Proposalku Taufiq

  • View
    26

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Proposalku Taufiq

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR HIPOTETIKAL DEDUKTIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN BENDA TEGAR.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini berkembang sangat cepat, hal ini tentunya memerlukan daya dukung sumber daya manusia yang berkualitas agar dihasilkan tenaga-tenaga yang mampu menjawab semua tantangan dan mampu mengembangkan teknologi untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaran pendidikan nasional yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ditempuh melalui jalur pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Melalui pendidikan formal pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yaitu dengan diterapkannya KTSP sebagai penyempurnaan dari Kurikulum Kompetensi

(KBK). Dalam prinsip KTSP kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, dan siswa diharapkan belajar mandiri dan belajar bekerjasama. Beberapa ciri terpenting dari KTSP adalah sebagai berikut. Pertama, KTSP menganut prinsip fleksibilitas yang harus diimbangi dengan potensi sekolah masing-masing serta pemenuhan standar isi seperti digariskan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Kedua, KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan sekolah untuk mengurus sendiri tidak hanya untuk manajemen sekolah, tetapi juga rutinitas akademis. Ketiga, guru kreatif dan siswa aktif. Keempat, KTSP dikembangkan dengan menganut prinsip diversifikasi. Artinya, dalam kurikulum ini standar isi dan standar kompetensi lulusan yang dibuat BSNP itu dijabarkan dengan memasukkan muatan lokal, yakni lokal provinsi, lokal kabupaten/kota, dan lokal sekolah. Kelima, KTSP sejalan dengan

1

konsep desentralisasi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah (school-based management). Keenam, KTSP tanggap terhadap perkembangan iptek dan seni. Inilah tantangan abad sekarang ini. Ketujuh, KTSP beragam dan terpadu. Walaupun akhirnya ada ujian nasional (UN) yang sangat berguna demi pemetaan kemampuan, bukan penentu kelulusan siswa. Biarkan sekolah menentukan kriteria kelulusan masing-masing, yakni dengan menggabungkan hasil UN dengan ujian sekolah masing-masing. Untuk mengahadapi perkembangan tersebut masyarakat kita harus melek IPA ( Ilmu Pengetahuan Alam ), karena dewasa ini banyak sekali lapangan pekerjaan yang membutuhkan berbagai keterampilan tingkat tinggi, menuntut kemampuan untuk selalu dapat belajar dalam setiap perubahan, bernalar, berfikir kreatif, membuat keputusan, dan kemampuan untuk memecahkan masalah ( Klausner, 1996 ). Oleh karena itu peningkatan mutu penguasaan IPA (fisika) di semua jenjang pendidikan harus selalu diupayakan. Mengahadapi masa depan yang penuh tantangan tersebut, dibutuhkan suatu proses pembelajaran yang tidak hanya memandang proses sains berupa konsep semata, tetapi juga mengajarkan tetapi bagaimana siswa menggunakan/menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya di lapangan tidak demikian adanya, bahkan para siswa memiliki banyak pengetahuan, tetapi kurang dilatih untuk menemukan pengetahuan, konsep, dan menerapkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan paparan di atas, maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat dan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran akan lebih bermakna dan informasi yang didapatkan akan bertahan lebih lama, jika ada kaitan antara konsepsi awal siswa dengan konsep baru yang sedang dipelajari (Dahar, 1989). Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme, yang mengungkapkan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya tergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pengetahuan awal siswa. Belajar melibatkan pembentukan makna oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar dan lakukan.

2

Para ahli pendidikan telah berusaha untuk mengembangkan berbagai model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya mata pelajaran fisika, diantaranya adalah model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari piaget. Menurut pandangan ini, dalam proses pembelajaran siswa belajar membangun pengetahuannya sendiri dan memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (Dahar, 1989). Salah satu strategi mengajar yang menggunakan pandangan konstruktivisme adalah model pembelajaran siklus belajar (learning cycle). Siklus belajar (learning cycle) dikelompokkan dalam tiga tipe, yaitu deskriptif (descriptive), empirical-abduktif (empirical-abductive), dan hipotetikal-deduktif (hypothetical-deductive). Perbedaan penting yang ada di antara ketiganya hanya pada 1988). Dalam siklus belajar hipotetikal-deduktif, siswa belajar mulai dengan pernyataan sebab?. Selanjutnya siswa diminta untuk merumuskan kemungkinan jawaban (hipotesis) atas pernyataan tersebut. Kemudian siswa diminta untuk menurunkan konsekwensi-konsekwensi logis dari hipotesis dan merencanakan serta melakukan eksperimen (eksplorasi). Analisis hasil eksperimen menyebabkan beberapa hipotesis ditolak, sedang yang lainnya diterima (fase pengenalan konsep). Sehingga akhirnya konsep-konsep yang relevan dan pola-pola penalaran yang terlibat didiskusikan, dan diterapkan pada situasi yang lain dikemudian hari (aplikasi konsep). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 dipilih materi kesetimbangan benda tegar yang diajarkan di kelas 2 semester pertama. Alasan pemilihan materi ini karena masalah kesetimbangan benda tegar banyak sekali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun pada kenyataannya masih sulit dipahami oleh siswa karena masih ada kesalahan memahami konsep sejak awal. Dengan demikian agar siswa dapat memahami konsep-konsep dan hukum-hukum fisika khususnya kesetimbangan benda tegar, maka perlu diadakan penelitian untuk mencari model pembelajaran yang sesuai sebagai upaya untuk tingkat usaha siswa untuk mendeskripsikan sifatsifat atau menggeneralisasikan secara eksplisit dan menguji hipotesis alternatif (Lawson,

3

meningkatkan pemahaman konsep siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran model siklus belajar hipotetikal deduktif agar lebih dapat meningkatkan keterampilan generik sains dan penguasaan konsep siswa. Penelitian terhadap pembelajaran model siklus belajar, untuk mengetahui perubahan konseptual IPA yang didasarkan pada pendekatan konstruktivisme telah banyak dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, diantaranya oleh Hulya Yilmaz , Pinar Huyuguzel Cavas (2004), hasilnya penerapan Siklus belajar lebih berhasil dibanding siswa yang diajarkan dengan pendekatan tradisional. Terdapat juga perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok menyangkut sikap mereka terhadap sain setelah perlakuan. Metode Siklus belajar Sain menghasilkan sikapsikap yang lebih positif terhadap sain dibandingkan dengan metode tradisional. Selanjutnya Salih Ates (2005), Hasilnya metode siklus belajar terbukti secara statistik signifikan untuk mengajarkan banyak konsep dan beberapa aspek yang menyangkut rangkaian hambatan DC tetapi bukan untuk mengajarkan konservasi arus dan menjelaskan aspek-aspek mikroskopis dari arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Pada tahun 2007, Paul Williams mempublikasikan hasil penelitiannya bahwa memasukan siklus belajar kedalam petunjuk mengajar telah terbukti menjadi metode yang efektif untuk merubah konsepsi fisik siswa pada pokok bahasan hukum Newton. Selain dari jurnal diatas, penelitian yang pembelajaran menggunakan model dilakukan oleh Tatang (2005), tentang penerapan model siklus belajar pada konsep getaran dan gelombang, hasilnya siklus belajar dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Sejauh ini belum ada penelitian tentang penggunaan model siklus belajar untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa pada materi kesetimbangan benda tegar Berdasarkan hal di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul Penerapan model pembelajaran siklus belajar hipotetikal deduktif untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa pada materi kesetimbangan benda tegar.

4

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan utama pada penelitian ini adalah: Apakah penerapan model pembelajaran siklus belajar hipotetikal deduktif dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada materi kesetimbangan benda tegar? Rumusan masalah ini dijabarkan menjadi pertanyaan - pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa setelah diterapkan model siklus belajar hipotetikal deduktif? 2. Bagaimana perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol? 3. Bagaimana tanggapan siswa dan guru tentang pembelajaran materi kesetimbangan benda tegar dengan model siklus belajar hipotetikal deduktif? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan penguasaan konsep dan keterampilan generik sains siswa melalui model siklus belajar hipotetikal deduktif. Secara khusus penelitian ini bertujuan: 1. Memperoleh gambaran tentang peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa setelah diterapkan model siklus belajar hipotetikal deduktif. 2. Memperoleh gambaran tentang terjadinya perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan generik sains siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. 3. Mengungkap tanggapan siswa dan guru terhadap pembelajaran materi kesetimbangan benda tegar dengan model siklus belajar hipotetikal deduktif.

D. Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan dan referensi bagi guru fisika dalam merencanakan pembelajaran fisika khususnya konsep kesetimbangan benda tegar.

5

2. Sebagai suatu informasi yang penting tentang penera