of 34 /34
BAB I PENDAHULUAN Tumor hati dapat berbentuk primer atau sekunder. Tumor hati primer dapat berbentuk jinak atau ganas dan dapat timbul dari sel parenkim hati, epitel duktus biliaris atau dari jaringan penunjang mesenkim atau bisa berasal lebih dari satu sel tersebut. Tumor hati sekunder (metastase di hati) paling sering berasal dari metastase tumor saluran cerna, mammae, atau paru (Putra, 2009). Karsinoma hepatoselular (Hepatocellular Carcinoma = HCC) merupakan tumor ganas hati primer yang berasal dari hepatosit, karsinoma fibrolamelar dan hepatoblastoma. Tumor ganas hati lainnya, kolangiokarsinoma (Cholangiocarcinoma = CC) dan sistoadenokarsinoma berasal dari sel epitel bilier, sedangkan angisarkoma dan leiomiosarkoma berasal dari sel mesenkim. Seluruh tumor ganas hati yang pernah didiagnosis, 85% merupakan HCC, 10% CC, dan 55 adalah jenis lainnya (Budihussodo, 2006). Di Amerika Serikat sekitar 80%-90% dari tumor ganas hati primer adalah hepatoma. Angka kejadian tumor ini di Amerika Serikat hanya sekitar 2% dari seluruh karsinoma yang ada. Sebaliknya di Afrika dan Asia hepatoma adalah 1

gambaran radiologi hepatoma

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: gambaran radiologi hepatoma

BAB I

PENDAHULUAN

Tumor hati dapat berbentuk primer atau sekunder. Tumor hati primer dapat

berbentuk jinak atau ganas dan dapat timbul dari sel parenkim hati, epitel duktus

biliaris atau dari jaringan penunjang mesenkim atau bisa berasal lebih dari satu sel

tersebut. Tumor hati sekunder (metastase di hati) paling sering berasal dari metastase

tumor saluran cerna, mammae, atau paru (Putra, 2009).

Karsinoma hepatoselular (Hepatocellular Carcinoma = HCC) merupakan

tumor ganas hati primer yang berasal dari hepatosit, karsinoma fibrolamelar dan

hepatoblastoma. Tumor ganas hati lainnya, kolangiokarsinoma (Cholangiocarcinoma

= CC) dan sistoadenokarsinoma berasal dari sel epitel bilier, sedangkan angisarkoma

dan leiomiosarkoma berasal dari sel mesenkim. Seluruh tumor ganas hati yang pernah

didiagnosis, 85% merupakan HCC, 10% CC, dan 55 adalah jenis lainnya

(Budihussodo, 2006).

  Di Amerika Serikat sekitar 80%-90% dari tumor ganas hati primer adalah

hepatoma. Angka kejadian tumor ini di Amerika Serikat hanya sekitar 2% dari

seluruh karsinoma yang ada. Sebaliknya di Afrika dan Asia hepatoma adalah

karsinoma yang paling sering ditemukan dengan angka kejadian 100/100.000 populasi (Singgih et

al., 2006).

Hepatoma dialami pria lebih banyak daripada wanita. Lebih dari 80% pasien

hepatoma menderita sirosis hati. Hepatoma biasa dan sering terjadi pada pasien

dengan sirosis hati yang merupakan komplikasi hepatitis virus kronik (Singgih et al.,

2006). 

Pasien hepatoma 88% terinfeksi virus hepatitis B atau C. Virus

ini mempunyai hubungan yang erat dengan timbulnya hepatoma. Hepatoma

seringkali tak terdiagnosis karena gejala karsinoma tertutup oleh penyakit yang

mendasari yaitu sirosis hati atau hepatitis kronik. Jika gejala tampak, biasanya sudah

1

Page 2: gambaran radiologi hepatoma

stadium lanjut dan harapan hidup sekitar beberapa minggu sampai bulan. Keluhan

yang paling sering adalah berkurangnya selera makan, penurunan berat badan, nyeri

di perut kanan atas dan mata tampak kuning (Singgih et al., 2006). 

Gejala yang sulit terlihat membutuhkan diagnosa yang tepat melalui

pemeriksaan yaitu salah satunya pemeriksaan radiologi sehingga dapat dilakukan

modalitas terapi yang memberikan harapan untuk sekurang-kurangnya perbaikan

pada kualitas hidup penderita. Untuk itu, referat ini bertujuan mengetahui gambaran

radiologi pada hepatoma.

2

Page 3: gambaran radiologi hepatoma

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Definisi Hepatoma

Hepatoma atau karsinoma hepatoseluler adalah keganasan pada hepatosit

dimana stem sel hati berkembang menjadi massa maligna yang dipicu oleh adanya

proses fibrotik maupun proses kronik dari hati (cirrhosis). Massa tumor ini

berkembang di dalam hepar maupun ekstrahepatik seperti pada metastase jauh.

Tumor dapat muncul sebagai massa tunggal atau sebagai suatu massa yang difus dan

sulit dibedakan dengan jaringan hati sekitar karena konsistensinya yang tidak dapat

dibedakan dengan jaringan hepar biasa. Massa ini dapat menganggu jalan dari saluran

empedu maupun menyebabkan hipertensi portal sehingga gejala klinis baru akan

terlihat setelah massa menjasi besar. Tanpa pengobatan agresif, hepatoma dapat

menyebabkan kematian dalam 6-20 bulan (Putra, 2009).

Ada 2 macam gambaran hepatoma yaitu bentuk nodular dengan gambaran

nodul tumor jelas, misalnya tumor yang tidak berbatas rata, atau difus. Hepatoma

bentuk difus ditandai dengan echopattern yang sangat kasat dan mengelompok

dengan batas tidak teratur dan bagian sentralnya  lebih echogenik. Pembuluh darah

disekitarnya sering distorted. Seringkali  para ultrasonografer yang tidak

berpengalaman membuat diagnosa sirosis pada hal diagnosa yang betul adalah sirosis

dan hepatoma difus. Gambaran hepatoma difus harus dibedakan dari gambaran fokal

fatty liver dimana ada gambaran echopattern yang kasar tetapi fokal.

2.2. Anatomi Hati

Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau kurang

lebih 2,5% berat badan orang dewasa yang menempati sebagian besar kuadran kanan

atas abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi yang sangat

kompleks. Batas atas hati berada sejajar dengan ruang interkostal V kanan dan batas

3

Page 4: gambaran radiologi hepatoma

bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga VIII kiri. Permukaan posterior hati

berbentuk cekung dan terdapat celah transversal sepanjang 5 cm dari sistem porta

hepatis. Omentum minor terdapat mulai dari sistem porta yang mengandung arteri

hepatika, vena porta dan duktus koledokus. Sistem porta terletak di depan vena kava

dan dibalik kandung empedu (Sudoyo, 2007).

Gambar 2.1 Anatomi Hepar

Hati bersifat lunak dan lentur dan menduduki regio hipokondrium kanan,

meluas sampai epigastrium. Sebagian besar hati terletak di bawah lipatan iga dan

rawan iga serta berhubungan dengan diafragma, yang memisahkannya dengan pleura,

paru, perikardium dan jantung. Permukaan atas hati yang cembung melengkung pada

permukaan bawah kubah diafragma. Permukaan postero-inferior atau permukaan

viseral membentuk cetakan visera yang berdekatan dan oleh karena itu bentuknya

tidak teratur; permukaan ini berhubungan dengan pars abdominalis oesophagus,

lambung, duodenum, flexura coli dextra, ginjal kanan dan kelenjar suprarenalis, dan

kandung empedu (Snell, 1997).

4

Page 5: gambaran radiologi hepatoma

Gambar 2.2 Anatomi Hepar Anterior dan Posterior

Permukaan anterior yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya

perlekatan ligamentum falsiform yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran

kira-kira 2 kali lobus kiri. Pada daerah antara ligamentum falsiform dengan kandung

empedu di lobus kanan kadang-kadang dapat ditemukan lobus kuadratus dan sebuah

daerah yang disebut sebagai lobus kaudatus yang biasanya tertutup oleh vena kava

inferior dan ligamentum venosum pada permukaan posterior. Hati terbagi dalam 8

segmen dengan fungsi yang berbeda. Pada dasarnya, garis Cantlie yang terdapat

mulai dari vena kava sampai kandung empedu telah membagi hati menjadi 2 lobus

fungsional, dan dengan adanya daerah dengan vaskularisasi relatif lebih sedikit,

kadang-kadang dijadikan batas reseksi. Pembagian lebih lanjut menjadi 8 segmen

didasarkan pada aliran cabang pembuluh darah dan saluran empedu oleh masing-

masing segmen (Sudoyo, 2007)

Porta hepatis, atau hilus hati ditemukan pada permukaan postero-inferior.

Bagian atas ujung bebas omentum minus melekat pada pinggir-pinggirnya. Pada

tempat ini terdapat ductus hepatikus kanan dan kiri, cabang kanan dan kiri arteri

hepatica, vena porta dan serabut saraf simpatis dan parasimpatis. Disini terdapat

beberapa kelenjar limfe hati; kelenjar ini mengalirkan cairan limfe hati dan kandung

5

Page 6: gambaran radiologi hepatoma

empedu dan mengirimkan pembuluh eferennya ke nodi lymphatici coeliacus (Snell,

1997).

Pembuluh darah yang mengalirkan darah ke hati adalah arteri hepatica (30%)

dan vena porta (70%). Arteri hepatica membawa darah teroksigenasi ke hati, sedang

vena porta membawa darah venosa yang kaya akan hasil pencernaan yang telah

diabsorpsi dari saluran pencernaan. Darah arterial dan darah venosa dimasukkan ke

vena centralis dari setiap lobulus hati melalui sinusoid hati. Vena centralis

mengalirkan darah ke vena hepatica kanan dan kiri, vena ini meninggalkan posterior

hati dan bermuara langsung ke vena cava inferior (Snell, 1997).

Hati menghasilkan banyak cairan limfe, sekitar sepertiga sampai separuh

cairan limfe tubuh. Pembuluh limfe meninggalkan hati dan masuk ke sejumlah

kelenjar limfe dalam porta hepatis. Pembuluh eferen berjalan ke nodi lymphatici

coeliaca. Beberapa pembuluh berjalan dari area muda hati melalui diafhragma

menuju ke nodi lymphatici mediastinalias posterior. Saraf yang mempersarafi hati

berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis yang melewati plexus coeliacus. Truncus

vagus anterior mempercabangkan banyak rami hepatis yang berjalan langsung ke hati

(Snell, 1997).

Secara mikroskopis di dalam hati manusia terdapat 50.000-100.000 lobuli,

setiap lobulus berbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang

tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Diantara lembaran sel hati terdapat kapiler

yang disebut sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika.

Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel kupffer) yang merupakan sistem

retikuloendotelial dan berfungsi menghancurkan bakteri dan benda asing lain di

dalam tubuh, jadi hati merupakan salah satu organ utama peertahanan tubuh terhadap

serangan bakteri dan organ toksik. Selain cabang-cabang vena porta dan arteri

hepatika yang mengelilingi bagian perifer lobulus hati, juga terdapat saluran empedu

yang membentuk kapiler empedu yang dinamakan kanalikuli empedu yang berjalan

diantara lembaran sel hati (Sudoyo, 2007).

6

Page 7: gambaran radiologi hepatoma

2.3. Fisiologi Hati

Hati sangat penting dalam mempertahankan hidup dan berperan dalam hampir

setiap fungsi metabolik tubuh, dan terutama bertanggung jawab atas lebih dari 500

aktivitas berbeda. Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengeksresi empedu,

saluran empedu mengangkut empedu sedangkan kandung empedu menyimpan dam

mengeluarkan empedu ke dalam usus halus sesuai kebutuhan. Hati menyekresi sekitar

500 hingga 1000 ml empedu kuning setiap hari. Unsur utama empedu adalah air

(97%), elektrolit, garam empedu, fosfolipid (terutama lestin), kolesterol, garam

anorganik dan pigmen empedu (terutama bilirubin terkonjugasi). Garam empedu

penting untuk pencernaaan dan absorbsi lemak dalam usus halus. Setelah diproses

oleh bakteri dalam usus halus, sebagian besar garam empedu akan direabsorbsi di

ileum, mengalami resirkulasi ke hati, serta kembali dikonjugasi dan disekresi.

Bilirubin (pigmen empedu) adalah hasil akhir metabolisme dan secara fisiologis tidak

penting, namun merupakan petunjuk adanya penyakit hati dan saluran empedu yang

penting karena bilirubin cenderung mewarnai jaringan dan cairan yang kontak

dengannya (Price et al., 2006).

Hati berperan penting dalam metabolisme tiga makronutrien yang dihantarkan

oleh vena porta pasca absorbsi di usus. Bahan makanan tersebut adalah karbohidrat,

protein dan lemak. Hasil metabolisme monosakarida dari usus halus diubah menjadi

glikogen dan disimpan di hati (glikogenesis). Dari glikogen ini disuplai glukosa

secara konstan ke darah (glikogenolisis) untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sebagian

glukosa di metabolisme dalam jaringan untuk menghasilkan tenaga dan sisanya di

ubah menjadi glikogen (yang disimpan didalam otot) atau lemak (yang disimpan

dalam jaringan subkutan). Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah

menghasilkan protein plasma berupa albumin (yang diperlukan untuk

mempertahankan tekanan osmotik koloid), protrombin, fibrinogen dan faktor bekuan

lainya. Fungsi hati dalam metabolisme lemak adalah menghasilkan lipoprotein,

kolestrol, fosfolipid, dan asam asetoasetat (Amiruddin, 2006).

7

Page 8: gambaran radiologi hepatoma

2.4. Patofisiologi Hepatoma

Kerusakan hepar ditandai dengan hilangnya arsitektur lobular hepatik normal

dengan pembentukan fibrosis dan destruksi sel parenkim beserta regenerasinya

membentuk nodul-nodul. Kerusakan hepar dapat disebabkan oleh berbagai macam

sebab dalam waktu yang singkat atau dalam keadaan yang kronis. Hepar kemudian

merespon kerusakan sel tersebut dengan membentuk ekstraselular matriks yang

mengandung kolagen, glikoprotein, dan proteoglikans. Sel stellata berperan dalam

membentuk ekstraselular matriks ini. Pada cedera yang akut sel stellata membentuk

kembali ekstraselular matriks ini sehingga ditemukan pembengkakan pada hepar.

Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan sel stellata menjadi sel penghasil

kolagen. Faktor parakrine ini mungkin dilepaskan oleh hepatosit, sel kupffer, dan

endotel sinusoid sebagai respon terhadap cedera berkepanjangan. Sebagai contoh

peningkatan kadar sitokin transforming growth factor beta 1 (TGF-beta1) ditemukan

pada pasien dengan Hepatitis C kronis dan pasien sirosis. TGF-beta1 kemudian

mengaktivasi sel stellata untuk memproduksi kolagen tipe 1 dan pada akhirnya

ukuran hepar menyusut (Sujono, 2002).

Peningkatan deposisi kolagen pada perisinusoidal dan berkurangnya ukuran

dari fenestra endotel hepatik menyebabkan kapilerisasi (ukuran pori seperti endotel

kapiler) dari sinusoid. Sel stellata dalam memproduksi kolagen mengalami kontraksi

yang cukup besar untuk menekan daerah perisinusoidal. Adanya kapilarisasi dan

kontraktilitas sel stellata inilah yang menyebabkan penekanan pada banyak vena di

hepar sehingga mengganggu proses aliran darah ke sel hepar dan pada akhirnya sel

hati mati, kematian hepatosit dalam jumlah yang besar akan menyebabkan banyaknya

fungsi hepar yang rusak sehingga menyebabkan banyak gejala klinis. Kompresi dari

vena pada hepar akan dapat menyebabkan hipertensi portal yang merupakan keadaan

utama penyebab terjadinya manifestasi klinis. Pembebanan sistem portal ini

merangsang timbulnya aliran kolateral guna menghindari obstruksi hepatik (varises)

(Sujono, 2002).

Hipertensi portal ini mengakibatkan penurunan volume intravaskuler sehingga

perfusi ginjal pun menurun. Hal ini meningkatkan aktivitas plasma rennin sehingga

8

Page 9: gambaran radiologi hepatoma

aldosteron juga meningkat. Aldosteron berperan dalam mengatur keseimbangan

elektrolit terutama natrium. Dengan peningkatan aldosteron maka terjadi terjadi

retensi natrium yang pada akhirnya menyebabkan retensi cairan dan lama-kelamaan

menyebabkan asites dan juga edema (Sujono, 2002).

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa sirosis hepatis merupakan penyakit hati

menahun yang ditandai dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul dimana

terjadi pembengkakan hati. Etiologi sirosis hepatis ada yang diketahui penyebabnya,

misal dikarenakan alkohol, hepatitis virus. Patofisiologi sirosis hepatis sendiri

dimulai dengan proses peradangan, lalu nekrosis hati yang meluas yang akhirnya

menyebabkan pembentukan jaringan ikat yang disertai nodul (Sujono, 2002).

Gambar 2.3 Patogenesis Hepatoma

Proses sirosis terjadi pembentukan nodul-nodul di hepar, baik nodul

regeneratif maupun nodul diplastik. Penelitian prospektif menunjukan bahwa tidak

ada progresi yang khusus dari nodul-nodul diatas yang menuju kearah hepatoma

tetapi, pada nodul displastik didapatkan bahwa nodul yang terbentuk dari sel-sel yang

kecil meningkatkan proses pembentukan hepatoma. Sel-sel kecil ini disebut sebagai

stem cel dari hati. Sel-sel ini meregenrasi sel-sel hati yang rusak tetapi sel-sel ini

juga berkembang sendiri menjadi nodul-nodul yang ganas sebagai respons dari

9

Page 10: gambaran radiologi hepatoma

adanya penyakit yang kronik yang disebabkan oleh infeksi virus. Nodul-nodul inilah

yang pada perkembangan lebih lanjut akan menjadi hepatoma (Sujono, 2002).

2.5. Gambaran Radiologi pada Hepatoma

2.5.1. Ultrasonografi Abdomen

Ultrasonography (USG) merupakan salah satu imaging diagnostik

untuk memeriksa alat-alat tubuh, dimana kita dapat mempelajari bentuk, ukuran

anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya (Suhaerni, 2010).

Untuk meminimalkan kesalahan hasil pemeriksaan AFP (Alfa Feto Protein),

pasien sirosis hati dianjurkan menjalani pemeriksaan setiap 3 bulan. Untuk tumor

kecil pada pasien dengan risiko tinggi, USG lebih sensitif daripada AFP serum

berulang. Sensitivitas USG untuk neoplasma hati berkisar antara 70-80%

(Budihussodo, 2006).

Secara umum pada USG sering ditemukan adanya hepar yang membesar,

permukaan yang bergelombang dan lesi-lesi fokal intra hepatik dengan struktur echo

yang berbeda dengan parenkim hati normal. Biasanya menunjukkan struktur echo

yang lebih tinggi disertai nekrosis sentral berupa gambaran hypoechoic sampai

anechoic akibat adanya nekrosis, tepinya irregular. Yang sangat sulit adalah

menentukan hepatoma pada stadium awal di mana gambaran struktur eko yang masih

isoekoik dengan parenkim hati normal (Honda dkk, 2010).

Hal-hal yang penting yang harus dalam USG hati adalah:

1. Permukaan hati : Parameter ini menurut penelitian paling besar artinya.

Permukaan hati dapat bersifat :

• Rata (smooth)

• Tidak rata lagi (fine irrigular)

• Nodular

2. Tepi dari hati (liver edge) :

• Tajam rata (sharp smooth)

• Tajam tidak rata ( sharp irrigular)

10

Page 11: gambaran radiologi hepatoma

• Tumpul rata ( blunt smooth)

• Tumpul tidak rata ( blunt irrigular)

3. Ukuran hati : Normal, membesar atau mengkerut.

4. Echolevel :

• Hypoechoic ( echo rendah ) atau sering disebut dark liver

• Isoecho (echo normal)

• Slight hyperechoic (echo agak meningkat)

• Hyperechoic (echo tinggi) sering juga disebut bright liver

Dark liver didapatkan pada hepatitis akut karena udema hati sehingga mudah

meneruskan gelombang suara

Hepatitis akut :

Permukaan rata

Hepar membesar

Tepi tajam

Echopattern menurun ( dark

liver)

Pembuluh darah terutama vena

porta dan cabangnya jelas dan

reflektif

Gambar 2.4 USG Hepatitis Akut (Dark Liver)

11

Page 12: gambaran radiologi hepatoma

Brigth liver didapatkan pada fatty liver.

Gambar 2.5 USG Fatty liver (Bright Liver)

Fatty liver :

Permukaan rata

Tepi tajam atau sedikitn tumpul

Echopattern meningkat, diffuse

Hepar membesar & berbentuk

biconvex

Liver kidney contrast : positip

(bright lever)

Dinding pembuluh darah kabur

Fatty liver adalah adanya penumpukan lemak pada jaringan hati . Ada

beberapa penyebab fatty liver yaitu obesitas atau overweight, diabetes mellitus dan

alkoholisme. Walaupun tidak semua fatty liver itu bening tapi umumnya fatty liver

tidak membahayakan terutama pada obesitas.

Perubahan echolevel pada hati sering juga dinyatakan sebagai liver kidney

contrast. Liver kidney contrast adalah perbedaan echopattern hati dibandingkan

dengan ginjal:

• Positif : Parenkim hati lebih putih dibandingkan parenkim ginjal.

• Negatif : Echopattern antara ginjal dan berbeda.

5. Echopattern :

• Normal

• Kasar

• Diffuse atau homogen

• Heterogen

12

Page 13: gambaran radiologi hepatoma

Gambar 2.6 USG Sirosis

Hati

Sirosis hati :

• Permukaan nodular

• Ehopattern meningkat, heterogen

• V.porta berkelok, ukuran

membesar

• Pada awal sirosis hepar membesar

• Pada sirosis berat ukuran hati

mengecil.

• Splenomegali mendukung sirosis

• Tanda-tanda hipertensi portal

misalnya v. porta melebar, dinding

kandung empedu menebal (edema

karena tekanan portal)

13

Page 14: gambaran radiologi hepatoma

Gambar 2.7 Hepatoselular Karsinoma

Gambar 2.8 Hepatoma Nodular Gambar 2.9 Hepatoma Diffuse

Gambaran hepatoma nodular tumor jelas, misalnya tumor yang tidak berbatas

rata, atau difus. Hepatoma bentuk difus ditandai dengan echopattern yang sangat

kasat dan mengelompok dengan batas tidak teratur dan bagian sentralnya  lebih

echogenik. Pembuluh darah disekitarnya sering distorted. Seringkali  para

ultrasonografer yang tidak berpengalaman membuat diagnosa sirosis pada hal

diagnosa yang betul adalah sirosis dan hepatoma difus. Gambaran hepatoma difus

harus dibedakan dari gambaran fokal fatty liver dimana ada gambaran echopattern

yang kasar tetapi fokal.

Heptoma yang berukuran 3 cm atau kurang disebut : Hepatoma dini (Early),

bila ukuran lebih 3 cm disebut : Hepatoma lanjut (advanced). Hepatoma dini sering

kali bersifat hypoechoic sedang hepatoma lanjut biasanya hyperechoic atau multiple

echo yang menunjukkan nekrosis atau fibrosis dalam tumor. Kadang-kadang

hepatoma dini berbentuk seperti mata sapi ( bull’s eye ) (Hung, 2003).

14

Page 15: gambaran radiologi hepatoma

Gambar 2.10 Kista Hepar

Kista Hepar:

1. Gambaran USG terlihat dengan ciri-ciri spesifik kista termasuk massa kolusen

dengan dinding tipis dan peningkatan transmisi.

2. Lesi yang menunjukkan ciri-ciri ini yang tidak membutuhkan evaluasi dengan

ciri-ciri khusus.

3. Kista yang berukuran kecil (<1 cm) mungkin sulit untuk diidentifikasi dengan

baik.

2.5.2. CT Scan (Computed Tomography Scanning)

CT telah menjadi parameter pemeriksaan rutin penting untuk diagnosis lokasi

dan sifat hepatoma. CT dapat membantu memperjelas diagnosis, menunjukkan lokasi

tempat, jumlah dan ukuran tumor dalam hati, hubungannya dengan pembuluh darah

dan penentuan modalitas terapi (Honda dkk, 2010).

15

Page 16: gambaran radiologi hepatoma

Gambar 2.11 MRI yang menunjukkan

tiga wilayah yang terpisah (ditunjukkan dengan panah) dari

metastasis hati

Gambar 2.12 CT Scan hepatoma

Gambar 2.13 CT Scan Multicentric Hepatoma

Massa single, multiple atau difus, terlihat gambaran:

o Lesi dengan kontras

yang lemah

o Perdarahan

o Lesi berupa lemak

o Nekrosis

o Kalsifikasi

o Kapsul atau lingkaran

hipodens

o Lebih terlihat jelas

dengan kontra

16

Page 17: gambaran radiologi hepatoma

Gambaran hepatoma tersebut dapat melewati vena portal dan hepatika.

Gambar 2.14 Hepatoma dengan perdarahan

• NML adalah gambaran hepar dengan densitas normal. Tanda putih

menunjukan densitas liver dengan perdarahan (darah muncul berwarna putih

pada CT Scan).

• Tanda hitam meunjukan hepatoma, kalsifikasi tebal dalam tumor

• Tanda hitam dalam angiogram menunjukan hipervaskular

• Kepala panah memperjelas massa, tepi hepar berlobus. Hepar memiliki

densitas rendah dari pada limpa dan asites yang mengindetifikasikan sirosis.

Gambar 2.15 Kista Hepar

17

Page 18: gambaran radiologi hepatoma

Tanda panah: tumor

Kepala panah: tumor melebar hingga vena portal

Vena Portal berdilatasi dengan tumor intraluminal. Vena portal dalam hepar

muncul gambaran berwarna hitam di CT Scan karena tidak diperkuat dengan

kontras.

Gambar 2.16 CT Scan Kista Hepar dengan kontras IV

Kista besar di lobus kanan pada hepar:

Oval, tidak terlihat gambaran yang baik atau dinding tebal dengan densitas

seperti air.

Tidak terlihat atau berdinding tebal

Gambaran dengan densitas seperti air

Tidak ditemukan peningkatan densitas:

o Kalsifikasi pada dinding

o Septa

Oval, berbatas tegas

2.5.3. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI merupakan teknik pemeriksaan non radiasi, tidak memakai kontras berisi

iodium, dapat secara jelas menunjukkan struktur pembuluh darah dan saluran empedu

dalam hati, juga cukup baik memperlihatkan struktur internal jaringan hati dan

18

Page 19: gambaran radiologi hepatoma

hepatoma, sangat membantu dalam menilai efektivitas aneka terapi. Dengan zat

kontras spesifik hepatosit dapat menemukan hepatoma kecil berukuran kurang dari 1

cm dengan angka keberhasilan 55% (Desen, 2008).

Gambar 2.17 MRI menunjukkan massa dengan intensitas lemah di T1 dan intensitas tinggi di T2

Massa single, multiple atau difus:

o T1 dengan gambaran yang lebih kuat

Heterogen, isointens hingga hiperintens

Perdarahan

Jaringan lemak

Nekrosis

kalsifikasi

o T2 dengan gambaran yang lebih kuat

Sangat hiperintens, mungkin isointens

o Invasi vaskular

o Peningkatan refleks vascular dan nekrosis

2.5.4. Angiografi Arteri Hepatica

19

Page 20: gambaran radiologi hepatoma

Sejak tahun 1953 Seldinger merintis penggunaan metode kateterisasi arteri

femoralis untuk membuat angiografi organ dalam. Kini angiografi arteri hepatika

selektif atau supraselektif sudah menjadi salah satu metode penting dalam diagnosis

hepatoma. Namun karena metode ini tergolong invasif, penampilan untuk hati kiri

dan hepatoma tipe avaskular agak kurang baik. Angiografi dilakukan melalui melalui

arteri hepatica (Desen, 2008; Rasyid, 2006).

Gambar 2.18 Angiografi

2.5.5. Pemeriksaan Skintigrafi (Scanning)

Skintigrafi hati sering dipakai untuk mendeteksi kelainan hati. Teknik ini

merupakan pemeriksaan hati yang sederhana, mudah, dan noninvasif. Visualisasi hati

melalui pemeriksaan ini bergantung pada proses fisiologis dimana sel-sel poligonal

(60%) yang mampu menangkap secara selektif dan mengeluarkan kembali

radiofarmaka ke dalam darah umumnya kelainan lokal. Baik yang jinak ataupun yang

ganas akan tampak sebagai suatu daerah kosong (Space Occupying Lesion = SOL)

karena kelainan tersebut tidak menyerap radiofarmaka dan disebut daerah dingin.

(Takayasu dkk, 1990; Fretz dkk, 1990).

Nilai diagnostik skintigrafi terbatas karena:

1. Tidak dapat mendeteksi kelainan dengan diameter < 2 cm.

2. Interprestasi sering tidak tepat karena variasi ukuran, bentuk, dan posisi hati.

20

Page 21: gambaran radiologi hepatoma

3. Sukar untuk menilai kelainan hati pada vena porta.

4. Adanya SOL belum menentukan jenis kelainannya.

Untuk membedakan apakah penyebab SOL suatu proses jinak atau ganas

maka skintigrafi dapat dilanjutkan dengan 75 Se seleno metionin yang dapat diserap

sel hati normal dan karsinoma hepatoseluler (Takayasu dkk, 1990; Fretz dkk, 1990).

Gambar 2.19 Gambar Tc-99m RBC planar menunjukkan massa di lobus kiri dengan

perfusi/aliran darah dengan pola yang tidak seimbang dan terjadi peningkatan

aktivitas aliran darah dibandingkan gambar sebelumnya, merupakan tipikal dari liver

hemangioma.

21

Page 22: gambaran radiologi hepatoma

BAB III

KESIMPULAN

Hati merupakan organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau

kurang lebih 2,5% berat badan orang dewasa yang menempati sebagian besar kuadran

kanan atas abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi yang

sangat kompleks.

Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengekresi empedu, saluran empedu

mengangkut empedu sedangkan kandung empedu menyimpan dam mengeluarkan

empedu kedalam usus halus sesuai kebutuhan.

Hepatoma atau karsinoma hepatoseluler menunjukkan keganasan pada

hepatosit dimana stem sel hati berkembang menjadi massa maligna yang dipicu oleh

adanya proses fibrotik maupun proses kronik dari hati (sirosis).

Hepatoma dialami pria lebih banyak daripada wanita. Lebih dari 80% pasien

hepatoma menderita sirosis hati. Hepatoma biasa dan sering terjadi pada pasien

dengan sirosis hati yang merupakan komplikasi hepatitis virus kronik.

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan untuk melihat gambaran hepatoma

adalah dengan menggunakan USG abdomen, CT scan, MRI, dan angiografi arteri

hepatica.

22

Page 23: gambaran radiologi hepatoma

DAFTAR PUSTAKA

Budihussodo, Unggul. 2006.  Karsinoma Hati . Editor: Aru W. Suyono dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FK UI.

Desen, Wan. 2008. Tumor Abdomen. Dalam Buku Ajar Onkologi Klinik edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

Honda, Hiroshi, dkk. Differential Diagnosis of Hepatic Tumors (Hepatoma, Hemangioma, and Metastasis) with CT. Diakses dari http://www.ajronline.org/cgi/reprint/159/4/735.pdf10.

Hung CH, Lu SN, Wang JH, Lee CM, Chen TM, Tung HD, Chen CH, Huang WS and Changchien CS. Correlation between ultrasonographc and pathologic diagnoses of hepatitis B and C virus –related cirrhosis. Journal of Gastroenterology 2003; 38: 153-157.

Price Sylvia A, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Pennyakit Edisi6 Volume 1, Jakarta : Buku Kedokteran EGC.2006.p.476.

Putra, RS. 2009. Hepatoma. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Diakses dari http://www.scribd.com/doc/47878457/referat-hepatoma-lily .

Rasyid, Abdul. 2006. Temuan Ultrasonografi Kanker Hati Hepato Selular (Hepatoma). Diakses dari http://www.repository.usu.ac.id/bitstream.pdf 6.

Rasyid, Abdul. 2006. Pentingnya Peranan Radiologi Dalam Deteksi Dini Pengobatan Kanker Hati Primer. Diakses dari http://www. emed i c ine. c om .

Singgih B, Datau EA., 2006, Hepatoma dan Sindrom Hepatorenal . Diakses dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08_150_HepatomaHepatorenal.pdf/08_150_HepatomaHepatorenal.htm.

Snell, Richard S. 1997. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. EGC: Jakarta

23

Page 24: gambaran radiologi hepatoma

Sudoyo AW. 2007. Buku Ajar Penyakit Dalam. Edisi IV. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

Suhaerni, erni. 2010.  Pemeriksaan Ultrasonographi Pada Pasien Dengan Suspect Hepatoma. Diakses dari http://www.fkumyecase.net Suspect+Hepatoma.

Sujono, Hadi. (2002). Sirosis Hepatis dalam Gastroenterologi. Ed ke-7.

Bandung.

24