of 26 /26
KATA PENGANTAR Sangat disadari langkanya kepustakaan ilmiah dalam bahasa Indonesia khususnya di bidang kedokteraan membuat masih perlu lebih dalamnya pembelajaran dan penelaahan mengenai kepustakaan dalam bahasa asing. Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nyalah penyusun dapat menyelesaikan referat ini. Sambil mengemban Tridarma Perguruan tinggi Referat ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik Ilmu THT Fakultas Kedokteraan Universitas Trisakti di RSUP Fatmawati. Sehubungan dengan penyusunan referat ini, penyusun ingin mengucapkan terimakasih kepada dr. Sita selaku pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu THT yang telah memberikan bimbingan serta masukan dalam penyusunan referat ini. Penyusun menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi kesempurnaan 1

RINITIS ALERGI

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: RINITIS ALERGI

KATA PENGANTAR

Sangat disadari langkanya kepustakaan ilmiah dalam bahasa Indonesia

khususnya di bidang kedokteraan membuat masih perlu lebih dalamnya pembelajaran

dan penelaahan mengenai kepustakaan dalam bahasa asing.

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan ridho-

Nyalah penyusun dapat menyelesaikan referat ini. Sambil mengemban Tridarma

Perguruan tinggi Referat ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat

kelulusan Kepaniteraan Klinik Ilmu THT Fakultas Kedokteraan Universitas Trisakti

di RSUP Fatmawati.

Sehubungan dengan penyusunan referat ini, penyusun ingin mengucapkan

terimakasih kepada dr. Sita selaku pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu THT yang

telah memberikan bimbingan serta masukan dalam penyusunan referat ini.

Penyusun menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena

itu penyusun sangat mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi

kesempurnaan referat ini. Semoga referat ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat

bagi para mahasiswa kedokteran pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Jakarta,Desember

2010

Hormat saya,

Penyusun

1

Page 2: RINITIS ALERGI

DAFTAR ISI

Kata pengantar .................................................................................................... 1

Daftar isi ...................................................................................................... 2

Pendahuluan ..................................................................................................... 3

Pembahasan

Definisi ..................................................................................................... 4

Anatomi .................................................................................................... 5

Histologi .................................................................................................. 6 - 7

Patofisiologi ............................................................................................ 7- 9

Etiologi ................................................................................................... 9

Klasifikasi ............................................................................................... 10

Gejala klinis ......................................................................................... 11 - 13

Terapi ..................................................................................................... 13 - 15

Komplikasi ......................................................................................... 16

Prognosis ............................................................................................... 16

Daftar pustaka .................................................................................................... 17

2

Page 3: RINITIS ALERGI

Pendahuluan

Rinitis Alergi (RA) adalah inflamasi mukosa saluran hidung dan sinus yang

disebabkan alergi terhadap partikel, antara lain: debu, asap, serbuk/tepung sari

yang ada di udara. Gejala utama pada hidung yaitu hidung gatal, tersumbat,

bersin-bersin, keluar ingus cair seperti air bening. Seringkali gejala meliputi mata,

yaitu : berair, kemerahan dan gatal.

RA merupakan penyakit umum dan sering dijumpai. Prevalensi penyakit RA pada

beberapa Negara berkisar antara 4.5-38.3% dari jumlah penduduk dan di Amerika,

merupakan 1 diantara deretan atas penyakit umum yang sering dijumpai.

Meskipun dapat timbul pada semua usia, tetapi 2/3 penderita umumnya mulai

menderita pada saat berusia 30 tahun. Dapat terjadi pada wanita dan pria dengan

kemungkinan yang sama. Penyakit ini herediter dengan predisposisi genetic kuat.

Bila salah satu dari orang tua menderita alergi, akan memberi kemungkinan

sebesar 30% terhadap keturunannya dan bila kedua orang tua menderita akan

diperkirakan mengenai sekitar 50% keturunannya.

Bagaimana pun juga, RA harus dipikirkan sebagai keadaan yang cukup serius

karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita akibat beratnya gejala yang

dialami dan juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Penderita akan

mengalami keterbatasan dalam aktifitas sehari-hari, sering meninggalkan sekolah

atau pekerjaannya, dan menghabiskan biaya yang besar bila menjadi kronis. RA

juga dipengaruhi lingkungan dari faktor allergen. Penyakit ini masih sering

disepelekan, untuk itu perlu diberikan beberapa informasi agar penderita tidak

3

Page 4: RINITIS ALERGI

terlalu meremehkan dan dapat mengetahui berbagai upaya untuk mengurangi

gejala dan mencegah komplikasi.4

RINITIS ALERGI

I. Definisi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada

pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi oleh allergen yang sama serta

Dilepaskan suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan

allergen spesifik tersebut (von pirquet 1986).

Definisi WHO ARIA (Allergic rhinitis and it’s impact on asthma) tahun 2001

adalah kelainan pada gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah

mukosa hidung terpapar allergen yang diperantai oleh Ig E.1

4

Page 5: RINITIS ALERGI

II. Anatomi

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri fasialis.

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri

sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina

mayor yang disebut Pleksus Kiesselbach (Little’s Area). Pleksus ini letaknya

superficial dan mudah cedera oleh trauma sehingga sering menjadi sumber

epistaksis.

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan

dengan arterinya. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup sehingga merupakan

factor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai intracranial.3

Persarafan hidung

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus

Etmoidalis anterior yang berasal dari nervus Oftalmikus (n.V-1). Rongga hidung

lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervus Maksillaris

melalui ganglion Sfenopalatina. Ganglion Sfenopalatina juga memberikan

persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung.

Fungsi penghidu berasal dari nervus Olfaktorius. Dan sel-sel reseptor penghidu

pada mukosa Olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.3

5

Page 6: RINITIS ALERGI

III Histologi Hidung

Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi

atas mukosa pernapasan (mukosa respiratorik) dan mukosa peghidu (mukosa

olfaktorius).

Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan

permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan

di antaranya terdapat sel-sel goblet.

ukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga

atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia.

Epitelnya dibentuk oleh 3 macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal, dan sel

reseptor penghidu.

Dalam keadaan normal mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu basah

karena diliputi oleh palut lendir pada permukaannya. Di bawah epitel terdapat

tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa dan

jaringan limfoid.

Dalam keadaan normal mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu basah

karena diliputi oleh palut lendir pada permukaannya. Di bawah epitel terdapat

tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa dan

jaringan limfoid.Apabila terjadi rinitis alergi, gambaran secara mikroskopik

tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan pembesaran sel

goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler

dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada

jaringan mukosa dan submukosa hidung.

6

Page 7: RINITIS ALERGI

Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan,

mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus

menerus/persisten sepanjang tahun, sehingga pada akhirnya terjadi perubahan

yang ireversibel. Terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa,

sehingga tampak mukosa hidung menebal3.

IV. Patofisiologi

Sensitisasi

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses

sensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan

tertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal

ini menyebabkan sel Antigen Presenting Cell (APC) akan menangkap alergen

yang menempel tersebut. Kemudian antigen tersebut akan bergabung dengan HLA

kelas II membentuk suatu kompleks molekul MHC (Major Histocompability

Complex) kelas II. Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T

helper (Th 0). Th 0 ini akan diaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APC

menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4,

IL5, IL9,IL10, IL13 dan lainnya.

IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel B

menjadi aktif dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi dalam darah ini akan

terikat dengan sel mast dan basofil yang mana kedua sel ini merupakan sel

mediator. Adanya IgE yang terikat ini menyebabkan teraktifasinya kedua sel

tersebut.4

7

Page 8: RINITIS ALERGI

Reaksi Alergi Fase Cepat

Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak dengan

alergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu

histamin, tiptase dan mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan

bradikinin. Mediator-mediator tersebut menyebabkan keluarnya plasma dari

pembuluh darah dan dilatasi dari anastomosis arteriovenula hidung yang

menyebabkan terjadinya edema, berkumpulnya darah pada

kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari

saluran hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet

menyebabkan hipersekresi dan

permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Rangsangan pada ujung

saraf sensoris (vidianus) menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.

Reaksi Alergi Fase Lambat

Reaksi alergi fase cepat terjadi setelah 4 – 8 jam setelah fase cepat. Reaksi ini

disebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi terhadap sel

8

Page 9: RINITIS ALERGI

endotel postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion

Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan sel leukosit seperti

eosinofil menempel pada sel endotel. Faktor kemotaktik seperti IL5 menyebabkan

infiltrasi sel-sel eosinofil, sel mast, limfosit, basofil, neutrofil dan makrofag ke

dalam mukosa hidung. Sel-sel ini kemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan

mediator lain seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP),

Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP) dan Eosinophilic

Peroxidase (EPO) yang menyebabkan gejala hiperreaktivitas dan hiperresponsif

hidung.

Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan

hidung.4

Etiologi 2

Berdasarkan cara masuknya alergen :

Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan

C/: debu rumah, tungau, serpihan epitel, bulu binatang, asap rokok, serta jamur.

Alergen ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan

C/: susu, telur, coklat, ikan, udang.

Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan

C/: penisilin dan sengatan lebah.

Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa

C/: bahan kosmetik, perhiasan

9

Page 10: RINITIS ALERGI

V. Klasifikasi1

Berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative ARIA tahun 2000, menurut sifat

berlangsungnya rinitis alergi dibagi menjadi:

Intermiten, yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4

minggu.

Persisten, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4

minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:

Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas

harian,

bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.

Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan

tersebut di atas.1

10

Page 11: RINITIS ALERGI

VI. Gejala klinis

Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :6

Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin.

Rinore. Ingus yang keluar.

Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat

merupakan gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada

pasien anak-anak.

Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi).

Gejala spesifik lain pada anak adalah:

Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah

bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan

obstruksi hidung.

Allergic salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya

akibat rasa gatal.

Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian

bawah akibat kebiasaan menggosok hidung.2

11

Page 12: RINITIS ALERGI

Dasar diagnostik:

1. Anamnesis, sangat penting karena sering kali serangan terjadi saat tidak

didepan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari diagnosis

saja.

2. Pemeriksaan rhinoskopi anterior, ditemukan

o Mukosa edema,

o Basah,

o Berwarna pucat atau livid

o Disertai sekret encer yang banyak

3. Pemeriksaan Naso endoskopi

4. Pemeriksaan sitologi hidung,walaupun tidak dapat memastikan diagnosis,

tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam

jumlah banyak menunjukkan adanya alergi inhalan. Jika basofil (5sel/lap)

mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN

menunjukkan adanya infeksi bakteri.

5. Hitung eosinofil dalam darah tepi, Dapat normal atau meningkat. Lebih

bermakna bila diperiksa IgE spesifik dengan RAST ( Radio Immuno Sorbent

Test), atau ELISA ( Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test).

6. Uji kulit, alergan penyebab dapat dicari.

Uji cukit (Prick Test)

Uji gores (Scratch Test).

12

Page 13: RINITIS ALERGI

Uji Intrakutan atau intradermal tunggal atau berseri (Skin End-point

Titration)

Untuk mengetahui allergen apa yang sensitif pada pasien dengan pasti.2

VII. THERAPI

Edukatif

Menghindari kontak dengan allergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.3

Konservatif

Medikamentosa

Antihistamin yang dipakai AH1

Obat golongan simpatomimetik, sebagai dekongestan hidung oral atau

topical dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin.

Kortikosteroid, bila sumbatan hidung tidak berhasil diatasi dengan obat

lain.

13

Page 14: RINITIS ALERGI

Antikolinergik topical, untuk mengatasi rinore karena aktifitas inhibisi

reseptor kolinergik.2

Immunoterapi

Desensitisasi dan hiposensitisasi

Dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala berat dan sudah

berlangsung lama serta dengan pengobatan lain tidak memberi hasil

memuaskan.

Alergen disuntikkan dengan intrakutan dalam konsentrasi sangat kecil

agar terbentuk IgG, kadarnya ditingkatkan terus, sehingga saat allergen

masuk tidak diikat oleh IgE tapi oleh IgG, dan tidak terjadi

degranulasi.1

Operatif 1,5,6

Kauteterisasi dengan AgNO3 25% atau triklor asetat.

Tindakan konkotomi parsial ( pemotongan sebagian konka inferior)

Konkoplasti atau multiple outfractured

Inferior turbinoplasty

14

Page 15: RINITIS ALERGI

15

Page 16: RINITIS ALERGI

VIII. KOMPLIKASI

Polip hidung

Otitis media yang sering residif terutama pada anak-anak.

Sinusitis paranasal

Faringitis kronis

Otitis media dan sinusitis paranasal bukan akibat langsung dari rhinitis

alergi tetapi karena adanya sumbatan hidung sehingga menghambat

drainase.

Faringitis kronis juga bukan akibat langsung tapi karena hidung

tersumbat sehingga pasien bernapas melalui mulut.

Untuk mengetahui apakah sudah terjadi komplikasi sinusitis: Dengan foto 3 posisi,

AP, Lateral, dan Posisi Waters agar dapat melihat sinus maksilaris dengan lebih jelas.1

IX. PROGNOSIS

Ad Vitam : bonam, karena bila menghindari allergen, gejala alergi tdk

tampak.

Ad Functionam : dubia ad bonam, bila terpapar allergen terus maka dapat

rhinitis alergi dapat berkembang menjadi rhinitis infeksiosa, polip, sinusitis,

otitis media, tapi bila allergen dihindari maka tidak akan terjadi.

Ad Sanationam : dubia ad bonam, karena alergi merupakan kondisi yang

dipengaruhi genetic maka tidak dapat sembuh selama ada allergen, jadi agar

tidak ada serangan, menghindari allergen.

16

Page 17: RINITIS ALERGI

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi Efiaty, Iskandar Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT Edisi 6.

Jakarta : FKUI 2007

2. Marshall Plaut, M., and Martin D. Valentine, M.D. In : Allergic Rhinitis. The

New England Journal of Medicine. Diunduh dari www.nejm.com. Desember

2010

3. Syarif Al Hadrami. In : Rhinitis Alergi. Diunduh dari

www.ilc.insancendikia.org.com. Desember 2010

4. Javed Sheikh, MD. In : rhinitis Allergic. Diunduh dari www.emedicine.com

5. Rinitis alergi. Diunduh dari www.klikdokter.com

6. Higler AB. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran.1997

17