budaya Tionghoa

  • View
    217

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of budaya Tionghoa

Kepercayaan tradisional Tionghoa

Kepercayaan tradisional Tionghoa ialah tradisi kepercayaan rakyat yang dipercayai oleh kebanyakan bangsa Tionghoa dari suku Han. Kepercayaan ini tidak mempunyai kitab suci resmi dan sering merupakan sinkretisme antara beberapa kepercayaan atau filsafat antara lain Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme. Kepercayaan tradisional Tionghoa ini juga mengutamakan lokalisme seperti dapat dilihat pada penghormatan pada datuk di kalangan Tionghoa di Sumatera sebagai pengaruh dari kebudayaan Melayu. Secara umum, kepercayaan tradisional Tionghoa mementingkan ritual penghormatan yaitu: Penghormatan leluhur: Penghormatan kepada nenek moyang merupakan intisari dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Ini dikarenakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang mengutamakan bakti kepada orang tua termasuk leluhur jauh. Penghormatan dewa-dewi: Dewa-dewi dalam kepercayaan tradisional Tionghoa tak terhitung jumlahnya, ini tergantung kepada popularitas sang dewa atau dewi. Mayoritas dewa atau dewi yang populer adalah dewa-dewi yang merupakan tokoh sejarah, kemudian dikultuskan sepeninggal mereka karena jasa yang besar bagi masyarakat Tionghoa di zaman mereka hidup. Agama Buddha Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Buddha Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal.

Pada jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Tao Se - Tao Se (Guru-guru Tao) untuk meminta bantuan atau pertolongan. Ada yang menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan penyakitpenyakit serta meminta obat-obatan. Tetapi pada bulan-bulan tertentu Tao Se - Tao Se itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lainlainnya. Dalam pencarian obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya. Untuk itu para Tao Se membuat Sam Seng supaya masyarakat atau orang-orang yang datang dari jauh tidak kecewa karena Tao Se nya tidak berada di tempat. Masyarakat yang tertolong kemudian membawa oleh-oleh untuk Tao Se - Tao Se tersebut sebagai tanda terima kasih. Karena Tao Se - Tao Se tidak berada di tempat, maka diletakkan di atas meja sembahyang. Ada juga yang datang membawa persembahan kepada Dewa. Dari sinilah timbulnya kebiasaan mempersembahkan sesuatu kepada Dewa. Pemberian persembahan kepada Dewa ini kemudian menimbulkan persaingan di antara masyarakat itu sendiri, sehingga timbullah persembahan Sam Seng. Di mana menurut pandangan masyarakat waktu itu Sam Seng mewakili 3 jenis hewan di dunia, yaitu babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk hewan udara. Demikianlah persembahan ini berlangsung secara turunmenurun sampai sekarangpun masih ada. Menurut anda, dapat dibenarkankah persembahan Sam Seng ini? Dalam Tao, Sam Seng tidak digunakan sebagai persembahan kepada Dewa. Apa alasannya? Mari kita pikirkan masing-masing! Jadi cukup dengan buah-buahan saja, antara lain: apel, pear, jeruk, anggur, dll. Yang penting adalah buah-buahan yang segar dan tidak berduri serta serasi dipandang mata.Demikianlah cerita asal usul adanya Sam Seng dan persembahan pada Dewa. Membunyikan Petasan Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu diatas rumpun pohon bambu hidup sekelompok makhluk aneh yang dinamakan Makhluk Gunung. Mereka pendek dan hanya memiliki satu kaki.Pada suatu hari, di sebuah hutan bambu lewatlah satu orang desa yang membawa banyak buah-buahan dan sayur-sayuran.Secara tiba-tiba, muncul para Makhluk Gunung dan langsung berebut mengambil buah dan sayur yang ada. Orang desa itu tidak hanya diam, ia langsung berusaha menangkap para makhluk aneh itu, dan akhirnya berhasil menangkap satu.Ia berencana untuk membawa makhluk aneh itu kepada hakim daerah.Saat melanjutkan perjalanan, orang desa itu berjumpa dengan sekelompok pemburu yang sedang memasak.Mereka memberitahu kepada orang desa itu bahwa yang ditangkapnya adalah Makhluk Gunung. Makhluk itu dapat membuat orang menjadi demam dan sakit. Makhluk itu akan selalu turun pada setiap tahun baru untuk mencari makan. Siapa pun yang berhubungan dengan makhluk itu akan jatuh sakit.Karena orang desa itu mulai merasa kedinginan, para pemburu menambahkan potongan-potongan bambu ke perapian agar udara semakin hangat.Tiba-tiba muncul banyak Makhluk Gunung, lalu

menyerang para pemburu dan orang desa itu.Di tengah kekacauan itu, potongan bambu yang berada di perapian meletus. Letusan-letusan itu membuat para Makhluk Gunung terkejut dan lari ketakutan.Sejak saat itu rakyat membakar potongan bambu untuk menakuti Makhluk Gunung.

Barongsai, Melestarikan Tradisi Tionghoa di Bali Hari-hari menjelang tahun baru Cina menjadi hari sibuk bagi anggota kelompok barongsai Pusaka Tantra di Banjar Dharma Semadhi Kuta, Bali. Kalau pada hari biasa mereka berlatih seminggu dua kali tiap Selasa dan Kamis malam, maka kali ini mereka berlatih tiap malam. Wantilan vihara Dharmayana di banjar yang hampir seluruh warganya Tionghoa itu menjadi tempat berlatih sekitar 50 anggota kelompok ini. Mereka berlatih dalam beberapa kelompok mulai dari tingkat paling dasar sampai paling tinggi. Kelompok dasar berlatih di lantai atau menggunakan bangku sedangkan kelompok yang lebih tinggi menggunakan tabung bambu, dari yang sekitar 30 cm sampai 2 meter. Tingkat kesulitan tiap kelompok berbeda. Makin tinggi kelompoknya makin tinggi pula kesulitannya. Sebagian besar anggota kelompok ini masih remaja. Semuanya anggota Sekaa Teruna Teruni, kelompok remaja, Eka Dharma di banjar setempat. Anggota paling kecil kelompok barongsai ini bahkan masih SD. Namun sebagian besar sudah SMA atau malah bekerja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun warga banjar setempat mengadakan pawai barongsai dan liong. Sehari menjelang Imlek, mereka akan berkeliling jalan di beberapa jalan protokol Kuta di sekitar vihara seperti jalan Blambangan, jalan Kalianget, jalan raya Kuta, dan kembali ke vihara. Hari raya tahun baru warga Tionghoa memang sangat identik dengan barongsai. Begitu pula bagi warga Tionghoa di Kuta. Warga setempat menyebut tradisi ini sebagai ngelawang barongsai. Tujuannya untuk menetralisir hal-hal jahat di sekitar kita agar tahun depan lebih baik, kata Adhi Dharmaja, Wakil Ketua Banjar Dharma Semadhi. Adhi, yang juga Sekretaris Yayasan Dharma Semadhi yang menaungi vihara Dharmayana Kuta, mengatakan seperti umumnya kegiatan barongsai di tempat lain, kelompok barongsai di banjar ini pun baru hidup setelah zaman Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur memberikan kesempatan pada warga Tionghoa untuk merayakan Imlek kembali. Sebelumnya, pada zaman Orde Baru, semua kegiatan yang berbau Tionghoa dilarang secara resmi oleh pemerintah. Namun, pada zaman Gus Dur, kesempatan pada warga Tionghoa untuk merayakan tahun baru Cina itu diberikan kembali. Begitu pula dengan semua tradisi yang berhubungan dengan Tionghoa, termasuk barongsai dan liong. Kami harus berterima kasih pada Gus Dur, ujar Adhi. Warga Banjar Dharma Semadhi Kuta mendirikan kelompk barongsai pada April 2002. Saat baru berdiri, mereka belajar dari guru di salah satu perguruan silat di Denpasar. Menurut Adhi, gerakan dalam barongsai memang pada dasarnya sama dengan gerakan silat klasik. Pelatih kelompok ini sempat berganti-ganti sebelum kemudian tetap dengan satu pelatih yang hanya kadang-kadang didatangkan dari Madiun, Jawa

Timur. Sekarang kami lebih banyak berlatih sendiri. Cuma kalau ada kompetisi saja baru memanggil pelatih itu lagi, tambah Adhi. Selain rutin mengisi ritual Imlek, kelompok barongsai ini juga memang beberapa kali ikut kompetisi barongsai atau undangan mengisi kegiatan tertentu. Misalnya pada Kuta Karnival tiap tahun di Kuta. Kelompok barongsai ini pernah mendapat juara II kategori dasar dalam lomba barongsai oleh Persatuan Pengusaha Warga Guanhzhou di Bali pada Desember 2003 lalu. Tahun lalu, mereka juga mendapat juara II dan juara harapan II pada lomba barongsai di Semarang, Jawa Tengah.

Untuk Imlek kali ini pun mereka mendapat undangan tampil di beberapa acara perayaan Imlek bersama seperti pada 28 Januari nanti di Restoran Hongkong, Denpasar. Menurut Adhi, kelompok barongsai Pusaka Tantra di Kuta ini adalah salah satu dari sekitar empat kelompk barongsai di Bali yang berinduk pada vihara. Selain di vihara Dharmayana, kelompok lain adanya di Tanah Kilap, Denpasar; Ubung, Denpasar; serta Singaraja, Buleleng. Selain kelompok barongsai yang berinduk pada vihara, ada juga beberapa kelompok individu yang memang dibuat semata untuk komersial. Bedanya, kalau kelompok komersial ini memang tampil untuk dibayar maka kelompok yang dibuat vihara lebih untuk melestarikan tradisi. Secara spiritual, kami yakin bahwa ketika kami main ada Dewa Dewi yang membimbing kami, tambah Adhi. Apakah Tembok Cina Terlihat dari Angkasa?

Selama ini telah tertanam dalam pikiran kita bahwa Tembok Cina adalah satu-satunya objek buatan manusia yang terlihat dari luar angkasa. Sedangkan bangunanbangunan raksasa lainnya tidak pernah disebut tampak dari angkasa. Selama beberapa dekade, Cina selalu mengklaim bahwa peninggalan sejarah yang amat terkenal itu bisa terlihat dari angkasa l