of 69 /69
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Prevalensi hipertensi telah banyak dilaporkan di berbagai daerah di dunia. Ini adalah peringkat ketiga sebagai penyebab kecacatan-adjusted life-tahun dan merupakan faktor risiko utama untuk kematian. Pada tahun 2025, 1,56 miliar orang diperkirakan memiliki hipertensi. Di Malaysia, prevalensi hipertensi di antara orang dewasa berusia 30 tahun ke atas meningkat dari 32,9% pada tahun 1996 menjadi 40,5% pada tahun 2004 dan menjadi 42,6% pada tahun 2006. Tekanan darah tinggi trek relatif baik dari pemuda untuk dewasa, membuat tekanan darah pada remaja prediktor yang berguna hipertensi esensial di masa dewasa. 1 Saat ini, 6.267.376 juta orang ≥ 18 tahun dengan hipertensi di Malaysia. Proyeksi prevalensi hipertensi pada tahun 2020 - 35,8%, dengan perkiraan 7,6 juta warga Malaysia berusia 18 tahun ke atas. 2

Proposal Penelitian Lusy

Embed Size (px)

DESCRIPTION

efektifitas bekam terhadap mpenurunan kadar kolesterol darah

Text of Proposal Penelitian Lusy

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang MasalahPrevalensi hipertensi telah banyak dilaporkan di berbagai daerah di dunia. Ini adalah peringkat ketiga sebagai penyebab kecacatan-adjusted life-tahun dan merupakan faktor risiko utama untuk kematian. Pada tahun 2025, 1,56 miliar orang diperkirakan memiliki hipertensi. Di Malaysia, prevalensi hipertensi di antara orang dewasa berusia 30 tahun ke atas meningkat dari 32,9% pada tahun 1996 menjadi 40,5% pada tahun 2004 dan menjadi 42,6% pada tahun 2006. Tekanan darah tinggi trek relatif baik dari pemuda untuk dewasa, membuat tekanan darah pada remaja prediktor yang berguna hipertensi esensial di masa dewasa.1 Saat ini, 6.267.376 juta orang 18 tahun dengan hipertensi di Malaysia. Proyeksi prevalensi hipertensi pada tahun 2020 - 35,8%, dengan perkiraan 7,6 juta warga Malaysia berusia 18 tahun ke atas.2Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi baik yang dapat dimodifikasi maupun yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular dan umur (>45 tahun pada laki-laki atau > 55 tahun pada wanita). Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain merokok, konsumsi alkohol, aktifitas fisik yang kurang dan obesitas.3,4,5Banyak kasus hipertensi yang dilaporkan dikalangan pegawai terutama yang bekerja di sektor pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi faktor-faktor resiko Hipertensi pada karyawan di Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya. Karyawan-karyawan Veterinar bertanggung jawab menjalankan tugas-tugas manajemen hewan dan penegakan di tingkat Kelompok Dukungan dan melaksanakan pekerjaan di Pusat Layanan Industri Susu (PPIT), manajemen kesehatan hewan, manajemen kesuburan hewan, pemeriksaan di pusat karantina hewan, pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem di abatoir dan pabrik pengolahan, memberikan konsultasi tentang usaha ternak, penegakan hukum hewan, pengumpulan data hewan dan penyediaan laporan serta lain-lain tugas yang terkait yang ditentukan dari waktu ke waktu.Jabatan Perkhidmatan Veterinar di Putrajaya merupakan pusat dan menjadi rujukan untuk cabang jabatan veterinar di propinsi propinsi lain di Malaysia. Karena itu, pekerjaan di sana lebih berat dan dapat menjadi salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi di kalangan karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya.Apakah faktor-faktor risiko tersebut dapat menimbulkan hipertensi pada seseorang khususnya pada seorang karyawan di kantor pemerintah masih perlu diteliti. Oleh karenanya, kami tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan hipertensi pada karyawan kantor pemerintah

1.2 Rumusan MasalahBelum adanya data tentang faktor-faktor resiko hipertensi lainya pada karyawan kantor khususnya di Jabatan Perkhidmatan Veterinar,Putrajaya, Malaysia.

1.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan UmumUntuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya, Malaysia.1.3.2 Tujuan Khusus1. Untuk mengetahui karakteristik faktor-faktor risiko hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya, Malaysia.2. Untuk mengetahui prevalensi hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya, Malaysia yang memiliki beban kerja yang berbeda.3. Untuk mengetahui upaya pengob atan hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya,, Malaysia.4. Untuk mengetahui upaya pencegahan hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya, Malaysia.1.4 Manfaat Penelitian1. Memberikan informasi kepada instansi pada tempat penelitian tentang faktor-faktor resiko lainnya yang dapat menimbulkan hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putajaya, Malaysia.2. Memberikan informasi kepada karyawan tentang faktor-faktor resiko hipertensi serta penangganannya.3. Sebagai bahan ilmiah atau dasar bagi penelitian di masa yang akan datang.4. Dapat menambah wawasan keilmuan, pengalaman dan pengembangan diri peneliti dibidang penelitian.BAB IITINJAUAN PUSTAKA1. 2. 2.1. Definisi dan Klasifikasi HipertensiTekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah merupakan daya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah pada arteri besar bervariasi menurut denyut jantung. Tekanan ini paling tinggi ketika ventrikel berkontraksi (tekanan sistolik) dan paling rendah ketika ventrikel bereleksasi (tekanan diastolik).6,7Ketika jantung memompa darah melewati arteri, darah menekan dinding pembuluh darah. Mereka yang menderita hipertensi mempunyai tinggi tekanan darah yang tidak normal. Penyempitan pembuluh nadi atau aterosklerosis merupakan gejala awal yang umum terjadi pada hipertensi. Karena arteri-arteri terhalang lempengan kolesterol dalam aterosklerosis, sirkulasi darah melewati pembuluh darah menjadi sulit. Ketika arteri-arteri mengeras dan mengerut dalam aterosklerosis, darah memaksa melewati jalan yang sempit itu, sebagai hasilnya tekanan darah menjadi tinggi.8-11Tekanan darah digolongkan normal jika tekanan sistolik tidak melampaui 120 mmHg dalam keadaan istirahat, sedangkan hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal. Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia. Secara umum, seseorang dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik (ditulis 140/90).6,10-12Menurut WHO yang dikutip oleh Slamet Suyono (2001:253) batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau lebih dari 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Secara umum, seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastolik 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg).13Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan mortilitas kardiovaskular dan ginjal. Dengan menurunkan tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang. Klasifikasi prehipertensi buka suatu penyakit, tetapi hanya dimaksudkan akan risiko terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologi antara lain mengurangi asupan garam. Olahraga, menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat dimulai sebelum atau bersama-sama obat farmakologi.14Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah menurut The Seven Joint National Commitittee on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII).15NoKlasifikasi Tekanan DarahTekanan Darah Sistolik (mmHg)Tekanan Darah Diastolik (mmHg)

1. Normal< 120Dan < 80

2. Prehipertensi120 139Atau 80 89

3. Hipertensi stadium 1140 159Atau 90 99

4. Hipertensi stadium 2 160Atau 100

1. 2. 2.1. 2.2. Patogenesis HipertensiTekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan dukungan dari arteri (perpheral resistence/PR). Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktor-faktor tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan / atau ketahanan periferal.16

2.3. Gejala Klinis HipertensiMenurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan menifestasi klinis timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun-tahun barupa:12a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat tekanan darah intrakranium.b. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.c. Ayunan langkat tidak mantap karena kerusakan susunan saraf.d. Nokturia karena penglihatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.e. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala, terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak atau jantung. Gejala lain adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, suka tidur, mata berkurang kunang dan pusing.2.4. Diagnosis HipertensiMenurut Slamet Suyono, evaluasi pasien hipertensi mempunyai tiga tujuan:13a. Mengidentifikasi penyebab hipertensi.b. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskular, beratnya penyakit, serta respon terhadap pengobatan.c. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskular yang lain atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan ikut menentukan panduan pengobatan.Data yang diperlukan untuk mengevaluasi tersebut diperoleh dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Peninggian tekanan darah kadang sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah yang akurat. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran seperti faktor pasien, faktor alat dan tempat pengukuran.13Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular dan lainya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-lain). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang dengan kontralateral.172.5. Pengukuran Tekanan DarahMenurut Roger Watson, tekanan darah diukur berdasarkan berat kolum air raksa yang harus ditanggungnya. Tingginya dinyatakan dalam milimeter. Tekanan darah arteri yang normal adalah 110 120 (sistolik) dan 65 80 mm (diastolik). Alat untuk mengukur tekanan darah disebut spigmomanometer. Ada beberapa jenis spigmomanometer, tetapi yang paling umum terdiri dari sebuah manset karet, yang dibalut dengan bahan yang difiksasi disekitarnya secara merata tanpa menimbulkan konstriksi. Sebuah tangan kecil dihubungkan dengan manset karet ini. Dengan alat ini, udara dapat dipompakan kedalamnya, mengembangkan manset ada didalamnya. Bantalan ini juga dihubungkan juga dengan sebuah manometer yang mengandungi air raksa sehingga tekanan udara didalamnya dapat dibaca sesuai skala yang ada.6,18,Untuk mengatur tekanan darah, manset karet difiksasi melingkari lengan dan denyut pada pergelangan tangan diraba dengan satu tangan, sementara tangan yang lain digunakan untuk mengembangkan manset sampai suatu tekanan, dimana denyut arteri radialis tidak lagi teraba. Sebuah stetoskop diletakkan diatas denyut arteri brakialis pada fosa kubiti dan tekanan pada manset karet diturunkan perlahan dengan melonggarkan katupnya. Ketika tekanan diturunkan, mula-mula tidak terdengar suara, namun ketika mencapai tekanan darah sistolik terdengar suara ketukan (tapping sound) pada stetoskop (Korotkoff fase I). Pada saat itu tinggi air raksa didalam namometer harus dicatat. Ketika tekanan didalam manset diturunkan, suara semakin keras sampai saat tekanan darah sistolik tercapai, karakter bunyi tersebut berubah dan meredup (Korotkoff fase IV). Penurunan tekanan manset lebih lanjut akan menyebabkan bunyi menghilang sama sekali (Korotkoff fase V). Tekanan diastolik dicatat pada saat menghilangnya karakter bunyi tersebut.10,16,20Menurut Lany Gunawan, dalam pengukuran tekanan darah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:20a. Pengukuran tekanan darah boleh dilaksanankan pada posisi duduk ataupun berbaring. Namun yang penting, lengan tangan harus dapat diletakkan dengan santai.b. Pengukuran tekanan darah dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada orang yang bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah paling rendah. Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktifitas fisik lain akan memberi angka yang lebih tinggi. Di samping itu, juga tidak boleh merokok atau minum kopi karena merokok atau minum kopi akan menyebabkan tekanan darah sedikit naik.c. Pada pemeriksaan kesehatan, sebaiknya tekanan darah diukur 2 atau 3 kali berturut-turut, dan pada detakan yang terdengar tegas pertama kali mulai dihitung. Jika hasilnya berbeda maka nilai yang dipakai adalah nilai terendah.d. Ukuran manset harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang mengembang harus melingkari 80% lengan dan mencakup dua pertiga dari panjang lengan atas.1. 2. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. Jenis-jenis HipertensiBerdasarkan penyebab, hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya dijumpai lebih kurang 90 % dan hipertensi sekunder yang penyebabnya diketahui yaitu 10 % dari seluruh hipertensi.13,20Menurut Sunarta Ann dan peneliti lain, berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu: 11,13,16-18,20,21,

1. Hipertensi PrimerArtinya hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas. Berbagai faktor yang diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer seperti bertambahnya umur, stress psikologis, dan hereditas (keturunan). Sekitar 90 % pasien hipertensi diperkirakan termasuk dalam kategori ini. Pengobatan hipertensi primer sering dilakukan adalah membatasi konsumsi kalori bagi mereka yang kegemukan (obes), membatasi konsumsi garam, dan olahraga. Obat antihipertensi mungkin pula digunakan tetapi kadang-kadang menimbulkan efek samping seperti meningkatnya kadar kolesterol, menurunnya kadar natrium (Na) dan kalium (K) didalam tubuh dan dehidrasi.

2. Hipertensi SekunderArtinya penyebab boleh dikatakan telah pasti yaitu hipertensi yang diakibatkan oleh kerusakan suatu organ. Yang termasuk hipertensi sekunder seperti : hipertensi jantung, hipertensi penyakit ginjal, hipertensi penyakit jantung dan ginjal, hipertensi diabetes melitus, dan hipertensi sekunder lain yang tidak spesifik.16

2.7. Faktor Risiko HipertensiFaktor pemicu hipertensi dibedakan atas:a) Faktor yang tidak dapat diubah/dikontroli. UmurHipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50b% diatas umur 60 tahun. 11

ii. Jenis KelaminBila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang cukup bervariasi. Sebua penelitian mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik. Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita menapouse mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya hipertensi. Menurut MN. Bustan bahwa wanita lebih banyak yang menderita hipertensi dibanding pria, hal ini disebabkan karena terdapatnya hormon estrogen pada wanita.13

iii. Riwayat KeluargaMenurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat.22

iv. GenetikPeran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala.22

b) Faktor yang dapat diubah/dikontroli. Kebiasaan MerokokRokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseoramg lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok.7

ii. Konsumsi Asin/Garam Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi esensial mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor lain yang berpengaruh.23iii. Konsumsi Lemak Jenuh Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah.24

iv. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit.24

v. ObesitasObesitas atau kegemukan dimana berat badan mencapai indeks massa tubuh > 25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)) juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktifitas saraf simpatis meninggi dengan aktifitas renin plasma yang rendah. 13,25vi. OlahragaOlahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi.13,21,26

vii. StresHubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktifitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan yang diberikan pemaparan tehadap stress ternyata membuat binatang tersebut menjadi hipertensi. Menurut Slamet Suyono stres juga memiliki hubungan dengan hipertensi. Hal ini diduga melalui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali.27

2.8. Penatalaksanaan Hipertensia. Penatalaksanaan Non FarmakologisPendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum penambahan obat-obatan hipertensi, disamping perlu diperhatikan oleh seorang yang sedang dalam terapi obat. Sedangkan pasien hipertensi yang terkontrol, pendekatan non farmakologis ini dapat membantu pengurangan dosis obat pada sebagian penderita. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan penanganan hipertensi.28Menurut beberapa ahli, pengobatan non farmakologis sama pentingnya dengan pengobatan farmakologis, terutama pada pengobatan hipertensi derajat I. Pada hipertensi derajat I, pengobatan secara nonfarmakologis kadang-kadang dapat mengendalikan tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis tidak diperlukan atau pemberiannya dapat ditunda. Jika obat antihipertensi diperlukan, Pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik.13

b. Penatalaksanaan FarmakologisSelain cara pengobatan nonfarmakologis, penatalaksanaan utama hipertensi primer alah dengan obat. Keputusan untuk mulai memberikan obat antihipertensi berdasarkan beberapa faktor seperti derajat peninggian tekanan darah, terdapatnya kerusakan organ target dan terdapatnya manifestasi klinis penyakit kardiovaskuler atau faktor risiko lain. Terapi dengan pemberian obat antihipertensi terbukti dapat menurunkan sistole dan mencegah terjadinya stroke pada pasien usia 70 tahun atau lebih.30Menurut Arif Mansjoer, penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai umur dan kebutuhan. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan lebih disukai dalam dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah dan dapat mengontrol hipertensi terus menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap risiko dari kematian mendadak, serangan jantung, atau stroke akibat peningkatan tekanan darah mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang berisi kombinasi dosis rendah 2 obat dari golongan yang berbeda. Kombinasi ini terbukti memberikan efektifitas tambahan dan mengurangi efek samping. Setelah diputuskan untuk untuk memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan diuretik atau beta bloker. Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai dengan algoritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat yang lain. Jika tambahan obat yang kedua dapat mengontrol tekanan darah dengan baik minimal setelah 1 tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara perlahan dan progresif. 1

2.9. Kerangka TeoriFaktor yang dapat dimodifikasi:I. ObesitasII. MerokokIII. Kebiasaan OlahragaIV. Konsumsi AlkoholV. Stres : Beban kerja, Kelas sosial, ekonomiFaktor yang tidak dapat dimodifikasi :I. Jenis kelaminII. UmurIII. Keturunan (Genetik)

HIPERTENSI

BAB IIIKERANGKA KONSEP

3.1 Identifikasi VariabelBerdasarkan tinjauan kepustakaan dan maksud serta tujuan maka disusunlah variabel sebagai berikut:Faktor Resiko Hipertensi:i. Umurii. Jenis Kelaminiii. Riwayat penyakit dalam keluargaiv. Kebiasaan olahragav. Kebiasaan makan makanan asin dan berminyak banyakvi. Stressor Kerja

HIPERTENSI

Gambar : Model hubungan antara variabel

Meskipun terdapat banyak faktor resiko stressor kerja terhadap hipertensi tapi kami membatasi pada faktor resiko stressor kerja hanya pada beban mental atau psikis oleh karena sangat berkaitan dengan pekerjaan sebagai karyawan di kantor tempat kami meneliti dan faktor resiko yang lain seperti umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluar, dan kebiasaan olahraga dianggap dapat mewakili faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi. Pembatasan ini kamu lakukan mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya.3.1.1 Berdasarkan peran dan kedudukannya:1. Variabel Independent : Faktor resiko, yaitu : umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga, kebiasaan olahraga, diet dan stressor kerja khususnya yang berhubungan dengan beban mental / psikis.2. Variabel dependent : Hipertensi3.1.2 Berdasarkan skala pengukuran :Variabel kategorikal : 1. Variabel nominala. Jenis Kelamin :i. Laki-lakiii. Perempuanb. Riwayat penyakit keluarga :i. Ada riwayat hipertensiii. Tidak ada riwayat hipertensi2. Variabel ordinal:a. Hipertensi :i. Tidak ada hipertensiii. Prehipertensiiii. Hipertensi grade 1iv. Hipertensi grade 2

b. Kebiasaan olahraga : i. Tidak pernahii. Olahraga ringaniii. Olahraga sedangiv. Olahraga berat

c. Stres kerja :i. Derajat stres rendahii. Derajat stres sedangiii. Derajat stres tinggi

d. Diet ( kebiasaan makan makanan asin dan banyak minyak)i. Sering mengkonsumsi makanan asin, banyak minyakii. Tidak sering mengkonsumsi makanan asin, banyak minyak

3. Variabel intervala. Umuri. Usia < 35 tahunii. Usia 35 45 tahuniii. Usia > 45 tahun

3.2 Definisi Operational3.2.1 Hipertensia. DefinisiPeningkatan tekanan darah sistolik dan atau diastolik bila diperoleh rata-rata hasil pengukuran tekanan sistolik sebesar 140 mmHg atau lebih atau tekanan diastolik sebesar 90 mmHg atau lebih melalui dua kali pengukuran dengan interval minimal 2 menit, atau subjek mengkonsumsi obat antihipertensi.b. Alat ukurPengukuran tekanan darah dilakukan dengan menggunakan sfignomanometer aneroid yang telah distandardisasi, merek One Med tahun 2013. Stetoskop yang digunakan adalah stetoskop merek Lithman tahun 2008.c. Cara ukurSubjek yang akan diperiksa sebelumnya duduk tenang selama sekurang 5 menit. Pengukuran dilakukan pada subjek dalam posisi duduk dengan kaki berpijak pada lantai dan lengan dalam keadaan relaks, disangga setinggi jantung.Pengukuran dilakukan dengan menggunakan manset yang melingkari minimal 80% dari lengan atas dan lebar manset paling sedikit 2/3 kali panjang lengan atas. Tekanan darah sistolik adalah titik di mana dua atau lebih bunyi pertama terdengar dan tekanan diastolik adalah titik sebelum bunyi menghilang.d. Hasil ukurData yang diperoleh berupa data numerik, yaitu tekanan darah sistolik / tekanan darah diastolik mmHg.Klasifikasi berdasarkan JNC-VII :1. Tidak hipertensi :Tekanan sistol < 120 mmHg dan tekanan diastol < 80 mmHg2. Prehipertensi :Tekanan sistol 120 139 mmHg atau tekanan diastol 80 89 mmHg3. Hipertensi grade 1 :Tekanan sistol 140 159 mmHg atau tekanan diastol 90 99 mmHg4. Hipertensi grade 2 :Tekanan sistol 160 mmHg atau tekanan diastol 100 mmHg

3.2.2 Stressor Kerjaa. DefinisiSuatu interaksi antara kondisi kerja dengan karakteristik pekerja yang menghasilkan tuntutan kerja yang melampaui kemampuan pekerja.b. Alat ukurKuesionerc. Cara ukurDinilai berdasarkan jawaban pengisian kuesioner yang dijawab oleh subjek studi. Kuesioner ini berisi 30 pertanyaan, dimana subjek penelitian menjawab setiap pertanyaan dengan memberi nilai skala 1-5 yang dianggap paling tepat untuk menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres.Untuk pemberian skala 1-5 tersebut, adalah sebagai berikut:1. Bila kondisi yang diuraikan tidak pernah menimbulkan stres2. Bila kondisi itu jarang sekali menimbulkan stres3. Bila kondisi itu kadang menimbulkan stres4. Bila kondisi itu sering menimbulkan stres5. Bila kondisi itu selalu menimbulkan stres

Ditentukan berdasarkan faktor stres kerja yang tercantum pada kuesioner.d. Hasil ukurHasil ukur berupa data kategorik, dengan penjumlahan skor total menurut kelompok stressor kerja dibedakan sebagai berikut:1. Total skor < 10 : Derajat stres sangat rendah2. Total skor 10 -14 : Derajat stres rendah3. Total skor 15 19 : Drajat sres sedang4. Total skor 20 : Derajat stres tinggi

3.2.3 Umura. DefinisiUsia penderita yang dihitung saat kelahiran sampai saat dilakukan penelitianb. Alat ukurKuesionerc. Cara ukurUmur ditentukan berdasarkan umur tercantum pada kuesionerd. Hasil ukurHasil ukur berupa data kategorik yaitu umur (tahun), kemudian diklasifikasikan:1. Usia < 35 tahun2. Usia 35 45 tahun3. Usia > 45 tahun3.2.4 Jenis Kelamina. DefinisiIdentitas subjek berdasarkan organ reproduksib. Alat ukurKuesionerc. Cara UkurJenis kelamin ditentukan berdasarkan jenis kelamin yang tercantum pada kuesionerd. Hasil ukurHasil ukur berupa data nominal, dengan klasifikasi:1. Laki-laki2. Perempuan3.2.5 Dieta. DefinisiKebiasaan mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan garam dan yang banyak mengandungi minyak.

b. Alat ukurKuesioner

c. Cara UkurDitentukan berdasarkan pilihan tipe diet yang tercantum pada kuesioner

d. Hasil ukurHasil ukur berupa data ordinal, dengan klasifikasi:1. Sering mengkonsumsi makanan asin, banyak minyak?2. Tidak sering mengkonsumsi makanan asin, banyak minyak?

3.2.5 Riwayat Penyakit Keluargaa. DefinisiRiwayat anggota keluarga subjek (kakek/nenek, ayah/ibu, paman/bibi) yang menderita hipertensi atau mengkonsumsi obat antihipertensib. Alat ukurKuesionerc. Cara ukurDitentukan berdasarkan riwayat penyakit keluarga yang tercantum pada kuesioner.d. Hasil ukurHasil ukur berupa data nominal, dengan klasifikasi:1. Ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi (kakek/nenek, ayah/ibu, paman/bibi)2. Tidak ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi

3.2.6 Aktifitas Fisik Atau Kebiasaan Olahragaa. DefiniKegiatan olahraga yang dilakukan minimal 1 jam/minggub. Alat ukurKuesionerc. Cara ukurDitentukan berdasarkan kebiasaan olahraga yang tercantum pada kuesionerd. Hasil ukurHasil ukur berupa data ordinal, dengan klasifikasi:1. Tidak olahraga2. Olahraga ringan : Jalan kaki perlahan 2 4km, bola voly, bulu tangkis, tenis meja, bersepeda 8 15km, berdansa3. Olahraga sedang : Jalan kaki cepat 6 8km, tennis, berenang, bersepeda 16 20km, senam robik4. Olahraga berat : Jogging/berlari 6 9km, mendayung, bersepeda 21 30km, sepak bola, mendaki gunung, semua olahraga kompetisi.

1. 2. 2.1. 2.2. 2.2.1. 2.2.2. 2.2.3. 2.2.4. 2.2.5. 2.2.6. 2.2.7. Riwayat Pengobatana. DefinisiRiwayat pengobatan hipertensi yang pernah diambil.b. Alat ukurKuesionerc. Cara ukurDitentukan berdasarkan riwayat pengobatan yang tercantum pada kuesioner.d. Hasil ukurHasil ukur berupa data ordinal, dengan klasifikasi:1. Tidak pernah2. Pernah, sudah berhenti3. Masih

2.2.8. Upaya Pencegahana. DefinisiUpaya pencegahan penyakit hipertensib. Alat ukurKuesioner

c. Cara ukurDitentukan berdasarkan upaya pencegahan yang tercantum pada kuesioner.d. Hasil ukurHasil ukur berupa data ordinal, dengan klasifikasi:1. Tidak pernah2. Pernah

BAB IVMETODE PENELITIAN

4.1. Desain PenelitianDesain penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko lainnya yang dapat menimbulkan hipertensi pada karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia.Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi responden yang menderita hipertensi sebagai subjek penelitian untuk mengetahui prevalensi penderita hipertensi dilanjutkan dengan identifikasi faktor hipertensi pada penderita tersebut. Desain ini dipilih karena dibandingkan studi lainnya, ia lebih murah, lebih cepat, dan tidak memerlukan kelompok kontrol.4.2. Tempat dan Waktu PenelitianPenelitian dilakukan di Kantor Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya sebagai salah satu kantor pemerintah di propinsi Putrajaya. Waktu penelitian selama dua minggu pada tanggal 3 14 Februari 2014.4.3. Populasi dan SampelKaryawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia yang memenuhi kriteria pemilihan inklusi dan eksklusi. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan jenis consecutive sampling, yaitu subjek yang datang secara berturutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian.

4. 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. Kriteria SeleksiKriteria seleksi adalah karakteristik subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti yang mempunyai pengaruh terhadap variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini, pemilihan sampel adalah berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi berikut:a. Kriteria Inklusii. Individu yang bertugas sebagai karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia dengan masa kerja minimal 6 bulan.ii. Berumur 25-55 tahun.b. Kriteria Eksklusii. Subjek yang tidak tersedia ikut serta dalam penelitian.ii. Subjek yang tidak mengisi kuesioner secara lengkap, meliputi jenis kelamin, umur, aktifitas olahraga dan beban kerja.

4.4. 4.5. Cara Pengumpulan DataData penelitian yang diambil berupa data primer yang diperoleh dari pengukuran tekanan darah dan pengisian kuesioner. Dari hasil pengukuran tekanan darah dan pengisian kuesioner diperoleh:i. Data mengenai tekanan darah sistol dan diastol karyawan Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia ii. Data faktor risiko hipertensi seperti umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga, kebiasaan olahraga dan stres kerja.

4.6. Pengolahan dan Penyajian DataData primer yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dan dikumpulkan menurut variabel dan kemudian akan diolah menggunakan komputer dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi secara deskriptif.

BAB VHASIL PENGAMATAN

1. 2. 3. 4. 5. 5.1. Perolehan DataDari 54 pegawai Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia yang diikutsertakan dalam penelitian ini ternyata 48 orang yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Sisannya sebanyak 6 orang menolak ikut penelitian. Dari 48 responden, 4 yang tidak lengkap mengisi kuisioner sehingga tidak diikutkan dalam penelitian, sehingga didapatkan sampel yang memenuhi kriteria yaitu 44 sampel.

Tabel 2. Perolehan Data Hasil Penelitian.No.UraianJumlah

1.Jumlah pegawai54

Menolak

6

2.Memenuhi kriteria48

Mengisi kuisioner tidak lengkap4

3.Jumlah Sampel44

Sumber : Data Primer

5.2. Prevalensi Hipertensi pada pegawai Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia.

Tabel 3. Prevalensi Hipertensi pada pegawai Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, MalaysiaSampelNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade II

442013101

Prevalensi45.5%29.5%22.7%2.3%

Sumber : Data PrimerTabel 3 mengambarkan prevalensi hipertensi pada pegawai Jabatan Perkhidmatan Veterinar, Putrajaya, Malaysia dan dari tabel tersebut terlihat bahwa pegawai yang menderita hipertensi sebanyak 25% yang terbagi atas hipertensi grade I 22,7% dan hipertensi grade II 2.3%.

1.1. Karakteristik Bangsa sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Tabel 4. Karakteristik Bangsa sebagai Faktor Resiko Hipertensi.VariabelNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Melayu14 (42,2%) 10 (29,4%)9 (26,5%)1 (2,9%)34 (100%)

Cina2 (100%)0002 (100%)

India4 (11,8%)3 (8,8%)1 (2,9%)08 (100%)

Lain-lain00000

Sumber : Data PrimerTabel 4 menunjukkan karakteristik bangsa sebagai faktor resiko hipertensi. Dari 30 sampel terdiri dari 34 orang (77,3%) bangsa Melayu ,2 orang (4,5%) bangsa Cina dan sebanyak 8 orang (18,2%) berbangsa India. Dari 34 orang bangsa Melayu ditemukan sebanyak 10 orang (29,4%) yang menderita hipertensi dan terdiri dari 9 orang (26,5%) menderita hipertensi grade I dan 1 orang (2,9%) hipertensi grade II. Sedangkan 1 orang (2,9%) berbangsa India dididapatkan menderita hipertensi grade I.

1.2. Karakteristik Jenis Kelamin sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Tabel 5. Karakteristik Jenis Kelamin sebagai Faktor Risiko HipertensiVariabelNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Laki-laki9 (47,4%)5 (26,3%)4 (21,1%)1 (5,3%)19 (100%)

Perempuan11 (44%)8 (32%)6 (24%)025 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 5 menunjukkan karakteristik jenis kelamin sebagai faktor resiko hipertensi. Dari 44 sampel terdiri dari 19 laki-laki orang (43,2%) dan perempuan sebanyak 25 orang (56,8%). Dari 19 laki-laki ditemukan sebanyak 5 orang (26,3%) yang menderita hipertensi dan terbagi atas hipertensi grade I sebanyak 4 orang (21,1%) dan terdapat 1 orang (5,3%) yang menderita hipertensi grade II. Sedangkan 25 orang perempuan didapatkan 6 orang (24,0%) yang menderita hipertensi dan semunya hipertensi grade I.

1.3. Karakteristik Umur sebagai Faktor Resiko Hipertensi

Tabel 6. Karakteristik Umur sebagai Faktor Resiko Hipertensi.UmurNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

454 (30,8%)6 (46,2%)2 (15,4%)1 (7,7%)13 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 6 menunjukkan karakteristik umur sebagai faktor resiko hipertensi. Dari 44 sampel diperoleh yang berusia di bawah 35 tahun sebanyak 13 orang (29,5%), yang berusia 35 45 tahun sebanyak 18 orang (40,9%) dan yang berusia lebih dari 45 tahun sebanyak 9 orang (20,4%).Dari 5 orang yang berusia di bawah 35 tahun terdapat 1 orang yang menderita hipertensi yang semuanya masuk dalam kategori hipertensi grade I. Pada umur 35 45 tahun ditemukan sebanyak 7 orang (38,9 %) yang menderita hipertensi dan semuanya hipertensi grade I, dari 9 orang yang berumur lebih dari 45 tahun didapatkan 3 orang (23,1%) yang menderita hipertensi dan terdapat 2 orang (15,4%) menderita hipertensi grade I dan 1 orang (7,7%) menderita hipertensi grade II.

1.4. Karakteristik Riwayat Keluarga sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Tabel 7. Karakteristik Riwayat Keluarga sebagai Faktor Risiko Hipertensi.Riwayat KeluargaNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Tidak ada10(66,7%)5 (33,3%)0015 (100%)

Ada6 (26,1%)8 (34,8%)8 (34,8%)1(4,3%)23 (100%)

Tidak tahu4 (66,7%)02 (33,3%)06 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 7 menunjukkan karakteristik riwayat keluarga sebagai faktor risiko hipertensi. Dari 44 sampel diperoleh 15 orang (34,1%) tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi, 23 orang (52,3%) memiliki riwayat keluarga hipertensi dan 6 orang (13,6%) tidak mengetahui adanya riwayat hipertensi dalam keluarganya.Dari 15 orang yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi, tidak ada yang menderita hipertensi. Dari 23 orang yang ada riwayat keluarga terdapat 8 orang (34,8%) yang menderita hipertensi grade I dan 1 orang (4,3%) menderita hipertensi grade II. Dan dari 6 orang yang tidak mengetahui adanya riwayat hipertensi dalam keluarganya diperoleh 2 orang (33,3%) yang menderita hipertensi dan ianya merupakan hipertensi grade I.

1.5. Karakteristik Aktifitas Olahraga sebagai Faktor Risiko Hipertensi

Tabel 8. Karakteristik Aktifitas Olahraga sebagai Faktor Risiko HipertensiAktifitas OlahragaNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Tidak ada4 (30,8%)5 (38,5%)4 (30,8%)013 (100%)

Ringan10(50%)6 (30%)3 (15%)1 (5%)20 (100%)

Sedang6 (66,7%)1 (11,1%)2 (22,2%)09 (100%)

Berat01 (50%)1 (50%)02 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 8 menunjukkan karakteristik aktifitas olahraga sebagai faktor resiko hipertensi. Dari 44 sampel diperoleh 13 orang (29,5%) yang tidak berolahraga dan didapatkan 4 orang (30,8%) yang mengidap hipertensi grade I. Yang beraktifitas olahraga ringan sebanyak 20 orang (45,5%) dan didapatkan 3 orang (15,0%) yang menderita hipertensi grade I dan 1 orang (5%) menderita hipertensi grade II.. Sedangkan yang beraktifitas olahraga sedang sebanyak 9 orang (20,5%) dan yang menderita hipertensi sebanyak 2 orang (22,2%) dan semuanya adalah hipertensi grade I. Ditemukan 2 orang yang beraktivitas berat dan 1 darinya (50%) menderita hipertensi grade I.

1.6. Karakteristik Riwayat Pengobatan terhadap Hipertensi

Tabel 9. Karakteristik Riwayat Pengobatan terhadap HipertensiRiwayat PengobatanNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Tidak18 (52,9%)10 (29,4%)5 (14,7%)1(2,9%)34 (100%)

Pernah2 (25%)3 (37,5%)3 (37,5%)08 (100%)

Masih0 02 (100%)02 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 9 menunjukkan karakteristik riwayat pengibatan terhadap hipertensi. Dari 44 sampel diperoleh 34 orang (77,3%) tidak memiliki riwayat pengobatan hipertensi, 8 orang (18,2%) memiliki riwayat pernah melalukan pengobatan hipertensi dan 2 orang (4,5%) masih dalam pengobatan hipertensi.Dari 34 orang yang tidak memiliki riwayat pengobatan hipertensi, 5 orang (14,7%) yang menderita hipertensi grade I dan 1 orang (2,9%) menderita hipertensi grade II. Dari 8 orang yang ada riwayat pernah melakukan pengobatan hipertensi terdapat 3 orang (37,5%) yang menderita hipertensi dan semuanya grade I. Dan dari 2 orang yang masih dalam pengobatan hipertensi diperoleh 2 orang (100%) yang menderita hipertensi dan ianya merupakan hipertensi grade I.

1.7. Karakteristik Upaya Pencegahan terhadap Hipertensi

Tabel 10. Karakteristik Upaya Pencegahan terhadap HipertensiUpaya PencegahanNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Tidak15 (51,7%)10 (34,5%)3 (10,3%)1 (3,5%)29 (100%)

Pernah5 (33,3%)3 (20%)7 (46,7%)015 (100%)

Sumber : Data PrimerTabel 10 menunjukkan karakteristik upaya pencegahan terhadap hipertensi. Dari 44 sampel diperoleh 29 orang (65,9%) tidak pernah melakukan upaya pencegahan terhadap hipertensi dan 15 orang (34,1%) pernah melalukan upaya pencegahan terhadap hipertensi.Dari 29 orang yang tidak pernah melalukan upaya pencegahan terhadap hipertensi, 3 orang (10,3%) yang menderita hipertensi grade I dan 1 orang (3,5%) mederita hipertensi tipe II. Dari 15 orang yang ada pernah melakukan upaya pencegahan hipertensi terdapat 7 orang (46,7%) yang menderita hipertensi dan semuanya grade I.

1.8. Karakteristik Diet Konsumsi Garam terhadap Hipertensi

Tabel 11 : Karakteristik Diet Konsumsi Garam terhadap HipertensiKonsumsi makanan tinggi kandungan garamNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

Sering11(52,4%)6 (28,6%)4 (19,1%)021(100%)

Tidak sering9 (39,1%)7 (30,4%)6 (26,1%)1 (4,3%)23(100%)

Sumber: Data primer

1.9. Karakteristik Stressor Kerja terhadap Hipertensi

Tabel 11. Karakteristik Stressor Kerja terhadap HipertensiNoVariabelNormalPrehipertensiHipertensi Grade IHipertensi Grade IIJumlah

1.Tekanan Kerja-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat07(63,6%)10(45,5%)3 (27,3%)03 (27,3%)7 (31,8%)3 (27,3%)01 (9,1%)5 (22,7%)4 (36,4%)0001 (9,1%)011 (25%)22 (50%)11 (25%)

2.Konflik Peran-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat8 (100%)2 (33,3%)9 (39,1%)1 (14,3%)03 (50%)8 (34,8%)2 (28,6%)01 (16,7%)5 (21,7%)4 (57,1%)001 (4,3%)08 (18,2%)6 (13,6%)23(52,3%)7 (15,9%)

3.Komunikasi-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat8 (100%)2 (20%)8 (34,8%)2 (40%)04 (60%)8 (34,8%)1 (20%)0 2 (20%)6 (26,1%)2 (40%)001 (4,3%)08 (18,2%)10(22,7%)23(52,3%)5(11,4%)

4.Kesehatan Kerja-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat09 (42,9%)11(55%)008 (38,1%)5 (25%)004 (19%)3 (15%)3 (100%)001 (5%)0021(47,7%)20(45,5%)3 (6,8%)

5.Beban Berlebihan-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat06 (46,2%)10(45,5%)4 (66,7%)

05 (38,5%)8 (36,4%)002 (15,4%)7 (31,8%)1 (16,7%)0001 (16,7%)013(29,5%)22(50%)6 (20,5%)

6.Tanggungjawab-S.Ringan-Ringan-Sedang-Berat 04 (66,7%)13(54,2%)3 (21,4%)02 (33,3%)8 (33,3%)3 (21,4%)003 (12,5%)7 (50%)0001 (7,1%)06 (13,6%)24(54,5%)14(31,8%)

Sumber : Data Primer

Tabel 11 menunjukkan karakteristik stressor kerja terhadap hipertensi. Dari 30 subjek di dapat 18 orang (60%) mengalami derajat stress ringan variabel komunikasi, dan pada variabel ini juga didapatkan jumlah penderita hipertensi terbanyak yaitu 5 orang (27,8%).

BAB VIPEMBAHASAN

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan ketidak nyamanan dan dapat pula ditemukan tanpa gejala. Terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi baik yang dapat dimodifikasi maupun yang tidak dapat dimodifikasi. Adapun faktor resiko hipertensi yang tidak dapat dimodifikasi adalah : umur dan jenis kelamin, ras dan faktor genetik. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi adalah: merokok, konsumsi alkohol, obesitas, diabetes, kurangnya aktifitas fisik (Olahraga) dan stressor kerja/beban kerja.3Pada penelitian ini, diutamakan faktor resiko : umur, suku/bangsa, jenis kelamin, riwayat penyakit dalam keluarga, diet, aktifitas olahraga serta stress kerja.

6. 6.1. Umur dan Jenis KelaminResiko hipertensi meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan lebih banyak ditemukan pada laki-laki berbanding perempuan. Dimana kelompok terbanyak ditemukan pada usia >45 tahun pada laki-lak idan >55 tahun untuk perempuan.31Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia maka semakin besar resiko menderita hipertensi. Hal ini ditunjukkan dengan kelompok usia >45 tahun sekitar 33,3% lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan kelompok usia yang lain. Berdasarkan penelitian Krisnawati, sampel diklasifikasi ke dalam tiga kelompok umur, yaitu 25-44 tahun, 45-54 tahun, dan 55-65 tahun. Pada kelompok umur 25-44 tahun, prevalensi hipertensi sebesar 7,05%, pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 26,02%, sedangkan pada kelompok umur 56-65 tahun sebesar 86,5%. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan pertambahan usia.32Namun, berdasarkan jenis kelamin diperoleh hasil di mana jenis kelamin perempuan sekitar 30% lebih cenderung menderita hipertensi dibanding laki-laki. Hal ini terjadi oleh karena perempuan cenderung memiliki aktifitas olahraga yang minimal sehinggal menjadi salah satu faktor risiko mengidap hipertensi. Pada penelitian Krisnawati didapatkan prevalensi hipertensi pada laki-laki dan perempuan sama besar yaitu 33,3%.32

6.2. Riwayat KeluargaRiwayat keluarga/genetik merupakan salah satu faktor resiko hipertensi yang tidak dapat dihindari. Adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi atau penyakit kardiovaskular akan meningkatkan resiko seseorang untuk menderita hipertensi.5Pada penelitian ini sebagian subjek penelitian tidak mengetahui adanya salah seorang anggota keluarga yang menderita hipertensi, namun diperoleh hasil bahwa subjek yang menderita hipertensi lebih banyak memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi yaitu 52,3%.Sedangkan berdasarkan penelitian Sudewi, sampel yang menderita hipertensi lebih banyak yang tidak memiliki riwayat hipertensi yaitu 45,10%.18

6.3. Aktifitas OlahragaOlahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi karena olahraga yang teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.10Dari hasil penelitian didapatkan subjek yang biasa berolahraga ternyata mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan yang tidak mempunyai kebiasaan olahraga. Jika dibandingkan dengan subjek yang melakukan olahraga ringan ternyata yang melakukan olahraga sedang mempunyai risiko hipertensi yang lebih kecil. Hal ini dapat terjadi oleh karena kegiatan olahraga yang ringan, sedang dan dilakukan secara tidak teratur tidak memberikan respon yang baik bagi tubuh melainkan menambahkan beban organ-organ tubuh khususnya jantung. Sebaliknya olahraga yang ringan, sedang dan teratur dapat memberikan respon yang baik bagi tubuh. 32Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Krisnawati (2004) dimana sampel yang berolahraga ringan, 46,05% merupakan penderita hipertensi, sedangkan pada sampel yang berolahraga sedang, prevalensi hipertensi sebesar 37,9%.32

6.4. Stress Kerja / Beban KerjaDi lingkungan pekerjaan stres kerja merupakan suatu kondisi dimana satu atau beberapa faktor di lingkungan kerja berinteraksi dengan pekerjaan sehingga mengganggu keseimbangan fisiologi dan psikologi. Dapat pula dikatakan bahwa stres kerja merupakan suatu interaksi antara kondisi kerja dengan karakteristik pekerja yang menghasilkan tuntutan kerja yang melampaui kemampuan kerja.32Jika dihubungkan dengan kesehatan maka penyakit yang mungkin dapat timbul akibat stres kerja yang berlebihan adalah hipertensi. Dimana hal ini dapat terjadi pada semua kerja termasuk guru. Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktifitas syaraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah. Apabila stres berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi. Terdapat 6 faktor stressor kerja yang berpengaruh terhadap risiko hipertensi yaitu : tekanan kerja, konflik peran, komunikasi, kesehatan kerja, beban berlebihan, dan tanggungjawab.32Dari hasil penelitian pada guru di pegawai jabatan veterinar Malaysia dapat disimpulkan dari keenam variabel stressor kerja diperoleh hasil dimana variabel komunikasi yang sedang menjadi faktor stres kerja yang terbanyak, yaitu 18 orang (60%) dari 44 subjek penelitian dan diantara 18 orang terdapat 5 orang (27,8%) yang menderita hipertensi dan variabel ini memiliki subjek yang menderita hipertensi terbanyak.Dari hasil penelitian Krisnawati, ditemukan bahwa stressor berat terbanyak disebabkan oleh tanggungjawab terhadap orang lain, yaitu 4,7%. Penderita hipertensi terbanyak pada setiap komponen stressor kerja terdapat pada stressor sedang, disusul stressor ringan kemudian berat.32Hal ini sesuai dengan penelitian Sudewi, dimana penderita hipertensi lebih banyak ditemukan pada sampel dengan derajat stres kerja ringan dan sedang dibandingkan derajat stres kerja berat.33

BAB VIIKESIMPULAN DAN SARAN

7. 7.1. Kesimpulan

1. Prevalensi hipertensi pada pegawai jabatan perkhidmatan veterinar Malaysia 22,7% dan lebih rendah berbanding prevalensi tidak hipertensi yaitu 45,5% dan prevalensi prehipertensi yaitu 29,5%.2. Risiko hipertensi sejalan dengan bertambahnya usia dan terutama usia >45 tahun dan lebih sering ditemukan pada wanita berbanding laki-laki.3. Riwayat hipertensi keluarga merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko hipertensi pada setiap individu tidak terkecuali pada pegawai jabatan perkhidmatan veterinar Malaysia.4. Aktifitas olahraga yang dilakukan secara teratur baik ringan maupun sedang dapat mencegah timbulnya hipertensi.5. Semakin tinggi derajat stres kerja semakin besar untuk menderita hipertensi.6. Upaya pengobatan hipertensi harus diberi perhatian dalam menurunkan angka kejadian hipertensi.7. Upaya pencegahan hipertensi mampu mengurangi tingkat kejadian hipertensi.

7.2. Saran

1. Perlunya aktifitas olahraga yang teratur pada pegawai pemerintah sebagai upaya untuk mencegah timbulnya hipertensi.2. Perlunya kesadaran dari setiap pegawai pemerintah dalam mengatur pekerjaan yang dibebean untuk mengatasi stres kerja yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.3. Perlunya penelitian lebih lanjut tentang faktor stres kerja dan faktor hipertensi lainnya pada pegawai pemerintah.4. Perlunya pemantauan tekanan darah dan pengobatan segera pada pegawai yang mengidap hipertensi.5. Penyuluhan mengenai kesadaran dalam melakukan upaya pencegahan hipertensi harus diberikan kepada para pegawai.