24
I LATAR BELAKANG puskesmas merupakan unit pelaksana teknik dinas kesehatan kabupaten / kota yang bertanggung jawab dalam meyelnggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan, puskesmas bertanggung jawab meyelenggarakan upaya kesehatan per orangan dan upaya kesehatan masyarakat, ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sebagai salah satu perangkat pemerintah yang berkecimpung dalam kesehtan, puskesmas memiliki program kesehtan jiwa yang bertugas untuk melakukan pemberantasan penyakit dan membantu pemeliharaan kesehtan jiwa salah satu nya skizofrenia paranoid. Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, seyogianya kedudukannya setara dengan penyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien. Gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju, modern dan indrustri keempat kesehatan utama tersbut adalah penyakait degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak di anggap sebagai gangguan jiwa yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalamarti ketidak mampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien (Yosep, 2007). Skizofrenia merupakan psikosis fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas terbesar, pasien tidak mempunyai realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal di Rumkital Dr. Ramelan PAV VI A terdapat 16 klien (100%) dan ada 4 klien yang mengalami gangguan Skizofrenia Paranoid (25%) . Di Indonesia, sekitar 1%– 2% dari total jumlah penduduk mengalami skizofrenia yaitu mencapai 3 per 1000 penduduk, prevalensi 1,44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk di pedesaan berarti jumlah penyandang skizofrenia 600.000 orang produktif.

Chn Anggun Skizo Paranoid

  • Upload
    anzzun

  • View
    29

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

test

Citation preview

I LATAR BELAKANG

puskesmas merupakan unit pelaksana teknik dinas kesehatan kabupaten / kota yang bertanggung jawab dalam meyelnggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan, puskesmas bertanggung jawab meyelenggarakan upaya kesehatan per orangan dan upaya kesehatan masyarakat, ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sebagai salah satu perangkat pemerintah yang berkecimpung dalam kesehtan, puskesmas memiliki program kesehtan jiwa yang bertugas untuk melakukan pemberantasan penyakit dan membantu pemeliharaan kesehtan jiwa salah satu nya skizofrenia paranoid.Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, seyogianya kedudukannya setara denganpenyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambatpembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien. Gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju, modern dan indrustri keempat kesehatan utama tersbut adalah penyakait degeneratif, kanker, gangguanjiwa dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak di anggap sebagai gangguanjiwa yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalamarti ketidak mampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisien (Yosep, 2007).

Skizofrenia merupakan psikosis fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas terbesar, pasien tidak mempunyai realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal di Rumkital Dr. Ramelan PAV VI A terdapat 16 klien (100%) dan ada 4 klien yang mengalami gangguan Skizofrenia Paranoid (25%) . Di Indonesia, sekitar 1%2% dari total jumlah penduduk mengalami skizofrenia yaitu mencapai 3 per 1000 penduduk,prevalensi 1,44 per 1000 penduduk di perkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk di pedesaanberarti jumlah penyandang skizofrenia 600.000 orang produktif.Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaranatau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 2005). Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998),yang mengatakan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.II. PERMASALAHAN

Permasalahan yang ada berupa pasien tidak mau minum obat secera teratur dan orang tua pasien belum memahami secara benar prinsip pengobatan pasien. Dilakukan anamnesis pada tanggal Identitas pasien

Nama

: Tn. P

Umur

: 37 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Agama

: Islam

Status Pernikahan: Belum menikah

Suku

: Jawa

Keluhan Utama

: Sering marah marah dan tidak mau minum obat lagi.

Riwayat Gangguan Sekarang

Pasien sering marah marah kepada keluarga dan orang orang atau tetangganya tanpa sebeba yang jelas, pasien merasa bahwa orang orang di sekitar rumah atau tetangganya membicarakan hal hal tidak baik tentang dirinya. Perasaan ini dirasakan sejak satu bulan yang lalu. Pasien berfikiran bahwa orang orang sekitarnya atau tetangganya menghina pasien. Pasien juga tidak berani lagi ke luar rumah, karena pasien merasa diledek, dibicarakan, dan dimarahi oleh tetangga sekitar rumah, namun saat ditanyakan tetangga mengaku tidak ada yang meledek, membicarakan, maupun marah dengan pasien. Pasien menjadi kurang bersosialisasi dengan tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Selain itu, menurut orang-orang sekitar pasien, pasien sering berbicara melantur, tetapi pasien menyangkalnya. Pasien juga merasa mendengar suara bisikan-bisikan Suara bisikan tersebut macam-macam, ada yang meledek dan ada yang memerintah pasien untuk bekerja. Selain itu, ada pula suara bisikan yang memerintah pasien untuk merusak atau mendestruksi, seperti mematahkan alat dapur dll. . Pasien merasa sosok di cermin kadang terlihat tampan, namun juga kadang terlihat lebih jelek dari pada dirinya

Satu tahun yang lalu, pasien pernah mengalami keluhan seperti ini. Saat itu, pasien sempat berhenti bekerja. Pasien lalu konsultasi ke psikiatri dan diberikan obat. Setelah minum obat dengan rutin, pasien merasa keluhan-keluhannya menghilang, dan pasien mulai bekerja kembali. Setelah itu, keluhan kembali muncul empat bulan yang lalu dan sempat dirawat di RSJ Pondok Kopi, sejak satu bulan terakhir ini keluhan pasien muncul kembali karena pasien tidak rmau minum obat. Pasien berhenti minum obat karena ada bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk berhenti minum obat. Pasien juga tidak mau minum obat, karena kalau minum obat badan pasien menjadi lemas dan sering mengantuk.

Pasien pernah berobat ke dokter lain hingga dilakukan pemeriksaan darah, namun dari hasil pemeriksaan laboratorium tidak didapatkan hasil yang abnormal. Pasien mengaku menyangkal mengonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol.

Menurut Ibu pasien salah satu anggota keluarga pasien, yaitu kakeknya, pernah dibawa ke psikiatri untuk berkonsultasi. Namun ibu pasien tidak tahu pasti apa penyakit yang diderita oleh kakeknya tersebut.

Menurut keterangan ibu pasien, dahulu pasien dilahirkan secara normal. Pertumbuhan dan perkembangan pasien sejak masa bayi, kanak-kanak, hingga menjadi dewasa normal seperti biasa. Pasien tidak pernah sakit berat saat masih anak-anak.

Pasien merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara. Pasien memiliki 2 orang kakak laki laki dan 1orang adik perempuan. Kedua kakak pasien sudah berkeluarga. Sebelumnya, hubungan pasien dengan kakak dan adik cukup harmonis. Namun, sejak 1 tahun yang lalu mengalami keluhan pertama kali, pasien menjadi sering bertengkar dengan kakak dan adiknya. Hubungan pasien dengan ibunya cukup dekat. Ibu pasien selalu memberikan dukungan agar pasien dapat sembuh seperti sedia kala.

Selama menempuh jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA, pasien selalu naik kelas dengan prestasi bagus. Pasien tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena persoalan ekonomi. Selama bersekolah dahulu, pasien cukup bisa bersosialisasi dengan teman-teman sekolahnya sehingga memiliki beberapa teman dekat. Pasien saat ini tinggal di rumah keluarga. Pasien tinggal bersama ibu dan 1 orang adiknya yang berusia 27 tahun. Sebelum mengalami keluhan 1 tahun yang lalu, pasien sempat bekerja di salah satu perusahaan pabrik. Namun, saat ini pasien sudah berhenti bekerja. Pasien masih mampu mengerjakan aktivitasnya sehari-hari sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun, pasien sudah tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga, karena ada bisikan-bisikan yang memerintah pasien agar tidak usah melakukannya. Di rumah, pasien hanya tidur-tiduran dan menonton televisi.

Pasien menjadi takut untuk makan karena pasien selalu merasa curiga kalau makanan yang disediakan oleh ibunya mengandung racunnya. Pasien pernah mendapat bisikan-bisikan bahwa makanan yang akan dimakannya basi, tidak sehat, dan ada racunnya, sehingga pasien menolak makan karena takut ada efek sesuatu.Pasien memiliki pemahaman bahwa dirinya sakit, namun tidak tahu penyakit apa yang dideritanyaRIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYAa) Riwayat Gangguan Psikiatri

Satu tahun yang lalu dirawat di RSJ Pondok kopi dengan keluhan yang sama, pasien berkonsultasi dengan dokter psikiatri dan dirawat disana dan diberikan obat. Setelah itu pasien teratur minum obat, keluhan hilang dan pasien mulai bekerja kembali.

Empat bulan yang lalu pasien dirawat kembali di RSJ Pondok kopi lagi dengan keluhan yang sama. Kemudian pasien pulang kerumah setelah satu bulan dirawat di RSJ tersebu, keluhan hilang, namun pasien sudah tidak bekerja lagi.

b) Riwayat Gangguan Medis

Tidak ada riwayat gangguan medis sebelumnya.

c) Riwayat gangguan zat psikoaktif / alkohol

Riwayat mengkonsumsi zat pskioaktif atau alkohol disangkal oleh pasien dan keluarga

Riwayat Premorbid:

a) Masa prenatal dan perinatal

Terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, selama mengandung ibu pasien tidak mempunyai penyakit fisik yang serius. Lahir spontan, cukup bulan, ditolong oleh dukun, langsung menangis, tidak ada riwayat kejang.

b) Masa kanak kanak awal ( 0-3 tahun )

Tumbuh dan berkembang sehat seperti anak pada usiannya. Tidak terdapat gangguan perkembangan pada pasien.

c) Masa kanak pertengahan ( 3 11 tahun )

Tumbuh dan berkembang sehat seperti anak lainnya, memiliki banyak teman, presentasi sekolah rata normal.

d) Masa dewasa

Mudah bergaul dan punya banyak teman.

Riwayat Pendidikan

Pesien menempun jenjang SD, SMP dan SMA dengan baik. Namun pasien tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dikarenakan keterbatasan biyaya. Presentasi saat bersekolah baik dan selalu naik kelas.

Riwayat Pekerjaan

Satu tahun yang lalu, sejak keluhan pertama kali menghilang setelah minum obat, pasien sempat bekerja di sebuah pabrik. Namun, empat bulan yang lalu pasien berhenti bekerja, karena menurut pasien iya bosan dengan pekerjaannya sejak saat itu pasien hanya berdiam diri dirumah tanpa aktifitas tertentu.

Riwayat Pernikahan

Pasien belum menikah.

Ekonomi

Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dan keluarganya dipenuhi oleh penghasilan dua kakak pasien dan satu adik pasien. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti listrik, PAM dan makan. Pasien dan keluarganya punya BPJS.

Fungsi Religius

Pasien dan dan keluarga yang lain memeluk agama Islam, keluarga yang lain menjalankan ibadah agama secara rutin. Penerapan nilai agama dalam keluarga cukup baik.

Aktivitas Sosial

Pasien jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitar karena pasien merasa dibicarakan, diledeki oleh tetanggannya.

Semenjak berhenti dari pekerjaan pasien hanya berdiam dikamar dan kurang beraktifitas bahkan jarang keluar kamar hanya untuk berbincang dengan keluarga dirumah jarang.

Pasien pernah mengikuti kegiatan pencak silat organisasi bela diri selama beberapa tahun namun pasien keluar dari organisasi tersebut dikatakan oleh orang tuannya pasien keluar Karena pernah mengalami trauma fisik.

Hubungan Dengan Keluarga

Pasien saat ini tinggal di rumah bersama ibu dan satu saudara kandunnya. Hubungan pasien dengan ibu pasien cukup dekat, hanya saja pasien kurang dekat dengan kakak kandungnya, namun keluarga mendukung dalam usaha mengobati pasien. Pasien terkadang merasa curiga dengan keluarga terutama dengan ibu dan adik kandungnya yang tinggal serumah dengan pasien.

Riwayat Keluarga

Menurut ibu pasien, Kakek pasien memiliki riwayat pernah berkonsultasi dengan psikiatri, namun ibu pasien tidak tahu pasti penyakit kakek pasien.

Profil Keluarga yang Tinggal Satu Rumah

NoNamaKedudukan dalam KeluargaJKUmur (th)PendidikanPekerjaanKeterangan

1.Ny. NKKP56SDIRTSehat

2.Tn. PAnak KKL37SMAKaryawanSakit

3.Nn. TAnak KKP27SMATidak bekerja Sehat

Keterangan

1. Kakek dari ayah pasien

8. Kakak ke dua pasien2. Nenek dari ayah pasien

9. Pasien

3. Kakek dari ibu pasien

10. Adik pasien

4. Nenek dari ibu pasien

5. Ayah pasien

6. Ibu pasien

7. Kakak pertama pasienSTATUS MENTAL

A. DESKRIPSI UMUM1. Penampilan

Pasien laki laki berusia 37 tahun, penampilan tampak sesuai dengan usianya, berpakaian cukup rapi, perawatan diri baik, ekspresi tenang, proporsi tubuh normal, dan warna kulit sawo matang.

2. Kesadaran

Kesadaran umum:compos mentis

Kontak psikis:dapat dilakukan dan mampu berkomunikasi dengan baik

3. Perilaku dan aktivitas psikomotor

Cara berjalan:baik

Aktivitas psikomotor:pasien kooperatif, tenang, kontak mata kurang baik, tidak terdapat gerakan involunter, dan mampu menjawab pertanyaan dengan baik.

4. Pembicaraan

Kuantitas:baik, pasien mampu menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik dan mampu mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.

Kualitas:bicara spontan, artikulasi jelas, volume bicara sangat pelan, pembicaraan terarah dan dapat dimengerti.

5. Sikap terhadap pemeriksa

Pasien kooperatif dan bisa diajak berkomunikasi.

B. KEADAAN AFEKTIFMood:Depresi

Afek:Tumpul

C. FUNGSI INTELEKTUAL/KOGNITIF1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan

a. Taraf pendidikan

Riwayat pendidikan pasien baik, mulai dari SD, SMP, SMA. Prestasi saat bersekolah baik dan pasien selalu naik kelas.

b. Pengetahuan umum

Baik, pasien mampu menjawab dengan tepat saat ditanya mengenai siapa presiden Indonesia yang terpilih.

c. Kecerdasan

Baik, pasien mampu menjawab dengan tepat saat ditanya mengenai soal berhitung.

2. Daya konsentrasi

Baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal hingga selesai. Selain itu, pasien juga menjawab dengan benar pertanyaan soal berhitung.

3. Orientasi

a. Waktu

Baik, pasien mengetahui waktu saat pagi hari.

b. Tempat

Baik, pasien mengetahui bahwa dirinya sedang berada di rumah.

c. Orang

Baik, pasien mengetahui bahwa pemeriksa adalah dokter.

d. Situasi

Cukup baik, pasien mengetahui bahwa dirinya sedang berkonsultasi dengan pemeriksa.4. Daya ingat

a. Daya ingat jangka panjang

Baik, pasien dapat mengingat bahwa dahulu pasien bersekolah SD di jawa tengah.

b. Daya ingat jangka pendek

Baik, pasien dapat mengingat bahwa pasien kemarin makan dengan lauk ikan dan sayur asem.

c. Daya ingat segera

Baik, pasien dapat menyebutkan kembali 5 nama kota yang disebutkan oleh pemeriksa secara berurutan, yaitu Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

d. Akibat hendaya daya ingat

Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien.

5. Kemampuan menolong sendiri

Baik, pasien dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan mampu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.D. GANGGUAN PERSEPSI1. Halusinasi dan ilusi

Halusinasi:Terdapat halusinasi auditorik visual pasien mendengar bisikan-bisikan seperti meledek dan memerintah dll.Ilusi:tidak terdapat ilusi

2. Depersonalisasi dan derealisasi

Depersonalisasi:terdapat depersonalisasi, saat bercermin pasien merasa sosok di cermin bukan dirinya

Derealisasi:tidak terdapat derealisasiE. PROSES BERPIKIR1. Arus pikir

Produktivitas:baik, pasien mampu menjawab spontan saat diajukan pertanyaan oleh pemeriksa.

Kontinuitas:baik, pembicaraan dengan pasien sampai ke tujuan, pasien menjawab pertanyaan dengan cukup jelas.

2. Isi pikiran

Preokupasi:tidak ada.

Gangguan pikiran : Terdapat waham kejar pasien selalu curiga akan segala hal berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, di ikuti, serta diawasi oleh tetangganya atau lingkungan sekitarnnya. Pasien berfikiran bahwa orang orang sekitarnya atau tetangganya menghina pasien. Pasien juga tidak berani lagi ke luar rumah, karena pasien merasa diledek, dibicarakan, dan dimarahi oleh tetangga sekitar rumah, namun saat ditanyakan tetangga mengaku tidak ada yang meledek, membicarakan, maupun marah dengan pasien.

Pasien juga tidak mau makan makanan dan minuman yang disediakan oleh ibunnya karen pasien menggap ada racunnya, sehingga pasien menolak makan dan minum karena takut ada efek sesuatu.F. PENGENDALIAN IMPULSBaik, pasien mampu mengendalikan dirinya sendiri serta melakukan wawancara dengan baik.G. DAYA NILAI1. Norma sosial

Norma sosial pada pasien kurang baik, pasien kurang mampu bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya.

2. Uji daya nilai

Uji daya nilai pada pasien baik, ketika pasien diberikan pertanyaan perumpamaan jika saat berbelanja di mall, lalu anda melihat seorang anak kecil tersesat, apa yang akan anda lakukan?, pasien menjawab akan saya bawa ke pos satpam atau bagian informasi.

3. Penilaian realitas

Terdapat gangguan penilaian realitas pada pasien, yaitu adanya waham curiga.

H. PERSEPSI PEMERIKSA TERHADAP PASIENPasien saat ini sadar bahwa dirinya sakit, namun pasien tidak mengetahui apa penyebabnya. Pasien tidak patuh minum obatnya.

I. TILIKAN/INSIGHTTilikan derajat 2, dimana pasien menyadari dirinya sakit namun menyangkalnya.

J. TARAF DAPAT DIPERCAYAPemeriksa memperoleh kesan secara menyeluruh bahwa jawaban pasien dapat dipercaya, karena pasien konsisten dalam menjawab pertanyaan.I. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS GENERALISKeadaan umum:baik, compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah:110/80 mmHg

Frekuensi nadi:84 kali/menit

Frekuensi nafas:24 kali/menit

Suhu:afebris

Bentuk badan:kesan dalam batas normal

Sistem kardiovaskular:kesan dalam batas normal

Sistem respiratorius:kesan dalam batas normal

Sistem muskuloskeletal:kesan dalam batas normal

Sistem gastrointestinal:kesan dalam batas normal

Sistem urogenital:kesan dalam batas normal

Gangguan khusus:kesan dalam batas normal

B. STATUS NEUROLOGISSaraf kranial:kesan dalam batas normal

Saraf motorik:kesan dalam batas normal

Sensibilitas:kesan dalam batas normal

Susunan saraf vegetatif:kesan dalam batas normal

Fungsi luhur:kesan dalam batas normal

Gangguan khusus:kesan dalam batas normal

II. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

III. FORMULASI DIAGNOSISBerdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien, terdapat sekelompok gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan bermakna sehingga menyebabkan penderitaan (distress) dan terganggunya fungsi (disfungsi/hendaya). Oleh karena itu, pasien dikatakan menderita gangguan jiwa.

Diagnosis aksis I

Pada pasien ini, tidak terdapat penyakit atau gangguan fisik atau kondisi medis yang dapat menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari tingkat kesadaran, fungsi kognitif, daya konsentrasi, dan orientasi pasien yang masih baik, sehingga pasien bukan tergolong penderita gangguan mental organik (F.0).

Pada pasien ini, tidak didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif ataupun alkohol bukan tergolong penderita gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (F.1).

Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita sehingga pasien tergolong penderita gangguan psikotik (F.2).

Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita yang sudah berlangsung lebih dari 1 bulan, sehingga pasien tergolong penderita skizofrenia (F.20).

Pada pasien ini, ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita yang berupa halusinasi auditorik, waham kejar, sehingga pasien tergolong penderita skizofrenia paranoid (F.20.0).

Diagnosis aksis II

Pada pasien ini, tumbuh kembangnya normal. Sebelum sakit, pasien masih dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga pasien dikatakan tidak terdapat gangguan kepribadian. Pasien menyelesaikan jenjang pendidikannya hingga SMA dan selama bersekolah selalu naik kelas dengan prestasi baik. Selain itu, fungsi kognitif pasien juga baik, sehingga dikatakan tidak terdapat retardasi mental. Oleh karena tidak terdapat gangguan kepribadian maupun retardasi mental, tidak ada diagnosis aksis II pada pasien.

Diagnosis aksis III

Pada pasien ini tidak didapatkan gangguan medis, maka tidak ada diagnosis aksis III pada pasien.

Diagnosis aksis IV

Pasien seorang laki laki berusia 37 tahun. Pasien belum menikah dan saat ini tinggal dengan ibu dan adiknya, hubungan dengan keluarga kurang. Pasien juga sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa pasien memiliki masalah keluarga dan masalah kurang dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Diagnosis aksis V

Pada pasien ini didapatkan gejala sedang dengan disabilitas sedang, sehingga dinilai GAF scale 60-51 pada pasien.IV. EVALUASI MULTIAKSIALAksis I:Skizofrenia paranoid

Aksis II:Tidak ada diagnosis

Aksis III:Tidak ada diagnosis

Aksis IV:Masalah keluarga (hubungan dengan keluarga kurang harmonis) dan masalah sosial (sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar)

Aksis V:GAF scale 60-51

V. DAFTAR PROBLEMOrganobiologis:Dugaan genetik dari kakeknya

Psikologis:Pasien merasa mendengar bisikan-bisikan yang sangat mengganggu. Pasien juga tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Pasien memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan keluarganya.

Sosioekonomi:Tidak ada

VI. PROGNOSISPrognosis ke arah baik:

1. Pasien mempunyai keinginan untuk sembuh.

2. Pasien mendapat dukungan dari ibunya dan keluarganya untuk sembuh seperti sedia kala.

Prognosis ke arah buruk:

1. Pasien memiliki kakeknya yang pernah riwayat pengobatan psikiater

2. Hubungan pasien dengan keluarganya kurang harmonis.

3. Pasien memiliki psikopatologi yang cukup banyak.

4. Kepatuhan minum obat pasien saat sakit pertama kali dahulu buruk, sehingga keluhan kambuh.

Berdasarkan data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa prognosis pasien:

Ad vitam:ad bonam

Ad functionam: dubia

Ad sanationam:dubia ad malam

PENGAMATAN RUMAH

Terletak di daerah pemukiman padat penduduk, rumah dengan 4 kamar. Luas rumah x m, terdapat dua buah kamar dengan ukuran yang sama. Rumah beratapkan genteng dan berlantaikan keramik. Di dalam rumah, keadaan rumah cukup rapi.

Rumah ini memiliki 1 ruang tamu sekaligus ruang keluarga, 3 kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi yang terdapat jamban didalamnya. Ventilasi dan pencahayaan bersumber dari 1 buah pintu depan dan 2 buah jendela di bagian ruang tamu. Sirkulasi udara dan pencahayaan cukup baik untuk ruang tamu, sedangkan ruangan lain sirkulasi udara dan pencahayaan kurang.Sumber air bersih keluarga diperoleh dari sumur. Tempat pembuangan pasien dan keluarga membuang sampah dengan memasukkan sampah ke tempat sampah yang nantinya dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir.Untuk limbah rumah tangga dialirkan ke saluran disekitar rumahnya, saluran limbah disekitar rumah tertutup. Untuk tempat pembuangan sampah diluar ada, jalan didepan rumah memiliki lebar 2 m. Kesan kebersihan lingkungan disekitar rumah kurang baik.III Perencanaan Pemilihan Intervensi

Metode penyuluhan secara langsung kepada orang tua dan angguta keluarga yang lain yang berhubungan langsung dengan pasien dipilih sebagai intervensi yang akan paling efektif. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengetahui apa saja penyebab, gejala, pengelolaan dari skizofrenia paranoid dan bagaimana mencegah agar penyakit tetap terkontrol.

Intervensi dilakukan dengan cara melakukan home visite ( kunjungan rumah ) dan melakukan wawancara secara lansung kepada orang tua pasien, keluarga dan pasien. Kemudian dilakukan suatu edukasi kepada orang tua pasien mengenai skizofrenia paranoid, bahwasannya :

1. skizofrenia paranoid adalah gangguan psikotik yang disebabkan oleh kelainan pada otak yang kemudian memunculkan kesalahan presepsi pada panca indra selanjutnya mengakibatkan gangguan yang khas dalam berfikir ( delusi ), persepsi ( halusinasi), pembicaraan, emosi dan prilaku.

2. penyebab dari skizofrenia antara lain seperti keturunan, virus dan gangguan perkembangan saat kehamilan dll.

3. Gejalannya antara lain sebuah kondosi yang menyebabkan seseorang seolah kehilangan kepercayaan atas dirinnya, perasaan takut pada sesuatu yang tidak nyata, kekhawatiran depressi, rasa curiga yang mendalam dan datang terus menerus. Munculnya halusinasi yang intens pada panca indra, seolah nyata dan terasa menyerang hingga muncul rasa takut yang tidak terkontrol.

4. Perawatan pada pasien skizofrenia paranoid antara lain teknik prilaku dengan memberikan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Memberikan banyak interaksi dengan keluarga.

5. Pencegahan agar menurunkan kekambuhan antara lain dengan selalu memberikan edukasi agar penderita rajin minum obat dan dukungan penuh dari keluarga dapat mengurangi kekambuhan.

1. PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATANTanggalKegiatan yang dilakukanKeluarga yang terlibatHasil Kegiatan

Maret 2015Perkenalan dengan pasien dan ibu pasien, Melakukan anamnesis pemeriksaan fisik kepada pasien dan ibu pasien di rumah.Pasien dan ibu pasien Mendapatkan diagnosis kerja pasien

April 2015 Mengamati keadaan kesehatan rumah dan lingkungan sekitar Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien mengenai penyakit yang diderita oleh pasien. Memberikan penyuluhan tentang skizofrenia paranoidPasien dan keluarga pasien

Keluarga pasien diharapkan dapat memahami penjelasan yang diberikan dan keluarga diharapkan dapat membantu dam menerapkan tentang perawatn pada pasien skizofrenia paranoid untuk kesembuhan pasien

2. KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA

Tingkat pemahaman:

Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik.

Faktor pendukung:

Keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan tentang kondisi anak dengan gizi buruk. Faktor penyulit :

Keadaan ibu dimana pernah diketahui ibu pasien menderita gangguan mental, yang menyebakan kurangnya kepedulian dalam merawat anaknya Indikator keberhasilan : meningkatnya status gizi pasien

4

1

2

3

6

5

10

8

7

9