Click here to load reader

CSS Appendiks Infiltrate

  • View
    12

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

apendik

Text of CSS Appendiks Infiltrate

BAB IPENDAHULUAN

Appendisitis adalah peradangan dari appendix vemicularis dan merupakan kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan. Appendisitis dapat terjadi pada semua umur. Pada anak sering terjadi pada sekitar usia 6 10 tahun, jarang dilaporkan pada anak berusia kurang dari 1 tahun. Insiden tertinggi pada usia 20 30 tahun, terjadi pada laki laki dan perempuan sama banyak.Di amerika serikat ada penurunan jumlah kasus dari 100 kasus menjadi 52 kasus setiap 100 ribu penduduk dari tahun 1975 1991. Terdapat 15 30% (30 45% pada wanita) gambaran histopatologi yang normal pada hasil appendektomi. Keadaan ini menambah komplikasi pascaoperasi, seperti adhesi, konsekuensi beban sosial ekonomi, kehilangan jumlah hari kerja dan produktivitas.Appendiks yang juga disebut sebagai umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal dimasyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya sekum dan bukan appendiks. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut appendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. 2. 2.1. ANATOMI APPENDIKSAppendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, membentuk produk immunoglobulin, berbentuk tabung, panjangnya kira kira 10 cm (kisaran 3 15 cm) dengan diameter 0,5 1 cm, dan berpangkal di caeccum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar dibagian distal. Basis appendiks terletak pada posteromedial caeccum, dibawah katup ileocaecal. Ketiga taenia caeccum bertemu pada basis appendiks.Apendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesentrium usus halus pada daerah ileum terminale. Mesenteriolum berisi a. Appendikularis (cabang a.ileocolica). orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocaecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil.Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa. Apendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran jackson yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal, menutup caecum dan apendiks. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastic membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Anatara mukosa dan submukosa terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari apendiks.Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke 8 yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks, yang akan berpindah dari medial menuju katup ileosekal.Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungannya. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu dibelakang sekum, dibelakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.

Gambar 1. Anatomi Appendicitis

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti a. Mesenterika superior dan a. Apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Torakalis x. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus. Perdarahan apendiks berasal dari a. Apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangrene.

2.2. FISIOLOGIApendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari. Lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis. Immunoglobulin skretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disni kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya disaluran cerna diseluruh tubuh.Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir. Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat dewasa dan kemudia berkurang mengikuti umur. Setelah usia 60 tahun, tidak ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi penghancuran lumen apendiks komplit.

2.3. DEFINISIApendisitis infiltrate adalah proses radang apendiks yang penyebaranya dapat dibatasi oleh omentum dan usus usus dan peritoneum sekitarnya sehingga membentuk massa (appendicaeal mass). Umumnya massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang.

2.4. ETIOLOGIObstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Fekalit merupakan penyebab tersering dari obstruksi appendiks. Penyebab lainnya adalah hipertrofi jaringan limfoid, sisa barium dari pemeriksaan rontgen, diet rendah serat, dan cacing usus termasuk ascaris. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat mencetuskan inflamasi pada appendiks. Post appendisitis juga dapat menjadi penyebab akibat adanya trauma atau stasis fekal.Frekuensi obstruksi meningkat dengan memberatnya proses inflamasi. Fekalit ditemukan pada 40% dari kasus apendisitis akut, sekitar 65% merupakan apendisitis ganggrenous tanpa rupture dan sekitar 90% kasus appendisitis gangrenous dengan rupture.Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan appendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E Histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya akan mempermudah terjadinya apendisitis akut.

2.5. PATOFISIOLOGIApendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang distensi. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen,.Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 dapat meningkatkan tekanan intralumen sekitar 60 cmH2O. Manusia merupakan salah satu dari sedikit binatang yang dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangrene atau terjadi perforasi.Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan appendiks mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi thrombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks).Pada saat inilah terjadi apensitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24 36 jam, tetapi waktu tersebut dapat berbeda beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor.Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.Infiltrate apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam 24 48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.Pada anak anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisisr ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi belum cukup kuat menahan tahanan atau regangan dalam cavum abdominalis. Oleh karena itu penderita harus benar benar istirahat (bedrest)Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai eksaserbasi akut.2.6. MANIFESTASI KLINISApendisitis infiltrat didahului oleh keluhan apendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular. Gejala klasik apendisitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri beralih kekuadran kanan, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang kadang terjadi diare, mual dan muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif.Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak apendiks yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritoneum lokal. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titip McBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapit erdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadi perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Bila letak apendiks retrosekal di luar rongga perut, karena letaknya terlindungi saekum maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan, karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.Apendiks yang terletak di pelvis, bisa meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya.Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosa sehingga tidak ditangai pada waktunya dan terjadi komplikasi. Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah muntah dan anak akan menjadi lemah dan letargi. Karena gejala yang tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Pada bayi, 80 90% apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar samar saja, tidak jarang terlambat diagnosis. Akibatnya lebih dari separo penderita baru dapat didiagnosa setelah perfgorasi. Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah. Yang perlu diperhatikan adalah pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga kelihan tidak dirasakan diperut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.Gambaran klinis apendisitis akut Tanda awalNyeri mulai di epigastrium atau regio umbilikus disertai mual dan anoreksia. Nyeri pindah kekanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal di titik McBurney Nyeri tekan Nyeri lepas Defans muskular Nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing) Nyeri kanan bawah bila di tekan disebelah kiri dilepaskan (blumberg) Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam, berjalan, batu, mengedan.

2.7. PEMERIKSAAN1. 2. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.7.1. PEMERIKSAAN FISIKDemam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5 38,5oC. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1oCPada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Apendisitis infiltrat atau adanya abses apendikular terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah.Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda rovsing. Pada apendistis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.Jika sudah terdapat abses yaitu bila ada omentum atau usus lain yang dengan cepat membendung daerah apendiks maka selain ada nyeri pada fossa iliaka kanan selama 3 4 hari (waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan abses) juga pada palpasi akan teraba massa yang fixed dengan nyeri tekan dan tepi atas massa dapat diraba. Jika apendiks intrapelvinal maka massa dapat diraba pada RT (rectal toucher) sebagai massa yang hangat.Peristalsis usus sering normal. Peristalsis dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvikaPada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnopsis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan.Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m.psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Bila apendiksa yang meradang menempel di m.psoas, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang, pada apendistis pelvika akan menimbulkan nyeri.Dasar anatomi dari tes psoas adalah apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan) tes obturator. Nyeri pada rotasi keadalam secara pasif saat paha pasien difleksikan. Pemeriksaan menggerakkan tungkai bawah kelateral, pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang), menghasilkan rotasi femur kedalam. Dasar anatomi dari tes obturator adalah peradangan apendiks dipelvis yang kontak dengan otot obturator internus yang meregang saat dilakukan manuver.1. 2. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.7.1. 2.7.2. PEMERIKSAAN PENUNJUANGPemeriksaan laboratoriumPada darah lengkap didapatkan leukosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana. Lebih dari 13.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri. Pada pemeriksaan urin, sedimen dapat normal atau terdapat leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika.Pemeriksaan radiologiFoto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesis atau pemeriksaan fisik meragukan. Tanda tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat ileal atau caecal ileus ( gambaran garis permukaan air-udara disekum atau ileum ). Patognomonik bila terlihat gambar fekalit.USG atau CT Scan. USG dilakukan khususnya untuk melihat keadaan kuadran kanan bawah atau nyeri pada pelvis pada pasien anak atau wanita. Adanya peradangan pada apendiks menyebabkan ukuran apendiks lebih dari normalnya (diameter 6mm). Kondisi penyakit lain pada kuadran kanan bawah seperti inflammatory bowel disease, diverticulitis cecal, divertikulum meckels, endometriosis dan pelvic inflamatory disease (PID) dapat menyebabkan positif palsu pada hasil USGPada CT Scan khususnya apendiceal CT, lebih akurat dibandingkan USG. Selain dapat mengidentifikasi apendiks yang mengalami inflamasi (diameter lebih dari 6 cm) juga dapat melihat adanya perubahan akibat inflamasi pada periapendik.Pemeriksaan barium enema dan colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma kolon. Tetapi untuk apendistis akut pemeriksaan barium enema merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan ruptur apendiks.2.8. DIAGNOSISRiwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di regio iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa atau abses apendikuler. Penegakkan diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dengan karsinoma sekum penyakit crohn, amuboma dam lymphoma maligna intra abdomen. Perlu juga disingkirkan kemungkinan aktinomikosis intestinal, entritis tuberkulosa, dan kelainan ginekolog seperti kehamilan ektopik terganggu (KET), adneksitis dan kista ovarium terpuntir. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas.Tumor caecum, biasanya terjadi pada orang tua dengan tanda keadaan umum jelek, anemia dan turunnya berat badan. Hal ini perlu dipastikan dengan colon in loop dan benzidin test. Pada anak anak tumor caecum yang sering adalah sarcoma dari kelenjar mesenterium. Pada apendisitis tuberkulosa, klinisnya antara lain keluhan nyeri yang tidak begitu hebat disebelah kanan perut, dengan atau tanpa muntah dan waktu serangat yang dapat timbul panas badan, leukositosis sedang, biasanya terdapat nyeri tekan dan rigiditas pada kuadran lateral bawah kanan, kadang kadang teraba massa.Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengana. Keadaan umum pasien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggib. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuandran kanan bawah masih jelas terdapat tanda tanda peritonitisc. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri.Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengana. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi lagib. Pemeriksaan lokal abdomen tenang, tidak terdapat tanda tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan.c. Laboratorium hitung leukosit dan hitung jenis normal.2.9. PENATALAKSANAANPerjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Mula mula, massa yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. Jika peradangan pada apendiks tidak dapat mengatasi rintangan rintangan sehinggaq penderita terus mengalami peritonitis umum, massa tadi menjadi terisi nanah, semula dalam jumlah sedikit, tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya.Urut urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam, ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungkin gangrene dari dalam massa perleketan ringan yang longgar dan sangat berbahaya, dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan vaskular, sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase.Massa apendiks terjadi bila tterjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperfgorasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikular yang dindingnya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum, jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah. Pada anak, dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja.Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2 -3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.

Pada periapendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan ataupun tanpa peritonitis umumTerapi sementara untuk 8 -12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak kecil, wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat:1. Total bedres posisi fawler agar pus terkumpul di kavum doglas.2. Diet lunak bubur saring3. Antibiotik parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6 8 minggu kemudian, dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6 8 minggu kemudian.Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. Dapat dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah.Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi biasanya 48 jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat, tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan apendiktomi. Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari. Biasanya pada hari ke 5 7 massa mulai mengecil dan terlokalisisr. Bila massa tidak juga mengecil, tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan didrainase.Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Abses dicapau secara ekstraperitoneal, bila apendiks mudah diambil, lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. Bila apendiks sukar dilepas, maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar, dan dikeluarkan lewat samping perut. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam, bila pus sudah kurang dari 100cc/hari, drainase dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci setiap hari. Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di RT.Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang LED Jumlah leukosit MassaPeriapendikular infiltrat dianggap tenang apabila:1. Anamnesis : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen2. Pemeriksaan fisika. Keadaan umum penderita baik, tidak terdapat kenaikan suhu tubuh (diukur rektal dan aksiler)b. Tanda tanda apendisitis sudah tidak terdapatc. Massa sudah mengecil atau menghilang, atau massa tetap ada tetapi kecil di banding semulad. Laboratorium : LED kurang dari 20, dan leukosit normalKebijakan untuk operasi periapendikular infiltrata. LED telah menurun kurang dari 40b. Tidak terdapat leukositosisc. Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak mengecil lagiBila LED tetap tinggi, maka perlu diperiksa Apakah penderita sudah bed rest total Pemberian makanan penderita Pemakaian antibiotik penderita Kemungkinan penyebab lain.Bila dalam 8 12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada perbaikan, operasi tetap dilakukan. Bila ada massa periapendikular yang fixed. Ini berarti sudah terjadi abses dan terapi dalam drainase.

2.10. KOMPLIKASIKomplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. Tanda tanda terjadinya suatu perforasi adalah Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen menyeluruh Suhu tubuh naik tinggi sekali Nadi semakin cepat Defance muskular yang menyeluruh Bising usus berkurang Perut distendedAkibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya :1. Pelvic abscess2. Subphrenic absess3. Intraperitoneal abses lokalPeritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga abdomen. Dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

BAB IIIKESIMPULAN

Apendisitis adalah peradaangan yang terjadi pada appendiks vermiformis dan bukan peradangan usus buntu. Apendik atau sering disebut sebagai umbai cacaing adalah organ tambahan pada usus buntu. Fungsi apendiks adalah sebagai organ immunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin.Apendisitis ada 2 macam, yaitu apendisitis akut dan apendisitis kronis. Yang mendasari terjadinya apendisitis adalah adanya sumbatan pada saluran apendiks. Selain penyebab diatas apendisitis ini pada umumnya karena infeksi bakteri atau kuman. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E.Coli dan streptococus. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E.Histolytica.Ada beberapa hal penting dalam gejala apendisitis, yaitu nyeri, muntah dan mual, suhu tubuh meningkat, nadi cepat, rasa sakit hilang timbul, diare dan konstipasi, tungkai kanan tidak dapat atau terasa sakit jika diluruskan, perut kembung, hasil leukosit meningkat. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita tampak sakit, menghindarkan pergerakan.Pemeriksaan apendisitis dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik yaitu inspeksi, palpasi, pemeriksaan uji psoas dan uji obturator, pemeriksaan colok dubur. Selain pemeriksaan fisik juga dilakukan pemeriksaan penunjang laboratorium radiologi.Kesalahan diagnosa lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki laki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis. Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat adalah segera dilakukan apendiktomi. Pembedahan segera dilakukan, untuk mencegah terjadinya ruptur (pecah), terbentuknya abses atau peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotik selama 7 10 hari.Pada komplikasi apendiks yang pecah biasanya menyebabkan perforasi, peritonitis, septikemia. Pada wanita terjadi penyumbatan saluran indung telur yang bisa menyebabkan kemandulans erta terjadi pieloflebitis dan abses hati tapi jarang terjadi.

18