Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Depresi Berat Tanpa

  • View
    221

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gangguan mood

Text of Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Depresi Berat Tanpa

Gangguan afektif bipolar episode kini depresi berat tanpa gejala psikotik

Gangguan afektif bipolar episode kini depresi berat tanpa gejala psikotiketiologiFaktor biologiHerediterGenetikNeurontransmmitterFaktor psikososialPeristiwa kehidupan dan stress lingkunganFaktor psikoanalitik dan psikodinamikaTeori kognitif

herediter50% pasien bipolar memiliki satu orangtua dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja).

Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.

Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.

Keturunan pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali.

Bahkan risiko pada anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%2.

genetikbrain derived neurotrophic factor (BDNF) adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam pengaturan mood. NeurontransmitterterganggunyaSerotoninDopaminNE Teori kognitifinterpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme, dan keputusasaan. Pandangan negatif yang dipelajari tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan depresi. Seorang ahli terapi kognitif berusaha untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas perilaku, seperti mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien5Kriteria diagnostikF31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala PsikotikEpisode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2), danHarus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau.

F32.2 Episode Depresi Berat tanpa Gejala PsikotikSemua 3 gejala utama depresi harus adaDitambah sekurang kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berinteraksi.Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retadasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu melaporkan gejalanya secara rinci.Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.Terapi biologik pada episode depresi akut GB 1Lini 1Terapi:Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI, Olanzapin + SSRI, litium + divalproat.Lini 2Terapi:Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotriginLini 3Terapi: Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat + venlafaksin, litium + MAOI, TKL, Litium atau divalproat atau AA + TCA, litium atau divalproat atau karbamazepin + SSRI + Lamotrigin, penambahan topiramat.

Obat obatan yang efektif pada fase akut hendaknya dilanjutkan penggunaan padafase rumatanRekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar Lini 1Terapi:Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP), penambahan RIJP, aripiprazolLini 2Terapi:Karbamazepin, litium +divalproat, litium + karbamazepine, litium + divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin + fluoksetinLini 3Terapi:Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin

Daftar pustakaKaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri [Widjaja K, alih bahasa]. edisi 7 jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. Bab 15, Gangguan Mood; hlm.777-833.Maslim, Rusdi. 2013. Diagnosis Gangguan Jiw, Rujukan Ringkas PPDGJ III dan DSM 5 . Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.