Ciri asperger

  • Published on
    07-Jul-2015

  • View
    706

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita AspergerBy intanpsikologi

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita Asperger Pada satu sisi sering mencari perhatian dengan berbicara keras dan tidak peduli bila orang lain ingin mengalihkan pembicaraan ke topik lain, Pada sisi yang lain menolak untuk bertatapan mata, tidak mampu berkomunikasi nonverbal atau menggunakan bahasa tubuh,tidak memperlihatkan ekspresi wajah dan kalau menggerakkan badannya atau memberi isyarat tubuh selalu tidak lazim, Menunjukkan ketertarikan hanya pada satu atau dua hal saja, misalnya tentang cuaca, binatang atau jadwal perjalanan dan kosa kata yang dipakai tidak berhubungan satu dengan lainnya, Tidak bisa berempati dan tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak dapat memahami keprihatinan orang lain, Tidak memiliki rasa humor dan tidak mengerti bila orang lain membuat lelucon dan tertawa karenanya, Gaya bicaranya sangat monoton, kaku dan datar serta sangat cepat, tidak seperti pada umumnya, Bahasa tubuh, gerak badannya pada waktu melakukan kegiatan motorik kasar kaku dan agak aneh dibandingkan anak lain, juga kalau sedang berjalan. (Dari berbagai sumber,Dr.D.Pane/TK Pestalozzi,Cibubur,20 Agustus 2008) Sumber : http://www.pestalozzi-indonesia.com/content/view/36/2/Asperger berbeda dengan Autis ?

09/24/2005Oleh: Leny Marijani

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis. Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe. Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 - 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun. Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa "humor dan ironi". Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah, dan mampu

mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik. Sedangkan penyandang autis klasik, sebagian besar terdiagnosa mempunyai IQ dibawah normal bahkan masuk kategori moderate mental retardasi. Tantangan terbesar bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinter -aksi. Pada umumnya, anak asperger suka untuk berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal dan terlihat "aneh". Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dari interaksi sosial. Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah. Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU). Untuk menghadapi masalah itu, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli yang profesional (care dan knowledgable) dan melakukan intervensi yang diperlukan se -segera mungkin dengan berterus terang kepada guru (pendidik) dan kepala sekolah dengan melihatkan atau membawa referensi dari ahli tsb. Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah dan teman-teman anak asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka "berbeda" karena anak asperger tidak mudah dikenali seperti halnya anak autis klasik. Hal inilah biasanya yang dapat menjadi pemicu berbagai masalah serius pada anak asperger. Walaupun sebagian orang menganggap bahwa asperger adalah mild autis (autis ringan), treatment dan intervensi tetap harus dilakukan. Sebagian besar program2 terapi untuk anak asperger biasanya bersifat direct teaching / langsung di dibuat untuk memperbaiki skill yang mereka belum kuasai misalnya di-bidang sosialisasi, mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan sekolah dan caramembagi waktu (time management). Anak asperger juga akan sangat terbantu jika banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil (support group), sport club, dimana mereka dapat berlatih, share experience mereka dan saling belajar dari teman mereka. Ada juga satu terapi yang cukup baik untuk anak asperger yaitu terapi RDI (Relationship Development Intervention) didevelop oleh Dr. Steven Gutstein. Demikian sedikit info, semoga bermanfaat. Referensi: 1. Dr. Alan Harchik, Asperger's Syndrome Differs From Autism, From The Republican, Springfield, MA 2. http://puterakembara.org/asindo.shtml - Asperger Syndrome menurut Skala Australia 3. http://puterakembara.org/apaas.shtml - Apakah Asperger Syndrome itu ? http://puterakembara.org/archives3/00000028.shtml

Enam langkah mendiagnosis sindrom asperger | Artikel kesehatan terbaru updateMay 29th, 2011admin0 Comments

Riset-riset masa kini mengindikasikan usia rata-rata untuk diagnosis adalah delapan tahun. Namun, rentang usia bervariasi dari anak yang sangat kecil hingga orang dewasa (Eisenmajer, et. al, 1996). Penulis telah spesialisasikan diri dalam diagnosis dan perawatan anak-anak serta orang dewasa pengidap Sindrom Asperger. Tampaknya, ada enam jalur untuk mendiagnosis. Yang pertama, memberi diagnosis awal autisme. Hal ini dilakukan ketika anak berusia kurang dari dua tahun. 1. Diagnosis Autisme pada Anak Usia Dini Salah satu alasan mengapa Lorna Wing mengusulkan dukungan yang lebih luas bagi istilah Sindrom Asperger adalah adanya pengakuan bahwa sejumlah anak yang memiliki sinyal-sinyal klasik autisme di usia prasekolah memperlihatkan perbaikan signifikan dalam komunikasi, dan beragam kecakapan. Anak yang semula menarik diri dan mengalami ketidakmampuan berbahasa yang parah mengembangkan kemampuan bicara yang fasih dan kecakapan yang diperlukan untuk masuk ke kelas biasa. Mereka tidak lagi terkucil atau diam. Perilaku dan kecakapan-kecakapan mereka konsisten dengan diagnosis Sindrom Asperger (Ozonoff, Rogers dan Pennington, 1991). Perbaikan ini dapat berlangsung sangat cepat dan terjadi hanya beberapa saat sebelum menginjak usia lima tahun (Shah, 1988). Kami tidak merasa yakin apakah ini merupakan fenomena alamiah untuk sejumlah anak atau akibat program-program intervensi sebelumnya. Mungkin, kedua-duanya. Walau bagaimana juga, diagnosis awal autisme klasik bersifat akurat ketika anak masih sangat kecil, tetapi anak tersebut telah berkembang sepanjang kontinum autistik hingga mencapai ekspresi yang kami sebut sebagai Sindrom Asperger. Dengan demikian, merupakan hal yang penting bila diagnosis autisme selalu dikaji untuk menguji apakah Sindrom Asperger adalah diagnosis yang lebih akurat sekarang, dan anak seharusnya menerima penanganan yang sesuai. 2. Pemunculan Ciri-ciri Tertentu Ketika Pertama Kali Didaftarkan di Sekolah Perkembangan anak pada usia prasekolah mungkin sangat tidak lazim. Orangtua atau para pakar mungkin tidak pernah dapat menimbang apakah anak memiliki setiap ciri yang mengarah pada autisme. Namun, guru pertama anak biasanya sudah tidak asing dengan rentang perilaku yang normal dan kecakapan pada anakanak kecil serta menjadi lebih peduli ketika anak mulai menghindari permainan kelompok, tidak memahami aturan-aturan ten- tang perilaku sosial di ruang kelas, memiliki sifat yang tidak lazim dalam percakapan dan permainan imajinatif mereka, meng-alami keterpesonaan mendalam pada topik tertentu, dan memiliki kejanggalan ketika menggambar, menulis, atau bermain bola. Anakanak semacam ini juga bisa mengacaukan atau agresif ketika harus berada dekat dengan anak-anak lain atau harus menunggu. Di rumah, anak mungkin menjadi karakter yang nyaris berbeda, bermain dengan saudara sedarah, dan berinteraksi dalam cara yang relatif alamiah dengan orangtua mereka. Namun, dalam kesempatan-kesempatan yang tidak biasa dan dengan rekan-rekan seusianya, tanda-tanda yang ada lebih nyata. Anak-anak ini

memiliki tanda-tanda klasik, namun kerap tidak dipertimbangkan oleh guru sebagai prioritas untuk dirujuk ke alat diagnostik. Mereka dianggap sebagai anak yang aneh, terus dianggap aneh di sekolah, dan meninggalkan kebingungan pada semua guru mereka. Pengujian terbaru di Swedia menggunakan skala nilai yang didesain bagi para guru untuk mengidentifikasi anak-anak, yang kemungkinan mengidap Sindrom Asperger, di kelas mereka. Anakanak semacam itu kemudian mengikuti suatu penilaian diagnostik dengan menggunakan kriteria standar. Sebelumnya, diperkirakan bahwa satu di antara seribu anak yang mengidap Sindrom Aspergersuatu indikasi serupa dengan autisme. Namun, studi ini mengindikasikan bahwa, sesungguhnya, sekitar saw dari 300 anak mengidap Sindrom Asperger (Ehlers dan Gillberg 1991). Maka, mayoritas anak-anak dengan sindrom ini tidak akan memperoleh diagnosis awal autisme. 3. Sebuah Ciri yang Tidak Khas Dari Sindrom Lainnya Perkembangan dan kecakapan-kecakapan awal anak mungkin telah dikenali sebagai sesuatu yang tidak lazim, dan pemeriksaan telah memberi kesan ada kelainan tertentu. Misalnya, anak memiliki catatan medis tentang perkembangan bahasa yang tertunda, mendapatkan pengobatan dan ahli terapi bicara, atau sekadar diasumsikan memiliki kelainan berbahasa. Namun, observasi yang cermat pada kecakapan -kecakapan sosial dan kognitif anak serta bidang yang menjadi minat mereka menampakkan profil yang lebih kompleks, dan Sindrom Asperger merupakan diagnosis yang lebih akurat. Anak mungkin didiagnosis mengidap gangguan lemah perhatian (ADD), dan kondisi yang satu ini diasumsikan dapat menjelaskan seluruh karakteristik anak. Terkadang, kondisi lain dapat dikenali dengan mudah, seperti cerebral palsy atau neurofibrornatosis2. Namun, kendati para ahli klinis memahami bahwa setiap anak memiliki ciri yang tidak khas, tetapi ahli-ahli ini ticlak me-miliki pengetahuan yang memadai mengenai Sindrom Asperger, supaya mereka dapat menganggap hal ini seba