of 45 /45
PENDAHULUAN Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis. Appendix merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan. Peradangan akut Appendix atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah. Insiden appendicitis akut di Indonesia dilaporkan menempati urutan tertinggi diantara kasus-kasus kegawatan darurat, seperti juga halnya dinegara barat. Walaupun begitu diagnosis serta keputusan bedah masih cukup sulit ditegakkan. Pada beberapa keadaan appendicitis akut agak sulit didiagnosis, misalnya pada fase awal dari appendisits akut gejala dan tandanya masih sangat samar apalagi bila sudah diberi antibiotika. Dengan pemeriksaan yang cermat dan teliti resiko kesalahan diagnosis pada appendicitis akut sekitar 15-20%. Bahkan pada wanita kesalahan diagnosis ini mencapai 45-50%. Hal ini dapat disadari mengingat wanita terutama yang masih sangat muda sering timbul gangguan yang mirip apendicitis akut 2 . Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendix yang terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis dan syok. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang

Appendiks perforasi bedah

  • Upload
    indhivm

  • View
    93

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan kasus bedah appendix

Text of Appendiks perforasi bedah

Page 1: Appendiks perforasi bedah

PENDAHULUAN

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi pada Appendix vermicularis. Appendix

merupakan organ tubular yang terletak pada pangkal usus besar yang berada di perut kanan

bawah dan organ ini mensekresikan IgA namun seringkali menimbulkan masalah bagi kesehatan.

Peradangan akut Appendix atau Appendicitis acuta menyebabkan komplikasi yang berbahaya

apabila tidak segera dilakukan tindakan bedah.

Insiden appendicitis akut di Indonesia dilaporkan menempati urutan tertinggi diantara

kasus-kasus kegawatan darurat, seperti juga halnya dinegara barat. Walaupun begitu diagnosis

serta keputusan bedah masih cukup sulit ditegakkan. Pada beberapa keadaan appendicitis akut

agak sulit didiagnosis, misalnya pada fase awal dari appendisits akut gejala dan tandanya masih

sangat samar apalagi bila sudah diberi antibiotika. Dengan pemeriksaan yang cermat dan teliti

resiko kesalahan diagnosis pada appendicitis akut sekitar 15-20%. Bahkan pada wanita kesalahan

diagnosis ini mencapai 45-50%. Hal ini dapat disadari mengingat wanita terutama yang masih

sangat muda sering timbul gangguan yang mirip apendicitis akut2.

Semua kasus appendicitis memerlukan tindakan pengangkatan dari Appendix yang

terinflamasi, baik dengan laparotomy maupun dengan laparoscopy. Apabila tidak dilakukan

tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena peritonitis

dan syok. Reginald Fitz pada tahun 1886 adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa

Appendicitis acuta merupakan salah satu penyebab utama terjadinya akut abdomen di seluruh

dunia 3

Page 2: Appendiks perforasi bedah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI, FISIOLOGI, DAN EMBRIOLOGI APPENDIX

Appendix merupakan derivat bagian dari midgut yang terdapat di antara Ileum dan Colon

ascendens. Caecum terlihat pada minggu ke-5 kehamilan dan Appendix terlihat pada minggu ke-

8 kehamilan sebagai suatu tonjolan pada Caecum. Awalnya Appendix berada pada apeks

Caecum, tetapi kemudian berotasi dan terletak lebih medial dekat dengan Plica ileocaecalis.

Dalam proses perkembangannya, usus mengalami rotasi. Caecum berakhir pada kuadran kanan

bawah perut. Appendix selalu berhubungan dengan Taenia caecalis. Oleh karena itu, lokasi akhir

Appendix ditentukan oleh lokasi Caecum.1,2,3

Gambar 1. Appendix vermicularis4)

Vaskularisasi Appendix berasal dari percabangan A. ileocolica. Gambaran histologis

Appendix menunjukkan adanya sejumlah folikel limfoid pada submukosanya. Pada usia 15 tahun

didapatkan sekitar 200 atau lebih nodul limfoid. Lumen Appendix biasanya mengalami obliterasi

pada orang dewasa. 1,3

Page 3: Appendiks perforasi bedah

Gambar 2. Potongan transversa Appendix 5

Panjang Appendix pada orang dewasa bervariasi antara 2-22 cm, dengan rata-rata

panjang 6-9 cm. Meskipun dasar Appendix berhubungan dengan Taenia caealis pada dasar

Caecum, ujung Appendix memiliki variasi lokasi seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Variasi lokasi ini yang akan mempengaruhi lokasi nyeri perut yang terjadi apabila Appendix

mengalami peradangan. 1,2

Gambar 3. Variasi lokasi Appendix vermicularis1

Page 4: Appendiks perforasi bedah

Awalnya, Appendix dianggap tidak memiliki fungsi. Namun akhir-akhir ini, Appendix

dikatakan sebagai organ imunologi yang secara aktif mensekresikan Imunoglobulin terutama

Imunoglobulin A (IgA). Walaupun Appendix merupakan komponen integral dari sistem Gut

Associated Lymphoid Tissue (GALT), fungsinya tidak penting dan Appendectomy tidak akan

menjadi suatu predisposisi sepsis atau penyakit imunodefisiensi lainnya.2

2.2 INSIDENSI

Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur. Namun jarang pada anak kurang dari

satu tahun. Rasio pria : wanita = 1,2-1,3 : 1. 2

2.3 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

2.3.1 Obstruksi

Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. Fecalith merupakan

penyebab umum obstruksi Appendix, yaitu sekitar 20% pada anak dengan Appendicitis akut dan

30-40% pada anak dengan perforasi Appendix. Penyebab yang lebih jarang adalah hiperplasia

jaringan limfoid di sub mukosa Appendix, barium yang mengering pada pemeriksaan sinar X,

biji-bijian, gallstone, cacing usus terutama Oxyuris vermicularis. Reaksi jaringan limfatik, baik

lokal maupun generalisata, dapat disebabkan oleh infeksi Yersinia, Salmonella, dan Shigella;

atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba, Strongyloides, Enterobius vermicularis,

Schistosoma, atau Ascaris. Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enterik atau

sistemik, seperti measles, chicken pox, dan cytomegalovirus. Insidensi Appendicitis juga

meningkat pada pasien dengan cystic fibrosis. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada

kelenjar yang mensekresi mukus. Obstruksi Appendix juga dapat terjadi akibat tumor carcinoid,

khususnya jika tumor berlokasi di 1/3 proksimal. Selama lebih dari 200 tahun, corpus alienum

seperti pin, biji sayuran, dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya Appendicitis. Faktor lain

yang mempengaruhi terjadinya Appendicitis adalah trauma, stress psikologis, dan herediter.6

Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi. Fecalith

ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana, sekitar 65% pada kasus Appendicitis

gangrenosa tanpa perforasi, dan 90% pada kasus Appendicitis acuta gangrenosa dengan

perforasi. 1,2,6,7)

Page 5: Appendiks perforasi bedah

Gambar 3.1. Appendicitis (dengan fecalith) 8)

Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi normal

mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. Kapasitas lumen pada Appendix normal 0,1

mL. Sekresi sekitar 0,5 mL pada distal sumbatan meningkatkan tekanan intraluminal sekitar 60

cmH2O. Distensi merangsang akhiran serabut saraf aferen nyeri visceral, mengakibatkan nyeri

yang samar-samar, nyeri difus pada perut tengah atau di bawah epigastrium. 2)

Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa, tetapi juga dari pertumbuhan bakteri

yang cepat di Appendix. Sejalan dengan peningkatan tekanan organ melebihi tekanan vena,

aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular. Akan tetapi aliran arteriol

tidak terhambat. Distensi biasanya menimbulkan refleks mual, muntah, dan nyeri yang lebih

nyata. Proses inflamasi segera melibatkan serosa Appendix dan peritoneum parietal pada regio

ini, mengakibatkan perpindahan nyeri yang khas ke RLQ. 2,6,7 )

Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix, sangat rentan terhadap kekurangan suplai

darah. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui tekanan arteriol, daerah dengan suplai

darah yang paling sedikit akan mengalami kerusakan paling parah. Dengan adanya distensi,

invasi bakteri, gangguan vaskuler, infark jaringan, terjadi perforasi biasanya pada salah satu

daerah infark di batas antemesenterik. 1,2,6,7)

Di awal proses peradangan Appendix, pasien akan mengalami gejala gangguan

gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan, perubahan kebiasaan BAB, dan

kesalahan pencernaan. Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis, khususnya pada

anak-anak.6

Page 6: Appendiks perforasi bedah

Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral yang dipersepsikan

sebagai nyeri di daerah periumbilical. Nyeri awal ini bersifat nyeri tumpul di dermatom Th 10.

Distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan muntah dalam beberapa jam setelah

timbul nyeri perut. Jika mual muntah timbul mendahului nyeri perut, dapat dipikirkan diagnosis

lain.6

Appendix yang mengalami obstruksi merupakan tempat yang baik bagi

perkembangbiakan bakteri. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal, terjadi gangguan

aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang lebih hebat. Hal-hal tersebut semakin meningkatan

tekanan intraluminal Appendix. Akhirnya, peningkatan tekanan ini menyebabkan gangguan

aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan iskhemia jaringan intraluminal

Appendix, infark, dan gangren. Setelah itu, bakteri melakukan invasi ke dinding Appendix;

diikuti demam, takikardia, dan leukositosis akibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia

jaringan. Ketika eksudat inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan dengan

peritoneum parietale, serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada

lokasi Appendix, khususnya di titik Mc Burney’s. Jarang terjadi nyeri somatik pada kuadran

kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Pada Appendix yang berlokasi di

retrocaecal atau di pelvis, nyeri somatik biasanya tertunda karena eksudat inflamasi tidak

mengenai peritoneum parietale sebelum terjadi perforasi Appendix dan penyebaran infeksi.

Nyeri pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal dapat timbul di punggung atau pinggang.

Appendix yang berlokasi di pelvis, yang terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat

menyebabkan peningkatan frekuensi BAK, nyeri pada testis, atau keduanya. Inflamasi ureter

atau Vesica urinaria akibat penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat

berkemih, atau nyeri seperti terjadi retensi urine.

Konstipasi jarang dijumpai. Tenesmus ad ani sering dijumpai. Diare sering dijumpai pada

anak-anak, yang terjadi dalam jangka waktu yang pendek, akibat iritasi Ileum terminalis atau

caecum. Adanya diare dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis.6

Page 7: Appendiks perforasi bedah

2.3.2 Bakteriologi

Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix normal. Sekitar

60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob,

dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan aspirasi Appendix yang normal. Diduga lumen

merupakan sumber organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa terganggu

oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. Flora normal Colon memainkan

peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke Appendicitis gangrenosa dan

Appendicitis perforata. 1,2,7)

Appendicitis merupakan infeksi polimikroba, dengan beberapa kasus didapatkan lebih dari

14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami perforasi. 2) Flora normal

pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon normal. Flora pada Appendix akan tetap

konstan seumur hidup kecuali Porphyomonas gingivalis. Bakteri ini hanya terlihat pada orang

dewasa. Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix, Appendicitis acuta dan Appendicitis

perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis. Namun berbagai variasi dan bakteri

fakultatif dan anaerob dan Mycobacteria dapat ditemukan. 1,2,7)

Tabel 1. Organisme yang ditemukan pada Appendicitis acuta 2)

Bakteri Aerob dan Fakultatif Bakteri Anaerob

Batang Gram (-)

Eschericia coli

Pseudomonas aeruginosa

Klebsiella sp.

Coccus Gr (+)

Streptococcus anginosus

Streptococcus sp.

Enteococcus sp.

Batang Gram (-)

Bacteroides fragilis

Bacteroides sp.

Fusobacterium sp.

Batang Gram (-)

Clostridium sp.

Coccus Gram (+)

Peptostreptococcus sp.

Kultur intraperitonal rutin yang dilakukan pada pasien Appendicitis perforata dan non

perforata masih dipertanyakan kegunaannya. Saat hasil kultur selesai, seringkali pasien telah

mengalami perbaikan. Apalagi, organisme yang dikultur dan kemampuan laboratorium untuk

mengkultur organisme anaerob secara spesifik sangat bervariasi. Kultur peritoneal harus

Page 8: Appendiks perforasi bedah

dilakukan pada pasien dengan keadaan imunosupresi, sebagai akibat dari obat-obatan atau

penyakit lain, dan pasien yang mengalami abscess setelah terapi Appendicitis. Perlindungan

antibiotik terbatas 24-48 jam pada kasus Appendicitis non perforata. Pada Appendicitis

perforata, antibiotik diberikan 7-10 hari secara intravena hingga leukosit normal atau pasien

tidak demam dalam 24 jam. Penggunaan irigasi antibiotik pada drainage rongga peritoneal dan

transperitoneal masih kontroversi. 2,6)

2.3.3 Peranan lingkungan: diet dan higiene 7)

Di awal tahun 1970an, Burkitt mengemukakan bahwa diet orang Barat dengan

kandungan serat rendah, lebih banyak lemak, dan gula buatan berhubungan dengan kondisi

tertentu pada pencernaan. Appendicitis, penyakit Divertikel, carcinoma Colorectal lebih sering

pada orang dengan diet seperti di atas dan lebih jarang diantara orang yang memakan makanan

dengan kandungan serta lebih tinggi. Burkitt mengemukakan bahwa diet rendah serat berperan

pada perubahan motilitas, flora normal, dan keadaan lumen yang mempunyai kecenderungan

untuk timbul fecalith.

2.4 Klasifikasi Appendicitis

Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut :

2.4.1 Appendicitis Akut

a. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi

mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen ang

menggangu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan. Gejala diawali

dengan rasa nyeri di daerah umbilicus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan.

Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hyperemia, edema

dan tidak ada eksudat serosa.

b. Appendicitis Akut Purulenta ( Supurative Appendicitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya

aliran vea pada dinding appendiks dan menimbulkan thrombosis. Keadaan ini memperberat

iskemia dan edema pada appendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam

Page 9: Appendiks perforasi bedah

dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi

eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hyperemia, dan di dalam

lumen terdapat eksudat fibrinopurulen.

Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc

Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat

terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda – tanda peritonitis umum.

c. Appendicitis Akut Gangrenosa

Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, alirah darah arteri mulai terganggu sehingga

terjadi infark dan gangren. Selain didapatkan tanda- tanda supuratif, appendiks mengalami

gangrene pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah

kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan

peritoneal purulent.

2.4.2 Appendicitis Infiltrat

Appendicitis infiltrate adaah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi

oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa

flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.

2.4.3 Appendicitis Abses

Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di

fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.

2.4.4 Appendicitis Perforasi

Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah gangren yang

menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding

appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

Perforasi Appendicitis akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis difus.

Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan tubuh

pasien berespon terhadap perforasi tersebut. Tanda perforasi Appendicitis mencakup peningkatan

suhu melebihi 38.6oC, leukositosis > 14.000, dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik.

Page 10: Appendiks perforasi bedah

Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi, dan gejala dapat menetap hingga

> 48 jam tanpa perforasi. Peritonitis difus lebih sering dijumpai pada bayi karena bayi tidak

memiliki jaringan lemak omentum, sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran

infeksi akibat perforasi. Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja, lebih

memungkinkan untuk terjadi abscess. Abscess tersebut dapat diketahui dari adanya massa pada

palpasi abdomen pada saat pemeriksaan fisik.6

2.4.5 Appendicitis Kronis

Appendicitis Kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagao proses

radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya

obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada

riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik

appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal,

sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan

eosinophil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak

dilatasi.

2.5 MANIFESTASI KLINIS

2.5.1 Gejala Klinis

Gejala Appendicitis acuta umumnya timbul kurang dari 36 jam, dimulai dengan nyeri

perut yang didahului anoreksia.12,13 Gejala utama Appendicitis acuta adalah nyeri perut. Awalnya,

nyeri dirasakan difus terpusat di epigastrium, lalu menetap, kadang disertai kram yang hilang

timbul. Durasi nyeri berkisar antara 1-12 jam, dengan rata-rata 4-6 jam. Nyeri yang menetap ini

umumnya terlokalisasi di RLQ. Variasi dari lokasi anatomi Appendix berpengaruh terhadap

lokasi nyeri, sebagai contoh; Appendix yang panjang dengan ujungnya yang inflamasi di LLQ

menyebabkan nyeri di daerah tersebut, Appendix di daerah pelvis menyebabkan nyeri

suprapubis, retroileal Appendix dapat menyebabkan nyeri testicular. 1,2,3,7,8

Umumnya, pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix, biasanya suhu

naik hingga 38oC. Tetapi pada keadaan perforasi, suhu tubuh meningkat hingga > 39oC.

Anoreksia hampir selalu menyertai Appendicitis. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang

Page 11: Appendiks perforasi bedah

umumnya hanya terjadi satu atau dua kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus.

Umumnya, urutan munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia, diikuti nyeri perut dan

muntah. Bila muntah mendahului nyeri perut, maka diagnosis Appendicitis diragukan. 2,8 Muntah

yang timbul sebelum nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis.

Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien

yang merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. Diare timbul pada beberapa pasien

terutama anak-anak. 2,3,8 Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix.12,13

Tabel 1. Gejala Appendicitis acuta 9)

Gejala* Frekuensi (%)

Nyeri perut 100

Anorexia 100

Mual 90

Muntah 75

Nyeri berpindah 50

Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian

anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian

demam yang tidak terlalu tinggi)

50

*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam

Skor Alvarado

Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan

diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu; skor <6 dan skor >6. Selanjutnya ditentukan apakah

akan dilakukan Appendectomy. Setelah Appendectomy, dilakukan pemeriksaan PA terhadap

Page 12: Appendiks perforasi bedah

jaringan Appendix dan hasil PA diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu radang akut dan

bukan radang akut.11)

Tabel 2. Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis.2

Gejala Klinik Value

Gejala Adanya migrasi nyeri 1

Anoreksia 1

Mual/muntah 1

Tanda Nyeri RLQ 2

Nyeri lepas 1

Febris 1

Lab Leukositosis 2

Shift to the left 1

Total poin 10

Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6 maka tindakan bedah

sebaiknya dilakukan.2

Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi, mulai dari yang

menunjukkan kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu, dehidrasi, nyeri lokal pada perut

kanan bawah, bayi yang tampak sepsis. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas

mengorok. Pada beberapa kasus yang meragukan, pasien dapat diobservasi dulu selama 6 jam.

Pada penderita Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang

khas.12,13

Pada pemeriksaan fisik, perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkat

inflamasi pada Appendix. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik Mc

Burney’s. Tetapi pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal.

Adanya psoas sign, obturator sign, dan Rovsing’s sign bersifat konfirmasi dibanding diagnostik.

Pemeriksaan rectal toucher juga bersifat konfirmasi dibanding diagnostik, khususnya pada pasien

dengan pelvis abscess karena ruptur Appendix.12

Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua.

Pada kedua kelompok tersebut, diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya

telah mengalami perforasi. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi, hanya dijumpai gejala

letargi, irritabilitas, dan anoreksia. Selanjutnya, muncul gejala muntah, demam, dan nyeri.13

Page 13: Appendiks perforasi bedah

2.5.2 Tanda Klinis

Anak-anak dengan Appendicitis biasanya lebih tenang jika berbaring dengan gerakan

yang minimal. Anak yang menggeliat dan berteriak-teriak, pada akhirnya jarang didiagnosis

sebagai Appendicitis, kecuali pada anak dengan Appendicitis letak retrocaecal. Pada

Appendicitis letak retrocaecal, terjadi perangsangan ureter sehingga nyeri yang timbul

menyerupai nyeri pada kolik renal.6

Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha kanan, karena

pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. Hal tersebut akan mengurangi

tekanan ke arah Appendix sehingga nyeri perut berkurang. 6

Gambar 4. Posisi yang dilakukan untuk mengurangi nyeri perut10)

Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney. Namun perlu diingat bahwa letak

anatomis Appendix sebenarnya dapat pada semua titik, 360o mengelilingi pangkal Caecum.

Appendicitis letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina

iliaca posterior superior. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal.6

Secara teori, peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada

pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Namun, pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis.

Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif, maka pemeriksaan rectal toucher tidak

diperlukan lagi.6

Secara klinis, dikenal beberapa manuver diagnostik: 10

Rovsing’s sign

Page 14: Appendiks perforasi bedah

Jika LLQ ditekan, maka terasa nyeri di RLQ. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum.

Sering positif pada Appendicitis namun tidak spesifik.

Psoas sign

Pasien berbaring pada sisi kiri, tangan kanan pemeriksa memegang lutut pasien dan tangan

kiri menstabilkan panggulnya. Kemudian tungkai kanan pasien digerakkan dalam arah

anteroposterior. Nyeri pada manuver ini menggambarkan kekakuan musculus psoas kanan

akibat refleks atau iritasi langsung yang berasal dari peradangan Appendix. Manuver ini

tidak bermanfaat bila telah terjadi rigiditas abdomen.

Gambar 5. Dasar anatomis terjadinya Psoas sign 10

Obturator sign

Pasien terlentang, tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki kanan pasien

sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Kemudian pemeriksa memposisikan sendi lutut

pasien dalam posisi fleksi dan articulatio coxae dalam posisi endorotasi kemudian eksorotasi.

Tes ini positif jika pasien merasa nyeri di hipogastrium saat eksorotasi. Nyeri pada manuver

ini menunjukkan adanya perforasi Appendix, abscess lokal, iritasi M. Obturatorius oleh

Appendicitis letak retrocaecal, atau adanya hernia obturatoria.

Page 15: Appendiks perforasi bedah

Gambar 6. Cara melakukan Obturator sign10)

Gambar 7. Dasar anatomis Obturator sign10)

Blumberg’s sign (nyeri lepas kontralateral)

Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya. Manuver ini dikatakan positif bila

pada saat dilepaskan, pasien merasakan nyeri di RLQ.

Wahl’s sign

Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di

RLQ, dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren pada auskultasi.

Page 16: Appendiks perforasi bedah

Baldwin’s test

Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkai kanannya

ditekuk.

Defence musculare

Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix.

Nyeri pada daerah cavum Douglasi

Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasi atau

Appendicitis letak pelvis.

Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral

Dunphy’s sign (nyeri ketika batuk)

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG

2.6.1 Laboratorium2,3,6,7)

Leukositosis ringan berkisar antara 10.000-18.000/ mm3, biasanya didapatkan pada

keadaan akut, Appendicitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan polimorfonuklear

sedang. Jika hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan shift to the left pergeseran ke

kiri, diagnosis Appendicitis acuta harus dipertimbangkan. Jarang hitung jenis sel darah putih

lebih dari 18.000/ mm3 pada Appendicitis tanpa komplikasi. Hitung jenis sel darah putih di atas

jumlah tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi Appendix dengan atau tanpa

abscess.

CRP (C-Reactive Protein) adalah suatu reaktan fase akut yang disintesis oleh hati sebagai

respon terhadap infeksi bakteri. Jumlah dalam serum mulai meningkat antara 6-12 jam inflamasi

jaringan.

Kombinasi 3 tes yaitu adanya peningkatan CRP ≥ 8 mcg/mL, hitung leukosit ≥ 11000,

dan persentase neutrofil ≥ 75% memiliki sensitivitas 86%, dan spesifisitas 90.7%.

Pemeriksaan urine bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis infeksi dari saluran kemih.

Walaupun dapat ditemukan beberapa leukosit atau eritrosit dari iritasi Urethra atau Vesica

urinaria seperti yang diakibatkan oleh inflamasi Appendix, pada Appendicitis acuta dalam

sample urine catheter tidak akan ditemukan bakteriuria.

Page 17: Appendiks perforasi bedah

2.6.2.Ultrasonografi1,2,6,7)

Ultrasonografi cukup bermanfaat dalam menegakkan diagnosis Appendicitis. Appendix

diidentifikasi/ dikenal sebagai suatu akhiran yang kabur, bagian usus yang nonperistaltik yang

berasal dari Caecum. Dengan penekanan yang maksimal, Appendix diukur dalam diameter

anterior-posterior. Penilaian dikatakan positif bila tanpa kompresi ukuran anterior-posterior

Appendix 6 mm atau lebih. Ditemukannya appendicolith akan mendukung diagnosis. Gambaran

USG dari Appendix normal, yang dengan tekanan ringan merupakan struktur akhiran tubuler

yang kabur berukuran 5 mm atau kurang, akan menyingkirkan diagnosis Appendicitis acuta.

Penilaian dikatakan negatif bila Appendix tidak terlihat dan tidak tampak adanya cairan atau

massa pericaecal. Sewaktu diagnosis Appendicitis acuta tersingkir dengan USG, pengamatan

singkat dari organ lain dalam rongga abdomen harus dilakukan untuk mencari diagnosis lain.

Pada wanita-wanita usia reproduktif, organ-organ panggul harus dilihat baik dengan pemeriksaan

transabdominal maupun endovagina agar dapat menyingkirkan penyakit ginekologi yang

mungkin menyebabkan nyeri akut abdomen. Diagnosis Appendicitis acuta dengan USG telah

dilaporkan sensitifitasnya sebesar 78%-96% dan spesifitasnya sebesar 85%-98%. USG sama

efektifnya pada anak-anak dan wanita hamil, walaupun penerapannya terbatas pada kehamilan

lanjut.

USG memiliki batasan-batasan tertentu dan hasilnya tergantung pada pemakai. Penilaian

positif palsu dapat terjadi dengan ditemukannya periappendicitis dari peradangan sekitarnya,

dilatasi Tuba fallopi, benda asing (inspissated stool) yang dapat menyerupai appendicolith, dan

pasien obesitas Appendix mungkin tidak tertekan karena proses inflamasi Appendix yang akut

melainkan karena terlalu banyak lemak. USG negatif palsu dapat terjadi bila Appendicitis

terbatas hanya pada ujung Appendix, letak retrocaecal, Appendix dinilai membesar dan

dikelirukan oleh usus kecil, atau bila Appendix mengalami perforasi oleh karena tekanan.

Page 18: Appendiks perforasi bedah

Gambar 3.7.Ultrasonogram pada potongan longitudinal Appendicitis 10)

2.6.3. Pemeriksaan radiologi1,2,6,7)

Foto polos abdomen jarang membantu diagnosis Appendicitis acuta, tetapi dapat sangat

bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis banding. Pada pasien Appendicitis acuta, kadang

dapat terlihat gambaran abnormal udara dalam usus, hal ini merupakan temuan yang tidak

spesifik. Adanya fecalith jarang terlihat pada foto polos, tapi bila ditemukan sangat mendukung

diagnosis. Foto thorax kadang disarankan untuk menyingkirkan adanya nyeri alih dari proses

pneumoni lobus kanan bawah.

Teknik radiografi tambahan meliputi CT Scan, barium enema, dan radioisotop leukosit.

Meskipun CT Scan telah dilaporkan sama atau lebih akurat daripada USG, tapi jauh lebih mahal.

Karena alasan biaya dan efek radiasinya, CT Scan diperiksa terutama saat dicurigai adanya

Abscess appendix untuk melakukan percutaneous drainage secara tepat.

Diagnosis berdasarkan pemeriksaan barium enema tergantung pada penemuan yang tidak

spesifik akibat dari masa ekstrinsik pada Caecum dan Appendix yang kosong dan dihubungkan

dengan ketepatan yang berkisar antara 50-48 %. Pemeriksaan radiografi dari pasien suspek

Appendicitis harus dipersiapkan untuk pasien yang diagnosisnya diragukan dan tidak boleh

ditunda atau diganti, memerlukan operasi segera saat ada indikasi klinis.

Page 19: Appendiks perforasi bedah

Gambar 3.8. Gambaran CT Scan abdomen: Appendicitis perforata

dengan abscess dan kumpulan cairan di pelvis1)

Gambar 3.9. Gambaran CT Scan abdomen: Penebalan Appendix

(panah) dengan appendicolith1)

Page 20: Appendiks perforasi bedah

Tabel 3. Perbandingan USG dan CT Scan Appendix pada Appendicitis10)

USG CT Scan Appendix

Sensitivitas 85% 90-100%

Spesifitas 92% 95-97%

Penggunaan Evaluasi pasien pada pasien Appendicitis

Evaluasi pasien pada pasien Appendicitis

Keuntungan AmanRelatif murahDapat menyingkirkan penyakit pelvis pada wanitaLebih baik pada anak-anak

Lebih akuratLebih baik dalam mengidentifikasi Appendix normal, phlegmon dan abscess

Kerugian Tergantung operatorSecara teknik tidak adekuat dalam menilai gasNyeri

MahalRadiasi ionisasiKontras

2.7 DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari Appendicitis acuta pada dasarnya adalah diagnosis dari akut

abdomen. Hal ini karena manifestasi klinik yang tidak spesifik untuk suatu penyakit tetapi

spesifik untuk suatu gangguan fisiologi atau gangguan fungsi. Jadi pada dasarnya gambaran

klinis yang identik dapat diperoleh dari berbagai proses akut di dalam atau di sekitar cavum

peritoneum yang mengakibatkan perubahan yang sama seperti Appendicitis acuta. 2,6)

Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi operasi, namun pada umumnya

proses-proses penyakit yang diagnosisnya sering dikacaukan oleh Appendicitis sebagian besar

juga merupakan masalah pembedahan atau tidak akan menjadi lebih buruk dengan pembedahan. 2,6)

Diagnosis banding Appendicitis tergantung dari 3 faktor utama: lokasi anatomi dari inflamasi

Appendix, tingkatan dari proses dari yang simple sampai yang perforasi, serta umur dan jenis

kelamin pasien. 2,6)

1. Adenitis Mesenterica Acuta

Diagnosis penyakit ini seringkali dikacaukan oleh Appendicitis acuta pada anak-anak.

Hampir selalu ditemukan infeksi saluran pernafasan atas, tetapi sekarang ini telah menurun.

Page 21: Appendiks perforasi bedah

Nyeri biasanya kurang atau bisa lebih difus dan rasa sakit tidak dapat ditentukan lokasinya

secara tepat seperti pada Appendicitis. Observasi selama beberapa jam bila ada kemungkinan

diagnosis Adenitis mesenterica, karena Adenitis mesenterica adalah penyakit yang self

limited. Namun jika meragukan, satu-satunya jalan adalah operasi segera.

2. Gastroenteritis akut

Penyakit ini sangat umum pada anak-anak tapi biasanya mudah dibedakan dengan

Appendicitis. Gastroentritis karena virus merupakan salah satu infeksi akut self limited dari

berbagai macam sebab, yang ditandai dengan adanya diare, mual, dan muntah. Nyeri

hiperperistaltik abdomen mendahului terjadinya diare. Hasil pemeriksaan laboratorium

biasanya normal.

3. Penyakit urogenital pada laki-laki.

Penyakit urogenital pada laki-laki harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding

Appendicitis, termasuk diantaranya torsio testis, epididimitis akut, karena nyeri epigastrik

dapat muncul sebagai gejala lokal pada awal penyakit ini, Vesikulitis seminalis dapat juga

menyerupai Appendicitis namun dapat dibedakan dengan adanya pembesaran dan nyeri

Vesikula seminalis pada waktu pemeriksaan Rectal toucher.

4. Diverticulitis Meckel

Penyakit ini menimbulkan gambaran klinis yang sangat mirip Appendicitis acuta.

Perbedaan preoperatif hanyalah secara teoritis dan tidak penting karena Diverticulitis Meckel

dihubungkan dengan komplikasi yang sama seperti Appendicitis dan memerlukan terapi yang

sama yaitu operasi segera.

5. Intususseption

Sangat berlawanan dengan Diverticulitis Meckel, sangat penting untuk membedakan

Intususseption dari Appendicitis acuta karena terapinya sangat berbeda. Umur pasien sangat

penting, Appendicitis sangat jarang dibawah umur 2 tahun, sedangkan Intususseption

idiopatik hampir semuanya terjadi di bawah umur 2 tahun. Pasien biasanya mengeluarkan

tinja yang berdarah dan berlendir. Massa berbentuk sosis dapat teraba di RLQ. Terapi yang

dipilih pada intususseption bila tidak ada tanda-tanda peritonitis adalah barium enema,

sedangkan terapi pemberian barium enema pada pasien Appendicitis acuta sangat berbahaya.

6. Chron’s enteritis

Page 22: Appendiks perforasi bedah

Manifestasi enteritis regional berupa demam, nyeri RLQ, perih, dan leukositosis sering

dikelirukan sebagai Appendicitis. Selain itu, terdapat diare dan anorexia. Mual dan muntah

yang jarang, dapat mengarahkan diagnosis kepada enteritis namun tidak menyingkirkan

diagnosis Appendicitis acuta.

7. Perforasi ulkus peptikum

Gejala perforasi ulkus peptikum menyerupai Appendicitis jika cairan gastroduodenal

mengalir ke bawah di daerah caecal. Jika perforasi secara spontan menutup, gejala nyeri

abdomen bagian atas menjadi minimal.

8. Epiploic appendagitis

Epiploic appendagitis mungkin disebabkan oleh infark Colon sekunder dari torsi Colon.

Gejala dapat minimal atau terjadi gejala abdomen yang dapat berlangsung hingga beberapa

hari. Pasien tidak tampak sakit, jarang terjadi mual dan muntah, dan nafsu makan tidak

berubah. Terdapat nyeri tekan pada daerah yang terkena. Pada 25% kasus, nyeri berlangsung

terus menerus hingga epiploic appendage yang mengalami infark dioperasi.

9. Infeksi saluran kencing

Pyelonephritis acuta, terutama yang terletak di sisi kanan dapat menyerupai Appendicitis

acuta letak retroileal. Rasa dingin, nyeri costo vertebra kanan, dan terutama pemeriksaan

urine biasanya cukup untuk membedakan keduanya.

10. Batu Urethra

Bila calculus tersangkut dekat Appendix dapat dikelirukan dengan Appendicitis

retrocaecal. Nyeri alih ke daerah labia, scrotum atau penis, hematuria, dan atau tanpa demam

atau leukositosis mendukung adanya batu. Pyelografi dapat memperkuat diagnosis.

11. Peritonitis Primer

Peritonitis primer jarang menyerupai Appendicitis acuta simplex namun dapat ditemukan

gambaran yang sangat mirip dengan peritonitis difus sekunder yang disebabkan oleh ruptur

Appendix. Diagnosis ditegakkan dengan aspirasi peritoneal. Bila ditemukan bakteri coccus

pada pewarnaan Gram, peritonitis tersebut adalah peritonitis primer dan terapinya adalah

obat–obatan. Bila ditemukan bermacam–macam bakteri, peritonitis tersebut adalah peritonitis

sekunder.

12. Purpura Henoch–Schonlein

Page 23: Appendiks perforasi bedah

Sindrom ini biasanya terjadi 2-3 minggu setelah infeksi Streptococcus. Nyeri abdomen

merupakan gejala yang paling menonjol, namun nyeri sendi, purpura dan nephritis juga

hampir selalu ditemukan.

13. Yersiniosis

Infeksi Yersinia menyebabkan berbagai macam gejala klinik, termasuk adenitis

mesenterica, ileitis, colitis dan Appendicitis acuta. Umumnya infeksinya ringan dan self

limited, namun pada beberapa dapat terjadi sepsis sistemik yang umumnnya sangat fatal bila

tidak diobati. Kecurigaan pada diagnosis preoperatif tidak boleh menunda operasi, karena

secara klinis Appendicitis yang disebabkan oleh Yersinia tidak dapat dibedakan dengan

Appendicitis oleh sebab lainnya. Sekitar 5% dari kasus Appendicitis acuta disebabkan oleh

infeksi Yersinia.

14. Kelainan–kelainan ginekologi

Umumnya kesalahan diagnosis Appendicitis acuta tertinggi pada wanita dewasa muda

disebabkan oleh kelainan–kelainan ginekologi. Angka rata-rata Appendectomy yang

dilakukan pada Appendix normal yang pernah dilaporkan adalah 32%–45% pada wanita usia

15–45 tahun. Penyakit–penyakit organ reproduksi pada wanita sering dikelirukan sebagai

Appendicitis, dengan urutan yang tersering adalah PID, ruptur folikel de Graaf, kista atau

tumor ovarium, endometriosis dan ruptur kehamilan ektopik. Laparoskopi mempunyai

peranan penting dalam menentukan diagnosis.

Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Infeksi ini biasanya bilateral tapi bila yang terkena adalah tuba sebelah kanan dapat

menyerupai Appendicitis. Mual dan muntah hampir selalu terjadi pada pasien Appendicitis.

Pada pasien PID hanya sekitar separuhnya.

Ruptur Folikel de Graaf

Ovulasi sering mengakibatkan keluarnya darah dan cairan folikuler serta nyeri yang ringan pada

abdomen bagian bawah. Bila cairan sangat banyak dan berasal dari ovarium kanan, dapat

dikelirukan dengan Appendicitis. Nyeri dan nyeri tekan agak difus. Leucositosis dan demam

minimal atau tidak ada. Karena nyeri ini terjadi pada pertengahan siklus menstruasi, sering

disebut mittelschmerz.

Page 24: Appendiks perforasi bedah

2.8 PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pasien Appendicitis yaitu 1,2,3,6,7)

1. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi

atau septikemia.

2. Puasakan pasien, jangan berikan apapun per oral

3. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah.

4. Pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi.

5. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan didapatkan

beta-hCG positif secara kualitatif.

Bila dilakukan pembedahan, terapi pada pembedahan meliputi; antibiotika profilaksis harus

diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut, digunakan single dose dipilih antibiotika

yang bisa melawan bakteri anaerob.

Teknik operasi Appendectomy 1,2,6,8):

a. Open Appendectomy

1. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.

2. Dibuat sayatan kulit:

Horizontal Oblique

3. Dibuat sayatan otot, ada dua cara:

a. Pararectal/ Paramedian

Sayatan/ incisi pada vaginae tendinae M. rectus abdominis lalu otot disisihkan ke

medial. Fascia diklem sampai saat penutupan vagina M. rectus abdominis karena

fascianya ada 2 agar tidak tertinggal pada waktu penjahitan. Bila yang terjahit hanya

satu lapis fascia saja, dapat terjadi hernia cicatricalis.

Page 25: Appendiks perforasi bedah

2 lapis

b. Mc Burney/ Wechselschnitt/ muscle splitting

Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot.

1) Incisi apponeurosis M. Obliquus abdominis externus dari lateral atas ke medial

bawah.

Keterangan gambar:

Satu incisi kulit yang rapi dibuat dengan perut mata pisau. Incisi kedua mengenai

jaringan subkutan sampai ke fascia M. Obliquus abdominis externus.

2) Splitting M. Obliquus abdominis internus dari medial atas ke lateral bawah.

Keterangan gambar:

Dari tepi sarung rektus, fascia tipis M. obliquus internus diincisi searah dengan

seratnya ke arah lateral.

M.rectus abd.

sayatan

M.rectus abd.ditarik ke medial

Page 26: Appendiks perforasi bedah

3) Splitting M. transversus abdominis arah horizontal.

Keterangan gambar:

Pada saat menarik M. obliquus internus hendaklah berhati-hati agar tak terjadi

trauma jaringan. Dapat ditambahkan, bahwa N. iliohipogastricus dan pembuluh

yang memperdarahinya terletak di sebelah lateral di antara M. obliquus externus

dan internus. Tarikan yang terlalu keras akan merobek pembuluh dan

membahayakan saraf.

4. Peritoneum dibuka.

Keterangan gambar:

Kasa Laparatomi dipasang pada semua jaringan subkutan yang terpapar. Peritoneum

sering nampak meradang, menggambarkan proses yang ada di bawahnya. Secuil

peritoneum angkat dengan pinset. Yang nampak di sini ialah pinset jaringan De Bakey.

Asisten juga mengangkat dengan cara yang sama pada sisi di sebelah dokter bedah.

Dokter bedah melepaskan pinset, memasang lagi sampai dia yakin bahwa hanya

peritoneum yang diangkat.

Page 27: Appendiks perforasi bedah

5. Caecum dicari kemudian dikeluarkan kemudian taenia libera ditelusuri untuk mencari

Appendix. Setelah Appendix ditemukan, Appendix diklem dengan klem Babcock dengan

arah selalu ke atas (untuk mencegah kontaminasi ke jaringan sekitarnya).

Appendix dibebaskan dari mesoappendix dengan cara:

Mesoappenddix ditembus dengan sonde kocher dan pada kedua sisinya, diklem,

kemudian dipotong di antara 2 ikatan.

Keterangan gambar:

Appendix dengan hati-hati diangkat agar mesenteriumnya teregang. Klem Babcock

melingkari appenddix dan satu klem dimasukkan lewat mesenterium seperti pada

gambar. Cara lainnya ialah dengan mengklem ujung bebas mesenterium di bawah ujung

appenddix. Appendix tak boleh terlalu banyak diraba dan dipegang agar tidak

menyebarkan kontaminasi.

6. Appendix di klem pada basis (supaya terbentuk alur sehingga ikatan jadi lebih kuat

karena mukosa terputus sambil membuang fecalith ke arah Caecum). Klem dipindahkan

sedikit ke distal, lalu bekas klem yang pertama diikat dengan benang yang diabsorbsi

(supaya bisa lepas sehingga tidak terbentuk rongga dan bila terbentuk pus akan masuk ke

dalam Caecum).

Page 28: Appendiks perforasi bedah

7. Appendix dipotong di antara ikatan dan klem, puntung diberi betadine.

8. Perawatan puntung Appendix dapat dilakukan dengan cara:

a. Dibuat jahitan tabak sak pada Caecum, puntung Appendix diinversikan ke dalam

Caecum. Tabak sak dapat ditambah dengan jahitan Z.

b. Puntung dijahit saja dengan benang yang tidak diabsorbsi. Resiko kontaminasi dan

adhesi.

c. Bila prosedur a+b tidak dapat dilaksanakan, misalnya bila puntung rapuh, dapat

dilakukan penjahitan 2 lapis seperti pada perforasi usus.

Page 29: Appendiks perforasi bedah

9. Bila no.7 tidak dapat dilakukan, maka Appendix dipotong dulu, baru dilepaskan dan

mesenteriolumnya (retrograde).

10. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

b. Laparoscopic Appendectomy

Laparoscopy dapat dipakai sebagai sarana diagnosis dan terapeutik untuk pasien dengan

nyeri akut abdomen dan suspek Appendicitis acuta. Laparoscopy sangat berguna untuk

pemeriksaan wanita dengan keluhan abdomen bagian bawah. Dengan menggunakan laparoscope

akan mudah membedakan penyakit akut ginekologi dari Appendicitis acuta.1)

Gambar 3.10. Posisi operasi Laparoscopic Appendectomy 1)

2.9 KOMPLIKASI POST OPERASI 1)

1. Fistel berfaeces Appendicitis gangrenosa, maupun fistel tak berfaeces; karena benda

asing, tuberculosis, Aktinomikosis.

2. Hernia cicatricalis.

3. Ileus

Page 30: Appendiks perforasi bedah

4. Perdarahan dari traktus digestivus: kebanyakan terjadi 24–27 jam setelah Appendectomy,

kadang–kadang setelah 10–14 hari. Sumbernya adalah echymosis dan erosi kecil pada

gaster dan jejunum, mungkin karena emboli retrograd dari sistem porta ke dalam vena di

gaster/ duodenum.

2.10 PROGNOSIS 2)

Mortalitas dari Appendicitis di USA menurun terus dari 9,9% per 100.000 pada tahun 1939

sampai 0,2% per 100.000 pada tahun 1986. Faktor- faktor yang menyebabkan penurunan secara

signifikan insidensi Appendicitis adalah sarana diagnosis dan terapi, antibiotika, cairan i.v., yang

semakin baik, ketersediaan darah dan plasma, serta meningkatnya persentase pasien yang

mendapat terapi tepat sebelum terjadi perforasi.

Page 31: Appendiks perforasi bedah

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

2. Lally KP, Cox CS, Andrassy RJ, Appendix. In: Sabiston Texbook of Surgery. 17th edition.

Ed:Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Philadelphia: Elsevier Saunders.

2004: 1381-93

3. Jaffe BM, Berger DH. The Appendix. In: Schwartz’s Principles of Surgery Volume 2. 8th

edition. Ed: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE.

New York: McGraw Hill Companies Inc. 2005:1119-34

4. Bedah Digestif. 2008. Apendicitis akut. Retrieved March 7, 2015, from Ilmu Bedah UGM:

http://bedahugm.net/Bedah-Digesti/Apendicitis-akut.html

5. Way LW. Appendix. In: Current Surgical Diagnosis & Treatment. 11 edition. Ed:Way LW.

Doherty GM. Boston: McGraw Hill. 2003:668-72

6. Human Anatomy 205. Retrieved at March 7th 2015 From: http://www

.talkorigins.org/faqs/vestiges/vermiform_Appendix.jpg

7. http://www.med.unifi.it/didonline/annoV/clinchirI/Casiclinici/Caso10/Appendicitis1x.jpg

8. Ellis H, Nathanson LK. Appendix and Appendectomy. In : Maingot’s Abdominal Operations

Vol II. 10th edition. Ed: Zinner Mj, Schwartz SI, Ellis H, Ashley SW, McFadden DW.

Singapore: McGraw Hill Co. 2001: 1191-222

9. Soybel DI. Appedix In: Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol 1. Ed: Norton JA,

Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW. New York:

Springer Verlag Inc. 2000: 647-62

10. Prinz RA, Madura JA. Appendicitis and Appendiceal Abscess. In: Mastery of Surgery Vol II.

4th edition. Ed: Baker RJ, Fiscer JE. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins. 2001:

1466-78

11. Hardin DM. Acute Appendicitis: Review and Update. American Academy of Family

Physician News and Publication. 1999;60: 2027-34. Retrieved at March 7th 2015. From:

http://www.aafp.org/afp/991101ap/2027.html

12. http://www.alkalizeforhealth.net/gifs/naturesplatform.gif

Page 32: Appendiks perforasi bedah

13. Owen TD, Williams H, Stiff G, Jenkinson LR, Rees BI. Evaluation of the Alvarado score in

acute Appendicitis. Retrieved at June 25th 2007. From:

http://www.pubmedcentral.nih.gov/picrender.fcgi?artid=1294889&blobtype=pdf