of 62/62
Pendidikan Sosial Budaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada masa sekarang sudah sangat kompleks masalah lingkungan, sosial, budaya, dan masalah yang ditimbulkan oleh efek ilmu dan teknologi. Sumber masalah tersebut bukan berasal dari faktor tunggal. Banyak dimensi dan aspek lain yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumberdaya manusia (SDM) paripurna. Manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhlak mulia, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Karena itu, pendidikan sebagai jalur utama pengembangan SDM dan pembentukan karakter adalah kunci dalam menentukan nasib bangsa. Dalam kaitan ini, mutu pendidikan di Indonesia harus terus ditingkatkan agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. Untuk bersaing dengan negara lain maka manusia harus dibekali dasar-dasar atau kunci sukses mengetahui karakter, budaya, dan teknologi agar sumber daya manusia tersebut seimbang dengan situasi budaya, sosial, dan teknologi sesuai tempat dan zamannya. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah, 1. Bagaimana hubungan manusia dan kebudayaan ? Viona Pradya M | 1

Pendidikan Sosial Budaya

  • View
    25

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

UPI

Text of Pendidikan Sosial Budaya

Pendidikan Sosial Budaya

Pendidikan Sosial Budaya

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPada masa sekarang sudah sangat kompleks masalah lingkungan, sosial, budaya, dan masalah yang ditimbulkan oleh efek ilmu dan teknologi. Sumber masalah tersebut bukan berasal dari faktor tunggal. Banyak dimensi dan aspek lain yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Di era persaingan global, Indonesia memerlukan sumberdaya manusia (SDM) paripurna. Manusia yang cerdas, sehat, jujur, berakhlak mulia, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Karena itu, pendidikan sebagai jalur utama pengembangan SDM dan pembentukan karakter adalah kunci dalam menentukan nasib bangsa. Dalam kaitan ini, mutu pendidikan di Indonesia harus terus ditingkatkan agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. Untuk bersaing dengan negara lain maka manusia harus dibekali dasar-dasar atau kunci sukses mengetahui karakter, budaya, dan teknologi agar sumber daya manusia tersebut seimbang dengan situasi budaya, sosial, dan teknologi sesuai tempat dan zamannya.

B. Rumusan MasalahAdapun rumusan masalah pada makalah ini adalah,1. Bagaimana hubungan manusia dan kebudayaan ?2. Bagaimana hubungan manusia dan peradaban ?3. Bagaimana hubungan manusia sebagai individu dan makhluk sosial ?4. Bagaimana hubungan manusia, nilai, moral, dan hukum ?5. Bagaimana hubungan manusia, keragaman, dan kesederajatan ?6. Bagaimana hubungan manusia, sains, teknologi, dan seni ?

C. Tujuan PenulisanAdapun rumusan masalah pada makalah ini adalah,

1. Untuk mengetahui hubungan manusia dan kebudayaan.2. Untuk mengetahui hubungan manusia dan peradaban .3. Untuk mengetahui hubungan manusia sebagai individu dan makhluk sosial.4. Untuk mengetahui hubungan manusia, nilai, moral, dan hukum.5. Untuk mengetahui hubungan manusia, keragaman, dan kesederajatan.6. Untuk mengetahui hubungan manusia, sains, teknologi, dan seni.

D. Sistematika PenulisanBAB I Pendahuluan, penulis membahas mengenail latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.BAB II Pembahasan, penulis membahas mengenai manusia dan kebudayaan; manusia dan peradaban; manusia sebagai individu dan makhluk sosial; manusia, nilai, moral, dan hukum; manusia, keragaman, dan kesederajatan; dan manusia, sains, teknologi, dan seni.BAB III Penutup, penulis membahas mengenai kesimpulan dari makalah ini.

BAB IIPEMBAHASAN

A. Manusia dan Kebudayaan

Manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia menciptakan kebudayaan.

1. Hakikat Manusia sebagai Makhluk BudayaManusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan di alam fana ini ada empat macam, yaitu alam, tumbuhan, binatang, dan manusia. Sifat-sifat yang dimiliki keempat makhluk Tuhan tersebut sebagai berikut,a) Alam memiliki sifat wujud.b) Tumbuhan memilki sifat wujud dan hidup.c) Binatang memiliki sifat wujud, hidup, dan dibekali nafsu.d) Manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi.

Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk hidup. Kelebihan manusia dibanding makhluk lain terletak pada akal budi. Anugerah Tuhan akan akal budilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Berpikir merupakan perbuatan operasional dari akal yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. Jadi, fungsi dari akal adalah berpikir. Karena manusia dianugerahi akal maka manusia dapat berpikir. Kemampuan berpikir manusia juga digunakan untuk memecahkan masalah-masalah hidup yang dihadapinya.

Budi berarti juga akal. Budi berasal dari bahasa Sansekerta budh yang artinya akal. Budi menurut KBBI adalah bagian dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan baik-buruk sesuatu. Budi dapat pula berarti tabiat, perangai, dan akhlak.

Dengan akal budinya, manusia mampu menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbaharui, memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan hidup manusia. Contohnya, manusia bisa membangun rumah, membuat aneka masakan, menciptakan beragam jenis pakaian, membuat alat transportasi, sarana komunikasi, dan lain-lain. Binatang pun bisa membuat rumah dan mencari makan. Akan tetapi, rumah dan makanan suatu jenis binatang tidak pernah berubah dan berkembang. Rumah burung (sarang) dari dulu sampai sekarang tetap saja wujudnya, tidak ada pembaharuan dan peningkatan. Manusia dengan kemampuan akal budinya bisa memperbarui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup.

Kepentingan hidup manusia adalah dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Secara umum, kebutuhan manusia dalam kehidupan dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, kebutuhan yang bersifat kebendaan (sarana-prasarana) atau badani/ragawi atau jasmani/biologis. Contohnya adalah makan, minum, bernapas. Kedua, kebutuhan yang bersifat rohani atau mental atau psikologi. Contohnya adalah kasih sayang, pujian, perasaan aman.

Abraham Maslow seorang ahli psikologi, berpendapat bahwa kebutuhan manusia dalam hidup dibagi menjadi 5 tingkatan. Kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :1. Kebutuhan fisiologis. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, primer, dan vital. Kebutuhan ini menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal.2. Kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan. Kebutuhan ini menyangkut perasaan, seperti bebas dari rasa takut, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit.3. Kebutuhan sosial. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerjasama.4. Kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan dihargainya kemampuan, kedudukan, dan jabatan.5. Kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan untuk memaksimalkan penggunaan potensi-potensi, kemampuan, dan bakat.

Aktualisasi Diri5

Penghargaan4

3Sosial

Rasa Aman2

1Fisiologis

Gambar 1. Piramida Kebutuhan Maslow

Dengan akal budi, manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mampu mempertahankan serta meningkatnya derajatnya sebagai makhluk yang tinggi bila dibanding dengan makhluk lain. Manusia tidak sekedar homo, tetapi human (manusia yang manusiawi). Dengan demikian, manusia memiliki dan mampu mengembangkan sisi kemanusiannya.

Dengan akal budi, manusia mampu menciptakan kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil akal budi manusia dalam iteraksinya, baik dengan alam maupun manusia lainnya. Manusia merupakan makhluk yang berbudaya. Manusia adalah pencipta kebudayaan.

2. Apresiasi terhadap Kemanusiaan dan Kebudayaan

a) Manusia dan KemanusiaanKemanusiaan berarti hakikat dan sifat-sifat khas manusia sebagai makhluk yang tinggi harkat martabatnya. Kemanusiaan menggambarkan ungkapan akan hakikat dan sifat yang seharusnya dimiliki oleh makhluk yang bernama manusia. Kemanusiaan merupakan prinsip atau nilai yang berisi keharusan/tuntutan untuk bersesuaian dengan hakikat dari manusia.

Hakikat manusia Indonesia berdasarkan Pancasila sering dikenal dengan sebutan hakikat kodrat monopluralis. Hakikat manusia terdiri atas,1) Monodualis susunan kodrat manusia yang terdiri dari aspek keragaman, meliputi wujud materi anorganis benda mati, vegetatif, dan animalis.2) Monodualis sifat kodrat manusia terdiri atas segi individu dan segi sosial.3) Monodualis kedudukan kodrat meliputi segi keberadaan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian merdeka (berdiri sendiri) sekaligus juga menunjukkan keterbatasannya senagai makhluk Tuhan.Hakikat manusia harus dipandang secara utuh. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna karena ia dibekali akal budi. Manusia memiliki harkat dan derajat yang tinggi. Harkat adalah nilai, sedangkan derajat adalah kedudukan. Pandangan demikian berlandaskan pada ajaran agama yang diyakini oleh manusia sendiri. Karena manuia memiliki harkat dan derajat yang tinggi maka manusia hendaknya mempertahankan hal tersebut. Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan harkat dan martabatnya tersebut, maka prinsip kemanusiaan berbiacara. Prinsip kemanusiaan mengandung arti adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia yang luhur itu. Semua manusia adalah luhur, karena itu manusia tidak harus dibedakan perlakuannya hanya karena perbedaan suku, ras, keyakinan, status sosial ekonomi, asal usul, dan sebagainya.Ada ungkapan bahwa the mankind is one (kemanusiaan adalah satu). Dengan demikian, sudah sewajarnya antarsesama manusia tidak saling menindas, tetapi saling menghargai dan saling mengormati dengan pijakan prinsip kemanusiaan. Prinsip kemanusiaan yang ada dalam diri manusia menjadi penggerak manusia untuk berperilaku yang seharusnya sebagai manusia.Dalam Pancasila sila kedua terdapat konsep kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan dan susila yang berdasarkan atas nilai dan norma moral. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran akan sikap dan perbuatan yang didasarkan pada budi nurani manusia yang dihubungkan dengan norma-norma, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap lingkungannya.b) Manusia dan KebudayaanKebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Ada pendapat lain mengatakan budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi merupakan unsur rohani, sedangkan daya adalah unsur jasmani manusia. Dengan demikian, budaya merupakan hasil budi dan daya dari manusia.

Definisi kebudayaan telah banyak dikemukakan oleh para ahli, misalnya :a. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi lain, yang keudian disebut sebagai superorganik.b. Andreas Eppink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, ditambah lagi dengan segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.c. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

3. Etika dan Estetika Berbudaya

a) Etika Manusia dalam BerbudayaKata etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos. Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik-nuruk, yang diterima umum tentang sikap, perbuatan, kewajiban, dam sebagainya. Etika bisa disamakan artinya dengan moral, akhlak, atau kesusilaan. Etika berkaitan dengan masalah nilai, karena etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai susila, atau tidak susila, baik dan buruk. Dalam hal ini, etika termasuk dalam kawasan nilai, sedangkan nilai etika itu sendiri berkaitan dengan baik buruk perbuatan manusia.

Namun, etika memiliki makna yang bervariasi. Bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika sebagai berikut.1) Etika dalam arti nilai nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.2) Etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral (yang dimaksud disini adalah kode etik)3) Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang yang baik dan yang buruk. Disini etika sama artinya dengan filsafat moral.Etika sebagai nilai dan norma etik atau moral yang berhubungan dengan makna etika yang pertama. Nilai-nilai etik adalah nilai tentang baik buruk kelakuan manusia. Nilai etik diwujudkan ke dalam norma etik, norma moral, atau norma kesusialaan.Norma etik berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi. Pendukung norma etik adalah nurani individu dan bukan manusia sebagai makhluk sosial atau sebagai anggota masyarakat yang terorganisir. Norma ini dapat melengkapi ketidakseimbangan hidup pribadi dan mencegah kegelisahan diri sendiri.Norma etik ditujukan kepada umat manusia agar terbentuk kebaikan akhlak pribadi guna penyempurnaan manusia dan melarang manusia melakukan perbuatan jahat. Membunuh, berzina, mencuri, dan sebagainya tidak hanya dilarang oleh norma kepercayan atau keagamaan saja, tetapi dirasakan juga sebagai betentangan dengan (norma) kesusilaan dalam setiap hati nurani manusia. Norma etik hanya membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban saja.Asal atau sumber norma etik adalah dari manusia sendiri yang bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir, tetapi ditujukan kepada sikap batin manusia. Batinnya sendirilah yang mengancam perbuatan yang melanggar norma kesusialaan dengan sanksi. Tidak ada kekuasaan di luar dirinya yang memaksakan sanksi itu. Kalau terjadi pelanggaran norma etik, misalnya pencurian atau penipuan, maka akan timbulah dalam hati nurani si pelanggar itu rasa penyesalan, rasa malu, takut, dan merasa bersalah.Daerah berlakunya norma etik relatif universal, meskipun tetap dipengaruhi oleh ideologi masyarakat pendukunya. Perilaku membunuh adalah perilaku yang amoral, asusila, atau tidak etis. Pandangan ini bisa diterima oleh orang di mana saja atau universal. Namun, dalah hal tertentu, perilaku seks bebas bagi masyarakat penganut kebebasan kemungkinan bukan perilaku yang amoral. Etika masyarakat Timur mungkin berbeda dengan etika masyarakat Barat.Norma etik atau norma moral menjadi acuan manusia dalam berperilaku. Dengan norma etik, manusia bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk. Norma etik menjadi semacam das sollen untuk berperilaku baik. Manusia yang beretika berarti perilaku manusia itu baik sesuai dengan norma-norma etik.Budaya atau kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa manusia. Manusia yang beretika akan menghasilkan budaya yang memiliki nilai-nilai etik pula. Etika berbudaya mengandung tuntutan/keharusan nahwa budaya yang diciptakan manusia mengandung nilai-nilai etik yang kurang lebih bersifat universal atau diterima sebagian besar orang. Budaya yang memiliki nilai-nilai etik adalah budaya yang mampu menjaga, mempertahankan, bahkan mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Sebaliknya, budaya yang tidak beretika adalah kebudayaan yang akan merendahkan atau bahkan menghancurkan mertabat kemanusiaan.Namun demikian, menentukan apakah suatu budaya yang dihasilkan manusia itu memenuhi nilai-nilai etik ataukah menyimpang dari nilai etika adalah bergantung dari paham atau ideologi yang diyakini masyarakat pendukung kebudayaan. Hal ini dikarenakan berlakunya nilai-nilai etik bersifat universal, namun amat dipengaruhi oleh ideologi masyarakatnya.Contohnya, budaya berperilaku berduaan di jalan antara sepasang muda-mudi, bahkan bermesraan di depan umum. Masyarakat individual menyatakan hal demikian bukanlah perilaku tidak etis, tetapi akan ada sebagian orang atau masyarakat yang berpandangan hal tersebut merupakan penyimpangan etik.b) Estetika Manusia dalam BerbudayaEstetika dapat dikatakan sebagai teori tentang keindahan atau seni. Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek. Nilai estetika berarti nilai tentang keindahan. Keindahan dapat diberi makna secara luas, secara sempit, dan estetik murni.a) Secara luas, keindahan mengandung ide kebaikan. Bahwa segala sesuatu yang baik termasuk abstrak maupun nyata yang mengandung ide kebaikan adlaha indah. Keindahan dalam arti luas mengandung banyak hal, seperti watak yang indah, hukum yang indah, ilmu yang indah, dan kebajikan yang indah. Indah dalam arti luas mencakup hampir seluruh yang ada, apakah merupakan hasil seni, alam, moral, dan intelektual.b) Secara sempit, yang indah yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna).c) Secara estetik murni, menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya melalui penglihatan, pendengaran, peradaban dan perasaan, yang semuanya dapat menimbulkan persepsi (anggapan indah).Jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika berkaitan dengan nilai tentang baik buruk, sedangkan estetika berkaitan dengan hal yang indah jelek. Sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsur keindahan (secara estetik murni maupun secara sempit, baik dalam bentuk, warna, garis, kata, atau pun nada). Budaya yang estetik berarti budaya itu memiliki unsur keindahan.Apabila nilai etik bersifat relatif universal, dalam arti bisa diterima banyak orang, namun nilai estetik amat subjektif dan partikular. Sesuatu yang indah bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain. Karena subjektif, nilai estetik tidak bisa dipaksakan pada orang lain. Kita tidak bia memaksa seseorang untuk mengakui keindahan sebuah lukisan sebagaimana pandangan kita. Nilai-nilai estetik lebih bersifat perasaan, bukan pernyataan.Budaya sebagai hasil karya manusia sesungguhnya diupayakan untuk memenuhi unsur keindahan. Manusia sendiri memang suka akan keindahan. Di sinilah manusia berusaha berestetika dalam berbudaya. Semua kebudayaan pastilah dipandang memiliki nilai-nilai estetik bagi masyarakat pendukung budaya tersebut. Hal-hal yang indah dan kesukaannya pada keindahan diwujudkan dengan menciptakan aneka ragam budaya.Namun sekali lagi, bahwa suatu produk budaya yang dipandang indah masyarakat pemiliknya belum tentu indah bagi masyarakat budaya lain. Karena itu, estetika berbudaya tidak semata-mata dalam berbudaya harus memenuhi nilai-nilai keindahan. Lebih dari itu, estetika berbudaya menyiratkan perlunya manusia (individu atau masyarakat) untuk menghargai keindahan budaya yang dihasilkan manusia lainnya. Keindahan adalah subjektif, tetapi kita dapat melepas subjektifitas kita untuk melihat adanya estetika dalam budaya lain. Estetika berbudaya yang demikian akan mampu memecah sekat-sekat kebekuan, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan rasa inferioritas antarbudaya.4. Memanusiakan Manusia

Manusia tidak hanya menjadi sebatas homo, tetapi harus meningkatkan diri menjadi human. Manusia harus memiliki prinsip, nilai, dan rasa kemanusiaan yang melekat dalam dirinya. Manusia memiliki peri kemanusiaan, tetapi binatang tidak bisa dikatan memiliki perikebinatangan. Hal ini karena binatang tidak memiliki akal budi, sedangkan manusia memiliki akal budi yang memunculkan rasa atau perikemanusiaan. Perikemanusiaan inilah yang mendorong perilaku baik sebagai manusia.

Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia lainnya. Memanusiakan manusia adalah tidak menindas sesama, tidak menghardik, tidak bersifat kasar, tidak menyakiti, dan perilaku-perilaku buruk lainnya.Memanusiakan manusia berarti perilaku memanusiawikan antarsesama. Memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri akan menunjukkan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan bagi orang lain akan memberikan rasa percaya, rasa hormat, kedamaian, dan kesejahteraan hidup.Sebaliknya, sikap tidak manusiawi terhadap manusia lain hanya akan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang sesungguhnya makhluk mulia. Sedangkan bagi orang lain, sebagai korban tindakan yang tidak manusiawi akan menciptakan penderitaan, kesusahan, ketakutan, perasaan dendam, dan sebagainya. Sejarah membuktikan bahwa perseturuan, pertentangan, dan peperangan yang terjadi di berbagai belahan dunia adalah karena manusia belum mampu memanusiakan manusia lain, dan sekelompok bangsa menindas bangsa lain. Penjajahan atau kolonialisme adalah contoh perilaku suatu bangsa menindas bangsa lain. Penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan.Dewasa ini, perilaku tidak manusiawi dicontohkan dengan adanya kasus kekerasan terhadap para pembantu rumah tangga. Sikap dan peilaku memanusiakan manusia didasarkan atas prinsip kemanusian yang disebut the mankind is one. Prinsip kemanusiaan tidak membeda-bedakan kita dalam memperlakukan orang lain atas dasar warna kulit, suku, agama, ras, asal, dan status sosial ekonomi. Kita tetap harus manusiawi terhadap orang lain, apa pun latar belakanya, karena semua manusia adalah makhluk Tuhan yang sama harkat dan martabatnya. Perilaku yang manusiawi atau memanusiakan manusia adalah sesuai dengan kodrat manusia. Sebaliknya, perilaku yang tidak manusiawi bertentangan dengan hakikat kodrat manusia. Perilaku yang tidak manusiawi pasti akan mendatangkan kerusakan hidup manusia.5. Problematika KebudayaanKebudayaan yang diciptakan manusia dalam kelompok dan wilayah berbeda-beda menghasilkan keragaman kebudayaan. Tiap persekutuan manusia (masyarakat, suku, atau bangsa) memiliki kebudayaannya sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Kebudayaan yang dimiliki kelompok manusia membentuk ciri dan menjadi pembeda dengan kelompok lain. Dengan demikian, kebudayaan merupakan identitas dari persekutuan hidup manusia.Dalam rangka pemenuhan hidupnya, manusia akan berinteraksi dengan manusia lain, masyarakat berhubungan dengan masyarakat lain, demikian pula terjadi hubungan antarpersekutuan hidup manusia dari waktu ke waktu terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Kebudayaan yang ada ikut pula mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup manusia sebagai pemilik kebudayaan. Berkaitan dengan hal tersebut kita mengenal adanya pewarisan kebudayaan perubahan kebudayaan, dan penyebaran kebudayaan.B. Manusia dan Peradaban1. Hakikat PeradabanPeradaban memiliki kaitan yang erat dengan kebudayaan. Pada materi sebelumnya kita telah mengetahui makna kebudayaan. Hasil atau produk kebudayaan manusia inilah yang menghasilkan peradaban.Peradaban berasal dari kata adab yang dapat diartikan sopan, berbudi pekerti, luhur, mulia, berakhlak, yang semuanya menunjuk pada sifat yang tinggi dan mulia. Huntington (2001) mendefinisikan peradaban (civilization) sebagai the highest social grouping of people andn the distinguish humans from other species. Peradaban tidak lain adalah perkembangan kebudayaan yang telah mendapat tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya. Taraf kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu tercermin pada pendukungnya yang dikatakan sebagai beradab atau mencapai peradaban yang tinggi.Dari batasan pengertian di atas, maka istilah peradaban dering dipakai untuk hasil kebudayaan seperti kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi, adat, sopan santun, serta pergaulan. Selain itu, kepandaian menulis, organisasi bernegara serta masyarakat kota yang maju dan kompleks. Peradaban menunjuk pada hasil kebudayaan yang bernilai tinggi dan maju. Karena itu, dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat atau bangsa dimana pun selalu berkebudayaan, tetapi tidak semuanya telah memiliki peradaban. Perdaban merupakan tahap tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh tingkat ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang telah maju.Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan tingkat pendidikan. Dengan demikian, suatu bangsa yang memiliki kebudayaan tinggi (peradaban) dapat dinilai dari tingkat pendidikan, kemajuan teknologi, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat akan senantiasa berkembang. Karena itu, peradaban masyarakat juga akan berkembang sesuai dengan zamannya. Peradaban bangsa dalam suatu kurun waktu tertentu dianggap tinggi di zamannya. Namun, penilaian atas peradaban manusia pada masa sekarang.Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memengaruhi peradaban sebuah bangsa. Kemampuan teknologi menjadikan bangsa itu dianggap lenih maju dari bangsa-bangsa lain pada zamannya. Kemajuan teknologi bisa diliat dari insfrastruktur bangunan, sarana yang dibuat, lembaga yang dibentuk, dan lain-lain. Contoh bangsa-bangsa yang dimiliki peradaban tinggi pada masa lampau adalah tinggal di lembah Sungai Nil, lembah Sungai Eufrat Tigris, lembah Sungai Indus, dan lembah Sungai Hoang Ho di Cina.Masyarakat pada saat ini tetap memberi penghargaan dan apresiasi yang tinggi untuk peradaban pada masa itu. Bukti akan hal tersebut adalah pengakuan masyarakat dunia akan adanya keajaiban dunia, yang pada hakikatnya berasal dari peradaban masa lalu. Keajaiban dunia yang terkenal saat ini antara lain,a) Piramida di Mesir merupakan makam raja-raja mesir kuno.b) Taman gantung di Babylonia.c) Menara Pisa di Italia.d) Menara Eiffel di Paris.e) Candi Borobudur di Indonesia.f) Taj Mahal di India.g) Patung Zeus yang tingginya 14 m dan seluruhnya terbuat dari emas.h) Kuil Artemis merupakan kuil terbesar di Yunani.Selain dari kemajuan teknologi yang dimiliki sebuah bangsa, peradaban ditentukan pula oleh tingkat pendidikan. Salah satu ciri yang penting dalam definisi peradaban adalah berbudaya, yang dalam bahasa Inggris disebut cultured. Orang yang cultured adalah juga yang lettered, artinya melek huruf. Namun, pengertian lettered dalam hal ini tidak sekedar bisa membaca dan menulis hal yang sederhana. Orang yang sekedar bisa membaca karangan yang sederhana dan memahami kesenian yang tidak kompleks dianggap unlettered. Akibatnya, pembaca sastra dan peminat seni picisan dianggap uncultured. Orang yang cultured adalah yang mampu menghayati dan memahami hasil kebudayaan adiluhung, yang hanya bisa didapatkan dengan pendidikan yang tarafnya tinggi. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang terdidik. Akan tetapi, bangsa yang berbudaya belum tentu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.2. Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat BeradabPeradaban tidak hanya menunjuk pada hasil-hasil kebudayaan manusia yang sifatnya fisik, seperti barang, bangunan, dan benda-benda. Perdaban tidak hanya merujuk pada wujud benda hasil budaya, tetapi juga wujud gagasan dan perilaku manusia. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari hasil budidaya manusia, baik cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan berwujud gagasan/ide, perilaku/aktivitas, dan benda-benda. Sedangkan peradaban adalah bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Jadi, peradaban termasuk pula di dalamnya gagasan dan perilaku manusia yang tinggi, halus, dan maju.Peradaban sebagai produk yang bernilai tinggi, halus, indah, dan maju menunjukkan bahwa manusia memanglah merupakan makhluk yang memiliki kecerdasan, keberadaan, dan kemauan yang kuat. Manusia merupakan makhluk yang beradab sehingga mampu menghasilkan peradaban. Di samping itu, manusia sebagai makhluk sosial juga mampu menciptakan masyarakat yang beradab.Adab artinya sopan. Manusia sebagai makhluk beradab artinya pribadi manusia itu memiliki potensi untuk berlaku sopan, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur. Sopan, berakhlak, dan berbudi pekerti yang luhur menunjuk pada perilaku manusia. Orang yang beradab adalah orang yang berkesopanan, berakhlak, dan berbudi pekerti luhur dalam perilaku, termasuk pula gagasan-gagasannya. Manusia yang beradab adalah manusia yang bisa menyelaraskan antara cipta, rasa, dan karsa. Kaelan (2002) menyatakan manusia yang beradab adalah manusia yang mampu melaksanakan hakikatnya sebagai manusia. Kebalikannya adalah manusia yang biadab atau dikenal dengan istilah barbar. Secara sempit, orang yang biadab diartikan sebagai orang yang perilakunya tidak sopan, tidak berakhlak, dan tidak memiliki budi pekerti yang mulia. Orang yang biadab juga tidak mampu menyeimbangkan antara cipta, rasa, dan karsanya sebagai manusia. Misalnya, kemampuan cipta manusia dalam membuat senjata digunakan untuk saling membunuh antarsesama.Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang beradab sebab dianugerahi harkat, martabat, serta potensi kemanusiaan yang tinggi. Namun, dalam perkembangannya manusia bisa jatuh dalam perilaku kebiadaban karena tidak mampu menyeimbangkan atau mengendalikan cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya. Manusia tersebut telah melanggar hakikat kemanusiannya sendiri.Manusia sebagai makhluk sosial membentuk persekutuan-persekutuan hidup, yaitu masyarakat. Manusia beradab pastilah berkeinginan membentuk masyarakat yang beradab. Terbentuklah masyarakat beradab atau berkeadaban.Dewasa ini, masyarakat adab memiliki padanan isitilah yang dikenal dengan masyarakat madani atau masyarakat sipil (civil society). Konsep masyarakat adab berasal dari konsep civil society, dari asal kata society civilis. Istilah masyarakat adab dikenal dengan kata lain masyarakat sipil, masyarakat warga, atau masyarakat madani.Pada mulanya, civil society berasal dari dunia Barat. Adalah Dato Anwar Ibrahim (mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia) yang pertama kali memperkenalkan istilah masyarakat madani sebagai istilah lain dari civil society. Nurcholish Madjid mengindonesiakan civil society (Inggris) dengan masyarakat madani. Kata civil society memiliki dasar kata yang sama dengan civic (kewargaan) dan city (kota) dari kata dasar berbahasa Latin civis. Kemudian, kata civil tumbuh menjadi bermakna dari atau dalam persesuaian dengan teratur, beradab.Masyarakat adab pada dasarnya merupakan keinginan yang tulus dari manusia sebagai makhluk yang beradab. Namun, sebagaimana halnya dengan individu, masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu bisa saling bertengkar, saling bertikai, bahkan saling membunuh antarkelompok masyarakat. Bukti bahwa perang yang sampai saat ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, menunjukkan bahwa cita-cita masyarakat adab harus senantiasa diperjuangkan, dipertahankan, dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.3. Evolusi Budaya dan Wujud Peradaban dalam Kehidupan Sosial BudayaKebudayaan itu telah mengalami proses perkembangan secara bertahap dan berkesinambungan yang kita konsepkan sebagai evolusi kebudayaan. Evolusi kebudayaan ini berlangsung sesuai dengan perkembangan budi daya atau akal pikiran manusia dalam menghadapi tantangan hidup dari waktu ke waktu. Proses evolusi untuk tiap kelompok masyarakat di berbagai tempat berbeda-beda, bergantung pada tantangan, lingkungan, dan kemampuan intelektual manusianya untuk mengantisipasi tantangan tadi.Adanya kebudayaan bermula dari kemampuan akal dan budi daya manusia dalam menganggapi, merespons, dan mengatasi tantangan alam dan lingkungan dalam upaya mencapai kebutuhan hidupnya. Dengan potensi akal dan budi inilah manusia menaklukan alam. Manusia menemukan dan menciptakan berbagai sarana hidup sebagai upaya mengatasi tantangan alam. Manusia menciptakan kebudayaan.Dalam kehidupan manusia dapat kita bagi dua, yaitu masa prasejarah (masa sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan) dan masa sejarah (masa manusia telah mengenal tulisan). Data-data tentang masa prasejarah diambil dari sisa-sisa dan bukti-bukti yang digali dan diinterpretasikan. Masa sejarah bermula ketika adanya catatan tertulis untuk dijadikan bahan rujukan. Penciptaan tulisan ini merupakan satu penemuan revolusioner yang genius. Bermula dari penciptaan properti dan lukisan objek, seperti kambing, lembu, wadah, ukuran barang, dan sebagainya; diikuti dengan indikasi angka; kemudian diikuti simbol yang mengindikasikan transaksi, nama, dan alamat yang bersangkutan; selanjutnya simbol untuk fenomena harian, hubungan antara mereka, dan akhirnya intisari, seperti warna, bentuk, dan konsep.4. Dinamika Peradaban GlobalMenurut Arnold Y.Toynbee, seorang sejarawan asal Inggris, lahirnya peradaban itu diuraikan dengan teori challenge and respons. Peradaban itu lahir sebagai respons (tanggapan) manusia yang dengan segenap daya upaya dan akalnya menghadapi, menaklukkan, dan mengolah alam sebagai tantangan (challenge) guna mencukupi kebutuhan dan melestarikan kelangsungan hidupnya.Alam menawarkan sejumlah tantangan dan kemungkinan-kemungkinan. Ada alam yang tandus atau subur, di pegunungan atau pantai, daerah yang rawan gempa atau yang tanahnya stabil, dan seterusnya. Jika tantangan alam itu berat maka manusia pun akan gigih dan berusaha keras dalam merespons alam tersebut, begitu pun sebaliknya.Setiap kali timbul kebutuhan akan sesuatu, manusia akan berusaha menemukan jalan untuk memperolehnya. Seluruh perangkat ide, metode, teknik, dan benda material yang digunakan dalam suatu jangka waktu tertentu dalam suatu tempat tertentu maupun kegiatan untuk merombak perangkat tersebut demi memenuhi kebutuhan hidup manusia disebut teknologi. Teknologi lahir dan dikembangkan oleh manusia, dan ilmu untuk menguasai dan memanfaatkan lingkungan sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi.Penerapan teknologi itu bertujuan untuk memudahkan kerja manusia, agar meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya. Alvin Toffler menganalisis geja-gejala perubahan dan pembaharuan peradaban masyarakat akibat majunya ilmu dan teknologi. Dalam bukunya The Third Wave (1981), ia menyatakan bahwa gelombang perubahan peradaban umat manusia sampai saat ini telah mengalami tiga gelombang, yaitu,a) Gelombang I, peradaban teknologi pertanian berlangsung mulai 800 SM-1500 M.b) Gelombang II, peradaban teknologi industri berlangsung mulai 1500 M 1970 M.c) Gelombang III, peradaban informasi berlangsung mulai 1970 M sekarang.Setiap gelombang peradaban tersebut dikuasai oleh tingkat teknologi yang digunakan. Gelombang pertama (the first wave) dikenal dengan revolusi hijau. Dalam gelombang pertama ini manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Pertanian terbatas pada pengelolaan lahan-lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan manusia. Pada awalnya, manusia berpindah-pindah dalam memanfaatkan lahan untuk mendapatkan hasil pertanian melalui teknologi pengumpulan hasil hutan. Selanjutnya, mereka berpindah ke penerapan teknologi pertanian, dimana manusia cenderung bertempat tinggal di suatu tempat yang kemudian menumbuhkan desa.Gelombang kedua adalah adanya revolusi industri terutama di negara-negara barat yang dimulai dengan revolusi industri di Inggris. Masa gelombang kedua adalah masa revolusi industri, yaitu kira-kira tahun 1700-1970. Masa ini dimulai dengan penemuan mesin uap pada tahun 1712. Pada masa itu ditemukan mesin eletro mekanis raksasa, mesin-mesin bergerak cepat, dan ban jalam. Mesin-mesin tersebut tidak hanya menggantikan otot-otot manusia, tetapi peradaban industri juga memberi mesin-mesin tersebut alat-alat pancaindera sehingga mesin-mesin dapat mendengar dan melihat lebih tajam daripada indra manusia, dan dapat menghasilkan/melahirkan bermacam-macam mesin baru, yang akhirnya dikoordinir dengan rapi menjadi pabrik. Penggunaan mesin industri, mesin uap, dan mesin pemintal dalam industri garmen dan industri tambang telah memajukan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Eropa.Gelombang ketiga merupakan revolusi informasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi indformasi yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi dalam berbagai bidang. Gelombang ketiga terjadi dengan kemajuan teknologi dalam bidang,a) Komunikasi dan data prosseing.b) Penerbangan dan angkasa luar.c) Energi alternatif dan energi yang dapat diperbarui.d) Terjadinya urbanisasi, yang disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi.Gelombang ketiga ini melahirkan suatu masyarakat dunia yang dikenal dengan sebutan the global village (kampung global). Kita sekarang berada pada gelombang ketiga atau masa revolusi informasi. Diperkirakan era informasi ini akan mencapai puncaknya pada 10 s.d. 2tahun mendatang.John Naisbitt dalam bukunya Megatrends (1982), menyatakan bahwa globalisasi memunculkan perubahan-perubahan yang akan dialami oleh negara-negara dunia. Perubahan itu terjadi karena interaksi yang dekat dan intensif antarnegara, terutama negara berkembang akan terpengaruh oleh kemajuan di negara-negara maju. Perubahan-perubahan tersebut ialah,a) Perubahan dari masyarakat industri ke masyarakat informasi.b) Perubahan dari teknologi yang mengandalkan kekuatan tenaga ke teknologi canggih.c) Perubahan dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia.d) Perubahan dari jangka pendek ke jangka panjang.e) Perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi.f) Perubahan dari bantuan lembaga ke bantuan diri sendiri.g) Perubahan dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatori.h) Perubahan dari sistem hirarki ke jaringan kerja.i) Perubahan dari utara ke selatan.j) Perubahan dari satu diantara dua pilihan menjadi macam-macam pilihan.Naisbitt dan Patricia Aburdance (1990) kembali mengemukakan lagi adanya sepuluh macam perubahan di era global, yaitu,a) Abad biologi.b) Bangunannya sosialisme pasar bebas.c) Cara hidup global dan nasionalisme budaya.d) Dasawarsa kepemimpinan wanita.e) Kebangkitan agama dan milenium baru.f) Kebangkitan dalam kesenian.g) Kemenangan individu.h) Pertumbuhan ekonomi dunia dalam tahun 1990-an.i) Berkembangnya wilayah pasifik.j) Privitasi/swastanisasi atas negara kesejahteraan.

5. Problematika Peradaban Global pada Kehidupan ManusiaPeradaban global yang tengah terjadi dewasa ini tidak bisa dipisahkan dari globalisasi itu sendiri. Kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kera, sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan koeksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.Globalisasi digerakkan oleh kemajuan yang pesat dalam teknologi transportasi dan informasi komunikasi. Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.a) Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antarnegara menunjukkan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia.b) Perkembangan barang-barang.c) Pasar dan prosuksi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional.d) Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa.e) Meningkatnya masalah bersama.

C. Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial1. Hakikat Manusia sebgaia Makhluk Individu dan SosialUnsur- unsur hakikat manusia terdiri dari hal-hal berikut ini,a) Susunan kodrat manusia teridiri atas raga dan jiwa.b) Sifat kodrat terdiri atas makhluk individu dan sosial.c) Kedudukan kodrat terdiri atas makhluk berdiri sendiri dan makhluk Tuhan.Berdasarkan pembedaan demikian maka manusia sebagai makhluk individu dan sosial adalah hakikat manusia berdasar sifat-sifat kodrat yang melekat pada dirinya. Berdasarkan unsur hakikat manusia diatas, Notonagoro (1975) mengatakan bahwa sebagai makhluk individu dan makhluk sosial merupakan sifat kodrat dari manusia. Frans Magnis Suseno (2001) menyatakan bahwa manusia adalah individu yang secara hakiki bersifat sosial.1) Manusia sebagai Makhluk IndividuIndividu berasal dari bahasa Latin individuum yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dipakai untuk menyatakan satu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia secara keseluruhan yang tak dapat terbagi, melainkan sebagai kesatuan terbatas, yaitu perseorangan manusia, demikian pendapat Dr. A. Lysen.Manusia lahir sebagai makhluk individual yang bermakna tidak terbagi atau tidak terpisahkan antara jiwa dan raga. Secara biologis, manusia lahir dengan kelengkapan fisik, tidak berbeda dengan makhluk hewani. Namun, secara rohani ia sangat berbeda dengan makhluk hewani apa pun. Jiwa manusia merupakan satu kesatuan dengan raganya untuk selanjutnya melakukan aktivitas atau kegiatan. Kegiatan manusia tidak semata-mata digerakkan oleh jasmaninya, tetapi juga aspek rohaninya. Manusia mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk berkegiatan dalam hidupnya.Dalam perkembangannya, manusia sebagai makhluk individu tidak hanya bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya, termasuk kemampuan kecakapannya. Dengan demikian, manusia sebagai individu merupakan pribadi yang terpisah, berbeda dari pribadi lain. Manusia sebagai makhluk individu adalah manusia sebagai perseorangan yang memiliki sifat sendiri-sendiri. Manusia sebagai individu adalah bersifat nyata, berbeda dengan manusia lain dan sebagai pribadi dengan ciri khas tertentu yang berupaya merealisasikan potensi dirinya.Setiap manusia memiliki perbedaan. Hal itu dikarenakan manusia memiliki karakteristik sendiri. Ia memiliki sifat, watak, keinginan, kebutuhan, dan cita-cita yang berbeda satu sama lainnya. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan dengan ciri dan karakteristik yang unik yang satu sama lain berbeda. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk individu adalah unik. Setiap orang berbeda, bahkan orang yang dikatakan kembar pun pasti memiliki perbedaan. Jadi, meskipun banyak persamaan hakiki antarindividu, tetap tidak ada dua individu yang sama.Pertumbuhan dan perkembangan individu menjadi pribadi yang khas tidak terjadi dalam waktu sekejap, melainkan terentang sebagai kesinambungan perkembangan sejak masa janin, bayi, anak, remaja, dewasa, sampai tua. Istilah pertumbuhan lebih tertuju pada segi fisik atau biologis individu, sedangkan perkembangan tertuju pada segi mental psikologis individu.Pertumbuhan dan perkembangan individu dipengaruhi beberapa faktor. Mengenai hal tersebut ada tiga pandangan, yaitu,a) Pandangan nativistik menyatakan bahwa pertumbuhan individu semata-mata ditentukan atas dasar faktor dari dalam individu sendiri, seperti bakat dan potensi, termasuk pula hubungan atau kemiripan dengan orang tuanya. Misalnya, jika ayahnya seniman maka sang anak akan menjadi seniman pula.b) Pandangan empiristik meyatakan bahwa pertumbuhan individu semata-mata didasarkan atas faktor lingkungan. Lingkunganlah yang akan menentukan pertumbuhan seseorang. Pandangan ini bertolak belakang dengan pandangan nativistik.c) Pandangan konvergensi yang menyatakan bahwa pertumbuhan individu dipengaruhi oleh faktor diri individu dan lingkungan. Bakat anak merupakan potensi yang harus disesuaikan dengan diciptakannya lingkungan yang baik sehingga ia bisa tumbuh secara optimal. Pandangan ini berupaya menggabungkan kedua pandangan sebelumnya.Pada dasarnya, kegiatan atau aktivitas seseorang ditujukan untuk memenuhi kepentingan diri dan kebutuhan diri. Sebagai makhluk dengan kesatuan jiwa dan raga, maka aktivitas individu adalah untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan jiwa, rohani, atau psikologis, serta kebutuhan jasmani atau biologis. Pemenuhan kebutuhan tersebut adalah dalam rangka menjalani kehidupannya.Pandangan yang mengembangkan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah individu yang bebas dan merdeka adalah paham individualisme menekankan pada kekhususan, martabat, hak, dan kebebasan per orang. Manusia sebagai individu yang bebas dan merdeka tidak terikat apa pun dengan masyarakat atau pun negara. Manusia bisa berkembang dan sejahtera hidupnya serta berlanjut apabila dapat bekerja secara bebas dan berbuat apa saja untuk memperbaiki dirinya sendiri.2) Manusia sebagai Makhluk SosialManusia sebagai individu ternyata tidak mampu hidup sendiri. Ia dalam manjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri. Ia akan bergabung dengan manusia lain membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup. Dalam hal ini, manusia sebagai individu memasuki kehidupan bersama dengan individu lainnya.Menurut kodratnya, manusia dimana pun pada zaman apa pun selalu hidup bersama, hidup berkelompok. Dalam sejarah perkembangan manusia tidak terdapat seorang pun yang hidup menyendiri, terlepas dari pergaulan masyarakat hanya mungkin terjadi dalam dongeng belaka, namun dalam kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi. Sejak dulu, pada diri manusia terdapat hasrat untuk berkumpul dengan sesamanya dalam satu kelompok, hanya untuk bermasyarakat.Ada pun yang menyebabkan manusia selalu hidup bermasyarakat antara lain karena adanya dorongan kesatuan biologis yang terdapat dalam naluri manusia, misalnya,a) Hasrat untuk memenuhi keperluan makan dan minum.b) Hasrat untuk membela diri.c) Hasrat untuk mengadakan keturunan.Ada pun insting itu sudah ada pada diri manusia sejak ia dilahirkan. Kebutuhan akan makanan dan minuman termasuk kebutuhan primer untuk segala makhluk hidup baik hewan maupun manusia. Dalam usaha untuk mendapatkan keperluan hidupnya manusia perlu bantuan orang lain. Hidup sendiri akan menimbulkan kesulitan. Setiap usaha akan lebih mudah bila dikerjakan bersama-sama.Dalam kenyataannya kita melihat orang memburu hewan, menangkap ikan, bercocok tanam, dan sebagainya dilakukan secara bersama-sama. Dari keinginan untuk memperoleh keinginan hidupnya secara mudah itu maka timbullah dalam diri manusia suatu dorongan untuk hidup bersama dalam masyarakat. Sejak manusia dilahirkan, ia mempunyai dua keinginan pokok, yaitu,a) Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia di sekelilingnya.b) Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.Manusia sebagai makhluk sosial adalah manusia yang senantiasa hidup dengan manusia lain (masyarakatnya). Ia tidak dapat merealisasikan potensi hanya dengan dirinya sendiri. Manusia akan membutuhkan manusia lain untuk hal tersebut, termasuk dalam mencukupi kebutuhannyaSebagaimana telah dikemukakan di atas, kelompok masyarakat pertama adalah keluarga. Keluarga merupakan lingkungan manusia yang pertama dan utama. Dalam keluarga itulah manusia menemukan kodratnya sebagai makhluk sosial. Karena dalam lingkungan itulah ia untuk pertama kali berinteraksi dengan orang lian. Kelompok berikutnya adalah kelompok pertemanan, pergaulan, kelompok pekerja, dan masyarakat secara luas. Secara politik, kehidupan berkelompok manusia dimulai dari keluarga, marga, suku, bangsa, negara, bahkan masyarakat secara internasional.2. Peranan Manusia sebagai Makhluk Individu dan Sosiala) Peranan Manusia sebagai Makhluk IndividuSebagai invidu, manusia memiliki harkat dan martabat yang mulia. Setiap manusia dilahirkan sama dengan harkat dan martabat yang sama pula. Perbedaan yang ada seperti keyakinan, tempat tinggal, ras, suku, dan golongan tidak meniadakan persamaan akan harkat dan martabat manusia. Karena itu, pengakuan dan penghargaan manusia sebagai manusia mudah diperlukan. Pengakuan dan penghargaan itu diwujudkan dengan pengakuan akan jaminan atas hak-hak asasi manusia. Manusia memiliki hak-hak dasar yang sama yang tidak boleh halangi oleh manusia lain. Penindasan terhadap hak-hak dasar orang lain pada dasarnya adalah merendahkan derajat kemanusiaan. Seorang individu pastilah tidak mau harkat dan martabatnya direndahkan, bahkan diinjak-injak oleh individu lain.Manusia sebagai makhluk individu berupaya merealisasikan segenap potensi dirinya, baik potensi jasmani maupun potensi rohani. Jasmani atau raga adalah badan atau tubuh manusia yang bersifat kebendaan, dapat diraba, dan bersifat riil. Rohani atau jiwa adalah unsur-unsur manusia yang bersifat kerohanian, tidak berwujud, tidak bisa diraba, atau ditangkap dengan indera. Unsur jiwa ini terdiri dari tiga jenis, yaitu akal, rasa, dan kehendak.Sebagai makhluk individu, manusia berusaha memenuhi kepentingan atau mengejar kebahagiaan sendiri. Motif tindakannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang meliputi kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Penekan pada kepentingan diri memunculkan sifat individualistik dalam diri pribadi yang bersangkutan. Di samping itu, faktor pemenuhan atas kepentingan diri tersebut juga menjadikan individu akan saling bersaing untuk hal tersebut.Berdasarkan sifat kodrat manusia sebagai individu, dapat diketahui bahwa manusia memiliki harkat dan martabat, manusia memiliki hak-hak dasar, setiap manusia memiliki potensi diri yang khas, dan setiap manusia memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dirinya.Dengan uraian di atas, manusia sebagai makhluk individu berperan untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Manusia sebagai individu akan berusaha,1) Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya.2) Mengupayakan terpenuhi hak-hak dasarnya sebagai manusia.3) Merealisasikan segenap potensi diri baik sisi jasmani maupun rohani.4) Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya.

b) Peranan Manusia sebagai Makhluk SosialManusia sebagai pribadi adalah berhakikat sosial. Artinya manusia akan senantiasa dan selalu berhubungan dengan orang lain. Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Fakta ini memberikan kesadaran akan ketidakberdayaan manusia dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.Kebutuhan akan orang lain dan interaksi sosial membentuk kehidupan berkelompok pada manusia. Berbagai tipe kelompok sosial tumbuh seiring dengan kebutuhan manusia untuk saling berinteraksi.Dalam berbagai kelompok sosial ini, manusia membutuhkan norma-norma pengaturannya. Terdapat norma-norma sosial sebagai patokan untuk bertingkah laku bagi manusia dikelompoknya. Norma-norma tersebut ialah,1) Norma agama atau religi, yaitu norma yang bersumber dari Tuhan yang diperuntukan bagi umat-Nya. Norma agama berisi perintah agar dipatuhi dan larangan agar dijauhi umat beragama. Norma agama ada dalam ajaran-ajaran agama.2) Norma kesusilaan atau moral, yaitu norma yang bersumber dari hati nurani manusia untuk mengajak pada kebaikan dan menjauhi keburukan. Norma moral bertujuan agar manusia berbuat baik secara moral. Orang yang berkelakuan baik adalah orang yang bermoral, sedangkan yang berkelakuan buruk adalah tidak bermoral atau amoral.3) Norma kesopanan atau adat adalah norma yang bersumber dari masyarakat dan berlaku terbatas pada lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Norma ini dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarsesama.4) Norma hukum, yaitu norma yang dibuat masyarakat secara resmi (negara) tentang pemberlakuannya dapat dipaksakan. Norma hukum berisi perintah dan larangan. Norma hukum dimuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat tertulis.Manusia dalam kelompok sosialnya, misalnya hidup bernegara, terikat pada norma-norma sebagai hasil interaksi dari manusia itu sendiri. Keterikatan kepada norma termasuk pula keterikatan untuk menghargai adanya orang lain. Jadi, jika dalam dimensi individu, muncul hak-hak dasar manusia maka dalam dimensi sosial ini, muncul kewajiban dasar manusia. Kewajiban dasar manusia adalah menghargai hak dasar orang lain serta menaati norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.Berdasarkan hal di atas, maka manusia sebagai makhluk sosial memiliki imlikasi-implikasi sebagai berikut,a) Kesadaran akan ketidakberdayaan manusia bila seorang diri.b) Kesadaran untuk senantiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain.c) Penghargaan akan hak-hak orang lain.d) Ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku.Keberadaannya sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukan peran-peran sebagai berikut :a) Melakukan intyeraksi dengan manusia lain atau kelompok.b) Membentuk kelompok-kelompok sosial.c) Menciptakan norma-norma sosial sebagai pengaturan tertib kehidupan kelompok.

3. Dinamika Interaksi SosialInteraksi sosial merupakan faktor utama dalam kehidupan sosial. Interkasi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik antarindividu, antarkelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok manusia. Bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerjasama, persaingan, dan pertikaian.Ciri ciri sebuah interaksi sosial,a) Pelakunya lebih dari satu orang.b) Adanya komunikasi antarpelaku melalui kontak sosial.c) Mempunyai maksud dan tujuan, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan pelaku.d) Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial berasal dari kata con atau cun yang artinya bersama-sama, dan tango yang artinya menyentuh. Namun, kontak sosial tidak hanya secara harfiah bersentuhan badan, tetapi bisa lewat bicara, melalui telepon, telegram, surat, radio, dan sebagainya.Kontak sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu,a) Kontak antar individu.b) Kontak antar individu dengan suatu kelompok.c) Kontak antar kelompok dengan kelompok lain.

D. Manusia, Nilai, Moral, dan Hukum1. Hakikat, Fungsi, dan Perwujudan Nilai, Moral, dan Hukuma) Hakikat Nilai dan MoralPembahasan mengenai nilai termasuk dalam kawasan etika. Bertens (2001) menyebutkan ada tiga jenis makna etika, yaitu,1) Etika berarti nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.2) Etika berarti kumpulan asas atau nilai koral. Etika yang dimaksud adalah kode etik.3) Etika berarti ilmu tentang baik dan buruk. Etika yang dimaksud sama dengan istilah filsafat moral.Istlah nilai (value) menurut Kamus Poewodarminto diartikan sebagai berikut,1) Harga dalam arti taksiran, misalnya nilai emas.2) Harga sesuatu, misalnya uang.3) Angka, skor.4) Kadar, mutu.5) Sifat-sifat atau hal penting bagi kemanusiaan.Sesuatu dinggap bernilai apabila sesuatu itu memiliki sifat sebagai berikut:1) Menyenangkan (peasent).2) Berguna (useful).3) Memuaskan (satisfying).4) Menguntungkan (profitable).5) Menarik (interesting).6) Keyakinan (belief).Nilai itu ada atau riil dalam kehidupan manusia. Misalnya, manusia mengakui ada keindahan. Akan tetapi, keindahan sebagai nilai adalah abstrak (tidak dapat diindra). Yang dapat diindra adalah objek yang memiliki nilai keindahan itu. Misalnya, lukisan atau pemandangan.Nilai merupakan sesuatu yang diharapkan oleh manusia. Nilai merupakan sesuatu yang baik yang diciptakan manusia. Contohnya, semua manusia mengharapkan keadilan. Keadilan sebagai nilai adalah normatif.Nilai menjadikan manusia terdorong untuk melakukan tindakan agar harapan itu terwujud dalam kehidupannya. Nilai diharapkan manusia sehingga mendorong manusia berbuat. Misalnya, siswa berharap akan kepandaian. Maka siswa melakukan berbagai kegiatan agar pandai. Kegiatan manusia pada dasarnya digerakkan atau didorong oleh nilai.Moral berasal dari kata Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim mos, moris, manner mores atau manners, morals.Dalam bahasa Indonesia, kata moral berarti akhlak (bahasa Arab) atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Kata moral ini berasal dari bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika. Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang baik-buruk, yang diterima masyarakat umum tentang sikap, kewajiban, dan sebagainya.Dari beberapa pendapat di atas, istilah moral dapat dipersamakan dengan istilah etika, etik, akhlak, kesusilaan, dan budi pekerti. Dalam hubungannya, dengan nilai, moral adalah bagian dari nilai, yaitu nilai moral. Tidak semua nilai adalah nilai moral. Nilai moral berkaitan dengan perilaku manusia (human) tentang hal baik-buruk.Dalam filsafat nilai secara sederhana dibedakan menjadi 3 jenis,1) Nilai logika, yaitu nilai tentang benar-salah.2) Nilai etika, yaitu nilai tentang baik-buruk.3) Nilai estetika, yaitu nilai tentang indah-jelek.

b) Hukum sebagai NormaBerdasarkan pada uraian sebelumnya, hukum pada dasarnya adalah bagian dari norma, yaitu norma hukum. Jadi, jika kita berbicara mengenai hukum yang dimaksudkan adalah norma hukum. Hukum sebagai norma berbeda dengan ketiga norma agama, kesusilaan, dan kesopanan. Perbedaan norma hukum dengan norma lainnya adalah sebagai berikut,1) Norma hukum datangnya dari luar diri kita sendiri, yaitu dari kekuasaan/lembaga yang resmi dan berwenang.2) Norma hukum dilekati sanksi pidana atau pemksa secara fisik. Norma lain tidak dilekati sanksi pidana secara fisik.3) Sanksi pidana atau sanksi pemaksa itu dilaksanakan oleh aparat negara.Norma hukum dibutuhkan karena dua hal, yaitu,1) Karena bentuk sanksi dari ketiga norma belum cukup memuaskan dan efektif untuk melindungi keteraturan dan ketertiban masyarakat.2) Masih ada perilaku lain yang perlu diatur di luar ketiga norma di atas, misalnya perilaku di jalan raya.Norma hukum berasal dari norma agama, kesusilaan, dan kesopanan. Isi ketiga norma tersebut dapat diangkat sebagai norma hukum. Di samping itu, norma hukum dapat menciptakan sendiri isi norma tersebut. Contohnya, norma hukum berlalu lintas yang memang tidak ada di ketiga norma sebelumnya.2. Keadilan, Ketertiban, dan Kesejahteraana) Makna KeadilanKeadilan berasal dari bahasa Arab Adil yang artinya tengah. Keadilan berarti menempatkan sesuatu di tengah-tengah, tidak berat sebelah, atau dengan kata lain keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.Mengenai macam keadilan, Aristoteles membedakan dua macam keadilan, yaitu keadilan komutatif dan keadilan distributif. Sedangkan Plato, guru Aristoteles, menyebut ada tiga macam, yaitu,1) Keadilan komutatif adalah keadilan yang memberikan kepada setiap orang sama banyaknya, tanpa mengingat berapa besar jasa-jasa yang telah diberikan.2) Keadilan distributif adalah keadilan memberikan hak atau jatah kepada setiap orang menurut jasa-jasa yang telah diberikan. Disinilah keadilan tidak menuntut pembagian yang sama bagi setiap orang, tetapi pembagian yang smaa berdasarkan perbandingan.3) Keadilan legal atau keadilan moral adalah keadilan yang mengikuti penyesuaian atau pemberian tempat seseorang dalam masyarakat sesuai dengan kemampuannya, dan yang dianggap sesuai dengan kemampuan yang bersangkutan.Adalah menajdi tugas penyelenggara negara untuk menciptakan keadilan. Tujuan bernegara Indonesia adalah terpenuhinya keadilan bagi seluruh masyrakat Indonesia. Hal ini dapat diketahui baik dalam pembukaan UUD 1945 maupun Pancasila.b) Fungsi dan Tujuan Hukum dalam Masyarakat1) Sebagai alat pengatur tertib hubungan masyarakat.2) Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial.3) Sebagai penggerak pembangunan.4) Fungsi kritis hukum.Hukum bertujuan menjamin kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus bersendikan pada rasa keadilan di masyarakat. Dalam literatur ilmu hukum, dikenal ada dua teori tentang tujuan hukum, yaitu teori etis dan utilities. Teori etis mendasarkan pada etika, hukum bertujuan untuk semata-mata mencapai keadilan, memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Hukum tidak identik dengan keadilan. Peraturan hukum tidaklah selalu mewujudkan keadilan. Contohnya, peraturan berlalu lintas. Mengendarai mobil di sebelah kiri di sebelah kanan dikatakan tidak adil karena bertentangan dengan aturan. Jadi, teori ini tidak benar sepenuhnya.

3. Problematika Nilai, Moral, dan Hukum dalam Masyarakat dan NegaraMoral adalah salah satu bagian dari nilai, yaitu nilai moral. Moral berkaitan dengan baik-buruk perbuatan manusia. Pada dasarnya, manusia yang bermoral tindakannya senantiasa didasari oleh nilai-nilai moral. Manusia tersebut melakukan perbuatan atau tindakan moral. Tindakan yang bermoral adalah tindakan manusia yang dilakukan secara sadar, mau, dan tahu serta tindakan itu berkenaan dengan nilai-nilai moral. Tindakan bermoral adalah tindakan yang menjunjung tinggi nilai pribadi manusia, harkat, dan martabat manusia.Nilai moral diwujudkan dalam norma moral. Norma moral, norma kesusilaan, atau disebut juga norma etik adalah peraturan/kaidah hidup yang bersumber dari hati nurani dan merupakan perwujudan nilai-nilai moral yang mengikat manusia. Perilaku yang baik adalah perilaku yang sesuai dengan norma-norma moral. Sebaliknya, perilaku buruk adalah perilaku yang bertentangan dengan norma-norma moral.Selain norma moral, ada pula hukum. Pada dasarnya, hukum adalah norma yang merupakan perwujudan dari nilai, termasuk nilai moral. Terdapat perbedaan antara norma moral dengan norma hukum. Pertama, norma hukum berdasarkan yuridis dan konsensus, sedangkan norma moral berdasarkan hukum alam. Kedua, norma hukum bersifat heteronomi, yaitu datang dari luar diri; sedangkan moral berasal dari dalam diri. Ketiga, dari sisi pelaksanaan, hukum dilaksanakan secara paksaan dan lahiriah; sedangkan moral tidak dapat dipaksakan. Keempat, dari sanksinya, sanksi hukum bersifat lahiriah; sedangkan moral bersifat batiniah. Kelima, dilihat dari tujuannya, hukum mengatur tertib hidup masyarakat bernegara; sedangkan moral mengatur perilaku manusia sebagai manusia. Keenam, hukum bergantung pada tempat dan waktu, sedangkan moral secara relatif tidak bergantung tempat dan waktu.E. Manusia, Keragaman, dan KesederajatanKeragaman yang terjadi pada diri manusia adalah suatu kenyataan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk individu atau pribadi yang memiliki perbedaan satu sama lain. Adanya perbedaan itulah yang melahirkan keragaman. Selain sebagai makhluk individu, manusia juga makhluk sosial. Dengan demikian, keragaman terjadi tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat sosial atau kelompok. Masyarakat beragam berdasarkan pengelompokan tertentu, misalnya suku, ras, golongan, afialisasi politik, umur, wilayah, jenis kelamin, profesi, dan lain-lain.Keragaman bukan berarti tidak setara atau sederajat. Keragaman tetaplah menyimpan makna perlunya kesetaraan atau kesederajatan antarmanusia atau kelompok yang beragama tersebut. Pandangan bahwa manusia diciptakan sederajat dengan manusia lain. Kesetaraan dan kesederajatan ini berimpilikasi pada pengakuan dan jaminan yang sama dari manusia atau kelompok dalam memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya. Demikian pula adanya kewajiban dan tuntutan-tuntutan yang sama untuk mengikuti norma dan tertib sosial maupun hukum yang berlaku.Meskipun keragaman dan kesetaraan dialami dan diinginkan manusia, namun dalam dinamikanya, keragaman dan kesetaraan dapat menciptakan problema kehidupan yang berimplikasi secara langsug maupun tidak langsung bagi kehidupan. Problema yang muncul dari keragaman dan kesetaraan sedapat mungkin dikelola dan dicari solusi penyelesaiannya agar tetap menghasilkan kebahagiaan hidup dari manusia itu sendiri.1. Hakikat Keragaman dan Kesetaraan ManusiaKeragaman manusia bukan berarti manusia itu bermacam-macam atau berjenis-jenis seperti halnya binatang dan tumbuhan. Manusia sebagai makhluk Tuhan tetaplah berjenis satu. Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah makhluk individu yang setiap individu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terutama ditinjau dari sifat-sifat pribadi, misalnya sikap, watak, kelakuan, temperamen, dan hasrat.Selain makhluk individu, manusia juga makhluk sosial yang membentuk kelompok persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup manusia juga beragam. Masyarakat sebagai persekutuan hidup itu berbeda dan beragam karena ada perbedaan, misalnya dalam hal ras, suku, agama, budaya, ekonomi, status sosial, jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan lain-lain. Hal-hal demikian kita katakan sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam masyarakat.Keragaman manusia baik dalam tingkat individu maupun di tingkat masyarakat merupakan realitas atau kenyataan yang mesti kita hadapi dan alami. Keragaman individual maupun sosial adalah implikasi dari kedudukan manusia, baik sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Kita sebagai individu akan berbeda dengan seseorang sebagai individu yang lain. Demikian pula kita sebagai bagian dari suatu masyarakat memiliki perbedaan dengan masyarakat lainnya.2. Kemajemukan dalam Dinamika Sosial BudayaKeragaman yang terdapat dalam kehidupan sosial manusia melahirkan masyarakat majemuk. Majemuk berarti banyak ragam, beraneka, berjenis-jenis. Konsep masyarakat majemuk pertama kali diperkenalkan oleh Furnivall tahun 1948 yang mengatakan bahwa ciri utama masyarakatnya adalah berkehidupan secara berkelompok yang berdampingan secara fisik, tetapi terpisah oleh kehidupan sosial dan tergabung dalam sebuah satuan politik. Konsep ini merujuk pada masyarakat Indonesia masa kolonial. Masyarakat Hindia Belanda waktu itu dalam pengelompokan komunitasnya didasarkan atas ras, etnik, ekonomi, dan agama. Masyarakat tidak hanya terkelompok antara yang memerintah dengan yang diperintah, tetapi secara fungsional terbelah berdasarkan satuan ekonomi, yaitu antara pedagang Cina, Arab, India, dan kelompok petani Bumi Putera. Masyarakat dalam satuan-satuan ekonomi tersebut hidup pada lokasinya masing-masing dengan sistem sosialnya sendiri, meskipun berada di bawah kekuasaan politik kolonial.Konsep masyarakat majemuk Furnivall di atas, dipertanyakan validitasnya sekarang ini sebab telah terjadi perubahan fundamental akibat pembangunan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Usman Pelly (1989) mengategorikan masyarakat majemuk di suatu kota berdasarkan dua hal, yaitu pembelahan horizontal dan pembelahan vertikal.Secara horizontal, masyarakat majemuk, dikelompokkan berdasarkan,a) Etnik dan ras atau asal usul keturunan.b) Bahasa daerah.c) Adat istiadat atau perilaku.d) Agama.e) Pakaian, makanan, dan budaya material lainnya.Secara vertikal, masyarakat majemuk dikelompokkan berdasarkan,a) Penghasilan atau ekonomi.b) Pendidikan.c) Pemukiman.d) Pekerjaane) Kedudukan sosial politik.

3. Kemajemukan dan Kesetaraan sebagai Kekayaan Budaya BangsaKemajemukan bangsa terutama karena adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa atau suku. Di samping itu, kemajemukan dalam hal ras, agama, golongan, tingkat ekonomi, dan gender. Beragamnya etnik di Indonesia menyebabkan banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan pranata kebudayaan lainnya karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan kebudayaan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultular artinya memiliki banyak budaya.Keragaman etnik di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling heterogen di dunia, selain India. Jumlah etnik atau suku bangsa di Indonesia menyebar di banyak wilayah dengan memiliki ciri dan karakter tersendiri. Menurut para ahli, jumlah etnik atau suku bangsa di Indonesia memiliki etnik yang lebih dari satu. Bahkan, di Papua antara lain suku Biak, Hattam, Mapia, Dani, Asmat, Mambremamo, dan Sentani.Etnik atau suku merupakan identitas sosial budaya seseorang. Artinya, identifikasi seseorang dapat dikenali dari bahasa, tradisi, budaya, kepercayaan, dan pranata yang dijalaninya yang bersumber dari etnik dari mana ia berasal. Dengan demikian, identitas sosial budaya orang atau sekelompok orang yang dapat diketahui, misalnya dari bahasa yang digunakan. Bahkan, sama-sama menggunakan bahasa Indonesia kita masih bisa membedakan antara orang Madura dengan orang Batak dari segi gaya dan dialek mereka ketika bertutur kata bahasa Indonesia.Kemajemukan adalah karakteristik sosial budaya Indonesia. Selain kemajemukan, karakteristik Indonesia yang lain adalah sebagai berikut,a) Jumlah penduduk yang besar.b) Wilayah yang luas.c) Posisi silang.d) Kekayaan alam dan daerah tropis.e) Jumlah pulau yang banyak.f) Persebaran pulau.

4. Problematika Keragaman dan Kesetaraan serta Solusinya dalam Kehidupana) Problema Keragaman serta Solusinya dalam KehidupanKeragaman masyarakat adalah suatu kenyataan sekaligus kekayaan dari bangsa. Keragaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khas yang membanggakan kita. Namun demikian, keragaman tidak serta-merta menciptakan keunikan, keindahan, kebanggan, dan hal-hal yang baik lainnya. Keragaman masyarakat memiliki ciri khas yang suatu saat bisa berpotensi negatif bagi kehidupan bangsa itu.Van de Berghe sebagaimana dikutip oleh Elly M. Setiadi (2006) menjelaskan bahwa masyarakat majemuk atau masyarakat yang beragam selalu memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut,1) Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki kebudayaan yang berbeda.2) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.3) Kurang megembangkan konsensus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.4) Secara relatif, sering kali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang lainnya.5) Secara relatif, integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling jetergantungan didalam bidang ekonomi.6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.

b) Problema Kesetaraan serta Solusinya dalam KehidupanKesetaraan atau kesederajatan bermakna adanya persamaan kedudukan manusia. Kesederajatan adalah suatu sikap untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban sebagai sesama manusia. Oleh karena itu, prinsip kesetaraan atau kesederajatan mensyaratkan jaminan akan persamaan derajat, hak, dan kewajiban. Indikator kesederajatan adalah sebagai berikut,1) Adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku, bangsa, ras, gender, dan golongan.2) Adanya persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak.3) Adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota masyarakat.

F. Manusia, Sains, Teknologi, dan SeniIlmu pengetahuan (sains), teknologi, dan seni atau yang biasa disingkat IPTEKS adalah salah satu contoh dari hasil olah pikiran atau akal atau budi manusia yang kemudian disebut dengan nama kebudayaan. Selanjutnya, sejalan dengan perkembangan umat manusia itu sendiri berbagai macam hasil-hasil kebudayaan manusia itu terus berkembang umat manusia itu sendiri hingga kini. Ipteks sebagai salah satu hasil dari kebudayaan manusia itu juga terus berkembang, terlebih lagi pada era sekarang ini, di mana Ipteks telah mencapai tahapan perkembangan yang sangat speltakuler. Pencapaian Ipteks yang sangat pesat tersebut, misalnya saja yang terjadi di bidang teknologi informasi dan komunikasi, mengakibatkan seakan dunia ini mengenal tanpa batas, yakni baik dalam pengertian teritorial (geografi), ekonomi, politik, sosial-budaya, agama, pendidikan, dan lain-lain.1. Hakikat dan Makna Sains, Teknologi, dan Seni bagi ManusiaSelama perjalanan sejarah, umat manusia telah berhasil menciptakan berbagai ragam kebudayaan. Namun apabila kita ringkas, berbagai macam atau ragam kebudayaan tersebut sebenarnya hanya meliputi tujuh buah atau tujuh unsur kebudayaan saja. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut merupakan unsur-unsur pokok yang selalu ada pada setiap kebudayaan masyarakat yang ada di belahan dunia ini. Menurut Kluchkhon sebagaimana dikutip Koenjaraningrat (1996), bahwa ketujuh unsur pokok kebudayaan tersebut meliputi,a) Peralatan hidup (teknologi).b) Sistem mata pencaharaian hidup (ekonomi).c) Sistem kemasyarakatan (organisasi sosial).d) Sistem bahasa.e) Kesenian (seni).f) Sistem pengetahuan (ilmu pengetahuan).g) Sistem kepercayaan (religi).Salah satu fungsi utama ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk sarana bagi kehidupan manusia, yakni untuk membantu manusia agar aktivitas kehidupannya menjadi lebih mudah, lancar, efisien, dan efektif, sehingga kehidupannya menjadi lebih bermakna dan produktif. Karena itu, khususnya dalam ilmu antropologi, istilah atau pengertian ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut sering dipakai untuk merujuk pada keterkaitan antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan. Hal ini dikarenakan dalam berinteraksi menghadapi lingkungannya, manusia mau tidak mau pasti akan berusaha menggunakan sarana-sarana berupa pengetahuan yang dimiliki serta menciptakan peralatan hidup untuk membantu kehidupannya. Dengan demikian, Iptek bagi manusia selalu berkaitan dengan usaha untuk menciptakan taraf kehidupannya yang lebih baik.2. Dampak Penyalahgunaan Ipteks pada KehidupanPerkembangan Iptek yang demikian pesat mampu menciptakan perubahan-perubahan yang berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya dalam elemen-elemen sebagai berikut,a) Perubahan di dibidang intelektual; masyarakat meninggalkan kebiasaan lama atau kepercayaan tradisional, mereka mulai mengambil kebiasaan serta kepercayaan baru, setidaknya mereka telah melakukan reaktualisasi.b) Perubahan dalam organisasi sosial yang mengarah pada kehidupan politik.c) Perubahan dan benturan-benturan terhadap tata nilai dan tata lingkungannya.d) Perubahan di bidang industri dan kemampuan di medan perang.

3. Problematika Pemanfaatan Ipteks di Indonesiaa) Rendahnya kemampuan Iptek nasional dalam menghadapi perkembangan global. b) Rendahnya kontribusi Iptek nasional di sektor produksi.c) Belum optimalnya mekanisme intermediasi Iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia Iptek dengan kebutuhan pengguna.d) Lemahnya sinergi kebijakan Iptek sehingga kegiatan Iptek belum sanggup memeberikan hasil yang signifikan.e) Masih terbatasnya sumber daya Iptek, yang tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang Iptek.f) Belum berkembangnya budaya Iptek di kalangan masyarakat.g) Belum optimalnya peran Iptek dalam mengatasi degradasi fungsi lingkungan hidup.BAB IIIPENUTUP

A. Kesimpulan1. Manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia menciptakan kebudayaan.2. Masyarakat adab pada dasarnya merupakan keinginan yang tulus dari manusia sebagai makhluk yang beradab. Namun, sebagaimana halnya dengan individu, masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu bisa saling bertengkar, saling bertikai, bahkan saling membunuh antar kelompok masyarakat. Bukti bahwa perang yang sampai saat ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, menunjukkan bahwa cita-cita masyarakat adab harus senantiasa diperjuangkan, dipertahankan, dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.3. Manusia lahir sebagai makhluk individual yang bermakna tidak terbagi atau tidak terpisahkan antara jiwa dan raga. Secara biologis, manusia lahir dengan kelengkapan fisik, tidak berbeda dengan makhluk hewani. Namun, secara rohani ia sangat berbeda dengan makhluk hewani apapun. Jiwa manusia merupakan satu kesatuan dengan raganya untuk selanjutnya melakukan aktivitas atau kegiatan. Kegiatan manusia tidak semata-mata digerakkan oleh jasmaninya, tetapi juga aspek rohaninya. Manusia mengerahkan seluruh jiwa raganya untuk berkegiatan dalam hidupnya.4. Menurut kodratnya, manusia dimanapun pada zaman apapun selalu hidup bersama, hidup berkelompok. Dalam sejarah perkembangan manusia tidak terdapat seorang pun yang hidup menyendiri, terlepas dari pergaulan masyarakat hanya mungkin terjaiid dalam dongeng belaka, namun dalam kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi. Sejak dulu, pada diri manusia terdapat hasrat untuk berkumpul dengan sesamanya dalam satu kelompok, hanya untuk bermasyarakat.5. Nilai moral diwujudkan dalam norma moral. Norma moral, norma kesusilaan, atau disebut juga norma etik adalah peraturan/kaidah hidup yang bersumber dari hati nurani dan merupakan perwujudan nilai-nilai moral yang mengikat manusia. Perilaku yang baik adalah perilaku yang sesuai dengan norma-norma moral. Sebaliknya, perilaku buruk adalah perilaku yang bertentangan dengan norma-norma moral. Selain norma moral, ada pula hukum. Pada dasarnya, hukum adalah norma yang merupakan perwujudan dari nilai, termasuk nilai moral.6. Keragaman masyarakat adalah suatu kenyataan sekaligus kekayaan dari bangsa. Keragaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khas yang menbanggakan kita. Kesetaraan atau kesederajatan bermakna adanya persamaan kedudukan manusia. Kesederajatan adalah suatu sikap untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban sebagai sesama manusia.7. Ilmu pengetahuan (sains), teknologi, dan seni atau yang bisasa disingkat IPTEKS adalah salah satu contoh dari hasil olah pikiran atau akal atau budi manusia yang kemudian disebut dengan nama kebudayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Bogor : Ghalia Indonesia.Sumaatmadja, Nursid. 2012. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup. Bandung : Alfabeta.Waney, Max Helly. 1989. Wawasan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Winarno dan Herimanto. 2010. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara.Viona Pradya M |2