mKalaH iSbD

  • View
    37

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of mKalaH iSbD

BAB I PENDAHULUAN -1.1 Latar Belakang -Keluarga berencana (KB) adalah program nasional yang bertujuan

meningkatkan derajat kesehatan, kesejahteraan ibu, anak dan keluarga khususnya, serta bangsa pada umumnya. Salah satunya dengan cara membatasi dan menjarangkan kehamilan.1,2 -Masalah yang akan dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak dalam jumlah banyak terutama disertai tidak diaturnya jarak kelahiran adalah peningkatan risiko terjadinya pendarahan ibu hamil pada trimester ketiga, angka kematian bayi meningkat, ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk merawat diri dan anaknya, serta terganggunya proses perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan kurang gizi, berat badan lahir rendah (BBLR) dan lahir prematur.3 -Proyeksi penduduk telah dirumuskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perkiraan penduduk Indonesia sekitar 273,65 juta jiwa pada tahun 2025. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah 2,30%, tahun 19801990 adalah 1,97%, tahun 1990-2000 sebanyak 1,49% dan tahun 2000-2005 adalah 1,3%. Hal ini menujukkan adanya penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Sedangkan laju pertumbuhan di Provinsi Riau berturut-turut untuk tahun yang sama adalah 3,11%, 4,25%, 4,22%, 4,35%, dan 4,05%. Hal ini menunjukkan laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau masih jauh lebih tinggi dari laju pertumbuhan penduduk Indonesia.4 -Revitalisasi program KB perlu dilakukan, karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan akseptor (pengguna) KB baru hanya berkisar antara 0,3 persen sampai 0,5 persen. Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan pertumbuhan akseptor KB aktif minimal satu persen mulai 2007. Pada 2006, jumlah akseptor KB aktif tercatat sebanyak 37.000. Dengan revitalisasi

program KB yang dimulai akhir Juni lalu, diharapkan jumlah akseptor aktif mencapai 40.000 pada akhir 2007. Bila revitalisasi program KB tidak segera dilakukan, Indonesia terancam pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.5 -Jumlah akseptor baru KB berdasarkan alat kontrasepsi di Provinsi Riau tahun 2007 sebanyak 90.197 orang (67,16%) dari target 134.300 orang. Akseptor baru metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) sebanyak 5.656 orang dan non MKJP sebanyak 84.541 orang.6 -Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya tahun 2007 sebanyak 81.689 orang yang terdiri dari pria 48.191 orang dan wanita 33.498 dengan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 17.822 orang. Dari semua PUS yang ada, akseptor KB aktif MKJP sebanyak 2.131 orang dan non MKJP sebanyak 12. 464 orang. Akseptor baru KB sebanyak 1.388 orang (63,17%) dari target 2.197 orang, target MKJP hanya tercapai 30,29% (128 orang) dari 423 orang dan target non MKJP 71,02% (1.260 orang) dari 1.774 orang. Akseptor baru pria sebanyak 60 orang (4,32%) dari 2.197 orang akseptor baru, dimana seluruh akseptor ini merupakan akseptor non MKJP.6 -Berdasarkan Human Development Report tahun 2006 masih rendahnya angka cakupan KB-MKJP dikarenakan masih sangat rendahnya tingkat pengetahuan PUS tentang metode kontrasepsi jangka panjang. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 menunjukkan wanita kawin yang mengetahui metode Mini Operasi Wanita (MOW) sebesar 63 persen dan metode Mini Operasi Pria (MOP) sebesar 39 persen, sedangkan pria kawin yang mengetahui metode MOW 44 persen dan MOP sebesar 31 persen. Bandingkan dengan pengetahuan mereka tentang metode kontrasepsi modern lainnya seperti Pil, Suntik, IUD, dan kondom yang sudah mencapai rata-rata diatas 80 persen.7 -Hal tersebut juga didukung dengan angket prepenelitian yang penulis lakukan terhadap pengunjung Puskesmas Harapan Raya, dan didapatkan hanya 5%

pengunjung yang mengetahui tentang KB-MKJP. Sedangkan 95% lainnya tidak mengetahui tentang KB-MKJP. -Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas dan Penanggung Jawab Program KB di Puskesmas Harapan Raya, penulis menilai masih diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan KB MKJP di Puskesamas Harapan Raya dengan mensosialisasikan KB-MKJP sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan angka cakupan akseptor KB-MKJP. 1.2 Tujuan Kegiatan 1.2.1 Tujuan Umum Peningkatan mutu sosialisasi KB-MKJP di Puskesmas Harapan Raya tahun 2008. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Teridentifikasinya masalah-masalah yang ada pada masing-masing program di Puskesmas Harapan Raya 2. Teranalisanya setiap permasalahan yang ada pada masing-masing program di Puskesmas Harapan Raya 3. Diketahuinya prioritas masalah dari permasalahan yang ada pada masingmasing program di Puskesmas Harapan Raya melalui metode skoring 4. Diperolehnya penyebab timbulnya masalah belum optimalnya kegiatan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya 5. Diperolehnya alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan kegiatan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya 6. Terlaksanakannya upaya pemecahan masalah dalam rangka peningkatan mutu kegiatan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya 7. Terevaluasinya kegiatan pemecahan masalah belum optimalnya kegiatan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA -2.1 Konsep Dasar KB - Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia. Tujuan gerakan KB Nasional adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia. -Aseptor KB (peserta keluarga berencana/family planning participant) ialah PUS yang mana salah seorang menggunakan salah satu cara/ alat kontrasepsi untuk pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non program. 2.2 Konsep Pelayanan Keluarga Berencana di Puskesmas -Tujuan umum dari program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norama Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS). Sasaran dalam program ini adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang ditetapkan berdasarkan survei PUS yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun dan pelaksanaannya di koordinasikan oleh Petugas Lapangan KB (PLKB).1,2,5,6 -Ruang lingkup dalam program KB terdiri dari:7,8 1. Mengadakan penyuluhan KB, baik di Puskesmas maupun di masyarakat (pada saat kunjungan rumah, posyandu, pertemuan dengan kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, dasawisma dan sebagainya). Termasu ke dalamnya kegiatan penyuluhan ini adalah konseling untuk PUS.

2. Menyediakan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi, memberikan pelayanan pengobatan efek samping KB. 3. Mengadakan kursus keluarga berencana untuk para dukun bersalin. Dukun diharapkan dapat bekerjasama dengan Puskesmas dan bersedia menjadi motivator KB untuk ibu-ibu yang mencari pertolongan pelayanan dukun. 2.3 Manfaat Keluarga Berencana -Manfaat yang didapatkan apabila mengukuti program keluarga berencana antara lain :9 1. Menekan angka kematian akibat berbagai masalah yang melingkupi kehamilan, persalinan dan aborsi yang tidak aman. 2. Mencegah Kehamilan terlalu dini (tubuhnya belum sepenuhnya tumbuh; belum cukup matang dan siap untuk dilewati oleh bayi. Lagipula, bayinya pun dihadang oleh risiko kematian sebelum usianya mencapai 1 tahun) 3. Mencegah kehamilan terjadi di usia tua. -Perempuan yang usianya sudah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan terancam banyak bahaya. Khususnya bila ia mempunyai problema-problema kesehatan lain, atau sudah terlalu sering hamil dan melahirkan. 1. Menjarangkan Kehamilan -Kehamilan dan persalinan menuntut banyak energi dan kekuatan tubuh perempuan. Kalau ia belum pulih dari satu persalinan tapi sudah hamil lagi, tubuhnya tak sempat memulihkan kebugaran, dan berbagai masalah bahkan juga bahaya kematian, menghadang. 2. Terlalu sering hamil dan melahirkan -Perempuan yang sudah punya lebih dari 4 anak dihadang bahaya kematian akibat pendarahan hebat dan macam-macam kelainan lain, bila ia terus saja hamil dan bersalin lagi. 9

2.4 Konsep Dasar Kontrasepsi -Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara dan permanen. Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :2 1. Dapat dipercaya 2. tidak menimbulkan efek yang menganggu kesehatan 3. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan 4. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus. 5. Tidak memerlukan motivasi terus menerus 6. Mudah pelaksanaannya 7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat 8. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan bersangkutan. 2.5 Jenis Kontrasepsi 2.5.1 Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) -Metode kontrasepsi Jangka Panjang merupakan kontrasepsi yang dapat bertahan antara 3 tahun sampai seumur hidup. Seperti IUD, Implant/susuk KB, Steril pada pria/wanita.1,2 A. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) -Ada beberapa jenis alat KB yang bekerja dari dalam rahim untuk mencegah pembuahan sel telur oleh sperma. Biasanya alat ini disebut spiral, atau dalam bahasa Inggrisnya Intra-Uterine Devices, disingkat IUD. Spiral bisa bertahan dalam rahim dan terus menghambat pembuahan sampai 10 tahun lamanya. setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan spiral yang paling umum digunakan adalah plastik, atau plastik bercampur tembaga.6,7 -Spiral tidak melindungi dari berbagai penyakit yang menular melalui hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS. Selain itu spiral akan memperparah penyakit,

menyebabkan komplikasi-komplikasi serius, umpamanya radang mulut rahim yang bisa membuat pasien kehilangan kesuburan (mandul). Cara kerjanya adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

-Keuntungan penggunaannya adalah sebagai berikut :1. 2