35
1 Penelitian DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Oleh I Made Sudipta ABSTRAK Tujuan : Untuk mengetahui distribusi penderita rinitis alergi yang datang ke poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2015. Metode : Desain penelitian bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data dari 80 pasien yang disangka menderita rinitis alergi kemudian menjalani tes cukit kulit (Skin Prick Test) di poli THT-KL dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2015 sehingga didapatkan sampel penelitian. Pada penelitian dilakukan tes cukit kulit menggunakan satu set alergen inhalan dan ingestan yang terdiri dari empat belas macam alergen, termasuk di dalamnya kontrol positif (histamin) dan kontrol negatif (buffer). Hasil positif pada tes cukit kulit adalah setiap diameter bintul yang bernilai +3 dan +4 yang terjadi pada setiap alergen. Hasil : Pola alergen berdasarkan umur, paling banyak dijumpai pada kelompok umur 11-20 tahun dengan persentase 35,84%. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak ditemukan pada penderita rinitis alergi, yaitu sebanyak 28 penderita dengan persentase yang mendekati seimbang yaitu 52,83% dibandingkan persentase pada wanita sebesar 47,17%. Berdasarkan pekerjaan, didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak adalah pada pelajar, yaitu 20 penderita atau sebesar 37,74%. Tungau debu rumah merupakan jenis alergen penyebab rinitis

DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

  • Upload
    others

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

1

Penelitian

DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI

DI POLI THT-KL RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015

Oleh

I Made Sudipta

ABSTRAK

Tujuan : Untuk mengetahui distribusi penderita rinitis alergi yang datang ke poli

THT-KL RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2015.

Metode : Desain penelitian bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data dari 80

pasien yang disangka menderita rinitis alergi kemudian menjalani tes cukit kulit

(Skin Prick Test) di poli THT-KL dari bulan Januari sampai dengan bulan

Desember 2015 sehingga didapatkan sampel penelitian. Pada penelitian dilakukan

tes cukit kulit menggunakan satu set alergen inhalan dan ingestan yang terdiri dari

empat belas macam alergen, termasuk di dalamnya kontrol positif (histamin) dan

kontrol negatif (buffer). Hasil positif pada tes cukit kulit adalah setiap diameter

bintul yang bernilai +3 dan +4 yang terjadi pada setiap alergen.

Hasil : Pola alergen berdasarkan umur, paling banyak dijumpai pada kelompok

umur 11-20 tahun dengan persentase 35,84%. Jenis kelamin laki-laki lebih

banyak ditemukan pada penderita rinitis alergi, yaitu sebanyak 28 penderita

dengan persentase yang mendekati seimbang yaitu 52,83% dibandingkan

persentase pada wanita sebesar 47,17%. Berdasarkan pekerjaan, didapatkan

penderita rinitis alergi paling banyak adalah pada pelajar, yaitu 20 penderita atau

sebesar 37,74%. Tungau debu rumah merupakan jenis alergen penyebab rinitis

Page 2: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

2

alergi terbanyak yang ditemukan pada 31 penderita atau 58,49% dari total

penderita rinitis alergi. Berdasarkan sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi

dengan rentang umur, paling banyak ditemukan pada rentang umur 11-20 tahun

dengan sebaran yang sama antara debu rumah, serpihan kulit manusia dan tungau

debu rumah. Berdasarkan sebaran jenis alergen penyebab rinitis dengan jenis

pekerjaan didapatkan tertinggi pada pelajar dengan sebaran yang sama antara

serpihan kulit manusia dan tungau debu rumah masing-masing yang didapat pada

12 penderita.

Kesimpulan : Distribusi penderita rinitis alergi yang datang ke poli THT-KL

RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2015 yaitu terbanyak pada laki-laki dengan

rentang umur terbanyak di antara 11-20 tahun. Pelajar merupakan jenis pekerjaan

penderita rinitis alergi terbanyak dan alergen penyebab rinitis alergi terbanyak

adalah tungau debu rumah.

Kata kunci : rinitis alergi, tes cukit kulit, alergen.

Page 3: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

3

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rinitis alergi adalah masalah kesehatan global. Lebih dari 500 juta

penduduk di dunia menderita penyakit ini karena dapat terjadi pada semua negara,

semua kelompok etnis maupun segala usia. Rinitis alergi dapat menyebabkan

gangguan tidur, gangguan pada aktivitas sehari-hari, gangguan bekerja serta dapat

meningkatkan keparahan asthma, sehingga hal ini secara langsung berpengaruh

pada kondisi sosial dan ekonomi penderita.1

Gejala rinitis alergi secara umum dapat mempengaruhi kesehatan

seseorang dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Penyakit ini bukan

penyakit fatal tapi dapat menganggu pekerjaan, konsentrasi dan kehidupan sehari-

hari. Selain pengobatannya yang relatif mahal, sifatnya yang sering mengalami

kekambuhan, dapat mengakibatkan keluhan yang bersifat sementara maupun

menetap. Diagnosis rinitis alergi dapat dengan mudah ditegakkan, namun dalam

beberapa kasus sering tidak terdiagnosis lebih awal, sehingga pasien datang

setelah timbulnya komplikasi. Hal ini sering disebabkan karena mereka tidak

merasakan gejala rinitis sebagai penyakit.2,3

Dilaporkan di seluruh dunia, rinitis alergi terjadi pada 10% sampai dengan

30% dari populasi, hal ini didukung oleh sebuah studi pada tahun 2012 yang

melaporkan sebanyak 9% atau 6,6 juta anak mengalami rinitis alergi. Prevalens

gejala rinitis dalam survei dari ISAAC (International Study Of Asthma And

Allergic In Childhood) bervariasi dari 0,8% sampai dengan 14,9% pada usia 6-7

tahun dan 1,4% sampai dengan 39,7% di usia 13-14 tahun.3,4

Di Indonesia, angka kejadian rinitis alergi yang pasti belum diketahui,

karena sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian multisenter.

Berdasarkan survei dari ISAAC (International Study Of Asthma And Allergic In

Childhood) pada siswa SMP umur 13-14 tahun di Semarang tahun 2001-2002,

prevalens rinitis alergi sebesar 18%. Penelitian Baratawidjaja dkk pada tahun 1990

di suatu daerah di Jakarta mendapatkan prevalens sebesar 23,7%, sedangkan

Page 4: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

4

Madiadipoera dkk pada tahun 1991 di Bandung memperoleh prevalens sebesar

1,5%. Rinitis alergi biasa terjadi pada usia muda dengan prevalens yang sama

antara pria dan wanita. Riwayat keluarga dengan atopi mempunyai kecenderungan

terkena rinitis alergi lebih besar daripada yang tidak memiliki riwayat atopi.4-7

Dasar terapi dari penyakit rinitis alergi adalah dengan menghindari alergen

penyebab, untuk itu diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui alergen spesifik

penyebab rinitis alergi sehingga dapat dihindari oleh pasien. Oleh karena itu

penulis terdorong untuk melakukan penelitian mini ini untuk mengetahui

distribusi penderita rinitis alergi alergi di Poliklinik THT-KL RSUP Sanglah

Denpasar tahun 2015.

Permasalahan Penelitian

Bagaimana distribusi penderita rinitis alergi di Poliklinik THT-KL RSUP

Sanglah Denpasar tahun 2015.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum :

Mengetahui distribusi penderita rinitis alergi pada pasien rawat jalan di

poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2015.

Tujuan Khusus :

a. Mengetahui distribusi penderita berdasarkan hasil tes cukit kulit.

b. Mengetahui distribusi penderita rinitis alergi berdasarkan kelompok umur.

c. Mengetahui distribusi penderita rinitis alergi berdasarkan jenis kelamin.

d. Mengetahui distribusi penderita rinitis alergi berdasarkan pekerjaan.

e. Mengetahui distribusi alergen berdasarkan hasil tes cukit kulit positif.

f. Mengetahui pola hasil tes cukit kulit berdasarkan kelompok umur.

g. Mengetahui pola hasil tes cukit kulit berdasarkan pekerjaan.

Page 5: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

5

Manfaat Penelitian

a. Mengetahui distribusi penderita rinitis alergi yang datang ke poliklinik

THT-KL RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2015.

b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi atau

pembanding untuk penelitian selanjutnya.

Page 6: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi dan Fisiologi Hidung

Anatomi Hidung

Hidung merupakan bagian wajah yang paling menonjol dan secara anatomi,

terbagi menjadi hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung atau

kavum nasi. Struktur hidung luar dari atas ke bawah terdiri dari pangkal hidung

(nose bridge), batang hidung (dorsum nasi), puncak hidung (hip), ala nasi,

kolumela dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dilapisi oleh kerangka

tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot

kecil untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.8

Gambar 1. Struktur tulang dan kartilago hidung8

Rongga hidung atau kavum nasi kanan dan kiri dipisahkan oleh septum

nasi di bagian tengah. Lubang masuk bagian depan disebut nares anterior dan

bagian belakang disebut nares posterior atau koana yang menghubungkan kavum

nasi dengan nasofaring. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu

dinding medial, lateral, inferior dan posterior. Dinding medial terdiri dari septum

nasi. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka yaitu konka inferior, konka

Page 7: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

7

media, konka superior dan konka suprema (biasanya rudimenter). Diantara konka-

konka dan dinding lateral terdapat rongga sempit yang disebut meatus.8

Gambar 2. Struktur anatomi hidung8

Secara garis besar perdarahan hidung berasal dari tiga sumber utama yaitu

arteri etmoidalis anterior, arteri etmoidalis posterior dari arteri oftalmika dan arteri

sfenopalatina serta cabang terminal arteri maksilaris interna yang berasal dari

arteri karotis eksterna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari

cabang arteri maksilaris interna. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari

cabang-cabang arteri fasialis.8,9

Gambar 3. Sistem perdarahan hidung9

Page 8: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

8

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri

sfenopalatina, arteri etmoidalis anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina

mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (little’s area). Vena hidung mempunyai

nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena divestibulum

dan struktur luar hidung bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan

sinus kavernosus.8-10

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari

nervus etmoidalis anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris yang

berasal dari nervus oftalmikus. Saraf sensoris untuk hidung terutama berasal dari

cabang oftalmikus dan cabang maksilaris nervus trigeminus.9

Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari

nervus maksilaris melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum

selain memberi persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau

otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris

dari nervus maksilaris dan serabut parasimpatis dari nervus petrosus profundus.

9,10

Gambar 4. Sistem persarafan hidung.9

Page 9: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

9

Fisiologi Hidung

Fungsi fisiologis dari hidung seperti menghangatkan, melembabkan dan

filtrasi berbagai partikel di udara merupakan fungsi saluran napas yang vital.

Hidung dengan jaringan erektil konka atau sinusoid dan septum berfungsi

membentuk aliran udara yang bervariasi dalam tahanan jalan napas serta mengatur

volume dan tekanan udara yang melewatinya. Pola aliran udara ini umumnya

membentuk suatu lengkungan di dekat konka media, dimana aliran turbulensi ini

akan mendukung fungsi filtrasi, melembabkan dan menghangatkan udara serta

mengatur tahanan jalan napas di hidung.9,10

Manusia dewasa menghirup kurang lebih 10 liter udara setiap harinya dan

tahanan jalan napas pada hidung berperan sebesar 50% dari tahanan jalan napas

pada manusia dewasa. Berbagai faktor, baik faktor lingkungan maupun faktor

intrinsik mempengaruhi tahanan jalan napas pada hidung. Aktivitas fisik seperti

berolahraga dan rinitis atrofi dapat menurunkan tahanan jalan napas hidung,

sedangkan kondisi seperti rinitis alergi, rinitis vasomotor, udara dingin, maupun

deviasi septum nasi sebaliknya akan meningkatkan tahanan jalan napas.9,10

Rinitis Alergi

Definisi rinitis alergi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi

pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama

serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan berulang dari

alergen spesifik tersebut. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact

on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala

bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar

alergen yang diperantarai oleh IgE.11,12

Klasifikasi rinitis alergi

Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam dua macam berdasarkan sifat

berlangsungnya, yaitu rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) dan

rinitis alergi sepanjang tahun (perenial). Gejala keduanya hampir sama hanya

Page 10: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

10

berbeda dalam sifat berlangsungnya. Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi

berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its

Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi

menjadi intermiten atau kadang-kadang (bila gejala kurang dari 4 hari dalam

seminggu atau kurang dari 4 minggu). Dan persisten/menetap (bila gejala lebih

dari 4 hari dalam seminggu dan atau lebih dari 4 minggu). Sedangkan untuk

tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi ringan bila tidak

ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian, bersantai, berolahraga,

belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu, serta tingkat sedang atau berat

bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.8,10,11

Etiologi rinitis alergi

Rinitis alergi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara

genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki

peran penting sebesar 20 – 30 % pada semua populasi dan 10 – 15 % pada anak

yang atopi. Apabila kedua orang tua atopi maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih

besar atau mencapai 50 %.12,13

Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan

ingestan pada anak-anak.13

Inhalan Pollen,

Grasses

Weeds

Inhalan Debu rumah

Kutu debu

Kulit binatang

Bulu

Ingestan Tepung

Telur

Susu

Kacang

Rinitis

alergi

Seasonal

Rinitis

alergi

Perennial

Gambar 5. Alergen penyebab rinitis alergi14

Page 11: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

11

Patofisiologi rinitis alergi.

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses

sensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi partikel alergen akan

tertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal

ini menyebabkan Antigen Presenting Cell (APC) akan menangkap alergen yang

menempel tersebut. Antigen tersebut akan bergabung dengan HLA kelas II

membentuk suatu kompleks molekul MHC (Major Histocompability Complex)

kelas II. Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T helper (Th 0).

Th 0 ini akan diaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APC menjadi Th1 dan

Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, IL9, IL10,

IL13 dan lainnya. IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit

B, sehingga sel B menjadi aktif dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi

dalam darah ini akan terikat dengan sel mast dan basofil yang mana kedua sel ini

merupakan sel mediator. Adanya IgE yang terikat ini menyebabkan teraktifasinya

kedua sel tersebut.9,11

1. Reaksi Alergi Fase Cepat 9,11,13

Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak

kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan

pada fase ini yaitu histamin, triptase dan mediator lain seperti leukotrien,

prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator-mediator tersebut

menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari

anastomosis arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinya edema.

Terkumpulnya darah pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis

berupa hidung tersumbat dan oklusi dari saluran hidung. Rangsangan

terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan

permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Rangsangan

pada ujung saraf sensoris (n.vidianus) menyebabkan rasa gatal pada

hidung dan bersin-bersin.

2. Reaksi Alergi Fase Lambat.9,11,13

Reaksi alergi fase cepat terjadi setelah 4-8 jam setelah fase cepat. Reaksi

ini disebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi

Page 12: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

12

terhadap sel endotel post kapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular

Cell Adhesion Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan sel

leukosit seperti eosinofil menempel pada sel endotel. Faktor kemotaktik

seperti IL5 menyebabkan infiltrasi sel-sel eosinofil, sel mast, limfosit,

basofil, neutrofil dan makrofag ke dalam mukosa hidung. Sel-sel ini

kemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan mediator lain seperti

Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein

(EDP), Major Basic Protein (MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO)

yang menyebabkan gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih

didominasi oleh sumbatan hidung.

Antigen

Antigen adalah zat yang dapat memicu respon imun yang menyebabkan

produksi antibodi sebagai bagian dari pertahanan tubuh terhadap infeksi dan

penyakit. Antigen dapat merupakan zat asing dari lingkungan seperti bahan

kimia, bakteri, virus dan serbuk sari atau dapat juga terbentuk dari dalam

tubuh, seperti toksin bakteri dan sel-sel jaringan.11,12

Gejala klinik rinitis alergi

Gejala rinitis alergi yang khas yaitu serangan bersin berulang. Pada

dasarnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila

terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme

fisiologik yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin

dianggap patologis bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan sebagai akibat

dilepaskannya histamin. Gejala lain seperti keluar ingus (rinore) yang encer dan

banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, kadang-kadang dapat disertai

dengan banyak keluar air mata atau hiperlakrimasi.13.15

Page 13: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

13

Gambar 6. Anatomi hidung pada keadaan normal dan rinitis alergi.12

Tanda-tanda alergi juga terlihat di hidung, mata, telinga, faring atau laring.

Tanda pada hidung terdapat garis melintang pada dorsum nasi akibat sering

menggosok-gosok hidung ke atas (allergic salute), pucat dan udem pada mukosa

hidung sampai tampak kebiruan. Lubang hidung bengkak disertai dengan sekret

mukoid atau cair. Tanda pada mata termasuk edema kelopak mata, kongesti

konjungtiva dan garis hitam dibawah mata (allergic shiner). Tanda pada telinga

termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai tanda dari

adanya sumbatan pada tuba Eustachius. Tanda pada faring tampak faringitis

granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda pada laring

terdapat suara serak dan edema pita suara. Gejala lain yang tidak khas dapat

berupa batuk, sakit kepala, gangguan penciuman, mengi, nyeri wajah dan post

nasal drip. Beberapa orang juga mengalami lemah, lesu, mudah marah,

kehilangan nafsu makan dan sulit tidur.12,15,16

Diagnosis rinitis alergi

Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik, karena

sering kali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis

dapat ditegakkan dari anamnesis saja. Gejala rinitis alergi yang khas ialah

terdapatnya serangan bersin berulang. Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang

encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang

Page 14: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

14

disertai dengan banyak keluar air mata atau hiperlakrimasi. Kadang-kadang

keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala

yang dikeluhkan oleh pasien. Perlu ditanyakan pola gejala seperti apakah keluhan

hilang timbul atau menetap beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor

predisposisi karena faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi

rinitis alergi, respon terhadap pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan.6,11,13

Pemeriksaan fisik biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan, allergic shinner

dan allergic crease. Pada pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa hidung

basah, berwarna pucat atau livid dengan konka udem, sekret yang encer dan

banyak. Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat

memperberat gejala hidung tersumbat. Selain itu dapat pula ditemukan

konjungtivis bilateral atau penyakit lain yang berhubungan seperti sinusitis dan

otitis media.11,13

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan ada 2 cara yaitu:

1. Secara in vitro dengan menghitung eosinofil dalam darah tepi didapatkan

nilai normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total (Prist-

Paper Radio Imunosorbent Test) sering kali menunjukkan nilai normal,

kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit,

misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau

urtikaria.11,13

2. Secara in vivo yaitu alergen penyebab dapat dicari dengan cara

pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal

atau berseri (Skin End-point Titration/SET). SET dilakukan untuk

alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai tingkatan

konsentrasi atau kepekatannya. Keuntungan SET selain alergen penyebab

juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.

Untuk alergi makanan uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat

diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan

provokasi (Challenge Test). Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari

tubuh dalam waktu lima hari, karena itu pada Challenge Test makanan

Page 15: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

15

yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari,

selanjutnya diamati reaksinya.11-15

Tes cukit kulit ( Skin Prick Test).

a. Definisi tes cukit kulit

Tes cukit kulit adalah salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosis yang

banyak digunakan oleh para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik

yang terikat pada sel mastosit kulit. Terikatnya IgE pada mastosit ini

menyebabkan keluarnya histamin dan mediator lainnya yang dapat

menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah

akibatnya timbul kemerahan (flare) dan bentol (wheal) pada kulit

tersebut.15,16

b. Kelebihan tes cukit kulit

Kelebihan tes cukit kulit dibanding tes kulit yang lain adalah zat

pembawanya adalah gliserin maka lebih stabil jika dibandingkan dengan zat

pembawa berupa air. Sedangkan kelebihan yang lain yaitu mudah

dilaksanakan dan bisa diulang bila perlu. Tidak terlalu sakit dibandingkan

suntik intradermal. Resiko terjadinya alergi sistemik sangat kecil, karena

volume yang masuk ke kulit sangat kecil. Pada pasien yang memiliki alergi

terhadap banyak alergen tes ini mampu dilaksanakan kurang dari 1 jam.15,16

c. Tujuan tes cukit kulit

Tujuan tes cukit kulit pada alergi adalah untuk menentukan macam

alergen, sehingga di kemudian hari alergen tersebut bisa dihindari dan juga

untuk menentukan dasar pemberian imunoterapi.15,16

d. Indikasi tes cukit kulit.

Indikasi tes cukit kulit antara lain pada rinitis alergi dengan gejala yang

tidak dapat dikontrol dengan medikamentosa sehingga perlu dipastikan jenis

alergennya, asma yang persisten pada penderita yang terpapar alergen

(perenial), kecurigaan alergi terhadap makanan untuk mengetahui makanan

yang menimbulkan reaksi alergi sehingga bisa dihindari dan reaksi alergi

yang dicurigai karena sengatan serangga.6,8,11

Page 16: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

16

e. Persiapan tes cukit kulit.8,11-13

- Jelaskan apa yang akan dilakukan pada penderita dan tujuannya.

- Pastikan penderita tidak mengkonsumsi obat atau makanan yang

mempunyai efek anti alergi seperti antihistamin minimal dalam 72 jam dan

steroid sistemik dalam 2 minggu.

- Periksa tekanan darah sebelum tes alergi untuk membandingkan jika

sewaktu-waktu terjadi reaksi sistemik.

- Pastikan tidak mengalami serangan alergi berat 24 jam sebelumnya seperti

asma bronkhial.

- Sediakan spuit 1 cc dan epineprin ampul.

- Jelaskan kemungkinan timbul tanda dan gejala reaksi alergi sistemik dari

yang ringan sampai yang berat selama tes alergi

- Tanda tangan surat persetujuan tindakan.

- Desinfeksi daerah lokasi tes kulit yaitu bagian volar lengan bawah.

f. Prosedur Tes Cukit.11,13

- Teteskan larutan kontrol positif (histamin) dan kontrol negatif (bufer

fosfat), biasakan untuk histamin sebelah radial dan bufer sisi ulnar

dengan jarak minimal 2 jari.

- Tusuk dengan jarum disposible ukuran no 26 G atau lanset sedalam

lapisan epikutan, dicukit tepat ditempat tetesan, jangan sampai berdarah.

Reaksi ditunggu selama 5-10 menit. Jika sudah terbentuk bentol merah

minimal diameter 3 mm pada tempat histamin dan tidak terbentuk pada

bufer atau maksimal diameter bentol 1 mm maka dilanjutkan dengan

penetesan alergen yang akan diperiksa. Biasakan selalu mulai dari

proksimal sisi radial ke distal dengan jarak kurang lebih 1 jari, kemudian

naik ke sisi ulnar. Reaksi tes kulit dibaca 10-15 menit.

- Penilaian hasil dibandingkan dengan reaksi histamin pada masing-masing

penderita. Hasil tes kulit dianggap positip jika terjadi bentol pada alergen

sedikitnya sama dengan bentol dari reaksi histamin.

- Jika gejala sangat mendukung tetapi tes kulit hasil lebih kecil dari

histamin atau diameter bentol < 3 mm dapat diulang atau dilanjutkan

Page 17: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

17

dengan tes kulit intrakutan atau pemeriksaan penunjang lain seperti

pemeriksaan IgE dan eosinofil sekret hidung.

- Perhatikan selama tes kulit kemungkinan terjadi reaksi alergi sistemik

dengan gejala pasien tiba-tiba mengeluh lemas, mual, seperti mau pingsan

atau penderita tampak pucat. Bila terdapat gejala tersebut penderita

diminta segera lapor. Pada kondisi tersebut dapat dilakukan tindakan

dengan menidurkan penderita tanpa bantal, periksa tensi dan nadi. Bila ada

gejala shok suntikan epineprin 0.2cc subkutan atau intramuskular.

Perhatikan denyut nadi, tensi dan pernapasan dalam 5 menit. Jika belum

ada perbaikan dapat ulangi epineprin setelah 10 menit diikuti pemberian

steroid intramuskular dan pasang infus.

g. Mekanisme Reaksi pada Skin Test.11,13

Dibawah permukaan kulit terdapat sel mast dimana terdapat granula-granula

yang berisi histamin. Sel mast ini juga memiliki reseptor yang berikatan

dengan IgE. Ketika lengan IgE ini mengenali alergen misalnya house dust

mite, maka sel mast terpicu untuk melepaskan granula-granulanya ke jaringan

setempat sehingga timbul reaksi alergi berupa bentol (wheal) dan kemerahan

(flare).

A B C

Gambar 7. A. Cara menandai ekstrak alergen yang diteteskan pada lengan

15

B. Sudut melakukan cukit pada kulit dengan lancet

C. Contoh reaksi hasil positif pada tes cukit

Page 18: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

18

h. Kesalahan tes cukit kulit.

Kesalahan yang sering terjadi pada tes cukit kulit adalah tes dilakukan

pada jarak yang sangat berdekatan yaitu < 2 cm, terjadi perdarahan yang

memungkinkan terjadi false positive, teknik cukitan yang kurang benar

sehingga penetrasi ekstrak ke kulit kurang memungkinkan terjadinya false-

negative dan penguapan sehingga memudarnya larutan alergen selama tes.

i. Faktor-faktor yang mempengaruhi tes cukit kulit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tes cukit kulit yaitu; area tubuh tempat

dilakukannya tes, umur, jenis kelamin, ras, irama sirkardian, musim, penyakit

yang diderita dan obat-obatan yang dikonsumsi.

j. Interpretasi tes cukit kulit.

Penilaiannya dengan pengukuran ukuran bentol dilakukan berdasarkan The

Standardization Committee of Northern (Scandinavian) Society of

Allergology dengan membandingkan bentol yang timbul akibat alergen

dengan bentol positif histamin dan bentol negatif larutan kontrol. Adapun

penilaiannya sebagai berikut: 11,12

- Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3)

- Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-)

- Derajat bentol + (+1) dan ++ (+2) digunakan bila bentol yang timbul

besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol.

- Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bentol

histamin dinilai ++++ (+4).

Di Amerika cara menilai ukuran bentol menurut Bousquet (2001) adalah

sebagai berikut :6,15

- 0 : reaksi (-)

- 1+ : diameter bentol 1 mm > dari kontrol (-)

- 2+ : diameter bentol 1-3mm> dari kontrol (-)

- 3+ : diameter bentol 3-5 mm > dari kontrol (-)

- 4+ : diameter bentol 5 mm > dari kontrol (-) disertai eritema.

Page 19: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

19

Tes cukit kulit dapat memberikan hasil positif palsu maupun negatif palsu

karena teknik yang kurang baik. Histamin (kontrol positif) tidak menunjukkan

gambaran bentol (wheal) atau hiperemi (flare) maka interpretasi harus

dipertanyakan, apakah karena sedang mengkonsumsi obat-obat anti alergi berupa

anti histamin, steroid dan tricyclic antidepresan seperti phenothiazine yang sejenis

dengan anti histamin. Hasil negatif palsu dapat disebabkan karena kualitas dan

potensi alergen yang buruk, pengaruh obat yang dapat mempengaruhi reaksi

alergi, penyakit-penyakit tertentu, penurunan reaktivitas kulit pada bayi dan orang

tua, teknik cukitan yang salah seperti tidak ada cukitan atau cukitan yang lemah.

Bentol terhadap histamin atau alergen mencapai puncak pada sore hari

dibandingkan pada pagi hari tetapi perbedaan ini sangat minimal.6,15

Hasil positif palsu disebabkan karena dermografisme, reaksi iritan, reaksi

penyangat non spesifik dari reaksi kuat alergen yang berdekatan, atau perdarahan

akibat cukitan yang terlalu dalam. Dermografisme terjadi pada seseorang yang

apabila hanya dengan penekanan saja bisa menimbulkan bentol (wheal) dan

kemerahan (flare). Dalam rangka mengetahui ada tidaknya dermografisme ini

maka kita menggunakan larutan garam sebagai kontrol negatif. Jika Larutan

garam memberikan reaksi positif maka disebut dermografisme.6,15

Semakin besar bentol maka semakin besar sensitifitas terhadap alergen

tersebut, namun tidak selalu menggambarkan beratnya gejala klinis yang

ditimbulkan. Pada reaksi positif biasanya rasa gatal masih berlanjut 30-60 menit

setelah tes. Tes cukit kulit untuk alergen makanan kurang dapat diandalkan

kesahihannya dibandingkan alergen inhalan seperti debu rumah dan polen. Tes

cukit kulit untuk alergen makanan seringkali negatif palsu.6,15

Penatalaksanaan rinitis alergi

Secara garis besar penatalaksanaan rinitis terdiri dari tiga cara yaitu

menghindari atau eliminasi alergen dengan cara edukasi, farmakoterapi dan

imunoterapi. Sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi

komplikasi seperti sinusitis dan polip hidung.12,14

Page 20: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

20

Terapi rinitis alergi umumnya berdasarkan tahap-tahap reaksi alergi yaitu

tahap terjadinya kontak antara alergen dengan kulit atau mukosa hidung, di terapi

dengan penghindaran terhadap alergen penyebab. Tahap penetrasi alergen ke

dalam jaringan subkutan atau submukosa menuju IgE pada permukaan sel mast

atau basofil, di terapi secara kompetitif dengan imunoterapi. Tahapan ikatan Ag-

IgE di permukaan mastosit atau basofil sebagai akibat lebih lanjut reaksi Ag-IgE,

dimana dilepaskan histamin sebagai mediator, dinetralisir dengan obat–obatan

antihistamin yang secara kompetitif memperebutkan reseptor H1 dengan histamin.

Tahap manifestasi klinis dalam organ target ditandai dengan timbulnya gejala

rinitis alergi, dapat diterapi dengan obat-obatan dekongestan sistematik atau

lokal.6,12

Pada dasarnya pencegahan penyakit alergi dapat dibagi menjadi tiga tahap

yaitu pencegahan primer untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini

terhadap alergen. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi bayi yang

mempunyai risiko atopi. Pada ibu hamil diberikan diet restriksi makanan tanpa

susu, ikan laut dan kacang, mulai trimester 3 dan selama menyusui. Bayi

mendapat ASI eksklusif selama 5-6 bulan. Selain itu kontrol lingkungan

dilakukan untuk mencegah paparan terhadap alergen inhalan dan polutan.6,12

Pencegahan sekunder untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak

berupa asma dan pilek. Pencegahan tersier untuk mengurangi gejala klinis dan

derajat beratnya penyakit alergi dengan penghindaran alergen dan pengobatan.12

Komplikasi rinitis alergi

Komplikasi rinitis alergi yang sering adalah polip hidung, otitis media yang

sering residif terutama pada anak-anak dan sinusitis paranasal yang merupakan

inflamasi pada satu atau lebih mukosa sinus paranasal yang dapat terjadi karena

udema ostium sinus oleh proses alergi dalam mukosa sehingga menyebabkan

sumbatan ostium.15

Page 21: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

21

BAB III

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan mengumpulkan data dari semua

penderita rinitis alergi yang menjalani tes cukit di poli THT-KL RSUP

Sanglah Denpasar.

Tempat Dan Waktu Penelitian

Pengambilan sampel dan pengerjaan tes cukit kulit dilakukan di poliklinik

THT-KL RSUP Sanglah Denpasar dari Januari sampai dengan Desember

2015.

Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian adalah semua penderita yang diduga menderita rinitis

alergi yang datang ke poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar.

Sampel Penelitian adalah bagian dari populasi penelitian yang memenuhi

kreteria inklusi.

Kreteria inklusi :

a. Penderita yang mempunyai gejala rinitis alergi.

b. Mengikuti tes cukit kulit.

c. Bebas obat anti alergi selama 5 hari.

d. Tes cukit kulit positif adalah setiap diameter bintul +3 dan +4

yang terjadi pada setiap alergen.

Kreteria eksklusi :

a. Tes cukit kulit negatif adalah setiap diameter bintul +1 dan

+2 yang terjadi pada setiap alergen.

b. Penderita yang tidak mengikuti tes cukit kulit.

Page 22: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

22

Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dengan cara berurutan yaitu setiap pasien yang

memenuhi kreteria inklusi yang datang ke poliklinik THT-KL RSUP

Sanglah Denpasar.

Kerangka Konsepsional

Batasan Operasional

a. Rinitis alergi secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung

yang timbul karena paparan alergen baik melalui inhalan atau ingestan.

b. Alergen adalah substansi antigenik yang dapat menyebabkan reaksi

hipersensitivitas yang cepat (alergi). Pada penelitian ini dipakai satu set

alergen yang terdiri dari 7 alergen inhalan, 7 alergen ingestan termasuk

kontrol posistif (histamin) dan kontrol negatif (buffer).

c. Tes Cukit Kulit merupakan suatu tes alergi dengan menggunakan ekstrak

alergen, respon posistif dapat berarti suatu keadaan hipersensitifitas yang

sangat tinggi, nilai tes ini memiliki sensitifitas dan spesifitas yang baik

terhadap IgE RAST.

d. Umur dihitung dalam tahun menurut ulang tahun terakhir, perhitungannya

berdasarkan kalender Masehi.

e. Jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.

f. Pekerjaan yaitu jenis pekerjaan utama yang dimiliki setiap sampel

penelitian.

Jenis Alergen Umur

Jenis Kelamin

Pekerjaan

Alergen Rinitis Alergi Tes Cukit Kulit Positip

Page 23: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

23

Kerangka Kerja

Analisis Data

Semua data yang diperoleh disusun dalam bentuk tabel.

Jenis Alergen

Tes Cukit Kulit

Pasien disangka Rinitis Alergi

Pasien THT ;

• Anamnesis

• Pemeriksaan THT

Tes Cukit Kulit (+) Tes Cukit Kulit (-)

Page 24: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

24

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar

dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2015. Terdapat 80 orang yang

disangka menderita rinitis alergi kemudian menjalani tes cukit kulit, sehingga

pada akhirya akan didapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria sampel

penelitian.

Tabel 1. Hasil pemeriksaan tes cukit kulit terhadap penderita terduga rinitis alergi

Hasil Pemeriksaan Jumlah %

Tes cukit kulit positif

Tes cukit kulit negatif

53

27

66,25

33,75

Pada tabel 1 didapatkan dari 80 penderita rinitis alergi yang menjalani tes

cukit kulit, sebanyak 53 penderita (66,25%) didapatkan dengan hasil tes cukit

kulit positif

Tabel 2. Penderita rinitis alergi dengan tes cukit kulit positif berdasarkan umur

Umur Jumlah %

1-10 3 5,67

11-20 19 35,84

21-30 10 18,86

31-40 9 16,98

41-50 6 11,32

51-60 3 5,67

61-70 3 5,67

Jumlah 53 100

Page 25: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

25

Dari tabel 2 didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak dijumpai

pada kelompok umur 11-20 tahun, yaitu sebanyak 19 penderita (35,84%) dan

yang paling sedikit dijumpai pada kelompok umur 1-10 tahun, 51-60 tahun serta

61-70 tahun dengan persentase masing-masing sebesar 5,67%.

Tabel 3. Penderita rinitis alergi dengan hasil tes cukit kulit positif berdasarkan

jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah %

Pria

Wanita

28

25

52,83

47,17

Jumlah 53 100

Dari tabel 3 didapat sampel penelitian penderita rinitis alergi lebih banyak

ditemukan jenis kelamin pria, yaitu sebanyak 28 penderita dengan persentase yang

mendekati seimbang sebesar 52,83% dibandingkan persentase pada wanita

sebesar 47,17%.

Tabel 4. Penderita rinitis alergi berdasarkan jenis pekerjaan

Pekerjaan JUMLAH %

Pegawai Negeri (PNS) 8 15,09

Karyawan swasta 13 24,53

Wiraswasta 6 11,32

Pelajar 20 37,74

Ibu Rumah Tangga (IRT) 6 11,32

Jumlah 53 100

Dari tabel 4. didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak pada pelajar

sebanyak 20 penderita (37,74%) dan paling sedikit pada wiraswasta serta ibu

rumah tangga masing- masing sebanyak 6 penderita (11,32%).

Page 26: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

26

Tabel 5. Jenis alergen berdasarkan hasil Tes Cukit Kulit

Alergen Jumlah Penderita

Debu rumah 28

Serpihan kulit manusia 28

Tungau debu rumah 31

Serpihan kulit kucing 6

Serpihan kulit anjing 4

Serpihan kulit ayam 2

Kecoa 10

Bandeng 2

Udang 13

Kakap 5

Kepiting 25

Putih telur 0

Kuning telur 0

Ayam 0

Dari tabel 5. didapatkan jenis alergen penyebab rinitis alergi paling banyak

adalah tungau debu rumah sebanyak 31 penderita atau 58,49% dari total sampel

dan yang paling sedikit atau tidak ada yaitu putih telur, kuning telur dan ayam.

Page 27: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

27

Tabel 6. Jenis alergen pada penderita rinitis alergi berdasarkan kelompok umur

Alergen Kelompok Umur

1-10 11-20 21-30 31-40 41-50 51-60 61-70

Debu rumah 2 12 3 5 5 2 0

Serpihan klt manusia 1 12 5 5 2 2 0

Tungau debu rumah 1 12 6 6 2 2 2

Serpihan kulit kucing 0 1 1 4 0 0 0

Serpihan kulit anjing 0 2 2 0 0 0 0

Serpihan kulit ayam 1 1 0 0 0 0 0

Kecoa 2 6 3 0 0 0 1

Bandeng 0 1 0 1 0 0 0

Udang 0 6 5 1 1 0 0

Kakap 0 2 2 1 0 0 0

Kepiting 4 11 7 3 1 1 0

Putih telur 0 0 0 0 0 0 0

Kuning telur 0 0 0 0 0 0 0

Ayam 0 0 0 0 0 0 0

Dari tabel 6 didapatkan bahwa sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi

paling banyak ditemukan pada rentang umur 11-20 tahun dengan sebaran yang

sama antara debu rumah, serpihan kulit manusia dan tungau debu rumah masing-

masing terdapat pada 12 penderita.

Page 28: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

28

Tabel 7 Jenis alergen pada penderita rinitis alergi berdasarkan jenis pekerjaan

Alergen

Jenis pekerjaan

IRT PNS Pegawai

Swasta

Wira

swasta

Pelajar

Debu rumah 4 3 7 2 11

Serpihan kulit manusia 4 2 6 3 12

Tungau debu rumah 3 5 8 3 12

Serpihan kulit kucing 1 0 2 2 1

Serpihan kulit anjing 0 1 1 0 2

Serpihan kulit ayam 0 0 0 0 1

Kecoa 0 1 1 1 7

Bandeng 1 0 0 0 2

Udang 1 1 4 0 6

Kakap 1 1 0 0 3

Kepiting 3 1 6 1 10

Putih telur 0 0 0 0 0

Kuning telur 0 0 0 0 0

Ayam 0 0 0 0 0

Dari tabel 7 didapatkan bahwa sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi

paling banyak ditemukan pada pelajar dengan sebaran yang sama antara serpihan

kulit manusia dan tungau debu rumah masing-masing terdapat pada 12 penderita.

Page 29: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

29

BAB IV

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi penderita rinitis alergi

di poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015. Penelitian ini dilakukan

sejak bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Dari 80 penderita rinitis alergi

yang menjalani tes cukit kulit, didapatkan 53 orang penderita dengan hasil tes

cukit kulit positif dan yang terdiri dari 28 pria dan 25 wanita. Pemilihan kreteria

umur diatas 1 tahun, karena pada umur tersebut sudah menunjukan gejala-gejala

alergi.

Dari tabel 2 didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak dijumpai

pada kelompok umur 11-20 tahun, yaitu sebanyak 19 penderita (35,84%).

Persentase terkecil dijumpai pada kelompok umur 1-10 tahun, 51-60 tahun dan

61-70 tahun dengan persentase masing-masing sebesar 5,67%. Hal ini sesuai

dengan penelitian oleh Rezkiawan di Jambi pada tahun 2012 dengan angka

kejadian rinitis alergi berdasarkan umur dengan persentase tertinggi sebesar

44.9% pada responden berumur 16-21 tahun dan didukung oleh penelitian Denny

S.U di RSUP. Dr. Kariadi Semarang pada tahun 2010 dengan persentase tertinggi

sebesar 44,6% pada usia 16 tahun. Berbeda dengan hasil penelitian di atas, oleh

Novitasari dkk, di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2009

mendapatkan prevalensi rinitis alergi tertinggi pada usia 51-60 tahun dengan

persentase sebesar 27,94%.16,17,18

Dari tabel 3 didapat sampel penelitian penderita rinitis alergi lebih banyak

ditemukan jenis kelamin pria, yaitu sebanyak 28 penderita dengan persentase yang

mendekati seimbang sebesar 52,83% dibandingkan persentase pada wanita

sebesar 47,17%. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Harsono dkk, di Divisi

Alergi-Imunologi FK UI/RSCM Jakarta tahun 2012 dan Soewito pada tahun 2006

di Makasar dengan persentase penderita rinitis alergi pada laki-laki lebih tinggi

dari perempuan. Hasil yang berbeda didapatkan oleh Novitasari dkk, di Manado

pada tahun 2009, Reinhard pada tahun 2013 dan Khan dkk, di India dengan

persentase penderita perempuan lebih tinggi dari laki-laki.18,19,20,21,22

Page 30: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

30

Dari tabel 4. didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak pada pelajar

sebanyak 20 penderita (37,74%) dan paling sedikit pada wiraswasta serta ibu

rumah tangga masing- masing sebanyak 6 penderita (11,32%). Hal ini sesuai

dengan penelitian oleh Reinhard di Manado pada tahun 2013, mendapatkan

distribusi pekerjaan penderita rinitis alergi terbanyak adalah pelajar dengan

persentase kasus sebesar 38,5% dan terendah pada ibu rumah tangga dengan

persentase sebesar 3,8%. Pada beberapa penelitian lainnya didapatkan variasi hasil

karakteristik penderita rinitis berdasarkan pekerjaan seperti Novitasari dkk, di

Manado mendapatkan pekerjaan PNS sebagai persentase tertinggi dan penelitian

oleh Lumbanraja dengan persentase kasus tertinggi pada ibu rumah tangga

(IRT).18,22,23

Dari tabel 5. didapatkan jenis alergen penyebab rinitis alergi paling banyak

adalah tungau debu rumah sebanyak 31 penderita (58,49%) dan yang paling

sedikit atau tidak ada yaitu putih telur, kuning telur dan ayam. Hal ini sesuai

dengan penelitian Rahmawati dkk pada unit rawat jalan Alergi Imunologi THT

RS dr Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2007 yang melaporkan jenis alergen

inhalan positif yang terbanyak yaitu debu rumah sebesar (60%) dan tungau debu

rumah (75%). Alimah Y dalam penelitiannya di Makassar melaporkan jenis

alergen yang paling banyak positif pada tes cukit kulit adalah debu rumah

(77,27%) dan tungau debu rumah (54,55%). Ganung dkk, pada penelitiannya di

RS Cipto Jakarta dengan melakukan tes cukit kulit pada alergen udara dan

makanan didapatkan persentase tungau debu rumah sebesar 36%, serpihan kulit

anjing 30%, debu rumah 24%, udang sebesar 40%, kuning telur 24%, putih telur

12% dan kepiting 8%.19,24,25

Dari tabel 6 didapatkan bahwa sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi

paling banyak ditemukan pada rentang umur 11-20 tahun dengan sebaran yang

sama antara debu rumah, serpihan kulit manusia dan tungau debu rumah masing-

masing terdapat pada 12 penderita. Hasil penelitian oleh Lumbanraja pada tahun

2008 menemukan kasus rinitis alergi terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun

dengan kecoa sebagai alergen terbanyak yaitu 14 kasus (22,58%).23

Page 31: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

31

Dari tabel 7 didapatkan bahwa sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi

paling banyak ditemukan pada pelajar dengan sebaran yang sama antara serpihan

kulit manusia dan tungau debu rumah masing-masing terdapat pada 12 penderita.

Pada beberapa penelitian, tidak ada hasil yang seragam mengenai sebaran alergen

penyebab rinitis alergi dan jenis pekerjaan.

Hasil tes cukit kulit positip mengindikasikan bahwa didalam tubuh

penderita sudah dihasilkan antibodi IgE terhadap alergen spesifik yang berarti

sudah terjadi proses pengenalan antara antigen spesifik dengan antibodi atau

sudah terjadi proses sensitisasi. Hasil tes cukit kulit yang negatip pada penelitian

ini selain menunjukkan belum terjadi proses sensitisasi pada tubuh penderita,

tetapi juga menunjukan kemungkinan alergen yang tersensitisasi pada tubuh

penderita bukanlah alergen yang berasal dari 12 jenis alergen yang digunakan

pada tes cukit kulit dalam penelitian ini.1113,14

Page 32: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

32

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pola alergen berdasarkan umur didapatkan paling banyak dijumpai pada

kelompok umur 11-20 tahun dengan persentase 35,84%.

2. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak ditemukan menderita rinitis alergi,

yaitu sebanyak 28 penderita, dengan persentase yang mendekati seimbang

yaitu 52,83% dibandingkan persentase pada wanita sebesar 47,17%.

3. Berdasarkan pekerjaan, didapatkan penderita rinitis alergi paling banyak

pada pelajar, yaitu 20 penderita atau sebesar 37,74%.

4. Tungau debu rumah merupakan jenis alergen penyebab rinitis alergi

terbanyak yang ditemukan pada 31 penderita dengan persentase 58,49%.

5. Berdasarkan sebaran jenis alergen penyebab rinitis alergi dengan rentang

umur, paling banyak ditemukan pada rentang umur 11-20 tahun dengan

sebaran yang sama antara debu rumah, serpihan kulit manusia dan tungau

debu rumah.

6. Berdasarkan sebaran jenis alergen penyebab rinitis dengan jenis pekerjaan,

didapatkan tertinggi pada pelajar dengan sebaran yang sama antara

serpihan kulit manusia dan tungau debu rumah masing-masing yang

didapat pada 12 penderita

Saran

1. Mengoptimalkan cara pemeriksaan invivo seperti tes cukit kulit, tes

provokasi hidung dan invitro seperti pemeriksaan morfologi, pemeriksaan

Ig E, pemeriksaan IgE spesifik atau RAST dan modifikasi dari RAST

untuk menegakkan diagnosa rinitis alergi.

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan atau multisenter dengan jumlah sampel

lebih banyak sebagai standarisasi alergen yang lebih spesifik di indonesia.

Page 33: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Bosquet et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma In : World

Health Organization Initiative Management of Alergic Rhinitis and its

Impact on Asthma ( ARIA):WHO;3-7.2000

2. Gerhard. G. Allergy and Immunology. American Academy Of Allergy

Asthma And Immunology. New York. 2015. Available at URL

http://www.aaaai.org. Accsess on 28 December 2015

3. Sibald B. Epidemiology of Seasonal and Perennial Rhinitis. Clinical

Presentation and Medical Hystory. World Allergy Organisation. America.

2015. Available at www.worldallergy.org. Accsess on 28 December 2015

4. Lumbanraja P. Distribusi Alergen Pada Penderita Rinitis Alergi Di

Departemen THT-KL USU RS. Adam Malik Medan. Indonesia. :FK USU;

2007.

5. Probs Rudolf, Greves Gerhard. Basic Otolarhingology. New York. 2006.

hal.50-53

6. Madiadipoera T. Diagnosis Rinitis Alergi, Dalam: Kumpulan Naskah

Ilmiah Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunana Dokter Spesialis Telinga

Hidung Tenggorok Indonesia. Batu Malang. 1996. hal 79

7. DanandjajaS. Nasacort. What Makes the Difference. A Pharmacological

Review. Dalam : Kumpulan Makalah Symposium “Current and Future

Approach in Treatment of Allergic Rhinitis”. Bagian THT FK UI/RSCM.

Jakarta. hal 1-5

8. Ballenger JJ. Anatomy And Physiology Of The Nose And Paranasal

Sinuses. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head And Neck Surgery.

6th ed. Hamilton: BC Decker Inc; 2003. hal.547-60.

9. Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR,1994, Clinical Aspects of Diseases of

the Nose, Sinuses and Faes, In : Bbuckingham RA, ed Ear, Nose and

Throat Diseases. A Pocket Reference. Second Revised Edition. New York:

Thieme Medical Publishers Inc; hal. 208-10

Page 34: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

34

10. Walsh WE, Korn RC. Sinonasal Anatomy, Fungtion, And Evaluation. In:

Bailey BJ, Johnson JT. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 4th ed,

Vol.1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006. hal.307-19.

11. Kaplan A, Cauwenberge P.V. Allergic Rhinitis In : GLORIA Global

Resources in Allergy Allergic Rhinitis and Allergic Conjungtivitis.

Revised Guidelines. Milwaukee. USA. 2011. hal12

12. Higler et al. Allergic Rhinitis. In : J. World Health Organization Initiative

Management of Alergic Rhinitis and its Impact on Asthma. New York.

2000

13. Krouse J.H. Immunology and Allergy. In: Essentian Otolaryngology Head

& Neck Surgery-Otolaryngology. Fourth Edition. Vol.One. USA:

Lippincott-Raven Publisher; hal.351-63

14. Jackola DR, Mullany LP, Blumental MN, et al. Allergen Skin Reaction

Patterns In Children Under 10 Years Old From Atopic Families Suggest

Age-Dependent Changes In Allergen-Ige Binding In Early Life. J

International Allergy And Immunology. Vol.132.No.4.2001.hal.354-71

15. Mulyarjo. Penanganan Rinitis Alergi. Pendekatan Berorientasi pada

Simptom. Dalam : Kumpulan Naskah Simposium Nasional Perkembangan

Terkini Penatalaksanaan Beberapa Penyakit Penyerta Rinitis Alergi dan

Kursus Demo Rinotomi Lateral, Maksilektomi dan Septorinoplasti,

Malang, 2006.

16. Rezkiawan D, Fadlan I, Taher A. Prevalensi Penderita Rinitis Alergi Pada

Mahasiswa Prodi Kedokteran Universitas Jambi. FK Unej. 2012

17. Utama D.S. Hubungan Antara Jenis Aeroalergen Dengan Manifestasi

Klinis Rinitis Alergika. Semarang. Bagian THT RSUP dr. Kariadi. 2010

18. Novitasari, Sorisi A, Wahongan G. Profil Penderita Alergi Dengan Hasil

Skin Prick Test TDR Positif Di Poliklinik Alergi Imunologi RSUP

Prof.DR.R.D.Kandau. FK Sam Ratulangi. Manado. 2009.

19. Soewito MY, Aziz M. Gambaran Umum Penderita Suspek Rinitis Alergi

Yang Dilakukan Tes Cukit Kulit di Poli Imunologi RSWS tahun 2006.

Page 35: DISTRIBUSI PENDERITA RINITIS ALERGI DI POLI THT-KL RSUP

35

Kumpulan Abstrak KONAS Perhimpunan Dokter Spesialis T.H.T.K.L

.Makasar. 2007

20. Harsono G, Munasir Z, Siregar P. Faktor Yang Diduga Menjadi Resiko

Pada Anak Dengan Rinitis Alergi. Divisi Alergi-Imunologi, Departemen

Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RSU

Cipto Mangunkusumo. Jakarta. 2012

21. Khan M. Association Of Allergic Rhinitis With Gender And Asthma. J

Ayub Med Coll Abbottabad. India. 2013. 251-2. hal.120–2

22. Reinhard, E. Palandeng O, Pelealu C. Rinitis Alergi Di Poliklinik Tht-Kl

Blu RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2010. Ejournal

Universitas Sam Ratulangi. Jurnal E-Clinic Vol. 1, No. 2. 2013

23. Lumbanraja P. Distribusi Alergen pada Penderita Rinitis Alergi di

Departemen THT-KL FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan. Universitas

Sumatra Utara. 2007

24. Rahmawati, Punagi AQ, Savitri E. Hubungan Antara Beratnya Rinitis,

Reaktivitas Tes Cukit Kulit dan Kadar Imunoglobulin E Tungau Debu

Rumah pada Pasien Rinitis Alergi di Makasar. Departemen THT Fakultas

Kedokteran Universitas Hasanudin, RS Dr. Wahidin Sudirohusodo. The

Indonesian Journal of Medical Science 2008.1. hal.. 1-9.

25. Alimah Y. Hubungan Jumlah Eosinofil Mukosa Hidung Dengan Gejala

Rinitis Alergi Sesuai Klasifikasi ARIA. WHO2001.Universitas Hasanudin

Makasar. 2001