Kumpulan Puisi Karya Taufiq

  • View
    216

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of Kumpulan Puisi Karya Taufiq

Kumpulan Puisi Karya Taufiq Ismail21. LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUKKarya : Taufiq IsmailSebuah Lasykar trukMasuk kota SalatigaMereka menyanyikan lagu'Sudah Bebas Negeri Kita'Di jalan Tuntang seorang anak kecilEmpat tahun terjaga :'Ibu, akan pulangkah Bapa,dan membawakan pestol buat saya ?'

22. BAGAIMANA KALAUKarya : Taufiq IsmailBagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,tapi buah alpukat,Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,dan kepada Koes Plus kita beri mandat,Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,dan ibukota Indonesia Monaco,Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,salju turun di Gunung Sahari,Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikindan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesiadibayar dengan pementasan Rendra,Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga dikamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kakipengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suarapercintaan anak muda, juga bunyi industri presisi danmargasatwa Afrika,Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecilmempertimbangkan protes itu,Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kitapelihara ternak sebagai penggantiBagaimana kalau sampai waktunyakita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

23. BAYI LAHIR BULAN MEI 1998Karya: Taufiq IsmailDengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetanggaSuaranya keras, menangis berhiba-hibaBegitu lahir ditating tangan bidannyaBelum kering darah dan air ketubannyaLangsung dia memikul hutang di bahunyaRupiah sepuluh jutaKalau dia jadi petani di desaDia akan mensubsidi harga beras orang kotaKalau dia jadi orang kotaDia akan mensubsidi bisnis pengusaha kayaKalau dia bayar pajakPajak itu mungkin jadi peluru runcingKe pangkal aortanya dibidikkan mendesingCobalah nasihati bayi ini dengan penataran jugaMulutmu belum selesai bicaraKau pasti dikencinginya.

24. BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGANKarya: Taufiq IsmailPada tahun keenamSetelah di kota kami didirikanSebuah Musium PerjuanganDatanglah seorang lelaki setengah bayaBerkunjung dari luar kotaPada sore bulan November berhujandan menulis kesannya di buku tamuBuku tahun keenam, halaman seratus-delapanBertahun-tahun aku rinduUntuk berkunjung kemariDari tempatku jauh sekaliBukan sekedar mengenang kembaliHari tembak-menembak dan malam penyergapanDi daerah iniBukan sekedar menatap lukisan-lukisanDan potret-potret para pahlawanMengusap-usap karaben tuaBaby mortir buatan sendiriAtau menghitung-hitung satyalencanaDan selalu mempercakapkannyaAlangkah sukarnya bagikuDari tempatku kini, yang begitu jauhUntuk datang seperti saat iniDengan jasad berbasah-basahDalam gerimis bulan NovemberDatang sore ini, menghayati musium yang lengangSendiriMenghidupkan diriku kembaliDalam pikiran-pikiran waktu gerilyaDi waktu kebebasan adalah impian keabadianDan belum berpikir oleh kita masalah kebendaanPenggelapan dan salahguna pengatasnamaanBegitulah aku berjalan pelan-pelanDalam musium ini yang lengangDari lemari kaca tempat naskah-naskah berhargaKesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkurberbenderaMaket pertempuranDan penyergapan di jalanKuraba mitraliur Jepang, dari baja hitamJajaran bisu pestol Bulldog, pestol ColtPENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebuGambar lasykar yang kurus-kurusDan kuberi tabik khidmat dan diamPada gambar Pak DirmanMendekati tangga turun, aku menoleh kembaliKe ruangan yang sepi dan dalamJendela musium dipukul angin dan hujanKain pintu dan tingkap bergetaranDi pucuk-pucuk cemara halamanTahun demi tahun mengalir pelan-pelanDeru konvoi menjalari lembahRegu di bukit atas, menahan nafasDi depan tugu dalam musium iniMenjelang pintu keluar ke tingkat bawahAku berdiri dan menatap nama-namaDipahat di sana dalam keping-keping aluminaMereka yang telah tewasDalam perang kemerdekaanDan setinggi pundak jendelaKubaca namaku disana.....GUGUR DALAM PENCEGATANTAHUN EMPATPULUH-DELAPANDemikian cerita kakek penjagaTentang pengunjung lelaki setengah bayaBerkemeja dril lusuh, dari luar kotaMatanya memandang jauh, tubuh amat kurusnyaDatang ke musium perjuanganPada suatu sore yang sepiKetika hujan rinai tetes-tetes di jendelaDan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemaraLelaki itu menulis kesannya di buku-tamuBuku tahun-keenam, halaman seratus-delapanDan sebelum dia pergiMenyalami dulu kakek AkiDengan tangannya yang dingin anehSetelah ke tugu nama-nama dia menolehLalu keluarlah dia, agak terseret berjalanKe tengah gerimis di pekaranganTetapi sebelum ke pagar halamanLelaki itu tiba-tiba menghilang

25. DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRANKarya: Taufiq IsmailInilah peperanganTanpa jenderal, tanpa senapanPada hari-hari yang mendungBahkan tanpa harapanDi sinilah keberanian diujiKebenaran dicoba dihancurknPada hari-hari berkabungDi depan menghadang ribuan lawan

26. Dari Ibu Seorang DemonstranKarya: Taufiq Ismail"Ibu telah merelakan kalianUntuk berangkat demonstrasiKarena kalian pergi menyempurnakanKemerdekaan negeri ini"Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gadaAtau gas airmataTapi langsung peluru tajamTapi itulah yang dihadapiAyah kalian almarhumDelapan belas tahun yang laluPergilah pergi, setiap pagiSetelah dahi dan pipi kalianIbu ciumiMungkin ini pelukan penghabisan(Ibu itu menyeka sudut matanya)Tapi ingatlah, sekali lagiJika logam itu memang memuat nama kalian(Ibu itu tersedu sedan)Ibu relakanTapi jangan di saat terakhirKau teriakkan kebencianAtau dendam kesumatPada seseorangWalapun betapa zalimnyaOrang ituNiatkanlah menegakkan kalimah AllahDi atas bumi kita iniSebelum kalian melangkah setiap pagiSunyi dari dendam dan kebencianKemudian lafazkan kesaksian pada TuhanSerta rasul kita yang tercintapergilah pergiIwan, Ida dan HadiPergilah pergiPagi ini(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicintaBeberapa saat tangannya meraba rambut merekaDan berangkatlah mereka bertigaTanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

27. DOAKarya: Taufiq IsmailTuhan kamiTelah nista kami dalam dosa bersamaBertahun-tahun membangun kultus iniDalam pikiran yang gandaDan menutupi hati nuraniAmpunilah kamiAmpunilahAminTuhan kamiTelah terlalu mudah kamiMenggunakan AsmaMuBertahun di negeri iniSemoga Kau rela menerima kembaliKami dalam barisanMuAmpunilah kamiAmpunilahAmin

28. Jalan SegaraKarya: Taufiq IsmailDi sinilah penembakanKepengecutanDilakukanKetika pawai bergerakDalam panas matahariDan pelor pembayar pajakNegeri iniDitembuskan ke pungungAnak-anaknya sendiri

29. JAWABAN DARI POS TERDEPANKarya : Taufiq IsmailKami telah menerima surat saudaraDan sangat paham akan isinyaTetapi tentang pasal penyerahanItu adalah suatu penghinaanKonvoi sejam lamanya menderuDi kota. Api kavaleri memancar-mancarDi roda-rantai dan aspalAngin meniup dalam panas dan abuAbu baja.Nyala yang menggeletar-geletarSepanjang suaraKami yang bertahanBeberapa ratus meter jauhnyaBukanlah serdadu-serdadu bayaranAtau terpaksa berperang karena pemerintahanKebebasan manusia di atas buminyaAdalah penyebab hadir pasukan iniDan pasukan-pasukan lainnyaImpian akan harga kemerdekaan manusiamengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayurgembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMTsopir taksi dan seorang mahasiswa kedokterandalam pasukandi pos terdepan iniTerik dan lengang dipandang tak bertuanAbu naik perlahan dari bumiBumi yang telah diungsikanGuruh dari jauh, konvoi menderuSuara panser dan tank-tank kecilMengacukan senjata-senjata baruKami tidak punya batalion paratroopCadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-bajaKami hanya memiliki karaben-karaben tuaBahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkanPasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militerTidak juga memiliki pengalaman perang duniaTetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusiaDi atas buminyaPasukan ini sudah menetapkan harganyaSebentar lagi malampun akan turunmembawa kesepian ajal adalam gurunTidakkah engkau bisa menempatkan dirisebentar, di tempat kamiMemikirkan bahwa ibumu tua diungsikantersaruk-saruk berjalan kakiSetelah rumah-rumah di kampungmu dibakarisetelah adik kandungmu ditembak matiAdakah demi lain, yang mengatasidemi kemanusiaan ?Adakah ?Di seberang sini berjaga pengawalanTanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semakDialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & FieldDialah huruf pertama dari Republik

30. Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah AirKarya: Taufiq IsmailKALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,LALU KALIAN PAKSA KAMIMASUK MASA PENJAJAHAN BARU,Kata Si ToniKami generasi yang sangat kurang rasa percaya diriGara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankanKalian bersengaja menjerumuskan kami-kamiSejak lahir sampai dewasa iniJadi sangat tepergantung pada budayaMeminjam uang ke mancanegaraSudah satu keturunan jangka waktunyaHutang selalu dibayar dengan hutang baru pulaLubang itu digali lubang itu juga ditimbuniLubang itu, alamak, kok makin besar jadiKalian paksa-tekankan budaya berhutang iniSehingga apa bedanya dengan mengemis lagiKarena rendah diri pada bangsa-bangsa duniaKita gadaikan sikap bersahaja kitaKarena malu dianggap bangsa miskin tak berhartaKita pinjam uang mereka membeli benda merekaHarta kita mahal tak terkira, harga diri kitaDigantung di etalase kantor Pegadaian DuniaMenekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersamaKepada Amerika, Jepang, Eropa dan AustraliaMereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomiDan ramai-ramailah mereka pesta kenduriSambil kepala kita dimakan beginiKita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekertiDalam upacara masuk masa penjajahan lagiPenjajahnya banyak gerakannya penuh harmoniMereka mengerkah kepala kita bersama-samaMenggigit dan mengunyah teratur beriramaSedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagiDicengkeram kuku negara multi-kolonialis iniBagai ikan kekurangan air dan zat asamBeratus juta kita menggelepar menggelinjangKita terperangkap terjaring di jala raksa