of 2 /2
Pikiran Rakyat •. ~~~ m-£"~~~u o Senin o Selasa o Rabu Kamis o Jumat o Sabtu 0 Minggu 2 3 (D 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 OJan OPeb o Mar OApr OMei OJun OJul OAgs OSep OOkt eNov "Angin Gandrung", Rasa Cinta Dalam Senandung Sunda C ERITA cinta dalam sastra Sunda . sejak baheula hingga ayeuna selalu mendapat tempat yang terhormat. Pernak-pernik batur sasumur, sadapur, sa- kasur, sagubernur, atau sadulur masih me- warnai ragam sastra Sunda dalam bangun- an prosa, puisi, dan drama. Bahkan, dalam khazanah sastra Sunda li- san juga cerita cinta kerap dijadikan pusat perhatian dalam pengembangan karangan. Adanya mantra asihan adalah jawaban yang tak terbantahkan. Tidak menutup ke- mungkinan kawih atau tembang Sunda ma- sa kiwari juga rumpaka atau syair-syair yang dikembangkannya mengikuti pola mantra asihan. Paling tidak mengenai pur- wakanti atau rima dan irama yang direka mendekati anggapan itu. , Saling memengaruhi dalam dunia kreatif adalah hal biasa. Namun, kebiasaan itu akan tetap berasa dan bermakna jika direka de- ngan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ke- sadaran akan mencipta karya sastra dengan pelbagai perangkatnya dan keikhlasan da- lam merenungi pelbagai masalah kehidupan merupakan modal yang berguna bagi para penulis karya sastra. Hal itu, saya pikir, disadari atau tidak, su- dah dilakukan oleh penyair anyar sastra Sun- da bernama Hj. Amalina Nurrohmah. Mela- lui buku kumpulan sajakAngin Gandrung (Maret, 2008), penyair kelahiran Bandung, 3 Februari 1964 yang berkesenian di wilayah . Majalengka ini memaknai cerita cinta dalam senandung Sunda yang berirama. Irama cinta dalamAngin Gandrung sa- ngat mendominasi dalam bunga rampai yang memuat 64 sajak yang umumnya ditu- lis di Cipinang dan Rajagaluh. Dengan men- cium judul sajak yang terkandung dalam sa- jak-sajak karya penyair yangmemiliki nama alias Nyimas Ratu Pandanwangi ini aroma cinta yang terendus akan-segera meresap ke dalam jiwa pembaca. Mari kita simak beberapajudul-judul sa- jak yang saya maksud: Ringkang Kame- lang, Tanjung Panineungan, Angin Gan- drung, Tembang Kasmaran, Kumambang Asih, Asih Tingtrim, Hareuios Polos, Ka- benqbat, Kapaut Imut, Dahlia Ngumbar Cimata, Pileuleuyan keur Nu Mulang, La- yung Kasumba, Hariring Asih, Kalang- kang Asih, Asih Maranti, Kacapi Ati, Angin Tresna, dan Damar Katresna. ** CINTA yang dalam kebudayaan Sunda kerap disamakan dengan tresna, asmara, duriat, eceng, pulas kayas, atawa kasumba dalam bukuAngin Gandrung sejauh yang saya pikir dan rasakan senandung cinta yang dilantunkannya seakan mengenang masa-masa indah yang telah hilang, keter- pesonaan pada seseorang, adanya rasa keke- cewaan, cenderung ngungun, tetapi sedikit memiliki harapan untuk mendapat keindah- an dan kebahagiaan. Seperti sajak-sajak Sunda lainnya, sajak-sa- jak dalamAngin Gandrung amat mengagumi purwakanti. Irama atau bunyi puisi sangat mendominasi. Bahkan, saking fanatiknya, makna dari puisi terkadang tertutupi oleh hamburan kata-kata yang berindah-indah ria. Hal itu, saya pikir, karena penyair ini ter- pengaruh atau memengaruhi diri pada syair kawih dan tembang Sunda. Untuk menye- but beberapa saja ada yang jelas-jelas meng- adopsi judul kawih dan tembang Sunda: "Jalan Satapak", "Kapaut Irnut", "Bulan Sa- pasi", atau "Ngumbar Lamunan". Namun, harus saya akui penyair ini juga hafal betul pelbagai kearifan Sunda yang terkandung dalam babasan atau paribasa Sunda. Pengetahuan babasan ini pula yang mewarnai sajak-sajak dalamAngin Gan- drung. Kliping Humas Unpad 2010 T

PikiranRakyat - pustaka.unpad.ac.idpustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/11/pikiranrakyat... · Rasa Cinta Dalam Senandung Sunda ... yang memuat 64 sajak yang umumnya ditu-lis

  • Author
    vokhanh

  • View
    274

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PikiranRakyat -...

Pikiran Rakyat.~~~ m-"~~~uo Senin o Selasa o Rabu Kamis o Jumat o Sabtu 0 Minggu

2 3 (D 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1517 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

OJan OPeb o Mar OApr OMei OJun OJul OAgs OSep OOkt eNov

"Angin Gandrung",Rasa Cinta DalamSenandung Sunda

C ERITA cinta dalam sastra Sunda .sejak baheula hingga ayeuna selalumendapat tempat yang terhormat.Pernak-pernik batur sasumur, sadapur, sa-kasur, sagubernur, atau sadulur masih me-warnai ragam sastra Sunda dalam bangun-an prosa, puisi, dan drama.

Bahkan, dalam khazanah sastra Sunda li-san juga cerita cinta kerap dijadikan pusatperhatian dalam pengembangan karangan.Adanya mantra asihan adalah jawabanyang tak terbantahkan. Tidak menutup ke-mungkinan kawih atau tembang Sunda ma-sa kiwari juga rumpaka atau syair-syairyang dikembangkannya mengikuti polamantra asihan. Paling tidak mengenai pur-wakanti atau rima dan irama yang direkamendekati anggapan itu. ,

Saling memengaruhi dalam dunia kreatifadalah hal biasa. Namun, kebiasaan itu akantetap berasa dan bermakna jika direka de-ngan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ke-sadaran akan mencipta karya sastra denganpelbagai perangkatnya dan keikhlasan da-lam merenungi pelbagai masalah kehidupanmerupakan modal yang berguna bagi parapenulis karya sastra.

Hal itu, saya pikir, disadari atau tidak, su-dah dilakukan oleh penyair anyar sastra Sun-da bernama Hj. Amalina Nurrohmah. Mela-lui buku kumpulan sajakAngin Gandrung(Maret, 2008), penyair kelahiran Bandung, 3Februari 1964 yang berkesenian di wilayah .Majalengka ini memaknai cerita cinta dalamsenandung Sunda yang berirama.

Irama cinta dalamAngin Gandrung sa-ngat mendominasi dalam bunga rampaiyang memuat 64 sajak yang umumnya ditu-lis di Cipinang dan Rajagaluh. Dengan men-cium judul sajak yang terkandung dalam sa-jak-sajak karya penyair yangmemiliki namaalias Nyimas Ratu Pandanwangi ini aromacinta yang terendus akan-segera meresap kedalam jiwa pembaca.

Mari kita simak beberapajudul-judul sa-jak yang saya maksud: Ringkang Kame-lang, Tanjung Panineungan, Angin Gan-drung, Tembang Kasmaran, KumambangAsih, Asih Tingtrim, Hareuios Polos, Ka-benqbat, Kapaut Imut, Dahlia NgumbarCimata, Pileuleuyan keur NuMulang, La-yung Kasumba, Hariring Asih, Kalang-

kang Asih, Asih Maranti, Kacapi Ati, AnginTresna, dan Damar Katresna.

**CINTA yang dalam kebudayaan Sunda

kerap disamakan dengan tresna, asmara,duriat, eceng, pulas kayas, atawa kasumbadalam bukuAngin Gandrung sejauh yangsaya pikir dan rasakan senandung cintayang dilantunkannya seakan mengenangmasa-masa indah yang telah hilang, keter-pesonaan pada seseorang, adanya rasa keke-

cewaan, cenderung ngungun, tetapi sedikitmemiliki harapan untuk mendapat keindah-an dan kebahagiaan.

Seperti sajak-sajak Sunda lainnya, sajak-sa-jak dalamAngin Gandrung amat mengagumipurwakanti. Irama atau bunyi puisi sangatmendominasi. Bahkan, saking fanatiknya,makna dari puisi terkadang tertutupi olehhamburan kata-kata yang berindah-indah ria.

Hal itu, saya pikir, karena penyair ini ter-pengaruh atau memengaruhi diri pada syair

kawih dan tembang Sunda. Untuk menye-but beberapa saja ada yang jelas-jelas meng-adopsi judul kawih dan tembang Sunda:"Jalan Satapak", "Kapaut Irnut", "Bulan Sa-pasi", atau "Ngumbar Lamunan".

Namun, harus saya akui penyair ini jugahafal betul pelbagai kearifan Sunda yangterkandung dalam babasan atau paribasaSunda. Pengetahuan babasan ini pula yangmewarnai sajak-sajak dalamAngin Gan-drung.

Kliping Humas Unpad 2010

T

U-lQ1'lll

SALAH seorang peserta membaea puisi dalam aeara "Lotnba Baea Pui .S da" k '" . ADE BAYU INDRA, 'PR'Gelanggang Generasi Muda, beberapa waktu lalu. * zsz un a untu mempfnngatz Hari Bahasa Ibu Internasional, di

Meski sadar betul dalam pemberdayaanbabasan dan paribasa Sunda, untuk me-ngem,hangkan sebuah karangan tampaknyaAmalina kurang membuka referensi dalamkamus, misalnya.Karena kurang rajin membuka kamus .

ungkapan Sunda yang kurang tepat dan ka-dung menyebar di masyarakat oleh Amalinaditulis tanpa saringan alias sesuai denganyang sudah ada. Sebagai contoh, berkali-kalimenulis "gunting pameulahan jambe". Pa-dahal, berdasarkan Kamus Basa Sunda R.Satjadibrata ungkapan Sunda yang benaradalah "gunting pameulahanjebug".Semen~ara itu, dengan nada-nada yang,

konon, disebut romantis, sajak-sajak dalamAngin Gandrung meski memendam ke- .nangan manis dan kekeeewaan namun tetapmenghormati batas-batas humanis. Hatinyamungkin teriris, tetapi ungkapannya tiditksinis. Kekecewaan dalam senandung eintaAngin Gandrung pada seseorang hanya di-hadirkan dengan pertanyaan-pertanyaanyang masih manusiawi.Purnama nyangga miragaj Bentanq

, kangen ngagaUndengj Mega man 'angkeun

ka,tre~na.1Tapi langit nyamuni~un asihllDi;salzkszkteu kapanggihj Diteanqan teunembonganj ~mutnya nyumputkeun semujTeuteupna nyzdemkeun geugeutjj Masih 'kara,0s geterna katresnaj Masili kajudisurtzna ati/ Najan dikemu na kalbu najandi~iden: na,ar:9.enj Tetep geter kanqeti lu-mzang jadi pzkzranj Naha salira teqa ma-reumkeun damar katresna?jj~ajak "Damar Katresna" yang direka di

Rajagaluh 22 November 2007 itu menan-daskan keeintaan akulirik pada seseorangtetap membara, meski orang yang dicintai-nya memutuskan api asmara, bahkan hilangentah ke mana.Namun, kehilangan di hadapan Amalina

adalah keadaan. Meski hilang sangpujaanterus bersemayam dalam jiwa kehidupan .Dengan meminjam citraan alam penyair iniber~eJ1andung kem~arz.g nganti dirungrunghalzmunj sugan bae bzsapeuyar jadi ciibun(bunga menanti diselimut kabutj semogabi~a cair jadi embun). (Neneng Ratna Su-nunar, alumnus Jurusan Ilmu Adminis-trasi Negara FISIP Unpad, peminat kesu-sastraan Sunda)***