of 36 /36
Case Report Session RINITIS ALERGI Oleh : Afriyeni Sri Rahmi 0910312087 Nani Hendriani 1010312071 Preseptor: dr. Jacky Munilson, Sp.THT-KL BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKANKEPALA LEHER RSUP DR. M. DJAMILFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 1

CRS Rinitis Alergi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tht

Citation preview

Case Report Session

RINITIS ALERGI

Oleh :Afriyeni Sri Rahmi0910312087Nani Hendriani1010312071

Preseptor:dr. Jacky Munilson, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKANKEPALA LEHERRSUP DR. M. DJAMILFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ANDALASPADANG2014

BAB ITINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung1.1.1 Anatomi Hidung

Gambar 1. Anatomi Hidung

a. Hidung LuarHidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah:1) Pangkal hidung (bridge)2) Batang hidung (dorsum nasi)3) Puncak hidung (tip)4) Ala nasi5) Kolumela6) Lubang hidung (nares anterior)1Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os nasal), prosesus frontalis os maksila, dan prosesus nasalis os frontal; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (alar mayor), dan tepi anterior kartilago septum.1

b. Kavum NasiKavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.1Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut vestibulum.Vestibulum dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang (vibrise).1Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding:1. Medial (septum nasi). Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Yang termasuk bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila, dan krista nasalis os palatina. Sedangkan yang termasuk bagian tulang rawan adalah kartilago septum dan kolumela.2. Lateral. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yaitu konka inferior (konka yeng terbesar dan letaknya paling bawah), konka media (lebih kecil daripada konka inferior), konka superior (lebih kecil daripada konka media), dan konka suprema (biasanya rudimenter). Diantara konka-konka tersebut terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Ada 3 meatus, yaitu meatus inferior (antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung), medius (antara konka media dengan dinding lateral rongga hidung), dan superior (antara konka superior dan konka media).3. Inferior. Merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum.4. Superior. Dibentuk oleh lamina kribriformis.1

c. Mukosa HidungRongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu.Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet.Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa.Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya.Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet.1Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium).Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu.Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.1

d. Suplai DarahKonka, meatus, dan septum disuplai oleh arteri maksilaris interna, cabang dari arteri sfenopalatina. Sinus frontalis, etmoidalis, dan atap hidung disuplai oleh arteri oftalmika, cabang dari arteri etmoidalis anterior dan superior. Sedangkan sinus maksilaris diperdarahi oleh suatu cabang arteri labialis superior dan cabang infraorbitalis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatine mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). 2

e. PersarafanBagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N. V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina. Fungsi penghidu berasal dari n.olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrsa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.2

1.1.2 Fisiologi Hidung1. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.2. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C.3. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh :a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasib. Silia

c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime. 4. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.5. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau.6. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara.7. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.1

1.2 Definisi Rinitis AlergiRinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.1

1.3 EpidemiologiRinitis AlergiRhinitis alergi merupakan penyakit yang sering ditemukan dimana kejadiannya bisa mencapai 40% populasi. Rhinitis alergi merupakan salah satu dari jenis rhinitis kronik yang sering ditemukan, dengan persentase kejadian 10-20% populasi dan kejadiannya meningkat setiap tahun.3

1.4. KlasifikasiRinitis AlergiMenurut klasifikasi WHO Initiative ARIA tahun 2001, berdasarkan sifat berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi :1. Intermiten (kadang-kadang) : bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.2. Persisten (menetap) : bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.Berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi :1. Ringan : bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.2. Sedang-berat : bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.

1.5. Etiologi dan Patogenesis Rinitis AlergiRinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu reaksi alergi fase cepat yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan reaksi alergi fase lambat yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam. Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas:1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya tungau debu rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang (kucing, anjing), rerumputan, serta jamur.2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, sapi, telur, coklat, ikan laut, udang, kepiting, dan kacang-kacangan.3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penicillin dan sengatan lebah.4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik, perhiasan.1

1.6 Gambaran klinis Rinitis AlergiManifestasi utama adalah rinorea, gatal hidung, bersin-bersin dan sumbatan hidung. Pembagian rinitis alergika sebelum ini menggunakan kriteria waktu pajanan menjadi rinitis musiman (seasonal allergic rhinitis), sepanjang tahun (perenial allergic rhinitis), dan akibat kerja (occupational allergic rhinitis). Gejala rinitis sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Tanda-tanda fisik yang sering ditemui juga meliputi perkembangan wajah yang abnormal, maloklusi gigi, allergic gape (mulut selalu terbuka agar bisa bernafas), allergic shiners (kulit berwarna kehitaman dibawah kelopak mata bawah), lipatan tranversal pada hidung (transverse nasal crease), edema konjungtiva, mata gatal dan kemerahan. Pemeriksaan rongga hidung dengan spekulum sering didapatkan sekret hidung jernih, membrane mukosa edema, basah dan kebiru-biruan (boggy and bluish).4Pada anak kualitas hidup yang dipengaruhi antara lain kesulitan belajar dan masalah sekolah, kesulitan integrasi dengan teman sebaya, dan kecemasan. Kualitas hidup ini akan diperburuk dengan adanya ko-morbiditas. Pengobatan rinitis juga mempengaruhi kualitas hidup baik positif maupun negatif. Sedatif antihistamin memperburuk kualitas hidup, sedangkan non sedatif antihistamin berpengaruh positif terhadap kualitas hidup. Pembagian lain yang lebih banyak diterima adalah dengan menggunakan parameter gejala dan kualitas hidup, menjadi intermiten ringan-sedang-berat, dan persisten ringan-sedang-berat.4

1.7 DiagnosisRinitis Alergi1.7.1 Anamnesis Anamnesis sangat penting karena seringkali serangan tidak terjadi di hadapan pemeriksa. Hampir 50 % diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis.Gejala yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang.Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Sering kali gejala yang muncul tidak lengkap, terutama pada anak.Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien.1

1.7.2 Pemeriksaan fisikPada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livide disertai adanya sekret encer yang banyak.Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi.Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. Gejala spesifik lain pada anak adalah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut allergic shiner. Anak sering menggosok-gosok hidung karena gatal dengan menggunakan punggung tangan, yang disebut allergic salute. Keadaan menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease. Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi (facies adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal.Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue).1

1.7.3 Pemeriksaan penunjangIn vitro :Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST atau ELISA. Pemeriksaan sitologi hidung, jika ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (> 5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.1

In vivo :Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET). Untuk alergi makanan, uji kulit yang banyak dilakukan adalah Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun sebagai baku emas dapat dilakukan dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test).1

1.8 Diagnosis Banding Penyakit yang perlu dibedakan dengan rinitis alergi adalah :1) Rinitis infeksi (virus, bakteri atau penyebab lain)2) Rinitis karena okupasi atau pekerjaan3) Drug Induced Rhinitis4) Rinitis hormonal5) Rinitis karena inhalan6) Rinitis vasomotor7) Rinitis atropi8) Rinitis idiopatik5

1.9 Penatalakanaan1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan alergen penyebabnya dan eliminasi.12. MedikamentosaAntihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H-1. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Pengobatan baru lainnya untuk rinitis alergi adalah anti leukotrien, anti IgE, DNA rekombinan. Kelompok pertama antihistamin non-sedatif diantaranya astemisol dan terfenadin yang termasuk efek kardiotoksik. Sedangkan kelompok keduanya adalah loratadin, setirisin, fexofenadin, desloratadin, dan levosetirirsin.6,73. OperatifTindakan konkotomi parsial, konkoplasti perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau triklor asetat.84. ImunoterapiCara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tujuan imunoterapi adalah pembentukan IgG blocking antibody dan penurunan IgE. Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sublingual.7

1.10 KomplikasiKomplikasi rinitis alergi yang sering adalah :1. Polip hidungBeberapa peneliti mendapatkan bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung.2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak.3. Sinusitis paranasal 1

1.11. Prognosis Prognosis dan perjalanan alamiah dari rinitis alergi sulit dipastikan. Ada kesan klinis bahwa gejala-gejala rhinitis alergi berkurang dengan bertambahnya usia. Masalah yang sering mengganggu penderita rinitis alergi adalah penurunan konsentrasi produktivitas kerja dan kelelahan. Gangguan ini menyebabkan terjadinya penurunan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat gejala rinitis alergi, semakin tinggi gangguan kualitas hidup. Sebagian besar penderita rinitis alergi dapat meningkatkan kualitas kehidupannya dengan pengontrolan terhadap lingkungan, pemberian farmakoterapi, dan jika diperlukan dengan imunoterapi.5

BAB IIKESIMPULAN

Rhinitis alergi merupakan kelainan hidung yang disebabkan oleh proses inflamasi yang dimediasi oleh hipersensitifitas alergi tipe I dengan gejala yyang khas berupa hidung gatal, bersini-bersin, rhinore, dan hidung tersumbat yang reversible. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa yang terarah, pemeriksaan fisik yang tepat disertai beberapa pemeriksaan penunjang yang berkaitan. Secara garis besar penanggulangan rhinitis alergi ada 3 yakni menghindari atau mengeliminasi allergen, farmakoterapi dan imunoterapi/hiposensitisasi. Tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi sekuele atau komplikasi.

BAB IIILAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIENNama: Nn. KUmur: 11 tahun Jenis Kelamin: PerempuanPekerjaan: Siswa SDAlamat: Simp. Lalang, lubuk BuayaSuku Bangsa: MinangkabauMR: 86 72 16

ANAMNESIS Seorang pasien perempuan berumur 11 tahun datang ke Poliklinik THT RS DR.M Djamil Padang pada tanggal 3 May 2014, dengan :

Keluhan Utama :Bersin-bersin pada pagi hari sejak 6 bulan yang lalu yang dirasakan meningkat sejak 3 minggu ini.

Riwayat Penyakit Sekarang : Bersin-bersin di pagi hari sejak 6 bulan yang lalu, yang dirasakan meningkat sejak 3 minggu ini, dalam sekali serangan bersin lebih dari 10kali, disertai ingus encer, jernih,dan tidak berbau, selain itu juga dirasakan gatal dan mata berair. Bersin membaik saat cuaca mulai panas, dan juga muncul apabila pasien terpapar debu.Bersin inidirasakan mengganggu aktivitas harian. Riwayat hidung sering tersumbat ada, tidak berpindah pindah. Pasien sering menggosok-gosok hidung dan mata pada saat serangan. Bersin-bersin