of 24 /24
KATA PENGANTAR Tiada kata yang pantas kami ucapkan terkecuali syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Character Building. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan pembelajaran dan pedoman dalam kehidupan kita sehari- hari. Tema dari makalah ini kami mengambil tentang LINGKUNGAN dan INTERAKSI SOSIAL. Objek yang kami pilih untuk di wawancara adalah WARIA PENGAMEN JALANAN. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada Ibu Dosen yang telah memberi motivasi dan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. dan teman- teman yang telah memberikan support beserta do’anya sampai makalah ini terselesaikan. Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami Character Building Page II

Interaksi Sosial Waria

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tugas Character Building Interaksi Sosial

Text of Interaksi Sosial Waria

KATA PENGANTARTiada kata yang pantas kami ucapkan terkecuali syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Character Building. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan pembelajaran dan pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari. Tema dari makalah ini kami mengambil tentang LINGKUNGAN dan INTERAKSI SOSIAL. Objek yang kami pilih untuk di wawancara adalah WARIA PENGAMEN JALANAN.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada Ibu Dosen yang telah memberi motivasi dan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. dan teman-teman yang telah memberikan support beserta doanya sampai makalah ini terselesaikan.

Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Tangerang Selatan, April 2014Penyusun

DAFTAR ISIHALAMAN SAMPUL

KATA PENGANTARI

DAFTAR ISIII

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang1

I.2. Tujuan1

I.3. Metode Penulisan1

I.4. Sistematis Penulisan1

BAB II. PEMBAHASAN

II.1. Profesi Tukang Parkir2

II.2. Biografi Tukang Parkir2-3

II.3. Wawancara Dengan Tukang Parkir3-4

II.4. Peranan Retribusi Tukang Parkir Dalam Lingkungan dan Interaksi Sosial4

II.5. Pro dan Kontra Adanya Tukang parkir5-6

II.6. Hasil perbandingan antara parkir jalan dengan parkir resmi7

BAB III. PENUTUP

III.1. Kesimpulan8

III.2. Saran8

Gallery Photo Observasi8-9

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUANI.1. Latar BelakangMakalah ini bertemakan Sikap & Perilaku Sosial Profesi Waria Pengamen Jalanan. Mengapa kami mengambil tema ini? Hampir semua orang mengenal waria (wanita tapi pria), waria adalah individu yang memiliki jenis kelamin laki-laki tetapi berperilaku dan berpakaian seperti layaknya seorang perempuan. Waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, namun demikian jumlah waria semakin hari semakin bertambah, terutama di kota-kota besar. Bagi penulis waria merupakan suatu fenomena yang menarik untuk diteliti karena dalam kenyataannya, tidak semua orang dapat mengetahui secara pasti dan memahami mengapa dan bagaimana perilaku waria dapat terbentuk.Perilaku waria tidak dapat dijelaskan dengan deskripsi yang sederhana. Konflik identitas jenis kelamin yang dialami waria tersebut hanya dapat dipahami melalui kajian terhadap setiap tahap perkembangan dalam hidupnya. Setiap manusia atau individu akan selalu berkembang, dari perkembangan tersebut individu akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologis. Salah satu aspek dalam diri manusia yang sangat penting adalah peran jenis kelamin. Setiap individu diharapkan dapat memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Keberhasilan individu dalam pembentukan identitas jenis kelamin ditentukan oleh berhasil atau tidaknya individu tersebut dalam menerima dan memahami perilaku sesuai dengan peran jenis kelaminnya. Jika individu gagal dalam menerima dan memahami peran jenis kelaminnya maka individu tersebut akan mengalami konflik atau gangguan identitas jenis kelamin.Berperilaku menjadi waria memiliki banyak resiko. Waria dihadapkan pada berbagai masalah: penolakan keluarga, kurang diterima atau bahkan tidak diterima secara sosial, dianggap lelucon, hingga kekerasan baik verbal maupun non verbal. Penolakan terhadap waria tersebut terutama dilakukan oleh masyarakat strata sosial atas. Oetomo (2000) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa masyarakat strata sosial atas ternyata lebih sulit memahami eksistensi waria, mereka memiliki pandangan negatif terhadap waria dan enggan bergaul dengan waria dibanding masyarakat strata sosial bawah yang lebih toleran. Karena belum diterimanya waria dalam kehidupan masyarakat, maka kehidupan waria menjadi terbatas terutama pada kehidupan hiburan seperti ngamen, ludruk, atau pada dunia kecantikan dan kosmetik dan tidak menutup kemungkinan sesuai realita yang ada, beberapa waria menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan materiel maupun biologis. Pakar kesehatan masyarakat dan pemerhati waria, Gultom (2002) setuju dengan pendapat seorang waria yang bernama Yuli, bahwa waria merupakan kaum yang paling marginal. Penolakan terhadap waria tidak terbatas rasa jijik, mereka juga ditolak untuk mengisi ruang-ruang aktivitas: dari pegawai negeri, karyawan swasta, atau berbagai profesi lain. Bahkan dalam mengurus KTP, persoalan waria juga mengundang penolakan dan permasalahan, maka sebagian besar akhirnya turun dijalanan untuk mencari kebebasan (Kompas, 7 April 2002) .Perlakuan yang tidak adil terhadap waria, tidak lain adalah disebabkan kurang adanya pemahaman masyarakat tentang perkembangan perilaku dan dinamika psikologis yang dialami oleh para waria, sebab selama ini pemberitaan-pemberitaan media, baik media cetak maupun media elektronik, belum sampai menyentuh pada wilayah tersebut. Berdasar atas realitas tersebut peneliti menganggap penting untuk memahami lebih dalam mengenai waria, kebutuhan-kebutuhan atau dorongan yang mengarahkan dan memberi energi pada waria, tekanan-tekanan yang dialami, konflik-konflik yang terjadi, hingga bagaimana mekanisme pertahanan diri yang akan digunakan oleh waria tersebut. Cara yang paling tepat adalah dengan mempelajari perilaku dan interaksi waria, dimana hal ini dapat diketahui dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan antisipasi masa depan orang tersebut.

Penulis berharap dengan informasi yang disampaikan melalui penulisan studi kasus ini akan mampu memberikan gambaran dan penjelasan yang akurat mengenai fenomena waria, sehingga penerimaan dan pemahaman yang terjadi atas fenomena tersebut akhirnya merupakan sebuah pemahaman yang tepat.I.2. TujuanDalam penulisan dengan tema Lingkungan & interaksi sosial, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengapa dan bagaimana perilaku waria dapat terbentuk dapat lebih mengetahui dan mengerti bagai mana mereka menjalani hidupnya dengan segala kekurangan serta perbedaan yang dimiliki namun tetap tetap mempertahankan pendiriannya meskipun pandangan masyarakat yang banyak menyudutkan dan bahkan menghina atau mencaci mereka.

I.3. Metode PenulisanSetelah kami menentukan tema Lingkungan dan Interaksi Sosial, kami mencari nara sumber yang akan kami wawancarai dan observasi langsung ke lapangan untuk memeperoleh data serta referensi dari internet untuk melengkapi data.I.4. Sistematika PenulisanDalam penyusunan makalah ini kami menguraikan sistematika penulisan yang sesuai dengan persyaratan penyusunan makalah yang baik sehingga akan terlihat rapi dan teratur Adapun sistematika tersebut sesuai dengan judul serta terbagi dalam berbagai bab perincian.

BAB IIPEMBAHASANII.1. Sejarah WariaSebenarnya kita tidak tahu sejak kapan tepatnya penyimpangan gender terjadi, akan tetapi sejak dahulu manusia memang sudah melakukan penyimpangan atau penyeberangan gender serta manjalin hubungan antara sesama jenis. Penyimpangan gender dan hubungan sesama jenis sudah sering dibahas.Dalam berbagai penelitian yang dilakukan, peristiwa atau lokasi kejadian diazabnya umat Luth AS ini adalah di Kota Sodom, di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laut Mati atau di danau Luth yang terletak di perbatasan antara Israel dan Yordania. Ajakan Nabi Luth ini justru ditolak oleh umatnya. Bahkan, tatkala Allah SWT mengutus dua orang malaikat dalam wujud manusia kepada Nabi Ibrahim dan Luth (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 32, Hud [11]: 62-81), mereka malah meminta Luth untuk menyerahkan kedua tamunya itu untuk dinikahkan kepada mereka. Lalu, Allah menghancurkan umat Luth ini akibat perbuatannya.

Penyimpangan Seksual ini juga terjadi di kota Pompei, Italia. Tercatat dari sejarah dan bekas - bekas mayat yang tertinggal karena letusan gunung Vesuvius, Mayat - Mayat yang telah menjadi fosil itu ditemukan saat berhubungan badan dengan sesama jenis

II.2. Pengertian WariaWaria adalah singkatan dari Wanita pria, Waria atau yang sering kita sebut banci dalam sehari-hari merupakan salah satu penyimpangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Waria? Terkadang kita tidak asing mendengar kata itu, karena sering menjadi perbincangan masyarakat. Bagaimana mungkin seorang pria berprilaku seperti layaknya seorang wanita, hal itu sangat tidak wajar. Karena Tuhan hanya menciptakan dua gender yaitu PRIA dan WANITA. Dengan segala kelebihan dan kodratnya masing-masing. Tapi coba kita lihat secara fisik dari para waria?? Terlihat aneh mungkin untuk sebagian masyarakat, bahkan sebagian orang memandang sebelah mata terhadap kaum waria tanpa melihat sisi kehidupan lain dari para waria tersebut.

Dalam sisi Psikolog saat embrio berubah manjadi janin > sekitar minggu ke 24, dari proses itu hingga ke bulan ke 3, terjadi perubahan pada kelaminya, yaitu jadi perempuan/laki laki. masalahnya terkadang secara fisik mereka mengarah ke jenis kelamin A tetapi secara psikologis dia ke jenis kelamin B, istilahnya terjadi mutasi gen/terjadi penyimpangan hormon pembetuk saat janin sedang berkembang. Jadi saat janin itu di lahirkan, secara pribadi/individual dia adalah seorang perempuan (hormonya perempuan, pribadi seorang perempuan) akan tetapi fisiknya seorang laki-laki.

Pandangan psikologi mengatakan bahwa transeksual merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun dalam kemampuan untuk mencapai kepuasaan seksual (Supratiknya, 1995 : 91).

Dilain pihak, pandangan sosial beranggapan bahwa akibat dari penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh waria dalam kehidupan sehari-hari akan dihadapkan pada konflik sosial dalam berbagai bentuk pelecehan seperti mengucilkan, mencemooh, memprotes dan menekan keberadaan waria di lingkungannya (Koeswinarno, 2005 : 151).

Sebenarnya kita tidak sepantasnya memandang mereka secara rendah, karena sebenarnya mereka pun memiliki sisi kehidupan yang lain yang mungkin tidak dapat kita rasakan sebagai manusia normal. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari seorang waria, contohnya saja kita bisa mengambil hikmah bahwa seorang manusia tidak ada yang sempurna, sekali pun manusia tersebut terlihat bijaksana dimata manusia lainnya. Percaya atau pun tidak menjadi seorang waria pun membutuhkan pengorbanan baik dalam segi fisik terlebih lagi mental.

Kehidupan waria sebenarnya termasuk kedalam perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang sering disebut deviasi sosial. Perilaku menyimpang merupakan segala bentuk tutur kata atau perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Segala hal yang bertentangan dengan peraturan akan dianggap sebagai perilaku menyimpang.

Kemungkinan besar waria atau banci biasa dibilang memiliki kekurangan yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis dan kebudayaan sosial. Dari faktor ekonomis masalah sosial itu sendiri biasanya disebabkan oleh ketidakmampuanseseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup sendiri maupun keluarganya secara layak. Masalah sosial yang disebabkan oleh faktor budaya menunjukan adanya ketidaksesuaian pelaksanaan nilai, norma, dan kepentingan sosial akibat adanya proses perubahan sosial dan pola masyarakat heterogen/multikultural. Masalah sosial yang disebabkan oleh faktor biologis dan ketidakstabilan kondisi biologis masyarakat. Masalah sosial yang disebabkan oleh faktor sosial biasanya dipengaruhi oleh faktor sosial terjadi akibat nilai dan norma tidak diakomodasi dalam setiap perilaku individu. Nilai sosial adalah prinsip standar atau kualitas nilai sosial adalah prinsip standar atau kualitas yang berharga dan diinginkan oleh orang atau masyarakat yang memegangnya. Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan yang diwujudkan melalui perilaku sosial yang dianggap baik dan bersifat abstrak. Berdasarkan ciri-cirinya nilai terbagi atas nilai dominan, nilai instrumental dan nilai yang mendarah daging. Sedangkan norma adalah petunjuk atau patokan perilaku yang pantas dan dibenarkan dalam menjalani interaksi sosial disuatu masyarakat tertentu. Pelanggaran terhadap norma sosial akan dikenai sanksi. Norma merupakan bentuk konkret/nyata dari nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Jenis-jenis norma sosial yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), adat istiadat (customs), dan hukum (laws).

Berdasarkan sanksinya norma terbagi menjadi tiga yaitu Norma Agama, Norma Kesusilaan, dan Norma Kesopanan. Pelanggaran norma agama akan mendapat sanksi berupa dosa sedangkan pelanggaran norma kesusilaan dan kesopanan akan dikucilkan dan dicemooh.

Tidak sepenuhnya kita dapat menyalahkan seseorang untuk mengambil jalan hidup sebagai waria yang melanggar kodrat Tuhan, karena banyak factor yang membuat mereka seperti itu, entah dalam segi ekonomi, atau memang dari pengaruh gen sejak lahir, pergaulan, pendidikan, agama, sosial, dan budaya. Apabila sudah seperti itu, apakah masih kita tega men-judge para kaum waria sebagai kaum rendahan yang menjadi sampah masyarakat?? Sebagai sesama mahluk Tuhan yang memiliki akal pikiran, seharusnya kita bisa lebih saling menghargai sesama apapun perbedaannya, atas dasar perasaan prikemanusiaan. Apapun alasannya tidak ada yang bisa mendorong kita untuk berprilaku sedemikian rupa terhadap para waria. Karena, menerima ataupun tidak, kaum waria memang ada dan tidak bisa kita pisahkan dari bermasyarakat.

Cacian dan pelecehan pun memang tidak pula sepenuhnya kesalahan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab karena terkadang para waria tersebut pun biasa menjadikan dirinya rendah entah karena citra yang telah melekat selama ini atau tidak. Tapi, bukankan tidak semua waria seperti itu, sekali lagi tidak ada alasan kita untuk menganggap rendah para waria, masih banyak cara lain untuk memberikan pelajaran terhadap para waria tersebut.

Rangkulan hangat dan mensosialisasikan dampak, bahaya, juga resiko melakukan hubungan sex secara bebas dan tidak sehat yang mungkin dilakukan para waria ketika menjajakan dirinya, bisa menjadi satu cara kita untuk lebih menghargai dari para waria tersebut bahkan lebih dari menghargai kita dapat menarik waria tersebut dari bahaya penyakit kelamin sebagai resiko dari pekerjaan mereka tersebut.

II.3. Biografi Seorang WariaJoni atau nama malamnya Jonita, lahir di Wonosobo, 26 Maret 1967 di Wonosobo (Jawa Tengah). Saat ini dia berusia 47 tahun, pendidikan terakhirnya SMA (Sekolah Menengah Atas). Ia menjadi seperti ini karena faktor Biogenik yaitu Seseorang menjadi waria disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor biologis atau jasmaniah, dimana yang bersangkutan menjadi waria dipengaruhi oleh lebih dominannya hormon seksual perempuan dan merupakan faktor genetik seseorang. Selain itu, neuron yang ada di waria sama dengan neuron yang dimiliki perempuan. Dominannya neuron dan hormon seksual perempuan mempengaruhi pola perilaku seseorang menjadi feminim dan berperilaku perempuan.Dari ilmu psikolognya revano termasuk kedalam kelompok tranvetis yaitu nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari lawan jenis kelaminya dan mendapat kepuasan seks dengan memakai pakaiaan dari jenis kelamin lainnya.

Ia bekerja di salon Jen dan sungguh ahli dalam memotong rambut menjadi model terkini. bertempat tinggal disebuah kontrakan kecil di daerah cijalu. Ibu Revano bernama sri (38 thn) dan dua orang adik tiri nya yang bernama Rian ( 5 thn), dan Riska ( 2 thn) yang saat ini tinggal di jatisari.

Pada awalnya Revano hanya bekerja disalon dengan upah 35 ribu/hari, karena penghasilan rendah serta tidak cukup untuk kebutuhan hidup, ia diajak oleh temannya menjadi PSK waria yang penghasilannya lebih tinggi dibanding kerja disalon. Setiap malam sedikitnya ia mendapat uang sebesar 100 rb dari hasil kerjanya itu.

Revano bekerja di salon sudah 1 tahun sedangkan menjadi PSK waria sudah 8 bulan. Keluarga revano tidak mengetahui bahwa dia adalah seorang banci dan PSK waria.

Alasan Revano bekerja sebagai PSK waria dan banci salon dan mengapa tidak mencari pekerjaan yang lebih baik yaitu karena ia merasa bahwa ia mempunyai kekurangan, sehingga ia merasa tidak cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan dan ia pun lebih nyaman dengan profesi dia sekarang. Namun beberapa minggu belakangan ini sering adanya rajia PSK waria oleh bagian keamanan alhasil pnghasilan revano pun tak seperti sebelumnya.

Revano mulai beraktifitas mulai dari pagi hingga malam kadang-kadang bisa sampai pagi hari lagi, berangkat dari rumah jam 09:00 s/d 19:30, lalu pulang untuk istirahat sejenak. Revano akan melanjutkan aktivitasnya kembali pada pukul 23:00 s/d 02:00. Penghasilan perharinya saat ini ( 35.000-150.000/hari) II.3. Wawancara Dengan Tukang ParkirDibawah ini kutipan dari isi wawancara kami dengan Bapak..........

A. Nama pekerjaan

Tukang Parkir

B. Alamat lengkap

Rawa Mekar Jaya

C. Status dalam keluarga

Sebagai tulang punggung keluarga

D. Pendidikan tertingginya

Lulusan SD(Sekolah dasar)

E. Apa latar belakang memilih pekerjaan tersebut

ya karena belum ada kerjaan lain yang bisa kerjakan

F. Sejak kapan Bapak menjalani profesi ini.

saya sudah melakukan ini sejak umur 17 Thn, jadi sekitar 10 Thn sampai sekarang

Lanjut...>>G. Bagaimana proses dalam bekerja mulai persiapan pelaksanaannya

klo jadi tukang parkir mah gak usah banyak persiapan cukup bisa bilang TRUS-TRUS ama STOP gitu aja dah cukup

H. Berapa lama biasanya Bapak bekerja sepert ini

mulai kerja ya biasanya habis makan siang seperti ini sampai malam sekitar jam 10 baru selesai

I. Berapa pendapatan rata-rata dalam satu hari.

dalam satu hari ya paling-paling Cuma 50ribu

J. Bagaimana pembagian pendapatan keuangan hasil kerja tersebut untuk kepentingan kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

misal Cuma 50, ya kita bagi buat yang ada di rumah 30 sisanya buat sendiri

K. Bagaimana perasaan bapak bekerja itu, adakah keinginan untuk beralih provesi dan bagaimana caranya?

ya ada enaknya ya ada ngak enaknya juga, kalau masalah itu pasti adalah tapi sampai sekarang belum ada gitu

L. Apa yang diharapkan terhadap pekerjaan yang bapak lakukan ini.

jadi lebih baiklah pastinya, selain membantu merapikan juga kita membantu polisikan

M. Apa yang diinginkan masa depan anak-anaknya dan keluarga bapak.

ya klo untuk keluarga yang penting anak bisa sekolah ma bisa buak makan setiap hari

N. Kesulitan apa yang Bapak rasakan selama Bapak Pekerja.

klo jadi tukang pakir ginian ya paling klo kena razia, kan katanya ginian itu Premanisme

II.4. Peranan Retribusi Tukang Parkir Dalam Lingkungan dan Interaksi SosialMenjadi Tukang Parkir, mungkin tidak ada dalam benak kita. Mungkin kita akan berpikir jika profesi tersebut bukan termasuk profesi yang begitu penting, tapi kenyataan-nya berbeda bayangkan bila tidak ada tukang parkir , Apa yang akan terjadi?...

Pasti dijalan akan macet, semprawut dan tidak jelas, seperti apa yang kita lihan sekarang ini bukan hanya itu saja tindakan kriminalpun juga akan bertambah seperti Curanmor(Pencurian Sepeda Motor). Sebagai pengguna jalan serta kendaran, kita tidak mungkin mau bila ini terjadi dengan kendaraan kita sendiri .Ya walaupun itu hanya tukang parkir jalan kita harus hargai mereka.

II.5. Pro Dan Kontra Adanya Tukang ParkirPro:1. Parkir-parkir yang Sulit Jadi Lebih MudahParkir di Jakarta terkadang memang cukup sulit. Ada banyak tempat yang sepertinya cukup mustahil untuk diparkirkan, apalagi sama orang-orang yang baru belajar nyetir. Nah, di sinilah peran tukang parkir sangat penting! Tukang parkir akan memberikan kamu instruksi parkir yang tentunya akan membuat kamu jadi lebih mudah dalam berparkir.

2. Nyariin Tempat ParkirDi luar negeri, nyari parkir itu adalah hal yang sulit karena gak ada yang tukang parkir. Nah, di sini masalah itu bisa diatasi, karena para tukang parkir akan dengan senang hati nyariin parkir buat kamu. Yah, walaupun itu sebenernya karena sebuah uang.

3. Dia Bisa Bantuin Dorong-Dorong MobilTerkadang, proses parkir kamu terganggu sama yang namanya parkir paralel. Nah, coba bayangin kalo gak ada tukang parkir. Kamu tentunya akan repot karena harus dorong-dorong mobil sendiri. Dengan ada tukang parkir, maka kamu hanya tinggal menunggu di dalam mobil ber-AC dan mobil-mobil yang parkir paralel akan langsung didorongin sama para tukang parkir!

Kontra:1. Dia Gak Tanggung Jawab Sama Mobil KamuKamu mungkin berpikir Wah, kalo ada tukang parkir, berarti mobil gue aman dong! Kan ada yang jagain! Belum tentu! Kalo sampe mobil kamu hilang atau baret atau kenapa-kenapa, palingan si tukang parkir cuma bisa pasang muka pura-pura tidat tau trus seakan-akan bersimpati sama kamu, terus tetep minta uang parkir. Mana mau sih suruh tanggung jawab.

2. Bayaran Suka-suka DiaPada umumnya, bayaran untuk tukang parkir itu adalah Rp. 1,000 untuk motor. Tapi ada beberapa tempat dimana bayaran parkirnya ditentukan sendiri oleh si tukang parkir. Di daerah kota misalnya, parkir di pinggir jalan itu bayarannya sekitar Rp. 3,000. Di Kemang lebih parah, karena biaya parkir di pinggir jalan bisa antara Rp. 5,000 sampai Rp. 20,000. Pokoknya suka-suka si tukang parkir aja

3. Cuma Muncul Kalo Udah Mau BayarSalah satu kebiasaan lain tukang parkir adalah cuma muncul ketika kamu udah mau cabut aja. Saat kamu lagi bersusah-susah dia gak nampak, dan ketika udah waktunya kamu bayar, tau-tau dia muncul entah darimana dan nagih duit. Kayak temen yang cuma muncul di saat senang aja gitu deh.

4. Skill Parkir Kamu MenurunMenurut MBDC, inilah kontra paling besar dari adanya tukang parkir. Kamu jadi cenderung percaya aja sama si tukang parkir dan membiarkan skill parkir kamu sedikit demi sedikit menurun!

II.6. Hasil perbandingan antara parkir jalan dengan parkir resmiIni adalah perbandiangan hasil dan resiko sebagai tukang parkir yang kami dapat dari hasil Observasi pada hari selasa 24 April 2013 di 2(dua) tempat yang berbeda.

Parkir JalamParkir Resmi

NamaRohmanAde Awaludin

LokasiTaman Jajan BSDParkir Kampus BSI

Waktu Kerja13.30 s/d 22.0007.00 s/d 15.00

Kebebasan waktuYaTidak

Pendapatan rata-rata perhariRp. 50.000,- untuk pribadiRp. 150.000,- Di setorkan

Pendapatan / BulanRp.900,000 s/d Rp.1,500,000Gaji Rp.400,000 s/d 550.000

ResikoBesarSedang

Data ini menunjukkan bahwa hasil para penjaga area parkir jalan(non resmi) cukup besar dari pada parkir resmi, hal ini menyababkan banyak orang yang mecari nafkah dari jalan ini karena mudah tidak perlu banyak pengalaman dan ijazah sekolah atau perguruan tinggi.

BAB IIIPENUTUPIII.1. Kesimpulan

Seseorang menjadi Tukang Parkir adalah alasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, tingkat pendidikan Tukang Parkir rata-rata sangat rendah, sebagian besar tamatan sekolah dasar (SD) dan beberapa tidak mengenyam pendidikan dasar sama sekali, pendidikan rendah dan minimnya keahlian dan sempitnya lapangan pekerjaan membuat orang berniak untuk bekerja dan mencari uang dengan modal yang sedikit tapi hasil banyak seperti hal-nya menjadi Tukang Parkir.

Selain itu menjadi Tukang Parkir bukanlah perkara mudah, karena meraka harus mempunya jiwa yang jujur, amanah dan siaga.. sebab bila terjadi sesuatu pasti merekalah yang menjadi orang no.1 yang paling bertanggung jawab untuk dimintai keterangan.III.2. Saran

Saran kami selaku penulis yaitu, mari kita sama sama menghargai mereka dan tidak menganggap remeh profesi ini dengan itu kita sudah termasuk orang yang peduli sesama. Serta juga bisa memberikan ruang usaha bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan disamping sulitnya mencari kerja pada saat ini.

Gallery Photo Observasi1. Foto Bersama setelah wawancara2. Proses wawancara dengan Bpk.Rohman3. Bpk. Rohman sedang menbantu masyarakat

DAFTAR PUSTAKA Nara Sumber : Bpk. Rohman & Ade Awalidin. http://adi.staf.narotama.ac.id/2013/03/11/tukang-parkir-sebegitu-berharganya-kah-profesi-ini/ http://forum.kompas.com/urban-life/23792-menjadi-tukang-parkir.html http://malesbanget.com/2012/02/pro-kontra-adanya-tukang-parkir/

Character Building Page III