5. teori kritik sastra indonesia modern pada periode kritik sastrawan

  • View
    1.303

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of 5. teori kritik sastra indonesia modern pada periode kritik sastrawan

Slide 1

Cahyo Hasanudin, M.Pd.

Teori Kritik Sastra Indonesia Modern Pada Periode Kritik SastrawanPertemuan ke-9PADA SUATU HARI NANTI(Sapardi Djoko Damono)Pada suatu hari nantiJasadku tak akan ada lagitapi dalam bait-bait sajak inikau takkan kurelakan sendiriPada suatu hari nantiSuaraku tak terdengar lagiTapi di antara larik-larik sajak iniKau akan tetap kusiasatiPada suatu hari nantiImpianku pun tak dikenal lagiNamun disela-sela huruf sajak iniKau takkan letih-letihnya kucari

A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPenulis yang pertama kali membukukan esai-esai kritik sastranya adalahAmal Hamzah pada tahun 1950, berupa kritik terapan berjudul Buku dan PenulisH.B. Jassin pada tahun 1952 dengan judul Tifa Penyair dan DaerahnyaAchdiat Kartamihardja dalam Polemik Kebudayaan (1948) dan Aoh Karta Hadimadja (ed.) pada tahun 1952 menerbitkan kumpulan esai berjudul beberapa Paham Angkatan 45H.B. Jassin pada tahun 1954 dengan judul Kesusastraan Indonesia modern dalam Kritik dan Esai

A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernTulisan-tulisan yang disebutkan di atas dalamBentuk esai, sedangkan yang berupa studi khusus baru ditulis pada akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an.Orang yang pertama berhasil menerbitkan buku karya kritik sastranya adalah:Ajip Rosidi pada tahun 1959 menerbitkan buku studi khusus yang membicarakan cerita pendek Indonesia modern secara keseluruhan dan cerpen (kumpulan) awal sampai cerpen (kumpulan) terakhir (1959) kritik sastra (terapan)Boen Sri Oemarjati pada tahun 1962 dengan judul Roman Atheis Achdiat Kartamijardja

A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernAdapun kritik teoritis yang berupa studi khususBaru ditulis pada tahun 1965 sebagai tesis sarjana diterbitkan tahun 1967 (Dwi Dharma; P.D. Lukman 1988), yaitu beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern, ditulis oleh Racmat Djoko PradopoA. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernSusudah tahun 1960 tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kritik sastra diterbitkan sebagai buku meskipun tidak banyak.Sesudah tahun 1970 lebih banyak penulis yang mengumpulkan esai-esainya yang berhubungan dengan kritik sastra dalam sebuah buku; bahkan S.T.A. yang telah menulis sejak awal tahun 30-an, baru menerbitkan kumpulan esainya yang berhubungan kritik sastra pada tahun 1977, yaitu Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan.A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernDalam perkembangannya,Kritik sastra Indonesia modern dari waktu ke waktu mengalami perdebatan-perdebatan. Perdebatan dalam bidang kritik ini terjadi sejak awal perkembangan kritik sastra, tepatnya sejak zaman Pujangga Baru, pada pertengahan tahun 30-an, terjadi perdebatan dalam bidang kritik sastra antara S.T.A. dengan Sanusi Pane (dan penulis-penulis lain). Terjadi polemik Kritik sastra dalam majalah Pujangga Baru di antara mereka. Hanya sayang perdebatan kritik sastra ini tidak atau belum dibukukan. A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPada pertengahan tahun 1950-an (1956) diadakan semposium sastra di Jakarta. Dalam semposium itu dikemukakan prasaran Gajus Siagian berjudul Essay dan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini Kemudian ditanggapi oleh H.B. Jassin dengan judul Beberapa Catatan pada Essay Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini oleh Gajus SiagianPada perdebatan tersebut terutama membicarakan:Metode kritik sastra Indonesia sampai pada masa ituPolemik-polemik mengenai kritik sastra pada tahun 1940-an dan 1950-anA. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPaham dan pendirian para sastrawan Angkatan 45 yang dikumpulkan oleh Aoh Karta Hadimadja

Pada akhir tahun 1960-an terjadi perdebatan dan polemik kritik sastra antara golongan pengikut kritik sastra genzheit (tokohnya Arief Budiman dan Goenawan Muhammad) dengan pengikut kritik sastra akademik (yang kemudian menamakan dirinya kritikus kritik sastra Aliran Rawamangun) (tokohnya M.S. Hutagalung, J.U. Nasution, M. Saleh Saad, dan Boen Sri Oemarjati).A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPada tahun 1968 Pusat Bahasa Jakarta mempertemukan kelompok kritikus Ganzheit dengan kritikus aliran Rawamangun dalam sebuah semposium. Kertas kerja dan ulasan-ulasan dibukukan oleh Pusat bahasa dengan editor Lukman Ali berjudul Tentang Kritik Sastra: Sebuah Diskusi (1978).Pada pertengahan tahun 1970-an perdebatan mereka masih berlangsung. Polemik M.S. Hutagalung dengan Arief Budiman dibukukan dengan judul Kritik atas Kritik atas Kritik (1975)A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPada akhir tahun 1972 Dewan Kesenian Jakarta juga mengadakan diskusi kritik dengan pembicara Kuntowijoyo, kertas kerjanya berjudul Prosedur Lingkaran dalam Kritik Sastra yang membicarakan dan membandingkan metode kritik sasta Genzheit dengan kritik analitik.Pada akhir tahun 1984 dan selama tahun 1985 terjadilah polemik dalam bidang kritik sastra tentang kritik sastra kontekstual yang dimulai oleh Arief Budiman. Kemudian mendapat tanggapan dari Ariel Heryanto, selanjutnya dibukukan dengan judul Perdebatan Sastra Kontekstual (1985).A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernDengan mengalirnya teori sasta dan kritik sastra Barat sejak pertengahan tahun 1970-an, lebih-lebih ke dalam lingkungan kritik sastra akademik, timbullah reaksi, baik berupa penolakan maupun keinginan membentuk teori sastra dan kritik sastra yang khas Indonesia, lebih-lebih sesudah pertengahan tahun 1980-an.Pada tahun 1988 Universitas Bung Hatta Padang mengadakan seminar sastra Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan, makalah-makalahnya diterbitkan dalam sebuah buku dengan editor Mursal Esten berjudul Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan (1988).A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernBerdasar tulisan-tulisan yang berupa esai tentang kritik sastra dalam surat kabar, majalah, buku-buku kritik sastra, sejarah sastra, makalah diskusi, simposium, buku pelajaran sastra, dan bunga rampai sastra, dapatlah disusun telaah teori dan terapan kritik sastra Indonesia modernDalam buku-buku pelajaran sastra, para penulis memilih karya sastra tertentu. Begitu juga, dalam bunga rampai sastra penyusun memilih karya-karya sastra tertentu dan memberi pengantar atas pilihannya itu dalam pendahuluannya.A. Situasi Kritik Sastra Indonesia ModernPengantar atau pendahuluan bunga rampai yang disusun oleh H.B. Jassin adalah:Kesusastraan Indonesia di masa Jepang (1948)Pujangga baru: Prosa dan Puisi (1963)Gema Tanah Air (1948)Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968)S.T.A. menyusun bunga rampai Pujangga Baru dalam Puisi Baru (1946)Ajip Rosidi menyusun bung rampai prosa dan puisi berjudul Laut Biru Langit Biru (1977)Linus Suryadi Ag. menyusun bunga rampai puisi Indonesia modern dari sajak awal sampai sekarang dalam empat jilid berjudul Tonggak (1987).B. Teori Kritik Sastra pada Periode Balai PustakaBalai pustaka didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu, buku-buku yang diterbitkan haruslah mengikuti aturan yang sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah penjajahan, baik itu buku bacaan umum maupun buku-buku kesusastraan.D.A. Rinkes membuat Note over de Volkslectuur, 1911, yang terkenal dengan Nota Rinkes. Di dalamnya berisi aturan-aturan:Keharusan diadakan sikap netral tentang keagamaanMemenuhi syarat-syarat budi pekerti yang baikMenjaga ketertibanTidak boleh berpolitik (yang melawan pemerintah)B. Teori Kritik Sastra pada Periode Balai PustakaRoman yang diterbitkan Balai Pustaka berorientasi Pragmatik. Sifat-sifat pragmatik itu tampak dalam bahasan, gaya penceritaaan, ataupun nasihat dan isi pikirannya. Bahasanya adalah bahasa Melayu yang baik dan benar.Bila sebuah karya tidak memenuhi aturan-aturan yang disyaratkan, naskah karya sastra yang dikirimkan kepada Balai Pustaka ditolak sepertihanya Belenggu karya Armijan Pane. Bila karya sastra itu masih mungkin dibersihkan sepertihalnya Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, karya tersebut diminta untuk dibenarkan.B. Teori Kritik Sastra pada Periode Balai PustakaSalah Asuhan yang diterbitkan sampai sekarang tidaklah sama dengan naskah aslinya. Naskah asli Salah Asuhan sudah tidak ada lagi, hanya dari dokumen yang ada dapat diketahui bagaimana wujud cerita aslinya.Setelah naskah asli diperbaiki Abdoel Moeis berdasarkan saran-saran Balai Pustaka, maka salah seorang anggota redaksi, yaitu St. Pamoentjak mengomentari bahwa cerita kini diubah seluruhnya, bagian-bagian yang merangsang birahi dibuang dan hal-hal yang menyinggung perasaan disingkirkan. Akhirnya hoofdambtenaar Volkslectuur menyetujui penerbitan Salah Asuhan pada tanggal 23 Agustus 1928 dan hendaknya segera dicetak.B. Teori Kritik Sastra pada Periode Balai PustakaPada periode sastra Balai Pustaka dekade 1921-1930 sangatlah langka, bahkan hampir tidak ada, tulisan yang berupa kritik sastra atau mirip kritik sastra.Pada dekade ini memuat majalah Panji Pustaka dan Jong SumatraPada dekade berikutnya terbit majalah sastra dan kebudayaan umum, yaitu majalah Pujangga Baru, terbit pertama kali pada bulan Juli 1933.Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru itu bertumpang tindih, tidak bisa dipisahkan secara mutlak.C. Teori Kritik Sastra pada Periode Pujangga BaruPeriode 1931-1940 merupakan periode terintegrasinya sastra pujangga Baru meskipun di antara tokoh-tokohnya sudah ada yang menulis sebelum tahun 1930, seperti Muhammad Yamin dan Sanusi Pane, akan tetapi, baru sesudah terbitnya majalah Pujangga Baru terhimpun sehingga cora Pujangga Baru menjadi tegas dan dominan.Pada periode Pujangga Baru, tulisan-tulisan yang dapat digolongkan bercorak kritik sastra, baik yang bersifat teori maupun terapan.C. Teori Kritik Sastra pada Periode Pujangga BaruDapat dikatakan Kritik Kasusastraan itu merupakan teori kritik sastra Indonesia yang ditulis (dinyatakan) secara eksplisit, betul-betul merupakan teori kritik sastra (Indonesia modern), tidak hanya seperti Naota Rinkes yang bersifat aturan umum untuk buku yang akan diterbitkan oleh Balai Pustaka, termasuk buku sastra.Tokohnya antara lain: Armijan Pane, J.E. Tatengkeng, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahb