Teori Kritik

  • View
    1.002

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tulisan ini merupakan rangkuman atas tulisan yang membehas mengenai teori kritik sosial.Teori ini banyak mengemukakan kritik-kritik sosial atas kemapanan teori yang telah ada sebelumnya. Proses dekonstruksi yang dihasilkan diharapkan memberikan pencerahan baru bagi pembaca.

Text of Teori Kritik

  • Tugas Mata Kuliah Konsep & Teori Sosial Semester 2

    1

  • Tugas Mata Kuliah Konsep & Teori Sosial Semester 2

    2

    CRITICAL THEORY: a Summary

    Didi Pramono

    Mahasiswa Prodi Pendidikan IPS Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang dapat dihubungi melalui e-mail pramono.unnes@gmail.com

    PENDAHULUAN A. DEFINISI Teori kritik didefinisikan secara sempit dan luas kaitannya dengan filsafat dan sejarah ilmu-ilmu pengetahuan sosial. Teori kritik dalam arti sempit mengarah pada beberapa generasi filsuf Jerman, utamanya dalam tradisi Marxis Eropa Barat yang dikenal dengan sekolah Frankfurt atau Mahzab Frankfurt. Teori kritik dalam arti luas menitik beratkan pada upaya pembebasan manusia seutuhnya dari hal-hal yang memperbudaknya. Kedua definisi ini pada intinya telah menyiapkan dasar-dasar yang normatif dan deskriptif untuk penyelidikan sosial yang diarahkan pada pengurangan dominasi dan terus meningkatkan kebebasan dalam semua bentuknya. Teori sosial kritik mengamanatkan bahwa penelitian sosial seharusnya memadukan kutub-kutub filsafat dan ilmu-ilmu sosial, yang dipadukan diantaranya pemahaman dan penjelasan, wakil dan struktur, serta keteraturan dan normativitas. Hal inilah yang sangat ditekankan oleh teori kritik, bahwa pemecahan masalah sosial harus dikaji secara komprehensif integral dari ilmu-ilmu sosial, seperti filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, sejarah, geografi, politik, hukum, dan kewarganegaraan. Kajian interdisiplin ini pada akhirnya mengarah pada simpulan bahwa kehidupan saat ini yang sudah sangat kapitalisme harus diubah menuju kehidupan sosial yang berlandaskan pada musyawarah mufakat. Fakta ini bisa dicapai melalui demokratisasi di segala bidang kehidupan. Teori kritik harus memenuhi tiga kriteria, yakni harus jelas, praktis, dan normatif, semua pada waktu yang sama. Teori harus menjelaskan sesuatu yang keliru dengan kenyataan sosial kekinian, mengidentifikasi para pelaku agar mengubah kekeliruan, dan menyiapkan keduanya dalam hal norma-norma yang tepat untuk kritik dan tujuan yang praktis yang dapat dicapai untuk transformasi sosial. Kehadiran teori kritik memicu ketegangan-ketegangan, karena kritiknya yang sangat tajam terhadap kemapanan teori yang sudah ada sebelumnya. Ada dua argumen terkait hal tersebut, pertama, penyelidikan terhadap falsafah dasar atau metafilosofi, teori kritik menyajikan alternatif untuk filsafat politik kekinian. Kedua, peninjauan terhadap inti teori normatif dan hubungannya terhadap transformasi etika otonomi Kantian ke dalam konsepsi kebebasan dan keadilan di mana demokrasi dan cita-cita demokratis memainkan peran utama. B. TOKOH-TOKOH TEORI KRITIK Mark Horkheimer Hebert Marcuse Theodor Adorno Jurgen Habermas

  • Tugas Mata Kuliah Konsep & Teori Sosial Semester 2

    3

    TEORI KRITIK SEBAGAI METAFILOSOFI: FILSAFAT, IDEOLOGI, & KEBENARAN Hegel dan Marx berpendapat bahwa teori dapat berlaku jika hanya dengan terdapat filsafat praktis dalam arti perubahan praktik-praktik di mana masyarakat dapat mewujudkan cita-citanya. Teori kritik berusaha mewujudkan hal ini, dengan jalan menghubungkan filsafat yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial humaniora. Pada tataran tindakan nyata, teori memberikan batasan pada ilmu pengetahuan sosial empiris dan penegasan kebenaran normatif. Dalam hal ini, teori berusaha mempertahankan penekanan pada normativitas, termasuk juga pada hasil-hasil penelitian lapangan yang menghasilkan data tertentu. Filsafat memiliki peran yang berbeda antara masa lalu dan masa modern saat ini. Dulu, filsafat menjalankan perannya sebagai pengadilan pertimbangan, pengadilan banding yang terakhir sebelum disiplin ilmu lain dipertahankan dan harus mengoreksi diri, dan pusat dari berbagai pertanyaan-pertanyaan normatif yang menghilangkan tinjauan secara kritis atas suatu hal. Wacana ini kemudian dikritik oleh Kantian (para penganut Kant), bahwa kaitannya dengan normativitas, ini sebenarnya ditentukan dengan bebas melalui analisa universal transendental dan berdasarkan kondisi tertentu yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam kajian praktis dan teoretisnya. Horkheimer juga turut menyampaikan kritiknya atas wacana di atas, bahwa materialisme memerlukan penggabungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Oleh karena itu Horkheimer menolak perbedaan substantif antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Teori kritik dapat berjalan bersama dengan pembagian kerja teoretis di mana pendirian normatif filsafat bisa mengkritik perwujudan-perwujudan kesusilaan dan pertimbangan menurut kriteria internalnya. Horkheimer dan Marcsue melihat ketidakpercayaan dan sikap relativis (orang yang suka menisbikan sesuatu hal) dari munculnya sosiologi, terutama apa yang disampaikan Karl Manheim. Marcuse menyatakan bahwa sosiologi hanya tertarik dalam hal kebebasan dan sifat keadaran terbatas akan menjauhi kebenaran, karena hal yang demikian memalsukan tujuan dan kepentingan teori kritik. Kaitannya dengan hal ini, Horkheimer berkata bahwa semua pemikiran teori kritik, salah atau benar, tergantung pada kondisi-kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu itu tidak berpengaruh pada kebenaran ilmu pengetahuan. Hal-hal yang demikian tidak dapat dicari penjelasannya, bahwa mengapa karakter pikiran yang dikondisikan perlu mempengaruhi kebenaran keputusan? Mengapa tidak seharusnya pengertian yang mendalam sama halnya dikondisikan sebagai kesalahan? Sikap yang diperlukan dalam hal ini adalah bahwa perbedaan antara fabilisme dengan relativisme. Fabilisme (paham keniscayaan atau kekeliruan) itu berbeda dengan relativisme (paham kenisbian). Dalam hal ini kita perlu membedakan antara kebenaran dan konteks pembenaran penegasan-penegasan pada kebenaran. Ada satu hal yang kemudian dijadikan jawaban atas semua ini, yakni detranscendentalizing (mempermudah pemahaman) kebenaran tanpa kehilangan normativitasnya. Perlu dicermati, hal-hal yang ditempuh untuk mencapai kebenaran. Relativisme, rasa empati, keragu-raguan historisisme, keragu-raguan ahli, dan kritikus perlu cermat dalam merumuskan kebenaran hal ikhwal kehidupan sosial. Mahzab Frankfurt paling sering mengupayakan ini, dengan jalan menerapkan tinjauan ideologi pada individualisme liberal, reductionist, dan penafsiran-penarsiran yang merusak cita-cita demokrasi.

  • Tugas Mata Kuliah Konsep & Teori Sosial Semester 2

    4

    Ada dua masalah yang muncul sebagai implikasi pelaksanaan pemikiran Horkheimer dan Marcuse, yakni: 1) filsafat diberi tugas mengorganisasikan riset sosial, menyiapkan tujuan praktisnya, pembenaran jika ada kesalahan, dan pendekatan empirisnya; dan 2) menyiapkan aktor-aktor yang akan berjuang untuk mewujudkan konsep-konsep di atas. Isu yang kemudian dibahas adalah Dialektika Pencerahan karya Horkheimer dan Adorno. Dalam hal ini mereka menyangkal prestasi-prestasi abad pencerahan, tetapi lebih ingin menujukkan bahwa pencerahan memiliki kecenderungan untuk self-destructive. Habermas berkomentar bahwa Dialektika Pencerahan tidak berbuat adil kepada muatan pembaharuan budaya yang rasional. Habermas melalui Pengetahuan dan Kepentingan Manusia sampai teori Tindakan Komunikatif telah mengusung kajian yang lebih sederhana, sehingga tidak ada kekeliruan tentang universalitas dan rasionalitas, kaitannya dengan ini Habermas berusaha menjernihkan Teor Kritik menuju teori yang lebih naturalistik. Alternatif Habermas dalam memandang pengetahuan praktis adalah pandangan yang sebagai mana adanya (natural), dalam ucapan dan tindakan. Ini merupakan upaya rekonstruksi ilmu pengetahuan. Teori Habermas berbicara tentang asal-usul, praktis, dan intersubjektif. Rasionalitas berisi tidak begitu banyak pengetahuan dan lebih pada keterikatan dengan isi dan konsistensi dari kepercayaan-kepercayaan seseorang, secara lebih dalam, Habermas membahas tentang bagaimana berbicara dan bertindak dari subjek dalam memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Inilah upaya dari teori-teori Habermas untuk merekonstruksi pengetahuan. Habermas menyatakan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan yang rekonstruktif memiliki status quasi-transendental dengan penetapan kondisi-kondisi komunikasi yang berhasil dengan formal dan sangat umum. Oleh karena itu teori Habermas memiliki peran untuk mengkritik, sepanjang teori-teori tersebut mampu menegaskan secara lengkap kondisi untuk ungkapan yang sah atau benar, juga menjelaskan mengapa beberapa ungkapan cacat, ucapan gagal bertindak, dan beberapa argumentasi tidak memadai. Pendekatan tersebut dapat diterapkan pada ciri-ciri praktik-praktik demokratis normatif. Bukan hanya sekedar menyiapkan satu himpunan prinsip pembenaran yang tegas dan kaidah-kaidah pengambilan keputusan kelembagaan. Hal yang membatasi hal ini adalah ideologi, ideologi yang diselewengkan mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. Teori ideologi meneliti tata cara di mana arti linguistik-simbolik digunakan untuk memberi sandi, menghasilkan hubungan dominasi dan kekuasaan, bahkan dalam lingkungan komunikasi kelembagaan dan interaksi yang diatur oleh norma-norma yang mempertegas cita-cita demokrasi. Dalam kehidupan demokrasi ada hak-hak warga negara untuk berekspresi dan ikut serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada praktiknya, norma-norma tersebut sering dilanggar dalam penggunaan kekuasaan untuk beberapa tujuan, seperti memperkaya diri sendiri, keamanan, atau kelangsungan hidup budaya. Hal ini melanggar kebebasan komunikatif. Hal ini kemudian mengarahkan pada analisis ilmiah tentang konsistensi norma-norma demokrasi dengan perilaku politis yang sebenarnya. Teori ideologi ini kemudian dalam perkembangannya tidak sejalan dengan teori komunikasi Habermas. Pendekatan Habermas yang pragmatis formal secara filsafat mencerminkan norma-norma demokrasi yang tegas argumentasinya, berbeda dengan teori ideologi. Ini secara tersirat mengandung makna bahwa dalam menghasilkan kaidah-kaidah tegas dengan

  • Tugas Mata Kuliah K