).Penilaian dilaksanakan pada waktu selama proses pembelajaran

berlangsung.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

7). Melakukan pendinginan.

c) Observasi

Tugas Observer melakukan :

1) Pengamatan terhadap (a). Hasil ketrampilan tentang passing bawah

pada permainan bolavoli (b). Kemampuan melakukan gerakan

ketrampilan passing bawah pada permainan bolavoli. (c). Aktivitas

selama pembelajaran berlangsung.

2) Mengisi lembar pengamatan

3) Mendokumentasikan pembelajaran

Mencatat kejadian saat pembelajaran, mendokumentasikan foto kegiatan

pembelajaran.

d) Tahap Refleksi

Merupakan hal penting dalam pembelajaran dimana untuk mengetahui

apa kekurangannya dengan tujuan untuk perbaikan dan pembahasan antara

siklus-siklus tersebut sehingga dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari

penelitian.

2. Rancangan siklus II

Pada siklus II perenanaan tindakan dikaitkan dengan hasil yang telah

dicapai pada siklus I sebagai upaya prebaikan dari siklus tersebut dengan

materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran pendidikan jasmani.

Demikian juga termasuk peerwujudan tahap pelaksanaan, observasi, dan

intreprestasi, serta analisis dan refleksi yang juga mengacu pada siklus

sebelumnya.

Prosedur penelitian yang diterapkan pada siklus II antara lain :

a). Tahap Perencanaan

Tahap ini meliputi peneliti menyusun sekenario pembelajaran yang

terdiri dari:

1). Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang

akan disampaikan dalam pembelajaran penjasorkes.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

2). mebuat rencana pembelajaran dengan mengacu pada tindakan

(treatment) yang diterapkan dalam PTK yaitu pembelajaran passing

bawah melalui bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli.

4) Menyusun instrument yang digunakan dalam siklus PTK penilaian

passing bawah permainan bolavoli.

4). Menyiapkan media dan alat yang diperlukan untuk membantu

pembelajaran.

5). Menyusun alat evaluasi pembelajaran.

b). Tahap Pelaksanaan Tindakan mencakup :

Pada tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan

proses pembelajaran di lapangan dengan dengan langkah-langkah kegiatan

antara lain:

1). Menjelaskan kegiatan pembelajaran tentang passing bawah melalui

bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli.

2). Melakukan pemanasan.

3). Siswa melakukan passing bawah secara perorangan/ pasangan atau

kelompok dalam proses pembelajaran.

Seperti pada gambar dibawah:

(a). Gambar urutan gerakan passing bawah

Gamabar3.4. Passing bawah perorangan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

(b). Penggunaan balon/bola plastik dan bola spon dalam permaianan

Gambar 3.5. Latihan passing bawah dalam permainan

4). Melaksanakan kegiatan pembelajaran tentang passing bawah melalui

bola yang dimodifikasi pada permainan bolavoli sebagai berikut:

(a). Siswa melakukan gerakan passing bawah secara perorangan /

berpasangan. (b). Melakukan latihan teknik dasar passing bawah antara

lain dengan cara: sikap berdiri kedua kaki sejajar dibuka selebar bahu,

kedua tangan (jari-jari) dirapatkan, kedua lutut ditekuk pandangan

kearah bola, perkenaan bola diantara pergelangan tangan dan kedua

siku bersamaan kedua lutut diluruskan. (c). Siswa melakukan latihan

passing bawah menggunakan bola spon secara berpasangan melewati

jaring atau net.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

5). Menarik kesimpulan.

6).Penilaian dilaksanakan pada waktu selama proses pembelajaran

berlangsung.

7). Melakukan pendinginan

c) Observasi

Tugas Observer melakukan :

1) Pengamatan terhadap (a). Hasil ketrampilan tentang passing bawah

pada permainan bolavoli (b). Kemampuan melakukan gerakan

ketrampilan passing bawah pada permainan bolavoli. (c). Aktivitas

selama pembelajaran berlangsung.

2) Mengisi lembar pengamatan

3) Mendokumetasikan pembelajaran

Mencatat kejadian saat pembelajaran, mendokumentasikan foto kegiatan

pembelajaran.

d) Tahap Refleksi

Merupakan hal penting dalam pembelajaran dimana untuk

mengetahui apa kekurangannya dengan tujuan untuk perbaikan dan

pembahasan antara siklus-siklus tersebut sehingga dapat menentukan

kesimpulan atau hasil dari penelitian.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklusnya terdiri dari

dua pertemuan. Setiap pertemuan alokasi waktu 2 x 35 menit (2 jam pelajaran).

Adapun hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Siklus I

Penelitian Tindakan Kelas terdiri 2 siklus menurut Kemmis dan MC

Taggart tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai.

Diawali siklus I kemudian hasilnya direfleksikan agar diketahui tingkat

keberhasilannya. Jika siklus I belum menunjukkan hasil yang diinginkan,

maka dilanjutkan siklus II demikian seterusnya sampai dengan tercapainya

tujuan penelitian siswa tuntas yaitu 80%.

a. Tahap Rancangan Persiapan

Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaborasi dalam menentukan

langkah-langkah pengembangan yang meliputi :

1) Penentuan waktu dan kelas

2) Perencanaan tindakan yang akan diberikan (game dan materi)

3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

4) Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran

(a) Lapangan bolavoli

(b) Bola Spon

(c) Kapur

(d) Tali tambang

(e) Net

(f) Tiang Net

(g) Peluit

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

5) Membuat lembar observasi

6) Mendesain alat evaluasi

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan dalam dua kali

pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama

dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 2 April 2011 di lapangan Desa

Wanadadi Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara.

Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang

dilakukan oleh guru pada pertemuan pertama yaitu :

1) Kegiatan Awal (10 menit)

(a) Siswa dibariskan dengan formasi empat bersaf

(b) Peneliti memimpin berdoa

(c) Peneliti mengabsen siswa

(d) Peneliti memimpin pemanasan (straching) statis dinamis

(e) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran tentang materi

teknik dasar passing bawah pada permainan bolavoli

2) Kegiatan Inti (30 menit)

(a) Peneliti menyampaikan teknik dasar permainan bolavoli

tentang passing bawah

(1) Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu, lutut agak

ditekuk

(2) Kedua lengan lurus dengan telapak tangan saling mengkait

(3) Kedua lengan ditarik ke bawah hingga bagian bawah

lengan merupakan suatu bidang datar (rata)

Gerakannya :

- Siswa melakukan gerakan mengayun-ayunkan lengan

seperti akan melakukan passing dengan bola

- Dilakukan secara berulang-ulang

(b) Peneliti menyajikan teknik teknik dasar permainan bolavoli

tentang passing bawah :

(c) Penjelasan dan contoh gerakan teknik passing bawah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

(d) Peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan

gerakan passing bawah

(e) Peneliti memberikan waktu kepada siswa untuk bertanya

3) Kegiatan Akhir (10 menit)

a) Peneliti menyajikan game (permainan) gerak dan lagu yang

berjudul balonku ada lima

b) Peneliti membariskan siswa dengan formasi tiga bersaf

c) Refleksi pengalaman belajar siswa. Siswa diberi kesempatan

untuk mengemukakan pendapat tentang hal hal yang baru

dipelajarinya.

d) Evaluasi umum terhadap proses dan hasil belajar siswa

(pengamatan, sikap, dan keterampilan).

e) Apresiasi yaitu memberikan penghargaan atas hasil kerja

siswa, baik kelompok atau individu.

f) Tindak lanjut (pembiasaan dalam kehidupan sehari hari dan

kegiatan pembelajaran berikutnya).

g) Siswa diberi tugas untuk pembelajaran yang akan datang

kemudian dilanjutkan berdoa dan dibubarkan..

c. Observasi

Dalam tahap ini dilakukan observasi dengan teman sejawat

terhadap aktivitas guru maupun siswa selama kegiatan berlangsung.

Hasil observasi kemudian dianalisis dan dievaluasi tingkat

keberhasilannya. Selanjutnya ditentukan langkah-langkah perbaikan

untuk tahap pembelajaran pada siklus berikutnya.

1) Aktivitas Guru

Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dalam kegiatan

belajar mengajar siklus I pada siswa kelas IV SD Negeri 2

Wanadadi KecamatanWanadadi Banjarnegara Materi Teknik

passing bawah pada permainan bolavoli dengan hasil sebagai

berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

Tabel 4.1. Hasil Observasi Guru Siklus I

No

Aspek Yang Dinilai

Skor

1 Kegiatan Awal

a. Penyampaian apersepsi 3

b. Penyampaian tujuan pembelajaran 3

c. Membangkitkan minat belajar siswa 3

d. Menginformasikan.model.

pembelajaran.yang.digunakan 2

2 Kegiatan Inti

a. Mengajak siswa dalam game atau permainan 2

b. Menyampaikan materi pembelajaran 3

c. Mengajak siswa untuk aktif dalam

pembelajaran 3

d. Menggunakan media pembelajaran dengan baik 2

e. Mengevaluasi dan membantu

menyimpulkan hasil pembelajaran 3

3 Kegiatan Akhir

a. Memberikan penghargaan kepada siswa yang

aktif dan berprestasi baik 3

b. Memberikan pesan yang berkaitan dengan

pembelajaran 3

JUMLAH 30 RATA-RATA 2.7 KRITERIA Cukup

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, aktivitas guru dalam

kegiatan belajar siklus I termasuk dalam kategori cukup dengan

skor rata-rata sebesar 2.7. pada pertemuan Siklus I ini, kegiatan

belajar mengajar yang dilakukan oleh peneliti belum berjalan

dengan baik. Peneliti kurang dapat memanfaatkan waktu dengan

baik sehingga ada materi yang belum tuntas disampaikan

khususnya pada siklus I.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

Secara umum, aktivitas pembelajaran yang dilakukan

peneliti pada siklus I tergolong cukup. Hal tersebut disebabkan

karena peneliti maupun siswa belum terbiasa dengan model

pembelajaran yang diterapkan.

2) Aktivitas Siswa

Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan

berpedoman pada instrumen observasi yang telah disusun.

Aktivitas belajar siswa pada siklus I ini belum menunjukkan

hasil yang baik. Banyak siswa yang tidak mempersiapkan diri

sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung, selain itu di

dalam pembelajaran banyak siswa yang kurang aktif dan hanya

melihat teman yang mampu menguasai materi pembelajaran.

Akibatnya pada saat guru memebrikan pembelajaran banyak

siswa yang enggan mengeluarkan kemampuannya, sebagian

siswa saja yang aktif melaksanakan pembelajaran yang

diberikan peneliti.

Secara rinci, berikut ini hasil observasi aktivitas siswa

selama kegiatan belajar mengajar Siklus I :

Tabel 4.2. Hasil Observasi Peserta Didik dalam Pembelajaran

Siklus I

No Aktivitas yang diamati

Jumlah

1 Memperhatikan.penjelasan .guru 49

2 Ikut.aktif.dalam.pembelajaran 56

3 Menanyakan yang kurang dimengerti 56

4 Merespon pertanyaan

53

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

5 Mengkomunikasikan gagasan dengan sesama teman

50

6 Perilaku yang menyimpang dalam KBM

48

Jumlah 312

Rata-rata Siklus I 15,6

Rata-rata Aktivitas Siswa 2,6

Kriteria Cukup Baik

Berdasarkan tabel di atas, maka aktivitas siswa dalam

pembelajaran Siklus I diperoleh rata-rata akivitas siswa adalah

2,6 Meski demikian hasil ini dirasa masih kurang maksimal,

karena masih banyak siswa yang sering ribut sendiri yang

dikarenakan siswa belum terbiasa dengan pembelajaran tersebut,

serta peran guru yan belum optimal dalam mengkondisikan siswa

selama proses pembelajaran.

3) Hasil Belajar Siswa

Hasil ulangan harian siswa yang dilakukan pada akhir

Siklus I sebagai berikut :

Tabel 4.3. Perolehan Nilai Ulangan Siklus I

No Aspek Penilaian Jumlah Siswa Prosentase

1 Nilai 70 7 35 % 2 Nilai 70 13 65 % 3 Tuntas Belajar 13 65 % 4 Tidak Tuntas Belajar 7 35 % 5 Nilai Tertinggi : 80 8 40 % 6 Nilai Terendah : 53.33 1 5 % 7 Nilai Rata-rata 73,42

Nilai ulangan harian tertinggi yang dicapai siswa pada siklus I

adalah 80 dan nilai terendah adalah 53.33 nilai rata-rata ulangan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

siswa yang dicapai pada siklus I ini adalah 73,42. siswa yang

mengalami ketuntasan belajar mencapai 13 siswa atau sebesar 65 %

dari 20 siswa, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 7 orang siswa

atau sebesar 35 % dari 20 siswa.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil analisis data pada tahap observasi dan

evaluasi selanjutnya dilakukan refleksi diri tentang kegiatan

pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pada tahap ini, peneliti dapat

mengetahui besarnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran

yang dilakukan. Berdasarkan refleksi ini akan dapat diketahui

kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti

sehingga dapat digunakan untuk menentukan pelaksanaan tindakan

pada siklus I diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Peneliti harus dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif,

nyaman dan mengajak siswa untuk berani mempraktikkan gerakan

yang dicontohkan oleh peneliti.

2) Peneliti mengajak siswa untuk lebih mendalami tentang teknik

passing bawah pada permainan bolavoli.

2. Siklus II

Siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. Pada Siklus II, materi

pembelajaran yang disampaikan adalah teknik passing bawah pada permainan

bolavoli melalui bola yang dimodifikasi yang dirancang dan tertuang dalam

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Secara rinci, kegiatan pembelajaran yang

dilakukan pada Siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Tahap Perencanaan

Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaborasi dalam menentukan langkah-

langkah pengembangan yang meliputi :

1) Penentuan waktu dan kelas

2) Perencanaan tindakan yang akan diberikan (game dan materi)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

4) Membuat dan melengkapi alat media pembelajara

(a) Lapangan bolavoli

(b) Bola Spon

(c) Kapur

(d) Tali/tambang

(e) Net

(f) Tiang net

(g) Peluit

5) Membuat lembar observasi

6) Mendesain alat evaluasi

b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Pelaksanaan tindakan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan

pada hari Selasa tanggal 26 April 2011 di lapangan desa Wanadadi,

Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara.

Adapun langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran yang

dilakukan oleh guru yaitu :

1) Kegiatan Awal (10 menit)

(a) Siswa dibariskan dengan tertib dan disiplin. Berdoa dan

presensi.

(b) Apersepsi (menghubungkan materi pembelajaran dengan

pengetahuan awal siswa). Saat ini, siswa didorong untuk berani

berpendapat terkait pengetahuan pass bawah.

(c) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.

(d) Pemanasan dilakukan dengan game .

2) Kegiatan Inti (30 menit)

Peneliti menyajikan teknik gerakan teknik pasing bawah antara

lain :

a) Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu, lutut agak

ditekuk.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37

b) Kedua lengan lurus dengan telapak tangan saling mengkait.

c) Kedua lengan ditarik ke bawah hingga bagian bawah lengan

merupakan suatu bidang datar (rata).

d) Gerakannya :

(1) Bola dilempar sendiri dengan cara menggerakkan badan ke

atas dan meluruskan kedua siku, kedua lengan harus tetap

lurus.

(2) Pandangan ke arah bola dan kepala teman yang akan diberi

bola.

(3) Perkenaan bola pada bidang datar antara pergelangan

tangan dan siku.

(4) Tenaga disesuaikan dengan jarak sasaran yang akan dituju.

(5) Memanfisilitasi peserta didik melakukan percobaan di

lapangan.

(6) Peneliti memberikan waktu kepada siswa untuk bertanya

3) Kegiatan Akhir (10 menit)

a) Peneliti menyajikan game (permainan) gerak dan lagu topi saya

bundar, burung kakak tua dan naik kereta api.

(1) Siswa saling bergandengan tangan membuat lingkaran besar

(2) Siswa bersama-sama menyanyikan lagu topi saya bundar,

burung kakak tua, dan naik kereta api.

b) Peneliti membariskan siswa dengan formasi empat bersaf

c) Peneliti memberikan evaluasi dan koreksi kepada siswa

d) Peneliti memberikan contoh gerakan yang benar dan yang salah

e) Peneliti menghitung siswa, berdoa, dan dibubarkan.

c. Observasi

Dalam tahap ini dilakukan observasi dengan teman sejawat

terhadap aktivitas guru maupun siswa selama kegiatan

berlangsung. Hasil observasi kemudian dianalisis dan dievaluasi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

tingkat keberhasilannya. Selanjutnya ditentukan langkah-langkah

perbaikan untuk tahap pembelajaran pada siklus berikutnya.

1) Aktivitas Guru

Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dalam kegiatan

belajar mengajar siklus II pada siswa kelas IV SD Negeri 2

Wanadadi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara

Tentang teknik passing bawah pada permainan bolavoli melalui

bola yang dimodifikasi sebagai berikut.

Tabel 4.4. Hasil Observasi Terhadap Guru Pada Siklus II

No Aspek Yang Dinilai JMLSkor

1 Kegiatan Awal

a. Penyampaian apersepsi 4

b. Penyampaian tujuan pembelajaran 4

c. Membangkitkan aktivitas belajar siswa 4

dMenginformasikan.model.pembelajaran.yang.digunakan

3

2 Kegiatan Inti

a. Mengajak siswa dalam game atau permainan 4 b. Menyampaikan materi pembelajaran 4

c. Mengajak siswa untuk aktif dalam pembelajaran 4

d. Menggunakan media pembelajaran dengan baik

4

e. Mengevaluasi dan membantu menyimpulkan hasil pembelajaran

4

3 Kegiatan Akhir

a. Memberikan penghargaan kepada siswa atau kelompok diskusi yang aktif dan berprestasi baik

4

b. Memberikan pesan yang berkaitan dengan pembelajaran 4

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

39

JUMLAH 43

RATA-RATA 3,9

KRITERIA Baik

Berdasarkan tabel 4.4 di atas, aktivitas guru dalam kegiatan

pembelajaran siklus II termasuk dalam kategori baik terbukti

dengan skor rata-rata sebesar 3,9 pada pertemuan Siklus II ini,

kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah berjalan

dengan baik. Guru sudah dapat memanfaatkan waktu dengan baik

Penggunaan media pembelajaran yang digunakan sudah dapat

terlihat dari belakang sehingga banyak siswa yang memperhatikan

dalam pembelajaran, selain itu kemampuan guru sudah seimbang

dalam mengkondisikan siswa.

Secara umum, aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru

pada siklus II tergolong baik. Hal tersebut disebabkan karena guru

maupun siswa sudah terbiasa dengan model pembelajaran yang

diterapkan.

1) Aktivitas Siswa

Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan

berpedoman pada instrumen observasi yang telah disusun.

Aktivitas belajar siswa pada siklus II ini sudah menunjukkan

hasil yang baik. Banyak siswa yang sudah mempersiapkan diri

sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung, Dalam

pembelajaran banyak siswa yang sudah aktif dan mampu

menguasai materi pembelajaran. Akibatnya pada saat guru

memberikan pembelajaran banyak siswa yang sudah bisa

mengeluarkan kemampuannya, hanya satu, dua murid saja yang

tidak aktif melaksanakan pembelajaran yang diberikan guru

Secara rinci, berikut ini hasil observasi aktivitas siswa

selama kegiatan belajar mengajar Siklus II :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

Tabel 4.5. Hasil Observasi Peserta Didik dalam Pembelajaran

Siklus II

No Aktivitas yang diamati Jumlah

1 Memperhatikan.penjelasan.guru 78 2 Ikut.aktif.dalam.pembelajaran 77 3 Menanyakan yang kurang dimengerti 75

4 Merespon pertanyaan

75

5 Mengkomunikasikangagasan dengan sesama teman

78

6 Perilaku yang menyimpang dalam KBM 75

Jumlah 458

Rata-rata Siklus II 22,9

Rata-rata Aktivitas Siswa 3,82

Kriteria Baik Berdasarkan tabel 4.5 di atas, maka dapat dilihat aktivitas siswa

dalam pembelajaran Siklus II diperoleh jumlah aktivitas 458 dengan

rata-rata akivitas siswa adalah 3,82 dan kriteria aktivitas peserta didik

baik.

3. Hasil Belajar Siswa

Hasil ulangan siswa yang dilakukan pada akhir

pembelajaran Passing Bawah Pada Permainan Bolavoli

Melalui Bola Yang Dimodifikasi pada Siklus II diperoleh

hasil sebagai berikut :

Tabel 4.6. Perolehan Nilai Ulangan Harian Siklus II

No Aspek Penilaian Jumlah Siswa Prosentase

1 Nilai 70 1 5 %

2 Nilai 70 19 95 %

3 Tuntas Belajar 19 95 %

4 Tidak Tuntas Belajar 1 5 %

5 Nilai Tertinggi : 90 5 25 %

6 Nilai Terendah : 63.33 1 5 %

7 Nilai Rata-rata 85,33

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41

Berdasarkan Tabel 4.6 diatas diperoleh hasil nilai ulangan

pada siklus II nilai tertinggi adalah 90 dan nilai terendah adalah 63.33

nilai rata-rata pembelajaran siswa yang dicapai pada siklus II ini adalah

85,33, sedangkan jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar

mencapai 19 siswa atau sebesar 95 % dari 20 siswa, sedangkan jumlah

siswa yang belum tuntas sebanyak 1 orang siswa atau sebesar 5 % dari

20 siswa.

Untuk lebih jelasnya peneliti tampilkan pada rekap ketuntasan

belajar siswa dari siklus awal sampai siklus kedua dalam bentuk tabel

dan diagram adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7. Hasil rekap ketuntasan belajar Passing Bawah Permainan

Bolavoli pada studi Awal, Siklus I dan Siklus II

No

Uraian

Siswa yang tuntas Siswa yang belum

tuntas

Siswa Presen Siswa Presen

1. Studi Awal 2 10 % 18 90 %

2. Akhir Siklus I 13 65 % 7 35 %

3. Akhir Siklus II 19 95% 1 5 %

Dari rekap tabel 4.7. ketuntasan belajar siswa dapat kita lihat

perubahan prosentase baik kenaikan ketuntasan atau belum tuntas sebagai

berikut:

1. Dari pembelajaran studi awal ke siklus I ketuntasan naik 55% dan

belum tuntas turun 55%

2. Dari pembelajaran Siklus I ke siklus II ketuntasan naik 30% dan belum

tuntas turun 30%

Untuk lebih jelas peningkatan hasil ketuntasan dan kegagalan atau

belum tuntas siswa terhadap materi pembelajaran Passing Bawah Pada

Permainan Bolavoli Melalui Bola Yang Dimodifikasi dapat dilihat pada

gambar grafik 4.1 berikut ini.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

Studi Awal Siklus 1 Siklus 2

Tuntas Belum Tuntas

Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Ketuntasan dan belum tuntas siswa

terhadap pembelajaran

Dari gambar grafik 4.7, tampak terlihat jelas peningkatan

kemampuan siswa terhadap pembelajaran gerak dasar passing bawah

pada permainan bolavoli dengan melalui bola yang dimodifikasi di

kelas IV SD Negeri 2