of 23 /23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Interaksi Sosial 1. Pengertian Interaksi Sosial Interaksi sosial (Soekanto, 1992) merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial akan terjadi jika adanya sebuah kontak sosial dan adanya komunikasi. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Gea, Wulandari, & Babari (2003) melihat suatu kebutuhan berinteraksi manusia dimana setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Menurut Walgito (2003) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya dimana individu yang satu dapat memengaruhi individu yang lainnya sehingga terdapat hubungan timbal balik. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain (Gerungan, 2003). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara inividu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, dimana didalamnya terdapat sebuah kontak sosial dan komunikasi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Interaksi Sosial 1. Pengertian Interaksi Sosial · 2018. 4. 19. · Interaksi sosial (Soekanto, 1992) merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut

  • Author
    others

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Interaksi Sosial 1. Pengertian Interaksi Sosial · 2018. 4. 19. ·...

menyangkut hubungan antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok
dengan kelompok. Interaksi sosial akan terjadi jika adanya sebuah kontak sosial dan
adanya komunikasi. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, oleh
karena itu tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.
Gea, Wulandari, & Babari (2003) melihat suatu kebutuhan berinteraksi manusia
dimana setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya.
Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan
untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi
akan terisolasi. Menurut Walgito (2003) interaksi sosial merupakan suatu hubungan
antara individu satu dengan individu lainnya dimana individu yang satu dapat
memengaruhi individu yang lainnya sehingga terdapat hubungan timbal balik. Interaksi
sosial adalah suatu hubungan antar dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan
individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang
lain (Gerungan, 2003).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu
hubungan antara inividu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok
dengan kelompok, dimana didalamnya terdapat sebuah kontak sosial dan komunikasi,
sehingga terbentuk hubungan sosial yang saling memengaruhi antara individu yang satu
dengan individu lainnya dalam lingkungan sosial.
2. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
menjadi dua bentuk, yakni proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif adalah
bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat positif, sedangkan proses disosiatif adalah
bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat negatif. Kedua bentuk interaksi sosial
tersebut merupakan bagian terpenting dalam kehidupan, yang diperlukan agar dapat
dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan berkompeten secara sosial, namun
yang akan dibahas sesuai dengan topik penelitian ini adalah proses asosiatif, yang
terdiri dari kerjasama, akomodasi, dan asimilasi.
a. Kerja Sama
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan. Dalam kegiatan kerja sama,
individu melakukan interaksi dengan orang lain, dimana individu memberikan
stimulus kepada individu lain, kemudian individu lain memberikan reaksi
terhadap stimulus yang diterimanya ataupun sebaliknya. Kerja sama ini dapat
dilihat dari turut sertanya individu dalam kegiatan kelompok. Bentuk-bentuk
kerja sama adalah kerukunan (gotong royong), bargaining (perjanjian mengenai
pertukaran barang atau jasa), kooptasi (proses penerimaan unsur-unsur baru untuk
menghindari terjadinya kegoncangan pada suatu organisasi), koalisi (kombinasi
dua orang atau lebih yang memiliki tujuan yang sama), join venture (kerja sama
dalam pengusahaan proyek tertentu).
kelompok yang menunjukkan keseimbangan dalam berinteraksi yang
berhubungan dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam
masyarakat. Proses akomodasi dilakukan untuk mengurangi pertentangan,
sehingga terciptanya suatu kerja sama yang baik dalam suatu kelompok.
c. Asimilasi
perbedaan-perbedaan yang terdapat pada individu maupun kelompok, serta
meliputi usaha-usaha mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses
mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Dalam asimilasi,
individu tidak lagi memikirkan kepentingan dirinya sendiri, melainkan individu
memikirkan kepentingan kelompok. Bentuk asimilasi ini ditandai dengan adanya
pengembangan sikap yang sama dengan kelompok dalam mencapai suatu tujuan.
3. Aspek-aspek Interaksi Sosial
Aspek-aspek interaksi sosial menurut George C. Homans (dalam Santosa, 2004)
antara lain:
Suatu kelompok terbentuk berdasarkan motif atau tujuan yang sama.
b. Suasana emosional yang sama
Setiap anggota kelompok memiliki emosional yang sama. Motif atau tujuan
dan suasana emosional yang sama dalam suatu kelompok disebut sentiment.
c. Adanya interaksi dan aksi
Interaksi berarti setiap anggota kelompok saling membantu atau
bekerjasama, sedangkan aksi adalah tingkah laku yang ditunjukkan selama
berinteraksi.
d. Proses segi tiga dalam interaksi sosial (aksi, interaksi, dan sentimen)
Aksi, interaksi, dan sentimen menciptakan bentuk piramida, dimana
pimpinan kelompok dipilih secara spontan dan wajar. Pimpinan menempati
puncak piramida tersebut.
Setiap anggota berada dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan
secara terus-menerus.
tanpa tingkah laku anggota kelompok yang seragam.
4. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Soekanto (1982) suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi
apabila tidak memenuhi dua syarat sebagai berikut:
a. Adanya kontak sosial
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (yang artinya bersama-
sama) dan tango (yang artinya menyentuh), jadi artinya secara harfiah adalah
bersama-sama menyentuh. Pada interaksi sosial mengandung makna tentang
kontak sosial secara timbal balik atau interstimulansi dan respon antara individu-
individu dan kelompok-kelompok. Kontak pada dasarnya merupakan aksi dari
individu atau kelompok dan mempunyai makna bagi pelakunya, yang kemudian
ditangkap oleh individu atau kelompok lain.
Kontak sosial dapat bersifat posistif ataupun negatif. Yang bersifat positif
mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada
sutau pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan sutau interaksi
sosial. Suatu kontak sosial dapat pula bersifat primer ataupun sekunder. Kontak
primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan
berhadapan muka, sedangkan kontak yang sekunder memerlukan sutau perantara
(Soekanto, 1982).
1) Antara orang perorangan
kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui komunikasi,
yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari
norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana dia menjadi anggota
(Soekanto, 1982).
2) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang merasakan bahwa
tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma di masyarakat
(Soekanto, 1982).
3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya
Kontak sosial ini misalnya adalah dua partai politik yang bekerja sama
untuk mengalahkan partai politik lainnya (Soekanto, 1982).
b. Adanya komunikasi
seseorang individu memberi tafsiran pada perilau orang lain. Dengan tafsiran
tersebut, lalu seorang itu mewujudkan perilaku, dimana perilaku tersebut
merupakan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain
tersebut (Soekanto, 1982).
hubungan kerjasama ataupun hubungan apapun itu dalam kehidupan manusia. Di
sisi lain komunikasi juga terkadang mengakibatkan sutau pertentangan atau
pertikaian. Hal ini disebabkan karena adanya kesalahpahaman atau masing-
masing pihak tidak ada yang mau mengalah ketika berkomunikasi satu sama lain.
5. Faktor-faktor yang Memengaruhi Interaksi Sosial
Menurut Mahmudah (2010) berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada
berbagai faktor, diantaranya adalah:
Faktor ini telah diuraikan oleh Gabriel Tarde yang beranggapan bahwa
seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktor imitasi saja.
Pendapat ini dalam realitasnya banyak yang mengatakan tidak seimbang atau
berat sebelah. Hal ini tidak lain karena tidak semua interaksi sosial disebabkan
oleh faktor ini.
b. Sugesti
Yang dimaksud sugesti disini ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari
dirinya sendiri maupun dari orang lain yang pada umumnya diterima tanpa
adanya daya kritik. Gerungan mendefinisikan sugesti sebagai proses dimana
seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman
tingkah laku orang lain tanpa kritik terlebih dahubu (Mahmudah, 2010).
c. Identifikasi
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama)
dengan orang lain, baik secara fisik maupun non fisik. Proses identifikasi pada
kenyataannya seringkali untuk pertama kali berlangsung secara tidak sadar
(secara dengan sendirinya). Kedua, bersifat irasional, yaitu berdasarkan perasaan-
perasaan atau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan
secara rasional. Ketiga, identifikasi berguna untuk melengkapi system norma-
norma, cita-cita, dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang
mengidentifikasi itu. Hal ini merupakan efek lanjut dari aktivitas identifikasi yang
dilakukan seseorang (Mahmudah, 2010).
d. Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain.
Simpati muncul dalam diri seirang individu tidak atas dasar rasional, melainkan
berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. Seorang
individu tiba-tiba merasa dirinya tertarik kepada orang lain seakan-akan dengan
sendirinya, dan tertariknya itu bukan karena salah satu ciri tertentu, melainkan
karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya (Mahmudah,
2010).
Anak merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan
orang lain untuk memanusiakan dirinya. Anak ingin dicintai, dihargai dan diakui.
Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapat tempat dalam kelompoknya. Hanya
dengan relasi dan komunikasi dengan orang lain, misalnya dengan orang tua, pendidik,
teman sebaya dan lain-lain, anak dapat berkembang menuju kedewasaan. Hubungan
anak dengan orang tua maupun orang dewasa lainnya merupakan hubungan yang
memengaruhi. Dengan kata lain, individu sosial dengan tingkah laku sosial itu selalu
dikomunikasikan dengan manusia lain (Kartono, 1979).
Menurut Yussen dan Santrock (1980) mengatakan bahwa kemampuan sosialisasi
anak sangat terkait dengan orang-orang di sekeliling anak yang disebut agen sosial,
yaitu setiap orang yang berhubungan dengan seorang anak misalnya ayah dan ibunya,
pengasuh, teman sebaya, guru dan keluarga lainnya dan orang tersebut memengaruhi
cara berperilaku.
yang satu dengan individu lainnya. Interaksi sosial meliputi hubungan antara individu
dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya (Azwar S. ,
2009). Masing-masing anak memiliki kemampuan interaksi sosial yang berbeda-beda.
Ada kalanya anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dengan orang lain.
Untuk mengetahui kemampuan anak dalam berinteraksi sosial dapat dilakukan melalui
suatu pengukuran.
Pengukuran interaksi sosial dapat diartikan sebagai cara atau usaha untuk
mengetahui sejauh mana siswa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Pengukuran
interaksi sosial dapat dilakukan dengan skala dan observasi. Skala digunakan karena
dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek
psikologis dihadapannya, diantaranya faktor pengalaman pribadi, orang lain yang
dianggap penting, kebudayaan, media massa, serta faktor emosi dalam diri individu
(Azwar S. , 2009). Observasi digunakan karena dalam interaksi sosial adanya perilaku
yang tampak dan dapat diamati oleh orang lain. Dengan demikian, skala dan observasi
merupakan teknik pengukuran yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana
kemampuan interaksi sosial anak di lingkungan sekitarnya.
B. Pola Asuh Orang Tua
1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Maccoby (dalam Yanti, 2005) menyatakan bahwa pola asuh orang tua adalah
gambaran interaksi orang tua dan anak-anak yang didalamnya orang tua
mengekspresikan sikap-sikap atau perilaku, nilai-nilai, minat dan harapan-harapanya
dalam mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Menurut Hetherington &
Porke (dalam Sanjiwani & dkk, 2014)), pola asuh merupakan bagaimana cara orang tua
berinteraksi dengan anak secara total yang meliputi proses pemeliharaan, perlindungan,
dan pengajaran bagi anak. Gunarsa (1990) menyatakan pola asuh adalah suatu gaya
mendidik yang dilakukan oleh orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-
anaknya dalam proses interaksi yang bertujuan untuk memperoleh suatu perilaku yang
diinginkan.
Thoha (1996) mendefinisikan pola asuh orang tua sebagai suatu cara terbaik yang
dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung
jawab kepada anak. Sedangkan menurut Kohn (dalam Thoha, 1996) menyatakan bahwa
pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya. Sikap ini
dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan pengaturan
kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan
otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian, tanggapan terhadap keinginan anak.
Dengan demikian yang dimaksud dengan pola asuh orang tua adalah bagaimana cara
mendidik anak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hurlock (1999) menyatakan bahwa pola asuh dapat diartikan pula dengan
kedisiplinan. Disiplin merupakan cara masyarakat mengajarkan kepada anak perilaku
moral yang dapat diterima kelompok, dengan tujuan untuk memberitahukan kepada
anak sesuatu yang baik dan buruk serta mendorongnya untuk berperilaku dengan
standar yang berlaku dalam masyarakat di lingkungan sekitarnya. Menurut Mussen
(1994) pola asuh adalah cara yang digunakan orang tua dalam mencoba berbagai
strategi untuk mendorong anak mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuan tersebut
antara lain pengetahuan, nilai moral, dan standart perilaku yang harus dimiliki anak bila
dewasa nanti.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah
cara orang tua dalam berinteraksi dengan anak, memberikan pendidikan baik secara
langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk memperoleh suatu perilaku yang
diinginkan.
Menurut Baumrind (dalam Mussen, 1994) terdapat tiga gaya pengasuhan yang
diterapkan orang tua terhadap anak, diantaranya adalah:
a. Pola asuh otoriter
Pola asuh ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak, suatu
peraturan yang dicanangkan orang tua dan harus dituruti oleh anak. Pendekatan ini
biasanya kurang responsif pada hak dan keinginan anak. Anak lebih dianggap
sebagai obyek yang harus patuh dan menjalankan aturan. Ketidakberhasilan
kemampuan dianggap kegagalan. Ciri-cirinya adalah orang tua membatasi anak,
berorientasi pada hukuman, mendesak anak unruk mengikuti aturan-aturan
tertentu, serta orang tua sangat jarang dalam memberikan pujian pada anak.
Dalam hal ini anak akan timbul banyak kekhawatiran apabila tidak sesuai dengan
orang tuanya dalam melakukan suatu kegiatan sehingga anak tidak dapat
mengembangkan sikap kreatifnya serta hubungan orangtua yang digunakan
memungkinkan anak untuk menjaga jarak dengan orang tuanya.
b. Pola asuh permisif
Permisif dapat diartikan orang tua yang serba membolehkan atau suka
mengijinkan. Pola pengasuhan ini menggunakan pendekatan yang sangat
responsif (bersedia mendengarkan) tetapi cenderung terlalu longgar. Ciri-cirinya
adalah orang tua lemah dalam mendisiplinkan anak dan tidak memberi hukuman
serta tidak memberikan perhatian dalam melatih kemandirian dan kepercayaan
diri. Terkadang anak merasa cemas karena melakukan sesuatu yang salah atau
benar, tetapi karena orang tua membiarkan, mereka melakukan apa saja yang
mereka rasa benar dan menyenangkan hati mereka. Ketika anak melakukan
kesalahan, orang tua cenderung membiarkan dan tidak memberikan hukuman.
c. Pola asuh demokratis
dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan yang realistis. Orang tua
semata-mata tidak menuruti keinginan anak, tetapi sekaligus mengajarkan kepada
anak mengenai kebutuhan yang penting bagi kehidupan anak. Ciri-cirinya adalah
mendorong anak untuk dapat berdiri sendiri, memberi pujian pada anak, serta
bersikap hangat dan mengasihi. Gaya pengasuhan ini menjadikan anak merasa
dihargai karena setiap perlakuan dan permasalahan dapat dibicarakan dengan
orang tua yang senantiasa membuka diri untuk mendengarkan.
3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pola Asuh Orang Tua
Secara garis besar Soekanto (2004) menyebutkan bahwa terdapat dua faktor yang
memengaruhi dalam pengasuhan seseorang yaitu:
a. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah lingkungan sosial dan lingkungan fisik serta lingkungan
kerja orang tua.
b. Faktor internal
Faktor internal adalah model pola pengasuhan yang pernah didapat sebelumnya.
Secara lebih lanjut pembahasan faktor-faktor yang ikut berpengaruh dalam pola
pengasuhan orang tua adalah:
a. Lingkungan sosial dan fisik tempat dimana keluarga itu tinggal
Pola pengasuhan suatu keluarga turut dipengaruhi oleh tempat dimana keluarga itu
tinggal. Apabila suatu keluarga tinggal di lingkungan yang otoritas penduduknya
berpendidikan rendah serta tingkat sopan santun yang rendah, maka anak dapat
dengan mudah juga menjadi ikut terpengaruh.
b. Model pola pengasuhan yang didapat oleh orang tua sebelumnya
Kebanyakan dari orang tua menerapkan pola pengasuhan kepada anak
berdasarkan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sebelumnya. Hal ini
diperkuat apabila mereka memandang pola asuh yang pernah mereka dapatkan
dipandang berhasil.
Orang tua yang terlalu sibuk bekerja cenderung menyerahkan pengasuhan anak
mereka kepada orang-orang terdekat atau bahkan kepada baby sitter. Oleh karena
itu pola pengasuhan yang didapat oleh anak juga sesuai dengan orang yang
mengasuh anak tersebut.
1. Pengertian Gadget
Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari Bahasa inggris, yang artinya
perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia
gadget di sebut “acang”. gadget selalu muncul dengan teknologi yang lebih baik atau
selalu ada pembaruan yang membuat para menggunakannya menjadi lebih nyaman dan
lebih praktis. Menurut Indrawan (2014) gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari
bahasa Inggris yang merujuk pada perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi
khusus untuk mengunduh informasi-informasi terbaru dengan berbagai teknologi
maupun fitur terbaru, sehingga membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.
Gadget merupakan suatu istilah yang digunakan dalam menyebut beberapa
macam jenis alat teknologi yang sifatnya semakin berkembang pesat dan memiliki
fungsi khusus. Contoh dari gadget yaitu smartphone, i-phone, komputer, laptop dan tab
(Manumpil & Ismanto, 2015). Gadget adalah suatu benda atau barang yang diciptakan
khusus di era yang serba maju ini dengan tujuan untuk membantu segala sesuatu
menjadi mudah dan praktis dibandingkan teknologi teknologi sebelumnya. Beberapa
contoh dari gadget yaitu laptop, smartphone, ipad, ataupun tablet yang merupakan alat-
alat teknologi yang berisi aneka aplikasi dan informasi mengenai semua hal yang ada di
dunia ini (Iswidharmanjaya & Agency, 2014)
Gadget juga dapat memengaruhi perilaku sosial seseorang, tergantung bagaimana
orang tersebut memanfaatkan gadget. Apabila orang tersebut dapat memanfaatkannya
dengan baik, gadget bisa sangat membantu dan mempermudah segalanya. Akan tetapi,
apabila orang tersebut menyalahgunakan penggunaannya, maka fungsi gadget yang
seharusnya bersifat mempermudah hubungan sosial atau komunikasi seseorang malah
menjadikan hubungan sosial tersebut semakin buruk hanya karena tidak mau
bersilaturahmi secara langsung dan sibuk dengan gadget masing-masing ketika sedang
berkumpul dengan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gadget adalah berbagai
macam perangkat elektronik, seperti laptop, smartphone, ipad, ataupun tablet, lengkap
dengan berbagai fitur dan aplikasi yang tersedia, yang diciptakan khusus untuk
mempermudah kehidupan manusia dalam mengakses segala informasi yang ada di
dunia ini.
2. Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini
Teknologi gadget tidak hanya beredar dikalangan usia dewasa, tetapi juga beredar
dikalangan anak usia dini ataupun prasekolah. Seiring perkembangan zaman,
masyarakat modern termasuk anak-anak, memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan
gadget yang semakin beredar luas. Sehingga saat ini tidak aneh lagi apabila anak kecil
berusia balita bahkan prasekolah di zaman sekarang sudah menggunakan gadget
(Rideout, 2013).
Gadget yang merupakan wujud nyata dari teknologi baru yang berisi aneka
aplikasi dan progam yang menyenangkan seolah-olah telah menjadi sahabat bagi anak,
bahkan bisa menyihir anakanak untuk duduk manis berjam-jam dengan bermain gadget.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rideout (2013) didapatkan hasil bahwa
terdapat anak usia 2 sampai 4 tahun telah menghabiskan waktunya di depan layar
selama 1 jam 58 menit perharinya dan anak usia 5 hingga 8 tahun menghabiskan waktu
di depan layar selama 2 jam 21 menit setiap harinya. Hal ini bertentangan dengan
pendapat Starburger (2011) yang menyatakan bahwa anak hanya boleh berada di depan
layar < 1 jam setiap harinya.
Apabila waktu efektif manusia beraktifitas sebanyak 960 menit sehari, dengan
demikian orang dewasa yang kecanduan gadget akan menyentuh perangkatnya itu
setiap 4,8 menit sekali di kala senggang. Begitupun anak-anak, tidak akan jauh berbeda
apabila orang tua tidak memiliki ketegasan dalam pembatasan durasi dan anak sudah
terlalu bergantung dengan penggunaan gadget. Kecanduan gadget pada anak dapat
terlihat dari beberapa tanda seperti tantrum saat diminta berhenti bermain gadget, tidak
mau merespon panggilan baik dari orang tua ataupun orang lain (kemampuan
komunikasi) ketika sedang bermain gadget, dan apabila anak tersebut sudah masuk
tahap sekolah, nilai akademis (kemampuan anak) menurun dikarenakan anak sudah
tidak tertarik lagi dengan materi pembelajaran yang ada disekolah (Starburger, 2011).
3. Bentuk Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini
Syahra, (2003) menyatakan bahwa semakin berkembangnya zaman tidak bisa
dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berlangsung
semakin pesat dan penggunaannya telah menjangkau ke berbagai lapisan kehidupan
masyarakat dari segala bidang, usia dan tingkat pendidikan. Penggunaan oleh orang
dewasa, biasa digunakan untuk alat komunikasi, mencari informasi atau browsing,
youtube, bermain game, ataupun lainnya. Sedangkan pemakaian pada anak usia dini
biasanya terbatas dan penggunaannya hanya sebagai, media pembelajaran, bermain
game, dan menonton animasi. Pemakaiannya pun dapat memiliki waktu yang beragam
dan berbeda durasi serta intensitas pemakaiannya pada orang dewasa dan anak-anak.
Sari & Mitsalia (2016) melaporkan bahwa rata-rata anak menggunakan gadget
untuk bermain game daripada menggunakan untuk hal lainnya. Hanya sedikit yang
menggunakan untuk menonton kartun dengan menggunakan gadget. Nurrachmawati
(2014) menambahkan bahwa PC tablet atau smartphone tidak hanya berisi aplikasi
tentang pembelajaran mengenal huruf atau gambar, tetapi terdapat aplikasi hiburan,
seperti sosial media, video, gambar bahkan video game. Pada kenyataannya, anak-anak
akan lebih sering menggunakan gadgetnya untuk bermain game daripada untuk belajar
ataupun bemain di luar rumah dengan teman-teman seusianya. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Delima, Arianti, & Pramudyawardani (2015), diperoleh hampir semua
orang tua (94%) menyatakan bahwa anak biasa menggunakan perangkat teknologi
untuk bermain game. Sebagian besar anak (63%) menghabiskan waktu maksimum 30
menit untuk sekali bermain game. Sementara 15% responden menyatakan bahwa anak
bermain game selama 30 sampai 60 menit dan sisanya dapat berinteraksi dengan sebuah
game lebih dari satu jam.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat terlihat jelas bahwa bentuk penggunaan
gadget pada anak usia dini kebanyakan untuk bermain game dan youtube.
4. Durasi Penggunaan Gadget
Orang tua harus mempertimbangkan berapa banyak waktu yang diperbolehkan
untuk anak usia prasekolah dalam bermain gadget, karena total lama penggunaan
gadget dapat memengaruhi perkembangan anak (Starburger, 2011). Starburger (2011)
berpendapat bahwa seorang anak hanya boleh berada di depan layar < 1 jam setiap
harinya. Pendapat tersebut didukung oleh Sigman yang mengemukakan bahwa waktu
ideal lama anak usia prasekolah dalam menggunakan gadget yaitu 30 menit hingga 1
jam dalam sehari (Sigman, 2010).
Sedangkan menurut asosiasi dokter anak Amerika dan Canada, mengemukakan
bahwa anak usia 0-2 tahun alangkah lebih baik apabila tidak terpapar oleh gadget,
sedangkan anak usia 3-5 tahun diberikan batasan durasi bermain gadget sekitar 1 jam
perhari, dan 2 jam perhari untuk anak usia 6-18 tahun. Akan tetapi, faktanya di
Indonesia masih banyak anak-anak yang menggunakan gadget 4-5 kali lebih banyak
dari jumlah yang direkomendasikan. Pemakaian gadget yang terlalu lama dapat
berdampak bagi kesehatan anak, selain radiasinya yang berbahaya, penggunaan gadget
yang terlalu lama dapat memengaruhi tingkat agresif pada anak. Anak akan cenderung
malas bergerak dan dan lebih memilih duduk atau terbaring sambil menikmati cemilan
yang nantinya dapat menyebabkan anak kegemukan atau berat badan bertambah secara
berlebihan. Selain itu, anak menjadi tidak peka terhadap lingkungan di sekelilingnya.
Anak yang terlalu asik dengan gadgetnya berakibat lupa untuk berinteraksi ataupun
berkomunikasi dengan orang sekitar maupun keluarga dan itu akan bedampak sangat
buruk apabila dibiarkan secara terus menerus (Rowan, 2013).
5. Dampak Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini
a. Dampak positif
bagaimana orang tersebut menggunakannya dan memanfaatkannya. Adapun
beberapa dampak positif gadget pada anak yaitu menjadi media pembelajaran
yang menarik, belajar bahasa inggris lebih mudah, serta meningkatkan logika
lewat game interaktif yang edukatif. Hal tersebut dapat terjadi apabila orang tua
mampu memberikan pengawasan, penegasan, serta pendekatan kepada anak
terhadap gadget dengan baik (Iswidharmanjaya & Agency, 2014).
b. Dampak negatif
Selain memiliki dampak positif, penggunaan gadget juga dapat berdampak
negatif bagi anak. Aneka aplikasi gadget yang berisi game, video yang
mengandung sara, ataupun ajaran sesat sekalipun semua tersedia dan dalam
jangkauan akses yang sangat mudah dan cepat dalam hitungan detik saja.
Penggunaan gadget yang berlebihan (kecanduan), apalagi dengan akses konten
yang tidak baik, seperti adegan kekerasan yang anak lihat dalam game dan film,
serta pornografi, dipercaya memengaruhi secara negative baik perilaku atapun
kemampuan anak (Pratiwi, 2015).
keperawatan yang berjudul Menelisik Pengaruh Penggunaan Aplikasi Gadget
Terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini menyatakan bahwa gadget
membawa banyak perubahan dalam pola kehidupan, tanpa disadari seseorang
yang sering manggunakan gadget dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan
sosial dalam bermasyarakat.
D. Peran Pola Asuh Orang Tua dan penggunaan Gadget terhadap Interaksi Sosial
Anak Prasekolah
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua, penggunaan
gadget, dan interaksi sosial. Ketiga variabel diasumsikan memiliki keterkaitan, yaitu pola
asuh orang tua dan penggunaan gadget berperan terhadap interaksi sosial. Pernyataan ini
dapat dijelaskan sebagai berikut.
Rentang usia 4 sampai dengan 6 tahun merupakan tahapan yang disebut sebagai usia
prasekolah. Lembaga pendidikan prasekolah adalah lembaga pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis anak didik di luar lingkungan keluarga
sebelum memasuki pendidikan dasar formal. Pendidikan prasekolah bertujuan untuk
membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, intelektual, keterampilan fisik dan
motorik, sosial, moral, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungannya, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan tahap selanjutnya
(Izzaty, 2017).
Salah satu ciri khas perkembangan psikologis pada usia ini adalah mulai meluasnya
lingkungan sosial anak. Bila pada tahap usia sebelumnya anak merasa cukup dengan
lingkungan pergaulan dalam keluarga, maka pada usia prasekolah anak mulai merasakan
adanya kebutuhan untuk memiliki teman bermain serta memiliki aktivitas yang teratur di luar
lingkungan rumah. Bagi anak-anak yang bersekolah di sebuah taman kanak-kanak (TK),
maka anak tersebut memiliki kebutuhan akan adanya seorang figur pendidik serta kebutuhan
untuk beraktivitas dalam situasi dan kondisi yang bervariasi. TK merupakan area penting
sebagai tempat anak-anak belajar mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dan
mengembangkan kemandirian. TK tidak hanya berfungsi untuk meletakkan dasar-dasar
kemampuan akademik, melainkan juga berfungsi sebagai pengembangan aspek psikososial
anak (Izzaty, 2017).
Kualitas anak usia dini selain dipengaruhi oleh faktor bawaan, juga sangat dipengaruhi
oleh faktor lingkungan yang tidak terlepas dari pengaruh faktor psikososial (Izzaty, 2017).
Pembelajaran pada anak usia dini adalah hasil dari interaksi antara pemikiran anak dan
pengalamannya dengan materi-materi, ide-ide, dan representasi mentalnya tentang dunia
sekitarnya (Mutiah, 2012). Anak-anak mulai beradaptasi dengan teman sebaya dan
lingkungannya untuk mencapai perkembangan sosial yang optimal.
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan
antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial
akan terjadi jika adanya sebuah kontak sosial dan adanya komunikasi. Interaksi sosial
merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa interaksi sosial, tak akan
mungkin ada kehidupan bersama (Soekanto, 1992). Pada anak usia dini interaksi sosial
memanglah sangat dibutuhkan karena anak nantinya akan diajarkan bagaimana hidup
bermasyarakat, lalu anak juga akan diajarkan berbagai peran yang nantinya akan menjadi
indentifikasi dirinya, selain itu pula saat melakukan interasi sosial anak akan memperoleh
berbagai informasi yang ada disekitarnya.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan
orang tua terhadap anak dalam berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma
kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anak bagaimana
menerapkan norma-norma ini dalam kehidupan sehari-hari (Susanto, 2012). Pengasuhan
yang tepat dari orang tua sangatlah penting diberikan kepada anak, karena anak masih terlalu
muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri ke arah
kematangan. Arahan serta bimbingan orang tua menjadi kunci keberhasilan anak untuk dapat
membentuk kepribadian yang mandiri dan kompeten secara sosial.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suharsono (2009) menemukan bahwa terdapat
hubungan positif antara pola asuh orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak usia dini.
Hal ini sejalan dengan pandangan sejumlah teoretisi dan peneliti (dalam Santrock, 2007)
yang mengatakan bahwa hubungan orang tua dengan anak berfungsi sebagai landasan
emosional yang digunakan anak untuk mengeksplorasi dan menikmati hubungan dengan
teman sebaya. Hubungan orang tua dengan anak memengaruhi hubungan anak dengan teman
sebaya. Anak-anak belajar tentang bagaimana berhubungan dengan figur pemegang otoritas
dari orang tuanya. Melalui teman sebaya, anak-anak juga belajar mengenai cara berinteraksi
dan melakukan hubungan timbal balik dengan teman seusianya (dalam Santrock, 2007).
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk dapat berinteraksi sosial dengan orang lain
di lingkungan sekitarnya. Faktor penting lain yang memengaruhi kemampuan interaksi sosial
anak adalah teknologi gadget. Di era globalisasi saat ini, perkembangan teknologi yang
semakin canggih khususnya gadget membuat setiap orang yang menggunakannya mampu
membangun komunikasi dan mengakses informasi secara mudah dan praktis, tanpa terhalang
jarak dan waktu. Gadget selain digunakan sebagai sarana komunikasi, juga digunakan
sebagai sarana hiburan karena tersedia berbagai fitur menarik, seperti game, musik, dan lain-
lain.
Gadget tidak hanya digunakan oleh kalangan dewasa dan remaja saja, melainkan telah
menyasar kalangan anak-anak. Beberapa orang tua secara sengaja mengenalkan teknologi
pada anak-anaknya karena takut jika anaknya ketinggalan jaman. Teknologi gadget dapat
memberi pengaruh positif pada anak, namun jika anak mulai kecanduan artinya tidak bisa
lepas dari gadget maka hal itu akan menimbulkan pengaruh yang buruk. Beberapa alasan
yang membuat seorang anak menjadi kecanduan gadget antara lain lebih menarik secara
visual dan audio, tidak perlu melibatkan orang banyak, tidak terlalu menimbulkan resiko
fisik, menghindari konflik dengan teman, pemakaian lebih mudah, dapat digunakan di mana
saja, penasaran dengan perkembangan teknologi, persaingan dengan teman. Dampak buruk
penggunaan gadget pada anak antara lain menjadi pribadi tertutup, kesehatan otak terganggu,
kesehatan mata terganggu, kesehatan tangan terganggu, gangguan tidur, suka menyendiri,
perilaku kekerasan, pudarnya kreativitas, terpapar radiasi, serta ancaman cyberbullying
(Iswidharmanjaya, 2014).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Harfiyanto, Utomo, dan Budi (2015) menemukan
bahwa gambaran pola interaksi sosial, siswa lebih memilih menggunakan gadget dan jika
tidak ditanggapi baru siswa bertemu dengan orang yang dimaksud, bentuk-bentuk interaksi
yang terjadi melalui interaksi menggunakan gadget dapat menjadi dua, proses asosiatif dan
proses disasosiatif. Proses asosiatif bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi menggunakan
gadget, siswa banyak melakukan kerjasama mengerjakan tugas, pekerjaan rumah, bertukar
informasi, sedangkan proses disasosiatif yaitu konflik, tidak pernah ada konflik yang serius,
yang terjadi hanya sebatas perbedaan pendapat serta salah paham yang dapat diselesaikan
langsung oleh siswa. Dampak negatif dari penggunaan gadget adalah siswa menjadi lupa
waktu.
Berikut merupakan bagan yang dapat menggambarkan hubungan antara ketiga variabel:
Gambar 1. Diagram peran pola asuh orang tua dan penggunaan gadget terhadap interaksi sosial
Keterangan:
: Variabel yang diteliti
Interaksi Sosial (Y)
a. Pola Asuh Otoriter
b. Pola Asuh Permisif
c. Pola Asuh Demokratis
Terdapat dua hipotesis yang ingin diajukan dalam penelitian ini yaitu:
1. Hipotesis Mayor
Ho : Pola asuh orang tua dan penggunaan gadget tidak berperan terhadap interaksi
sosial anak prasekolah.
Ha : Pola asuh orang tua dan penggunaan gadget berperan terhadap interaksi
sosial anak prasekolah.
2. Hipotesis Minor
a. Ho : Pola asuh orang tua tidak berperan terhadap interaksi sosial anak
prasekolah.
Ha : Pola asuh orang tua berperan terhadap interaksi sosial anak prasekolah.
b. Ho : Gadget tidak berperan terhadap interaksi sosial anak prasekolah.
Ha : Gadget berperan terhadap interaksi sosial anak prasekolah.