laporan diagnosis komunitas

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dx komunitas

Citation preview

BAB IGAMBARAN UMUM

1.1Gambaran Umum Desa Secara Geografis1.1.1Situasi Keadaan UmumPuskesmas Tegal Angus adalah salah satu Puskesmas yang terletak di wilayah Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang Propinsi Banten, mempunyai luas wilayah 4.763.198 Ha (47,631 Km2), terdiri dari luas daratan 2.170.120 Ha dan sawah 2.593.078 Ha dengan ketinggian dari permukaan laut 2-3 meter.Topografi Kecamatan Teluknaga meliputi :1. Daerah sawah2. Daerah pantai3. Dataran rendah dengan ketinggian antara 2-3 meter diatas permukaan laut4. Daerah tambakWilayah kerja Puskesmas Tegal Angus berada di wilayah kecamatan Teluknaga dipantai utara kabupaten Tangerang, dengan luas wilayah kerja 2.481. 599 Ha (30 km2) terdiri dari luas daratan1.085.060 Ha dan sawah 1.296.539 Ha dengan ketinggian dari permukaan laut 2-3 meter. Temperatur wilayah Puskesmas Tegal Angus cukup panas, yaitu rata rata antara 30C - 37 C.Gambar 1.1 Peta dan Batas Wilayah Desa Pangkalan

Sumber : yarsi.ac.idWilayah kerja Puskesmas Tegalangus terdiri dari 6 Desa Binaan yaitu :1. Desa Lemo2. Desa Pangkalan3. Desa Tanjung Burung4. Desa Tanjung Pasir5. Desa Tegal Angus6. Desa MuaraBatas-batas wilayah Puskesmas Tegal Angus adalah sebagai berikut :1. Batas Utara :Laut jawa/ DKI Jakarta2. Batas Selatan :Kota Tangerang/Bandara Soeta3. Batas Timur :Kecamatan Kosambi4. Batas Barat: :Desa Kali Baru Kec PakuhajiPuskesmas Tegal Angus terletak di kompleks kantor desa Tegal Angus di Jl. Raya Tanjung Pasir. Jarak terjauh desa binaan adalah desa Tanjungburung dengan jarak tempuh 6 km. Transportasi dari dan ke Puskesmas Tegal Angus dari desa Tegal Angus, Pangkalan, Tanjung Burung, Tegal Angus dan Tanjung Pasir dapat ditempuh dengan angkutan umum baik sepeda motor maupun mobil. Akan tetapi dari desa Lemo dan Muara hanya dapat ditempuh dengan angkutan umum sepeda motor atau berjalan kaki. Perbaikan sistem transportasi seperti perbaikan jalan dan penyediaan sarana angkutan umum akan mempermudah akses masyarakat ke pelayanan kesehatan di Puskesmas Tegal Angus. Untuk mempermudah akses masyarakat ke pelayanan kesehatan saat ini telah dibangun pustu (Puskesmas pembantu) di desa Muara, yang dapat melayani masyarakat di desa Muara dan Lemo.

1.1.2Batas Wilayah Desa PangkalanGambar 1.2 Peta Desa Pangkalan

Sumber : wikipedia.com

Batas batas wilayah Desa Pangkalan seperti yang terlihat pada gambar adalah sebagai berikut : 1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tegal Angus2. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Lemo dan Kampung Besar3. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kalibaru4. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kampung Melayu Barat

1.2Gambaran Umum Desa Secara Demografi1.2.1Situasi KependudukanBerdasarkan data dari BPS Kabupaten Tangerang pada tahun 2014 jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus adalah 53,822 jiwa yang tersebar di 6 desa seperti yang tercantum di tabel 2.1 dibawah ini :

Tabel 1.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Angus, 2014NODESALUASJUMLAH PENDUDUKJUMLAHRATA-RATAKEPADATAN

WILAYAHRUMAHJIWA/RUMAHPENDUDUK

(km2)TANGGA TANGGA per km2

1PANGKALAN7.5416.8715.3624.082.24

2TANJUNG BURUNG5.247.7542,6854.51.48

3TEGAL ANGUS2.839,3782,9004.63.31

4TANJUNG PASIR5.649,7381,8234.61.73

5MUARA5.143,5244924.46.86

6LEMO3.616,5576554.41.82

JUMLAH30.0053,82213.9174.610.364

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Data penduduk dari BPS Kecamatan Teluk Naga menunjukkan fluktuasi jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

Grafik 1.1 Fluktuasi Jumlah Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus, 2009-2014

Sumber : Kantor Statistik Kecamatan Teluk Naga,2014

Fluktuasi jumlah penduduk terlihat jelas pada tahun 2011 hingga 2012 dan cenderung stabil setelah tahun 2012.Jumlah penduduk yang berubah-ubah dikarenakan adanya kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Migrasi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus cenderung terjadi dengan cepat, mengingat letak wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus yang berbatasan dengan provinsi DKI Jakarta dan Kota Tangerang. Akses jalan dan transportasi yang mudah dari dan keluar wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus memudahkan migrasi yang cepat tersebut. Jumlah penduduk yang cukup besar dan adanya fluktuasi merupakan suatu tantangan dalam pembangunan kesehatan karena adanya perubahan sasaran dari program-program pembangunan kesehatan sekaligus menjadi faktor pendorong pembangunan karena tersedia SDM (sumber daya manusia) yang cukup untuk menggerakkan pembangunan. Akan tetapi SDM bidang kesehatan masih sangat kurang di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus sehingga diharapkan Puskesmas dapat terus meningkatkan kerjasama lintas sektoral untuk menyesuaikan program Puskesmas dengan keadaan penduduk di wilayah kerjanya.Klasifikasi jumlah penduduk berdasar jenis kelamin di wilayah kerja Puskemas Tegal Angus dilihat pada tabel 1.2 dibawah ini :

Tabel 1.2 Klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelaminNODESA/KELJumlah Penduduk

Laki-lakiPerempuanJUMLAH

1Pangkalan 7.6727.70615.378

2Tanjung Burung3.3793.3436.722

3Tegal Angus4.3134.4288.741

4Tanjung Pasir4.4364.4138.849

5Muara1.7401.7762.516

6Lemo3.0613.0776.138

JUMLAH27.41226.16053.444

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Isu gender menjadi penting saat ini karena arah pembangunan mulai diarahkan sesuai dengan populasi jenis kelamin. Pembangunan kesehatan juga sudah kearah isu gender dengan membuat laporan indikator kesehatan sesuai jenis kelamin. Data berdasarkan jenis kelamin seperti yang termuat dalam laporan profil kesehatan ini diharapkan dapat membantu membuat kebijakan sesuai kebutuhan gender. Seperti terlihat pada tabel di atas jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Kondisi ini menuntut perhatian khusus karena saat ini tingkat partisipasi terhadap program kesehatan di Puskesmas lebih banyak perempuan baik sebagai sasaran kesehatan seperti bumil,bulin maupun sebagai kader kesehatan. Program-program seperti KIA-KB dan gizi identik dengan ibu-ibu (perempuan) padahal peran laki-laki juga dibutuhkan. Di lain pihak, kesehatan pengembangan seperti usaha kesehatan kerja mungkin perlu dikembangkan mengingat lebih banyak laki-laki yang bekerja bandingkan perempuan.

1. 2.2Kondisi Sosial EkonomiPenduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus terdiri dari campuran budaya asli Tangerang dan budaya Cina yang sudah lama menetap di daerah Tangerang dan sekitarnya. Jumlah pemeluk agama di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus dapat dilihat pada tabel 1.3 di bawah ini :

Tabel 1.3 Jumlah Penduduk menurut Agama yang dianut di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus 2014No.AgamaJumlah Pemeluk

1Islam49232

2Budha3183

3Kristen771

4Khatolik203

5Khonghucu52

6Hindu3

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Seperti terlihat pada tabel diatas bahwa komposisi pemeluk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus di dominasi oleh pemeluk agama Islam dan Budha. Kehidupan agama di wilayah ini berjalan dengan harmonis. Hal ini dibuktikan dengan adanya tempat ibadah agama lain selain Islam yaitu adanya klenteng di pemukiman penduduk. Hari raya Imlek dan pertunjukkan barongsai yang merupakan kebudayaan penduduk keturunan Cina pun dapat diterima dengan baik. Sehingga kehidupan sosial penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus berjalan dengan baik. Kehidupan sosial yang harmonis merupakan salah satu kekuatan dalam pembangunan kesehatan karena dapat melibatkan masyarakat dalam kegiatan pembangunan kesehatan.Lapangan pekerjaan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus cukup beragam, hal ini berhubungan dengan geografis kecamatan Teluk Naga dimana terdapat persawahan dan berbatasan dengan laut serta daerah kota Tangerang dan akses ke daerah Jakarta.

Tabel 1.4 Lapangan pekerjaan penduduk wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus ,2014No.Lapangan Kerja PendudukJumlah

1.Petani pemilik13316

2.Petani penggarap6063

3.Buruh 4592

4.Nelayan 386

5.Pedagang6373

6.Industri rakyat13536

7.Buruh industri13757

8.Pertukangan4109

9.PNS222

10.TNI/POLRI65

11.Pensiunan PNS45

12.Pensiunan TNI/POLRI43

13.Perangkat Desa141

14.Pengangguran4004

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Sebagian besar wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus belum berkembang secara ekonomi. Mata pencaharian penduduk didominasi oleh nelayan, petani dan buruh dengan pendapatan yang tidak tetap. Hampir separuh dari jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus mempunyai tingkat ekonomi yang rendah seperti yang terlihat di grafik berikut ini.

Grafik 1.2 Persentase penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus, 2014 Sumber : Kantor Statistik Kabupaten Tangerang & Data Jamkesmas Puskemas Tegal Angus, 2014

Terlihat dari grafik jumlah penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2014 adalah 31.898 jiwa yaitu 59,3 % dari jumlah penduduk 53.822 jiwa.

Grafik 1.3 Jumlah penduduk dan jumlah penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus tahun 2009 2014Sumber : Kantor Statistik Kabupaten Tangerang & Data Jamkesmas Puskemas Tegal Angus, 2014Jumlah penduduk miskin yang masih cukup besar menunjukkan kondisi ekonomi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus masih belum berubah seperti tahun-tahun sebelumnya seperti yang terlihat pada grafik dibawah ini.Masih banyaknya penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus dapat menjadi hambatan dalam pembangunan kesehatan. Oleh karena itu kerjasama lintas sektoral perlu terus di tingkatkan, dalam hal ini pembangunan ekonomi harus juga ditingkatkan. Kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan tetapi berbagai faktor dimana salah satu faktor yaitu faktor ekonomi juga berperan penting dalam pembangunan kesehatan.

1. 2.3PendidikanTingkat pendidikan masyarakat sangat berperan dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat terhadap program kesehatan sehingga pendidikan sangat berperan dalam pembangunan kesehatan.Sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus seperti terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1.5 Sarana Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal AngusNONAMA DESA JUMLAH SEKOLAH

PAUDTKRASDMISMPMTSSMA SMKMA

1Pangkalan1205121010

2Tanjung Burung1002100000

3Tegal Angus0102221100

4Tanjung Pasir0202101000

5Muara0003000000

6Lemo0003000000

PUSKESMAS13012422100

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Terlihat dari tabel jumlah sekolah yang terdapat dalam wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus sebanyak 25 sekolah, terdiri dari 1 PAUD , 3 TK, 12 SD, 4 MI , 2 SMP, 2 MTS, dan 1 SMA.Tingkat pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus masih rendah, dari jumlah 53.444 penduduk hanya sebagian kecil yang mengenyam pendidikan seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.6 Penduduk 10 tahun keatas menurut jenjang Pendidikan di wilayah kerjaPuskesmas Tegal Angus ,2014No.Jenjang PendidikanJumlah

1.Tidak / belum tamat SD12598

2.SD/MI15738

3.SLTP/MTS4060

4.SLTA/MA3601

5.AK/Diploma159

6.Universitas130

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2014

Jumlah penduduk yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak/belum tamat SD masih cukup besar yaitu 12.598 jiwa atau 23.5 % dari jumlah penduduk. Hal ini merupakan tantangan dalam pembangunan kesehatan, pelaksanaan program-program Puskesmas harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan dari penduduk yang menjadi sasaran agar lebih diterima. Kemampuan membaca dan menulis dapat dilihat dari angka melek huruf, yang diukur dari persentase penduduk usia 10 th keatas yang bisa membaca dan menulis. Berdasarkan data dari BPS Kecamatan Teluk Naga angka melek huruf di wilayah kerja Puskesmas adalah 91,05% untuk laki-laki dan 87,10% untuk perempuan. Angka melek huruf ini meningkat dari tahun 2013 sebelumnya seperti terlihat dari diagram di bawah ini.

Grafik 1.4 Angka Melek Huruf penduduk usia 10 th keatas di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus 2009 2014Sumber : Kantor Statistik Kecamatan Teluk Naga, 2014

Terlihat peningkatan angka melek huruf pada tahun 2013 yaitu sebanyak 0.95 % dari tahun 2012. Penurunan angka melek huruf baik pada laki-laki maupun perempuan di tahun 2014 merupakan suatu hambatan dalam pembangunan kesehatan terutama program Puskesmas yang memerlukan partisipasi masyarakat seperti UKBM , desa siaga maupun perekrutan kader-kader kesehatan.

1.2.4Kesehatan1.2.4.1Sepuluh Besar PenyakitBerdasarkan hasil laporan bulanan Penyakit (LB1) Puskesmas Tegal Angus didapatkan gambaran pola penyakit yang terjadi di Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2014 menurut golongan semua umur seperti grafik berikut ini :

Grafik 1.5 Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Tegal Angus , 2014

Sumber : Data surveillance Puskesmas Tegal Angus,2014 Penyakit terbanyak adalah penyakit-penyakit menular seperti ISPA,disusul dengan penyakit batuk dan demam. Penyakit tidak menular (PTM) yang masuk dalam sepuluh besar penyakit adalah myalgia. Masih banyaknya penyakit dalam sepuluh besar penyakit tahun 2014 dikarenakan kurang spesifiknya diagnose pada saat pemeriksaan dan kurangnya komunikasi antara petugas pemeriksa dengan petugas yang menginput data. Usaha perbaikan yang dilakukan antara lain memasang kode diagnosis ICD X di setiap tempat pemeriksaan dan koordinasi antara petugas pemeriksa dan petugas penginput data.

1.2.4.1.1 Demam Berdarah Dengue (DBD)Penyakit DBD masih sulit diberantas di Indonesia. Hal ini karena penyebarannya yang melalui vector nyamuk Aedes Aegypti sehingga penangananya tidak hanya mengobati pasien DBD tetapi juga memberantas sarang nyamuk dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk. Jumlah pasien DBD yang tercatat di Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2014 adalah ada 20 pasien. Jumlah pasien ini semua pasien DBD yang dirujuk. Setelah ada surat keterangan dari rumah sakit pasien positif DBD maka petugas DBD dan surveillance Puskesmas Tegal Angus akan melakukan PE (penyelidikan epidemiologi) untuk memeriksa lingkungan tempat tinggal pasien kemudian dilakukan fogging untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti sehingga dapat mencegah penularan DBD. Semua pasien yang tercatat ditangani sesuai prosedur sehingga prosentase pasien DBD ditangani 100%.

Penemuan kasus DBD berdasarkan laporan kader, bidan desa dan masyarakat dengan surat keterangan dari rumah sakit. Untuk meningkatkan penemuan kasus perlu dilakukan sosialisasi tentang penanganan DBD agar setiap pasien DBD dapat ditangani sesuai prosedur termasuk fogging. Untuk mencegah terjadi dan penularan DBD juga dilakukan pembinaan lingkungan seperti pemeriksaan rumah bebas jentik dan pembentukan kader jumantik (juru pantau jentik).

1.2.4.2Sarana KesehatanBerikut sarana kesehatan yang ada di Wilayah Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2013 :Tabel 1.7. Sarana Kesehatan Yang ada di Puskesmas Tegal Angus Tahun 2013NoJenis Sarana KesehatanJumlah

1.a. Puskesmas1

b. Puskesmas Pembantu1

c. Poskesdes1

2.Rumah Sakit Pemerintah0

3.Rumah Sakit Swasta0

4.Rumah Bersalin Swasta0

5.Balai Pengobatan Swasta2

6.Praktek Dokter Umum Swasta5

7.Praktek Bidan Swasta8

8.Dokter Gigi praktek swasta0

9.Laboratorium Klinik Swasta0

10.Apotik0

11.Optikal0

12.Gudang Farmasi0

13.Posyandu45

14.Toko Obat2

15.Pos UKK0

16Polindes0

Sumber : Puskesmas Tegal Angus, 2014

Dari tabel diatas sarana kesehatan dan faktor pendukung yang ada di Puskesmas Tegal Angus masih kurang.

1.2.4.3 Tenaga KesehatanTenaga kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan pembanguan kesehatan karena merupakan penggerak dari program-program kesehatan. Tabel 1.8 Tenaga Kesehatan yang ada di Puskesmas Tegal Angus Tahun 2014 NOKATEGORI TENAGASTATUSJUMLAH

PNSPTT/TKKLAIN-LAIN

1Dokter Gigi1001

2Dokter Umum0101

3AKBID0000

4AKPER0000

5D3 Gizi1001

6D3 Kesling0000

7Bidan86115

8Perawat3205

9Pekarya1001

10Honor0066

Sumber :Data Puskesmas Tegal Angus, 2014

Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Tegal Angus berjumlah 33 orang yang terdiri dari dokter umum,dokter gigi, perawat, bidan dan tenaga gizi .

1.2.4.4 Perilaku MasyarakatPembinaan Perilaku Hidup Bersih dan sehat di Puskesamas dilakukan melalui program promosi kesehatan yaitu penyebarluasan informasi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di masyarakat dapat menggambarkan derajat kesehatan wilayah tersebut hal ini dapat disajikan dengan indikator PHBS, adapun dari hasil kajian PHBS di wilayah Puskesmas Tegal angus pada Tahun 2014 dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 1.9. Indikator PHBS Puskesmas Tegal Angus Tahun 2014NoPHBSPencapaian (%)

1Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan103.42

2Rumah yang bebas jentik75.10

3Penimbangan bayi dan balita100

4Memberikan ASI eksklusif15.19

5Menggunakan air bersih99.45

6Menggunakan jamban sehat17.15

7Olahraga atau melakukan aktifitas fisik setiap hari12.05

8Mengkonsumsi makanan seimbang25.20

9Tidak merokok dalam rumah25.15

10Penduduk misikin yang dicakup JPKM98.10

Sumber : Data Puskesmas Tegal Angus, 2014Berdasar kajian PHBS diatas didapat ada beberapa cakupannya masih rendah hal ini dikarenakan :1. Penduduk miskin masih banyak, sehingga yang mepunyai akses air bersih dan jamban sehat sedikit2. Tingkat pendidikan yang masih rendah sehingga kurangnya kesadaran tentang ASI Eksklusif, aktifitas fisik, merokok dalam rumah3. Kurangnya kader jumantik sehingga kegiatan pemeriksaan jentik berkala kurang optimal4. Untuk meningkatkan pencapaian rumah tangga ber PHBS dilakukan penyuluhan tentang PHBS yang terus menerus,meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor.1.2.4.4Upaya KesehatanUpaya Pemerintah Desa Tanjung Pasir dengan instansi terkait, dalam hal ini, antara lain :1 Peningkatan gizi keluarga Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita yang ada di setiap posyandu, pemeriksaan kesehatan kepada ibu hamil.2 Pencegahan penyakit, vaksinasi Filariasis (kaki gajah), imunisasi Polio bagi balita, pemberian vitamin A. 3 Penyuluhan Kesehatan dan Penyakit antara lain Demam Berdarah Dengue, Flu Burung, Chikungunya, dan sejenisnya.4 Penanganan bagi balita yang kekurangan gizi dengan memberikan susu dan makanan yang bernutrisi.5 Penyuluhan kesehatan tentang bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan dengan membersihkan rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya.6 Pemanfaatan pekarangan dengan ditanami sayur mayur dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Tabulapot dan Tabulakar.7 Peningkatan kualitas kesehatan para LANSIA dengan diadakannya program senam LANSIA dan POSBINDU 1.3 Gambaran Keluarga Binaan1.3.1 Gambaran Umum Keluarga BinaanKeluarga binaan kelompok III terdiri dari 5 keluarga yaitu :1. Keluarga Ny.Reni2. Keluarga Tn.Anton3. Keluarga Tn.Mustain4. Keluarga Tn. MairinKeluarga binaan ini bertempat di Kampung Suka Sari RT 02 RW 04 Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Diagnosis komunitas dilaksanakan dari tanggal 11-22 Agustus 2015. Keempat keluarga binaan tersebut tinggal berdekatan satu sama lain. Adapun lokasi pemukiman keluarga binaan kami adalah sebagai berikut:

Gambar 1.4 Denah Rumah Keluarga Binaan

1.3.2 Gambaran Keluarga BinaanPada Gambar 1.4 terdapat 4 rumah, dimana rumah pertama merupakan rumah keluarga Ny.Reni ,Tn.Anton kemudian, Tn. Mustain dan terakhir rumah Tn. Mairin.1.3.2.1. Keluarga Ny. ReniData Dasar Keluarga Ny. ReniKeluarga binaan pertama adalah keluarga Ny. Reni. Terdapat tujuh orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Ketujuh anggota keluarga tersebut adalah:

Tabel 1.10.Keluarga Ny.ReniNoNamaStatus keluargaJenis kelamin Usia Pendidikan Pekerjaan

1Ny. ReniKepala keluargaWanita58SDIbu Rumah Tangga

2Ny. WinaAnakWanita21SDIbu Rumah Tangga

3Ny. LiaAnakWanita20SDIbu Rumah Tangga

4Tn. MustafaMenantuLaki-Laki30SMPBuruh

5Tn. AcengMenantuLaki-Laki25SDBuruh

6AlifCucuLaki-Laki3Belum Sekolah

7MusdalifahCucuPerempuan2Belum Sekolah

Keluarga Ny. Reni tinggal di Kampung Suka Sari RT 02 RW 04 Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga. Keluarga ini terdiri dari Ibu, kedua orang anak, kedua orang menantu dan kedua orang cucu. Ny. Reni sebagai kepala keluarga, berusia 58 tahun dan bekerja sebagai ibu rumah tangga, Ny. Wina berusia 21 tahun dan Ny. Lia berusia 20 tahun sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan terakhir sekolah dasar. Tn. Mustafa dan Ny. Wina memiliki seorang anak bernama An. Musdalifah, sedangkan Tn. Aceng dan Ny. Lia memiliki seorang anak bernama An. Alif.Tn. Mustafa dan Tn. Aceng bekerja sebagai buruh pabrik. Tn. Mustafa mendapat penghasilan dalam sebulan sebesar Rp. 1.200.000,00. Sedangkan Tn. Aceng Rp. 1.100.000,00. Pendapatan Tn. Mustafa dan Tn. Aceng digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makanan, minuman, pengobatan dan lain-lain. Tn. Mustafa dan Tn. Aceng dapat membaca dan menulis. Tn. Mustafa menikah saat berumur 27 tahun dan Ny. Wina berusia 20 tahun. Saat hamil,Ny. Wina memeriksakan kehamilannya di posyandu sebanyak 2 kali dan saat melahirkan Ny. Wina dibantu oleh paraji. Tn. Aceng menikah saat berumur 23 tahun dan Ny. Lia saat berumur 19 tahun. Saat hamil Ny. Lia memeriksakan kehamilannya di Puskesmas sebanyak 3 kali dan saat melahirkan Ny. Lia dibantu oleh seorang bidan yang dipanggil ke rumah. a. Bangunan Tempat TinggalKeluarga Ny. Reni tinggal di lingkungan padat penduduk, jarak antar rumah kurang lebih setengah meter. Keluarga Ny. Reni menempati sebuah rumah bangunan permanen diatas tanah seluas 60 m2 dengan luas bangunan 9m x 6 m. Rumah ini merupakan rumah peninggalan suami Ny. Reni yang sudah meninggal sejak 15 tahun yang lalu. Bangunan rumah ini tidak bertingkat, dinding rumah terbuat dari batu bata, dengan pembatas setiap ruangan dengan menggunakan papan, lantai menggunakan semen dan keramik. Atap rumah menggunakan genteng dangan rangka atap menggunkan kayu dan tanpa plafon. Rumah Ny. Reni terdiri dari tiga buah kamar tidur, satu ruang keluarga, satu dapur yang terhubung dengan tempat mencuci yang juga digunakan untuk mandi dan buang air kecil. Ny. Reni tidak memiliki kamar mandi khusus dan tidak memiliki jamban. Tempat mencuci tersebut disertai dengan keran air dan pembuangannya di alirkan ke kali.Ruang keluarga berukuran 2 x 3 m2 beralaskan semen dan keramik, terdapat TV dan lemari penyimpanan alat rumah tangga, jendela diruangan tersebut kurang baik, ventilasi udara kurang, dan rumah Ny. Reni terasa lembab. Pada ruang tidur Ny. Reni , ventilasi udara kurang baik dan lembab berukuran 30 cm x 40 cm. Kamar Ny. Wina dan Ny. Lia tidak dilengkapi dengan ventilasi atau jendela. Dapur terlihat padat dan kurang rapih. Tempat cuci yang juga digunakan untuk mandi tanpa disertai dengan jamban dan keran, kurang bersih. Sumber air bersih menggunakan air tanah, air jernih namun berbau. Keluarga Ny. Reni memiliki satu buah motor, satu buah televisi, dua buah kipas angin.

Gambar 1.11 Denah rumah keluarga Ny.Reni

b. Lingkungan PemukimanRumah Tn. Reni terletak dipemukiman yang padat penduduk. Dibagian depan terdapat jalan setapak, di depan dan belakang rumah berbatasan dengan rumah tetangga.c. Pola MakanKeluarga Ny. Reni memiliki pola makan sebanyak 2 kali dalam sehari. Biasanya menu yang biasa dimakan adalah tahu, tempe, sayur, dan ikan. Ny. Raisah mencuci bahan makanan serta peralatan memasak dengan air keran dan ia memasak masakannya sampai matang.d. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan AnakNy. Reni memiliki tujuh orang anak, seluruh anak Ny. Reni sudah berkeluarga. Saat Ny. Reni mengandung Ny. Reni tidak pernah memeriksakan kandungannya, saat persalinan Ny. Reni dibantu oleh seorang paraji, ke tujuh anak Ny. Reni tidak mendapatkan imunisasi.Ny. Wina merupakan anak ke enam dari tujug bersaudara, Ny. Wina memiliki seorang anak dan selama kehamilannya, Ny. Wina melakukan pemeriksaan ANC sebanyak 2 kali di posyandu desanya. Saat persalinan berlangsung Ny. Wina dibantu oleh seorang bidan. Anak Ny. Wina hingga saat ini rutin di imunisasi di posyandu. Ny. Reni, Ny. Wina dan Ny. Lia tidak pernah menggunakan KB.e. Kebiasaan BerobatKetika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya memilih berobat ke bidan.f. Riwayat PenyakitPenyakit yang sering diderita anggota keluarga Ny. Reni adalah batuk pilek dan pegal-pegal. g. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-HariNy. Reni setiap harinya melakukan kegiatan membersihkan rumah dibantu oleh anaknya yaitu Ny. Wina dan Ny. Lia. Saat melakukan aktifitas diluar rumah keluarga Ny. Wina sering kali tidak menggunakan alas kaki, cucu Ny. Reni dibiarkan membeli jajanan di warung dekat rumahnya. Menantu Ny. Reni merokok 2-3 bungkus setiap hari, dan tidak jarang menantu Ny. Reni merokok di dalam rumah.Ny. Reni terbiasa mencuci pakaian seluruh anggota keluarganya di tempat cuci di rumahnya menggunakan air pompa dari sumur milik pribadinya. Keluarga Ny. Reni tidak memiliki jamban sendiri, dan jika akan buang air besar, biasanya Ny. Reni buang air besar di rumah anaknya yang lain atau di kali dekat rumahnya. Ny. Reni dan keluarga terbiasa mencuci tangan sebelum makan .Keluarga Ny. Reni memiliki kebiasaan membiarkan sampah rumah tangga tertumpuk di samping rumahnya, dan saat sudah penuh biasanya Ny. Wina membuang sampah ke kali atau membakarnya.

1.3.2.1. Keluarga Tn. AntonData Dasar Keluarga Tn. AntonKeluarga binaan pertama adalah keluarga Tn. Anton. Terdapat enam orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Keenam anggota keluarga tersebut adalah:

Tabel 1.13. Tabel Keluarga Tn. AntonNoNamaStatus keluargaJenis kelamin Usia Pendidikan Pekerjaan

1Tn. AntonKepala KeluargaLaki-Laki63SDTukang Becak

2Ny. RamiIstriWanita57SDBuruh Cuci

3Ny. DAnakWanita24SDIbu Rumah Tangga

4Tn. XMenantuLaki-Laki26SDBuruh Pabrik

5HusnaCucuWanita9SDPelajar

6AlifCucuLaki-Laki3.5--

Keluarga Tn. Anton tinggal di Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga RT 02 RW 04. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, satu orang anak perempuan, satu orang menantu laki-laki, dan dua orang cucu. Tn. Anton sebagai kepala keluarga, berusia 63 tahun dan bekerja sebagai tukang becak, sedangkan Ny. Rami sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga berusia 57 tahun bekerja sebagai buruh cuci di perumahan dengan latar belakang pendidikan terakhir Sekolah Dasar. Tn. Anton dan Ny. Rami memiliki empat orang anak, yang pertama bernama Tn. A telah meninggal pada usia 21 tahun dikarenakan sakit. Anak kedua bernama Ny. B usia 40 tahun yang telah menikah dan dikaruniai 1 orang anak perempuan. Anak ketiga adalah Tn. C berusia 35 tahun yang telah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak keempatnya adalah Ny. D yang tinggal bersama Tn. Anton dan Ny. Rami serta suaminya, berusia 24 tahun dan memiliki 1 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.Tn. Dedi bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan dalam sebulan sebesar Rp. 1.500.000,00. Pendapatan Tn. Anton digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makanan, minuman, pengobatan dan lain-lain. Tn. Anton dapat membaca dan menulis. Istrinya, Ny. Rami bekerja sebagai buruh cuci di daerah perumahan sekitar tempat tinggal mereka. Pasangan ini menikah 40 tahun yang lalu dan selama mengalami 4 kali kehamilan tidak pernah memeriksakan kandungannya ke tenaga kesehatan, dan saat persalinan dibantu oleh dukun beranak setempat.h. Bangunan Tempat TinggalKeluarga Tn. Anton tinggal di lingkungan padat penduduk, jarak antar rumah kurang lebih 1-2 meter dan menempati sebuah rumah bangunan permanen diatas tanah seluas 70 m2 dengan luas bangunan 6 m x 10 m. Rumah ini merupakan rumah hasil kerja Tn. Anton dan Ny. Rami puluhan tahun sebagai tukang becak dan buruh cuci. Bangunan rumah ini tidak bertingkat, dinding rumah terbuat dari batu bata, lantai menggunakan semen dan keramik. Atap rumah menggunakan genteng dan tanpa plafon. Rumah Tn. Dedi terdiri dari dua buah kamar tidur, satu ruang keluarga, satu dapur, memiliki kamar mandi dengan jamban. Tn. Anton membuat jamban didalam rumahnya yang disertai dengan pompa air dan pembuangannya di alirkan ke kali.Ruang keluarga berukuran 1.5 x 3 m2 beralaskan semen dan keramik, terdapat TV dan lemari dan meja untuk penyimpanan buku, jendela diruangan tersebut cukup baik, ventilasi udara cukup, dan dapat dilewati cahaya matahari. Pada ruang tidur, ventilasi udara berukuran 10 cm x 40 cm kurang baik, lembab, dan pencahayaan juga kurang. Dapur terlihat padat dan rapih. Kamar mandi yang disertai jamban dan keran, cukup bersih. Sumber air bersih menggunakan pompa air yang dibuat sendiri, air berwarna sedikit keruh dan berbau. Tn. Anton memiliki dua buah motor, satu buah becak, satu buah televisi, dan dua buah kipas angin.

Gambar 1.12 Denah rumah keluarga Tn. AntonTERASRUANG KELUARGA

KAMAR ANAKDAPURTOILET

Jendela

KAMAR UTAMA

i. Lingkungan PemukimanRumah Tn. Anton terletak di pemukiman yang padat penduduk. Di bagian depan terdapat jalan setapak, di samping dan belakang rumah berbatasan dengan rumah tetangga.j. Pola MakanKeluarga Tn. Anton memiliki pola makan sebanyak 2 kali dalam sehari. Biasanya menu yang biasa dimakan adalah tahu, tempe, sayur, dan ikan. Ny. Rami mencuci bahan makanan serta peralatan memasak dengan air keran dan ia memasak masakannya sampai matang.k. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan AnakTn. Anton dan Ny. Rami memiliki 4 orang anak. Anak yang pertama, seorang perempuan bernama Tn. Arif yang telah meninggal saat umur 21 tahun dikarenakan sakit. Proses kelahirannya ditolong oleh dukun beranak setempat. Sejak lahir Tn. Arif tidak dibawa ke posyandu dan tidak mendapatkan imunisasi. Anak kedua seorang perempuan bernama Ny. Bella yang sekarang berusia 40 tahun, telah menikah dan memiliki 1 orang anak perempuan. Proses kelahiran juga dibantu oleh dukun beranak. Ny. Bella juga mendapatkan imunisasi tidak lengkap. Anak ketiga dan keempat bernama Tn.Cecep dan Ny.Dahlia sekarang berusia 35 tahun dan 24 tahun. Tn.Cecep telah menikah dan memiliki 1 orang anak laki-laki, Ny.Dahlia juga telah menikah dan memiliki 1 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan.Dari kedua anak Tn. Anton dan Ny. Rami semua nya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa makanan dan minuman tambahan. Ny. Rami tidak pernah menggunakan KB.l. Kebiasaan BerobatKetika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya memilih hanya didiamkan saja hingga penyakitnya sembuh sendiri, membeli obat di warung atau sesekali berobat ke bidan.m. Riwayat PenyakitPenyakit yang sering diderita anggota keluarga Tn. Anton adalah nyeri pinggang yang sering dialami oleh Tn. Anton dan hanya meminum obat atau pengobatan dari bidan desa.h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-HariTn.Anton dapat menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari, ia juga sering merokok di dalam rumah. Keluarga Tn. Anton terbiasa melakukan cuci tangan sebelum makan dengan air mengalir dan sabun. Air yang digunakan keluarga Tn. Dedi adalah pompa air yang dibuat sendiri dengan warna air keruh dan sedikit berbau alumunium. Keluarga Tn. Anton melakukan aktivitas mandi di kamar mandi miliknya dengan air tersebut, mencuci alat makan dan sayuran, mencuci pakaian seluruh anggota keluarganya di belakang rumahnya, tetapi keperluan air untuk makan dan minum menggunakan air isi ulang yang dibeli didekat rumah. Keluarga Tn. Anton memiliki kebiasaan membuang sampah rumah tangga di kali dekat rumahnya atau sesekali dibakar. Di dekat rumah Tn. Anton terdapat selokan tempat pembuangan limbah rumah tangga dan dialirkan ke kali.

Tabel 1. Faktor Internal Keluarga Tn. AntonNoFaktor InternalPermasalahan

1Kebiasaan MerokokTn. Mustain merokok sejak usia 13 tahun.

2Olah ragaSemua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan berolahraga.

3Pola MakanNy. Rami memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia sering memasak makanan dengan menu seperti nasi telur, tahu, tempe, ikan dan daging sapi setahun sekali.. Sehari- harinya mereka makan 2 kali.

4Pola Pencarian PengobatanApabila sakit, mereka sering mendiamkan penyakitnya hingga sembuh sendiri, atau membeli obat di warung, serta terkadang pergi ke bidan.

5MenabungKeluarga Tn. Anton memiliki kebiasaan menyisihkan uang setiap minggunya dan ditabung ke sebuah Yayasan (sejenis Koperasi).

6Aktivitas sehari-haria. Bapak bekerja sebagai tukang becak, bekerja setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang.b. Ibu bekerja sebagai buruh cuci di 2 rumah di Kompleks Perumahan dekat tempat mereka tinggal .c. Anak pertama telah meninggal sejak umur 21 tahun..d. Anak kedua telah menikah dan memiliki 1 orang anak.e. Anak ketiga telah menikah dan memiliki 1 orang anakf. Anak ketiga telah menikah dan memiliki 2 orang anak.

Tabel 1.. Faktor Eksternal Keluarga Tn. AntonNoKriteriaPermasalahan

1.

Luas BangunanLuas rumah 10 x 6 m2

2.

Ruangan dalam rumah

Didalam Rumah terdapat dua kamar tidur masing-masing berukuran 3x2 m2 dan 2,5x1,5 m2. Di dalam kamarnya terdapat kasur tipis dan lemari pakaian. Dapur Tn. Anton berukuran 1,5 x 3 m2 yang menjadi satu dengan ruang cuci, tempat cuci piring dan kamar mandi.

3.JambanKeluarga Tn. Anton tmemiliki jamban di rumahnya

4.

VentilasiTerdapat ventilasi udara hanya pada ruang tamu, kamar tidur utama dan dapur .

5.PencahayaanTerdapat lampu pencahayaan yang kurang baik di tiap ruangan.

6.MCKKeluarga Tn. Anton memiliki MCK sendiri dirumahnya.

7.Sumber AirDalam kesehariannya Tn. Anton menggunakan air dari pompa yang digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Serta membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan air minum sehari-hari.

8.Saluran pembuangan limbahTidak terdapat saluran pembuangan limbah, air limbah dialirkan ke selokan yang berukuran 20 cm.

9.Tempat pembuangan sampahKeluarga Tn. Anton tidak memiliki tempat pembuangan sampah dirumahnya, kemudian mereka membuang sampahnya di kali dekat rumahnya ataupun terkadang membakarnya.

10.Lingkungan sekitar rumahDi samping kanan, kiri , dan belakang, rumah terdapat rumah tetangga yang berdempetan.jarak depan rumah ke rumah tetangga 2 m. Delapan meter dari rumah tersebut terdapat kali yang kotor penuh tumpukan sampah.

b. Keluarga Tn. AntonMasalah MedisTidak terdapat permasalahan medis.Masalah Non Medis1. Kurangnya pencahayaan dan ventilasi udara di dalam rumah.2. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah .3. Kurangnya pengetahuan keluarga binaan terhadap pentingnya buang air besar di jamban yang sehat .4. Perilaku Merokok .5. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya kebersihan lingkungan .6. Ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah didalam rumah, sehingga keluarga menumpuknya dibelakang rumah dan membakarnya pada hari berikutnya. 7. Kurangnya pengetahuan tentang pemberantasan jentik di lingkungan rumah.8. Kurangnya kebiasaan berolahraga .

1.3.2.2 Keluarga Tn. Mustaina. Data Dasar Keluarga Tn. MustainKeluarga binaan Tn. Mustain terdiri dari 4 anggota keluarga, yaitu Tn. Mustain sebagai kepala keluarga, istrinya bernama Ny. Ening, 1 anak perempuan bernama Nia Damayanti dan 1 anak laki-laki bernama Dede Mustakin.

Tabel. 1.. Data dasar Keluarga Tn. MustainNamaStatus KeluargaJenis KelaminUsiaPendidikanPekerjaanPenghasilan

Tn. MustainSuamiLaki-laki38 thSDBuruh Pabrik Tali Tambang Plastik Rp. 2.200.000,-/bulan

Ny. EningIstriPerempuan37 th SDPedagang Nasi UdukRp. 1.500.000,-/bulan

Nn.Nia DamayantiAnak IPerempuan17 thSMKPelajar-

An.Dede MustakinAnak IILaki-laki14 thSMPPelajar-

Keluarga Tn. Mustain tinggal di RT 02/RW 04. Di rumah ini Tn. Mustakin tinggal dengan istri dan kedua anaknya. Tn. Mustain yang saat ini berusia 38 tahun bekerja sebagai Buruh Pabrik Tali Tambang Plastik dengan penghasilan sekitar Rp. Rp. 2.200.000,-/bulan, dengan latar belakang pendidikan Tn. Mustain adalah SD. Tn. Mustain memiliki 2 orang anak. Anak pertama, Nia Damayanti berumur 17 tahun sedang dalam pendidikan SMK kelas 2 ,dan anak keduanya Dede Mustakin berusia 14 tahun sedang dalam pendidikan SMP kelas 3 . b. Bangunan Tempat TinggalKeluarga Tn. Mustain tinggal disebuah bangunan rumah diatas tanah seluas 9x6 m2. Rumah terdiri dari 3 kamar tidur masing-masing berukuran 3x2 m2 , 2.5x1.5 m2 dan 2.5 x 1 m2. Terdapat sebuah ruang tamu berukuran 3x2.5 m2 yang juga digunakan untuk menaruh motor .Terdapat ruang keluarga berukuran 3 x 3.5 m2 yang digunakan untuk menonton TV dan makan bersama tidak terdapat kursi maupun meja yang digunakan untuk menaruh makanan. Di sebelah ruang keluarga terdapat dapur yang menjadi satu dengan sumur dan tempat mencuci piring berukuran 1,5 x 6 m2 di sebelah sumur terdapat tumpukan dirigen bekas dan perabot dapur yang tergenang air serta ember tanpa tutup untuk menampung air. Keluarga tuan Mustain tidak memiliki jamban . Di sebelah dapur terdapat halaman belakang yang digunakan untuk menjemur pakaian,membakar sampah dan menaruh botol-botol bekas, terdapat saluran air yang tergenang di tepi sepanjang halaman. Ventilasi di rumah tersebut tidak baik karena hanya memiliki dua pintu untuk ventilasi dan hanya satu pintu yang dapat dilewati cahaya bila terbuka yaitu pada pintu belakang menuju ke dapur, dan memiliki dua jendela yaitu satu jendela di kamar tidur utama dan satu jendela di ruang tamu namun kedua jendela tidak pernah dibuka dan tidak terdapat cahaya matahari yang masuk melalui jendela karena rumahnya tidak menghadap ke matahari. Di dalam ketiga kamar tidur tidak terdapat ventilasi yang baik hanya terdapat lubang kecil berukuran 25 x 10 cm2. Didalam kamar tidur tidak terdapat dipan untuk kasur hanya terdapat kasur tipis setebal 4cm dan tidak dilapisi sprei . di dalam kamar tidur tidak terdapat lemari pakaian ,pakain dilipat dan diletakkan diatas lantai,pakaian habis pakai digantung dibelakang pintu.Seluruh ruang di rumah ini berlantai ubin kecuali bagian dapur yang bagian lantainya berlapis semen,tembok rumah terbuat dari batu bata dan atap rumah terbuat dari kayu yang langsung terhubung dengan genteng.Keluarga Tn. Mustain menggunakan air sumur sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari. Keluarga Tn. Mustain menggunakan air galon isi ulang untuk memenuhi kebutuhan air minum. Dalam 1 bulan keluarga Tn. Mustain memerlukan 5 galon untuk memenuhi kebutuhan air minum. Keluarga Tn. Mustain mengaku selalu mencuci tangan hanya saat akan makan dan setelah makan menggunakan sabun.

Gambar 1.. Denah Rumah Tn. Mustain

c. Lingkungan PemukimanRumah Tn. Mustain terletak di pemukiman yang padat penduduk. Di bagian depan terdapat teras dan halaman milik Tn. Mustain berukuran 2.5x 6 m, di depan teras terdapat rumah tetangga, bagian belakang terdapat rumah tetangga, dan di bagian kanan dan kiri juga terdapat rumah tetangga. Limbah cair dialirkan ke selokan yang hanya berukuran kurang lebih 20 cm di halaman belakang rumahnya.d. Pola MakanNy. Ening memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia sering memasak makanan dengan menu seperti nasi, tahu, tempe,ikan dan sesekali daging. Sehari-harinya mereka makan besar 2 kali. Mereka juga mengatakan bahwa mereka mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan menggunakan sabun.e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan AnakAnak pertama dan kedua Tn. Mustain lahir di rumah dibantu paraji .Selama hamil Ny. Ening mengaku tidak pernah mengontrol kandungannya ke bidan. Untuk imunisasi, keluarga Tn. Mustain hanya 3 kali membawa anaknya untuk dilakukan imunisasi di bidan. Ny. Ening mengaku anaknya diberikan ASI eksklusif sampai usia anak usia 6 bulan, kemudian setelah 6 bulan anaknya diberikan makanan tambahan selain ASI. Kemudian Ny. Ening menggunakan KB suntik untuk mengontrol jumlah anak dalam keluarganya .f. Kebiasaan BerobatDalam segi kesehatan, anak kedua Tn. Mustain pernah mengalami demam berdarah dan berobat ke rumah sakit, selain itu jarang mengalami sakit. Gangguan kesehatan yang sering dialami seluruh anggota keluarganya antara lain batuk pilek, dan demam. Menurut penuturan Ny. Ening, mereka biasanya meminum obat warung terlebih dahulu, jika tidak membaik baru dibawa ke bidan, keluarga Ny. Ening jarang memeriksakan ke Puskesmas karena sehari-hari mereka bekerja.g. Riwayat PenyakitAnak kedua Tn. Mustain pernah sakit demam namun tidak diketahui penyebabnya dan tidak dirawat di rumah sakit. Anggota keluarga lainnya sering mengalami batuk, pilek dan demam, belum pernah mengalami sakit yang berat sampai dirawat dirumah sakit. h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-HariDi keluarga Tn. Mustain, Tn. Mustain merokok dan menghabiskan kira-kira 2 bungkus rokok dalam sehari. Keluarga Tn. Mustain mengaku mencuci tangan sebelum makan, jika tangan tampak kotor, dan jika selesai melakukan aktivitas menggunakan sabun. Kebiasaan berolahraga tidak dilakukan anggota keluarga.i. Perilaku Membuang SampahRumah keluarga Tn. Mustain berada di lingkungan perumahan yang padat. Di lingkungan rumah tidak terdapat saluran untuk aliran limbah cair rumah tangga, keluarga membuang limbah cair diselokan yang hanya berukuran kurang lebih 20 cm. Didalam rumah dan diluar rumah Tn. Mustain tidak memiliki tempat pembuangan sampah, pengakuan istri Tn. Mustain keluarga mereka membuang sampah setiap hari di halaman belakang rumah dan kemudian dibakar pada hari berikutnya.

Tabel 1.. Faktor Internal Keluarga Tn. MustainNoFaktor InternalPermasalahan

1Kebiasaan MerokokTn. Mustain merokok sejak usia 15 tahun

2Olah ragaSemua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan berolahraga.

3Pola MakanNy. Ening memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia sering memasak makanan dengan menu seperti nasi, tahu, tempe, ikan dan sesekali daging. Sehari- harinya mereka makan 2 kali.

4Pola Pencarian PengobatanApabila sakit, mereka membeli obat di warung, terkadang pergi ke bidan.

5MenabungMereka tidak pernah menabung karena uangnya hanya pas untuk kebutuhan sehari-hari

6Aktivitas sehari-haria. Bapak bekerja sebagai buruh pabrik tali tambang plastik, bekerja setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore.b. Ibu berjualan nasi uduk .c. Anak pertama pelajar SMK kelas 2.d. Anak kedua pelajar SMP kelas 3.

Tabel 1.. Faktor Eksternal Keluarga Tn. MustainNoKriteriaPermasalahan

1.

Luas BangunanLuas rumah 9 x 6 m2

2.

Ruangan dalam rumah

Didalam Rumah terdapat tiga kamar tidur masing-masing berukuran 3x2 m2 , 2,5x1,5 m2 , 2,5x1 m2. Di dalam kamarnya terdapat kasur tipis dan lemari pakaian. Dapur Tn. Mustain berukuran 1,5 x 6 m2 yang menjadi satu dengan sumur dan tempat cuci piring. Tidak ada kamar mandi maupun jamban.

3.JambanKeluarga Tn. Mustain tidak memiliki jamban di rumahnya

4.

VentilasiTerdapat ventilasi udara hanya pada ruang tamu, kamar tidur utama dan dapur .

5.PencahayaanTerdapat lampu pencahayaan yang kurang baik di tiap ruangan.

6.MCKTidak memiliki MCK di rumah, MCK berada di kali dekat rumahnya dan digunakan bersamaan dengan tetangganya.

7.Sumber AirDalam kesehariannya Tn. Mustain menggunakan air sumur yang digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Serta membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan air minum sehari-hari.

8.Saluran pembuangan limbahTidak terdapat saluran pembuangan limbah, air limbah dialirkan ke selokan yang berukuran 20 cm.

9.Tempat pembuangan sampahKeluarga Tn. Mustain tidak memiliki tempat pembuangan sampah dirumahnya, kemudian mereka membuang sampahnya di halaman belakang rumah kemudian membakarnya pada hari berikutnya.

10.Lingkungan sekitar rumahDi samping kanan, kiri , dan belakang, rumah terdapat rumah tetangga yang berdempetan.jarak depan rumah ke rumah tetangga 2 m. Delapan meter dari rumah tersebut terdapat kali yang kotor penuh tumpukan sampah.

b. Keluarga Tn. MustainMasalah MedisPenyakit ISPA Masalah Non Medis1. Kurangnya pencahayaan dan ventilasi udara di dalam rumah.2. Ketidaktersediaan jamban keluarga .3. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah .4. Kurangnya pengetahuan keluarga binaan terhadap pentingnya buang air besar di jamban yang sehat .5. Perilaku Merokok .6. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya kebersihan lingkungan .7. Ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah didalam rumah, sehingga keluarga menumpuknya dibelakang rumah dan membakarnya pada hari berikutnya. 8. Kurangnya pengetahuan tentang pemberantasan jentik di lingkungan rumah.9. Kurangnya kebiasaan berolahraga .1.3.5Keluarga Tn. Mairin a. Data Dasar Keluarga Tn. Mairin Keluarga binaan adalah keluarga Tn. Mairin yang memiliki 4 orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Anggota keluarga tersebut adalah:

Tabel 1.10. Keluarga Tn. MairinNoNamaStatus keluargaJenis kelamin Usia Pendidikan terakhir Pekerjaan

1Tn. MairinKepala keluargaLaki-laki47SDWiraswasta

2Ny. TarsihIstriPerempuan40SDBuruh pabrik

3Nn. RiskaAnakPerempuan19SMPBuruh pabrik

4Tn. Ahmad SopyanAnak Laki-laki13SDPelajar

Keluarga Tn. Mairin tinggal di Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga RT 02/04. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri dengan dua orang anak, laki laki- dan perempuan. Anak pertamanya sudah berkeluarga dan tinggal bersama suaminya di rumah yang berbeda.Tn. Mairin sebagai pemilik rumah, berusia 47 tahun dan bekerja dalam bidang wiraswasta, lebih tepatnya sebagai tukang ojek. Sedangkan Ny. Tarsih istrinya, berusia 40 tahun, dengan latar belakang pendidikan terakhir keduanya adalah sekolah dasar. Nn. Riska sebagai anak kedua yang berusia 17 tahun saat ini sudah duduk dikelas III SMP, belum menikah, dan tidak mempunyai pekerjaan sampingan. Anak kedua yaitu Tn. Ahmad Sopyan sekarang duduk di kelas I SMP, belum menikah, dan sama seperti kakaknya Tn Ahmad Sopyan tidak bekerja sampingan.Gambar 1.8 Denah keluarga Tn. MairinTERAS DEPAN

Depan DA PURRUANG KELUARGA

K. TIDUR 1

BelakangK. TIDUR 2

R. MAKAN

K. MANDI

b. Bangunan Tempat TinggalKeluarga Tn. Mairin tinggal disebuah rumah bangunan permanen diatas tanah seluas 80 m2, sedangkan ukuran rumah sebesar 4x6 m. Dinding rumah terbuat dari batu bata, lantai menggunakan keramik. Atap rumah menggunakan genteng dari tanah liat dan tanpa disertai plafon. Rumah Tn. Mairin terdiri dari teras keramik yang terdapat dihalaman depan yang berlantaikan tanah, salah satu sudut halaman depan terdapat kandang ayam yang jarang terisi. Dihalaman depan juga dikelilingi oleh pagar bambu.Ketika masuk ke dalam rumah langsung menuju ke ruang keluarga, didalamnya terdapat TV dan karpet yang sering digunakan untuk tempat berkumpul keluarga. Tidak ada kursi atau sofa didalamnya. Diruangan ini terdapat 2 buat jendela yang mengarah ke teras depan. Ventilasi juga terdapat diatas jendelanya.Sejajar dengan ruang keluarga, terdapat 2 kamar tidur beukuran sama. Kamar depan terdapat jendela namun jarang dibuka. Kamar lainnya tidak terdapat jendela maupun ventilasi, pertukaran udara hanya melalui celah antara genteng dan rangka atap. Kamar kedua tidak dapat dilewati cahaya matahari serta terkesan lembab.Berhadapan dengan kamar tidur 2 yaitu ruang makan, yang disampingnya terdapat pintu langsung menuju dapur yang panjang, namun lebarnya hanya bisa untuk 1 orang.Diujung dapur terdapat suatu ruangan yang tidak beratap sebesar 1x1 m, digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai membentuk wadah. Disebelah kanan dari ruangan ini terdapat kamar mandi yang tidak ada jambannya. Didalamnya kamar mandi terdapat sumur milik pribadi yang digunakan untuk memnuhi kebutuhan air sehari-hari.Limbah air dialirkan ke. Sedangkan untuk pembuangan sampah dikumpulkan di luar pagar halaman depan, untuk selanjutnya dibakar setelah menumpuk banyak. c. Lingkungan PemukimanRumah keluarga Tn. Mairin terletak di daerah yang padat penduduk, jarak antar satu rumah dengan rumahnya hanya berbatas tembok. terdapat sungai yang berjarak 10 meter dari rumahnya. d. Pola MakanKeluarga Tn. Mairin memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Makan pagi dan malam dirumah, makan siang di tempat kerja, sedangkan anak-anaknya disekolah. Biasanya menu yang biasa dimakan adalah nasi, tahu, tempe, serta sayur-sayuran. Lauknya jarang menggunakan daging hanya bertepatan saat hari-hari besar keagamaan. Ikan bisa sebanyak 2 kali seminggu. Hampir tidak pernah membeli buah untuk dikonsumsi sendiri. Keluarga mereka juga tidak pernah meneyediakan susu dirumah untuk dikonsumsi rutin.e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh AnakNy. Tarsih melahirkan ketiga anaknya secara normal. Anak pertama hingga terakhir lahir dengan dibantu oleh paraji.f. Kebiasaan BerobatMenurut penuturan Tn. Mairin, ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya langsung membeli obat warung kemudian dibawa ke Puskesmasg. Riwayat PenyakitMenurut penuturan Tn. Mairin, tidak memiliki masalah kesehatan dalam sebulan terakhir ini. Penyakit tersering pada keluarga Tn. Mairin adalah batuk dan pegal-pegal, serta khusu Ny. Tarsih yang bekerja di pabrik yang selalu bersentuhan dengan lem kayu sehingga beliau sering terluka jari-jarinya.h. Perilaku dan Aktifitas Sehari- HariTn. Mairin memiliki kebiasaan merokok. Seluruh anggota keluarga mengaku jarang melakukan olahraga. Sumber air bersih menggunakan air sumur pribadi, air berwarna keruh dan berbau. Keluarga Tn. Mairin terbiasa melakukan cuci tangan sebelum makan, tetapi tidak menggunakan sabun, kemudian apabila selesai makan, keluarga Tn. Mairin terbiasa mencuci tangan menggunakan air cuci tangan dari bak tempat penampungan air dikamar mandi rumahnya. Keluarga Tn. Mairin mandi di kamar mandi miliknya dengan air tersebut. Ny. Tarsih terbiasa mencuci pakaian seluruh anggota keluarga juga di kamar mandi. Karena keluarga ini tidak mempunyai jamban dirumahnya, pada saat membuang air besar mereka menumpang dirumah tetangganya yang mempunyai jamban dirumahnya.

Tabel 1.11. Faktor Internal Keluarga Tn, MairinNoFaktor InternalPermasalahan

1Kebiasaan merokok Tn. Mairin memiliki kebiasaan merokok sebanyak paling banyak 2 bungkus sehari, dilakukan saat sedang didalam atau diluar rumah, juga saat sedang bekerja

2Olahraga Tn. Mairin selalu bekerja hingga sore hari meskipun pada hari libur, sehingga tidak mempunyai waktu untuk berolahraga

3Pola makanKeluarga Tn. Mairin memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Biasanya menu yang biasa dimakan adalah nasi, tahu, tempe, serta sayur-sayuran. Lauknya jarang menggunakan daging hanya bertepatan saat hari-hari besar keagamaan. Ikan bisa sebanyak 2 kali seminggu. Hampir tidak pernah membeli buah untuk dikonsumsi sendiri. Keluarga mereka juga tidak pernah meneyediakan susu dirumah untuk dikonsumsi rutin.

4Pola pencarian makanketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya langsung membeli obat warung kemudian dibawa ke Puskesmas

5Menabung Keluarga Tn. Mairin tidak memiliki kebiasaan menabung

6Aktivitas sehari-hari Tn. Mairin bekerja sebagai tukang ojek, terkadang juga sebagai pedangan ayam hidup Ny. Tarsih bekerja sebagai buruh pabrik di perusahaan triplek Anak kedua bernama Nn. Riska saat ini sedang duduk di kelas 3 SMP Anak ketiga bernama Tn. Ahmad Sopyan sekarang duduk dikelas 1 SMP

Tabel 1.12. Faktor Eksternal Keluarga Tn, MairinNo.Kriteria Permasalahan

1Luas bangunanLuas rumah 4x6 m

2 Ruangan dalam rumahDalam rumah terdapat teras dihalaman depan, ruang keluarga, dua kamar tidur, ruang makan, dapur, ruang penyimpanan, kamar mandi tanpa jamban

3Ventilasi Ventilasi hanya terdapat di ruang keluarga dan kamar tidur depan

4Pencahayaan Terdapat jendela pada kamar tidur depan, serta ruang keluarga. Dapur mendapatkan cahaya disiang hari lewat ruang penyimpanan yang tidak beratap.Terdapat 6 buah lampu didalam rumah, 2 berwarna putih, 3 lainnya berwarna kuning

5MCKTidak terdapat jamban didalam rumah

6Sumber airDalam sehari-hari keluarga Tn. Mairin menggunakan air bersih yang berasal dari sumur pribadi miliknya

7Saluran pembuangan limbahTidak ada saluran pembuangan limbah khusus,

8Tempat pembuangan sampahSampah rumah tangga dikumpulkan dihalaman depan, dengan tidak memilah-milah botol atau wadah yang terbuang, sampah tersebut tidak langsung dibakar, tetapi menunggu hingga menumpuk dan menjadi banyak setelah itu dibakar.

9Lingkungan sekitar rumahDisamping kanan dan kiri rumah terdapat rumah tetangga. Dilingkungan sekitar rumah keluarga Tn Mairin masih banyak genangan genangan air, baik langsung diatas tanah, di dalam botol bekas, serta di limbah batok kelapa.

1.4. PENENTUAN AREA MASALAH KESEHATAN1.4.1. Alasan Pemilihan Area MasalahSebagai pendekatan awal untuk mengetahui area masalah yaitu dengan menganalisis laporan tahunan Puskesmas mengenai data-data penderita 10 penyakit terbesar yang ada di wilayah Puskesmas Tegal Angus. Kemudian informasi tersebut dibandingkan dengan laporan kader desa setempat. Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi masing-masing keluarga binaan di Kampung Suka Sari, Desa Pangkalan terdapat berbagai area permasalahan pada keluarga binaan tersebut, yaitu: 1. Ditemukan banyak jentik nyamuk di tempat penampungan air2. Tidak tersedianya jamban di rumah masing-masing keluarga binaan3. Perilaku merokok di sekitar rumah4. Kurangnya ventilasi pada rumah keluarga binaan5. Banyaknya angka kejadian ISPA pada keluarga binaan6. Kurangnya pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat7. Kurangnya kesadaran berobat di tenaga kesehatan8. Kebiasaan melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan melainkan parajiDari sekian masalah yang ada pada keluarga tersebut, atas pertimbangan 1). Ditemukan jentik nyamuk di semua rumah keluarga binaan, 2). Tingginya angka penyakit demam dari data yang ada di Puskesmas Tegal Angus, 3). Tidak adanya kader jumantik dari Puskesmas Tegal Angus, 4). Belum tercapainya angka indikator PHBS tentang pemberantasan jentik nyamuk di Puskesmas Tegal Angus, maka diputuskan untuk mengangkat permasalahan PENGETAHUAN MENGENAI PEMBERANTASAN JENTIK NYAMUK PADA KELUARGA BINAAN KAMPUNG SUKA SARI RT 002 / RW 04, DESA PANGKALAN KECAMATAN TELUK NAGA, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diagnosis dan Intervensi KomunitasDiagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat dengan cara pengumpulan data di lapangan dan kemudian melakukan intervensi komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi sasaran adalah komunitas atau sekelompok orang sehingga dalam melaksanakan diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh pengetahuan ilmu kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian, manajemen kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan gizi).

2.2 Pengetahuan2.2.1 DefinisiAhli pengetahuan mengatakan bahwa tidak mudah untuk membuat definisi tentang pengetahuan, lebih mudah mengelompokkan atau menggolongkannya. Beberapa pengertian atau batasan tentang pengetahuan adalah sebagai berikut :Proses yang didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersikap langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama ( Notoatmodjo, 2003, p.121).

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005 p.50)Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007 p.143)

Menurut Bloom yang dikutip oleh Sri Rusmini, dkk (1995:47), pengetahuan disamaartikan dengan aspek kognitif. Secara garis besar aspek kognitif dapat dijabarkan sebagai berikut :a) Mengetahui yaitu mengenali hal-hal yang umum dan khusus, mengenali kembali metode dan proses, mengenali kembali pada struktur dan perangkatb) Mengerti dapat diartikan sebagai memahamic) Mengaplikasikan, merupakan kemampuan menggunakan abstrak di dalam situasi konkritd) Menganalisis yaitu menjabarkan sesuatu kedalam unsur bagian-bagian atau komponen sederhana atau hirarki yang dinyatakan dalam suatu komunikasie) Mensintesiskan, merupakan kemampuan untuk menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh.f) Mengevaluasi yaitu kemampuan untuk menetapkan nilai atau harga dari suatu bahan dan metode komunikasi untuk tujuan-tujuan tertentu.

2.2.2 Proses Perilaku TAHUMenurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar (Dewi & Wawan, 2010, p.15). sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :1) Awareness (kesadaran)Subjek tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu2) Interest (tertarik)Dimana subjek mulai tertarik terhadap stimulus yang sudah diketahui dan dipahami terlebih dahulu3) EvaluationMenimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus yang sudah dilakukan serta pengaruh terhadap dirinya4) TrialDimana subjek mulai mencoba untuk melakukan perilaku baru yang sudah diketahuidan dipahami terlebih dahulu5) AdoptionDimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Pada penelitian selanjutnya Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oelh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut akan berlangsung langgeng (long lasting). Namun sebaliknya jika perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia dapat terlihat dari 3 aspek, yaitu aspek fisik, psikis, dan sosial yang secara terperinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap, dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan sosial budaya.

2.2.3 Tingkat PengetahuanPengetahuan mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut :

1) Tahu (know)Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan (Notoatmodjo, 2003 p.122)2) Memahami (comprehension)Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan, dan sebaginya terhadap objek yang dipelajari, misalnya dapat menjelaskan mengapa harus datang ke Posyandu (Notoatmodjo, 2003 p: 122)3) Analisis (analysis)Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan (Notoatmodjo, 2003 p:123)4) Aplikasi (application)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,metode, dan prinsip (Notoatmodjo, 2003 p:123)5) Evaluasi (evaluation)Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2003 p:123)

2.2.4Cara Memperoleh PengetahuanCara memperoleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003 p:10-18) dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :A. Cara memperoleh kebenaran pengetahuan nonilmiah1) Cara coba salah (Trial and Error), cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal (trial and error). Metode ini telah digunakan oleh orang dalam waktu cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah. Bahkan sampai sekarang pun metode ini masih sering digunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakkan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.2) Secara kebetulan. Penemuan secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh adalah penemuan enzim urease oleh Summers pada tahun 1926.3) Cara kekuasaan atau Otoritas. Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintah, tokoh agama, maupun ahli pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pnegetahuan.4) Berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.5) Cara akal sehat. Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu pendidikan ini berkembang, para orangtua zaman dahulu agar anaknya mau menuruti nasihat orangtuanya, atau agar anak disiplin menggunakan cara hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya dijewer telinganya atau dicubit. Ternyata cara menghukum anak ini sampai sekarang berkembang menjadi teori atau kebenaran, bahwa hukuman adalah merupakan metode (meskipun bukan yang paling baik) bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah dan hukuman (reward and punishment) merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan.6) Kebenaran melalui wahyu. Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut agama-agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atu tidak.7) Kebenaran secara intuitif. Kebenaran intuitif diperoleh manusia cepat sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh secara intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara rasional dan yang sistematis. Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja.8) Melalui jalan pikiran. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusia pun itku berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun dedukasi.9) Induksi. Induksi adalah proses proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pertanyaan uyang bersifat umum. Proses berpikir induksi berasal dari hasil pengamatan indra atau hal-hal yang nyata, maka dapat diakatakan bahwa induksi beranjak dari hal-hal yang konkret kepada hal-hal yang abstrak.10) Deduksi. Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum yang ke khusus. Aristoteles (384-322SM). Mengembangkan cara berpikir deduksi ini kedalam suatu cara yang disebut silogisme. Silogisme merupakan suatu bentuk deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum pada kelas tertentu, berlaku juga kebenarannya pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk dalam kelas itu.

B. Cara ilmiah dalam memperoleh pengetahuanCara baru atau modern dalam memeproleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode peneliitian ilmiah, atau lebih popular disebut metodologi penelitian (research methodology). Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Ia mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamati. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok yakni :1) Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan2) Segala sesuatu yang negative, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan3) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang berubah-berubah pada kondisi-kondisi tertentu

2.2.5 Faktor Faktor yang Mempengaruhi PengetahuanSukmadinata (2007, p:41) mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :1) Faktor internalFaktor internal meliputi jasmani dan rohani. Faktor jasmani adalah tubuh orang itu sendiri, sedangkan faktor rohani adalah psikis, intelektual, psikomotor, serta kondisi afektif dan kognitifnya.2) Faktor eksternala. Tingkat pendidikanPendidikan merupakan proses menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang atau lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi. Pendidikan meliputi peranan penting dalam menentukan kualitas manusia. Dengan pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas karena pendidikan yang tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang berkualitas. Pendidikan berpengaruh dalam memberi respon yang datang dari luar. Orang berpendidikan tinggi akan memberi respon lebih rasional terhadap informasi yang datang.b. Paparan media massaMelalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik maka berbagai ini berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media masa akan memperoleh informasi lebih banyak dan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki diabndingkan dengan orang yang tidak pernah mendapat informasi dari media massa.c. EkonomiDalam memenuhi kebutuhan primer, maupun sekunder keluarga, status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang semakin mudah dalam mendapatkan pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitasd. Hubungan sosialFaktor hubungan sosial memepengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang berinteraksi secara kontinyu akan lebih besar terpapar informasi. Faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi. Apabila hubungan sosial seseorang dengan individu baik maka pengetahuan yang dimiliki juga akan bertambah.

e. PengalamanPengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperolah dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Orang yang berpengalaman mudah menerima informasi dari lingkungan sekitar sehingga lebih baik dalam mengambil keputusan. Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasanya diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses pengembangan misalnya sering mengikuti organisasi.Pengetahuan yang dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengaruh dari intelektual, afektif, kognitif, dan pengalaman manusia sebagai subjek akan mempengaruhi pengetahuannya terhadap suatu objek yang terjadi melalui penginderaan.

2.3 Pemberantasan dan Pencegahan Jentik NyamukJentik(ataujentik-jentik) adalah tahaplarvadarinyamuk. Jentik hidup di air dan memiliki perilaku mendekat atau "menggantung" pada permukaan air untuk bernapas. Nama "jentik" berasal dari gerakannya ketika bergerak di air. Ia dikenal pula dalam bahasa lokal sebagai(en)cukatauuget-uget(Jw.).

Jika nyamuk betina bertelur, telur nyamuk menetas menjadi jentik-jentik. Jentik-jentik berubah menjadi kepompong. Kepompong berubah bentuk menjadi nyamuk muda, dan kemudian menjadi nyamuk dewasa. Karena perubahan bentuknya mengalami tahap kepompong, maka nyamuk dikatakan mengalami metamorfosis sempurna.

Pemberantasan jentik nyamukadalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membasmi atau memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk dengan berbagai cara dengan tujuan untuk menekan laju pertumbuhan nyamuk di lingkungan. Adapun manfaat dari dilakukannya pemberantasan jentik nyamuk adalah sebagai berikut :1. Terbebas dari gigitan nyamuk2. Tercegah dari berbagai macam penyakit yang ditularkan melalui nyamuk3. Menekan laju pertumbuhan nyamuk di lingkungan

Cara memberantas jentik nyamuk yaitu 3M Plus. 3M yaitu :1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya3) Mengubur, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti:1. Mengganti air vas bunga dan tempat minum burung minimal seminggu sekali.2. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak.3. Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon dengan tanah dan mengeringkan air yang ada di penampungan alami seperti air diantara pelepah pisang.4. Bubuhkan bubuk pembunuh jentik nyamuk (Abate) di tempat-tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air.5. Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan cupang dan ikan nila.6. Memasang kawat kasa dan tidur menggunakan kelambu.7. Pencahayaan dan ventilasi di dalam ruangan harus memadai karena nyamuk ini senang hinggap di kamar yang gelap.8. Jangan biasakan menggantung pakaian karena nyamuk aedes aegypti senang hinggap di benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti gordyn, baju/pakaian dll.9. Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk (bakar,oles, elektrik dll) untuk mencegah gigitan nyamuk. Aktifitas menggigit nyamuk aedes aegypty biasanya dari pagi sampai petang (siang hari) dengan puncak aktifitas antara jam 09.00-10.00 dan jam 16.00-17.00. Karena itu jika anda bepergian terutama ke tempat yang tinggi kasus DBD sebaiknya memakai celana dan baju lengan panjang dan memakai lotion anti nyamuk.10. Pengasapan/fogging dengan menggunakanmal athion danf enthion yang berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan aides aegypti sampai batas tertentu.11. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain-lain.

2.4 Kerangka TeoriKonsep kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori pengetahuan yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2007, p:41) mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut ini :

FAKTOR INTERNALROHANIJASMANI

PENDIDIKAN

PENGETAHUAN

PAPARAN MEDIA MASSA

FAKTOR EKSTERNALEKONOMI

HUBUNGAN SOSIAL

PENGALAMAN

2.5 Kerangka KonsepBerdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep yang sehubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan Kampung Sukasari RT 02/04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Kerangka konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori yang dihubungkan dengan area permasalahan.PENDIDIKAN

PAPARAN MEDIA MASSA

PENGETAHUAN

EKONOMI

PENGALAMAN

2.6 Definisi OperasionalNoVariabelDefinisiAlatCaraHasilSkala

1.Pengetahuan tentang pemberantasan jentik nyamukSegala sesuatu yang menjabarkan tentang cara pemberantasan jentik nyamuk yang sesuai dengan lembaga kesehatan. Yaitu 3M Plus3M yaitu Menguras bak mandi, Menutup tempat penampungan air, Mengubur barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamukPlus yaitu : 1.Mengganti air vas bunga dan tempat minum burung minimal seminggu sekali.2.Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak.3.Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon dengan tanah dan mengeringkan air yang ada di penampungan alami seperti air diantara pelepah pisang.4.Bubuhkan bubuk pembunuh jentik nyamuk (Abate) di tempat-tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air.5.Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan cupang dan ikan nila.6.Memasang kawat kasa dan tidur menggunakan kelambu.7.Pencahayaan dan ventilasi di dalam ruangan harus memadai karena nyamuk ini senang hinggap di kamar yang gelap.8.Jangan biasakan menggantung pakaian karena nyamuk aedes aegypti senang hinggap di benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti gordyn, baju/pakaian dll.9.Menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk (bakar,oles, elektrik dll) untuk mencegah gigitan nyamuk. Aktifitas menggigit nyamuk aedes aegypty biasanya dari pagi sampai petang (siang hari) dengan puncak aktifitas antara jam 09.00-10.00 dan jam 16.00-17.00. Karena itu jika anda bepergian terutama ke tempat yang tinggi kasus DBD sebaiknya memakai celana dan baju lengan panjang dan memakai lotion anti nyamuk.10. Pengasapan/fogging dengan menggunakanmal athion danf enthion yang berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan aides aegypti sampai batas tertentu.11.Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain-lain.KuesionerWawancaraSetiap jawaban benar dari masing-masing pertanyaan diberi nilai 5 dan jika salah diberi nilai 0. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya prosentase dengan rumus yang digunakan sebagai berikut:N=SP/ NMx 100%Ket:N:Nilai pengetahuanSP:Skor yang di dapatNM:Skor tertinggi maksimumSelanjutnya prosentase jawaban yang di interpretsikan dalam kalimat kualitatif dengan cara sebagai berikut:Baik: Nilai: 76-100%Cukup: Nilai: 56-75%Kurang: Nilai:55%(Arikunto, 2010).

Ordinal

2.PendidikanPengetahuan yang didapat pada pendidikan formal yang telah ditamatkan terakhirKuesionerWawancaraPendidikan tinggi : > SMA,Pendidikan cukup : SMP - SMA Pendidikan kurang : < SMP

Ordinal

3.Paparan media massaTerpapar atau tidaknya responden dan mengerti terhadap informasi yang disampaikan melalui media cetak dan media elektronikKuesionerWawancara0=tidak terpapar1-2=terpapar media massaOrdinal

4.EkonomiPenghasilan rata-rata berdasarkan upah minimum regional kabupaten Tangerang, yaitu : Rp 2.400.000,-KuesionerWawancaraPenghasilan perbulan >Rp2.400. 000 = 0>Rp 2.400. 000 = 1

Anggaran kesehatan Rp 0,- = 0Rp 300.000 = 2

ekonomi tinggi jika skor 3sedang jika skor 1-2rendah jika skor 0Ordinal

5.PengalamanSesuatu yang pernah dilihat, dan didengar oleh responden mengenai informasi pemberantasan jentik nyamukKuesionerWawancara0=tidak pernah1-2=pernahOrdinal

BAB IIIMETODE PENELITIAN

3.1.Desain PenelitianDalam penelitian ini sebelumnya telah dilakukan pre survey dengan tekhnik wawancara dan kuesioner sebagai instrumennya, yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap, ataupun perilaku keluarga binaan mengenai masalah kesehatan. Langkah selanjutnya, data dikumpulkan dan diangkatlah area masalah. Setelah menetapkan area masalah, dilakukan survey dengan tekhnik wawancara dan menjadikan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan data. Disamping itu, dilakukan juga observasi langsung ke lapangan untuk memperoleh data yang lebih lengkap.3.2.PopulasiDalam kegiatan baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat sosial, perlu dilakukan pembatasan populasi dan cara pengambilan sampel. Populasi adalah keseluruhan objek pengumpulan data (Arikunto, 2002). Dalam hal ini, yang menjadi populasi adalah 4 keluarga binaan.3.3.SampelSampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002). Dalam hal ini yang menjadi sampel adalah anggota keluarga dari keluarga binaan yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi mencakup usia >12 tahun, sehat mental, dan tidak cacat fisik.3.4.Kriteria Inklusi dan EksklusiKriteria inklusiKriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel yaitu :1 Bersedia untuk menjadi informan2 Merupakan anggota keluarga binaan3 Usia 12 tahun ke atas4 Sehat jasmani dan rohaniKriteria eksklusiKriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian, yaitu : Tidak bersedia menjadi informan Berusia dibawah 12 tahun Anggota keluarga yang terlalu sibuk bekerja hingga sulit ditemui Memiliki gangguan mental

3.5.Sumber DataSumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah :1. Data primerData yang langsung didapatkan dari wawancara semua anggota warga binaan di RT 02/RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten melalui wawancara terpimpin serta observasi1. Data sekunderData sekunder didapat dalam bentuk laporan yang sudah ada di Puskesmas Tegal Angus. Data tersebut merupakan laporan mengenai 10 besar penyakit, status gizi, dan keadaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terutama mengenai rendahnya angka konsumsi makanan yang seimbang.1. Data tersierData yang didapat dari buku teks, jurnal ilmiah, dan internet mengenai makanan yang seimbang.

3.6.Cara Pengumpulan DataCara pengumpulan data dilakukan di RT 02 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Pengumpulan data ini dilakukan selama 12 hari, dimulai dari tanggal 10-22 Agustus 2015.

3.7.Pengolahan dan Analisis DataWawancara dengan kuesioner dilakukan terhadap empat keluarga binaan yang telah ditentukan oleh kader setempat. Dari empat keluarga binaan ini 8 orang sebagai responden untuk menjawab kuesioner. Dengan kriteria responden sebagai berikut :1. Yang bersedia diwawancarai 8 orang1. Kedelapannya merupakan keluarga binaan 1. Usia diatas 12 tahunAdapun kegiatan pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Tabel NOTANGGALKEGIATAN

110-08-2015Perkenalan dengan keluarga binaan

211-08-2015Mengumpulkan data dari puskesmas untuk mengetahui gambaran umum area masalah pada keluarga binaan

312-08-2015Mengumpulkan data dari masing-masing keluarga binaan dan dokumentasi rumah

413-08-2015Dilakukan wawancara singkat presurvey dengan anggota keluarga pada masing-masing keluarga binaan

514-08-2015Mengambil data dari puskesmas untuk melengkapi data sebelumnya yang lebih khusus menunjang area masalah

615-08-2015Mengumpulkan data dari masing-masing keluarga binaan dan menentukan area masalahnya

716-08-2015Menentukan area masalah, lalu menentukan dan membuat instrumen

817-08-2015Pembagian dan pengambilan kuesioner kepada masing-masing responden dari keluarga binaan

918-08-2015Menganalisis dan mengolah data yang diperoleh dari keluarga binaan

1019-08-2015Menganalisis dan mengolah data yang diperoleh dari keluarga binaan

1120-08-2015Menganalisis dan mengolah data yang diperoleh dari keluarga binaan

1221-08-2015Menganalisis dan mengolah data yang diperoleh dari keluarga binaan

1322-08-2015Menganalisis dan mengolah data yang diperoleh dari keluarga binaan

3.7Pengolahan dan Analisis DataKuesioner terdiri dari empat variabel dengan jumlah pertanyaan sebanyak bauh pertanyaan. Masing-masing variabel memiliki penilaian yang berbeda-beda. Semua jawaban pada variabel ini disajikan dalam bentuk pilihan gandaUntuk pengolahan data tentang Pengetahuan tentang Makanan Seimbang pada Keluarga Binaan di RT 02 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, dilakukan dengan cara manual dan bantuan software pengolahan data menggunakan Microsoft Word. Untuk menganalisis data-data yang sudah didapat adalah dengan menggunakan analisa univariate.Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengenali setiap variabel dari hasil penelitian. Analisa univariate berfungsi untuk meringkas kumpulan data sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut dapat berupa ukuran statistic, tabel, dan grafik. Pada diagnosis dan intervensi komunitas ini, variabel yang diukur adalah :1. Pengetahuan tentang pemberantasan jentik nyamuk1. Pendidikan 1. Paparan media massa1. Ekonomi1. Pengalaman

BAB IVHASIL

4.1.Analisis Univariat4.1.1.Karakteristik Keluarga BinaanHasil analisis ini disajikan melalui bentuk diagram yang diambil dari data karakteristik responden yang terdiri dari empat keluarga binaan di kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yakni keluarga Tn. Mairin

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Usia pada Keluarga Binaan di Kampung Sukasari RT02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Agustus 2015Usia Jumlah

0-16 tahun7

17-40 tahun8

>40 tahun 5

Tabel data diatas disajikan dalam bentuk grafik seperti dibawah ini :Grafik 4.1 Distribusi Frekuensi Usia pada Keluarga Binaan di Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Agustus 2015

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa frekuensi usia keluarga binaan yang paling banyak berusia di antara 17-40 tahun, dimana usia ini merupakan usia produktif.Grafik 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,Provinsi Banten, Agustus 2015

Dari grafik diatas dapat terlihat sebanyak 65% dari 20 anggota keluarga binaan berpendidikan rendah. Pendidikan disini dikelompokkan berdasarkan : 1. Rendah (Tidak tamat SD dan tamat SD), 2.Sedang (SMP), 3.Tinggi (SMA dan Perguruan Tinggi).

Grafik 4.3 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Agustus 2015Dari grafik diatas dapat terlihat bahwa 31% dari 20 anggota keluarga binaan merupakan buruh pabrik. Hal ini tidak dapat dipungkiri mengingat kabupaten Tangerang banyak memiliki pabrik di wilayahnya.

4.1.2.Analisis Univariat Keluarga BinaanHasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan variabel-variabel dalam kuesioner yang dijawab 8 responden pada bulan Agustus 2015.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Mengenai Pengetahuan Tentang Pemberantasan Jentik Nyamuk di Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015PengetahuanJumlah Responden%

Kurang 560%

Cukup 340%

Baik00 %

Total 8100%

Berdasarkan dari tabel 4.1 terlihat bahwa lebih banyak responden memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pemberantasan jentik nyamuk yaitu sebanyak (60%)

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Responden Tentang Pendidikan di Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015PendidikanJumlah Responden%

Rendah 562.5%

Sedang 225%

Tinggi112.5%

Berdasarkan dari tabel 4.2 terlihat bahwa sebagian besar responden termasuk ke dalam tingkat pendidikan yang rendah

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Terpapar Media Massa Tentang Pemberanasan Jentik Nyamuk di Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015

PaparanJumlah Responden%

Pernah675%

Tidak Pernah225%

Total8100 %

Berdasarkan dari tabel 4.3 Terlihat bahwa lebih banyak responden yang terpapar media massa (80%) tentang pemberantasan jentik nyamuk

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Responden Tentang Ekonomi di Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015EkonomiJumlah Responden%

Rendah 675%

Tinggi225%

Total8100%

Berdasarkan dari tabel 4.4 mayoritas responden memiliki tingkat ekonomi yang rendah.

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Responden Tentang Pengalaman Kegiatan Pemberantasan Jentik Nyamuk di Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015PengalamanJumlah Responden%

Pernah 00%

Tidak pernah8100%

Total8100%

Berdasarkan dari tabel 4.5 terlihat bahwa semua responden tidak pernah melihat atau melakukan kegiatan pemberantasan jentik nyamuk.

4.2.Rencana IntervensiSetelah dilakukan analisis data hasil penelitian, untuk menentukan rencana intervensi pemecahan masalah digunakan diagram fishbone. Tujuan pembuatan diagram fishbone yaitu untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar-akar penyebab masalah sehingga dapat ditentukan rencana intervensi pemecahan masalah tersebut. Adapun diagram fishbone dapat dilihat sebagai berikut :

Sesuai dengan diagram fishbone tersebut, akar-akar penyebab masalah yang ditemukan adalah sebagai berikut :1. Dalam keluarga percaya bahwa pendidikan tidak harus tinggi yang penting ada penghasilan1. Tidak punya keahlian di bidang lain1. Iklan layanan kesehatan di media massa kurang menarik perhatian1. Kekurangan tenaga kesehatan yang dapat memberi penyuluhan

Tabel 4.4 Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi pada Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT02/RW04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Bulan Agustus 2015

NoAkar Penyebab MasalahAlternatif Pemecahan MasalahRencana Intervensi

1Dalam keluarga percaya bahwa pendidikan tidak harus tinggi yang penting ada penghasilanMengubah pemikiran keluarga bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin layak penghasilan yang didapatkan demi taraf kesejahteraan hidup yang lebih baikJangka Pendek:Melakukan penyuluhan tentang pentingnya tingkat pendidikan dalam dunia kerja dan strata sosial seseorang ataupun keluarga.

Jangka Panjang: Memberikan motivasi kepada keluarga binaan agar mengikuti jenjang pendidikan setinggi mungkin, untuk mendapatkan pekerjaan yang baik serta penghidupan yang layak

2Tidak punya keahlian di bidang lainMeningkatkan minat untuk menciptakan kreatifitas dan kemandirianJangka Pendek:Melakukan penyuluhan tentang pelatihan keterampilan

Jangka Panjang: Menciptakan unit kemandirian dan kreatifitas masyarakat yang bisa menambah pendapatan masyarakat.

3Iklan layanan kesehatan di media massa kurang menarik perhatianMeningkatkan minat serta kepedulian masyarakat untuk melihat, mempelajari, serta melakukan apa yang ada di iklan layanan kesehatan di media massa.Jangka Pendek: Membuat iklan layanan kesehatan di media lain seperti pamflet, leaflet dan poster yang menarik perhatian