PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

Embed Size (px)

Text of PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    1/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 1

    SKENARIO 3

    BLOK SARAF DAN PERILAKU

    FKUY 2013/2014

    SASBEL

    1. MM PUSAT DAN JARAS NYERI

    2. MM NYERI KEPALA

    2.1.

    Definisi NYERI KEPALA

    2.2.

    Etiologi NYERI KEPALA

    2.3. Epidemiologi NYERI KEPALA

    2.4.

    Klasifikasi NYERI KEPALA

    2.5.

    Patofisiologi NYERI KEPALA

    2.6. Manifestasi NYERI KEPALA

    2.7. Diagnosis & DB NYERI KEPALA

    2.8.

    PF & PP NYERI KEPALA

    2.9.

    Komplikasi NYERI KEPALA

    3.

    MM KLASIFIKASI & GAMBARAN KLINIS SOMATOFORM

    3.1. Klasifikasi Gangguan Nyeri

    3.2. Penyebab Somatoform

    3.3. Factor Predisposisi (Aspek Kepribadian Diri Sendiri)

    3.4. Factor Presipitasi (PsikososialEfek Stressornya)

    3.5. Kriteria Diagnosis Berdasarkan Ppdgj

    3.6. Terapi Psikosuportif

    3.7. Prognosis

    4.

    MM TATALAKSANA FARMAKOTERAPI NYERI KEPALA & NYERI SOMATOFORM

    5. MM KONSULTASI PERNIKAHAN DENGAN CARA MEMBINA KELUARGA SAMARA

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    2/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 2

    SKENARIO 3

    SAKIT KEPALA MENAHUN

    Perempuan 35 tahun berkonsultasi dengan dokter keluarga dengan keluhan sakit kepala berulang sejak

    2 tahun yang lalu. Sakit kepala seperti tertimpa beban berat dan nyeri pada tengkuknya. Sakit kepala

    ini disertai dengan insomnia. Sakit kepala berawal sejak pasien diceraikan oleh suaminya 2 tahun yang

    lalu dan harus berpisah dari kedua orang anaknya. Oleh dokter pasien disarankan untuk berkonsultasi

    lebih lanjut ke neurolog dan psikiater. Neurolog mengatakan bahwa pasien mengalami nyeri kepala

    tipe tegang, sedangkan psikiater menyimpulkan bahwa pasien mengalami nyeri somatoform

    (psikogenik). Walaupun ia sudah bercerai, ia tetap bertanggung jawab untuk membimbing anaknya

    sesuai dengan prinsip keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    3/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 3

    1.

    MM PUSAT DAN JARAS NYERI

    Neuroanatomi Nyeri

    Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan

    jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E, 2007). Ketika suatu jaringan mengalami cedera, ataukerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan-bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti

    serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan

    respon nyeri. Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan jaringan yang

    menekan pada reseptor nyeri.Sistem saraf manusia mengandung lebih dari 10

    10saraf atau neuron. Neuron merupakan unit

    structural dan fungsional system saraf. Sel saraf terdiri dari badan sel yang di dalamnya mempunyai

    inti sel, nukleus, mitokondria, retikulum endoplasma, dadan golgi, di luarnya banyak terdapat dendrit,kemudian bagian yang menjulur yang menempel pada badan sel yang di sebut akson. Dendrit

    menyediakan daerah yang luas untuk hubungan dengan neuron lainnya. Dendrit adalah serabut aferen

    karena menerima sinyal dari neuron-neuron lain dan meneruskannya ke badan sel. Pada akson terdapat

    selubung mielin, nodus ranvier, inti sel Schwan, butiran neurotransmiterAkson dengan cabang-cabangnya (kolateral), adalah serabut eferen karena membawa sinyal ke

    saraf-saraf otot dan sel-sel kelenjar. Akson akan berakhir pada terminal saraf yang berisi vesikel-

    vesikel yang mengandung neurotransmitter. Terminal inilah yang berhubungan dengan badan sel,

    dendrit atau akson neuron berikutya.

    a.Neuroanatomi sentuhan ringan dan tekanan

    Nama jalan: Tractus Spinothalamicus Anterior

    Pada medulla spinalis:

    Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterior medulla

    spinalis dan bercabang dua : serabut yang naik dan serabut yang turun. Sesudah memasuki satu atau

    dua segmen medulla spinalis membentuk Tractus posterolateral (Lissaueri). Lalu bersinaps dengan

    neuron orde kedua yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa cornu posterior substansia

    grissea. Axon dari neuron orde ke dua jalan menyilang pada comissura anterior substansia grissea dansubstansia alba, kemudian naik keatas pada sisi anterolateral substantia alba sebagai tractus

    neurospinotalamicus anterior.

    Pada medulla oblongata : pada medulla oblongata tractus tersebut jalan beriringan dengan tractus

    spinotalamicus lateralis dan tractus spinotectalis, semuanya disebutLesminicus Spinalis.

    Pada pons, mesencephalon dan diencephalon:beriringan dengan Lemniscus medialis untuk akhirnyabersinaps pada neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian

    kelompok nuclei lateralis thalamus)disini tekanan dan sentuhan mulai diinterpretasikan.

    Pada cortex cerebri : axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior interna dan corona

    radiata berakhir pada gyrus poscentralis (area brodmann 3,2,1)

    menafsirkan sensasi sentuhan dantekanan sehingga timbul kesadaran akan sensasi tersebut.

    (Stephen, 2007)

    b. Neuroanatomi sensasi sakit dan suhuNama jalan: Tractus Spinothalamicus LateralisPada medulla spinalis:

    Axon dari neuron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu posterior substansiagrissea medulla spinalis dan segera bercabang dua: serabut yang naik dan serabut yang turun. Sesudahmemasuki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk tractus posterolateral (Lissaueri). Lalu

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    4/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 4

    bersinaps dengan neuron orde kedua yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa pada cornuposterior. (Jurnalis, 2009)

    Axon dari neuron orde ke dua jalan menyilang pada comissura anterior substansia grissea dan

    substansia alba, kemudian naik keatas pada sisi kontralateral sebagai tractus neurospinotalamicus

    lateralis.

    Pada medulla oblongata : pada medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran lateral antara

    nucleus olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N. Trigeminus. Disini bergabung dengan:

    tractus spinotalamicus anterius, tractus spinotectalis. Ketiga tractus tersebut disebutLemnicus Spinalis.

    Pada pons : lemniscus spinalis naik keatas dibagian belakang pons.Pada mesencephalon: lemniscus spinalis jalan pada tegmentum, lateralis dari lemniscus medialis.

    Pada diencephalon: serabut saraf tractus spinotalamicus lateralis akan bersinaps dengan neuron orde

    ketiga yaitu nucleus posterolateral dari kelompok ventral thalamus (bagian dari nucleus lateralisthalamus)disinilah terjadi penilaian kadar sensasi sakit dan suhu juga reaksi emosi mulai timbul.

    Pada cortex cerebri:axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior interna dan corona

    radiata berakhir pada gyrus poscentralis (area brodmann 3,2,1) menafsirkan suhu dan sakit sehingga

    timbul kesadaran akan sensasi tersebut. (Price, 2006)

    Neurofisiologi Nyeri

    Nociceptor diaktivasi oleh stimulus yang berpotensi untuk merusak sel jaringan. Kerusakan jaringantersebut dapat disebabkan oleh stimulasi mekanis yang kuat, temperatur yang ekstrim, kekurangan

    oksigen, dan paparan oleh zat kimia. (Barry, 2007)

    Sel-sel jaringan yang rusak tersebut dapat pula mengeluarkan substansi yang mampu membuka

    channel ion pada membran nociceptor, seperti :

    Protease

    Enzim pengurai protein ini dapat mengurai peptida kininogen yang berada di extra selular sehingga

    terbentuklah bradikinin. Bradikinin ini kemudian akan terikat dengan molekul reseptor spesifik untuk

    mengaktivasi konduksi ion pada nociceptor.

    ATPATP dapat berikatan langsung dengan ATP Gated Ion Channel sehingga terjadi depolarisasi pada

    nociceptor. K

    +

    Peningkatan K+extraselular berperan langsung pada depolarisasi membran neuronal.

    (Price, 2006)

    Jenis NociceptorTransportasi stimulus nyeri terjadi pada ujung saraf bebas (FNE), yaitu serat C tanpa myelin

    (unmyelinated C Fiber)dan serat A myelin tipis Nociceptor terbagi menjadi empat jenis, yaitu :

    a.Polymodal Nociceptor: merespon terhadap stimulus mekanis, suhu, dan kimia.

    b.Mechanical Nociceptor: hanya merespon terhadap tekanan yang kuat.

    c. Thermal Nociceptor: hanya merespon terhadap suhu panas atau dingin.

    d.Chemical Nociceptor: merespon terhadap histamin dan zat kimia lainnya.

    Serat C terkecil (kecepatan konduksi

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    5/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 5

    Nociceptor biasanya hanya merespon saat terjadi stimulus yang cukup kuat untuk merusak jaringan.Hiperalgesia adalah keadaan dimana kulit, sendi, atau otot yang sudah terluka menjadi sangat sensitif

    terhadap stimulus. Sebagai contoh, pada kulit yang sehat, rasa sentuhan tidak terasa sakit, namun padakulit yang melepuh rangsang tersebut terasa sakit.

    Hiperalgesia dapat berupa penurunan ambang nyeri, peningkatan intensitas stimulus nyeri, atau

    nyeri spontan. Hiperalgesia juga dibedakan menjadi dua, yaitu :

    a. Primer : hanya terjadi pada daerah jaringan yang terluka.

    b.Sekunder : jaringan yang berada di sekitar jaringan yang terluka juga ikut menjadi sensitif.

    Beberapa zat kimia yang berperan dalam hiperalgesia:

    Bradikinin

    Selain menghasilkan rasa nyeri, bradikinin juga menstimulasi perubahan intracellular yangberlangsung lama, sehingga channel ion nociceptor menjadi lebih sensitif.

    ProstaglandinProstaglandin tidak menyebabkan nyeri, melainkan meningkatkan sensitivitas nociceptor lain.

    Substance PMerupakan substansi yang dihasilkan oleh nociceptor sendiri. Aktivasi salah satu cabang axonnociceptor dapat menyebabkan sekresi substance P di cabang axon lainnya. Substance P menyebabkan

    vasodilatasi dan pelepasan histamin oleh sel mast, sehingga dapat juga menyebabkan hiperalgesiasekunder.

    Aferen Primer dan Mekanisme Spinal

    Terdapat dua jenis persepsi nyeri, yaitu :

    a.First pain: cepat dan tajam, diaktivasi oleh serat A

    b.Secon pain: nyeri yang mengikuti first pain dan berlangsung lama, diaktivasi serat C

    Perhubungan spinalis axon nociceptif

    Neurotransmitter nyeri diduga adalah glutamat, namun neuron-neuron juga mengandung substance

    P pada axon terminalis. Transmisi sinaps yang diperantarai oleh substance P dibutuhkan untuk

    menghasilkan rasa nyeri. (Barry, 2007)

    Nyeri Alih (Referred Pain)

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    6/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 6

    Merupakan fenomena dimana aktivasi nociceptor organ dalam (viseral) dipersepsikan sebagaisensasi luar (cutaneus). Disebabkan karena axon nociceptor dari organ dalam memiliki rute yang sama

    dengan nociceptor kutan dalam memasuki corda spinalis, sehingga terjadilah pencampuran informasidari kedua input tersebut.

    Jalur Nyeri Ascendens

    1. Spinothalamic Pathway

    Informasi suhu dan nyeri disampaikan dari corda spinalis ke orak melalui jalur spinothalamic.Axon dari neuron ordo II langsung menyeberang dan menyusuri tractus spinothalamicus.

    Serat spinothalamicus berjalan dari corda spinalis kemudian melewati medulla, pons, dan midbraintanpa bersinaps sampai mereka mencapai thalamus.

    Pada akhirnya, setelah melewati batang otak, axon spinothalamicus berada bersebelahan denganlemniscus medialis, namun kedua axon tersebut tetap terpisah satu sama lain. Informasi sentuhanberjalan secara ipsilateral, sedangkan nyeri berjalan contralateral.

    2. Trigeminal Pathway

    Informasi suhu dan nyeri yang berasal dari muka dan kepala berjalan melalui jalur ini, yang miripdengan spinothalamic pathway.

    Serat nervus trigeminal bersinaps pada neuran orde kedua di nucleus trigeminal spinalis padabatang otak.

    Axon tersebut kemudian naik ke thalamus di lemniscus trigeminal.

    Sensasi nyeri dan sentuhan sama-sama berakhir di thalamus (Nucleus VP dan intralaminar) tetapi

    menempati daerah yang berbeda. Kemudian informasi dari thalamus tersebut diteruskan ke berbagaidaerah pada cortex cerebral.

    Regulasi Nyeri

    a. Regulasi Aferen

    Nyeri yang dihasilkan oleh aktivitas nociceptor dapat dikurangi dengan aktivitas mechanoreceptor

    (Serat A) secara bersamaan. Inilah mengapa rasa nyeri pada memar akan berkurang apabila kitalakukan gerakan memijat.

    Gate Theory of Pain

    *Tidak ada konflik stimulus

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    7/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 7

    Dapat dilihat pada gambar ini, bahwa stimulus yang dibawa oleh serat C berjalan dengan lancar (tidakada hambatan apapun) dan akan sampai pada projection neuron, yang kemudian akan diteruskan ke

    otak, menyebabkan sensasi nyeri maksimal.*Terdapat konflik stimulus. Stimulus nyeri dibawa oleh serat C menuju projection neuron. Di saat

    yang sama, stimulus sentuhan (stimulus tidak nyeri) dibawa oleh serat A menuju projection neuron

    dan interneuron inhibitorik.

    Aktivasi interneuron inhibitorik tersebut akan menghambat projection neuron, sehingga tidak adastimulus yang diteruskan ke otak sehingga mengurangi sensasi nyeri yang ada. Namun tidak semua

    interneuron inhibitorik dapat diaktifkan, sehingga masih terdapat sensasi nyeri yang diteruskan keotak. (Barry, 2007)

    1. Regulasi Descendens

    Emosi yang kuat atau stres pada seseorang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Telah

    diketahui bahwa terdapat bagian dari otak yang berperan dalam supresi nyeri. Salah satunya adalahzona-zona neuron di midbrain, seperti periventricular danperiaqueductal gray matter (PAG).

    Mekanismenya adalah sebagai berikut :

    PAG menerima input emosional dari struktur-struktur otak.Neuron-neuron di PAG mengirimkan axon menuju daerah pada medulla, yaitu raphe nuclei, yang

    kemudian akan mengeluarkan neurotransmitter serotonin.

    Kemudian neuron medulla tersebut akan memproyeksikan axon ke cornu posterior corda spinalis,

    dimana axon yang membawa serotonin tersebut akan menekan aktivitas nociceptor.

    Intensitas Nyerigambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat

    subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbedaoleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan

    objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.

    Namun, pengukuran dengan metode ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu

    sendiri (Sherwood, 2004). Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

    1) skala intensitas nyeri deskritif

    2) Skala identitas nyeri numerik

    3) Skala analog visual

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    8/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 8

    4) Skala nyeri menurut bourbanis

    Keterangan

    0 : Tidak nyeri1-3 : Nyeri ringan (secara obyektif pasien dapat berkomunikasi dengan baik).

    4-6 : Nyeri sedang (secara obyektif pasien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri,

    dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik).

    7-9 : Nyeri berat (secara obyektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih responterhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat

    diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi).10 : Nyeri sangat berat (pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul).

    Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala

    pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tigasampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi

    ini diurutkan dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Kinisi menunjukkan

    pasien skala tersebut dan meminta pasien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan.

    Klinisi juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasapaling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan pasien memilih sebuah kategori untuk

    mendeskripsikan nyeri. (Price, 2006)

    Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alatpendeskripsi kata. Dalam hal ini, pasien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling

    efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila

    digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm.

    Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garislurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap

    ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS

    dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasisetiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka.

    Faktor yang mempengaruhi nyeri: usia, jenis kelamin, budaya, makna nyeri, perhatian, ansietas,

    pengalaman masa lalu, pola adaptasi, support keluarga dan social.

    2.

    MM NYERI KEPALA

    2.1.Defini si NYERI KEPALA

    Nyeri kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal dari struktur sensitif

    terhadap rasa sakit (Kenneth, 2004). Struktur cranium yang peka nyeri kepala adalah semua jaringan

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    9/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 9

    ekstrakranium, termasuk kulit kepala, otot, arteri, dan periosteum tengkorak; sinus kranialis; sinus venaintrakranium dan vena-vena cabangnya; bagian dari dura di dasar otak dan arteri di dalam dura; dan nervuskranialis trigeminus, fasialis, vagus, dan glosofaringeus serta nrvus cervicalis ( C2 dan C3).Apabila nyeri kepala melibatkan struktur-struktur di daerah infratentorium, nyeri tersebut dari daerah oksipitaliskepala dan leher oleh akar saraf cervical atas. Nyeri supratentorium dirasakan di bagian anterior kepala (daerah

    oksipital, temporalis, dan parietalis) dan terutama diperantai oleh nervus trigeminus. (Kowalak, 2011)

    2.2.

    Etiologi NYERI KEPALA

    Sebagian besar nyeri kepala terjadi karena tegangan (kontraksi otot) dapat disebabkan oleh: Stres emosional, kelelahan, menstruasi, rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik, kerumunan banyak

    orang, cahaya yang terang).

    Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab: glaukoma, inflamasi pada mata atau mukosa nasal atau sinusparanasal, penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri ekstrakranial, pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat,alkohol dan histamin), penyakit sistemik, hipertensi, peningkatan tekanan intracranial, trauma/tumor kepala,

    perdarahan, abses atau aneurisma intrakranial.

    (Price, 2006)

    2.3.Epidemiologi NYERI KEPALA

    Prevalensi migren adalah 18,2% diantaranya wanita dan 6,5% pria, dengan 23% rumah tangga memiliki palingsedikit 1 anggotanya yang mengidap migren. Sebelum usia 12 tahun migren lebih sering terjadi pada anak laki-laki, namun setelah pubertas migren sering dijumpai pada perempuan dengan rasio 2:1.Pada nyeri kepala cluster lebih sering pada laki-laki (80% s/d 90%). Dalam sebuah studi, nyeri kepala clustermemiliki insidensi 1/25 kali dibandingkan dengan nyeri migren. 90% keluhan nyeri kepala bersifat vaskuler,

    timbul karena kontraksi otot atau kombinasi keduanya; 10% yang lain terjadi karena gangguan intracranial,sistemik ataupun psikologis. Gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur, pemberian histamin ataunitrogliserin sublingual dan faktor genetik berpengaruh terjadinya nyeri kepala. (Kenneth, 2004)

    2.4.Klasif ikasi NYERI KEPALA

    Klasifikasi nyeri kepala menurutInternational Headache Society(HIS) membagi nyeri kepala menjadi dua

    kategori utama. Nyeri kepala primer : migren (adanya vasodilatasi arteri ekstrakranial dimana pada saat serangan terjadi

    vasokonstriksi intra cranial), nyeri kepala tension (karena kontraksi otot leher), nyeri kepala cluster, nyeri

    kepala yang tidak berhubungan lesi struktural.

    Nyeri kepala sekunder, disebabkan karena vasodilatasi akibat demam tinggi, peningkatan tekanan darah,

    hipoksia, intoksikasi CO, dan keadaan patologis lainnya : nyeri kepala berhubungan dengan cedera kepala,gangguan vaskuler, gangguan intrakranial non-vaskuler, infeksi non cephalic, gangguan metabolik,gangguan tengkorak, leher, mata, hidung, gigi, mulut, atau struktur-struktur wajah kranium, neuralgiacranialis, nyeri batang syaraf dan nyeri deafness.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    10/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 10

    2.5.Patofisiologi NYERI KEPALA

    Beberapa mekanisme umum yang berpengaruh memicu nyeri kepala:

    Peregangan atau pergeseran pembuluh darah: intrakranium atau ekstrakranium.

    Traksi pembuluh darah.

    Peregangan periosteum (nyeri local).

    Degenerasi spina cervicalis atas disertai kompresi pada akar nervus cervicalis (misalnya, arthritisvertebra cervicalis).

    Defisiensi enkefalin (peptide otak mirip opiate, bahan aktif endorphin).

    Sistem saraf simpatis pada dasarnya bertanggung jawab atas pengendalian neural pembuluh darah cranium dan

    ekstrakranium. Nyeri kepala dapat memancar dari struktur yang peka terhadap rasa nyeri seperti kulit, kulitkepala, otot, arteri dan vena; nervus kranialis V. VII, IX dan X; atau nervus kranialis 1, 2, dan 3.

    Empat fase nyeri kepala:1. Normal. Arteri serebri dan arteri temporalis dipersarafi secara ekstrakranial; arteri dalam parenkim otak

    tidak dipersarafi.2. Vasokontriksi (aura). Vasokontriksi lokal neurogenik yang berkaitan dengan stres pada arteri serebri yang

    dipersarafi akan mengurangi aliran darah ke dalam otak (iskemia lokal). Secara sistematis, prostaglandin

    tromboksan akan meningkatkan agregasi trombosit dan pelepasan serotonin, suatu vasokontriktor yangpoten, serta mungkin pula zat adiktif lain.

    3. Dilatasi arteri parenkim. Pembuluh darah parenkim otak yang tidak dipersarafi akan berdilatasi sebagaireaksi terhadap keadaan asidosis dan anoksia (iskemia). Peningkatan aliran darah, kenaikan tekanan internal

    dan peningkatan pulsasi pembuluh darah menyebabkan aliran darah melintas pembuluh darah yang padakeadaan normal untuk memberikan nutrisi.

    4. Vasodilatasi. Mekanisme kompensasi menimbulkan vasodilatasi pada arteri yang dipersarafi sehingga

    terjadi nyeri kepala. Agregasi trombosit dalam peredaran darah sistemik berkurang dan penurunan kadarserotonin menyebabkan vasodilatasi.

    (Kowalak, 2011)

    Patofisiologi Migrain Tanpa AuraMigren tanpa aura dimula di neuron-neuron nosiseptif di pembuluh darah. Sinyal nyeri berjalan dari pembuluhke aferem primer dan kemudian ke ganglion trigeminus, dan akhirnya mencapai nucleus kaudalis trigeminus,

    suatu daerah pengolah nyeri di batang otak. Neuron-neuron aktif di SSP kemudian mengekspresikan gen c-fos,yang ditekan oleh butabarbital di nucleus caudatus. (Kenneth, 2004)

    Patofisiologi Migrain dengan AuraPenyebaran gejala neurologic fokal spreading depression korteks yang terjadi saat depolarisasi listrik

    melintasi korteks dan merangsang neuron-neuron sehingga fungsi neuron terganggu dan terjadi pengaktifantrigeminus. Spreading depression memerlukan aktivitas reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) glutamate. Gejala

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    11/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 11

    aura yang khas adalah perubahan penglihatan dan sensorik abnormal. Aura bersifat somatosensorik seperti rasabaal di tangan atau satu sisi wajah.

    2.6.Manifestasi NYERI KEPALA

    Fase I : Prodromal

    Sebanyak 50% pasien mengalami fase prodromal ini yang berkembang pelan-pelan selama 24 jam sebelumserangan. Gejala: kepala terasa ringan , tidak enak, iritabel, memburuk bila makan makanan tertentu sepertimakanan manis, mengunyah terlalu kuat, sulit/malas berbicara.

    Fase II : Aura Gangguan penglihatan yang paling sering dikeluhkan pasien. Khas pasien melihat seperti melihat kilatanlampu blits (photopsia) atau melihat garis zig zag disekitar mata dan hilangnyasebagian penglihatan pada satu atau kedua mata (scintillating scotoma).

    Gejala sensoris yang timbul berupa rasa kesemutan atau tusukan jarum pada lengan, dysphasia. Fase ini berlangsung antara 560 menit. Sebanyak 80% serangan migraine tidak disertai aura.

    Fase III : Headache Nyeri kepala yang timbul terasa berdenyut dan berat. Biasanya hanya pada salah satu sisi kepala tetapi dapat

    juga pada kedua sisi. Sering disertai mual muntah tidak tahan cahaya (photofobia) atau suara (phonofobia).Nyeri kepala sering memburuk saat bergerak dan pasien lebih senang istrahat ditempat yang gelap dan ini seringberakhir Antara 272 jam.

    Fase IV : Postdromal

    Saat ini nyeri kepala mulai mereda dan akan berakhir dalam waktu 24 jam, pada fase inipasien akan merasakan lelah, nyeri pada ototnya kadang kadang euphoria. Setelah nyeri kepala hilang

    Tipe Tanda dan Gejala

    M igrain tanpa aura ( migrain biasa)

    Durasi 4 sampai 72 jam apabila tidak diobati

    Gejala prodromal yang meliputi rasa lelah,

    nausea, vomitus, dan ketidakseimbangan cairanyang mendahului serangan sakit kepala.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    12/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 12

    Sensitive terhadap cahaya dan bunyi berisik.

    Nyeri tipe sakit kepala (rasa pegal atau nyeriberdenyut yang bias unilateral atau bilateral).

    M igrain dengan aura (klasik)

    Biasanya terjadi pada kepribadian kompulsif. Gejala prodromal yang meliputi gangguanpenglihatan seperti penampakan garis zig zagdan cahaya yang terang, gangguan sensorik(kesemutan pada wajah, bibir serta tangan),gangguan motorik.

    Sakit kepala yang periodik dan rekuren.M igrain hemiplegik dan oftalmoplegik

    Biasanya terjadi pada dewasa muda Nyeri unilateral

    Kelumpuhan otot ekstraokuler (N. cranial III)

    dan psitosis. Migrain hemiplegic terdapat gangguan neurologi

    (hemiparesis, hemiplagia) yang dapat bertahan

    meskipun sakit kepala sudah mereda.

    M igrain ar teri basil aris

    Terjadi pada wanita muda periode haid Gejala prodromal yang meliputi gangguanpenglihatan parsial dengan keluhan vertigo,

    ataksia, tinnitus, kesemutan jari-jari tangan serta

    kaki.

    Nyeri kepala yang berupa nyeri berdenyut didaerah oksipital dn vomitus.

    (Kowalak, 2011)

    Membedakan Nyeri Kepala

    Jenis atau Penyebab Ciri Khas Pemeriksaan Diagnostik

    Ketegangan ototSakit kepala sering terjadi, nyeri hilangtimbul, tidak terlalu berat dan dirasakan dikepala bagian depan dan belakang atau

    dirasakan kekakuan menyeluruh.

    Pemeriksaan untukmenyingkirkan penyakit fisikserta penilaian faktor psikis &

    kepribadian.

    Migren

    Nyeri dimulai di dalam dan di sekitar mata

    atau pelipis, menyebar ke satu atau keduasisi kepala, biasanya mengenai seluruh

    kepala, berdenyut dan disertai denganhilangnya nafsu makan, mual dan muntah.

    Jika diagnosisnya masih

    meragukan dan sakit kepalabaru terjadi, dilakukan CT scan

    atau MRI/diberikan obat migrenuntuk melihat efeknya.

    Nyeri Kepala Cluster

    Serangannya singkat (sekitar 1 jam),dirasakan di satu sisi kepala, seranganterjadi secara periodik, menyerang pria yangdisertai dengan pembengkakan mata,hidung meler & mata berair pada sisi yang

    sama dengan nyeri.

    Obat migren diberikan untukmelihat efeknya (sumatriptan,metisergid/obat vasokonstriktor,kortikosteroid, indometasin)atau menghirup O2.

    Hipertensi Nyerinya berdenyut dan dirasakan di kepalabagian belakang atau di puncak kepala.

    Analisa kimia darah danpemeriksaan ginjal.

    Kelainan mata(iritis, glaukoma).

    Nyeri dirasakan di kepala bagian depan ataudi dalam dan di seluruh mata, bersifatsedang sampai berat dan seringkalimemburuk jika mata dalam keadaan lelah.

    Pemeriksaan mata.

    Kelainan sinus

    Nyeri bersifat akut atau subakut, dirasakandi kepala bagian depan, bersifat tumpul atau

    berat, biasanya memburuk di pagi hari,membaik di siang hari dan memburuk

    dalam keadaan dingin atau lembab.

    Rontgen sinus

    Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan sampai

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    13/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 13

    Tumor otakberat, dirasakan di satu titik atau di seluruhkepala. Kelemahan di salah satu sisi tubuhsemakin meningkat, kejang, gangguan

    penglihatan, kemampuan berbicara hilang,muntah dan perubahan mental.

    MRI atau CT scan

    Infeksi otak

    Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan sampaiberat, dirasakan di satu titik atau di seluruh

    kepala. Sebelumnya penderita pernahmengalami infeksi telinga, sinus atau paru-

    paru, penyakit jantung rematik ataupenyakit jantung bawaan.

    MRI atau CT scan

    Meningitis

    Nyeri baru dirasakan, menetap, berat dandirasakan di seluruh kepala serta menjalarke leher. Sakit disertai demam, muntah dan

    sebelumnya mengalami nyeri tenggorokanatau infeksi pernafasan dan leher sulit

    ditekuk.

    Pemeriksaan darah, pungsi

    lumbal.

    Hematoma subdural

    Nyeri hilang-timbul atau terus menerus,

    bersifat ringan sampai berat, bisa dirasakandi satu titik atau di seluruh kepala, menjalarke leher. Biasanya sebelumnya telah terjadi

    cedera pada penderita yang disertaipenurunan kesadaran.

    MRI atau CT scan.

    Perdarahan

    subaracnoid

    Nyeri baru dirasakan, menyebar, hebat danmenetap, kadang dirasakan di dalam dan di

    sekitar mata, kelopak mata turun.

    MRI atau CT scan, jika hasilnyanegatif maka dilakukan pungsi

    lumbal.

    Sifilis, tuberculosis,kriptococcus,

    kanker.

    Nyeri bersifat tumpul sampai berat dan

    dirasakan di seluruh kepala atau di puncakkepala, menderita demam meski tidakterlalu tinggi dan terdapat riwayat sifilis,

    tuberkulosis, kriptokokosis, sarkoidosis ataukanker pada pasien.

    Pungsi lumbal.

    (The International Classification of Headache Disorders, 2004)

    2.7.

    Diagnosis & DB, PF & PP NYERI KEPALA

    Diagnosis Nyeri Kepala

    Amanmesis

    Pertanyaan umum pada anamnesa keluhan nyeri kepala:1. Apakah nyeri kepala itu merupakan nyeri kepala biasa?

    Istilah biasa disini berarti nyeri kepala yang terjadi kadang-kadang tanpa sebab yang jelas dan lazim dideritabanyak orang. Namun kemungkinan adanya gangguan biokimiawi dibalik nyeri tersebut juga tidak dapat

    disingkirkan.2.

    Apakah pasien pernah mengalami gangguan cedera kepala yang terjadi segera, beberapa minggu bahkanbeberapa bulan sebelum timbulnya nyeri kepala untuk pertama kali?

    Nyeri kepala semacam ini bisa merupakan suatu gejala sisa setelah seseorang mengalami kontusio cerebri atauperdarahan subdural.3. Apakah disertai gejala demam?Jika ya, penyebabnya harus dipikirkan. Pada penyakit-penyakit infeksi tertentu, terutama demam tifoid daninfeksi yang disebabkan oleh arbovirus, nyeri kepala dapat dirasakan sangat hebat sehingga menutupi keluhan

    demamnya.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    14/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 14

    4. Bagaimana pasien menjelaskan nyeri kepala (lokasi, frekuensi, waktu, durasi, kualitas, faktor pemicu,faktor pereda)?5. Apakah nyeri kepala timbul tersendiri atau disertai kelainan lain (mual, muntah, pusing, fotofobia,

    penglihatan kabur)?(Price, 2006)

    Pertanyaan diagnostik spesifik:1. Apakah nyeri kepala menggangu kehidupan anda?2. Apakah ada perubahan pola nyeri kepala selama 6 bulan terakhir?

    3. Seberapa sering anda mengalami nyeri kepala tipe apapun?

    4.

    Seberapa sering anda menggunakan obat untuk mengatasi nyeri kepala?

    Kriteria diagnostik Migrain Tanpa Aura

    Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan.

    Serangan nyeri kepala berlangsung selama 4-72 jam (tidak diobati atau tidak berhasil diobati).

    Nyeri kepala mempunyai sedikitnya 2 diantara karakteristik berikut:

    1. Lokasi unilateral2. Kualitas berdenyut3. Intensitas nyeri sedang atau berat

    4. Keadaan bertambah berat oleh aktifitas fisik atau pasien menghindari aktivitas fisik rutin (seperti berjalanatau naik tangga).

    Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini:

    1. Nausea dan atau muntah2. Fotofobia dan fonofobia.

    Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain.

    Kriteria diagnostik Migrain dengan Aura

    Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan.

    Minimal memenuhi 3 dari 4 kriteria berikut ini :

    1. Satu atau lebih gejala aura yang reversibel yang mengindikasikan gejala fokal kortikal atau disfungsibatang otak.2. Minimal gejala aura muncul secara gradual dalam waktu > 4 menit.3. Gejala aura tidak berlangsung dalam waktu > 60 menit.4. Sakit kepala yang diikuti dengan aura disertai interval 60 menit.

    Tidak dijumpai adanya kelainan organik.

    Kriteria diagnostik Tension type headache

    Minimal ada 10 serangan nyeri kepala dengan frekuensi < 15 x/bulan atau < 180 x/tahun.

    Nyeri kepala berlangsung dari 30 menit7 hari.

    Minimal ada 2 kriteria nyeri sebagai berikut :

    1.Rasa seperti ditekan/berat di kepala (non pulsating, tidak berdenyut).2.

    Intensitas nyeri ringansedang.3.

    Lokasi bilateral.

    4.Tidak teragregasi oleh aktifitas fisik.

    Tidak dijumpai nausea, vomitus, photophobia, phonophobia jarang dijumpai.

    Pemeriksaan penunjang

    1. Foto Rontgen kepala.

    2. Elektroenchelpalograph/Elektro Enselo Grafi (EEG).3. CT-SCAN.

    4. Arteriografi, Brain Scan Nuklir.5.

    Pemeriksaan laboratorium (tidak rutin atas indikasi).6. Pemeriksaaan psikologi (jarang dilakukan).

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    15/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 15

    Diagnosis Banding

    Cedera serebrovaskular, arteritis temporalis, sinusitis, meningitis, perdarahan subarachnoid, sakit

    kepala pasca trauma, sakit kepala karena rangsangan dingin, sakit kepala yang diinduksi nitrat/nitrit,

    sakit kepala karena monosodium glutamat (MSG), penyakit sendi temporo mandibular,

    athritis servikalis.

    Gejala TensionHeadache

    ClusterHeadache

    Migren Tumor Otak

    Gender PR:LK=1,4:1 LK:PR=5:1 PR:LK=5:1 ???

    Usia Semua usia Semua usia 20-50 tahun 20-40 tahun

    Kronis/Akut Akut dan Kronis Akut dan Kronis Akut Kronis

    Lokasi Nyeri Leher, rahang Mata, sisi wajah Sisi sebelah atausemua sisi

    Seluruhkepala,memberat

    Waktu Timbul Nyeri Pagi hari Setiap waktu Pagi hari Pagi hari

    Muntah - - + +

    Mual - - + +

    Sakit Kepala saat

    mengedan, BAB,batuk

    - - - +

    2.8.

    Komplikasi NYERI KEPALA

    Komplikasi TTH adalah rebound headache yaitu nyeri kepala yang disebabkan oleh penggunaan obat - obatananalgesia seperti aspirin, asetaminofen, dllyang berlebihan. Tension type headache episodik dapat berkembangmenjadi tipe kronik, dan depresi akibat gejalanya dapat terjadi sebagai suatu komplikasi pada pasien.Komplikasi Migren adalah rebound headache, nyeri kepala yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan

    analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dll yang berlebihan.

    3.

    MM KLASIFI KASI & GAMBARAN KLINIS SOMATOFORM

    3.1.Kl asif ikasi Gangguan Nyeri

    Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagaicontohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang

    bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial

    atau pekerjaan. (Kaplan, 1997)Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa factor psikologis

    adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform

    adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

    Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:

    Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.

    Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.

    Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa iamenderita penyakit tertentu.

    Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan

    bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.

    Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis

    atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    16/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 16

    Klasifikasi Gangguan Somatoform

    a.Gangguan Somatisasi

    Gangguan somatisasi adalah salah satu gangguan somatoform spesifik yang ditandai oleh

    banyaknya keluhan fisik/gejala somatik yang mengenai banyak sistem organ yang tidak dapatdijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.

    Gangguan somatisasi

    dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkaan sistem

    organ yang multiple (gastrointestinal dan neurologis).

    b.Gangguan hipokondriasis

    Adalah keterpakuan (preokupasi) pada ketakutan menderita, atau keyakinan bahwa seseorangmemiliki penyakit medis yang serius, meski tidak ada dasar medis untuk keluhan yang dapat

    ditemukan. Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simptom fisik yang

    dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, seperti kanker atau

    masalah jantung.

    c. Gangguan nyeri menetap

    Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologisatau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. Pasien sering wanita yang merasa

    mengalami nyeri yang penyebabnya tidak dapat ditemukan. Munculnya secara tiba-tiba, biasanya

    setelah suatu stres dan dapat hilang dalam beberapa hari atau berlangsung bertahun tahun. Biasanyadisertai penyakit organik yang walaupun demikian tidak dapat menerangkan secara adekuat keparahan

    nyerinya.

    d.Gangguan konversiAdalah suatu tipe gangguan somatoform yang ditandai oleh kehilangan atau kendala dalam fungsi

    fisik, namun tidak ada penyebab organis yang jelas. Simptom fisik biasanya muncul tiba-tiba dalam

    situasi yang penuh tekanan. Tangan seorang tentara dapat menjadi lumpuh saat pertempuran yang

    hebat, misalnya.

    e.

    Gangguan dismorfik tubuhGangguan dismorfik tubuh (body dismorphic disorder) ditandai oleh kepercayaan palsu atau

    persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. Orang dengan gangguan ini

    terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka.Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri di depan cermin dan

    mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, seperti

    menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan, menarik diri secara sosial atau bahkan diam di rumahsaja, sampai pada pikiran-pikiran untuk bunuh diri.

    Epidemiologi Gangguan Somatoform

    Faktor risiko gangguan somatoform: riwayat orangtua, pola asuh dalam keluarga yang salah, wanita

    lebih banyak menderita, memiliki kepribadian yang mudah cemas, orang yang tertutup, alkoholism, serta padapenyalahgunaan obat.

    Prevalensi gangguan somatisasi pada populasi umum diperkirakan 0,1 sampai 0,2 %. Prevalensigangguan somatisasi pada wanita di populasi umum adalah 12 %. Rasio penderita wanita dibanding laki-lakiadalah 5 berbanding 1 dan biasanya gangguan mulai pada usia dewasa muda (sebelum usia 30 tahun).

    Gangguan somatisasi seringkali bersama-sama dengan gangguan mental lainnya. Sifat kepribadian ataugangguan kepribadian yang seringkali menyertai adalah yang ditandai oleh ciri penghindaran, paranoid,mengalahkan diri sendiri dan obsesif konpulsif.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    17/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 17

    Hipokondriasis. Satu penelitian terakhir melaporkan pravalensi enam bulan sebesar 4-6% pada populasiklinik medis umum. Laki-laki dan wanita memiliki perbandingan yang sama. Onset gejala dapat terjadi padasetiap usia, onset paling sering antara usia 20 dan 30 tahun. Beberapa bukti menyatakan bahwa diagnosis adalahlebih sering diantara kelompok kulit hitam dibandingkan kulit putih, tetapi posisi sosial, tingkat pendidikan, danstatus perkawinan tampaknya tidak mempengaruhi diagnosis. (Yutzy, 2006)

    Pada gangguan konversi, rasio wanita terhadap laki-laki 2 berbanding 1. Laki-laki dengan gangguankonversi seringkali terlibat di dalam kecelakaan ataupun militer. Paling sering terjadi pada daerah pedesaan,orang dengan pendidikan rendah, mereka dengan intelegensi rendah, dan anggota militer.

    Gangguan dismorfik tubuh paling sering antara 15-20 tahun dan wanita lebih sering dibanding laki-laki.

    Satu penelitian membuktikan 90% pasien dengan gangguan dismorfik tubuh pernah mengalami episode defresifberat dalam hidupnya.

    Gangguan nyeri didiagnosis 2x lebih sering pada wanita daripada pria. Gangguan nyeri paling mungkinpada pekerja buruh. (Kaplan, 1997)

    3.2.Penyebab Somatoform

    Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang mempunyai tujuantertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan ini. Selain itu,

    dihubungkan pula dengan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu dilobus frontalis dan hemisfer non dominan.

    Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut:a.Faktor-faktor BiologisFaktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada gangguan somatisasi).

    b.Faktor Lingkungan Sosial

    Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran sakit yang dapatdiekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform.

    c.Faktor Perilaku

    Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:

    Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak nyaman

    atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).

    Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit.

    Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh dapatsecara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada

    kekhawatiran akan kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan.d.Faktor Emosi dan Kognitif

    Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda yang terlibat

    adalah sebagai berikut:

    Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simptom fisik sebagai tanda dari adanya penyakit

    serius (hipokondriasis).

    Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls yang tidak dapatditerima dikonversikan ke dalam simptom fisik (gangguan konversi).

    Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu strategi self-

    handicaping(hipokondriasis).(Khan, 2003)

    Pada gangguan Somatisasi berhubungan dengan:

    *Faktor PsikososialRumusan psikososial tentang penyebab gangguan melibatkan interpretasi gejala sebagai sutu tipe

    komunikasi sosial, hasilnya adalah menghindari kewajiban, mengekspresikan emosi, atau untuk

    mensimbolisasikan suatu perasaan atau keyakinan. Beberapa pasien dengan gangguan somatisasiberasal dari rumah yang tidak stabil dan telah mengalami penyiksaan fisik. Faktor sosial, kultural dan

    juga etnik mungkin juga terlibat dalam perkembangan gangguan somatisasi.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    18/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 18

    *Faktor BiologisFaktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya penurunan metabolisme

    (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non-dominan. Selain itu didugaterdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang mungkin menyebabkan beberapa gejala yang

    ditemukan pada gangguan somatisasi.

    Pada gangguan hipokondriasis berhubungan dengan:*Model belajar sosial. Gejala hipokondriasis dipandang sebagai keinginan untuk mendapatkan peranan

    sakit oleh seseorang untuk menghadapi masalah yang tampaknya berat dan tidak dapat dipecahkan.*Varian dari gangguan mental lain. Gangguan yang paling sering dihipotesiskan berhubungan denganhipokondriasis adalah gangguan depresif dan gangguan kecemasan.

    *Psikodinamika. Menyatakan bahwa harapan agresif dan permusuhan terhadap orang lain dipindahkan

    (melalui represi dan pengalihan) kepada keluhan fisik. Hipokondriasis juga dipandang sebagai

    pertahanan dan rasa bersalah, rasa keburukan yang melekat, suatu ekspresi harga diri yang rendah, dantanda perhatian terhadap diri sendiri (self-concern) yang berlebihan.

    (Kaplan, 2003)

    3.3. Factor Pr edisposisi (Aspek Kepribadian Di ri Sendiri )

    3.4. Factor Presipitasi (Psikososial Efek Stressornya)

    3.5. Manif estasi Kl in is

    Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang disertaipermintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah

    dijelaskan dokter bahwa tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya (Kapita Selekta, 2001).

    Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam bernafas atau menelan, atau ada yangmenekan di dalam tenggorokan. Masalah-masalah seperti ini dapat merefleksikan aktivitas

    yang berlebihan dari cabang simpatis sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan

    kecemasan. Kadang kala, sejumlah simptom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti

    kelumpuhan pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf. Dalam kasus-kasuslain, juga dapat ditemukan manifestasi di mana seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka

    menderita penyakit yang serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan

    (Nevid, 2005).Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama

    pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya

    memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III,2003).

    Gambaran keluhan gejala somatoform

    Neuropsikiatri: kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik ; saya tidak dapatmenyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya

    Kardiopulmonal: jantung saya terasa berdebar debar. Saya kira saya akan mati

    Gastrointestinal: saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada dokter

    yang dapat menyembuhkannyaGenitourinaria:saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan pemeriksaan

    namun tidak di temukan apa-apaMusculoskeletal: saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang waktuSensoris: pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kacamata tidak akan

    membantu

    Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi, hipokondriasis,gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi. (PPDGJ, 2003)

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    19/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 19

    Gangguan somatisasi1.Adanya beberapa keluhan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika diperiksa secara

    fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ia tetap kontinyu memeriksakan diri.2.Gangguan tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang umumnya, misalnya sakit kepala,

    sakit perut, sakit dada, mest.ruasi tidak teratur.

    3.Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan tersiksa/merana.

    4.Berulang kali memeriksa diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat di RS bahkandilakukan operasi.

    5.

    Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperti kesulitan dalam pernikahan.

    Gangguan konversi

    1.Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi walaupun secara fisiologis, pada sistem

    saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat gangguan/kelainan.

    2.Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total pada tangan,lengan, atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti ditusuk-tusuk, ketidakpekaan

    terhadap nyeri atau hilangnya kemampuan untuk merasakan sensasi (anastesi), kelumpuhan, kebutaan,

    tidak dapat mendengar, tidak dapat membau, suara hanya berbisik, dll.

    3.Biasanya muncul tiba-tiba dalam keadaan stres, adanya usaha individu untuk menghindari beberapaaktivitas atau tanggungjawab.

    4.

    Konsep Freud: energi dari insting yang di refleks berbalik menyerang dan menghambat fungsisaluran sensorimotor.5.Kecemasan dan konflik psikologik diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik.

    Hipokondriasis1.Meyakini/ketakutan atau pikiran yang berlebihan dan menetap bahwa dirinya memiliki suatu

    penyakit fisik yang serius.

    2.Adanya reaksi fisik yang berlebihan terhadap sensasi fisik/tubuh (salah interpretasi terhadap gejalafisik yang dialaminya), misalnya otot kaku, pusing/sakit kepala, berdebar-debar, kelelahan.

    3.Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak dokter atau

    RS.

    4.

    Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dokter, walaupun hasilpemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah diyakinkan.

    5.Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau

    aspek penting lainnya.

    Gangguan dimorfik tubuh

    1.Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebih-lebihkan kekurangan dalam hal

    penampilan (misalnya : keriput di wajah, bentuk atau ukuran tubuh).2.Keyakinan/perhatian berlebihan ini meyebabkan stres, menghabiskan banyak waktu, menjadi mal-

    adaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau aspek penting lainnya

    (menghindar/tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah atau pekerjaan), juga menyebabkan dirinya

    sering harus konsultasi untuk operasi plastik3.

    Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya.

    Gangguan nyeri1.Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat dan berkepanjangan,

    namun tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah pemeriksaan yang intensif).

    2.Rasa nyeri ini bersifat subyektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di satu ataubeberapa bagian tubuh.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    20/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 20

    3.Rasa nyeri ini menyebabkan stress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan aspek pentinglainnya.

    4.Faktor-faktor psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan, memperburukrasa nyeri.

    3.5.Kr iteri a Diagnosis Berdasarkan Ppdgj

    Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi,

    F.45.0

    gangguan somatisasiF.45.1 gangguan somatoform tak terperinci

    F.45.2 gangguan hipokondriasisF.45.3

    disfungsi otonomik somatoformF.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap

    F.45.5 gangguan somatoform lainnyaF.45.6 gangguan somayoform YTT

    DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ ditambah dengan gangguan

    konversi, gangguan dismorfik tubuh.

    Pada bagian psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguian somatisasi dan

    hipokondriasis.

    Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi

    A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periodebeberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial,

    pekerjaan, atau fungsi penting lain.

    B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarangwaktu selama perjalanan gangguan:

    1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau

    fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum,

    selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi).2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri

    (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi

    terhadap beberapa jenis makanan)3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri

    (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur,

    perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan

    pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan

    koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan

    di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda,kebutaan, ketulian, kejang;gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain

    pingsan).

    C.

    Salah satu (1) atau (2):1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh

    sebuah kondisi medis umum yangdikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,

    medikasi, obat, atau alkohol).2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang

    ditimbulkannya adalah melebihi apa yangdiperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atautemuan laboratorium.

    D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    21/30

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    22/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 22

    D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguanbuatan atau berpura-pura).

    E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotikdan tidak memenuhi kriteria dispareunia.

    Tuliskan seperti berikut:

    Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap memiliki

    peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri. Sebutkan jika:

    Akut: durasi kurang dari 6 bulan

    Kronis: durasi 6 bulan atau lebihGangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umumSebutkan jika:

    Akut:durasi kurang dari 6 bulan

    Kronis:durasi 6 bulan atau lebih

    Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untukmempermudah diagnosis banding.

    Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan

    A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan gastrointestinalatau saluran kemih).

    B.

    Salah satu (1) atau (2)1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medisumum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat,

    atau alkohol).

    2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial ataupekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit,

    pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.

    C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

    D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.

    E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan

    somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguanpsikotik).

    F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau

    berpura-pura).

    Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis

    A. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III).

    B. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:1.Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh hubungan erat

    antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan, atau keterlambatan

    penyembuhandan, kondisi medis umum.

    2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.

    4.Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala-

    gejala kondisi medis umum.Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor, nyatakan yang

    paling menonjol).

    Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif berat memperlambat

    pemulihan dan infark miokardium). Gejala psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    23/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 23

    depresif memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi asma). Sifatkepribadian atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis (misalnya penyangkalan

    psikologis terhadap pembedahan pada seorang pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekanmenyebabkan penyakit kandiovaskular).

    Perilaku kesehatan mal-adaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga, seks yang

    tidak aman, makan berlebihan). Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi

    kondisi medis umum (misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension headache yangberhubungan dengan stres).

    Diagnosis Banding Gangguan Somatofom

    a. Gangguan Somatisasi

    Klinisi harus selalu menyingkirkan kondisi medis non-psikiatrik yang dapat menjelaskan gejala

    pasien. Gangguan medis tersebut adalah sklerosis multiple, miastenia gravis, lupus eritematosussistemik kronis. Selain itu juga harus dibedakan dari gangguan depresi berat, gangguan kecemasan

    (anxietas), gangguan hipokondrik dan skizofrenia dengan gangguan waham somatik.

    b.Hipokondriasis

    Kondisi medis nonpsikiatrik: khususnya gangguan yang tampak dengan gejala yang tidak mudahdidiagnosis. Penyakit-penyakit tersebut adalah AIDS, endokrinopati, miastenia gravis, skerosis

    multiple, penyakit degeneratif pada sistem saraf, lupus eritematosus sistemik, dan gangguan neoplastikyang tidak jelas.c. Gangguan Konversi

    Gangguan neurologis (seperti demensia, penyakit degeneratif), tumor otak, penyakit ganglia basalis

    harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.d.Gangguan Dismorfik Tubuh

    Pada distorsi citra tubuh terjadi pada anoreksia nervosa, gangguan identitas jenis kelamin, gangguan

    depresif, gangguan kepribadian narsistik, skizofrenia dan gangguan obsesif-kumpulsif.e.

    Gangguan Nyeri

    Gangguan nyeri harus dibedakan dari gangguan somatoform lain, seperti nyeri pada hipokondrial,

    nyeri pada konversi.

    (Kaplan, 1997)3.6.Terapi Psikosuport if

    Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang menekankanhubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan, memerlukan tanggung jawab

    bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi

    adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik.Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik,

    sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik.

    Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan

    dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan,

    yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok danterapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan

    anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan

    psikosomatik. keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anakdalam perkembangan gangguan psikosomatik.

    Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan intervensikrisis. Pengobatan psikofarmakologis diindikasikan bila gangguan somatisasi disertai dengan

    gangguan penyerta (misalnya: gangguan mood, gangguan depresi yang nyata, gangguan anxietas.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    24/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 24

    Medikasi harus dimonitor karena pasien dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obatsecara berlebihan dan tidak dapat dipercaya.

    Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan berbagai teknik.

    Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan gejala, tinjauan psikososial, danpsikoterapi.

    Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, penatalaksanaan stres, psikoterapi,dan pemberian antidepresan.

    Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan terapi, dan

    pemberian antidepresan.

    Pendekatan terapi

    a. Berhubungan dengan primary care practitioner memonitoring gejala yang dialami pasien,apakah ada gejala baru, dan pengobatan yang diberikan. Diperlukan juga untuk berkonsultasi dengan

    psikiatri.

    b.Medikamentosa

    c. Pasien dengan somatoform disorder terkadang diperlukan obat anti-anxietas atau obat antidepresanjika ada mood atai anxietas disorder. Tricyclic antidepresant dan selective serotonin reuptake

    inhibitors (SSRI) mungkin bisa membantu.

    d.Psikoterapi.

    Cognitif-behavioural therapy

    Terapis behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai usaha memenuhitanggung jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan. Teknik kognitif behavioral, paling sering

    pemaparan terhadap pencegahan respons dan restrukturisasi kognitif, juga mencapai hasil yang

    memberikan harapan dalam menangani gangguan dismorfik tubuh (BDD). Pencegahan respons

    berfokus pada pemutusan ritual kompulsif seperti memeriksa di depan cermin (dengan menutup semuacermin) dan berdandan berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan pasien

    dengan cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas.

    (Yutzy, 2006)Perhatian akhir-akhir ini beralih pada penggunaan anti depressan terutama fluoxetine (Prozac) dalam

    menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Meski kita kekurangan terapi obat yang spesifikuntuk gangguan konversi, sebuah penelitian terhadap 16 pasien hipokondriasis menunjukkan

    penurunan yang berarti terhadap keluhan-keluhan hipokondrial setelah percobaan selama 12 minggudengan Prozac.

    HipnosisTujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan

    berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan, yang

    berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapikeluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak,

    mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan

    psikosomatik. Keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anakdalam perkembangan gangguan psikosomatik.*motivasi: perlu motivasi dari orang lain, karena pasien sering kali berpikir bahwa mereka tidak

    memerlukan terapi.

    *konfrontasi: merespon dengan cara mendukung melalui konfrontasi terhadap akibat dari pemikirandan pola perilaku. Lebih efektif bila dilakukan oleh teman sebaya, psikoterapis.

    *peran keluarga dan kelompok.

    *dorongan dan partisipasi sangat efektif bagi pasien.*bila terdapat cemas dan depresi maka berikan anti-depresan namun terkadang tidak efektif.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    25/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 25

    Terapi jangka panjang

    Terapi wicara: psikoterapi yang dimaksudkan untuk membantu pasien mengerti apa penyebabkecemasan dan mengenal perilakunya yang tidak pantas, sebagai landasan untuk pengobatan lainnya.

    Psikoanalisis: bila ditemukan gangguan kepribadian seperti, narsis/obsesif kompulsif. (Khan, 2003)

    3.7.prognosis

    komplikasi*komplikasi iatrogenik akibat prosedur diagnostik invasif / prosedurprosedur operasi.

    *ketergantungan pada substansi- substansi pengontrol yang diresepkan.*kehidupan yang bergantung pada orang lain.*suicide.

    Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat gangguannya (kronikatau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik, dapat ditangani secara sempurna. Sangat

    sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi, dapat bervariasi dari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebihawal dan menjadikan prognosis menjadi lebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian.Kematian lebih disebabkan karena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)

    4.

    MM TATALAKSANA FARMAKOTERAPI NYERI KEPALA & NYERI SOMATOFORM

    Penatalaksanaan Nyeri Kepala

    Sasaran penatalaksanaan tergantung lama dan intensitas nyeri, gejala penyerta, derajat disabilitas serta respon

    awal dari pengobatan dan mungkin pula ditemukan penyakit lain seperti epilepsi, ansietas, stroke, infarkmiokard. Karena itu harus hati-hati memberikan obat. Bila ada gejala mual/muntah, obat diberikan rektal, nasal,subkutan atau intra vena.

    Tatalaksana pengobatan migren dapat dibagi kepada 4 kategori

    a. Langkah umumb. Terapi abortif

    c. Langkah menghilangkan rasa nyerid. Terapi preventif

    A. Langkah UmumPerlu menghindari pencetus nyeri, seperti perubahan pola tidur, makanan, stres dan rutinitas sehari-hari, cahaya

    terang, kelap kelip, perubahan cuaca, berada ditempat yang tinggi seperti gunung atau di pesawat udara.

    B. Terapi Abortif

    Pada serangan ringan sampai sedang atau serangan berat. Analgesik ringan aspirin ( drug of choice). Bila tidakrespon terhadap NSAIDs, dipakai obat spesifik. seperti: Triptans (naratriptans, rizatriptan, sumatriptan,

    zolmitriptan), Dihydro ergotamin (DHE), obat kombinasi (aspirin dengan asetaminophen dan kafein), obatgolongan ergotamin.

    Tabel obat spesifik

    Jenis obat

    1. Ergotamin Dosis : 1-2 mg oral/jam, maksimal 3 dosis sehari, gunakan dosisefektif terkecil.

    Suppos : 1 mg, dosis maks, 2-3/ hr dan 12/bulanKontra indikasi : pengguna triptans, hamil, menyusui, hipertensi,

    sepsis, coronary, cerebral, peripheral vascular disease.Adverse react: Increased incidence of migraines, daily headaches,tachycardia,arterial spasm, numbness and tingling, vomiting,

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    26/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 26

    diarrhea, dizziness, abdominal cramps.

    2. Caffeine plus Ergotamine Dosis: 2 tablet (100 mg caffeine/1mg ergot) pada saat onset,

    kemudian 1 tab tiap 30 menit, dapat naik sampai 6 tab.(jangan lebih10 tab/minggu nya).Suppos (2 mg ergot/100 mg caff).

    3. Dihydroergotamine(DHE)

    Dosis: 1 mg IM, SC Max initial dose: 0.5 to 1.0 mg; dapat diulangtiap jam sampai dosis max 3 mg IM atau 2 mg IV per hari, dan 6 mg

    per minggu.

    Intranasal: 0.5-mg spray pada tiap nostril, dosis maksimal 4 spray (2mg) per hari.

    Triptans

    1.

    Sumatriptan Dosis: 6 mg SC, dapat diulang dalam 1 jam, dosis maksimal 12

    mg/hr. 25 -100 mg oral /2 jam, dosis maks: 200 mg/hariMax initial dose: 100 mg.Intranasal: 5 -10 mg (1-2 spray) pada satu nostril; dapat diulang

    sesudah 2 jam, dosis maksimal 40 mg/hari.Kontraindikasi : Ergotamine, hemiplegic atau basilar migraine,hamil, gangguan fungsi hepar, CAD, MAOI

    Adverse react : vomiting, vertigo, headache, chest pressure andheaviness.

    2.

    Naratriptan Dosis: 1.0 - 2.5 mg ooral/4 jam, dosis max 5 mg per hari.Kontra indikasi : Ergot-type medications, kontrasepsi oral, merokok,

    CAD.Adverse react : Dizziness, nausea, fatigue.

    3. Rizatriptan Dosis: 5 - 20 mg oral/2jam, dosis maks 30 mg per hari.Kontra indikasi : Ergot-type medications, other triptans,

    propranolol, cimetidine, CADAdverse react : Tachycardia, throat tightness.

    4. Zolmitriptan Dosis: 2.5-5.0 mg oral/2 jam, dosis maks 10 mg per hari.Kontra indikasi: Ergot-type medications, other triptans, CAD.

    (Gunawan, 2007)

    C.

    Langkah Menghilangkan Rasa NyeriTerapi abortif mungkin belum mengatasi nyeri secara komplit, dibutuhkan analgesik NSAIDs. Obat OTCs

    yang direkomendasikan FDA ialah kombinasi aspirin 250 mg, acetaminophen 250 mg dan caffein 65 mg.

    Ketoralac tromethamin non narcotic, non habituating dapat dipakai, efek sampingnya minim, dosis 60 mgi.m.

    Analgesik narkotik, antiemetik, pheno-tyhiazines, dan kompres dingin bisa mengurangi nyeri. Analgesik

    narkotik (codein, meperidine HCL , methadone HCL) diberikan parenteral, efektif menghilangkan nyeri. Antiemetik diberikan parenteral atau suppositoria (phenergan, chlopromazine dan prochlorperazine) mempunyai

    efek sedatif dan anti mual. Transnasal butorphanol tartrate diberikan parenteral. Pemberian nasal efektif karenasifat mukosa hidung lebih cepat mengabsorbsi. (Price, 2006)

    D.

    Terapi preventif

    Prinsip umum terapi preventif :*Mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan.*Meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan.*Meningkatkan aktivitas sehari-hari, serta pengurangan disabilitas.

    Formula Prevensi Migren.

    *Pemakaian obat: dosis rendah yang efektif dinaikkan pelan-pelan sampai dosis efektif. Efek klinik tercapaisetelah 2-3 bulan.

    *Pendidikan terhadap penderita: teratur memakai obat, perlu diskusi rasional tentang pengobatan, efek samping.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    27/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 27

    *Evaluasi : Headache diary merupakan suatu gold standart evaluasi serangan, frekuensi, lama, beratnyaserangan, disabilitas dan respon obat.*Kondisi penyakit lain : pedulikan kelainan yang sedang diderita seperti stroke, infark myocard, epilepsi danansietas, penderita hamil (efek teratogenik), hati-hati interaksi obat-obat.

    Tabel Obat profilaksis Migren

    Jenis Obat Dosis Efek Samping Kontraindikasi

    -blokers

    Atenolol

    MetaprololNadololPropanolol

    50-150mg/hr

    100-200 mg/hr20-160 mg/hr40-240 mg/hr

    Fatigue, bronchospasm,

    bradikardi, hipotensi, depresi,congestive heart failure,impotensi,

    gangguan tidur.

    Pasien asma, DM, peny.

    vaskuler perifer, heartblock, ibu hamil.

    Calcium channel

    blockers

    Flunarizine

    Verapamil

    5-10 mg/hr

    240-320 mg/hr

    Fatigue, depresi, bradikardi,

    hipotensi, konstipasi, nausea,edema.

    ibu hamil, hipertensi,

    aritmia.

    Serotonin receptor

    antagonists

    Methysergide

    2 mg (max 8mg/hr) Retroperitoneal,cardiac andpulmonary fibrosis

    hipertensi, kehamilan,tromboflebitis.

    Pizotyline (pizotifen) 0.5 mg (max 3-6mg/hr)

    Weight gain, Fatigue.

    Tricyclic analgesicsAmitriptiline

    Nortriptiline

    10-150 mg

    10-150 mg

    Mulut kering, konstipasi,

    weightgain, drowsiness,reduced seizure threshold,cardiovascular effects.

    kelainan liver, ginjal,

    paru, jantung,glaukoma, hipertensi.

    Anti-epileptik

    Divalproex

    Sodium

    valproateValproic acid

    500-1500 mg/d

    500-1500 mg/d

    500-1500 mg/d

    Nausea, tremor, weight gain,

    alopecia, increased liver

    enzyme levels.

    Gabapentin 900-1800 mg/hr

    (max 2400)

    Dizzines, fatique, ataxia,

    nausea, tremor.

    (Kenneth, 2004)

    Tatalaksana Nyeri Kepala Tension

    Terapi Non-farmakologi*Melakukan latihan peregangan leher atau otot bahu sedikitnya 20 sampai 30 menit.*Perubahan posisi tidur.

    *Pernafasan dengan diafragma atau metode relaksasi otot yang lain.

    *Penyesuaian lingkungan kerja maupun rumah.*Pencahayaan yang tepat untuk membaca, bekerja, menggunakan komputer, atau saat menonton televisi.*Hindari eksposur terus-menerus pada suara keras dan bising.*Hindari suhu rendah pada saat tidur pada malam hari.

    (Price, 2006)

    Terapi farmakologi

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    28/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 28

    *Menggunakan analgesik atau analgesik plus ajuvan sesuai tingkat nyeri. Seperti obat-obat OTC: aspirin,acetaminophen, ibuprofen atau naproxen sodium. Produk kombinasi dengan kafein dapat meningkatkan efekanalgesik.*Untuk sakit kepala kronis, perlu assesment yang lebih teliti mengenai penyebabnya, misalnya karena anxietasatau depresi.

    *Pilihan obatnya adalah antidepresan, seperti amitriptilin atau antidepresan lainnya. Hindari penggunaananalgesik secara kronismemicu rebound headache.

    (Kowalak, 2011)

    Tatalaksana Cluster headacheSasaran terapi : menghilangkan nyeri (terapi abortif), mencegah serangan (profilaksis).

    Strategi terapi : menggunakan obat NSAID, vasokonstriktor cerebral.

    *Obat terapi abortif: oksigen, ergotamin, sumatriptan (dosis sama dengan dosis migren).

    *Obat terapi profilaksis: verapamil, litium, ergotamin, metisergid, kortikosteroid, topiramat.

    Komplikasi Nyeri Kepala

    Komplikasi dapat meliputi: kesalahan diagnosis, status migren, ketergantungan obat dan perubahan gaya hidup.

    Prognosis Nyeri KepalaPrognosis nyeri kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkan indikasi merujuk pada keadaan : (1)

    sakit kepala yang tiba-tiba dan timbul kekakuan di leher, (2) sakit kepala dengan demam dan kehilangankesadaran, (3) sakit kepala setelah terkena trauma mekanik pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada

    bagian mata dan telinga, (5) sakit kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalamiserangan, (6) sakit kepala yang rekuren pada anak.

    Pencegahan Nyeri KepalaPencegahan nyeri kepala adalah dengan mengubah pola hidup dengan cara mengatur pola tidur yang samasetiap hari, berolahraga secara rutin, makan makanan sehat dan teratur, kurangi stress, menghindari pemicunyeri kepala yang telah diketahui. (Price, 2006)

    Terapi Medikamentosa somatoform

    Golongan Mekanisme Kerja Contoh

    Anti depresan trisiklik Menghambat reuptake

    5-HT/NE secara tidakselektif

    Amitriptilin, imipramin,

    desipramin, nortriptilin,klomipramin

    SSRIs (selective serotoninreuptake inhibitors)

    Menghambat secaraselektif reuptake 5-HT

    Fluoksetin, paroksetin,sertralin, fluvoksamin

    Mixed DA/NE reuptake

    Inhibitor

    Menghambat reuptake

    DA/NE secara tidak

    selektif

    Trazodon, nefazodon,

    mirtazapin, bupropion,

    maprotilin, venlafaksin

    MAO inhibitors Menghambat aktivitasenzim MAO Phenelzine,tranylcypromine

    Dosis

    *Depresi ringan sampai dengan sedang 25 mg 1-3 x sehari atau 25-75 mg 1 x sehari tergantung dari

    beratnya gejala.

    *Depresi berat 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari. Maksimal: 150 mg/hari dalam dosis tunggalatau terbagi.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    29/30

    LUSY NOVITASARI

    1102011144NYERI KEPALA &SOMATOFORM Page 29

    *Lansia Awal 10 mg 3 x sehari atau 25 mg 1 x sehari. Bila perlu tingkatkan bertahap sampai 25 mg 3x sehari atau 75 mg 1 x sehari.

    Efek SampingReaksi SSP, antikolinergik ringan, sinus takikardi, hipotensi pustural, reaksi alergi pada kulit, kejang,

    aritmia, gangguan hantaran jantung, alveolitis alergi, hepatitis.

    Kontraindikasi

    *epilepsi atau ambang rangsang lebih rendah, intoksikasi akut oleh alkohol, gangguan hantaran

    jantung, glaukoma sudut sempit, retensi urin, hepatitis berat, gangguan ginjal.*pengguanaan bersama obat analgesik, hipnotik, atau psikotropik.

    Perhatian pada pasien dengan:

    *Insufisiensi hati & ginjal, retensi urin, riwayat peningkatan tekanan intra okular, hamil, laktasi,

    skizofrenia, gangguan afektik siklik, dapat mengganggu kemampuan mengemudi/menjalankan mesin.

    Rujukan: penanganan pada kasus ini juga membutuhkan dukungan dari berbagai bidang ilmu misalnyapsikiatri, ahli penyakit dalam, keluarga, serta para ulama (bila perlu).

    (Gunawan, 2007)

    5. MM KONSULTASI PERNIKAHAN DENGAN CARA MEMBINA KELUARGA SAMARA

    Sakinahmengandung makna ketenangan.

    Setiap jenis laki-laki atau perempuan, jantan atau betina, dilengkapi Allah dengan alat serta

    aneka sifat dan kecenderungan yang tidak dapat berfungsi secara sempurna jika ia berdiri sendiri.

    Kesempurnaan eksistensi makhluk hanya tercapai dengan bergabungnya masing-masing pasangan

    dengan pasangannya sesuai dengan sunnatullah.

    Memang benar bahwa sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi

    tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat denganpihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi

    tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia butuh pasangan hidup dengan jalan menikah,berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Ketenangan hidup ini didambakan oleh suami

    istri setiap saat, termasuk saat sang suami meninggalkan rumah dan anak istrinya.

    Sakinahterlihat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang

    halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati,serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara

    umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak

    menyandangKeluarga Sakinah.

    Mawaddahmengandung arti rasa cinta.Mawaddahini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan

    dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan

    kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan

    mereka. Disamping itu dia merasakan adanya ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada

    istrinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan mawaddah diantara manusia yang satudengan manusia yang lain sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada di antara suami istri.

  • 8/10/2019 PBL 3 Neuro - Nyeri Kepala & Somatoform - Lusy

    30/30

    Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugrah dari Allah Swt kepada keduanya,dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa

    cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yangsemestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah Swt,

    karena Allah berfirman,

    Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian

    melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka merekaitulah orang-orang yang merugi. (Al-Munafiquun [63]: ayat 9)

    Allah Swt tumbuhkan mawaddah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin

    sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin

    menyebabkan adanya rasa kasih sayang, apalagi rasa cinta.

    Rahmahmengandung arti Rasa Sayang.

    Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetian dan kebahagiaan yang

    dihasilkannya.

    Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada

    syarat bagi kehadirannya.Ia harus diperjuangkan, dan yang lebihutama, adalah menyiapkan

    kalbu.Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalambentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam keluarga maupun dalam masyarakat.