budaya bisnis tionghoa

  • View
    164

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of budaya bisnis tionghoa

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang PenelitianEtnis Tionghoa, yang dulu sering disebut Chinese Everseas atau Tionghoa perantauan, tersebar di mana-mana. Jumlahnya diperkirakan 23 juta jiwa, dan lebih dari 80% di antaranya berada di Asia Tenggara. Indonesia adalah salah satu wilayah sebaran migrasi penduduk Cina. Proporsi populasi jumlah suku bangsa di Indonesia menurut sensus 2000 adalah 7.776.000 jiwa[footnoteRef:1]. [1: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa_di_Indonesia diakses pada 10 Juni 2013, 19.21]

Tionghoa di Indonesia ialah sebuah kelompok etnis yang mempunyai sejarah tersendiri di Indonesia. Etnis Tionghoa pernah menjadi isu yang besar ketika pemerintahan Soeharto di mana eksistensi dan ruang gerak etnis Tionghoa di tekan dan dibatasi pada waktu itu. Setalah berakhirnya rezim Orde Baru memunculah berbagai perspektif baru mengenai eksistensi Etnis Tionghoa di Indonesia. Pascareformasi, salah satu aspek yang fenomenal adalah bangkit dan tumbuh suburnya apa yang disebut oleh peneliti senior Leo Suryadinata (2004) sebagai Tiga Pilar Ketionghoaan, yakni (1) organisasi Tionghoa; (2) pers berbahasa Tionghoa dan (3) sekolah berbahasa pengantar Mandarin (poin terakhir ini kurang tepat, karena tidak ada "Sekolah Mandarin", yang ada adalah sekolah Tiga Bahasa/Trilingual). Ketiga pilar tersebut dewasa ini nampak jelas di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Pontianak.[footnoteRef:2] [2: http://wartaekonomi.co.id/berita6443/changyau-hoon-identitas-tionghoa-pascasoeharto-ranah-budaya-politik-dan-media.html - diakses pada 10 Juni 2013, 19:48]

Tumbangnya rezim Soeharto, kebijakan Pemerintah Indonesia juga berubah. Walaupun diskriminasi etnis belum terkikis habis, namun minoritas etnis mulai mendapat jaminan, sekurang-kurangnya dari sudut hukum. Hal ini merupakan perubahan yang baik bagi etnis Tionghoa, apalagi bagi etnis Tionghoa keturunan yang lahir sudah lama lahir dan menetap di Indonesia. Waktu tinggal dan domisili yang tetap di Indonesia, dan telah mempunyai bisnis tetap dan bergerak, menjadikan etnis Tionghoa di Indonesia melebur dan mengikuti aturan hukum yang ada. Semakin kesini, makin banyak etnis Tionghoa berkewarganegaraan Indonesia, mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Bangsa China yang berkewarganegaraan Indonesia haruslah digolongkan ke dalam masyarakat Indonesia secara setingkat dan setaraf dengan suku-suku bangsa yang lain yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.Orang-orang Cina di Indonesia dipanggil "Tionghoa", sepatah istilah yang dicipta sendiri oleh orang-orang yang berasal dari China di Indonesia. Istilah "Tionghoa" dan "Tiongkok" lahir daripada sebutan Melayu (Indonesia) dan Hokkien, jadi secara linguistik "Tionghoa" dan "Tiongkok" memang tidak dikenali (disebut atau didengar) di luar masyarakat Indonesia. Oleh sebab "Tionghoa" adalah istilah bahasa Indonesia yang khas, ia juga tidak dikenali di Malaysia dan Thailand. (Suryadinata, 2002:101)

Orang-orang Tionghoa Indonesia merupakan keturunan daripada orang-orang Cina yang berhijrah dari China secara berkala dan bergelombang sejak ribuan tahun dahulu. Catatan-catatan kesusasteraan China menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah mengadakan hubungan yang erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di China. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang-barang maupun manusia dari China ke Nusantara dan sebaliknya.Sejak awal masa reformasi etnis China semakin terintegrasi dengan orang Indonesia (Mulyana,2011:72). Indonesia pernah memiliki pejabat setingkat menteri yang orang Cina, dan sekarang Wakil Gubernur Ibu Kota Indonesia adalah seorang keturunan Tionghoa. Cina akan menguasai dunia, itulah kata-kata yang saat ini sering terdengar atau terpampang pada media massa, karena kekuatan ekonomi yang dikembangkan oleh etnis Tionghoa, telah menjadi kekuatan masa depan yang tidak dapat dipandang remeh. Namun, betapapun China telah memasuki abad modern, abad pasar bebas, filosofi serta referensi perilaku mereka masih tetap mengacu pada literatur-literatur klasik serta ajaran-ajaran para tokoh China kuno. Strategi perang para Ksatria China sudah menjadi topik riset ahli ekonomi dan bisnis. Ini bukan sesuatu yang mengherankan, mengingat etnis Tionghoa memiliki peribahasa bahwa dunia bisnis adalah medan perang.Dahlan Iskan, dalam majalah Tempo edisi Maret 2012 mengungkapkan bahwa sepuluh tahun terakhir ini, peta kekuatan dunia sudah berubah dan beralih ke Asia, terutama Cina. Selain kekuatan ekonomi baru Cina yang kini menjadi pesaing Amerika dan Eropa, juga banyak ide perubahan baru ditemukan dengan segar di Negeri Tirai Bambu itu. Chow (2011:55) menyebutkan setidaknya ada tiga faktor penyebab ekonomi China tumbuh dengan cepat, atara lain sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, institusi pasar yang berfungsi, dan banyaknya kesempatan untuk berkembang.Indonesia sendiri, sebagai negeri yang di dalamnya terdiri dari banyak etnis, sentimen etnis memang dapat saja bermunculan, tetapi pemicu utamanya lebih terletak pada kesenjangan sosial dan marginalisasi ekonomi kelompok yang semakin mengental pada era konglomerasi. Kesadaran sebagai golongan minoritas mendorong terbentuknya solidaritas yang kuat di kalangan orang China (Hamdani, 2012:3). Solidaritas golongan ini menjadi faktor penting dalam hubungan sosial yang penuh prasangka antara etnis Tionghoa dan orang-orang pribumi. Sebabnya antara lain karena modal, keahlian, sistem informasi ekonomi dan perdagangan hanya berputar dalam lingkaran golongan etnis Tionghoa. Keistimewaan perilaku ekonomi etnis Tionghoa yang pertama adalah terletak pada kuatnya sistem jaringan kerja. Walaupun demikian, sikap kompetitif antara mereka tetap terpelihara secara sehat. Hal ini semakin memperkuat kinerja bisnis di kalangan mereka. Bahkan saat terjadi krisis ataupun munculnya tantangan besar, mereka akan saling bekerjasama. Oleh sebab itu, bisnis keluarga menjadi salah satu ciri jaringan kerja yang mereka bentuk. Demikian pula di Indonesia, usaha kecil sampai perusahaan besar China di Indonesia banyak yang dikelola sebagai usaha keluarga, contohnya Salim Group, Khong Guan, PT "Cap Orang Tua" perusahaan jamu "Jago", perusahaan jamu "Air Mancur", dan lain-lain. Sebagai gambaran tokoh konglomerat etnis Cina, salah satunya adalah Eka Tjipta Widjaja. Eka Tjipta Widjaja adalah orang Indonesia yang awalnya lahir di Cina. Beliau lahir di Coana Ciu, Fujian, Cina dan mempunyai nama Oei Ek Tjhong. Ia lahir pada tanggal 3 Oktober 1923 dan beliau merupakan pendiri dan pemilik Sinar Mas Group. Ia pindah ke Indonesia saat umurnya masih sangat muda yaitu umur 9 tahun. Tepatnya pada tahun 1932, Eka Tjipta Widjaya yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong akhirnya pindah ke kota Makassar. Di Indonesia, Eka hanya mampu tamat sekolah dasar atau SD. Hal ini dikarenakan kondisi ekonominya yang serba kekurangan. Untuk bisa pindah ke Indonesia saja, ia dan keluarganya harus berhutang ke rentenir dan dengan bunga yang tidak sedikit.[footnoteRef:3] [3: http://profilpengusahasuksesindonesia.blogspot.com/2012/11/kisah-pengusaha-sukses-dari-nol-eka.html - diakses pada 10 Juni 2013, 20:02]

Dalam hubungan bisnis etnis Tionghoa juga memiliki beberapa pedoman etika dan perilaku bisnis, baik hubungan bisnis ke dalam maupun ke luar dalam sebuah perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya. Istilah etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, ethos. Bentuk tunggal ethos mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang habitat; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara befikir. Dalam bentuk jamak berarti adat kebiasaan. (Bertens, 2011:4). Banyak literatur yang menyebutkan bahwa kebiasaan-kebiasaan berbisnis orang China sangat baik. Cara-cara bisnis mereka sangat kuat dan konsisten. Kekuatan dan kosnsistensi mereka tidak lepas dari kebudayaan-kebudayaan yang mereka anut. Spradley (2006) mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka. Kebiasaan China dalam menjaga budaya dan melakukan pewarisan-pewarisan budaya sangat baik, hal ini ditunjukan oleh kecintaan mereka terhadap leluhur. Menghargai para leluhur serta nilai-nilainya diajarkan sejak dini oleh orangtua-orangtua kepada anaknya. Penghargaan terhadap nilai-nilai leluhur ini dijaga dengan baik oleh keturunan Tionghoa di belahan dunia manapun. Termasuk Tionghoa yang berwarganega Indonesia, selain mereka menjunjung tinggi negara dimana mereka berada, kekuatan persatuan kekeluargaan etnis Tionghoa serta pemahaman dan penghargaan terhadap budaya asli China akan terus dipegang teguh dan tidak pernah hilang. Falsafah-falsafah dan kebiasaan-kebiasaan terus disebarkan dan diwariskan dengan baik. Geertz (dalam Pals, 2012,328) menjelaskan jika kita ingin memahami aktivitas kebudayaan, agama (kepercayaan) merupakan elemen terpenting di dalamnya. Dalam budaya China, unsur kepercayaan sangat kental sekali. Agama China bahkan dipandang sebagai bentuk kebudayaan besar namun tetap unik. Hal ini tentu membingungkan jika kita melihat track record China sebagai Negara komunis yang cenderung materialistik.Pada dasarnya, dasar berfikir orang China selalu mengembalikan kepada hakekat keharmonisan antara kehidupan langit (alam gaib) dan kehidupan di bumi dan manusia (alam dunia nyata) Mereka percaya bahwa alam semesta ini sebagai akibat dari inkarnasi kekuatan alam (Hidajat, 1993:14). Orang Tionghoa percaya bahwa alam dikuasai oleh spirit-spirit yang kekuatannya luar biasa. Wujud alam dianggap semata-mata sebagai ekresi dari spirit-spirit yang mendiami alam. beberapa spirit ini hidup dalam alam seperti langit, matahari, tanah, air, tumbuh-tumbuhan dan gunung, serta fenomena alam lainnya. Orang Tionghoa beranggapan bahwa spirit-spirit alam itu adalah spirit yang