of 23 /23
LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMA 1. DEFINISI Karsinoma hepatoseluler atau hepatoma adalah tumor ganas hati primer dan paling sering ditemukan daripada tumor ganas hati primer lainnya seperti limfoma maligna, fibrosarkoma, dan hemangioendotelioma. Hepatocellular Carcinoma (HCC) atau disebut juga hepatoma atau kanker hati primer atau Karsinoma Hepato Selular (KHS) adalah satu dari jenis kanker yang berasal dari sel hati (Misnadiarly, 2007). 2. ETIOLOGI a. Virus Hepatitis B Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya hepatoma terbukti kuat, baik secara epidemiologis, klinis maupun eksperimental. Sebagian besar wilayah yang hiperendemik HBV menunjukkan angka kekerapan hepatoma yang tinggi. Umur saat terjadinya infeksi merupakan faktor resiko penting karena infeksi HBV pada usia dini berakibat akan terjadinya kronisitas. Karsinogenitas HBV terhadap hati mungkin terjadi melalui proses inflamasi kronik, peningkatan proliferasi hepatosit, integrasi HBV DNA ke dalam DNA sel penjamu, dan aktifitas protein spesifik-HBV berinteraksi dengan gen hati. Pada dasarnya, perubahan hepatosit dari kondisi inaktif menjadi sel yang aktif bereplikasi menentukan tingkat karsinogenesis hati. Siklus sel dapat diaktifkan secara tidak langsung akibat dipicu oleh ekspresi berlebihan suatu atau beberapa gen yang berubah akibat HBV. Infeksi HBV dengan pajanan agen onkogenik 1

Lp Hepatoma

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Lp Hepatoma

LAPORAN PENDAHULUAN

HEPATOMA

1. DEFINISI

Karsinoma hepatoseluler atau hepatoma adalah tumor ganas hati primer dan paling

sering ditemukan daripada tumor ganas hati primer lainnya seperti limfoma maligna,

fibrosarkoma, dan hemangioendotelioma.

Hepatocellular Carcinoma (HCC) atau disebut juga hepatoma atau kanker hati primer

atau Karsinoma Hepato Selular (KHS) adalah satu dari jenis kanker yang berasal dari sel

hati (Misnadiarly, 2007).

2. ETIOLOGI

a. Virus Hepatitis B

Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya hepatoma terbukti kuat,

baik secara epidemiologis, klinis maupun eksperimental. Sebagian besar wilayah yang

hiperendemik HBV menunjukkan angka kekerapan hepatoma yang tinggi. Umur saat

terjadinya infeksi merupakan faktor resiko penting karena infeksi HBV pada usia dini

berakibat akan terjadinya kronisitas. Karsinogenitas HBV terhadap hati mungkin

terjadi melalui proses inflamasi kronik, peningkatan proliferasi hepatosit, integrasi HBV

DNA ke dalam DNA sel penjamu, dan aktifitas protein  spesifik-HBV berinteraksi

dengan gen hati. Pada dasarnya, perubahan hepatosit dari kondisi inaktif menjadi sel

yang aktif bereplikasi menentukan tingkat karsinogenesis hati. Siklus sel dapat

diaktifkan secara tidak langsung akibat dipicu oleh ekspresi berlebihan suatu atau

beberapa gen yang berubah akibat HBV. Infeksi HBV dengan pajanan agen

onkogenik seperti aflatoksin dapat menyebabkan terjadinya hepatoma tanpa melalui

sirosis hati.

b. Virus Hepatitis C

Di wilayah dengan tingkat infeksi HBV rendah, HCV merupakan faktor resiko

penting dari hepatoma. Infeksi HCV telah menjadi penyebab paling umum karsinoma

hepatoseluler di Jepang dan Eropa, dan juga bertanggung jawab atas meningkatnya

insiden karsinoma hepatoseluler di Amerika Serikat, 30% dari kasus karsinoma

hepatoseluler dianggap terkait dengan infeksi HCV. Sekitar 5-30% orang dengan

infeksi HCV akan berkembang menjadipenyakit hati kronis. Dalam kelompok ini,

sekitar 30% berkembang menjadi sirosis, dan sekitar 1-2% per tahun berkembang

menjadi karsinoma hepatoseluler. Resiko karsinoma hepatoseluler pada pasien

dengan HCV sekitar 5% dan muncul 30 tahun setelah infeksi. Penggunaan alkohol

1

Page 2: Lp Hepatoma

oleh pasien dengan HCV kronis lebih beresiko terkena karsinoma hepatoseluler

dibandingkan dengan infeksi HCV saja. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa

penggunaan antivirus pada infeksi HCV kronis dapat mengurangi risiko karsinoma

hepatoseluler secara signifikan. 

c. Sirosis Hati

Sirosis hati merupakan faktor resiko utama hepatoma di dunia dan

melatarbelakangi lebih dari 80% kasus hepatoma. Penyebab utama sirosis di Amerika

Serikat dikaitkan dengan alkohol, infeksi hepatitis C, dan infeksi hepatitis B. Setiap

tahun, 3-5% dari pasien dengan sirosis hati akan menderita hepatoma. Hepatoma

merupakan penyebab utama kematian pada sirosis hati. Pada otopsi pada pasien

dengan sirosis hati , 20-80% di antaranya telah menderita hepatoma.

d. Aflatoksin

Aflatoksin B1 (AFB1) meruapakan mikotoksin yang diproduksi oleh

jamur Aspergillus. Dari percobaan pada hewan diketahui bahwa AFB1 bersifat

karsinogen. Aflatoksin B1 ditemukan di seluruh dunia dan terutama banyak

berhubungan dengan makanan berjamur.1 Pertumbuhan jamur yang menghasilkan

aflatoksin berkembang subur pada suhu 13°C, terutama pada makanan yang

menghasilkan protein. Di Indonesia terlihat berbagai makanan yang tercemar dengan

aflatoksin seperti kacang-kacangan, umbi-umbian (kentang rusak, umbi rambat

rusak,singkong, dan lain-lain), jamu, bihun, dan beras berjamur.

Salah satu mekanisme hepatokarsinogenesisnya ialah kemampuan AFB1

menginduksi mutasi pada gen supresor tumor p53. Berbagai penelitian dengan

menggunakan biomarker menunjukkan ada korelasi kuat antara pajanan aflatoksin

dalam diet dengan morbiditas dan mortalitas hepatoma.

e. Obesitas

Suatu penelitian pada lebih dari 900.000 individu di Amerika Serikat diketahui

bahwa terjadinya peningkatan angka mortalitas sebesar 5x akibat kanker pada

kelompok individu dengan berat badan tertinggi (IMT 35-40 kg/m2)  dibandingkan

dengan kelompok individu yang IMT-nya normal. Obesitas merupakan faktor resiko

utama untuk non-alcoholic fatty liver disesease (NAFLD), khususnya non-alcoholic

steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian

berlanjut menjadi hepatoma.

f. Diabetes Mellitus

Tidak lama ditengarai bahwa DM menjadi faktor resiko baik untuk penyakit hati

kronis maupun untuk hepatoma melalui terjadinya perlemakan hati dan steatohepatitis

non-alkoholik (NASH). Di samping itu, DM dihubungkan dengan peningkatan kadar

insulin dan insulin-like growth factors (IGFs)  yang merupakan faktor promotif

2

Page 3: Lp Hepatoma

potensial untuk kanker. Indikasi kuatnya aasosiasi antara DM dan hepatoma terlihat

dari banyak penelitian. Penelitian oleh El Serag dkk. yang melibatkan173.643 pasien

DM dan 650.620 pasien bukan DM menunjukkan bahwa insidensi hepatoma pada

kelompok DM lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan insidensi hepatoma

kelompok bukan DM.

g. Alkohol

Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik, peminum berat alkohol

(>50-70 g/hari atau > 6-7 botol per hari) selama lebih dari 10 tahun meningkatkan

risiko karsinoma hepatoseluler 5 kali lipat. Hanya sedikit bukti adanya efek

karsinogenik langsung dari alkohol. Alkoholisme juga meningkatkan resiko terjadinya

sirosis hati dan hepatoma pada pengidap infeksi HBV atau HVC. Sebaliknya, pada

sirosis alkoholik terjadinya HCC juga meningkat bermakna pada pasien dengan

HBsAg positif atau anti-HCV positif. Ini menunjukkan adanya peran sinergistik alkohol

terhadap infeksi HBV maupun infeksi HCV.

3. PATOFISIOLOGI

Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama/menahun. Khususnya yang

disebabkan oleh alkoholik dan post nekrotik. Pedoman diagnostik yang paling penting

adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis

hati  yang disertai pembesaran hati mendadak. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada

lebih dari 50 % kematian akibat kanker.

Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran

tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi.

Stadium hepatoma :

a. Stadium I : Satu fokal tumor berdiameter < 3 cm

b. Stadium II : Satu fokal tumor berdiameter > 3 cm. Tumor terbatas pada segment I

atau multi-fokal tumor terbatas padlobus kanan atau lobus kiri hati

c. Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment IV) atau ke

lobus kanan segment V dan VIII atau tumor dengan invasi peripheral ke sistem

pembuluh darah (vascular) atau pembuluh empedu (biliary duct) tetapi hanya

terbatas pada lobus kanan atau lobus kiri hati

d. Stadium IV :Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus kanan dan lobus

kiri hati. atau tumor dengan invasi ke dalam pembuluh darah hati (intra

hepaticvaskuler ) ataupun pembuluh empedu (biliary duct) atau tumor dengan

invasi ke pembuluh darah di luar hati (extra hepatic vessel) seperti pembuluh

darah vena limpa (vena lienalis) atau vena cava inferior-atau adanya metastase

keluar dari hati (extra hepatic metastase).

3

Page 4: Lp Hepatoma

AsitesAnoreksia, mual

Dinding perut menegang

Gangguan rasa nyaman nyeri

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan

Diafragma tertekan

Gangguan ventilasi

Pembedahan

Hepatoma

Virus hepatitis B

Virus hepatitis C

Alkohol, steroid anabolic, androgen yang berlebihan, Bahan kontrasepsi oral, Penimbunan zat besi yang berlebihan dalam hati

Inflamasi kronik

Integrasi DNA virus ke DNA sel

hati

Peningkatan poliferasi hepatosit

Infeksi sel hati

Aflatoksin

Mutasi gen

Pathway

4

Sirosis hepatik

Resiko infeksi Gangguan rasa nyaman nyeri

Insisi bedah

Luka post operasi

Diskontinuitas jaringan

Page 5: Lp Hepatoma

4. MANIFESTASI KLINIS

a. Gangguan nutrisi

b. Penurunan berat badan yang baru saja terjadi

c. Kehilangan kekuatan

d. Anoreksia

e. Anemia

f. Nyeri abdomen dapat ditemukan, disertai dengan pembesaran hati yang cepat

serta permukaan yang teraba ireguler pada palpasi.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Biopsi

Biopsi aspirasi dengan jarum halus (fine needle aspiration biopsy) terutama

ditujukan untuk menilai apakah suatu lesi yang ditemukan pada pemeriksaan

radiologi imaging dan laboratorium AFP itu benar pasti suatu hepatoma.

Cara melakukan biopsi dengan dituntun oleh USG ataupun CTscann mudah,

aman, dan dapat ditolerir oleh pasien dan tumor yang akan dibiopsi dapat terlihat

jelas pada layar televisi berikut dengan jarum biopsi yang berjalan persis menuju

tumor, sehingga jelaslah hasil yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik dan akurasi

yang tinggi karena benar jaringan tumor ini yang diambil oleh jarum biopsi itu dan

bukanlah jaringan sehat di sekitar tumor.

b. Radiologi

Untuk mendeteksi kanker hati stadium dini dan berperan sangat menentukan

dalam pengobatannya. Kanker hepato selular ini bisa dijumpai di dalam hati berupa

benjolan berbentuk kebulatan (nodule) satu buah,dua buah atau lebih atau bisa

sangat banyak dan diffuse (merata) pada seluruh hati atau berkelompok di dalam hati

kanan atau kiri membentuk benjolan besar yang bisa berkapsul.

c. Ultrasonografi

Dengan USG hitam putih (grey scale) yang sederhana (conventional) hati yang

normal tampak warna ke-abuan dan texture merata (homogen).

USG conventional hanya dapat memperlihatkan benjolan kanker hatidiameter 2

cm – 3 cm saja. Tapi bila USG conventional ini dilengkapi dengan perangkat lunak

harmonik sistem bisa mendeteksi benjolan kanker diameter 1 cm – 2 cm13, namun

nilai akurasi ketepatan diagnosanya hanya 60%.

d. CT scan

5

Page 6: Lp Hepatoma

CT scann sebagai pelengkap yang dapat menilai seluruh segmen hati dalam satu

potongan gambar yang dengan USG gambar hati itu hanya bisa dibuat sebagian-

sebagian saja. CTscann dapat membuat gambar kanker dalam tiga dimensi dan

empat dimensi dengan sangat jelas dan dapat pula memperlihatkan hubungan kanker

ini dengan jaringan tubuh sekitarnya.

e. Angiografi

Angiografi ini dapat dilihat berapa luas kanker yang sebenarnya. Kanker yang kita

lihat dengan USG yang diperkirakan kecil sesuai dengan ukuran pada USG bisa saja

ukuran sebenarnya dua atau tiga kali lebih besar. Angigrafi bisa memperlihatkan

ukuran kanker yang sebenarnya.

f. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI yang dilengkapi dengan perangkat lunak Magnetic ResonanceAngiography

(MRA) sudah pula mampu menampilkan dan membuat peta pembuluh darah kanker

hati ini.

g. PET (Positron Emission Tomography)

Positron Emission Tomography (PET) yang merupakan alat pendiagnosis kanker

menggunakan glukosa radioaktif yang dikenal sebagai flourine18 atau

Fluorodeoxyglucose (FGD) yang mampu mendiagnosa kanker dengan cepat dan

dalam stadium dini.

Caranya, pasien disuntik dengan glukosa radioaktif untuk mendiagnosis sel-sel

kanker di dalam tubuh. Cairan glukosa ini akan bermetabolisme di dalam tubuh dan

memunculkan respons terhadap sel-sel yang terkena kanker.

PET dapat menetapkan tingkat atau stadium kanker hati sehingga tindakan lanjut

penanganan kanker ini serta pengobatannya menjadi lebih mudah. Di samping itu

juga dapat melihat metastase (penyebaran).

6. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pemilihan terapi kanker hati ini sangat tergantung pada hasil pemeriksaan

radiologi dan biopsi. Sebelum ditentukan pilihan terapi hendaklah dipastikan besarnya

ukuran kanker,lokasi kanker di bagian hati yang mana, apakah lesinya tunggal (soliter)

atau banyak (multiple), atau merupakan satu kanker yang sangat besar berkapsul, atau

kanker sudah merata pada seluruh hati, serta ada tidaknya metastasis (penyebaran) ke

tempat lain di dalam tubuh penderita ataukah sudah ada tumor thrombus di dalam vena

porta dan apakah sudah ada sirrhosis hati. Tahap penatalaksanaan dibagi menjadi dua

yaitu tindakan non-bedah dan tindakan bedah.

a. Tindakan Bedah Hati Digabung dengan Tindakan Radiologi

6

Page 7: Lp Hepatoma

Terapi yang paling ideal untuk kanker hati stadium dini adalah tindakan bedah

yaitu reseksi (pemotongan) bahagian hati yang terkena kanker dan juga reseksi

daerah sekitarnya. Pada prinsipnya dokter ahli bedah akan membuang seluruh kanker

dan tidak akan menyisakan lagi jaringan kanker pada penderita, karena bila tersisa

tentu kankernya akan tumbuh lagi jadi besar, untuk itu sebelum menyayat kanker

dokter ini harus tahu pasti batas antara kanker dan jaringan yang sehat.

Radiologilah satu-satunya cara untuk menentukan perkiraan pasti batas itu yaitu

dengan pemeriksaan CT angiography yang dapat memperjelas batas kanker dan

jaringan sehat sehingga ahli bedah tahu menentukan di mana harus dibuat sayatan.

Maka harus dilakukan CT angiography terlebih dahulu sebelum dioperasi.

Dilakukan CT angiography sekaligus membuat peta pembuluh darah kanker

sehingga jelas terlihat pembuluh darah mana yang bertanggung jawab memberikan

makanan (feeding artery) yang diperlukan kanker untuk dapat tumbuh subur. Sesudah

itu barulah dilakukan tindakan radiologi Trans Arterial Embolisasi (TAE) yaitu suatu

tindakan memasukkan suatu zat yang dapat menyumbat pembuluh darah (feeding

artery) itu sehingga menyetop suplai makanan ke sel-sel kanker dan dengan demikian

kemampua hidup (viability) dari sel-sel kanker akan sangat menurun sampai

menghilang.

Sebelum dilakukan TAE dilakukan dulu tindakan Trans Arterial Chemotherapy

(TAC) dengan tujuan sebelum ditutup feeding artery lebih dahulu kanker-nya disirami

racun (chemotherapy) sehingga sel-sel kanker yang sudah kena racun dan ditutup lagi

suplai makanannya maka sel-sel kanker benar-benar akan mati dan tak dapat

berkembang lagi dan bila sel-sel ini nanti terlepas pun saat operasi tak perlu

dikhawatirkan, karena sudah tak mampu lagi bertumbuh. Tindakan TAE digabung

dengan tindakan TAC yang dilakukan olehdokter spesialis radiologi disebut tindakan

Trans Arterial Chemoembolisation (TACE). Selain itu TAE ini juga untuk tujuan

supportif yaitu mengurangi perdarahan pada saat operasi dan juga untuk mengecilkan

ukuran kanker dengan demikian memudahkan dokter ahli bedah.

Setelah kanker disayat, seluruh jaringan kanker itu harus diperiksakan pada dokter

ahli patologi yaitu satu-satunya dokter yang berkompentensi dan yang dapat

menentukan dan memberikan kata pasti apakah benar pinggir sayatan sudah bebas

kanker. Bila benar pinggir sayatan bebas kanker artinya sudahlah pasti tidak ada lagi

jaringan kanker yang masih tertinggal di dalam hati penderita. Kemudian diberikan

chemotherapy (kemoterapi) yang bertujuan meracuni sel-sel kanker agar tak mampu

lagi tumbuh berkembang biak.

Pemberian Kemoterapi dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam bahagian

onkologi (medical oncologist) ini secara intra venous (disuntikkan melalui pmbuluh

7

Page 8: Lp Hepatoma

darah vena) yaitu epirubucin/dexorubicin 80 mg digabung dengan mitomycine C 10

mg. Dengan cara pengobatan seperti ini usia harapan hidup penderita per lima tahun

90% dan per 10 tahun 80%.

b. TindakanNon-bedah Hati

Tindakan non-bedah merupakan pilihan untuk pasien yang datang pada stadium

lanjut.. Termasuk dalam tindakan non-bedah ini adalah:

1) Embolisasi Arteri Hepatika (Trans Arterial Embolisasi = TAE)

Pada prinsipnya sel yang hidup membutuhkan makanan dan oksigen yang

datangnyabersama aliran darah yang menyuplai sel tersebut. Pada kanker

timbul banyak sel-sel baru sehingga diperlukan banyak makanan dan oksigen,

dengan demikian terjadi banyak pembuluh darah baru (neo-vascularisasi) yang

merupakan cabang-cabang dari pembuluh darah yang sudah ada disebut

pembuluh darah pemberi makanan (feeding artery) Tindakan TAE ini

menyumbat feeding artery.

Caranya dimasukkan kateter melalui pembuluh darah di paha (arteri

femoralis) yang seterusnya masuk ke pembuluh nadi besar di perut (aorta

abdominalis) dan seterusnya dimasukkan ke pembuluh darah hati (artery

hepatica) dan seterusnya masuk ke dalam feeding artery. Lalu feeding artery

ini disumbat (di-embolisasi) dengan suatu bahan seperti gel foam sehingga

aliran darah ke kanker dihentikan dan dengan demikian suplai makanan dan

oksigen ke sel-sel kanker akan terhenti dan sel-sel kanker ini akan mati.

Apalagi sebelum dilakukan embolisasi dilakukan tindakan trans arterial

chemotherapy yaitu memberikan obat kemoterapi melalui feeding artery itu

maka sel-sel kanker jadi diracuni dengan obat yang mematikan.

Bila kedua cara ini digabung maka sel-sel kanker benar-benar terjamin

mati dan tak berkembang lagi.Dengan dasar inilah embolisasi dan injeksi

kemoterapi intra-arterial dikembangkan dan nampaknya memberi harapan

yang lebih cerah pada penderita yang terancam maut ini. Angka harapan hidup

penderita dengan cara ini per lima tahunnya bisa mencapai sampai 70% dan

per sepuluh tahunnya bisa mencapai 50%.

2) Infus Sitostatika Intra-arterial

Menurut literatur 70% nutrisi dan oksigenasi sel-sel hati yang normal

berasal dari vena porta dan 30% dari arteri hepatika, sehingga sel-sel ganas

mendapat nutrisi dan oksigenasi terutama dari sistem arteri hepatika. Bila

Vena porta tertutup oleh tumor maka makanan dan oksigen ke sel-sel hati

normal akan terhenti dan sel-sel tersebut akan mati. Dapatlah dimengerti

kenapa pasien cepat meninggal bila sudah ada penyumbatan vena porta ini .

8

Page 9: Lp Hepatoma

Infus sitostatika intra-arterial ini dikerjakan bila vena porta sampai ke cabang

besar tertutup oleh sel-sel tumor di dalamnya dan pada pasien tidak dapat

dilakukan tindakan transplantasi hati oleh karena ketiadaan donor, atau karena

pasien menolak atau karena ketidakmampuan pasien. Sitostatika yang dipakai

adalah mitomycin C 10 – 20 Mg kombinasi dengan adriblastina 10-20 Mg

dicampur dengan NaCl (saline) 100 – 200 cc. Atau dapat juga cisplatin dan

5FU (5 Fluoro Uracil).

Metoda ballon occluded intra arterial infusion adalah modifikasi infus

sitostatika intra-arterial, hanya kateter yang dipakai adalah double lumen

balloncatheter yang di-insert (dimasukkan) ke dalam arteri hepatika. Setelah

ballon dikembangkan terjadi sumbatan aliran darah, sitostatika diinjeksikan

dalam keadaan ballon mengembang selama 10 – 30 menit, tujuannya adalah

memperlama kontak sitostatika dengan tumor. Dengan cara ini maka harapan

hidup pasien per lima tahunnya menjadi 40% dan per sepuluh tahunnya 30%

dibandingkan dengan tanpa pengobatan adalah20% dan 10%.

3) Injeksi Etanol Perkutan (Percutaneus Etanol Injeksi = PEI)

Pada kasus-kasus yang menolak untuk dibedah dan juga menolak semua

tindakan atau pasien tidak mampu membiayai pembedahan dan tak mampu

membiayai tindakan lainnya maka tindakan PEI-lah yang menjadi pilihan satu-

satunya.

Tindakan injeksi etanol perkutan ini mudah dikerjakan, aman, efek samping

ringan, biaya murah, dan hasilnya pun cukup memberikan harapan. PEI hanya

dikerjakan pada pasien stadium dini saja dan tidak pada stadium lanjut.

Sebagian besar peneliti melakukan pengobatan dengan cara ini untuk kanker

bergaris tengah sampai 5 cm, walaupun pengobatan paling optimal dikerjakan

pada garis tengah kurang dari 3 cm. Pemeriksaan histopatologi setelah

tindakan membuktikan bahwa tumor mengalami nekrosis yang lengkap.

Sebagian besar peneliti menyuntikkan etanol perkutan pada kasus kanker ini

dengan jumlah lesi tidak lebih dari3 buah nodule, meskipun dilaporkan bahwa

lesi tunggal merupakan kasus yang paling optimal dalam pengobatan.

Walaupun kelihatannya cara ini mungkin dapat menolong tetapi tidak banyak

penelitian yang memadai dilakukan sehingga hanya dikatakan membawa

tindakan ini memberi hasil yang cukup baik.

4) Terapi Non-bedah Lanilla

Terapi non-bedah lainnya saat ini sudah dikembangkan dan hanya

dilakukan bila terapi bedah reseksi dan Trans Arterial Embolisasi (TAE)

ataupun Trans Arterial Chemoembolisation ataupun Trans Arterial

9

Page 10: Lp Hepatoma

Chemotherapy tak mungkin dilakukan lagi. Di antaranya yaitu terapi Radio

Frequency Ablation Therapy (RFA),Proton Beam Therapy, Three Dimentional

Conformal Radiotherapy (3DCRT), Cryosurgery yang kesemuanya ini bersifat

palliatif (membantu) bukan kuratif (menyembuhkan) keseluruhannya.

5) Tindakan Transplantasi Hati

Bila kanker hati ini ditemukan pada pasien yang sudah ada sirrhosis hati

dan ditemukan kerusakan hati yang berkelanjutan atau sudah hampir seluruh

hati terkena kanker atau sudah ada sel-sel kanker yang masuk ke vena porta

(thrombus vena porta) maka tidak ada jalan terapi yang lebih baik lagi dari

transplantasi hati. Transplantasi hati adalah tindakan pemasangan organ hati

dari orang lain ke dalam tubuh seseorang. Langkah ini ditempuh bila langkah

lain seperti operasi dan tindakan radiologi seperti yang disebut di atas tidak

mampu lagi menolong pasien.

Akan tetapi,langkah menuju transplantasi hati tidak mudah, pasalnya

ketersediaan hati untuk di-transplantasikan sangat sulit diperoleh seiring

kesepakatan global yang melarang jual beli organ tubuh.

Selain itu, biaya transplantasi tergolong sangat mahal. Dan pula sebelum

proses transplantasi harus dilakukan serangkaian pemeriksaan seperti tes

jaringan tubuh dan darah yang tujuannya memastikan adanya

kesamaan/kecocokan tipe jaringan tubuh pendonor dan pasien agar tidak

terjadi penolakan terhadap hati baru. Penolakan bisa berupa penggerogotan

hati oleh zat-zat dalam darah yang akan menimbulkan kerusakan permanen

dan mempercepat kematian penderita. Seiring keberhasilan tindakan

transplantasi hati, usia pasien setidaknya akan lebih panjang lima tahun.

7. KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi pada sirosis adalah asites, perdarahan saluran cerna

bagian atas, ensefalopati hepatika, dan sindrom hepatorenal. Sindrom hepatorenal adalah

suatu keadaan pada pasien dengan hepatitis kronik, kegagalan fungsi hati, hipertensi

portal, yang ditandai dengan gangguan fungsi ginjal dan sirkulasi darah Sindrom ini

mempunyai risiko kematianyangtinggi. Terjadinya gangguan ginjal pada pasien dengan

sirosis hati ini baru dikenal pada akhir abad 19 dan pertamakali dideskripsikan oleh Flint

dan Frerichs. Penatalaksanaan sindrom hepatorenal masih belum memuaskan; masih

banyak kegagalan sehingga menimbulkan kematian. Prognosis pasien dengan penyakit

ini buruk.

10

Page 11: Lp Hepatoma

ASUHAN KEPERAWATAN HEPATOMA

1. PENGKAJIAN

a. Identitas

Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku, bangsa, no. registrasi

b. Riwayat kesehatan

1) Keluhan utama: klien biasanya mengeluh mual, muntah, nyeri perut kanan

atas, pembesaran perut, berak hitam

2) Riwayat penyakit sekarang: biasanya klien awalnya mengalami mual, nyeri

perut kanan atas, berak hitam, kemudian perut klien membesar dan sesak

nafas.

3) Riwayat penyakit dahulu: biasanya klien pernah mengalami penyakit hepatitis

B atau C atau D. Dan mengalami sirosis hepatic

4) Riwayat penyakit keluarga: biasanya salah satu atau lebih keluarga klien

menderita penyakit hepatitis B atau C atau D. Biasanya ibu klien menderita

hepatitis B atau C atau D yang diturunkan kepada anaknya pada waktu hamil.

5) Riwayat imunisasi: biasanya klien tidak diimunisasi untuk penyakit hepatitis B

c. Pemeriksaan fisik

1) Keadaan umum

Biasanya klien terlihat lemah, letih, dengan perut membesar dan sesak nafas,

penurunan BB.

2) TTV

TD: >120/80 mmHg

N: >100 x/mnt

RR: <16 x/mnt

S: >37,5oC

3) Kepala dan leher

Biasanya terjadi pernafasan cuping hidung, ikterus, muntah

4) Thoraks

Biasanya terjadi retraksi dada dikarenakan kesulitas bernafas, penggunaan

otot-otot bantu pernafasan

5) Abdomen

Biasanya terjadi pembesaran hati (hepatomegali), permukaan hati terasa

kasar, asites, nyeri perut bagian kanan atas dengan skala 7-10, splenomegali

6) Ekstremitas

Biasanya terjadi gatal-gatal, kelenahan otot

7) Breath

11

Page 12: Lp Hepatoma

Biasanya klien mengalami sesak nafas

8) Blood

Biasanya klien anemi dikarenakan adanya perdarahan

9) Brain

Jika sudah metastase akan terjadi enselofaty hepatik

10) Bowel

Biasanya klien mengalami anoreksia, mual, muntah, melena, bahkan mungkin

terjadi hematomesis. Terjadi penurunan BB, turgor kulit lebih dari 2 detik,

rambut kering, mukosa oral kering, penurunan serum albumin.

11) Blader

Biasanya klien mengeluarkan urin berwarna seperti teh pekat

12) Bone

Jika terjadi metastase ke tulang akan terjadi nyeri tulang

d. Pola fungsi kesehatan

1) Pola aktivitas

Biasanya klien mengalami gangguan dalam beraktivitas dikarenakan nyeri,

kelemahan otot, mual, dan muntah

2) Pola nutrisi

Biasanya klien mengalami anoreksia, mual dan muntah

3) Pola eliminasi

Biasanya klien mengeluarkan urin berwarna seperti teh dan pekat.

4) Pola istirahat

Biasanya klien mengalami insomnia

5) Pola seksual

Biasanya klien mengalami penurunan libido

6) Pola spiritual

Biasanya klien terganggu dalam menjalani ibadah

2. DIAGNOSA

a. Pre operasi

1) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya asites dan penekanan

diafragma.

2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,

mual.

3) Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut. Akibat asites

b. Post operasi

12

Page 13: Lp Hepatoma

1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi.

2) Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi.

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Pre operasi

Dx 1 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya asites dan penekanan

diafragma.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam pernafasan klien kembali

normal

KH :

- Tidak mengeluh sesak napas,

- RR 16 – 24 X/menit.

- Hasil Lab BGA  Normal

- Tidak ada pernafasan cuping hidung

- Tidak ada penggunaan otot-otot bantu pernafasan

Intervensi Rasional

1. Pertahankan Posisi semi fowler

2. Observasi gejala kardinal dan monitor tanda-tanda ketidakefektifan pola napas

3. Berikan penjelasan tentang penyebab sesak dan motivasi utuk membatasi aktivitas

4. Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam pemberian diuretik, batasi asupan cairan, dan aspirasi asites.

1. Posisi ini memungkinkan tidak terjadinya penekanan isi perut terhadap diafragma sehingga meningkatkan ruangan untuk ekspansi paru   yang maksimal dan mengurangi peningkatan volume darah paru sehingga memperluas ruangan yang dapat diisi oleh udara

2. Pemantau lebih dini pada perubahan sehingga dapat diambil tindakan penanganan segera.

3. Pengertian klien akan mengundang partispasi klien dalam mengatasi permasalahan yang terjadi

4. Untuk mengurangi asites dan cairan dalam cavum peritoneum sehingga pola nafas kembali normal (16-24x/menit)

Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam kebutuhaan nutrisi klien

terpenuhi

KH :

- BB klien naik

- Serum albumin normal

- Makanan 1 porsi habis

13

Page 14: Lp Hepatoma

- Klien tidak terlahat lemas

Intervensi Rasional

1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin.

2. Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh dan diit yang di tentukan dan tanyakan kembali apa yang telah di jelaskan.

3. Bantu klien dan keluarga mengidentifikasi  dan memilih makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi

4. Sajikan makanan dalam keadaan menarik dan hangat.

5. Anjurkan pada klien untuk menjaga kebersihan mulut.

6. Monitor kenaikan berat badan

1. Dengan pemberian vitamin membantu proses metabolisme, mempertahankan fungsi berbagai jaringan dan membantu pembentukan sel baru.

2. Pengertian klien tentang nutrisi mendorong klien untuk mengkonsumsi makanan sesuai diit yang ditentukan dan umpan balik  klien tentang penjelasan merupakan tolak ukur penahanan klien  tentang nutrisic.

3. Dengan mengidentifikasi berbagai jenis makanan yang telah di tentukan Diharapkan klien kooperatif

4. Dengan penyajian yang menarik diharapkan dapat meningkatkan selera    makan

5. Dengan kebersihan mulut menghindari rasa mual sehingga diharapkan menambah rasa

6. Dengan monitor  berat badan merupakan sarana untuk mengetahui perkembangan asupan nutrisi klien

Dx 3 : gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut

akibat asites

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam skala nyeri berkurang

KH :

- Klien terlihat tenang

- Skala nyeri 0-3

- TD 120/80 mmHg

- Nadi 60-100 x/mnt

Intervensi Rasional

1. Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik (perhatikan fungsi faal hepar)

2. Atur posisi klien yang enak sesuai dengan  keadaan

3. Awasi respon emosional klien terhadap proses nyeri

4. Ajarkan teknik pengurangan nyeri

1. Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri dalam mencapai sistim saraf sentral

2. Dengan posisi miring ke sisi yang sehat disesuaikan dengan gaya gravitasi,maka dengan miring kesisi yang sehat maka terjadi pengurangan  penekanan sisi yang sakit

3. Keadaan emosional mempunyai dampak pada kemampuan klien untuk         menangani nyeri

4. Teknik distraksi merupakan teknik

14

Page 15: Lp Hepatoma

dengan teknik  distraksi

5. Observasi tanda-tanda vital

pengalihan perhatian sehingga mengurangi emosional dan kognitif

5. Deteksi dini adanya kelainan

Post operasi

Dx 1 : gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nyeri selama 3 x 24 jam

diharapkan nyeri klien berkurang

KH :

- Klien terlihat tenang

- Skala nyeri 0-3

- TD 120/80 mmHg

- Nadi 60-100 x/mnt

Intervensi Evaluasi

1. Observasi cemas, mudah terangsang, menangis, gelisah, gangguan tidur

2. Pantau tanda-tanda vita

l3. Berikan tindakan nyaman, bantu aktivitas

perawatan diri dan dorong aktvitas senggang sesuai indikasi.

4. Beritahu pasien bahwa wajar saja, meskipun lebih baik, untuk meminta analgesic segera setelah ketidaknyamanan menjadi dilaporkan

5. Kolaborasikan pemberian obat sesuai indikasi seperti profiksene dan asetaminofen

1. Petunjuk non verbal ini dapat menindikasikan adanya/ derajat nyeri yang dialami

2. Kecepatan jantung biasanya meningkat karena nyeri. TD mungkin meningkat karna ketidaknyamanan insisi tetapi dapat menurun atau tkidak stabil.

3. Dapat meningkatkan relaksasi atau perhatian tak langsung dan menurunkan frekuensi/ kebutuhan dosis analgesic.

4. Adanya nyeri menyebabkan tegangan otot yang mengganggu sirkulasi, memperlambat penyembuhan, dan memperberat nyeri

5. Biasanya diberikan untuk control nyeri adekuat dan menurunkan tegangan otot, yang memperbaiki kenyamanan pasien dan meningkatkan penyembuhan

Dx 2 : resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien dapat

melaporkan factor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan kewaspadaan yang

diperlukan

KH :

- Klien dapat menhidentifikasi factor-faktor resiko dan intervensi untuk mengurangi

infeksi

- Klien dapat mempertahankan lingkungan aseptic yang aman

- Tidak ada tanda-tanda infeksi

15

Page 16: Lp Hepatoma

Intervensi Rasional

1. Control infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan aseptic

2. Periksa kulit untuk memeriksa adanya infeksi yang terjadi.

3. Identifikasi gangguan pada tehnik aseptic dan atasi dengan segera pada waktu terjadi.

4. Kolaborasikan pemberian antibiotic jika perlu.

1. Mekanisme yang dirancang untuk mencegah infeksi

2. Gangguan pada integritas kulit atau dekat dengan lokasi operasi adalah sumber kontaminasi luka.

3. Kontaminasi dengan lingkungan/ kontak personal akan menyebabkan daerah yang steril menjadi tidak steril sehingga dapat meningkatkan resiko infeksi.

4. Dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau kontaminasi.

REFERENSI:

1. http://adinata007.blogspot.com/2012/03/bab-ii-pembahasan-2.html

2. http://wantohape.wordpress.com/2010/01/07/askep-hepatoma/

16