34
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS KEDOKTERAN DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA STATUS PASIEN UNTUK UJIAN Untuk Dokter Muda Nama Dokter Muda Giniani Hilsa Tanda Tangan NIM 09711143 Tanggal Ujian Rumah sakit RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Gelombang Periode IDENTITAS PASIEN Nama : Nn. U Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 15 tahun Agama : Islam Status Perkawinan : Belum menikah Pendidikan : SMK Pekerjaan : Pelajar Bangsa/suku : Jawa Alamat : Tambak boyo, Mantingan, Ngawi Anamnesis

Kasus Skizo Paranoid

  • Upload
    giniani

  • View
    66

  • Download
    2

Embed Size (px)

Citation preview

UNIVERSITAS

ISLAM

INDONESIA

FAKULTAS KEDOKTERAN

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA

STATUS PASIEN UNTUK UJIAN

Untuk Dokter Muda

Nama Dokter Muda Giniani Hilsa Tanda Tangan

NIM 09711143

Tanggal Ujian

Rumah sakit RSUD dr. Soehadi Prijonegoro

Gelombang Periode

IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. U

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 15 tahun

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum menikah

Pendidikan : SMK

Pekerjaan : Pelajar

Bangsa/suku : Jawa

Alamat : Tambak boyo, Mantingan, Ngawi

Anamnesis

Anamnesis diperoleh dari : Autoanamnesis dan Alloanamnesis

Waktu anamnesis :

II.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)

Cemas, takut, dan bingung

II.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang)

Sejak bulan Agustus 2013 pasien mengeluhkan sering takut dan merasa diolok-

olok oleh teman sekolahnya. Kadang teman pasien mengolok dialek yang digunakan

pasien. Pasien sering menggunakan dialek dari NTT karena pasien dan kedua

orangtuanya tinggal lama di NTT. Setelah tinggal di Ngawi, pasien menjadi sangat

pendiam dan tertutup. Pasien tinggal di Ngawi selama 3 tahun ini. Pasien sangat

jarang bertemu dengan saudara dan orangtuanya, karena kedua orangtua pasien

bekerja dan menetap di NTT. Pasien tinggal di Ngawi bersama neneknya.

Menurut pengakuan ayah pasien, pasien pindah sekolah ke Ngawi karena di

NTT sering ada keributan dan tawuran di depan rumah mereka di NTT. Selain itu

juga, ayah pasien mengatakan jika pasien pernah mengalami trauma saat SMP. Pasien

pernah putus cinta dengan seorang laki-laki yakni teman sekolahnya. Semenjak putus

cinta, kepribadian pasien menjadi berubah. Pasien sangat suka menyendiri di kamar

berhari-hari dan tidak mau makan. Oleh karena itu, kedua orangtua pasien khawatir

akan keadaan pasien dan menyuruh pasien untuk pindah ke Ngawi.

Setelah pindah ke Ngawi, awalnya pasien bersikap biasa saja, tidak secemas di

NTT, akan tetapi lama kelamaan pasien menjadi pendiam dan menyendiri terus di

kamar. Pasien juga sangat takut dengan keramaian. Pasien mengaku ketika berada

dikeramaian seolah ada yang memanggil dan menakuti pasien. Suara yang

memanggil itu ada di kepala pasien. Pasien mengaku tidak pernah melihat bayangan

ataupun makhluk halus. Menurut ayah pasien, sekarang pasien menjadi sangat

pemalas. Pasien tidak pernah mengamuk ataupun melukai orang dan diri sendiri.

Pasien mengaku dari kecil sangat takut dengan rumah sakit dan jarum suntik.

Pasien juga merasa tidak diurus oleh orangtuanya. Pada saat 9 bulan yang lalu, pasien

mengalami sulit tidur, akan tetapi setelah diobati pasien malah sering tidur dan malas-

malasan. Pasien sangat jarang keluar rumah dan bersosialisasi dengan tetangga karena

malas dan takut dicemooh. Pasien merasa lebih senang tinggal di Ngawi daripada di

NTT. Walaupun pasien sangat jarang bertemu dengan saudara dan orangtuanya.

II.3. Anamnesis Sistem

Tidak terdapat keluhan pada sistem lainnya.

II.4. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu

II.4.1. Faktor Psikososial (Stressor Psikososial)

II.4.2. Riwayat Penyakit Dahulu

II.3.2.1. Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya

Pasien berobat ke psikiater di Sragen selama 9 bulan dan rutin control.

Pasien juga pernah dibawa ke kilinik di Solo dan RS Moewardi di

Solo 2 bulan yang lalu, akan tetapi karena jauh, pasien berobat ke

psikiater di Sragen saja.

3 tahun yang lalu pasien pernah kejang 1 kali, durasi kejang 10 menit,

pasien terlihat kaku, setelah itu sadar kembali.

Pasien mempunyai riwayat asma, akan tetapi jarang kambuh.

Pasien belum pernah mondok sebelumnya.

II.5. Riwayat Keluarga

II.51. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat gangguan jiwa di keluarga.

II.5.3. Silsilah Keluarga

Keterangan :

: laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: meninggal

II.6. Riwayat Pribadi

II.6.1. Perkembangan

Prenatal dan perinatal

Menurut pengakuan pasien, ibu pasien saat mengandung pasien

dalam keadaan sehat. Pasien lahir di dukun beranak dengan

normal dan cukup bulan. Pasien mengaku anak kedua dari tiga

bersaudara.

0-3 tahun

Pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai anak seusianya.

3-11 tahun

Pasien selama masa sekolah termasuk anak yang cukup pintar.

Pasien termasuk anak yang pemalu dan penakut.

Remaja

Saat remaja, pasien disuruh orangtuanya untuk bekerja, akan

tetapi pasien sangat malas dan mudah lelah.

Dewasa

Pasien menikah saat usia 18 tahun, namun 2 kemudian pasien

diceraikan oleh istrinya.

II.6.2. Riwayat Pendidikan

Pasien tamat sekolah menengah pertama.

II.6.3. Riwayat Pekerjaan

Pasien bekerja sebagai petani.

II.6.4. Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual

Pasien mengaku sholat 2 kali sehari.

II.6.5. Riwayat Perkawinan

Pasien sudah menikah

II.7. Tingkat Kepercayaan anamnesis

o Autoanamnesis : Dapat dipercaya

II.8. Kesimpulan anamnesis

Masih sering terlihat bingung sejak 3 bulan yang lalu. Sering terlihat berbicara

sendiri dan pergi jauh sendiri. Pasien juga seringmendengar bisikan dikedua telinga

berupa suara yang mengajaknya pergi dan sering terlihat diam mematung, tidak

berespon saat dipanggil. Usia 13 tahun pasien pernah di rawat di RSJ solo selama 1

minggu dengan keluahan serupa, tidak melakukan pengobatan selama bertahun-

tahun.

PEMERIKSAAN FISIK

III.I. STATUS PRAESENS

III.I.I. Status Internus

Keadaan Umum : tampak baik

Bentuk Badan : normal

Berat Badan : 60 kg

Tinggi Badan : 160 cm

Tanda Vital

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 80 kali per menit

Respirasi : 20 kali per menit

Suhu : 36.5 ºC

Kepala : Dalam batas normal

Leher : Dalam batas normal

Thorax

Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal

Sistem Respirasi : Dalam batas normal

Abdomen

Sistem Gastrointestinal : Dalam batas normal

Sistem Urogenital : Dalam batas normal

Ekstremitas

Sistem Muskuloskeletal : rigiditas (-),waxy flexibility (-)

Sistem Integumentum : Dalam batas normal

Kesan Status Internus : Dalam batas normal

III.2. STATUS PSIKIATRI

Tanggal Pemeriksaan: 28 April 2014

III.2.1. Kesan Umum:kurang rapi, sesuai usianya

III.2.2. Kesadaran

Kuantitatif : Compos mentis

Kualitatif : Berubah

III.2.3. Orientasi Orang/Waktu/Tempat/Situasi: Terganggu

III.2.4. Sikap dan Tingkah Laku:Hiperaktif

III.2.5. Afek : Menyempit

III.2.6. Proses Pikir (Bentuk Pikir, Isi Pikir, Prognesis Pikir)

III.2.6.1. Bentuk Pikir : Non-Realistik

III.2.6.2. Isi Pikir :Waham bizarre (+)

III.2.6.3. Progresi Pikir : Asosiasi longgar, inkoheren (+)

III.2.7. Mood : Labil (+)

III.2.8. Persepsi : Halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+)

III.2.9. Memori : Terganggu

III.2.10. Insight : Derajat 1

IV. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA

Keadaan umum tampak baik, kesadaran kuantitatif compos mentis dan kualitatif

berubah, orientasi terganggu, psikomotor dan tingkah laku hiperaktif dengan afek

tumpul dan mood eutimi. Terdapat gangguan bentuk pikir yaitu non-realistik,

waham (+), terdapat kemiskinan isi pikir, halusinasi auditorik (+), memori

terganggu dengan insight derajat 1. Pada pemeriksaan ditemukan rigiditas

(+),waxy flexibility (+)

V. DIAGNOSIS

AKSIS I : (F20.1) Skizofrenia hebefrenik

AKSIS II : Kepribadian skizoid

AKSIS III : Belum ditemukan

AKSIS IV : Masalah keluarga dan pekerjaan

AKSIS V : Hightest level past year GAF 30

CurrentGAF 40

VI. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN

VI.1. Terapi Organobiologik

VI.1.1. Psikofarmaka

Risperidon 2 X 2 mg

Trihexyphenidyl 2 X 2 mg

VI.2. Psikoedukatif/Psikoterapi

Memberikan pengertian kepada keluarga mengenai penyakit yang dialami,

penyebab, prognosis yang terjadi serta pengertian agar selalu memberikan

dukungan kepada pasien seperti membantu pasien meminum obat, melakukan

kontrol rutin, serta memberikan lingkungan yang hangat.

VI.3. Rencana Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium :

1. Darah rutin

2. Tes fungsi hepar: SGOT dan SGPT

3. Tes Fungsi Ginjal:ureum dan kreatinin

CT Scan kepala

VII. PROGNOSIS

Dubia ad malam

Karena pasien mengalami onset pertama kali pada usia muda, riwayat sosial

buruk dan belum menikah.

PEMBAHASAN

1.1. Definisi Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari dua kata “Skizo” yang artinya retak atau pecah (spilt),

dan “frenia” yang artinya jiwa, dengan demikian skizofrenia adalah orang yang

mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality)

(Hawari, 2003). Skizofrenia merupakan istilah yang digunakan untuk

menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya

perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang

jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit

kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Sadock, 2003).

Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu

gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan

pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam

perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan,

‘miskin’ kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak

acuh, sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif.

1.2. Epidemiologi

Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di

berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir

sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan

biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki

biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada

perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi

pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan

daerah rural (Sadock, 2003).

1.3. Etiologi

Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab

skizofrenia, antara lain :

1.3.1. Faktor Genetik

Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya

skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga

penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi

saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 – 15%; bagi anak dengan salah

satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%; bila kedua orangtua menderita

skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu

telur (monozigot) 61 – 86%.

Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut

quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan

oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh

kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada

orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa

risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya

jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).

1.3.2. Faktor Biokimia

Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang

disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron

berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal

dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu

otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli

yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk

skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine

tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).

1.3.3. Faktor Psikologis dan Sosial

Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama

semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-

anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja

& Sutardjo, 2005). Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam

keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah

schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang

ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi

penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).

Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga

pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian.

Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi

kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit

dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang

dibutuhkannya.

1.4. Perjalanan Penyakit

Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu.

Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa

fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan keadaan residual

(Sadock, 2003; Buchanan, 2005).

Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia,

walaupun gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala

skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan

diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa hari

sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas,

gundah (gelisah), merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien

dengan skizofrenia menyatakan bahwa sebagian penderita mengeluhkan gejala

somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah

pencernaan (Sadock, 2003).

Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis,

yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien

skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri (tilikan) buruk sampai

tidak ada. Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis

skizofrenia. Yang tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata

secara klinis, yaitu dapat berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh

(Buchanan, 2005).

1.5. Pedoman Diagnostik BerdasarkanPedoman Penggolongan dan Diagnosis

Gangguan Jiwa III (PPDGJ III)

1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. – Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam

kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,

namun kualitasnya berbeda, atau

Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk

kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh

sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan

Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau

umumnya mengetahuinya.

b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar atau

Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar atau

Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah

terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke

pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan

khusus).

Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang

bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik dan mukjizat.

c. Halusional Auditorik ;

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku

pasien .

Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai

suara yang berbicara atau

Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan

agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia

biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan

mahluk asing atau dunia lain).

2. Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik

oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa

kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-

valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama

berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.

f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak

relevan atau neologisme.

g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh

tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan

stupor.

h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional

yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri

dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa

semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

3. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu

satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);

4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal

behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak

berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan

penarikan diri secara sosial.

F20.0 Skizofrenia Paranoid

1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

2. Sebagai tambahan :

Halusinasi dan/ waham arus menonjol;

a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau

halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),

mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).

b) (b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau

lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang

menonjol.

c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan

(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity

(delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,

adalah yang paling khas;

Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik

secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

F20.1 Skizofrenia Hebefrenik

1. Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia

2. Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau

dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).

3. Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary),

namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas

berikut ini.

4. Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3

bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang

benar bertahan :

perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta

manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku

menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan.

Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai

oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum

sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa

menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau

(pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang

diulang-ulang (reiterated phrases).

proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu

(rambling) dan inkoherens

5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya

menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and

fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang

bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa

tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa

maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat

dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin

mempersukar orang memahami jalan pikirannya.

F20.2 Skizofrenia Katatonik

1. Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

2. Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :

a) stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam

gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara).

b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak

dipengaruhi oleh stimuli eksternal).

c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan

mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh).

d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua

perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang

berlawanan).

e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya

menggerakkan dirinya).

f) Fleksibilitas cerea / ”waxy flexibility” (mempertahankan anggota gerak dan

tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar).

g) Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan secara otomatis

terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.

3. Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan

katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti

yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.

Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk

diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit

otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi

pada gangguan afektif.

F20.3 Skizofrenia Tak terinci (undifferentiated )

1. Memenuhi kriteria umu untuk diagnosa skizofrenia.

2. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik.

3. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca

skiszofrenia

F20.5 Skizofrenia Residual

1. Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan , persyaratan berikut harus di penuhi

semua:

a) Gejala “Negatif” dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan

psikomotorik, aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan

ketidak adaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,

komunikasi non verbal yang buruk, seperti ekspresi muka, kontak mata,

modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang

buruk.

b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang

memenuhi kriteria untuk diagnosa skizofrenia.

c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan

frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat

berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.

d) Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya,

depresi kronis atau institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif

tersebut.

F20.6 Skizofrenia Simpleks

1. Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada

pemantapan perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari:

Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat

halusinasi waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik.

Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,

bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat

sesuatu tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.

2. Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type

skisofrenia lainnya.

1.6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi

psikososial.

1.6.1. Terapi Biologis

Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan

menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian

otak. Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala

skizofrenia (Durand, 2007).

Obat anti psikosis ini dibedakan menjadi dua golongan, karena terjadi

perbedaan mekanisme kerja yang terjadi pada kedua obat ini. Obat tipikal hanya

bekerja sebagai Dopamine D2 receptor antagonis yaitu mem-blokade Dopamine pada

reseptor pasca-sinaptik neuron di Otak, khususnya di sistem limbik dan sistem

Ekstrapiramidal. Sedanglan Obat yang atipikal, pada Dopamine D2 Receptor dan

Serotonin 5 HT2 Receptor. Perbedaan yang terjadi tersebut menyebabkan jika Obat

Anti-Psikosis Tipikal lebih efektif untuk mengobati Gejala Positif saja dan Anti-

Psikosis Atipikal efektif mengobati Gejala Positif dan Negatif, karena pada atipikal

selain bekerja pada Dopamin D2 Receptor juga bekerja pada Serotonin 5 HT

Receptor.

Antipsikosis tipikal memiliki kemungkinan efek samping ekstrapiramidal lebih besar.

Contoh obat golongan ini ialah haloperidol, clorpomazine, perphenazine,

trifluophenazine, thioridazine.Sedangkan antipsikotik atipikal contohnya ialah

clozapine, olanzapine, quentiapine, zotepine (ludopin), risperidone dan apiprazole.

Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock pada

penatalaksanaan terapi biologis. Pada akhir 1930-an, electroconvulsive therapy (ECT)

diperkenalkan sebagai penanganan untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini telah menjadi

pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. ECT ini

digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk

skizofrenia.

Menurut Fink dan Sackeim (1996) antusiasme awal terhadap ECT semakin

memudar karena metode ini kemudian diketahui tidak menguntungkan bagi sebagian

besar penderita skizofrenia meskipun penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga

saat ini. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT

merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak

bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan

ketidaksadaran sementara, serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya

ingatan setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan

otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Durand, 2007).

Pada terapi biologis lainnya seperti pembedahan bagian otak Moniz (1935,

dalam Davison, et al., 1994) memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses

operasi primitif dengan cara membuang “stone of madness” atau disebut dengan batu

gila yang dianggap menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara

ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada

penderita yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini

ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya,

otak tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.

1.6.2. Terapi Psikososial

Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi

pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan

menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada

pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini

merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang

dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok

dan terapi keluarga (Durand, 2007).

Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi

ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai

fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Para peserta terapi saling

memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta diposisikan

pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi, sehingga dapat

memperkaya pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.

Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok.

Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan

tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapan-

ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.

Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan

perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan

jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi

pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari

beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al., 1994;

Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses

penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita,

dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.

1.7. Prognosis

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari periode 5 sampai 10

tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit karena skiofrenia,

hanya kira-kira 10-20 % pasien dapat digambarkan memliki hasil yang baik.Lebih

dari 50% pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang buruk, dengan perawatan di

rumah sakit yang berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood berat, dan

usaha bunuh diri. Walaupun angka-angka yang kurang bagus tersebut, skizofrenia

memang tidak selalu memiliki perjalanan penyakit yang buruk, dan sejumlah faktor

telah dihubungkan dengan prognosis yang baik.

Rentang angka pemulihan yang dilaporkan didialam literatur adalah dari 10-60%

dan perkiraan yang beralasan adalah bahwa 20-30% dari semua pasien skizofrenia

mampu untuk menjalani kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20-30% dari pasien

terus mengalami gejala yang sedang,dan 40-60% dari pasien terus terganggu scara

bermakna oleh gangguannya selama seluruh hidupnya.

Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:

1. Usia pertama kali timbul (onset): makin muda makin buruk.

2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.

3. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.

4. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.

5. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.

6. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.

7. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek.