Click here to load reader

Fraktur Femur Jadi

  • View
    56

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

nice

Text of Fraktur Femur Jadi

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian terjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa dan bagaimana pengertian dari fraktur femur ?

2. Bagaimana etiologi dari fraktur femur ?

3. Bagaimana klasifikasi dari fraktur femur ?

4. Bagaimana pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan dari fraktur femur ?

5. Bagimana asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur femur ?C. METODE PENULISAN

Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode pustaka dan studi literature, yaitu dengan mencari dan mengumpulkan informasi penting dari berbagai sumber seperti buku buku perpustakaan dan website atau situs- situs internet yang terkait.BAB II

PEMBAHASANA. PENGERTIANFraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis.Fraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak-anak jarang ditemukan. Fraktur ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3:2 insiden tersering pada usia 11-12 tahun.Lebih dari 1/3 klien fraktur leher femur tidak dapat mengalami union terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi lebih sering terjadi pada fraktur dengan lokasi lebih ke proksimal. Ini disebabkan oleh vaskularisasi yang jelek, reduksi yang tidak akurat, fiksasi yangb tidak adekuat , dan lokasi fraktur adalah intra artikular.

Fraktur intertrokanter femur. Pada beberapa keadaan, trauma mengenai daerah tulang femur. Fraktur daerah trokanter adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat ekstrartikular dan sering terjadi pada orang tua di atas usia 60 tahun . Fraktur trokanter terjadi bila klien jatuh dan mengalami trauma yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat kominutif terutama pada korteks bagian postero-medial.

Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap usia dan biasanya akibat trauma yang hebat. Fraktur suprakondilar femur. Secara anatomis, daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang mengenai daerah femur terjadi karena adanya tekanan varus dan valgus disertai kekuatan aksial dan putaran sehingga dapat menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran pada fraktur terjadi karena tarikan otot. Oleh karenan itu padaterapi konservatif, lutut harus difleksi untuk menghilangkan tarikan otot.

Secarara klinis, biasanya ditemukan adanya riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondilar. Pada pemerikasaan mungkin ditemukan adanya krepitasi.B. KLASIFIKASI

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :

1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.

Melalui kepala femur (capital fraktur)

Hanya di bawah kepala femur

Melalui leher dari femur

2. Fraktur Ekstrakapsuler;

Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.

Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

C. ETIOLOGI

Mekanisme fraktur.

Fraktur terjadi karena jatuh pada daerah trokanter, baik karena kecelakaan lalu lintas maupun jatuh dari tempat yang terlalu tinggi, seperti terpeleset di dalam kamar mandi ketika panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi.

Kapsul femur mendapat aliran darah dari tiga sumber sebagai berikut.

1. Pembuluh darah intramedular di dalam leher femur.

2. Pembuluh darah servikal asenden dalam retinakulum kapsul sendi.

3. Pembuluh darah dari ligamen yang berputar.

Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedular dan pembuluh darah retinakulum selalu mengalami robekan apabila terjadi pergeseran fragmen. Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler dan mempunyai kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan pembuluh darah, periosteum yang rapuh, serta hambatan dari cairan sinovial. Mekanisme trauma.

Trauma yang terjadi menyebabkan fraktur spiral apabila klien jatuh dengan posisi kaki melekat erat pada dasar sambil terjadi putaran yang diteruskan pada femur. Fraktur yang bersifat transversal dan oblik terjadi karena trauma langsung dan trauma angulasi. Fraktur diafisis femurdapat bersifat tertuitup atau terbuka, simpel, kominutif, atau segmental.

Pada umumnya klien adalah remaja sampai dewasa muda. Pada usia tersebutr klien lebih suka kebut-kebutan dengan kendaraan bermotor. Klien mengalami pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai. Klien mungkin datang dalam keadaan syok. Dengan pemeriksaan radiologi, perawat dapat menentukan lokasi dan jenis fraktur.

D. PATOFISIOLOGIKomplikasi bergantung pada beberapa faktor. Komplikasi yang bersifat umum adalah trombosis vena, emboli paru, penumonia, dan dekubitus. Nekrosis avaskular terjadi pada 30 % klien fraktur yang disertai pergeseran dan 10 % klien fraktur yang tanpa pergeseran. Apabila lokasi fraktur lebih ke proksimal, kemungkinan terjadinya nekrosis avaskuler lebih besar.

Komplikasi dini.

Komplikasi dini harus ditangani dengan serius oleh perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan pada klien fraktur dialisis femur. Perawat dapat melakukan pengenalan dini dan pengawasan yang optimal apabila telah mengenal konsep anatomi, fisiologi, dan patofisiologi patah tulang.Komplikasi yang biasanya terjadi pada klien fraktur dialysis adalah sebagai berikut :

Syok. Terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat tertutup.

Emboli lemak. Sering di dapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur. Klien perlu menjalani pemeriksaan gas darah.

Trauma pembuluh darah besar . ujung fragmen tulang menembus jaringan lunak dan merusak arteri femoralis sehingga menyebabkan kontusio dan oklusi atau terpotong sama sekali.

Trauma saraf. Trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen dapat disertai kerusakan saraf yang bervariasi dari neuro praksia sampai aksonotemesis. Trauma saraf dapat terjadi pada nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu nervus tibialis dan nervus peroneus komunis.

Trombo-emboli. Klien yang menjalani tirah baring lama, misalnya distraksi ditempat tidur dapat mengalami komplikasi trombo-emboli.

Infeksi. Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang terkontaminasi. Infeksi dapat pula terjadi setelah tindakan operasi.

Komplikasi lanjut

Komplikasi fraktur diafisis femur hampir sama dengan komplikasi beberapa jenis fraktur lainnya. Oleh karena itu, setiap itu, perawat perlu memperhatikan dan mengetahui komplikasi yang biasa terjadi agar komplikasi tersebut dapat dikurangi atau di hilangkan. Padabeberapa situasi, perawat biasanya akan berhadapan dengan klien fraktur diafisis femur yang mengalami komplikasi lanjut. Perawat yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang baik dapat mengidentifikasi kelainan yang timbul akibat komplikasi tahap lanjut dari fraktur diafisis femur.

Komplikasi yang sering terjadi pada klien fraktur diafisi femur adalah sebagai berikut :

Delayed union. Fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam empat bulan.

Non-union. Apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik, perawat perlu mencurigai adanya non-union. Oleh karena itu, diperlukan fiksasi internal dan bone graft.

Mal-union. Bila terjadi pergeseran kembali dua ujung fragmen, diperlukan pengamatan terus menerus selamat perawatan. Angulasi lebih sering ditemukan. Mal-union juga menyebabkan pemendekan tungkai sehingga diperlukan koreksi berupa osteotomi. Kaku sendi lutut. Setelah fraktur femur, biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada sendi lutut. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal. Refraktur. Terjadi apabila mobiliasasi dilakukan sebelum terbentuk union yang solid.

E. TANDA DAN GEJALA

Nyeri hebat di tempat fraktur

Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah

Rotasi luar dari kaki lebih pendek

Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.F. PEMERIKSAAN FISIK

Kaji adanya riwayat jatuh dari ketinggian disertai nyeri pada daerah panggul terutama pada daerah inguinal depan. Ada nyeri dan pemendekan anggota gerak bawah dalam posisi rotasi lateral.

Pengkajian. Anggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna dan memendek serta ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai nyeri pada pergerakan.G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan radio